Sudah menjelang beberapa hari setelah kunjungan kami ke Tatsumi Port Island. Tahulah, hari-hari berikutnya seperti biasa, yakni: menggoda Yukiko, les, bermain dengan teman-temanku atau kadang-kadang Kanji dan Teddie (Kanji sudah melaksanakan syaratku.), berlatih untuk turnamen musim gugur, pulang bersama Yukiko, dan tak lupa aku sering berjalan-jalan. Tujuan jalan-jalanku adalah melihat tempat sekitar dan kalau sempat, aku suka bersosialisasi dengan warga sekitar pertokoan. Well, bisa di bilang aku sudah terkenal di sana. Dan mereka sangat baik padaku.
Nah, mari kita lanjut pada hari ini. "Hei teman-teman, bagaimana kalau kita semua menginap di penginapan keluargaku?" Ajak Yukiko saat sedang pergantian pelajaran pada kami bertiga. "Menginap? Di penginapanmu? Wohooo!" Chie bersorak-sorai. "Heeh, ada pemandian air panasnya bukan? Boleh." Yosuke setuju. Berarti tinggal, aku. "Hmmm, aku ikut." Ucapku saat mereka bertiga memandangku.
Yah, begitulah. Pada hari Sabtu seusai sekolah, kami pulang untuk mengambil pakaian dan segera bertemu di taman. Yukiko mengantar aku dan Yosuke, Chie sudah hafal jalannya jadi dia pergi duluan. Ingatanku cukup kuat untuk menghafal jalannya. Agak jauh sih, tapi tak sejauh rumah Dojima dengan sekolah.
Kami sampai. Whoa, tempat yang besar. Pantas saja sangat laris. Bangunannya terkesan nyaman dan lama. Memberikan kesan sebaik rumah sendiri. Sepertinya, ada 3 lantai. Dan cukup lebar. Bisa di kira-kira, ada 24 kamar. Di kurang kamar Yukiko, orang tuanya, dan dapur, mungkin 20 kamar untuk pelanggan.
Kami masuk. Aku dan Yosuke di beri kamar di seberang kamar Yukiko dan Chie, lantai 3. Kami menaruh barang. Saat aku dan Yosuke keluar untuk melihat-lihat penginapan ini, kami bertemu Ayah Yukiko. "Halo, anak muda." Wah, Ayah yang bersemangat. "Halo, Sir." Sambut Yosuke sambil menunduk hormat. Aku ikutan saja. Karena Yosuke sudah lama di Inaba, mungkin Ayah Yukiko telah kenal. Sedangkan aku... "Wah wah wah, lihat siapa ini." Ucap Ayah Yukiko sambil menatapku. Aku bingung, setahuku, aku belum pernah bertemu Ayah Yukiko.
"Bukankah... Ah! Aku ingat! Kau anak muda yang selalu mengantar putriku pulang, eh? Lalu, jika aku tanya pada putriku akan kamu, dia langsung mengganti topik pembicaraan." Hah? Mengapa Ayah ini membeberkan 'salah satu hal yang tidak mesti temanku tahu' di depan Yosuke? Aih, maaf Yukiko. Jika nanti kamu merah padam karena ini, itu bukan salahku.
"Hah? Kau... Mengantarnya pulang tiap hari?" Tanya Yosuke dengan nada 'hmmm, aku tahu...'. Tak ada gunanya berbohong. Ada saksinya di depanku. Jadi aku mengangguk. "Jadi, izinkan aku menanyaimu, anak muda." Kata Sang Ayah sambil membawaku untuk di introgasi. Aku memberikan desahan pelan pada Yosuke, sebagai tanda aku agak khawatir. Lalu aku meninggalkan Yosuke dan mengikuti Ayah Yukiko. Di sebuah kamar kosong.
The interrogation, begin...
Ayah Yukiko: Jadi, siapa namamu bocah?
Aku: Souji Seta.
Ayah Yukiko: Kelas?
Aku: Sekelas dengan putrimu.
Ayah Yukiko: Apa alasanmu mengantar putriku tiap hari? (To The Point sekaliiii!)
Aku: Aku menyukai putri anda. (Santai sekali aku mengucapkannya?)
Ayah Yukiko: Sudah mengatakannya pada putriku?
Aku: (mengangguk)
Ayah Yukiko: Apa dia menjawab perasaanmu?
Aku: Saya masih dalam pengejaran menuju dasar hati Yukiko. (sambil menggeleng)
Ayah Yukiko: Dengan penampilanmu, pasti ada beberapa gadis yang naksir padamu bukan?
Aku: (mengangguk)
Ayah Yukiko: Adakah yang imut? Cantik? Atau cocok dengan tipemu?
Aku: (Agak cengo, tapi mengingat ke-cool-an-ku, aku harus segera mengatasinya.) Maaf, tapi aku tidak pernah memperhatikan mereka. (Sebetulnya, mereka terlalu banyak. Jadi aku malas.)
