BAB 10

Satu Pertanyaan, Satu Jawaban

Tak ada yang bisa dilakukan anak-anak kelas XI Sains 2 untuk menunggu kedatangan Kakashi Sensei yang selalu berlangganan terlambat, selain tetap di dalam kelas. Mengobrol atau melakukan suatu permainan selalu menjadi dua hal yang tak pernah absen dalam kegiatan anak sekolah di jam kosong. Ah, mungkin menjahili anak-anak perempuan juga termasuk. Menakut-nakuti mereka dengan seekor kecoa atau laba-laba hingga mereka lari terbirit-birit atau yang lebih parah hingga menangis. Kekanakkan sekali memang.

Tak terkecuali untuk Naruto yang–yah, kau tahu sendiri kelakuannya seperti apa. Laki-laki itu dengan penuh rasa puas menakut-nakuti anak-anak perempuan dengan seekor siput yang entah ia dapatkan dari mana. Anak laki-laki pun sesekali menjadi sasarannya, terutama untuk si culun Daichi yang selalu menjadi sasaran favoritnya. Sasuke yang memberikan pandangan merendahkan atas tingkah Naruto pun kadang dijadikan sasarannya juga.

Seperti saat ini. Namun berkatilah Yamato Sensei yang keburu memanggilnya keluar kelas sehingga ia tak harus buang-buang energi untuk memarahi Naruto. Sasuke tak tahu apa gerangan yang membuatnya dipanggil oleh guru fisika itu. Apa ini tentang olimpiade?

"Nah, Sasuke, saya hanya ingin memberitahumu bahwa kau mendapat juara satu untuk olimpiade fisika kemarin," kata Yamato Sensei.

Ada secercah rasa terkejut dan bangga, tapi tak lantas membuat Sasuke mengeluarkan ekspresinya. Karena sejujurnya ia sudah menduga sebelumnya. Waktu itu sehabis melaksanakan olimpiadenya, Yamato Sensei memberikan soal-soal olimpiade yang baru saja ia kerjakan, dan Sasuke kembali mengerjakannya dengan bantuan buku panduan. Hanya ingin memastikan apakah jawabannya benar atau tidak. Dan bingo! Dari delapan soal nan singkat namun rumit itu, Sasuke berhasil mengerjakan lima soal dengan benar.

Sinar matahari yang hangat menemani Sasuke di perjalanannya menuju perpustakaan. Setelah percakapan singkat dengan guru fisikanya, Sasuke merasa butuh ketenangan yang sesungguhnya. Dan saat ini, perpustakaan tampak menjadi tempat yang paling tepat. Sasuke berjalan pelan menyeberangi taman sekolah menuju perpustakaan. Masih terlihat bekas-bekas salju yang mencair membuat sepatunya basah. Sejenak Sasuke tenggelam dalam pikirannya.

Hari itu di depan apartemen Karin. Sasuke akhirnya berhasil mengeluarkan kata-kata itu. Kata-kata yang melanggar janjinya sendiri waktu mereka baru jadian dulu. "Lebih baik kita akhiri saja."

Sasuke bahkan tak sanggup menatap wajahnya lagi. Apalagi ketika gadis itu bertanya apa alasannya dan Sasuke terpaksa menjawabnya dengan kata-kata paling keji yang pernah ia ucapkan. "Aku sudah bosan dengan hubungan ini. Denganmu. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi."

Ia benar-benar merasa seperti laki-laki jahat. Dan ketika ia melihat air mata Karin jatuh untuk pertama kalinya, Sasuke memutuskan untuk sekalian saja menjadi orang jahat bagi Karin. Agar gadis itu membencinya dan cepat melupakannya. Meskipun mungkin butuh seumur hidup bagi Sasuke melupakannya. Melupakan rasa cintanya dan... melupakan rasa bersalahnya. Sasuke tak tahu.

Dan setelah hari-hari berlalu, Sasuke masih belum bisa memutuskan kapan ia memulai memperhatikan Sakura lagi. Keterpurukannya akan perpisahannya dengan Karin tak boleh berlarut terus menerus. Sakura sudah cukup berbaik hati memberi waktu untuknya. Kini Sasuke harus benar-benar fokus untuk belajar menerima Sakura–atau mungkin seharusnya belajar menyukainya juga.

