A/N : YA-HA! Update di hari Sabtu! Sankyu, Aniki! *abaikan* Jujur saja, saya tidak suka chapter ini, adventure/action itu bukan tipe(?) saya. Eh, bukan tipe pacar maksudku. *ditampar* Saya terus kesusahan kalau adventure gitu. Dan nambahin karakter buat adventure itu mendokusai banget. Yeah, ini fic romance, I knew it. /ohyeah
...Lain kali Xujie gak ikut ke medan perang aja deh.
Mei Xujie : Eeeh!?
Guo Jia : Hm, kalau Xujie ikut perang sih tak apa.
Mei Xujie : T-Tuh kan! Fengxiao bilang boleh!
Guo Jia : Tapi Xujie akan lebih aman kalau dirumah.
Mei Xujie : Buuu... *gembungin pipi*
Guo Jia : Maa maa~ *elus kepala Xujie*
Blossom : Scarlet-kun! Fic ini genre utamanya ROMANCE, Scarlet-kun!
Scarlet : Tahu kok! Mau gimana lagi kan?
Blossom : Kusso! *tinju tembok*
Scarlet : GEMPA HOI!
...Maaf. Oke, balas review dulu. *sweatdrop*
-safniradhika-
Xujie : *blush* Aku mengerti... T-Terima kasih.
Guo Jia : *chuckle*
-xtreme guavaniko-
Blossom : Yay! Sankyu udah di follow Wa-chan! Dan syukurlah udah bisa login. Hm? Tusuk konde bisa dimakan? *ngiler*
Scarlet : Bukannya dango? Tusuk konde itu kan bukan makanan... *sweatdrop*
Blossom : He~ Membosankan.
Scarlet : Lagi puasa, tahan dulu, Blossom. Sankyu Wa-chan!
-crossmix-
Xujie : Papi?
Xun Yu : *garuk-garuk punggung* Hentikan Xujie! Punggung ayah jadi gatal!
Xujie : Eh?
Guo Jia : Oya? Cinta segitiga?
Scarlet : NAAHHHHH...
Guo Jia : Sayang sekali, diriku hanya untuk Xujie.
Blossom : Nge gombal mulu ah! Punggungku gatal!
Xujie : Terima kasih atas reviewnya!
Disclaimer : Dynasty Warriors belong to KOEI. OCs and this fic belongs to me.
Warning : Typo, abal, gaya bahasa, dan kesalahan lainnya mohon dimaafkan. Dan jika ada OOC kemungkinan tidak sengaja atau bisa disengajakan demi lancarnya alur cerita. Guo Jia x OC (Mei Xujie)
Well, walaupun begitu. Hope ya enjoy this. *maling kalimat Guo Jia—dimusou*
The Blue Butterfly : The Warmth of Life
Chapter 10
Irreplaceable Things
Gadis bermata merah itu menatap langit yang kelam. Kedua alisnya menyempit, matanya sedikit menurun dan bibirnya tertutup rapat. Guo Jia yang melihat raut wajahnya seperti itu tidak tahu apa yang dipikirkannya. Dia memang seorang penasehat yang sangat diandalkan tetapi tidak bisa membaca pikiran kekasihnya tersebut. Membuat dirinya merasa Xujie adalah kelemahannya, tetapi dia juga merupakan kukuatannya.
"Xujie?"
Gadis tersebut belum bergerak sedikitpun, ia masih memandang langit,"...Fengxiao. Apakah ini hanya perasaanku saja kalau setiap kali berada di medan perang langitnya selalu saja gelap seperti ini? Sama seperti di Xia Pi dulu...awannya selalu mendung, hembusan angin juga terasa dingin, aku juga tidak bisa melihat matahari."
"..." Guo Jia terdiam dan ikut memandang langit. Dia merasa perkataan Xujie ada benarnya. Sejak ia bergabung dengan Cao Cao, seingatnya setiap kali berperang langitnya jarang sekali terlihat cerah.