Ayah Yukiko: Pernahkah kamu berpacaran sebelum ini? (Ekstrim!)
Aku: (menggeleng)
Ayah Yukiko: Sekuat apakah usahamu mendapatkan hati anakku?
Aku: Sekuat tangan Ade Rai! (Aku mulai eror karena pertanyaannya)
Ayah Yukiko: (Terbahak-bahak) Apa konsekuensi yang menurutmu pantas jika kau melukai anakku? (Kembali serius)
Aku: Tendanglah saya menuju Afrika.
Ayah Yukiko: (Tertawa, mungkin karena eror aku diangap lucu?) Masih adakah teman kalian selain berempat ini?
Aku: Ada. 2 cupid penjual produk Tje-Fuk.
Ayah Yukiko: Tje-Fuk? Yang untuk memperindah pantat?
Aku & Ayah Yukiko: (Cekikikan, lalu mulai membicarakan fungsi Tje-Fuk bila di makan.)
Kacau sekali interogasi ini?
Yukiko: Ayah! Di mana handuk untuk ta-" (terhenti karena melihatku)
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Yukiko penuh selidik. "Errr, bukan apa-apa." Lha? Kenapa si Ayah harus bo'ong? "Jangan bilang.. Ayah tidak menginterogasi Souji-kun, kan?" Yukiko mendekat. Berapi-api. "Ahhh, bagaimana kau tahu?" Ayahnya menjawab seperti sedang terkena penyakit maag (Baca: 'MAH'. Hoeks! Kok nyembur?). Yukiko mendesah, "Ayah terlalu khawatir! Ingatkah waktu Ayah menginterogasi tukang pos karena aku yang menerima surat? Lalu tukang susu yang sempat melihatku berjalan dari sekolah?" Ucap Yukiko.
What? "Itu hanya hal sepele." Si Ayah membela diri. "Sepele? Pada akhirnya, tidak ada yang Ayah dapat. Ayah malah bercanda dengan mereka. Itu baru tukang pos dan tukang susu. Lainnya? (mendesah) Ayah, tak perlu khawatir. Aku bisa menjaga diri. Lagi pula, Souji tidak akan macam – macam padaku. Dia... (Terhenti)" Dia mulai merona memikirkan apa yang hampir di katakannya. Kira-kira apa ya? Aku penasaran!
"Apa yang Souji tak akan lakukan?" Ayahnya berbalik bertanya penuh selidik. "Bukanapa-apa." Katanya sambil pergi. Ayah Yukiko memandangku. "Hhhh, kurasa cukup di sini dulu. Beri tahu Yukiko, handuknya ada di lantai 1." Pesan Ayah Yukiko. Aku berdiri, mengangguk, dan berjalan keluar. Aku mencari Yukiko, yang masih mencari handuk di lantai 2. "Ayahmu berpesan, handuknya di lantai 1." Aku memberi tahunya. Dia mengangguk.
"Apa yang takkan ku lakukan padamu?" Aku mendekati Yukiko. Dan menatap lurus padanya. Dia blushing. "Ehm, bukan apa-apa." Ucapnya sambil menghindari pandanganku. Aku memegang dagu Yukiko, memaksanya untuk menatapku. "Apa kira-kira yang takkan ku lakukan padamu?" Aku mengulang, sambil mendekatkan wajah kami. "Mmm, me.. Menyakitiku?" Jawabnya dengan tetap blushing. Aku tersenyum dan melepaskannya.
"Yeah. Aku tak akan mau menyakitimu. Bahkan jika bisa." Ucapku sambil berjalan dengan Yukiko ke lantai 1. Tak tahu kami, sedari tadi Ayah Yukiko menguping sambil mencoret-coret kertas, bertuliskan:
Souji Seta = Lulus test 1.
Sorenya, aku dan Yosuke ke pemandian air panas. Tentu saja, bagian laki-perempuan di pisah. Sementara Yosuke main air, aku berendam di pinggir dekat dinding pembatas. Hangat, sepi, sunyi. Ahhhh, nyamannya.
Saat malam, Yosuke iseng. Menyeretku untuk mengintip ke kamar para cewe. Eh, ketahuan! Mereka belum tidur. Setelah kena pukulan ringan dari Chie, kami malah di ajak main kartu. Asyik lho! Kami bermain dan bercanda terus hingga jan 8. Lalu Chie mulai ngantuk dan tidur. Sepertinya, dia agak kacau. Karena dia salah futon (tempat tidur org jepang), dia malah mengambil futon Yukiko. Tapi Yukiko tidak keberatan.
