Tonari
Disclaimer Masashi Kishimoto
Genre: Romance, Humor
Pair: Sasusaku
Warning: OOC, banyak typo!
.
.
.
Don't like don't read
.
.
.
Chapter 10
.
.
.
Sasuke dan Sakura kembali bersekolah setelah liburan musim panas berakhir. Namun, beberapa hari ini Sakura jarang membuka jendela kamarnya saat malam hari. Sasuke merasa ada yang aneh pada Sakura. Siang hari itu dia duduk didepan Sakura saat berada di kantin.
"Permen kapas, kau marah padaku?" Tanya Sasuke yang membuat Sakura mendongakkan kepalanya.
"Aku tidak tahu" Sakura sedang memakan bekalnya.
"Hime, kau marah karena aku menciummu waktu itu?" Mendengar itu Sakura langsung tersedak.
"Minumlah minumanku ini" Sasuke menyodorkan minumannya dan diterima oleh Sakura.
"Terima Kasih" ucap Sakura yang menyelesaikan makannya dan beranjak pergi.
"Kenapa?" Sasuke berhasil menahan lengan Sakura, membuat gadis itu menghentikan langkahnya dan melihat pada Sasuke.
"Lepaskan tanganku, Sasuke" Sakura memandang dengan jurus puppyeyes nya.
"Kenapa kau memandangku dengan tatapan itu?" Sepertinya akan muncul perempatan di kening Sasuke.
"Habis kau menakutkan jika serius begitu" cicit Sakura.
"Duduklah. Aku masih ingin berbicara denganmu"
"Sasuke, nanti saja. Sekarang aku harus pergi ke perpustakaan" Sakura memalingkan wajahnya.
"Baiklah, nanti malam seperti biasa di jendela" Sasuke melepaskan lengan Sakura. Gadis itu mengangguk dan pergi.
.
.
.
Sasuke sore itu pulang bersama Naruto. Mereka berdua terus berjalan di trotoar jalan.
"Teme, kenapa beberapa hari ini kau tidak pulang bersama Sakura-chan?"
"Ah, itu. Dia sedang marah padaku" ucap Sasuke dengan santainya.
"Eh? Dia marah padamu? Bagaimana bisa?" Ceracau Naruto.
"Aku menciumnya saat di Carnaval land itu" ucap Sasuke dengan wajah tanpa dosa.
"NANIIII_" teriakan Naruto tertahan karena Sasuke yang berhasil membekap mulutnya.
"Jangan berteriak, dobe" Naruto hanya mengangguk dan Sasuke pun melepaskan balapannya.
"Aku lihat waktu di Carnaval land itu kalian baik-baik saja" bisik Naruto.
"Tidak perlu berbisik, bodoh"
"Oke, aku lihat kalian waktu itu baik-baik saja"
-flashback on-
Setelah turun dari bianglala Sakura diam seribu bahasa, walaupun berjalan bersama Sasuke.
"Oi, teme! Kalian sudah puas mengelilingi Taman bermain ini?" Naruto mendekati Sasuke dan Sakura, disampingnya tetap ada Hinata.
"Kalian akan pulang, kan?" Tanya Naruto.
"Iya, lagipula ini sudah larut malam" Sakura tersenyum.
"Benar kata si permen kapas ini. Jika terlalu malam mengantarkannya, aku akan kena marah ibunya" kekeh Sasuke yang menepuk kepala Sakura.
"Diam kau, baka"
"Haha, kalian tetap saja bertengkar jika berdua"
-flashback off-
"Itu hanya tipuannya. Sebenarnya waktu kita pulang bersama itu, dia sedang marah padaku"
"Aku kira dia tidak pandai berbohong seperti itu. Kenapa kau menciumnya, teme?"
"Tadinya aku ingin mengungkapkan perasaanku. Tapi, dia sepertinya langsung marah setelah aku cium. Hufft" Sasuke menunduk lesu.
"Sabarlah, dia pasti akan menjadi milikmu" Naruto menepuk pundak Sasuke.
"Dia memang milikku, bodoh" Sasuke memberi deathglare pada Naruto.
"Hehe, iya iya. Kau tetap egois" Naruto terkekeh geli.
.
.
.
Malam hari Sasuke terus menunggu Sakura di jendelanya. Setelah Sakura mulai membuka jendelanya, senyuman Sasuke mulai mengembang tapi semua itu tertahan karena melihat wajah Sakura yang terlihat cemberut.
"Hime, kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi siang?" Ucap Sasuke yang memulai pembicaraan.
Tak!
Ternyata Sakura melemparkan pensilnya dan tepat mengenai kening Sasuke.
"Akh, kau melempariku dengan pensil lagi" ucap Sasuke dengan kesal, dia mengusap-usap keningnya yang memerah.
"Habis kau mengesalkan, baka. Bagaimana bisa kau menciumku dengan begitu mudahnya tanpa ada perasaan apapun. Aku tahu kau ingin menciumku karena kau ingin melihat wajahku yang memerah. Tapi, apa itu tidak keterlaluan jika ciuman itu dapat membuat seseorang terluka. Karena kau menciumnya tanpa mengetahui isi hati mereka, bodoh" Sakura berbicara panjang lebar hingga ia harus mengatur napasnya.