"... Orang-orang yang tidak bersalah kini sedang ketakutan dan terus berdoa sampai perang berakhir... sampai hari esok akan cerah."
Guo Jia masih diam mendengar renungannya.
"...Nanti, semua akan saling membunuh. Mereka yang menginginkan perdamaian rela mempertaruhkan nyawa... Keluarga mereka yang menunggu kepulangannya." Xujie menurunkan kepalanya. "Apakah ini sudah benar? Atau salah?" Sadar karena berbicara sendirian, Xujie menggeleng kepalanya kemudian tertawa malu. "A-Ah, aku mengatakan hal yang aneh." Ucap Xujie menundukkan kepala. Walaupun ia tersenyum seperti itu, Guo Jia merasa dia masih merasa sedih. Kemudian Guo Jia menyentuh tangannya dengan lembut. Mendengar semua renungan yang keluar dari mulutnya sangat menyentuh hatinya. Gadis berhati murni seperti Xujie bahkan sampai berpikir sejauh itu, selalu mencemaskan orang lain bukan dirinya sendiri.
"Aku pun tidak tahu apa semua ini salah atau benar. Tapi, mereka semua disini sudah mempercayai keyakinannya. Mereka menginginkan perdamaian agar orang yang disayanginya dapat menemukan kebahagiaan. Xujie..." Kemudian ia meraih wajahnya. "Untuk mendapatkan semua itu, harus dilewati dengan kesengsaraan. Seperti itulah dunia ini."
Mulutnya terbuka sedikit kemudian Xujie kembali tersenyum. "Um. Aku jadi ingat lambang Yin dan Yang." Xujie tertawa kecil. "Fengxiao, terima kasih. Sekarang aku sudah merasa lebih tenang berkatmu. Mulai sekarang, aku juga harus mempercaya apa yang aku percayai."
"Syukurlah kalau begitu." Guo Jia tersenyum lega.
-xxx-
Matahari sudah terbenam, Xujie memegang senjata kapak belatinya dengan erat. Para pasukan sudah berbaris untuk menunggu gerbang dibuka. Kemudian ia menatap Guo Jia yang berdiri di depannya.
'Aku harus berusaha. Aku ingin pulang bersama dengan Fengxiao.'
Gerbang pun dibuka dan para pasukan langsung menuju posisi masing-masing untuk melaksanakan tugas mereka.
"Serang!" seru Yue Jin.
Pasukannya bersorak, mereka maju dan menyerang satu persatu pasukan Yuan Shao. Seingat Xujie, Yue Jin ditugaskan untuk mengalihkan perhatian musuh.
Pasukan yang lain saat ini menyerang penjaga gerbang menuju markas Baima dan Yanjin. "Akulah lawanmu!" seru jendral yang menjaga gerbang. Pasukan Cao Cao langsung menyerang, Guo Jia memanggil sebuah orb dan menyerang musuh satu persatu.
Xujie ikut menyerang, ia tidak ingin senjatanya berlumuran darah. Karena itu dia hanya menendang musuh hingga mereka tidak sadarkan diri. Salah satu prajurit menyerang Xujie dari belakang, karena saat ini posisinya tidak beraturan, Xujie terpaksa menggunakan kapak belatinya sehingga prajurit tersebut mati seketika.
"Maaf..." gumam Xujie. Lalu ia terus menyerang prajurit jendral tersebut dengan senjatanya. Tiba-tiba jendral penjaga gerbang itu menyerang Xujie secara tiba-tiba.
"...!" Senjata mereka saling bergesekan. Xujie menahan jendral tersebut sekuat tenaga agar tidak terkena serangannya.
"Huh, wanita sepertimu sebaiknya tidak mengikuti perang. Kalau begitu aku akan mengirimmu sekarang menuju neraka!" Jendral tersebut mendorong Xujie.
