SHADING FATE
A SasuHina fanfiction
By tifachann
.
Cast :
Sasuke, Hinata, Toneri, Shikamaru, Naruto, Ino, Karin.
(cr Masashi Kishimoto)
Alexander Burton (OC)
.
Story plot belongs to tifachann
Do Not Copycat!
.
Warnings :
Typo, crack pair, Super OOC, drama, weird plot etc.
.
NOTE : Bagi para penganut official pair yang close minded silahkan melipir!
.
Chapter 10
Dengungan Lebah
"SASUKE STOP DOING PDA!"
Sepasang sejoli itu seketika terlonjak mendengar teriakan keras dari dua manusia yang sempat terlupakan eksistensinya di apartemen Sasuke.
Sasuke dan Hinata segera bangkit dari posisi sensual mereka yang menyebabkan wajah Hinata memerah padam hingga wanita itu hanya bisa menundukkan kepalanya sembari membenahi duduknya dan pakaiannya yang agak kusut. Sedangkan Sasuke malah kesal karena merasa terusik dengan kehadiran dua pria tinggi yang tengah berdiri di ambang pintu dapur.
Pria berambut raven itu mendelik dan mendecih pada dua sahabatnya yang sekarang melangkah dengan sebal ke arahnya.
"Bisa kan tak perlu berteriak begitu, baka!" desis Sasuke.
"Hei, jangan mentang-mentang ini apartemenmu jadi kau bisa pamer kemesraan di depan dua pria lajang ini. Lagipula, aku hanya ingin menyelamatkan Ms Hyuuga dari terkaman singa lapar yang mesumnya setinggi langit!" cerca Naruto.
Sasuke kembali berdecih."Kalau kalian lajang, itu masalah kalian!"
"Oh, si playboy mesum ini rupanya tengah di atas angin. Wah, jadi selama ini siapa yang menemani hari-hari jomblonya, huh?" Shikamaru mengibaskan telapak tangannya.
Melihat itu, Hinata jadi merasa sedang di suguhi adegan drama picisan yang entah kenapa ingin membuatnya tertawa. Ternyata teman-teman Sasuke bisa berubah rupa menjadi Drama King.
"Sombong!" lagi, Naruto mencerca kali ini sembari menendang sekenanya tulang kering Sasuke.
"Baiklah tuan playboy, awas saja kalau kau membutuhkan teman minum. Kami tak akan sudi menemanimu lagi!" tukas Shikamaru dengan gaya hiperbola lalu segera menyambar jasnya yang tergeletak di atas karpet lalu melangkah meninggalkan sepasang sejoli itu.
Si pria pirang juga mengikuti langkah Nara Shikamaru. Tapi sebelum itu, "Hinata berhati-hatilah dengan si bajingan mesum ini and see ya senorita!" Naruto mengerling genit pada Hinata yang mengundang delikan tajam dari Sasuke.
Lalu Naruto menatap malas Sasuke sambil memaki. "You fucking teme!"
"Go off you coward!" desis Sasuke.
Hinata terpaku pada pria tan bermata biru itu. Kemudian amethyst Hinata membola ketika suara teriakan Shikamaru terdengar begitu lantang.
"Hinata, si brengsek itu suka menyiksa teman kencannnya dengan sex toys!"
Terdengar suara Naruto yang tetawa keras karenanya.
"Dasar bajingan sialan!" umpat Sasuke dengan lantang entah kedua sahabat sialannya itu mendengarnya atau tidak.
"Sa-Sasuke, kau..." Hinata berujar dengan tatapan horrornya pada Sasuke.
"Yang dikatakan Shikamaru sama sekali tidak benar. Sumpah Hinata!" Sasuke berujar dengan frustasi tak menyangka bahwa wanitanya ini mudah sekali percaya bualan bodoh si pria Nara.
Hinata menghela napas. Ia sempat khawatir jika Sasuke benar-benar suka melakukan itu. Tapi, sudahlah, persetan dengan itu. Ia tak ingin kencan kecilnya berakhir dengan perdebatan.
"Sasuke, apa tidak apa-apa temanmu pergi? Aku... Jadi merasa tidak enak." lirih Hinata.
"Jangan pedulikan mereka." jawab Sasuke sembari menggeser tubuhnya mendekat pada Hinata.
