Bring Back CH 10
JunyaJun Present
.
.
.
Tao membuka kedua matanya pelan saat suara-suara ombak yang menderu diluar sana semakin keras, mengusik tidurnya dan rasanya dia juga sudah tertidur cukup lama. Dari bunyinya, sepertinya hari sudah malam. Ombak ketika malam hari memang terdengar keras.
Kedua lengannya terangkat untuk merenggangkan otot-ototnya yang kaku, posisi tidurnya tadi kurang rapi sehingga membuat tubuhnya pegal. Secara perlahan Tao duduk menyandar, mengumpulkan kepingan-kepingan kesadarannya. Matanyapun refleks menengok kesamping kanan dan menemukan Luhan masih terlelap dengan selimut yang menutup hingga perutnya, menampilkan dadanya yang telanjang. Oh, Tao hampir lupa apa yang terjadi sebelumnya. Jika ingin tau, dia juga dalam keadaan naked.
Tao menghembuskan nafasnya setelah berhasil mengingat semuanya. Salah jika kalian mengira dia benar-benar bercinta dengan Luhan. Tidak, Tao memang mencopot semua pakaiannya dan pakaian Luhan secara brutal tadi, mencium Luhan dan hal-hal lainnya. Namun pada akhirnya Tao menyerah. Tidak jadi membobol Luhan lebih jauh, dan memilih untuk tidur saja dalam keadaan naked. Hal itulah yang membuat posisi tidurnya jadi berantakan dari biasanya. Menurut Tao ada sesuatu didalam dirinya yang menolak. Tao merasa asing, merasa ada yang janggal, dan apa yang dia lakukan itu salah. Tapi dia tidak tau itu apa, dan dia harus mencari tau hal itu!
Tao akhirnya sadar, jika Luhan selama ini menolak bercinta dengannya pasti memiliki alasan. Alasan yang selama ini disembunyikan oleh Luhan atau yang Tao cari, mungkin?
Tao tidak bodoh untuk tidak sadar Luhan berbohong selama ini padanya. Dia tau. Dan dia bisa apa untuk membuktikan kecurigaannya karena dia sendiri tak ingat apa-apa. Dia hanya tau, dia –Tao- dan Luhan sudah mengenal sejak kecil, tinggal dipanti asuhan, dan saat dewasa mereka menikah. Itu saja yang Tao tau –dari cerita Luhan padanya-. Tanpa bisa mengatakan semua hal itu benar atau salah.
Tao sudah mengumpulkan kesadarannya, dia menyingkap selimut yang dia bagi bersama Luhan. Berjalan kearah sudut dimana dia membuang celana dalamnya disana, mengambilnya kemudian memasangnya secara cepat. Kalau boleh jujur, Tao paling tidak bisa melihat tubuhnya sendiri yang telanjang. Entah kenapa.. dia merasa bernafsu sendiri jika melihat tubuhnya yang polos. Aneh kan, kenapa dia bernafsu melihat tubuhnya sendiri? Rasanya dia tidak mengidap kelainan apapun.
Tao memungut semua pakaiannya yang berceceran dilantai kemudian memakainya, setelah selesai barulah dia berjalan meninggalkan kamar. Tenggorokannya kering, dan dia butuh air.
.
Tao berjalan kearah dapur, dan dia menemukan balita itu sudah duduk di kursi khususnya.
"Lufan, kenapa kau disini sayang?" Tao langsung berjongkok di depan Lufan kemudian mengamati balita itu khawatir, takut balita itu terluka atau apapun. Astaga, Tao melupakan Lufan dan tertidur sudah selama ini. Lufan tidak melakukan hal aneh selama dia tidur, kan?
Lufan mengerucutkan bibirnya seraya mengalihkan pandangannya dari Tao.
Eh.
Tao menyerngit, bingung kenapa Lufan marah padanya.
"Par.." Lufan hanya menggumam yang didengar tidak jelas oleh Tao.
"Par?" ulang Tao. Dia menyerngit, apa maksudnya? Tao berfikir sejenak. Dan, dia baru sadar, Lufan lapar. Pantaslah Lufan marah padanya.
"Aduuh maafkan Baba sayang. Baiklah Baba akan membuatkanmu makanan, tunggu sebentar. Oke?" Tao bergegas berdiri dan mulai menyiapkan makanan untuk Lufan.