Xujie tidak menjawab, dia melepas serangannya sehingga jendral tersebut kehilangan keseimbangannya. Pada kesempatan tersebut, Xujie menyerang dagunya dengan lututnya kemudian langsung membunuhnya dengan kapak belatinya. Jendral tersebut berteriak kesakitan dan akhirnya mati.
"G-Gawat! Tuan Guo Tu sudah dikalahkan!" Para prajurit tersebut kepanikan dan mereka terpaksa mundur.
"...Neraka..." gumam Xujie.
Guo Jia menghampirinya. "Saat aku memerhatikanmu, sepertinya kau sudah berpengalaman, Xujie."
"Sungguh?" Xujie memiringkan kepalanya. "...Um, Fengxiao. Apa aku boleh bertanya?"
"Tentu."
"...Apakah mereka yang mati disini... akan dikirimkan menuju neraka?"
Guo Jia menaikkan alisnya. "Entahlah. Di neraka kah atau di surga, itu keputusan Langit."
"Begitu..." Suaranya terdengar sedih. Ia memegang senjatanya erat. Guo Jia membelai rambutnya dengan lembut.
"Nah, ayo kita menuju markas Baima."
Xujie mengangguk dan kembali mengikuti Guo Jia.
Setibanya disana, ternyata Guan Yu sudah berada disana. Nampaknya markas tersebut sudah diambil alih dan Wen Chou sudah dikalahkan.
"Oh? Ternyata Anda, Tuan Guan Yu. Anda memang dapat diandalkan dalam perang ini." Puji Guo Jia.
"Saya hanya melakukan ini untuk membalas budi Cao Cao, tidak lebih tidak kurang." Dia langsung pergi menuju markas berikutnya.
"Sepertinya lebih baik kita serahkan Yanjin pada Tuan Guan Yu." Ucap Guo Jia. "Ayo, Xujie."
-xxx-
"Tunggu." Salah satu jendral Yuan Shao menghalangi jalan. "Saya Xu You. Saya akan mengabdi kepada Tuan Cao Cao dan meninggalkan Yuan Shao." Jendral tersebut memberi hormat. "Saya menyarankan Anda untuk menyerang Wu Chao, Yuan Shao menyimpan perbekalan disana. Dengan begitu saya yakin Yuan Shao akan kalah telak. Tetapi saya harap taktik ini dapat dilakukan tanpa sepengetahuan Yuan Shao." Lanjut Xu You.
"Terima kasih sudah bergabung dengan kami dan sarannya. Senang bertemu dengan Anda." Sahut Guo Jia. "Saya akan menyampaikannya pada Tuan Cao Cao." Guo Jia memberi isyarat tangan pada prajuritnya untuk menyampaikan pesannya. Prajurit tersebut memberi hormat dan mengundurkan diri.
Xu You kemudian mengundurkan diri untuk melanjutkan peperangan. Guo Jia, Xujie beserta pasukannya kembali maju menuju kastil Guan Du. Guo Jia menyadari bahwa Guan Yu juga akan menyerang dan ia berpikir Guan Yu sudah mengambil alih markas Yanjin.
"Semuanya, serang!" seru salah seorang jendral Yuan Shao. Guan Yu berhenti dan terkejut melihat jendral tersebut yang ternyata adalah Liu Bei dan Zhang Fei. "Guan Yu! Kau kah itu? Syukurlah kau masih hidup!"
"Liu Bei! Tidak kusangka aku akan menemuimu disini! Aku sudah lama sekali ingin bertemu denganmu!" Ia menurunkan senjatanya. "Aku sudah membalas budiku pada Cao Cao, karena itu mari kita keluar dari medan perang ini, saudaraku." Guan Yu beserta saudara sesumpahnya meninggalkan lapangan perang.
"Fengxiao. Apa tidak apa, mereka..." tanya Xujie.
"Tidak masalah. Beliau sudah menyelesaikan tugasnya, dan hutang budi pada Tuan Cao Cao juga sudah selesai." Sahut Guo Jia.
"Oh, begitu."