"Tapi aku jadi merasa seperti seseorang yang merusak bromance kalian."
"Sorry? Bromance?" dahi Sasuke mengernyit tak senang.
Hinata menahan senyuman gelinya melihat ekspresi Sasuke. "Ya maksudku aku jadi merasa telah mengganggu persahabatan kalian. Bagaimana kalau mereka marah padaku?"
"Mereka tak akan marah. Mereka memang terkadang suka berlebihan. Jadi tak usah di ambil hati." ujar Sasuke. "Lalu, tolong jaga ucapanmu itu, manis. Kau mengatakan bromance seolah kami ini gay. We are not!"
Hinata terkekeh geli karena ucapan Sasuke. Dan tawanya berhenti ketika pria itu merangkul Hinata dan merapatkan tubuh mereka lalu tanpa aba-aba pria itu mencuri satu kecupan kecil di bibir Hinata.
"Berhenti tertawa atau aku akan membungkam bibir sexymu, Hinata."
.
.
Hinata tengah berada di pantry untuk membuatkan daily vitamin untuk CEO sekaligus kekasihnya, Uchiha Sasuke. Tentu, daily vitamin yang di maksud adalah secangkir kopi. Karena waktu telah menunjukkan pukul 14.08 menit.
"Good afternoon, Ms Hyuuga."
Terdengar sebuah sapaan dengan aksen Inggris yang familiar. Hinata menoleh ke belakang dan benar saja tebakannya. Alexander Burton tengah tersenyum ke arahnya.
"Hai Alex." balas Hinata sambil mengaduk kopi buatannya.
"Membuat susu untuk bayi besar, huh?"
Entah kenapa ketika Hinata bertemu tatap dengan Alex dan senyuman tertahannya membuat Hinata ikut menahan tawa. Astaga, gurauan Alex benar-benar.
"Bayi besar itu adalah orang yang menggajimu Alex. Asal kau ingat." Hinata tersenyum seraya menoleh pada Alex yang duduk di atas counter di samping Hinata.
Pria bule itu bersedekap. "Yeah, you are right, sweety." katanya. "By the way, aku mendengar sebuah rumor yang cukup menggangguku." Alex kembali berujar. Diliriknya wanita bersurai indigo itu yang tengah menaruh sendok ke bak cuci piring.
"Rumor tentang apa?" tanya Hinata. Tadinya ia ingin segera beranjak membawa cangkir kopi itu pada Sasuke, namun ucapan Alex mau tak mau menahan niatnya. Walaupun Hinata tak berminat dengan rumor apapaun yang hendak pria itu katakan. Karena memang Hinata bukan tipikal wanita yang hobi bergosip.
"Tentangmu." Alex menatap Hinata serius.
Oke, tadinya Hinata memang tak berminat tapi setelah Alex menunjuk dirinya, Hinata agak sedikit bingung. Dan wanita itu mengerutkan dahi karenanya.
"Aku?"
Alex mengangguk.
"Dan apa itu?" Hinata penasaran.
"Kudengar, kau dan si Uchiha itu sering keluar makan siang bersama. Well, aku juga memang beberapa kali berpapasan dengan kalian. Tapi aku masih meragu jika kau memiliki hubungan khusus dengan si sombong itu."
Hinata tercekat di tempatnya. Amethyst-nya membeku pada lantai marmer pantry di sana.
Memang benar, beberapa hari ini ia dan Sasuke kerap makan siang bersama. Walau tak semuanya murni sebuah kencan. Padahal Sasuke juga beberapa kali menemui kliennya saat jam makan siang. Maka sebagai seorang sekretaris, tentu Hinata harus siap jika Bossnya memintanya untuk menemaninya. Bukan untuk keuntungan pribadi, tapi keprofesionalitasan semata.
Menemani Boss untuk menemui klien juga merupakan bagian dari job description-nya. Artinya, ia di gaji untuk melakukan itu juga.
Tapi yang namanya mulut orang, kita tak bisa sesuka hati mengatur bagaimana mereka harus membicarakan kita, kan?
"Memangnya, apa yang mereka bicarakan?" akhirnya setelah beberapa saat terjebak dalam ketercenungan, Hinata kembali bersuara.
"Mereka berspekulasi bahwa kau dan Sasuke memiliki hubungan khusus."