Sasuke menyantap makan siangnya dengan tenang sembari sesekali tersenyum geli mendengar lelucon yang Lee ceritakan–atau sesekali juga mencuri pandang ke arah meja gadis merah muda di seberang sana yang sedang tertawa akibat percakapannya dengan Ino.

"Oi, Shikamaru, bagaimana gadis itu, eh?" Kiba bertanya dengan senyum menggoda, sementara yang ditanya hanya bergumam sambil menguap, membuat si penanya jengkel. "Jangan pura-pura bego deh!"

"Bagaimana apanya?" kata Shikamaru memutar bola matanya. "Aku tak ada apa-apa dengannya."

Kiba mendengus, "Kau tak bisa membodohiku. Wajahmu merona sepanjang waktu di pesta."

"Hah, hanya perasaanmu saja," balas Shikamaru. "Di tengah kerumunan orang seperti itu bagaimana tidak panas."

Kemudian Sasuke segera ingat sesuatu. Ia melirik lagi sekilas ke meja Sakura, gadis berkuncir empat yang duduk di sebelahnya itulah yang berdansa dengan Shikamaru di pesta.

"Kubilang jangan membodohiku!" Kiba mencebik. "Aku tahu perbedaan mana wajah yang memerah karena sedang kasmaran dan mana yang karena kepanasan–hah, atau kepanasan yang kau maksud tadi sebetulnya karena hal lain. Ya, kan?"

Shikamaru berjengit, pipinya merona sedikit, "A-apa sih yang kau bicarakan, Kiba?"

"Sudah kubilang jangan berlagak bodoh! Otakmu itu kelewat jenius untuk sekedar mengerti perkataanku," tukas Kiba, lalu ia menyeringai penuh arti, "Aku yakin kalian sudah dekat sejak lama, dan aku pun juga yakin kau pernah bermimpi basah tentangnya–setidaknya satu kali. Benar, kan yang kuucapkan?"

"Kau ketularan Naruto sepertinya, Kiba," gumam Sai.

Sasuke tak memedulikan geraman kesal Naruto pada Sai. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kantin–entah ingin melihat siapa. Tapi ia segera menyadari ketika tak mendapati sosok Karin di mana pun. Sasuke meringis pelan. Ia menekan dalam-dalam perasaan ingin tahunya tentang keadaan Karin yang sudah dua hari tidak masuk sekolah.

Tidak. Ia tak boleh memedulikannya lagi. Biarkan gadis itu membencinya, sebenci-bencinya.

"Daijobu, Sasuke?" Lee menepuk bahunya.

"Aku tak apa-apa. Aku balik duluan, ya," gumam Sasuke, lalu berdiri dari kursinya dan pergi meninggalkan teman-temannya.

Bukan, bukan ke kelas. Ia merasa atap sekolah cukup menenangkan untuknya yang memang mencintai ketenangan. Dan mungkin tempat itu memang jauh lebih baik daripada perpustakaan. Sasuke memandang jauh ke arah bangunan-bangunan yang menjadi pemandangannya dari atas atap. Semilir angin yang hangat menerpa kulit tubuhnya, menerbangkan rambutnya. Sasuke berharap angin yang berhembus juga mampu membawa pergi kegundahannya.

Setelah pernikahannya, tempat ini menjadi tempat yang rutin dikunjunginya untuk sekedar makan siang bersama Sakura. Bekal makanan buatan Ibu mertuanya sudah menjadi salah satu menu favoritnya selain makanan buatan Mikoto. Pernah suatu hari Sakura yang membuatkan bekal untuknya. Enak, tapi belum bisa mengalahkan para Ibu. Memikirkannya membuat sesuatu mengganjal hatinya. Ia tak tahu pasti apa perasaan itu, tapi Sasuke bergumam dalam hatinya... ia ingin bertemu Sakura.

Seakan angin menyampaikan keinginan hatinya, Sasuke kini melihatnya. Saat ia berbalik ke arah pintu, di sanalah gadis itu berdiri. Dengan sebuah buku di pelukannya, Sasuke kali ini tak bisa membaca arti tatapan Sakura. Bahkan saat Sasuke masih menatapnya yang kini telah mengambil posisi di sampingnya.

