sassy.chessy present :
A Hunkai Fanfiction
FALLEN TOO FAR
Cast : Kim Jongin, Oh Sehun
Happy Reading!
.
.
.
.
.
.
Fallen Too Far : Chaper 10
Victoria tidak senang aku pindah ke ruang makan. Dia ingin aku di lapangan. Dia juga ingin aku mengawasi Yuri. Menurut Yuri, dia tidak bersama Ravi lagi. Dia bertemu dengan Ravi untuk minum kopi karena Ravi menelponnya dua puluh kali sore itu. Dia bilang padanya jika dia hanya menjadi rahasia kecil maka itu sudah berakhir. Ravi meminta dan memohon, tapi menolak untuk mengakui Yuri ke lingkaran pertemanannya maka Yuri mencampakkannya.
Aku begitu bangga.
Besok adalah hari liburku dan Yuri sudah datang mencariku untuk memastikan kami jadi ke honky-tonk.
Tentu saja kami jadi. Aku butuh seorang pria, pria mana saja untuk mengeluarkan Sehun dari pikiranku.
Aku mengikuti Tao sepanjang hari. Dia melatihku. Dia menarik, tinggi, karismatik dan sangat gay. Para anggota klub tidak tahu ini sama sekali. Dia main mata dengan wanita tanpa malu-malu. Mereka benar-benar menikmatinya. Dia akan melihat kembali padaku dan mengedipkan mata ketika seseorang akan berbisik hal-hal nakal di telinganya. Pria itu seorang playboy dan ahli dalam hal itu.
Setelah jam tugasnya selesai kami kembali ke ruang istirahat staff dan menggantung celemek hitam panjang yang harus di pakai di atas seragam kami. "Kau akan jadi brilian, Jongin. Para pria menyukaimu dan para wanita terkesan olehmu. Tidak bermaksud menyinggungmu manis, tapi gadis dengan rambut pirang platinum seperti milikmu biasanya tidak bisa berjalan lurus tanpa cekikikan."
Aku tersenyum padanya. "Begitukah? Aku tersinggung dengan komentar itu."
Tao memutar matanya dan mengulurkan tangan untuk menjitak kepalaku. "Tidak, kau tidak tersinggung. Kau tahu, kau adalah gadis pirang nakal yang mengejutkan."
"Mulai mendekati pelayan baru, Tao?" Suara Mark yang familiar bertanya. Tao memberinya senyum sombong.
"Kau tahu lebih baik dari itu. Aku punya rasa tertentu." Dia membiarkan suaranya memelan menjadi bisikan seksi saat matanya menelusuri ke tubuh bawah Mark.
Aku melirik Mark yang cemberut dengan tidak nyaman dan aku tidak bisa menahan tawa. Tao bergabung denganku. "Senang membuat pria normal menggeliat." Dia berbisik di telingaku, lalu memukul pantatku dan berjalan keluar pintu.
Mark memutar matanya dan berjalan masuk ke dalam ruangan setelah Tao pergi. Sepertinya, dia menyadari pilihan seksual Tao.
"Apakah kau menikmati harimu?" Tanyanya sopan.
Aku menikmati hariku. Sangat. Itu pekerjaan yang jauh lebih mudah daripada berpanas-panasan di luar berurusan dengan para pria tua yang suka mengintai sepanjang hari. "Ya. Menyenangkan. Terima kasih untuk memungkinkanku bekerja di sini."
Mark mengangguk. "Terima kasih kembali. Sekarang, bagaimana kalau kita pergi merayakan promosimu dengan makanan Meksiko terbaik di pantai?"
Dia mengajakku keluar lagi. Aku harus pergi. Dia akan menjadi pengalih perhatian. Dia bukan tipe kelas pekerja yang aku cari tapi siapa bilang aku akan menikah dengannya dan melahirkan bayinya?
Sebuah gambaran dari Sehun berkelebat dalam pikiranku dan ekspresi tersiksanya tadi malam. Aku tidak bisa membiarkan diriku untuk berkencan dengan seseorang yang dia kenal. Jika dia benar-benar sungguh-sungguh pada apa yang dia katakan kemudian aku harus menjaga jarak aman dengannya. Aku tidak termasuk di dalam dunia itu.
"Mungkin lain kali saja? Aku tidak bisa tidur nyenyak tadi malam dan aku lelah."