Dan kalimat itu membuat dada Hinata tersentak. Ia kemudian merasa berdebar oleh sebuah kecemasan. Orang-orang sudah mulai bergunjing dan ini adalah salah satu hal yang Hinata takuti ketika ia setuju untuk berkencan dengan pria raven itu.
"Hinata, kau tidak apa-apa?" tanya Alex yang melihat Hinata hanya terdiam dengan bola matanya yang agak membulat. Seperti tengah terkejut.
"Sweety?" Alex menepuk pelan bahu Hinata dan membuat wanita itu berjengit kaget.
"Oh maafkan aku, Alex." ujar Hinata mencoba terlihat normal.
"Kau baik-baik saja, sweety?" tanya Alex.
"Ya, tentu." jawab Hinata. "Omong-omong, aku harus membawa kopi ini ke tempat Mr Uchiha sebelum menjadi dingin. Sampai jumpa Alex." Hinata segera bergegas dari pantry dengan membawa cangkir kopi meninggalkan Alex sendiri di sana.
.
"Kopimu, Mr Uchiha." ujar Hinata begitu ia sampai di dalam ruangan Sasuke setelah sebelumnya wanita itu mengetuk pintu ruangan atasannya.
Mata Sasuke tak beralih dari sosok cantik bersurai indigo itu sejak wanita tersebut menampakkan diri di ruangannya.
Sasuke tersenyum kecil, ketika aroma kopi yang di letakkan di depan mejanya tercium oleh penciumannya. Sasuke sangat menyukai hal-hal yang berhubungan dan di buat oleh Hinata. Termasuk kopi.
"Thank's honey." ujarnya dengan sebuah kerlingan kecil.
Hinata hanya menatap sekilas atasan sekaligus kekasihnya itu.
Sasuke kemudian memperhatikan wajah cantik Hinata. Ada raut cemas yang terbaca oleh penglihatan Sasuke.
"Kau baik-baik saja?" tanya pria itu dengan suara rendah.
Hinata menatap onyx Sasuke dan menjawab, "Ya, aku baik." ada nada keraguan terdengar dalam suaranya.
"Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?" nampaknya Sasuke bisa membaca isi pikirannya.
"Tidak. Aku hanya sedikit lelah karena kau menuntutku untuk merampungkan banyak laporan." ujar Hinata.
"Benarkah?" Sasuke merasa bersalah. "Aku tahu laporan itu harus segera di selesaikan karena aku akan meeting di luar negeri. Maaf karena menyusahkanmu, Hinata."
Kali ini giliran Hinata yang merasa bersalah. Padahal ia hanya bergurau. Baru saja Hinata akan angkat bicara, pria itu kembali bersuara.
"Kalau kau lelah, kau bisa istirahat Hinata. Atau kau mau aku pesankan sesuatu?" Sasuke sudah meraih gagang telepon mejanya dan itu membuat bibir Hinata sedikit tertarik menahan senyum.
Kemudian suara kekehan kecil terdengar dan menarik perhatian Sasuke. Pria itu mendapati kekasihnya sedang terkikik sembari menutupi mulutnya.
Melihat tampang polos Sasuke membuat Hinata semakin geli, namun ia tak tega membiarkan pria itu dalam mode kebingungan. Wanita cantik itu berdeham.
"Kau serius sekali Mr Uchiha." kata Hinata masih dengan senyuman gelinya. "Aku... Hanya bercanda." wanita itu kembali terkikik.
"Oh astaga Hinata. Kupikir kau serius. Kau hampir membuatku terlihat seperti seorang diktator karena menyuruh karyawannya terlalu bekerja keras." pria itu mendesah kesal, namun ada nada lega dalam suaranya.
"Kau kan memang diktator." cibir Hinata yang justru mengundang senyum kecil dari sang pria.
"Tapi serius, apa ada sesuatu yang terjadi?" pria itu kembali pada pertanyaan awalnya.
Hinata menggeleng. "Tidak."
Meski menampilkan sebuah senyum manis, namun kegelisahan Hinata tak kunjung lenyap. Terlebih dengan ucapan Alex tadi saat di pantry, telah membuatnya di rundung cemas.
Dan Hinata cukup tahu diri untuk tak langsung mengatakan apa yang tengah ia rasakan juga tak langsung mengadu akan rumor yang saat ini mulai berdengung dari mulut ke mulut para karyawan U-Star.