"Nah, ayo."
Xujie mengangguk.
Kemudian seorang prajurit pembawa pesan menghampiri Guo Jia, ia berkowtow sebelum menyampaikan pesan. "Tuanku, kami sudah menyiapkan pasukan panah api untuk menyerang Wu Chao. Apakah serangannya dilakukan sekarang juga, Tuan?"
"Ya. Sekarang."
"Siap, Tuanku." Prajurit tersebut mengundurkan diri.
"...Kalau begitu, kita akan menyerang Wu Chao dengan membakar markas itu?" tanya Xujie.
"Ya—" Guo Jia teringat akan kejadian yang menimpa Xujie beberapa tahun lalu, desa Xi Jiang yang terbakar. Ia berpikir apakah tidak masalah kalau ia membawa Xujie ke Wu Chao untuk mengantarkan pasukan panah api. Jika ia melihat Wu Chao terbakar, pasti dia akan ingat akan kejadian di desanya dan trauma.
"...Fengxiao?"
"Xujie. Sebaiknya kau menungguku di markas sebelah barat. Kau pasti lelah. Aku akan mengantarkanmu kesana."
"Eh? Tidak kok. Aku tidak lelah..." Xujie menggeleng kemudian tersenyum kecil.
"...Tidak, jangan paksakan dirimu, Xujie."
"Anu... Apa aku menyusahkanmu?" tanya Xujie menundukkan kepalanya. Melihat raut wajahnya yang sedih seperti itu membuatnya semakin kesulitan untuk memaksanya. Guo Jia menyentuh kedua bahunya.
"Xujie. Aku tidak pernah berpikir kalau kau menyusahkanmu. Itu tidak benar. Aku hanya ingin kau selamat."
"...M-Maaf. Aku salah paham." Xujie kemudian menyentuh punggung tangannya. "Tapi, aku akan baik-baik saja. Aku kan hanya akan terus mengikuti Fengxiao. Aku juga harus memastikan kalau Fengxiao baik-baik saja." Seulas senyuman menghiasi wajahnya yang menawan. "Karena itu kumohon...uhm..." Xujie kembali menundukkan kepalanya, bisa ia lihat pipinya merona. "...P-Percaya padaku." Ucapnya dengan nada pelan.
"..." Guo Jia menghela napas, tetapi kemudian ia tersenyum. "Ya..."
-xxx-
Pasukan Guo Jia dan prajurit panah api berjalan menuju tebing berhutan untuk melakukan serangan panah api secara tiba-tiba. Xujie yang merasa sedikit ketakutan memegang erat jubah Guo Jia, pria itu tersenyum kemudian menggandeng tangannya.
"A-Anu... apakah disini ada binatang buas?" tanya Xujie pelan.
"Aku tidak tahu, tapi aku harap tidak ada." Kemudian ia menatap Xujie dan tersenyum hangat padanya. "Tak apa, aku akan melindungimu."
"...um." Xujie mengangguk pelan dan membalas senyumnya.
Sudah terlambat untuk membawa Xujie kembali ke tempat yang lebih aman, namun Guo Jia tidak menyesalinya. Dirinya juga merasa lebih nyaman jika Xujie bersamanya.
"...Eh?" Xujie merasa menginjak sesuatu di kakinya. Kedua matanya melebar dan jantungnya berdetak keras melihat sebuah ular berbisa. "Kyaaa!" Xujie berteriak keras dan berlari ke arah Guo Jia. Namun, ia tersandung sehingga ular tersebut menggigit kaki Xujie. "H-HYAAAHHH!"
"XUJIE!" Guo Jia langsung mengambil pedang dari tangan salah satu prajurit dan membunuh ular tersebut sehingga terbelah menjadi dua. Gigitannya terlepas dari kakinya, tubuh Xujie terlunglai di atas tanah. Guo Jia bergegas merangkulnya, ia melihat bekas gigitan ular dikaki Xujie.