Wajah Mark agak kecewa tapi aku tahu dia tidak akan punya masalah menemukan seseorang untuk menggantikan tempatku.
"Ada pesta malam ini di rumah Sehun, tapi aku rasa kau tahu itu," kata Mark, menyaksikan dengan cermat pada reaksiku. Aku tidak tahu tentang pesta tapi kemudian Sehun tidak pernah memperingatkanku tentang itu.
"Aku bisa tidur melaluinya. Aku sudah terbiasa dengan itu." Itu bohong. Aku tidak akan tidur sampai orang terakhir berderap menaiki tangga.
"Bagaimana jika aku datang? Bisakah kau menghabiskan sedikit waktu denganku sebelum kau tidur?"
Mark bersikeras. Aku akan mengizinkannya. Aku mulai berkata tidak ketika aku sadar bahwa Sehun akan meniduri beberapa gadis malam ini. Dia akan membawanya ke tempat tidur dan membuat mereka merasakan hal-hal yang tidak akan mungkin untuk aku rasakan. Aku memang butuh pengalih perhatian. Dia mungkin akan sudah memiliki wanita di pangkuannya begitu aku tiba di rumah.
"Kau dan Sehun tampaknya tidak begitu dekat. Mungkin kita bisa jalan-jalan sedikit di luar ke tepi pantai? Aku tidak tahu apakah itu ide yang baik bagimu untuk berada di rumah di mana ia bisa melihatmu."
Mark mengangguk. "Oke. Aku tidak masalah dengan itu. Tapi aku punya satu pertanyaan, Jongin," katanya mengamatiku lekat-lekat.
Aku menunggu.
"Mengapa begitu? Sampai malam itu di rumahnya, Sehun dan aku berteman. Kami tumbuh bersama-sama. Dalam lingkungan yang sama. Tidak pernah punya masalah sedikitpun. Apa yang memicunya? Apakah ada sesuatu yang terjadi di antara kalian berdua?"
Bagaimana aku menjawab itu? Tidak, karena dia tidak akan membiarkan hal itu dan lebih aman untuk hatiku jika kita tetap hanya berteman?
"Kami berteman. Dia protektif."
Mark mengangguk pelan tapi aku tahu dia tidak percaya padaku. "Aku tidak keberatan bersaing. Aku hanya ingin tahu apa yang aku hadapi."
Dia tidak menghadapi apa-apa karena Sehun dan aku hanya akan berteman. Aku tidak mencari seorang pria dalam kelompok itu. "Aku tidak dan tidak akan pernah menjadi bagian dari kelompokmu. Aku tidak berniat untuk berkencan serius dengan siapa pun yang merupakan bagian dari lingkaran elitmu."
Aku tidak menunggunya untuk mendebat. Sebaliknya, aku berjalan memutarinya dan keluar pintu. Aku harus pulang sebelum pesta jadi terlalu liar. Aku tidak ingin melihat Sehun diselimuti oleh beberapa gadis.
Itu bukan kekacauan yang liar. Itu hanya sekitar dua puluh orang. Aku berjalan melewati beberapa dari mereka dalam perjalanan ke dapur. Beberapa dari mereka sedang menyiapkan minuman dan aku tersenyum pada mereka sebelum melangkah ke dapur dan kemudian ke kamar belakangku.
Jika teman-temannya tidak tahu aku tidur di bawah tangga, mereka tahu sekarang. Aku mengganti seragamku dan mengeluarkan sebuah gaun biru es untuk di pakai. Kakiku sakit karena berjalan sepanjang hari jadi aku akan bertelanjang kaki. Aku mendorong koperku kembali ke bawah tangga dan melangkah ke dapur untuk bertatap muka dengan Sehun. Dia bersandar pada pintu yang menuju ke dapur dengan lengan disilangkan di atas dada dan kerutan di wajahnya.
"Sehun? Ada apa?" Aku bertanya ketika dia tidak mengatakan apa-apa.
"Mark di sini," jawabnya.
"Terakhir kali aku periksa dia adalah temanmu."
Sehun menggelengkan kepala dan matanya mengamati tubuhku dengan cepat. "Tidak. Dia tidak kesini untukku. Dia datang untuk orang lain."
Aku menyilangkan tanganku di bawah payudaraku dan mengambil pose defensif yang sama. "Mungkin. Apakah kau memiliki masalah dengan teman-temanmu yang tertarik padaku?"