Tao mengutuk dirinya sendiri, dia sampai-sampai melupakan Lufan. Beruntung bocah balita itu sudah mengerti dan tau bagaimana caranya menghidupkan lampu, -meski Tao sangat khawatir akan hal itu, Lufan masih dua tahun dan dia berani menggapai saklar lampu kemudian menghidupkannya- Lufan juga pandai menyeret kursi khususnya dan duduk disana dengan manis sampai dia datang tadi. Tao tidak bisa membayangkan bagaimana jika Lufan yang belum mengerti apa-apa itu berlari keluar rumah kemudian bermain dipantai. Duh, jangan sampai anak itu terseret ombak nanti.
Tao diam-diam tersenyum, mengingat kebodohannya sendiri dan sikap Lufan yang manis. Dia benar-benar menyanyangi Lufan sepenuh hati, meski dalam hati Tao yang terdalam ada sedikit keraguan, bahwa dia meragukan Lufan anaknya atau bukan.
.
.
.
Oh sehun, begitulah nama yang dikenal dari pemuda 22 tahun itu, berkulit putih dengan garis wajah yang tegas, terkesan dingin dan angkuh. Namun orang-orang yang berinteraksi secara langsung dengannya akan berpikir sebaliknya karena ia orang yang mudah senyum dan ramah. Tidak ada wajah dingin sebagaimana garis wajahnya terlihat. Orang-orang tidak tau saja jika senyum seperti kucing itu milik orang lain.
.
"Hyung, kau dipanggil lagi oleh dosen baru itu" suara Taehyung dari pintu menyentakkan lamunan Sehun yang tadi asik memandangi luar jendela. Ia menghela nafas dan berdecak kesal olehnya.
Hanya saja... jika berurusan dengan satu orang itu Sehun tak terlihat ramah.
Sehun melirik malas pada Taehyung yang berjalan mendekatinya, "Sekarang apa lagi?" Sehun tidak mengerti karena sepertinya dia hampir tiap hari dicari oleh dosen –orang yang sangat dia benci didunia ini- yang menyebalkan itu. Sudah syukur dia selama ini dapat menata wajahnya sedemikian rupa agar tak terlihat jelas membenci dosen itu. Ini ditambah dengan tiap hari dia harus bertemu muka dengan orang itu. Menyebalkan.
"Sepertinya, kau ditunjuk menjadi ketua pelaksana camp minggu depan"
"Apa?! Apa kau sudah gila?!" Sehun berteriak, mengundang tatapan heran dari temannya yang kebetulan ada di kelas itu.
"Hey, bukan aku. Dosen itu yang gila jika kau ingin menyalahkan. Sudah, pergi sana" Taehyung menyeret Sehun agar bangun dari tempat duduknya, kemudian menempati tempat duduk Sehun padahal sebenarnya Taehyung duduk dikursi sebelahnya. Dengan terpaksa Sehun menurut dan melangkah malas beranjak menuju ruang dosen itu.
Oh demi Tuhan Wu Yi Fan, jika kau tau aku Huang Zi Tao. Aku bersumpah aku akan membunuhmu dan tak berpura-pura lagi menjadi Sehun.
.
.
.
Took
Took
Ketukan itu berbunyi pelan. Yi Fan yang mendengar pintu ruangannya diketuk menyuruh orang itu masuk tanpa mengalihkan dirinya dari pekerjaannya.
"Come in"
Setelah diberi izin Sehun membuka pintu itu ogah-ogahan dan menatap dosen itu yang sepertinya masih asik dengan pekerjaannya dari ambang pintu.
"You come?"
"Yeah, and now what do you want from me? Seriously I'm so sick of seeing you again" ujar Sehun sakartik masih setia ditempat seraya bersedekap.
"Hey, stay cool young man" Yi Fan menghentikan sejenak pekerjaannya. Ditatap pemuda bernama Oh Sehun didepannya yang menatap tak suka padanya. Jika kesal seperti itu barulah dia terlihat seperti benar-benar 'Oh Sehun'.
Yah, sejak awal Yi Fan sudah tau, ada yang lain dari salah satu mahasiswanya ini. Sejak awal Sehun menatapnya, seolah mengajak ia perang. Dan setelahnya tatapan Sehun kadang dingin, kadang kesal, dan entahlah pemuda itu selalu berubah-ubah melihatnya. Yi Fan tentu tau ada sesuatu yang tersembunyi dan dia ingin mengetahui itu apa, oleh sebab itu dia sengaja menyuruh pemuda itu untuk keruangannya. Setiap hari.
Yi Fan tidak masalah mendengar nada jutek mahasiswanya yang satu ini tiap kali ke ruangannya. Padahal hal itu tidak sopan sama sekali. Yi Fan hanya sudah terbiasa.