Kemudian seorang jendral datang. "Oi, aku mendengar suara teriakan tadi!" Jendral tersebut rupanya Li Dian bersama Yue Jin. Mereka melihat Guo Jia merangkul Xujie yang tidak sadarkan diri. "H-Hei! Kenapa dengannya!?" tanya Li Dian. Mereka mendekati Guo Jia dengan panik.
"Maaf, Tuan Li Dian, Tuan Yue Jin. Tapi bisakah kalian mengantarkan pasukan panah api ini?" Ia menggendong Xujie.
"A-Ah, baiklah. Serahkan padaku."
"Terima kasih." Guo Jia kemudian menaiki kuda putih, ia memposisikan tubuh Xujie dengan hati-hati agar tidak jatuh. Kemudian gilirannya menaiki kuda. "Permisi." Guo Jia menyepak kudanya sehingga kuda tersebut berlari. "...Kau akan baik-baik saja, Xujie." Ia mengecup kepalanya dan memeluknya erat. Nafasnya terengah-engah dan bergetar, tubuhnya terasa begitu lemah. Melihatnya seperti ini membuatnya ingin menghilangkan sakit yang ada pada Xujie dengan sekejap, tapi ia tahu itu mustahil.
-xxx-
Ia memanggil tabib setelah membawa Xujie ke markas terdekat. Saat ia kembali ke ruangan, didapatinya Xujie yang sudah sadar.
"Xujie...!"
Ketika Guo Jia menghampirinya, Xujie kesulitan mengeluarkan suaranya, ia memegang lengan baju Guo Jia. Kedua matanya setengah tertutup dan berair, nafasnya sesak, wajahnya sangat merah. "M-Ma...af... F-Fengxiao... aku... ce...ceroboh..." ucapnya. Kedua alis pria itu menyempit, ia langsung mendekapnya erat dan mengecup pipinya.
"Kau akan baik-baik saja, Xujie..."
Kemudian tabib memasuki ruangan, ia telah membawa peralatan dan ramuan. "Baiklah, saya langsung saja mengobatinya."
"Ya."
Xujie masih belum melepaskan genggamannya, walaupun genggamannya itu regang ia masih bisa menahan Guo Jia. "Nona Mei Xujie, mohon ditahan sakitnya. Saya akan mengangkat racun bisanya." Xujie hanya mengangguk.
"..."
"Saya sudah memberikan ramuan pada kakinya. Dan Nona Mei Xujie, harus istirahat."
"..."
"...Terima kasih." Ucap Guo Jia.
Tabib itu memberi hormat dan mengundurkan diri. Guo Jia memandang wajah Xujie yang sudah merasa tenang. Tangannya masih belum melepaskan lengan Guo Jia. Pria tersebut mengecup dahinya.
"...M-Maaf..."
Guo Jia memutuskan kecupannya dan menatap Xujie.
"...Ma-Maaf... aku... selalu saja membebanimu... Ma...af..." ucap Xujie dengan suara bergetar.
"Bukan salahmu, Xujie. Ini salahku karena lengah... seharusnya aku lebih cepat—"
"Tidak...tidak..." Xujie menggeleng kencang. "Semuanya...salahku... seharusnya dari awal aku...aku tidak ikut denganmu... Aku lebih baik dirumah... jika aku bersama Fengxiao... aku... aku pasti akan selalu menyusahkanmu... Aku benar-benar bodoh... aku—"
Guo Jia memotong ucapannya, bibir mereka saling menyentuh. Kedua mata Xujie melebar, ia memegang bajunya dengan erat kemudian memejamkan matanya.
Setelah beberapa lama, Guo Jia memutuskan kecupannya. "Xujie." Ia memeluk tubuhnya dan mengistirahatkan wajahnya di bahu Xujie. "Kau tidak pernah membebaniku, kau selalu bersamaku bahkan di medan perang ini... membuat hatiku sangat tenang. Tidak seharusnya kau berpikir negatif seperti itu. Kau peduli padaku dan aku pun peduli padamu."