"Dia tidak cukup baik. Dia brengsek. Dia seharusnya tidak bisa menyentuhmu," kata Sehun dengan nada marah yang keras.
Mungkin dia seperti itu. Aku meragukannya tapi itu mungkin. Itu tidak penting. Aku tidak akan membiarkan Mark menyentuhku. Kedekatannya tidak membuat perutku bergejolak dan rasa sakit di antara kakiku mulai terasa.
"Aku tidak tertarik pada Mark seperti itu. Dia adalah bosku dan mungkin teman. Itu saja."
Sehun melarikan tangannya di atas kepalanya dan cincin perak polos di ibu jarinya tertangkap mataku. Aku belum pernah melihat dia memakainya sebelumnya. Siapa yang telah memberikan itu kepadanya?
"Aku tidak bisa tidur sementara orang-orang akan naik dan turun tangga. Itu membuatku terjaga. Daripada duduk di kamar sendirian bertanya-tanya siapa yang kau tiduri di atas sana malam ini, kupikir aku akan mengobrol dengan Mark di pantai. Memiliki percakapan dengan seseorang. Aku butuh teman."
Sehun tersentak seolah aku memukulnya. "Aku tidak ingin kau mengobrol di luar dengan Mark."
Ini konyol. "Well, mungkin aku tidak ingin kau meniduri seorang gadis tapi kau akan melakukannya."
Sehun menarik diri dari pintu dan menuju ke arahku mendorongku ke kamar kecilku sampai kami berdua di dalam. Satu inci lagi dan aku akan jatuh ke belakang ke tempat tidur. "Aku tidak ingin meniduri siapa pun malam ini." Dia berhenti kemudian menyeringai, "Itu tidak sepenuhnya benar. Biar aku perjelas, aku tidak ingin meniduri siapa pun di luar ruangan ini. Tinggalah di sini dan bicaralah denganku. Aku akan bicara. Aku bilang kita bisa menjadi teman. Kau tidak perlu Mark sebagai teman."
Aku meletakkan kedua tanganku di dadanya untuk mendorong dia ke belakang tapi aku tidak bisa membuat diriku melakukannya setelah aku menaruh tanganku pada dirinya. "Kau tidak pernah berbicara denganku. Aku mengajukan pertanyaan yang salah dan kau menjauh."
Sehun menggeleng. "Tidak sekarang. Kita berteman. Aku akan bicara dan aku tidak akan pergi. Just Please, tinggal di sini bersamaku."
Aku melihat ke sekeliling persegi panjang mungil yang nyaris tidak punya ruang untuk tempat tidurku. "Tidak ada banyak ruang di sini," kataku sambil melirik ke arahnya dan memaksa tanganku untuk tetap menapak di dadanya dan tidak meraup kemeja nyamannya yang pas ke dalam tanganku dan menariknya lebih dekat.
"Kita bisa duduk di tempat tidur. Kita tidak bersentuhan. Hanya bicara. Seperti teman." Dia meyakinkanku.
Aku menghela napas dan mengangguk. Aku tidak akan bisa menolaknya. Selain itu, ada begitu banyak yang ingin aku tahu tentang dia.
Aku duduk di tempat tidur pada kepala tempat tidur dan bersandar. Aku menyilangkan kaki di bawahku.
"Kalau begitu kita akan bicara." Kataku sambil tersenyum.
Sehun duduk ke tempat tidur dan bersandar ke dinding. Sebuah tawa yang dalam datang dari dadanya dan aku menyaksikan senyum yang nyata muncul di wajahnya. "Aku tidak percaya aku baru saja memohon pada seorang wanita untuk duduk dan berbicara denganku."
Sejujurnya, aku juga tidak percaya.
"Apa yang akan kita bicarakan?" Aku bertanya, ingin dia yang memulainya. Aku tidak ingin dia merasa seolah-olah ini adalah interogasi. Aku punya begitu banyak pertanyaan berputar di kepalaku yang kutahu aku bisa menghujaninya dengan rasa ingin tahuku.
"Bagaimana kalau tentang bagaimana kau masih perawan pada usia sembilan belas?" Katanya, membalik cincin peraknya ke arahku.
Aku tidak pernah mengatakan kepadanya bahwa aku masih perawan. Dia menyebutku polos malam itu. Apakah sejelas itu? "Siapa bilang aku masih perawan?" Tanyaku dengan nada yang paling kesal yang bisa aku kerahkan.