Lalu, Yosuke mulai menguap-nguap. Dia minta izin untuk numpang sebentar di futon Chie. Nanti kalau aku dan Yukiko selesai, dia janji akan pergi. Aku dan Yukiko mengiyakannya. Kami masih bermain dan bercanda hingga jam 10. Wah, sedari tadi aku dan Yukiko mecoba sekuat tenaga untuk tidak berisik. Lalu, pada jam 10, kami akhirnya ngantuk. Aku baru mau menyeret Yosuke yang molor keluar, ketika dia bergelung. Tampak sangat lelah. Yukiko melihatnya, dan mengangguk. Artinya, kami setuju untuk tidak membangunkannya.
Well, aku berani jamin, Yukiko tidak tahu konsekuensi apa yang akan dia alami. Sekamar denganku. Aku masuk ke kamar anak cowo. "Futon siapa yang mau kau pakai?" Tanyaku. "Siapa saja boleh." Katanya sambil ikut masuk. Aku memberikannya milikku, karena aku tidak tahu apa yang bakal Yosuke lakukan jika mengetahui futonnya di pakai Yukiko. Saat aku menggelarkan futon untuk Yukiko dan untukku, Yukiko bertanya, "Souji-kun, kau sudah mengantuk?". Aku menggeleng. Mungkin karena tadi kami kebanyakan bercanda, kami belum mengantuk. "Lalu, apa yang mau kau lakukan?" Tanyaku yang sudah selesai menggelar 2 foton kami.
"Aku tidak tahu. Biasanya, aku belajar. Tapi malam ini, rasanya agak berat untuk melakukannya." Ucapnya letih. "Mau duduk dan mengobrol?" Ajakku. Dia mengangguk. Aku duduk di pojokan dekat jendela bersamanya. Pemandangan di luar jendela hanya ranting pohon. Kami mengobrol tentang macam-macam. "Oiya, kapan ulang tahunmu, Yuki-chan?" Aku bertanya. "Hmm? Oh, minggu pertama saat musim dingin." Jawabnya. Aku menyimpannya dalam memoriku. Lalu aku mengeluarkan HP, "Sudah lama kita kenalan, tapi aku selalu lupa untuk menanyakan nomormu, boleh minta?" Tanyaku lagi. Dia mengangguk dan menyebutkan nomor Hpnya.
Yukiko tampak capai, tapi tidak mengantuk. Aku juga biasanya begitu, jadi aku tahu apa yang kuinginkan. "Tidurlah di pangkuanku." Kataku sambil menepuk paha. Dia merona. "Tidak apa. Kau tahukan kalau aku tidak gigit." Aku membujuknya. Akhirnya, dia tiduran dengan perlahan dan malu-malu. Aku tersenyum padanya. Lalu, aku mengelus rambutnya.
"Souji-kun." Panggil Yukiko setelah beberapa lama. "Hmm?" jawabku. "Menyanyilah." Pintanya dengan malu-malu. Aku tersenyum mendengar permintaannya itu. Lalu tanpa banyak gerak, aku mengeluarkan ipod di saku celanaku. Aku menaruh satu bagian di telinga Yukiko dan satu lagi untukku. Aku menyalakannya, dan memainkan sebuah lagu yang akan aku nyanyikan.
Sterling Knight – What You Mean To Me...
I can't blame you for thinking that
You never really knew me at all
I tried to deny you but nothing
Ever made me feel so wrong I thought
I was protecting you from everything that
I go through but I know that we got lost along the way
Dia tersenyum mendengarkanku. Aku bernyanyi sambil mengelusnya.
Here I am with
All my heart I hope you
Understand I know I let
You down but I'm never
Gonna make that mistake
Again you brought me
Closer to who I really am
Come take my hand
I want the world to see
What you mean to me
What you mean to me
Dia merona.
Just know that I'm sorry I never
Wanted to make you feel so small
Our story is just beginning we'll let
The truth brake down these walls, oh yeah
And every time I think of you I think of how
You pushed me through and showed me
How much better I could be
Perlahan-lahan. Aku tidak mengelusnya. Melainkan menggenggam tangan miliknya.
Here I am with all my heart
I hope you understand I know
I let you down but I'm never
Gonna make that mistake again
You brought me closer to who
I really am come take my hand
I want the world to see
What you mean to me yeah
You make me feel like I'm myself
Instead of being someone else
I wanna live that every day
When you say what no one else
Will say you know exactly
How to get to me you
Know It's what I need
It's what I need yeah
Wajahnya merah padam terus.
Here I am with
All my heart I hope you
Understand (I hope you
Understand) I know I let
You down but I'm never
Gonna make that mistake
Again you brought me
Closer to who I really am
So come take my hand
I want the world to see
What you mean to me
What you mean to me
Di akhir not yang di bunyikan dari ipodku, aku mencium keningnya. Perlahan-lahan. Dan tangan Yukiko... Membalas genggamanku, untuk pertama kalinya.
1 jam kemudian, barulah kami tidur. Paginya, aku-Yosuke-Chie berpamitan. Diam-diam, Ayah Yukiko mengedipkan matanya hanya padaku. "Berjuanglah." Dukung sang Ayah tanpa suara. Aku mengangguk.