"T-Tapi...! Karena aku, Fengxiao tidak jadi mengantarkan pasukan panah api dan..."
"Untuk menang di medan perang bisa dilakukan dengan cara apapun. Tapi, kau hanyalah satu-satunya yang tidak bisa digantikan. Kau sangat penting dalam hidupku, Xujie."
Xujie tertegun, ia menenggelamkan wajahnya di dada Guo Jia dan menangis. "...M-Maaf..."
"Sshh..." Guo Jia mengecup pelupuk matanya. Lalu kembali menenggelamkan wajah diatas kepalanya sambil menghirup wangi rambut Xujie.
Setelah beberapa lama, Xujie berhenti menangis. Mereka masih saling merangkul, tidak ada yang berubah dari posisi mereka.
"Fengxiao..."
"Hm?"
"...Sebaiknya Fengxiao kembali, mereka membutuhkanmu. Aku akan istirahat disini." Xujie melonggarkan pelukannya.
"Apa benar tidak apa?"
Xujie mengangguk dan tersenyum kecil. Guo Jia membalas senyumnya kemudian mengecup kepalanya. Hatinya kembali hangat ketika melihat senyuman cerahnya. Ia melepas pelukan Xujie dan membantunya membaringkan tubuhnya dengan perlahan. "Tunggu aku, Xujie."
"Um." Xujie mengangguk lagi. Guo Jia kemudian keluar dari ruangan. Sebelum ia menutup pintu, ia melirik ke arah Xujie. Dia tersenyum dan melambaikan tangannya. "Hati-hati..." ucapnya dengan suara pelan tetapi dapat didengar oleh Guo Jia.
"Ya." Guo Jia tersenyum kemudian menutup pintunya.
Xujie menatap kepergiannya, ia mengenggam kedua telapaknya dan berdoa. "Tian, kumohon... Aku ingin Fengxiao dan semuanya bisa pulang dengan selamat. Dan..." Ia menggigit bawah bibirnya dan menutup kedua matanya. "Aku ingin perang berakhir dengan cepat. Aku tidak ingin melihat semua orang saling menyakiti satu sama lain seperti ini terus. Aku, Fengxiao dan yang lain menginginkan dunia ini tenang dan damai, saling menyayangi dan menghargai... Kumohon."
Xujie membuka matanya, matanya berkaca-kaca karena sedari tadi dia menahan air matanya. "Aku... tidak ingin menangis terus seperti ini. Aku ingin menjadi lebih kuat dan lebih berguna untuk semua orang... terutama Fengxiao. Aku ingin meringankan bebannya, membahagiakannya. Karena Fengxiao adalah alasanku untuk hidup. Jika dia tiada, hidupku sudah tidak berarti lagi."
Di sisi lain, Yuan Shao baru saja kalah. Semua prajurit sudah banyak yang mati dan mundur. Kemenangan kini sudah diraih oleh Cao Cao. Pemimpin Wei tersebut membiarkan teman lamanya hidup, dan meneruskan ambisinya.
"Pertarungan ini hampir mendekati sempurna. Anda membuatku kembali kagum, Tuan Muda." Puji Jia Xu.
Guo Jia hanya tertawa pelan. "Ini masih belum apa-apa. Masih ada banyak rintangan yang harus kita lewati."
"Hmph, kau benar." Dengus Jia Xu. Guo Jia berjalan mendahului Jia Xu, kuda putihnya dibawa oleh prajuritnya. "Kau akan mencek keadaan calon istrimu itu? Bagaimana dengan keadaannya?"
"Aku yakin dia baik-baik saja sekarang." Dia tersenyum. "Nah, Xujie sedang menunggu. Permisi." Guo Jia memberi hormat kemudian menaiki kudanya.