"Entah bagaimana, tapi aku merasa kau memang ke sini," kata Sakura seraya menatap ke pemandangan di kejauhan.

"Untuk apa ke sini?" tanya Sasuke, mengingkari hatinya sendiri. Ia tak mungkin berkata 'kebetulan, aku juga ingin bertemu'. Oh, itu sama sekali bukan gayanya.

"Hanya ingin bertemu," balasnya. Sekarang Sasuke menyadari bahwa Sakura memanglah gadis yang cukup agresif. "Aku tak tahu kau ingin bertemu denganku juga atau tidak, tapi pastinya kau takkan mengusirku, kan?"

Sasuke menggigit bibir bawahnya sedikit, lalu ia hanya bergumam, "Hn."

"Ngomong-ngomong, kau sudah merasa lebih baik?" tanya Sakura lagi. "Maaf, kalau kau tak ingin membahasnya, tapi aku hanya merasa khawatir padamu."

Sasuke menaikkan sebelah alisnya, ia mengerti ke mana arah pembicaraan ini, "Aku... yah, cukup baik," seketika ia merasa bahwa kali ini ia harus lebih jujur dan terbuka sedikit pada Sakura.

"Aku tahu bagaimana perasaanmu," kata Sakura. Walaupun Sasuke kurang yakin, tapi ia masih menunggu kelanjutan ucapan Sakura, "Ya, ini memang sedikit berbeda, tapi masih dalam konteks patah hati, kan. Aku tak akan bicara panjang-panjang, hanya cukup kau katakan padaku tentang apa yang kau ingin aku lakukan untuk–setidaknya–sedikit menyembuhkan rasa sakitmu."

Sasuke tertegun. Apa maksud Sakura dengan 'sedikit berbeda'? Dan bagaimana gadis itu bisa bicara sesantai itu?

"Sebelum itu aku ingin bertanya padamu," kata Sasuke.

"Apa?"

"Apa yang kau maksud dengan 'sedikit berbeda' tadi?"

Sakura mengendikkan kepalanya sedikit ke arahnya, tapi tidak menatapnya. Kemudian Sasuke bisa mendengar gumamannya, "Kau seharusnya sudah mengerti, Sasuke-kun."

Sasuke menelan ludah. Ia belum cukup berani mengakui hipotesis yang selama ini tersimpan di benaknya cukup lama. Namun sekarang nampaknya ia harus benar-benar mengakuinya. Sakura dengan wajah memerah melirik ke arahnya, mungkin ingin mengetahui bagaimana reaksinya. Sasuke tak tahu harus merasa senang atau tidak.

Sasuke tahu perlahan-lahan, setelah berminggu-minggu yang mereka lewati, ia mulai menaruh empati pada gadis itu. Semua perhatian Sakura padanya dan keluarganya serta merta mengharuskan perasaan peduli itu muncul. Apalagi setelah peristiwa malam itu––ketika Sakura memeluknya... dengan air mata––Sasuke masih mengingatnya dengan jelas, seakan baru terjadi kemarin. Dan ia juga tak pernah–tak akan pernah bisa melupakan perasaan ketika gadis itu memeluknya. Begitu berbeda... seakan perasaan itulah yang mampu mengisi kekosongan di sudut hatinya yang selama ini ia cari.

Sasuke memang tak tahu apakah ia bisa melupakan Karin dengan cepat, namun yang pasti saat ini ia hanya ingin memantapkan hatinya untuk Sakura. Istrinya. Teman seumur hidupnya.

"Sakura," gadis itu menatap Sasuke, rona di pipinya mulai menipis. "Bisakah kau membuatku melupakan Karin?"

Sakura tertegun. Raut keterkejutan yang luar biasa terpatri di wajahnya. Sasuke masih bisa melihat keraguan di matanya, tapi Sakura segera mengulum senyum dengan mata berkaca-kaca.

"Pasti, Sasuke-kun," kata Sakura pelan. "Asalkan kau mau bekerjasama."

Sasuke tersenyum geli. Dan ketika gadis itu berucap terima kasih karena telah memberinya kesempatan, Sasuke berdoa dalam hati... semoga ini yang terbaik.

-xx-

"Sakura-chan, kau baik-baik saja, kan di sana?" tanya suara Haruno Mebuki yang sangat-sangat ia rindukan.