Saat ini, Hinata memilih diam dan berharap gunjingan para penggosip itu akan segera mereda agar Sasuke tak perlu sampai mengetahuinya.
"Bagaimana kalau kencan sehabis pulang kantor?" tawar Sasuke. "Seperti menonton film, mungkin?" pria itu tersenyum manis ke arah Hinata.
"Boleh." jawab Hinata.
Keduanya bertukar senyum. Setidaknya senyuman pria itu mampu mengusir sedikit kegelisahan Hinata untuk sementara.
.
.
Hari ini, Hinata merasa aneh dengan situasi di kantor. Pagi tadi Hinata memang tak berangkat bersama dengan Sasuke seperti biasa. Itu karena wanita itu menolak pria itu untuk menjemputnya. Namun entah kebetulan atau sial, saat tiba di lobby, Hinata tak sengaja berpapasan dengan Sasuke dan dengan santainya pria itu mengajaknya naik lift bersama. Bukan lift karyawan yang di gunakan, tapi justru lift VIP khusus para petinggi perusahaan.
Saat mereka naik lift, para karyawan yang berpapasan dengan mereka terlihat biasa walau mata mereka menyiratkan sebuah keheranan. Dulu, karyawan lain bahkan tak peduli dengan tindak-tanduk Hinata saat berdampingan dengan Sasuke di manapun. Namun, kali ini ada yang berbeda.
Ketika Hinata berjalan bersama Sasuke, semua karyawan nampak normal. Namun, ketika ia hanya sendiri. Orang-orang akan melihatnya seperti ia adalah mantan narapidana yang baru saja keluar dari penjara. Situasi ini tentu membuat Hinata mulai gusar. Tapi lagi-lagi, Hinata tak bisa mengatakannya pada Sasuke.
"Hinata!"
Hinata berjengit di kursinya ketika sebuah seruan menyebut namanya. Ia mendongak dan wanita bersurai merah tengah berdiri anggun di depan mejanya.
"Karin."
"Hai, Hinata," kali ini wanita bersurai pirang menyapanya dari belakang tubuh Karin.
"Ino." gumam Hinata.
"Kau sudah selesai?" tanya Karin.
"Ya." jawab Hinata.
"Kami mau mengajakmu makan siang, kau mau kan Hinata?" tanya Ino.
"Oh benarkah?" kedua wanita itu mengangguk. "Baiklah, ayo." Hinata segera berdiri dari kursinya dan menghampiri kedua temannya itu.
"Let's go." seru Ino.
"Omong-omong, apa Mr Uchiha masih di dalam?" tanya Karin sembari menoleh ke arah pintu ruangan Sasuke.
Hinata mengikuti pergerakan Karin. "Ya, dia masih di dalam. Kenapa?"
"Ah, tidak. Rasanya sudah lama tidak makan bersamanya." celetuk Karin.
"Maksudnya?" Hinata mengernyit.
"Ish, kau ini Karin. Dasar genit!" Ino menepuk pundak Karin gemas.
"Bukan genit, aku hanya baru menyadari kalau Mr Uchiha sangat-sangat tampan, ya ampun." Karin memegangi kedua pipinya. "Lagipula bukankah, kau juga naksir dengan Sasuke, huh?" Karin menuding Ino.
"Iya, tapi aku cukup sadar diri kalau dia hanya Bossku." Ino mendesah lemas.
Hinata hanya diam memperhatikan keduanya. Ia jadi berpikir apa reaksi dua wanita cantik itu jika tahu kalau Hinata tengah menjalin hubungan dengan pria yang mereka bicarakan itu.
"So, kita jadi makan siang atau tidak?" ujar Hinata sengaja menginterupsi keduanya.
"Tentu! Ayo!" Ino menarik lengan Hinata untuk segera berjalan meninggalkan Karin yang masih terpesona pada pintu ruangan Sasuke.
"Hei, tunggu aku!" seru Karin begitu sadar ia di tinggalkan.
Karin segera berlari kecil mengikuti temannya. Lalu saat ia sudah menyamai langkah Hinata dan Ino, tiba-tiba sosok Shikamaru dan Naruto muncul di tikungan koridor.
"Hei ladies, mau kemana?" tanya Naruto.
"Tentu saja makan siang, Tuan." Karin memutar bola matanya sebal pada atasannya yang banyak bicara itu.