-xxx-
Guo Jia dengan perlahan membuka pintu, ternyata Xujie sudah tertidur dengan lelap. Ia tersenyum lega, Guo Jia menutup pintunya dan mendekati Xujie. Setelah duduk di tepi ranjang kayu itu, ia membelai rambut merah kecoklatannya.
"Bahkan disaat kau tertidur, kau terlihat sangat menawan..." lirihnya diiringi dengan tawa pelan. Ia menurunkan kepalanya dan mengecup keningnya. Kemudian matanya melirik ke arah kakinya, bekas gigitan ular yang kini sudah ditutup dengan dedaunan. Mengingat wajahnya yang kesakitan tadi membuat hatinya hancur, namun ketika ia kembali menatap wajah tidurnya, hatinya kembali hangat.
"Ngh..." Xujie membuka matanya dengan perlahan.
Saat-saat seperti ini kembali mengingatkannya pada saat mereka pertama kali bertemu di Xia Pi. Mata merahnya yang indah dan bulu mata yang melentik, bibir merah jambunya yang gemerlap— semua yang ada pada dirinya begitu sempurna. Ia benar-benar makhluk langit yang sangat istimewa, ia amat beruntung karena sudah memilikinya.
"Selamat pagi, putri tidur."
"...eh? Pagi?"
Guo Jia menumpukan dagunya diatas telapak tangan dan tangan sebelahnya lagi mengelus kulit pipinya yang hangat dan halus. Wajah Xujie kembali merona. Guo Jia tertawa pelan. "Bercanda. Sekarang masih dini hari."
"O-Oh... Eh, Fengxiao kenapa disini? Apa perangnya sudah selesai?"
Guo Jia mengangguk. "Ya, kita akan pulang ke rumah." Kemudian Guo Jia mendekatkan wajahnya. "Setelah kita pulang, apa kau mau menyembuhkan diri bersamaku?"
"Eh?" Xujie mengedipkan matanya berkali-kali. "Apa maksudmu?"
Guo Jia tertawa. "Kupu-kupuku yang polos. Kau akan tahu itu setelah kita menikah nanti. Aku sangat menantikannya."
"...M-Menikah...? Oh iya..." Xujie mengarahkan matanya kesamping, rona wajahnya masih belum menghilang sehingga Guo Jia selalu terhibur melihat wajahnya seperti ini. Kemudian Guo Jia menggendong Xujie. "Hwa! F-Fengxiao!?"
"Kita pulang..." ucapnya dengan nada lembut.
"Eh... i-iya." Xujie mengangguk pelan. Baru ia sadari kakinya masih belum sembuh dari bekas gigitan ular. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Guo Jia, wajahnya sudah sangat merah menandingi warna matanya. Kalau saja, Xujie tidak bersamanya, Guo Jia tidak pernah setenang ini dalam perang tidak seperti sebelumnya, sebelum Xujie masuk kedalam kehidupannya.
A/N : Deja vu! Sasuga author pemalas da yo ne! *eh ngaku-abaikan*Oops, rasanya aku melupakan sesuatu. Papi Xun Yu... Ma ii...
Blossom : I've been waiting for this, Scarlet-kun! Siapkan pernikahan mereka langsung!
Scarlet : KOK AKU SIH, GEBLEK!
Blossom : Fic-nya woi, fic.
Scarlet : Oh, fic tentu saja. Bentar, KAU JUGA HARUS BANTU AKU!
Blossom : Aku ngegambar aja.
Scarlet : NANDATO!?
Mei Xujie : Kalian berdua ini kenapa tidak bisa berdamai sih!?
Guo Jia : Mau kubantu? *evil smile*
Mei Xujie : Lho?
Guo Jia : *musou rage*
Blossom : *tutup mata Xujie* Oi, lu bikin Xujie merinding.
Mei Xujie : Eh? Eh? Apa ini?
Scarlet: REVIEW PLIS! PRETTY PLEASE! GYAAA! *kematian seketika-nanti hidup lagi*
(si author terlalu suka RP sendirian-duduk di pojokan.)