Sehun menyeringai. "Aku tahu gadis perawan ketika aku menciumnya."
Aku bahkan tidak ingin berdebat tentang hal ini. Ini hanya akan membuat kenyataan bahwa aku masih perawan lebih jelas lagi.
"Aku pernah jatuh cinta. Namanya Minho. Dia adalah pacar pertamaku, ciuman pertamaku, sesi bercumbu pertamaku, betapa lemahnya itu mungkin terjadi. Dia bilang dia mencintaiku dan mengklaim aku adalah satu-satunya untuk dia. Kemudian ibuku jatuh sakit. Aku tidak lagi punya waktu untuk kencan dan menghabiskan waktu dengan Minho pada akhir pekan. Dia butuh keluar. Dia membutuhkan kebebasan untuk mendapatkan semacam hubungan dari orang lain. Jadi, aku membiarkan dia pergi. Setelah Minho aku tidak punya waktu untuk kencan dengan orang lain."
Sehun mengerutkan kening. "Dia tidak menemanimu ketika ibumu sakit?"
Aku tidak suka pembicaraan ini. Jika orang lain menunjukkan apa yang sudah kuketahui itu akan sulit untuk tidak memiliki perasaan marah pada Minho. Aku sudah lama memaafkannya. Aku menerimanya. Aku tidak butuh kepahitan terhadapnya menyelinap masuk sekarang. Apa gunanya?
"Kami masih muda dulu. Dia tidak mencintaiku. Dia hanya berpikir dia mencintaiku. Sesederhana itu."
Sehun mendesah. "Kau memang masih muda."
Aku tidak yakin aku menyukai nada dalam suaranya ketika dia mengatakan itu. "Aku sembilan belas, Sehun. Aku sudah mengurus ibuku selama tiga tahun dan menguburkannya tanpa bantuan dari ayahku. Percayalah, aku merasa berumur empat puluh hampir setiap hari."
Sehun mengulurkan tangannya di atas tempat tidur dan menutupi tanganku dengan tangannya. "Kau seharusnya tidak melakukan itu sendiri."
Tidak, aku seharusnya tidak melakukannya tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku mencintai ibuku. Dia layak mendapatkan jauh lebih banyak daripada yang dia dapatkan. Satu-satunya hal yang meringankan rasa sakit itu adalah mengingatkan diri sendiri bahwa Ibu dan Valerie bersama-sama sekarang. Mereka saling memiliki.
Aku tidak ingin berbicara tentang kisahku lagi. Aku ingin tahu sesuatu tentang Sehun.
"Apa kau memiliki pekerjaan?" Tanyaku.
Sehun tertawa dan meremas tanganku tapi tidak membiarkannya lepas. "Apa kau percaya setiap orang harus memiliki pekerjaan setelah lulus kuliah?"
Aku mengangkat bahu. Aku selalu berpikir orang punya pekerjaan pada sesuatu. Dia harus memiliki beberapa tujuan. Bahkan jika dia tidak membutuhkan uang.
"Ketika aku lulus kuliah aku punya cukup uang di bank untuk menjalani sisa hidupku tanpa pekerjaan, berkat ayahku." Dia melihat ke arahku dengan mata sendu seksi berbulu mata hitam tebal.
"Setelah beberapa minggu tidak melakukan apa-apa kecuali berpesta aku sadar aku butuh kehidupan. Jadi aku mulai bermain-main dengan pasar saham. Ternyata, aku cukup bagus dalam hal itu. Angka-angka selalu menjadi keahlianku. Aku juga menyumbangkan dukungan keuangan untuk Habitat for Humanity. Beberapa bulan dari tahun ini aku jadi lebih lihai dan bekerja di rumah. Pada musim panas aku libur dari segala sesuatu sebisaku, datang ke sini dan bersantai."
Aku tidak menyangka.
"Shock di wajahmu sedikit menghina," kata Sehun dengan irama menggoda dalam suaranya.
"Aku hanya tidak menyangka dengan jawaban itu," jawabku jujur.
Sehun mengangkat bahu dan memindahkan tangannya kembali ke sisi tempat tidurnya. Aku ingin menggapai dan meraihnya dan menggenggamnya tapi aku tidak melakukannya. Dia sudah selesai menyentuhku.
"Berapa umurmu?" Tanyaku.