"Tenang, hime. Aku menciummu waktu itu bukan hanya karena keinginanku saja. Aku_"
"Tapi, kau menciumku dan berkata 'Aku menciummu karena kau akan berisik jika dibiarkan berbicara'. Apa itu tidak keterlaluan, baka. Sasuke baka" potong Sakura yang seenaknya.
"Kau memotong perkataanku seenaknya, Sakura"
"Aku tidak peduli" Sakura memasang wajah mengejek pada Sasuke.
"Kau..." geram Sasuke, tapi Sakura tetap memasang wajah mengejeknya.
"Aku menyukaimu, Sakura" ucap Sasuke yang membuat Sakura berhenti dari kegiatannya _mengejek_ dan terdiam.
"Aku menciummu waktu itu bukan hanya ingin membuatmu diam. Tapi juga, aku ingin mengutarakan isi hatiku. Namun, kau langsung mendiamiku begitu saja setelah itu" Sasuke sangat terlihat frustasi saat menjelaskan semuanya.
"Sa-sasuke, aku..."
Sreekk!
Sakura menutup jendelanya dengan cepat dan itu membuat Sasuke menghela nafas berat.
"Apa dia menolak perasaanku ini?" Gumam Sasuke yang juga menutup jendelanya.
Sementara itu, Sakura terduduk didekat jendela. Ia berusaha mengatur detak jantungnya yang berdetak kencang.
"Apakah aku juga bisa mengatakan perasaanku ini padanya?" Gumam Sakura yang mulai memeluk lututnya.
.
.
.
Sasuke pagi itu sudah rapi dengan seragamnya dan bermaksud pergi ke rumah Sakura jika saja tidak dihentikan oleh kakaknya yang sedang memasak.
"Kau mau kemana, Sasuke?"
"Aku mau sarapan di rumah Mebuki Ba-san, aniki"
"Sarapan disini saja, nanti kau akan merepotkan Mebuki Ba-san jika kau ribut dengan Sakura-chan disana"
"Apa maksudmu, aniki?" Geram Sasuke.
"Duduklah, Sasuke. Kita cicipi dulu sarapan yang dibuat oleh Itachi" ucap Fugaku yang memasuki ruang makan. Sasuke duduk didekat meja makan, menuruti perkataan ayahnya. Fugaku turut duduk.
"Kau 'kan selalu bertengkar dengannya. Pasti Mebuki Ba-san kerepotan saat kalian bertengkar" Itachi terkekeh pelan sambil menyiapkan sarapan di meja makan.
"Aku tidak pernah bertengkar dengannya saat didepan Mebuki Ba-san"
"Oh, kau jujur sekali pada anikimu ini" goda Itachi.
"Diamlah, baka aniki"
"Sudah, sudah. Lebih baik kita mulai sarapannya" ucap Fugaku setelah melihat Itachi yang merapikan celemeknya dan duduk didekat meja berhadapan dengan Sasuke.
.
.
.
Mereka berdua menelusuri trotoar jalan pagi itu. Sasuke terus berjalan disamping Sakura. Meskipun gadis itu masih diam seribu bahasa.
"Kau jelek jika terus diam seperti itu" ucap Sasuke yang memulai pembicaraan.
"Aku tidak peduli jelek juga" ucap Sakura yang terdengar ketus.
"Jika kau jadi jelek, nanti aku tidak akan menyukaimu lagi" Sasuke menepuk kepala Sakura.
"Sudah kubilang aku tidak peduli" Sakura menggembungkan pipinya dan memalingkan wajahnya.
"Eh, bukannya kau peduli setelah aku berkata aku menyukaimu?" Sasuke menurunkan tangannya ke pundak Sakura dan merangkul gadis itu.
"Lepaskan aku, baka" Sakura mencoba berontak.
"Kau juga menyukaiku, bukan?" Bisik Sasuke didekat telinga Sakura dan membuat wajah gadis itu memerah.
"S-soal itu... aku..." tiba-tiba saja Sakura menjadi gagap.
"Aku tidak mau menjawabnya sekarang, Sasukeeee!" Sakura berseru dan berlari melepaskan dirinya saat Sasuke.
"Sakura, aku harus dapat jawabanmu..." ucap Sasuke yang ikut berlari mengejar Sakura.
Begitulah...
Terjadi kejar-kejaran antara Sasuke dan Sakura_seperti film India aja kejar-kejaran_ hingga mereka sampai di sekolah dengan keadaan yang kelelahan.
"Lelah juga mengejarnya" gumam Sasuke setelah memasuki gerbang sekolah.
Melihat Sasuke yang kelelahan, Sakura langsung kembali mengambil langkah seribu menuju kelasnya.
"Kuso. Dia lari lagi" umpat Sasuke saat melihat Sakura yang kembali berlari. Apa boleh buat, Sasuke berjalan dengan santai saat memasuki koridor sekolah_demi menjaga imejnya.
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
Minna-san, bagaimana seru tak?
Ternyata di chapter ini bukan chapter terakhir, karena aku telah mendapatkan Ilham untuk melanjutkan fict ini haha *Ilham dari hongkong kaliiii
Udah dulu ya, terimakasih buat yang udah nge review
sampai jumpa di chap selanjutnya...