Pria pirang itu terkekeh melihat asistennya yang selalu sentimen.
"Hinata, Sasuke masih ada di ruangannya, kan?" tanya si pria berkuncir yang tak lain adalah Shikamaru.
"Ya, Mr Nara." jawab Hinata.
"Kalau begitu aku akan menemuinya." kata Shikamaru.
"Sampai jumpa, ladies. Ingat jangan menggosipiku yang tidak-tidak, ya." Naruto mengerling pada ketiga wanita itu dan Karin adalah satu-satunya yang merasa jengah dengan tingkah si pirang Naruto. Untung saja pria itu adalah atasannya. Kalau di sini ada pemilihan pria paling genit, maka Naruto berada di posisi kedua setelah Alex.
Rombongan para gadis kemudian kembali berjalan menuju lift, sedangkan para pria beranjak menuju ruangan Sasuke.
Saat Naruto dan Shikamaru hampir sampai di ruangan milik Sasuke, ternyata pria berambut raven itu baru saja keluar dari dalam ruangannya dan berdiri di depan meja Hinata dengan ponsel yang hendak ia tempelkan di telinga berbarengan dengan seruan Shikamaru.
"Mencari Hinata, huh?"
Sasuke menoleh ke belakang dan mendapati dua sahabatnya. "Ya." balasnya.
"Dia sudah pergi bersama Ino dan Karin." Shikamaru memberi tahu.
Sasuke mengernyit kemudian membatalkan panggilannya pada Hinata. "Darimana kalian tahu?" tanyanya.
"Kami baru saja berpapasan dengan mereka." Naruto menunjuk ke arah belakang dengan jempolnya.
Sasuke hanya diam. Padahal ia ingin sekali mengajak Hinata makan siang bersama.
"Sebaiknya kita juga jangan sampai kalah dari para gadis." ujar Shikamaru.
"Ya, ayolah Sasuke. Ada sesuatu yang ingin kami bahas denganmu." timpal Naruto.
Sasuke menghela napas. "Oke." katanya lalu memimpin langkah.
Naruto dan Shikamaru mengikuti langkah Sasuke. Koridor di U-Star sudah sepi mengingat ini adalah jam makan siang. Itu karena para karyawan telah berhamburan keluar guna mengisi perut mereka yang kelaparan.
Dan seperti kebetulan, saat Sasuke menyusuri koridor yang sepi, terdengar bisik-bisik dari beberapa karyawan di ujung koridor. Samar-samar Sasuke masih dapat menangkap apa yang tengah mereka bicarakan.
"Aku dengar gosipnya seperti itu."
"Tapi mana mungkin! Ms Hyuuga kan hanya seorang sekretaris. Bukankah pekerjaan sekretaris memang selalu menempeli atasannya ke manapun?"
"Iya, tapi ada yang beberapa kali melihatnya makan siang berdua saja dengan Mr Uchiha. Dan katanya, mereka tampak akrab seperti sepasang kekasih."
Terdengar suara kekehan dari sana. "Jangan bercanda!"
"Ya sudah kalau tidak percaya."
Terdengar suara ketukan high heels. Tak lama dua orang wanita muncul. "Lagipula bukankah Mr Uchiha tengah berpa—" dan keduanya terkesiap begitu melihat CEO mereka tengah berdiri angkuh dengan ekpsresi datar dan tatapan dinginnya.
"M-Mr Uchiha, se-selamat siang." ujar salah satunya.
Kedua wanita itu nampak gugup dan takut. Mereka membungkuk dengan wajah pucat yang sangat kentara. Bisa gawat kalau boss mereka sampai mendengar ucapan mereka tadi.
Sasuke tak menjawab sapaan mereka dan memilih melangkah melewati keduanya. Naruto dan Shikamaru memperhatikan dua wanita yang masih membungkuk itu bahkan pada saat mereka berdua telah melewatinya.
Ketiga pria tampan itu memasuki lift yang hanya diisi oleh mereka. Sasuke masih diam sejak kejadian tadi. Naruto dan Shikamaru saling pandang dan si pirang menepuk bahu Sasuke.
"Hei, jangan terlalu di pikirkan." ujarnya.
"Pikirmu aku akan santai saat mereka menggunjing orang yang kucintai, huh?" Sasuke menahan geramannya.