"Aku sangat baik di sini. Kalian bagaimana? Tak ada masalah, kan?" kini Sakura yang balik bertanya.

"Kami baik-baik saja di sini," katanya. "Semua hampir beres, hanya tinggal menunggu perizinannya keluar. Mungkin awal April kami sudah sampai Jepang."

Sakura tersenyum, "Syukurlah. Aku benar-benar rindu kalian."

"Kami juga, sayang. Kami lebih merindukanmu," kata Ibunya. "Oh ya, maafkan kami tak ada di sampingmu saat ulang tahunmu nanti, Sakura-chan."

Ah, sekarang Sakura baru ingat ulang tahunnya sendiri yang tinggal menghitung hari. Ia tak menampik ada rasa kecewa dalam hatinya, tapi hal itu sungguh tidak tepat untuk dipikirkan saat ini.

"Tak apa, Kaa-san, aku mengerti," kata Sakura tersenyum meski Ibunya tak bisa melihat senyumannya. "Cepatlah kembali bersama Tou-san."

Ibunya tertawa, "Tentu saja, masa Ibu meninggalkannya di Taipei. Sudah dulu, ya, kami ingin jalan-jalan berdua."

"Ya, gunakanlah waktunya untuk bulan madu kedua kalian," kata Sakura seraya tertawa.

Setelah saling mengucapkan sampai jumpa, Sakura menutup teleponnya. Kemudian ia berpikir apa yang akan dilakukannya di akhir pekan seperti ini. Rumah Uchiha kali ini sepi. Mertuanya sedang ada perjalanan bisnis sejak kemarin ke negara tetangga, Korea Selatan. Jadi, hanya ia dan Sasuke saja yang tersisa.

Pagi itu Sakura hanya berolahraga sebentar, lalu mandi, membangunkan Sasuke, kemudian membuat sarapan untuk mereka berdua. Setelah selesai berbincang dengan Ibunya di telepon tadi, Sakura belum tahu apa yang akan dilakukannya selanjutnya. Dan sialnya, Sasuke juga tak memberi ide apapun selain jalan-jalan.

"Kau bisa bersih-bersih rumah, misalnya," usul Sasuke ogah-ogahan.

Sakura merengut, "Kau tak lihat kemarin aku bersih-bersih dan mencuci juga? Coba ide yang lain, selain jalan-jalan. Aku sedang malas keluar nih."

"Berkebun? Akhir-akhir ini Ibuku belum sempat merawat tanaman," usul Sasuke lagi.

Sakura meringis. Agak malu mengakuinya, tapi jujur saja, "Aku tak tahu cara berkebun."

Sasuke menggaruk belakang kepalanya, lalu bergumam, "Aku juga tak pandai sebetulnya."

Sakura tercenung. Ia tak bisa memutuskan ingin melakukan apa. Ia terlalu bosan untuk memasak. Akhir-akhir ini ia begitu sebal melihat dapur, mengingat dua hari yang lalu punggung telapak tangannya melepuh kena cipratan minyak goreng panas. Ya, Sakura meminta kursus privat memasak pada Ibu mertuanya sejak seminggu yang lalu. Akibatnya, ia jadi bosan dengan suasana dapur.

Kemudian satu-satunya yang terlintas di otak Sakura hanyalah... bermain.

"Bagaimana kalau kita bermain?" usul Sakura. Kendati sebetulnya ia belum tahu akan melakukan permainan apa.

"Playstation?" tanya Sasuke meminta kejelasan.

Sakura menggeleng cepat, "Aku tak pandai memainkannya."

"Tak pandai?" kata Sasuke sambil memandangnya rendah.

Sakura berdecak, "Ck, memainkan itu juga butuh keterampilan, Sasuke-kun. Lagipula aku cukup pandai dalam permainan Super Mario."

Sasuke terbahak, "Super Mario, katamu?"

Sialan, dia menghinaku, Sakura membatin kesal.

"Jangan menertawakanku!" tukas Sakura sebal. "Bagaimana kalau Truth or Dare?"

Sasuke menaikkan sebelah alisnya. Ia berpikir sesaat, lalu menjawab, "Tidak mau. Lebih baik satu pertanyaan untuk satu jawaban, bagaimana?"