Sehun menyeringai. "Terlalu tua untuk berada di ruangan ini denganmu dan terlalu sangat tua untuk memiliki pikiran tentangmu."
Dia berada di awal dua puluhan. Pasti. Dia tidak tampak lebih tua.
"Aku akan mengingatkanmu bahwa aku sembilan belas. Aku akan dua puluh dalam enam bulan. Aku bukan bayi. "
"Tidak Jongin manis, kau sudah pasti bukan bayi. Aku dua puluh empat dan letih. Hidupku tidak normal dan karena itu aku memiliki beberapa kekacauan serius. Aku sudah bilang ada hal-hal yang kau tidak tahu. Membiarkan diri untuk menyentuhmu akan salah."
Dia hanya lima tahun lebih tua dariku. Itu tidak terlalu buruk. Dia memberikan uang kepada Habitat for Humanity dan bahkan melakukan pekerjaan dirumah? Dia akan jadi seburuk apa? Dia memiliki hati. Dia membiarkanku tinggal di sini ketika menginginkan tidak lebih dari membuatku berkemas.
"Kupikir kau meremehkan dirimu sendiri. Apa yang kulihat di dalam dirimu adalah istimewa."
Sehun merapatkan bibirnya lalu menggeleng. "Kau tidak melihat diriku yang sebenarnya. Kau tidak tahu semua yang telah aku lakukan."
"Mungkin," jawabku, mencondongkan tubuhku ke depan. "Tapi apa yang sudah kulihat sedikit adalah tidak semuanya buruk. Aku mulai berpikir mungkin saja ada lapisan lain bagimu."
Sehun mengangkat matanya untuk bertemu mataku. Aku ingin meringkuk di pangkuannya dan hanya menatap mata itu selama berjam-jam. Dia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu kemudian menutupnya… tapi tidak sebelum aku melihat sesuatu yang perak di mulutnya.
Aku menarik lututku di bawahku dan bergerak mendekatinya. "Apa yang ada dalam mulutmu?" Aku bertanya, mempelajari bibirnya dan menunggu dia untuk membuka lagi.
Sehun membuka mulutnya dan perlahan-lahan menjulurkan lidahnya.
Itu ditindik dengan barbel perak.
"Apa itu sakit?" Tanyaku, mempelajari lidahnya dari dekat. Aku belum pernah melihat orang dengan lidah ditindik sebelumnya. Dia menarik lidahnya kembali ke dalam mulut dan menyeringai.
"Tidak."
Aku ingat tato di punggungnya di malam dia sedang berhubungan seks dengan gadis itu. "Tato apa yang di punggung?"
"Seekor elang di punggung bawah dengan sayapnya yang melebar dan lambang Slacker Demon. Ketika aku berumur tujuh belas tahun ayahku membawaku ke konser di LA dan setelah itu dia membawaku untuk mendapatkan tato pertamaku. Dia ingin band-nya dicap di tubuhku. Setiap anggota Slacker Demon punya satu di tempat yang sama persis. Tepat di belakang bahu kiri mereka. Ayah sedang di bawah pengaruh obat-obatan malam itu tapi masih jadi memori yang benar-benar menyenangkan. Aku tidak mendapatkan kesempatan untuk menghabiskan banyak waktu tumbuh dewasa dengannya. Tapi setiap kali aku bertemu dengannya, dia akan menambah tato atau tindikan lagi di tubuhku."
Dia punya tindikan lain? Aku mengamati wajahnya dan kemudian membiarkan mataku jatuh ke dadanya. Sebuah tawa rendah mengejutkanku dan aku sadar aku telah tertangkap basah mencari.
"Tidak ada tindikan di sana, Jongin manis. Yang lain ada di telingaku. Aku menahan laju tindikan dan tato ketika aku berumur sembilan belas."
Ayahnya ditutupi tato dan tindikan seperti sisa personil Slacker Demon yang lain. Apakah itu sesuatu yang Sehun tidak ingin lakukan? Apa ayahnya memaksanya?
"Apa yang aku katakan hingga membuatmu mengerutkan kening?" Tanyanya, meluncurkan satu jarinya di bawah daguku dan memiringkan kepalaku sehingga aku menatapnya.
Aku tidak ingin menjawab ini dengan jujur. Aku sedang menikmati waktu kami bersama-sama. Aku tahu kalau aku terlalu cepat menggali terlalu dalam dia akan lari. "Ketika kau menciumku tadi malam aku tidak merasakan barbel perak ini."