Naruto dan Shikamaru agaknya paham jika Sasuke pastilah merasa kesal juga tersinggung. Tak ayal mereka kerap heran dengan kelakuan para wanita, kenapa wanita itu suka menggosip?
Shikamaru menghela napas. "Tenanglah. Kami mengajakmu keluar makan justru untuk membicarakan hal itu.
.
Trio Hinata, Ino dan Karin tengah duduk manis di sebuah meja. Mereka memutuskan untuk mengunjungi sebuah cafe bernama Brasserie Viron yang menyajikan aneka pastry dan roti.
Memang tempat ini bukan restoran dengan menu berat, namun bagi Ino dan Karin yang masih hati-hati memilih menu untuk menjaga berat tubuh mereka, merasa ini sudah termasuk cukup untuk memenuhi karbohidrat harian mereka.
"Saat kalian ikut makan ramen bersama Naruto, kalian nampak biasa saja." celetuk Hinata ketika melihat dua kawannya itu memesan roti isi dengan isian berbagai macam sayuran.
Ino terkekeh canggung. "Waktu itu aku cuma mau lihat Mr Uchiha saja, lagipula sudah lama tidak hang out bersamanya."
"Kalian sedekat itu?" Hinata penasaran.
"Tidak juga. Itu karena kami bekerja sebagai asisten Naruto dan Shikamaru yang merupakan sahabat Mr Uchiha."
Hinata mengangguk-anggukkan kepalanya. "Apa Mr Nara dan Mr Uzumaki sudah mengenal lama dengan Mr Uchiha?" dari dulu Hinata memang penasaran sejak kapan mereka saling mengenal. Namun, Hinata belum sempat menanyakannya pada Sasuke.
"Mereka teman waktu kuliah di Cambridge." tukas Ino.
Lagi-lagi Hinata menganggukan kepalanya.
"Kenapa kau tidak tanya saja pada Mr Uchiha langsung? Bukankah kalian sedang dekat? Oops!" seketika Karin menutup mulutnya lantaran ia keceplosan.
Alis Hinata berkerut. "Maksudmu?" walaupun Hinata berusaha bersikap biasa namun jantungnya mulai bertalu kencang.
Ino dan Karin saling pandang dengan ekspresi tidak enak hati yang agak kentara. Mereka tentu saja telah mendengar desas-desus yang sedang hangat-hangatnya beredar di seantero U-Star.
"Ino, Karin, katakan apa yang kalian dengar?" Hinata melirik satu-persatu teman wanitanya dengan mata menuntut sebuah penjelasan.
"Uhm, maaf Hinata kami... Hanya mendengar dari beberapa mulut saja di U-Star." tutur Ino setengah menyesal.
"Tentang apa?" tanya Hinata.
"Gosipmu dengan Mr Uchiha."
Hinata menghela napas tanpa berniat untuk kembali bertanya pada mereka berdua. Ino dan Karin yang melihat sikap tak acuh Hinata menjadi bingung di buatnya.
"Kau... Tidak marah, Hinata? Apa jangan-jangan gosip itu benar?" celetuk Ino.
Hinata menjatuhkan begitu saja garpunya secara dramatis. Ia menghentikan suapanya lalu menatap Ino.
"Apa setiap sekretaris Mr Uchiha mendapat gosip yang sama? Apa Miranda juga dulu mendapat gunjingan seperti ini?"
"Ti-tidak." cicit Ino.
"Kenapa?" tanya Hinata.
"Dengar Hinata, aku tidak tahu apa masalahmu dengan Mitarashi Anko. Tapi dialah yang pertama berspekulasi bahwa kau dan Mr Uchiha memiliki hubungan khusus." ujar Karin.
Darah Hinata terasa panas mendengar nama wanita yang selama ini selalu menatapnya sinis. Hinata hampir hilang kesabaran karenanya. Walaupun faktanya Hinata dan Sasuke memang berkencan, tapi mengetahui bahwa wanita itu yang telah menyetir mulut-mulut di U-Star untuk bergunjing dan mempertanyakan statusnya dengan Sasuke membuat Hinata muak!
"Hinata?" dengan hati-hati Ino meraih punggung tangan Hinata dan meremasnya lembut. "Kau tidak apa-apa?"
Hinata seolah tersadar, ia mengerjapkan matanya dan menatap Ino. "Ya."