Yi Fan menunjuk kursi didepannya dengan isyarat gerakan dagunya agar Sehun duduk disana. Sehun menghela nafas kemudian berjalan menghentak menuju kursi itu.
"I'm appointing you as chairman of the team camp for next week"
"Aish, yang benar saja, baru datang sudah diserang seperti ini, sialan" Sehun mengoceh pelan dengan menggunakan hangul, karna dia yakin dosen itu tak mengerti bahasa kampung kekasihnya –Sehun yang asli- karena Yi Fan itu turunan Cina dan Kanada, otomatis Yi Fan tidak mengerti dengan bahasanya.
Yi Fan diam-diam tersenyum, dia menatap Sehun seolah meminta jawaban.
"You can't do that. You have to ask for approval and choose him in class. It's illegal, sir"
"Nope, you're the perfect guy to be a leader"
"Cih, Micchigo" Sehun mendecih dan memalingkan wajahnya. Sungguh udara sekitarnya membuat ia gerah berlama-lama di ruangan ini.
"And now, you must prepare our camp to ... beach. Choose your team. We can study and syuting there"
Sehun memutar bola matanya malas. Oh, camp ke pantai? menyebalkan. Sehun beranjak dari kursi dan menuju pintu keluar. Sudah kan? Inti dari Yi Fan menyuruhnya kesana hanya untuk menunjuknya sebagai pemimpin camp, dan tidak ada hal lagi. Maaf saja dia betah berlama-lama disana. Melihat wajahnya saja Sehun serasa ingin mencakarnya.
Saat langkahnya hampir sampai diambang pintu, Sehun sangat terpaksa menghentikannya.
"Asalkan kau tau, ibu mertuaku adalah orang korea, aku tau semua perkataanmu. Dan, selamat menjalankan tugasmu, Ketua Oh"
Damn,
Sehun berhenti kala Yi Fan berbicara dengan hangul fasih dibelakangnya. Astaga, dia melupakan fakta bahwa 'Dulu' dia berpacaran cukup lama dengan pria itu dan dia sering berkomunikasi dengan Kyungsoo –Ibu Tao-. Kenapa dia bisa melupakan hal sekecil itu?
Tunggu. Apa? Ibu mertua? Setelah penghianatan yang dia lakukan dia masih berani mengatakan Ibunya sebagai Ibu mertua? Oh Shit, you are the perfect fuck Mr. Wu.
Sehun mengepalkan kedua tangannya disamping paha, pikirannya kembali berkecamuk. Dia ingin meledak. Dia ingin berbalik kemudian menampar Yi Fan, atau dulu dia mengenal nama Kris. Kris sungguh kurang ajar setelah melemparnya ke dunia roh, kehilangan orang yang dia cintai –Karena Kris membawa tubuh aslinya ke benua Amerika sehingga dia kehilangan kesempatan mengembalikan Sehun yang sebenarnya- dan sekarang dengan seenaknya dia muncul didepannya tanpa terduga sama sekali kemudian dengan entengnya masih mengakui ibunya sebagai ibu mertua. What the hell.
Sehun tidak bisa terima. Dia sungguh sabar menyimpan perasaan ingin membunuh Kris untuk pertama kali kala itu. Puluhan pertanyaan beberapa bulan yang lalu, saat untuk pertama kalinya dia bertemu dengan Kris, Sehun jadi teringat. Luhan. Tubuhnya.
Ya,
Apa sekarang... waktu yang tepat untuk mencari jawaban pertanyannya? Benarkah mereka sudah menikah? Rasanya Sehun sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana kehidupan dua sejoli itu yang sudah berhasil menghancurkan hidupnya.
Sehun mengontrol emosinya yang sudah diambang batas, menghela nafas dalam kemudian melepaskan. Baiklah, dia butuh bersabar sedikit lagi. Perlahan Sehun membalikkan tubuhnya, memberikan tatapan berarti pada Yi Fan. Yi Fan membalas tatapan mahasiswanya yang terlihat lembut itu.
"Baiklah, berarti kita bisa berkomunikasi dengan nyaman, Sir. Bagaimana.. kalau kau mengarahkanku untuk menjadi leader yang baik. Kau tau, pengalamanku masih minim. Dan kita... bisa melakukannya kapan saja" Sehun mengakhiri kalimatnya dengan senyuman. Yi Fan yang melihat senyuman itu tersentak. Ia termangu seolah ia mengenal senyuman itu.
.
.
.