Kelopak mata Sehun diturunkan dan dia mencondongkan tubuh ke depan. "Karena aku tidak memakainya."
Dia memakainya sekarang.
"Ketika kau, eh, mencium seseorang dengan itu dapatkah mereka merasakannya?"
Sehun menarik napas tajam dan mulutnya bergerak lebih dekat denganku. "Jongin, suruh aku pergi. Please. "
Jika dia hendak menciumku kemudian aku tidak akan menceritakan apa pun kesenangannya. Aku ingin dia di sini. Aku juga ingin menciumnya dengan benda itu di mulutnya.
"Kau akan merasakannya. Di manapun aku ingin menciummu, kau akan merasakannya. Dan kau akan menikmatinya," dia berbisik di telingaku sebelum menekan ciuman ke bahuku dan mengambil napas dalam-dalam. Apakah dia menciumku?
"Apakah kau… kau akan menciumku lagi?" Tanyaku terengah-engah saat dia menempelkan hidungnya ke leherku dan menghirup.
"Aku ingin. Aku begitu sangat menginginkannya tapi aku mencoba untuk menjadi baik," gumamnya di kulitku.
"Bisakah kau tidak baik hanya untuk satu ciuman? Please?" Tanyaku, bergeser lebih dekat kepadanya. Aku akan berada di pangkuannya segera.
"Jongin manis, begitu sangat manis," katanya saat bibirnya menyentuh lekukan leher dan bahuku. Jika dia terus begini aku akan mulai mengemis.
Lidahnya keluar dan membelai cepat pada kulit lembut di leherku saat dia menjejaki ciuman di sepanjang rahangku sampai mulutnya melayang di atas mulutku. Aku mulai memohon lagi tapi dia menekan satu ciuman lembut ke bibirku dan itu menghentikanku. Lalu dia menariknya kembali tetapi hanya satu inci. Napasnya yang hangat masih terasa dibibirku.
"Jongin, aku bukan pria romantis. Aku tidak mencium dan berpelukan. Ini semua tentang seks bagiku. Kau pantas mendapatkan seseorang yang mencium dan memeluk. Bukan aku. Aku hanya melakukan seks, baby. Kau tidak ditakdirkan untuk orang sepertiku. Aku tidak pernah menyangkal diriku untuk sesuatu yang kuinginkan. Tapi kau terlalu manis. Kali ini aku harus mengatakan tidak pada diri sendiri."
Saat kata-katanya masuk ketelingaku aku merintih akan suara erotis dari kata-kata nakalnya yang terlontar dari lidahnya. Itu tidak sampai dia berdiri dan meraih gagang pintu, aku menyadari bahwa dia akan pergi dariku. Lagi. Meninggalkanku seperti ini.
"Aku tak bisa bicara lagi. Tidak malam ini. Tidak sendirian di sini bersamamu." Kesedihan dalam suaranya membuat hatiku terluka sedikit. Lalu dia pergi dan menutup pintu di belakangnya.
Aku bersandar di kepala ranjang dan mengerang frustasi. Mengapa aku membiarkan dia di sini? Permainan konflik emosi yang dia mainkan ini bukan levelku. Aku bertanya-tanya ke mana dia akan pergi sekarang. Ada banyak wanita di luar sana yang akan dia cium. Satu gadis yang tidak masalah dia cium jika mereka memohon.
Hentakan orang-orang yang naik tangga berderak di atas kepalaku. Aku tidak bisa tidur untuk sementara waktu. Aku tidak ingin tinggal di sini dan Mark menungguku. Tidak ada alasan untuk membatalkan pertemuan dengannya. Aku sedang tidak mood untuk berbicara dengannya tapi aku setidaknya bisa mengatakan padanya bahwa aku tidak bisa mengobrol di pantai.
Aku berjalan ke dapur. Punggung Chanyeol menghadapku dan dia menekan seorang gadis di meja dapur. Tangannya terbelit di rambut ikal liar coklat Chanyeol. Mereka tampak sangat sibuk. Aku diam-diam keluar ke pintu belakang berharap aku tidak berjalan melewati setiap sesi bercumbu lainnya.
"Aku tidak berpikir kau akan muncul." Suara Mark muncul dari kegelapan.