Sakura mengerutkan dahinya. Satu pertanyaan untuk satu jawaban? Itu sih sama saja seperti Truth or Dare, hanya saja tanpa Dare. Tapi Sakura merasa permainan ini cukup menarik, maka akhirnya Sakura menerima usulan Sasuke.

"Kita main janken dulu untuk menentukan siapa yang bertanya pertama," kata Sasuke yang langsung disetujui Sakura.

Kemudian kemenangan berada di pihak Sakura ketika Sakura mengeluarkan batu, sedangkan Sasuke mengeluarkan gunting.

"Yes! Aku dulu," kata Sakura kegirangan. Sejenak ia berpikir pertanyaan apa yang sebaiknya ia tanyakan. Ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk mengetahui seluk-beluk Sasuke. Lalu ia berkata, "Umur berapa kau berhenti mengompol?"

Sakura tahu ini sungguh pertanyaan yang konyol, tapi hal-hal kecil terkadang sangat penting untuk diketahui.

Sasuke tersenyum miring, "Pertanyaanmu konyol, tapi baiklah. Aku tidak terlalu ingat, mungkin ketika aku mulai masuk TK."

Hmm, itu berarti saat umurnya lima tahun. Sakura membandingkannya dengan dirinya sendiri–ah, bahkan Sasuke lebih cepat dari Sakura yang baru berhenti mengompol waktu umur enam tahun.

"Sekarang giliranku," kata Sasuke. "Siapa nama lengkap cinta pertamamu?"

Sakura sedikit terkejut mendengar pertanyaan Sasuke. Ia tak begitu yakin sebetulnya, tapi akhirnya Sakura menjawab, "Morino Idate."

"Hn, kukira aku kenal orang itu. Dia... yang mewakili lomba lari marathon sekolah kita SMP dulu, kan?" kata Sasuke.

"Simpan itu untuk pertanyaanmu selanjutnya," sahut Sakura, lalu dengan cepat melanjutkan kata-katanya sebelum Sasuke memprotes lebih lanjut, "Kenapa kau sangat membenci sesuatu yang manis?"

Sakura berusaha untuk tak bertanya sesuatu yang menyangkut Karin, makanya ia bertanya hal-hal yang umum saja.

"Karena lidahku memang tidak berselera dengan rasa manis," jawabnya. "Soal Morino tadi kuganti–siapa pacar pertamamu?"

Sakura tak mengerti mengapa Sasuke selalu bertanya tentang hal-hal seperti itu pada Sakura, tapi toh Sakura tetap menjawabnya, "Kau–oh, mungkin tidak ada karena kita sudah menikah."

"Heh, aku tak percaya kau belum pernah berpacaran sekalipun," katanya seraya tersenyum miring.

"Giliranku," tukas Sakura cepat, dan ia juga langsung bertanya tanpa pikir panjang, "Berapa kali kau berciuman? Dengan siapa saja?"

Sasuke berjengit sesaat, lalu menyeringai, "Wow, wow, semakin seru sepertinya."

Dan Sakura tak tahu harus menyesali ucapannya atau tidak. Sekaligus berharap semoga Sasuke tak kembali kepikiran tentang Karin, meskipun nampaknya mustahil.

Sasuke berkata lagi, "Satu kali. Dan simpan yang kedua untuk pertanyaan selanjutnya, Sakura."

Apa katanya? Batin Sakura.

"Satu?" tanya Sakura yang kini mulai tak mampu mengendalikan dirinya. "Bagaimana bisa?"

"Kubilang simpan untuk pertanyaan selanjutnya," ulang Sasuke mendesis. "Aku akan berikan pertanyaan yang sama padamu. Berapa kali kau pernah berciuman?"

Sakura mengatur napasnya yang terengah-engah akibat keterkejutannya tadi, "Satu. Dengan siapa, Sasuke-kun?" Sakura sudah tak bisa menahan diri lagi.

"Kau. Dengan siapa?" kata Sasuke cepat.

"Kau. Aku?"

"Sudah kuduga. Ya. Siapa si rambut merah waktu itu?"

"Karin tak pernah menciummu?" oh, matilah kau, Sakura, karena tak bisa menjaga mulutmu.

Rahang Sasuke mulai mengeras. Sial, aku akan benar-benar tamat setelah ini! Sakura membatin ngeri.