"Maaf Hinata, kami tak bermaksud membebanimu." lirih Karin.
Tanpa mereka mengatakan itupun, Hinata sudah merasa gusar dengan rumor yang beredar beberapa hari ini. Tapi, ia tak mungkin untuk melampiaskan kemarahannya pada Ino dan Karin yang tidak tahu apa-apa, kan?
Hinata kembali menghela napas. "Tidak apa-apa." jawabnya.
"Lagipula mana mungkin kau dan Mr Uchiha berkencan, kan? Mungkin Anko hanya iri denganmu." ujar Ino dengan santai tanpa menyadari ekspresi Hinata yang sedikit gelisah.
"Ya benar, mana mungkin. Kau tahu kan status Mr Uchiha."
Hinata kembali tercenung dengan peryataan Karin. Terasa ambigu di pendengaran Hinata. Ia ingin wanita berambut merah itu menjelaskan apa maksudnya namun Yamanaka Ino telah lebih dulu menyela.
"Hinata, ayo cepat makan. Jam istirahat kita hampir berakhir."
Dan tanpa membalas ucapan Ino, Hinata kembali menyantap kudapannya dan menelan rasa penasarannya bersamaan.
.
Sasuke berjalan tergesa di sepanjang koridor, ia bahkan mengabaikan sapaan para karyawan yang berpapasan dengannya. Moodnya benar-benar sudah hancur sejak ia tak sengaja mendengar karyawannya bergunjing soal Hinata. Di tambah saat makan siang tadi, Naruto dan Shikamaru mengatakan tentang situasi ganjil yang terjadi di U-Star yaitu merebaknya rumor yang mempertanyakan hubungan Sasuke dan Hinata.
Naruto dan Shikamaru hanya ingin Sasuke tahu supaya pria itu bisa membuat semuanya jelas, namun saat Sasuke mengatakan bahwa Hinata belum siap mempublikasikan hubungan mereka, seketika Naruto dan Shikamaru terdiam.
Bahkan Shikamaru tahu jelas kemana arah gosip ini akan tertuju. Ada satu rahasia yang tidak Hinata dan orang lain ketahui mengenai status Sasuke. Dan Shikamaru mewanti Sasuke bahwa ini akan jadi bencana jika ia tak segera meluruskan masalah yang tengah terjadi.
Tapi Sasuke sadar, ia perlu bernegosiasi dulu dengan Hinata sebelum memutuskan karena hubungan ini mereka yang menjalani. Mereka hanya ingin sama-sama saling nyaman menjalani hubungan ini.
Tapi ketika Sasuke kembali bertanya pada Hinata haruskah mereka mempublikasikan hubungan mereka. Dengan perasaan berat hati dan bersalah, Hinata mengungkapkan ketidaksiapannya.
Walaupun Sasuke agak kecewa, tapi ia berusaha untuk menghargai segala keputusan Hinata. Yang penting, hubungan mereka masih terus berlanjut.
Setelah pembicaraan itu, mereka bergegas untuk menuju ruang rapat karena Sasuke perlu mengevaluasi beberapa hal di masing-masing divisi.
...
Setelah rapat selesai, para staff dan karyawan telah beranjak meninggalkan ruang rapat dan hanya menyisakan sang CEO beserta sekretarisnya.
Hinata masih nampak mengetik guna memperbaiki notulen yang tadi ia ketik. Sedang Sasuke masih duduk di kursi utama sambil memperhatikan Hinata yang duduk di sisi kanannya.
"Apa masih lama?" kata Sasuke.
"Tidak. Sebentar lagi." jawab Hinata.
Keduanya kemudian terdiam. Hanya ada suara ketukan papan keyborad laptop yang di gunakan Hinata.
"Sudah selesai Mr Uchiha." Hinata berseru di tengah keheningan.
Sasuke bergerak di kursinya. Ia mengecek arloji mahalnya yang melingkar di pergelangan kanannya. "Karyawan pasti sudah pulang seluruhnya. Kau mau ku antar?" tanya pria itu.
"Tidak perlu Mr Uchiha." jawab Hinata. "Justru kurasa... Sebaiknya kita menjaga jarak." gumamnya.
Sasuke dapat melihat ekspresi Hinata yang berubah sendu. "Kau memikirkan ucapan mereka?"