Aku berbalik untuk melihat dia bersandar di pagar mengawasiku. Aku merasa bersalah karena tidak datang ke sini dulu dan membiarkan dia tahu aku tidak akan bertemu dengannya. Aku tidak bisa mengatur untuk membuat keputusan yang bijaksana di mana Sehun terlibat.
"Maafkan aku. Aku teralihkan." Aku tidak ingin menjelaskan.
"Aku melihat Sehun keluar dari pojokan kecil yang dia punya untukmu di belakang sana," jawabnya.
Aku menggigit bibir dan mengangguk. Aku ketahuan. Mungkin juga mengakui kesalahan.
"Dia tidak tinggal lama. Apakah itu kunjungan ramah tamah atau dia mengusirmu?"
Itu… itu adalah kunjungan yang menyenangkan. Kami melakukan pembicaraan. Sampai aku memintanya untuk menciumku itu sudah menyenangkan. Aku menikmati saat bersamanya. "Hanya mengobrol," aku menjelaskan.
Mark tertawa keras dan menggeleng. "Mengapa aku tidak percaya itu?"
Karena dia pintar. Aku mengangkat bahu.
"Kita masih jadi jalan-jalan ke pantai?"
Aku menggeleng. "Tidak. Aku lelah. Aku datang ke sini untuk menghirup udara segar dan berharap menemukanmu untuk menjelaskan."
Mark memberiku senyum kecewa dan menjauh dari pagar. "Well, baiklah. Aku tidak akan mengemis."
"Aku tidak akan mengharapkanmu begitu," jawabku.
Dia berjalan kembali menuju pintu dan aku menunggu sampai dia kembali ke dalam sebelum bernapas lega. Itu tidak begitu buruk.
Mungkin sekarang dia akan agak mundur. Sampai aku tahu apa yang harus dilakukan dengan ketertarikan yang aku miliki ini untuk Sehun, aku tidak butuh orang lain yang membuatku lebih bingung.
Aku memberikannya waktu beberapa menit lalu berbalik dan masuk ke dalam. Chanyeol tidak lagi di bar dengan gadis itu. Mereka pergi ke tempat yang lebih terpencil rupanya. Aku mulai menuju ke pintu dapur ketika Sehun masuk ke dapur diikuti oleh gadis berambut coklat yang cekikikan. Dia menggantung di lengan Sehun dan bertindak seperti dia tidak bisa terus berjalan. Entah itu dari alkohol atau hak sepatu enam inci yang dia pakai.
"Tapi kau bilang." Dia meracau dan mencium lengan dimana dia menempel. Yep dia mabuk.
Mata Sehun bertemu mataku. Sehun akan mencium gadis itu malam ini. Dia bahkan tidak harus mengemis. Dia juga akan terasa seperti bir. Apakah itu sebuah rangsangan untuknya?
"Aku akan melepas celanaku di sini jika kau mau," katanya, bahkan tidak memperhatikan bahwa mereka tidak sendirian.
"Hyuna, aku sudah bilang tidak. Aku tidak tertarik," jawab Sehun tanpa berpaling dariku. Sehun menolaknya. Dan dia ingin aku tahu.
"Itu akan nakal," katanya keras kemudian tiba-tiba meledak tawa yang lain.
"Tidak, itu menyebalkan. Kau mabuk dan cekikikanmu membuatku sakit kepala," jawabnya. Matanya masih belum meninggalkanku.
Aku menjatuhkan mataku dan mulai ke pintu dapur ketika Hyuna akhirnya melihatku. "Hei, gadis itu akan mencuri makananmu," bisiknya keras.
Wajahku memerah. Sial. Mengapa hal itu mempermalukanku? Aku jadi konyol. Dia mabuk berat. Siapa yang peduli apa yang dipikirkannya?
"Dia tinggal di sini; dia bisa memiliki apa pun yang dia inginkan," jawab Sehun.
Kepalaku tersentak dan matanya tidak meninggalkanku.
"Dia tinggal di sini?" Tanya gadis itu.
Sehun tidak mengatakan apa-apa lagi. Aku mengerutkan kening padanya dan memutuskan satu saksi kami tidak akan mengingat ini di pagi hari. "Jangan biarkan dia berbohong padamu. Aku tamu tak diharapkan yang tinggal di bawah tangganya. Aku menginginkan beberapa hal dan dia terus mengatakan tidak padaku."
Aku tidak menunggu jawabannya. Aku membuka pintu dan melangkah masuk. 1-0 untukku.
End for This Chapter
sassy.chessy