"Kau belum menjawab pertanyaanku, Sakura," kata Sasuke terlihat masih mencoba bersabar.

"Baiklah, baiklah. Namanya Sabaku Gaara," jawab Sakura. "Maafkan aku, Sasuke-kun, tapi giliranmu menjawab pertanyaanku yang tadi."

Sasuke menghela napas. Sakura menunggu dengan was-was. Campuran antara penasaran dan takut. Entah mana yang lebih besar.

"Tidak pernah, hanya kau saat pernikahan kita," jawab Sasuke dengan tenang.

Sakura tak bisa percaya kalau Sasuke tak murka karena pertanyaannya. Sakura sangat lega, jujur saja. Lega karena Sasuke tak marah, dan juga... karena mereka yang memberikan ciuman pertama bagi satu sama lain. Tidak, kalau yang itu rasanya lega sekaligus bahagia.

"Sasuke-kun, kau serius?" tanya Sakura lagi memastikan.

"Hey, seharusnya tadi giliranku bertanya," kata Sasuke. "Ah, permainan ini jadi tidak asyik lagi."

"Gomennasai, Sasuke-kun," gumam Sakura.

Sesaat berlalu. Sakura berkata lagi, "Ya sudah, mau dilanjutkan tidak?"

Sasuke menatapnya sejenak. Namun sebelum Sasuke sempat menjawab, bel berbunyi. Sakura menawarkan diri untuk membuka pintu, dan ternyata Obito yang datang dengan membawa bungkusan dalam plastik. Sakura mempersilakannya masuk dan langsung mengambil alih kantung plastik itu, lalu membawanya ke dapur, sementara Obito mengikuti di belakangnya.

"Obito Nii-san," kata Sasuke yang juga menyusul mereka ke dapur.

"Ah, Sasuke-kun," katanya datar. "Ini aku bawakan sedikit cemilan sebagai oleh-oleh. Kemarin aku baru pulang dari Hokkaido."

"Hn," gumam Sasuke yang telah mengambil tempat di hadapan Obito.

"Aku mendengar dari Itachi-kun kalau Paman dan Bibi pergi ke Korea," kata Obito. "Jadi, kupikir sebaiknya aku mengunjungi kalian supaya ada yang menjaga kalian."

"Ah, seharusnya tak perlu repot-repot begini, Nii-san," kata Sakura. "Lagipula kami juga sudah besar, tak perlu dijaga seperti itu kok–maksudku, kau pasti masih lelah sepulang perjalananmu dari Hokkaido. Bukankah sebaiknya kau istirahat saja di rumah?"

Obito tersenyum tipis, "Tak masalah. Sekalian aku juga berkunjung ke sini setelah dua bulan."

"Ah, begitu," kata Sakura kikuk. Jujur saja, ia masih belum terlalu akrab dengan Obito, apalagi begitu jarangnya laki-laki itu berkunjung ke sini. "Kau ingin makan sesuatu, Nii-san? Aku akan menyiapkannya."

"Tak perlu, Sakura," jawabnya. "Aku sudah makan sebelum menuju ke sini."

"Baiklah, kalau begitu, aku ingin menyimpan cemilan-cemilan ini ke kulkas," kata Sakura. Obito dan Sasuke bersamaan meninggalkan meja makan.

Kunjungan Obito ke rumah mereka diisi dengan obrolan-obrolan ringan antara Obito dan Sasuke yang Sakura dengar berupa dengungan-dengungan tidak jelas mengingat posisi mereka yang berjauhan. Kemudian Sakura hanya bisa menghidangkan cemilan dan jus tomat untuk mereka berdua yang sedang sibuk bermain playstation bersama. Setelahnya Sakura hanya memainkan smartphone-nya di ruang tamu, mengingat tak ada yang bisa dilakukannya saat ini.

"Sasuke-kun, kau sangat beruntung mendapatkan Sakura sebagai pasanganmu," Sakura bisa mendengar ucapan Obito dari ruang tengah. Mendadak pipinya menghangat.

Entah Sasuke memberi tanggapan seperti apa, Sakura hanya bisa mendengar suara Obito yang cukup keras, "Kalau aku jadi kau, aku akan sangat menyesal jika suatu hari harus meninggalkannya hanya karena perempuan lain, bukan begitu, Sasuke-kun? Tapi aku yakin kau tak akan berbuat tindakan bodoh seperti itu," lalu Obito tertawa.