Hinata menoleh pada kekasihnya tak mengerti.
"Tentang rumor itu. Aku sudah tahu."
Hinata kembali menoleh lurus dan menundukkan kepalanya. "Maaf." gumamnya.
"Seharusnya akulah yang meminta maaf. Maafkan aku."
Hinata menatap kekasihnya. Kedua amethyst-nya bertemu dengan onyx gelap Sasuke yang menatapnya teduh. Hinata kemudian berpikir, mungkin jika sejak awal mereka go public, adakah kemungkinan bahwa rumor ini tidak akan pernah ada? Tapi, semuanya sudah terjadi, dan Hinata menjadi merasa bersalah dan egois.
Hinata terlalu takut untuk mengumumkan hubungannya dengan Sasuke. Ia lebih takut dengan penilaian orang-orang ketimbang secara terbuka menerima bahwa Sasuke memang kekasihnya. Dan Hinata tersadar, mungkin ia juga telah menyakiti ego Sasuke.
Tapi, meskipun ia sejak awal memproklamirkan hubungannya dengan Sasuke, toh pasti akan ada juga yang menggosip di belakangnya. Karena posisinya sebagai seorang sekretaris pribadi sangat rawan dengan skandal.
"Sasuke," Hinata memanggil nama pria itu.
"Hm?"
"Aku... Takut." gumam Hinata.
Lelaki itu beranjak dari kursinya dan menghampiri Hinata dengan duduk di sebelahnya. Pria tampan itu menangkup punggung tangan Hinata dan memberi remasan kecil di sana.
"Tidak ada yang perlu kau takuti. Jangan takut Hinata. Aku... Tidak mau kau meninggalkanku." pria itu berujar lirih. "Aku hanya ingin kau tetap bertahan di sisiku apapun yang terjadi. Kau... Bersedia, kan?" tanyanya dengan onyx menatap lekat amethys wanita yang sangat di cintainya.
Ada setitik rasa lega yang menelusup ke dalam sanubari Hinata. Ia senang setidaknya Sasuke begitu percaya diri dan Hinata berusaha untuk mempercayai pria itu.
Hinata mengangguk kecil.
Sasuke tersenyum kemudian berdiri dari kursinya. Melangkah dan berdiri di depan sebuah jendela besar yang memvisualisasikan pemandangan senja kota Tokyo.
"Kemarilah," ujar Sasuke seraya merentangkan kedua tangannya dan Hinata ikut berdiri lalu berjalan menuju pria itu lalu wanita itu di sambut oleh sebuah pelukan erat Sasuke.
Hinata membalas pelukan Sasuke dan menyandarkan wajahnya ke dada bidang pria itu.
Sasuke mengelus surai Hinata yang lembut dan beraroma shampo yang menenangkan. "Aku mencintaimu, Hinata." gumam pria itu lalu mengecup kepala Hinata.
Hinata mendongak pada Sasuke. Tangannya mengelus lembut rahang pria itu. Dilihatnya Sasuke memejamkan matanya meresapi sentuhan Hinata.
Sasuke membuka matanya dan mendapati wajah kekasihnya yang di sirami oleh cahaya senja dan membuat kecantikan Hinata bertambah. Lelaki itu tersenyum. "Bagaimana kalau ke apartemenku? Kita makan malam berdua, hanya kau dan aku, hm?"
Hinata membalas senyuman Sasuke. "Ya." jawabnya.
Lalu Sasuke kembali mengeratkan pelukannya pada Hinata yang di balas sama oleh wanita cantik itu.
Hangatnya cahaya jingga senja menyelimuti kedua insan yang saling jatuh cinta itu.
Bersambung
.
.
Sekedar info, untuk pecinta ffn, reader/silent reader, selama cuti lebaran, saya tidak janji bisa up chapter baru di ffn, karena saya ketik dari hp jadi mungkin, jika saya update, saya akan up di wattpad, baru setelah cuti berakhir saya bisa upload di sini. Kalo masih ada yang gak tau wattpad saya, saya kasih lagi. wattpad dot com/user/tifachann. maaf atas ketidaknyamannya.
Satu lagi, untuk chapter baru SAVE THE RINGS, saya up di wattpad, akhir pekan ini (jika tidak ada halangan).
Sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kalian semua, baik member maupun para silent reader. Thank you.
See you,