Sakura meringis sedikit karena langsung teringat Karin, namun segera ditepisnya jauh-jauh. Hari itu Obito menghabiskan siangnya bersama mereka, dan ketika senja tiba, Obito berpamitan pada mereka. Akhirnya rumah mereka kembali sepi.

Setelah membereskan bekas kegiatan suami dan sepupunya, Sakura bertanya pada Sasuke apakah ia ingin makan malam atau tidak.

"Kita pesan dari luar saja," kata Sasuke.

Sakura mengangguk, "Ya, baiklah. Bahan-bahan makanan juga mau habis. Lebih baik kita pakai itu untuk sarapan besok."

Akhirnya setelah memesan dan makanan itu datang, mereka makan dalam diam. Kemudian Sakura terbenam dalam pikirannya selama sesaat. Kesempatan yang Sasuke berikan untuknya benar-benar hal yang sangat membahagiakan. Ia kini baru merasakan kedamaian yang diimpikannya. Kedamaian yang juga mampu membuat Tenten bosan. Tapi Sakura rasa ia tak akan merasa bosan. Karena ada Sasuke di hidupnya, Sakura merasa tak akan pernah bosan.

"Sakura, mau melanjutkan yang tadi?" tanya Sasuke setelah keheningan panjang sehabis makan malam mereka selesai.

"Oh, baiklah," gumam Sakura yang menyetujui tak adanya hal yang bisa mereka lakukan selain ini.

"Masih ingat pertanyaanmu tadi? (Sakura mengangguk) Ya, aku serius," kata Sasuke tanpa tedeng aling. "Kenapa kau tak pernah berpacaran sebelumnya?"

Sakura masih tenggelam dalam keterkejutannya akan fakta bahwa Sasuke belum pernah berciuman dengan Karin sebelumnya. Namun ia segera sadar, "Itu... Aku hanya tak tahu siapa yang ingin aku pacari."

Yeah, kali ini Sakura benar-benar ingin jujur sepenuhnya pada Sasuke.

"Itu saja? Oh, maksudku, giliranmu," kata Sasuke segera meralat.

"Kenapa kalian tak pernah berciuman?" Demi Tuhan, Sakura tak ingin peduli dulu untuk menjaga ucapannya. Ia hanya ingin rasa penasarannya benar-benar terjawab.

Sasuke menghela napas setelah tampak menimbang-nimbang sejenak, "Aku hanya menghormatinya sebagai perempuan bermoral yang belum terikat hubungan yang sah denganku."

Memangnya berciuman itu suatu hal yang melanggar norma? Pikir Sakura heran. Bukankah di negara ini berciuman sudah menjadi hal yang lumrah? Dan Sakura bertanya-tanya apakah 'terikat hubungan yang sah' yang Sasuke maksud adalah menikah?

Walaupun Sakura tak terlalu percaya, tapi ia mencoba memercayainya.

Kemudian hening. Sasuke masih menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan–seperti biasa. Sakura tak bertanya-tanya mengapa Sasuke tak mengajukan pertanyaan lagi, melainkan ia tenggelam dalam tatapannya. Ini aneh. Sakura malah bertanya-tanya mengapa Sasuke menatapnya seperti itu.

Sakura mencoba menghentikan keheningan ini,"Sasuke-kun, kau–"

"Giliranku," ucap Sasuke cepat masih dengan menatap lekat-lekat pada Sakura. "Kau ingin merasakannya lagi, Sakura?"

Sekarang Sakura benar-benar tak mengerti. Baik terhadap tatapannya, maupun ucapannya saat ini. "Hah?"

Sejenak Sasuke masih belum menjawab. Ia masih menatap Sakura lekat.

"Kau ingin berciuman denganku, Sakura?" Sasuke menegaskan.

Sakura terkejut, "A-ap–hmmpp"

Dengan mata membelalak Sakura benar-benar tak bisa percaya apa yang kini terjadi padanya dan Sasuke. Demi Tuhan, Sasuke menciumnya!

Sasuke menekan kepala Sakura yang bersandar di sandaran sofa, mengecup bibirnya perlahan dengan intense. Sakura masih berusaha mempertahankan kesadarannya ketika Sasuke mulai melumat bibirnya dengan membabibuta. Sesuatu bergejolak dalam dirinya, seakan sesuatu hendak meledak dalam perutnya. Sakura masih terus merapatkan bibirnya, tak membiarkan sesuatu yang lebih terjadi. Sakura hanya merasa... takut. Ini pertama kali baginya. Ia sendiri bertanya-tanya bagaimana Sasuke–yang tidak mempunyai pengalaman seperti ini–mampu melakukan ciuman seperti ini, seolah-olah ia seorang pencium yang andal.

"Sasu–"

Pada akhirnya, pertahanan Sakura runtuh ketika tangan Sasuke merayapi sisi tubuh dan punggungnya yang membuat Sakura melenguh dan memberi kesempatan bagi lidah Sasuke untuk memasuki mulutnya. Sakura menahan napas, jantungnya semakin berdegup kencang. Kini Sakura benar-benar tak sanggup berpikir. Otaknya seolah mati. Sentuhan Sasuke–sentuhan tangannya... bibir dan lidahnya... hembusan napasnya–sungguh memabukkan. Begitu memabukkan hingga rasanya segala kekuatannya untuk bertahan juga ikut melebur bersama akal sehatnya.

Sakura bahkan tak menyadari tangannya telah bergerak sendiri memeluk leher pemuda itu. Jemarinya menyusup ke rambut raven-nya, menariknya lebih dekat. Sial, Sakura mengumpat dalam hati. Ia telah kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Sasuke masih gencar menginvasi mulutnya–dengan lidahnya, dan tubuh Sakura–dengan tangannya.

Pandangan dan pikirannya semakin mengabur.

Kemudian tangan Sasuke naik menangkap kedua pipinya. Jari-jarinya menyusuri leher dan tengkuknya. Napas Sasuke terdengar kian berat seiring diperdalamnya ciuman mereka. Sakura tahu oksigen dalam paru-parunya kian menipis, namun kebutuhan akan kontak fisik itu tak berkurang sama sekali. Sakura belum ingin ciuman itu berakhir.

Tidak–

Sakura tak ingin ciuman itu berakhir.

Sasuke menjilat bibir Sakura sekilas sebelum melepaskannya untuk mengambil napas. Entah Sakura harus merasa lega atau kecewa. Sasuke menatapnya dalam dengan napas terengah. Sakura pun demikian, dan kini ia benar-benar dapat berpikir jernih.

"Apa yang–"

"Maaf," bisik Sasuke dengan penuh penyesalan. "Aku hanya ingin... meyakinkan diriku sekali lagi."

Jantung Sakura mencelos.

"Aku tahu," gumam Sakura. "Jadi, tak perlu minta maaf."

Sasuke kembali menatapnya. Masih dengan tatapan yang sama. Mereka bertatapan lebih lama dari biasanya. Sakura masih tak mampu menerka apa yang dipikirkan pemuda itu saat ini.

Sakura baru menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya saat hembusan napas Sasuke menyentuh kulit wajahnya lagi. Dan sekarang Sakura benar-benar menerima perlakuan pemuda itu sepenuhnya.

Terasa seperti déjá vu ketika bibir Sasuke kembali mengecup bibirnya–dengan lembut. Tapi memang bukan, karena ciuman seperti inilah yang Sasuke berikan padanya di hari pernikahan mereka. Walaupun perbedaannya begitu terasa–kali ini Sasuke menciumnya dengan perasaan, tidak seperti saat pernikahan mereka dulu. Dan kali ini tak hanya menerima, Sakura juga membalas mencium Sasuke.

Sasuke mengecup ujung bibir Sakura sekilas, lalu menarik kepalanya lagi. Ia berkata, "Tidurlah. Oyasumi."

Meskipun Sakura menuruti ucapan Sasuke, namun pada kenyataannya ia tak bisa terlelap malam itu.


Notes: Maaf, saya gak sempet baca review. Jadi, belum bisa balas review lagi :(

Semoga bab ini gak mengecewakan, dan terima kasih untuk semua yang masih sudi (lagi) mendukung fanfiksi aneh ini hahaha! Salam cinta dari saya untuk kalian semua ^^

Sampai ketemu di bab selanjutnya!