Tao menghentak-hentakkan jari telunjuknya diatas meja. Hari sudah tengah malam dan dia belum mengantuk. Dia duduk sendiri di meja makan. Ada sesuatu yang dia pikirkan.
Tao tak berbicara sedikitpun dengan Luhan sejak Luhan bangun tidur dan dia melihat Tao yang sedang menyuapi Lufan makan malam. Luhan menghampiri mereka dan berbicara seperti biasa namun tak mendapat respon dari Tao. Padahal Luhan sudah berusaha berbicara dengannya, mencairkan suasana yang menurutnya canggung saat ia menatap Tao dan Tao menatapnya tak suka. Tao berubah dan tak menghiraukan Luhan sejak itu. Hingga kini Luhan memilih tidur dikamar Lufan. Membiarkan Tao sedikit tenang karena menurutnya Tao pasti canggung dengan apa yang hampir mereka lakukan itu. Bukan apa-apa Tao bersikap seperti itu karena memang ada sesuatu yang dia pikirkan, saat dia bangun tidur dia memang ingin menanyakannya itu pada Luhan. Tapi karena Luhan masih tidur, Tao mengurungkan niatnya dan berpikir ia ingin mencari waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu pada Luhan.
Tao menghela nafas, menatap pintu bercat biru muda didepannya. Itu pintu kamar Lufan.
Tao akhirnya bergerak, membawa kaki-kakinya melangkah mendekati kamar Lufan. Tanpa mengetuk karena tau itu akan mengganggu, Tao memutar knop pintu dengan hati-hati, berusaha agar pintu itu tidak berdecit keras.
Seperti dugaan Tao, Luhan memang belum tidur. Dia duduk menyandar pada kepala tempat tidur Lufan sambil membaca, sebelah tangannya sedang mengelus kepala Lufan yang sudah tertidur disampingnya. Mengetahui pintu itu dibuka Luhan mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Tao.
Luhan tau, Tao pasti akan menemuinya.
Tao memberi isyarat agar Luhan keluar. Luhan mengerti dan dengan hati-hati ia turun dari tempat tidur Lufan. Takut membuat balita itu bangun.
Setelah tiba dipintu, Tao berjalan duluan, membiarkan Luhan dengan hati-hati pula menutup kembali pintu kamar Lufan.
"Aku tau kau akan berbicara padaku, Tao" Luhan tersenyum saat mereka sudah mengambil posisi di sofa. Tao menunduk dan tak merespon ucapan Luhan.
Luhan menghela nafas. Dia sudah memikirkan hal ini... dia ingin mengatakan semua itu pada Tao.
"Tao/Ge..."
keduanya terdiam,
"Kau saja duluan/kau saja yang duluan" kembali mereka berucap serentak, membuat suasana semakin canggung.
"Baiklah, aku saja, ada hal penting yang ingin kutanyakan padamu" Tao memberanikan diri mengangkat kepalanya, menatap Luhan kedalam matanya.
Luhan hanya diam dan membiarkan Tao berbicara.
"Kau tau, aku tak sepenuhnya percaya padamu"
Luhan menghela nafas, dugaannya benar. Tao pasti berbicara ini lagi. Lagi pula tidak masalah, toh dia juga sudah berencana untuk jujur.
"Aku tau, kau pasti lelah dengan semua ini. Karena kau tak mengingat apapun, Tao"
Luhan menghela nafas sejenak sebelum menjelaskan "Baiklah, aku akan mengakui semuanya.."
Tao tersenyum tipis mendengar Luhan, ada harapan atas semua pikirannya selama ini
"Tapi sebelumnya, berjanjilah padaku Tao. Kau tak akan meninggalkanku dan Lufan..."
Luhan menggantung kalimatnya, melihat reaksi Tao yang sedikit menggangguk tapi tak memberi jawaban.
"...jika tidak, aku tak segan-segan membunuhmu"
"Kau adikku Tao, bukan suamiku"
Tao melebarkan matanya, diiringi mulutnya sedikit terbuka, ingin menyanggah tetapi Luhan kembali melanjutkan kalimatnya.
"Iya, jika saja aku tak iri padamu dan merebut Kris darimu kemudian melakukan skenario bodoh ini"
Luhan berhenti sejenak, memberi kesempatan pada Tao untuk mencerna ucapannya.
"A-apa maksudmu ge, tolong. Berbicara perlahan. Aku sungguh tak mengerti"
"Memang benar kita berada di panti asuhan waktu itu Tao, dan ketika kau berusia delapan tahun semua hal itu dimulai. Kau beruntung karena kau diadopsi oleh ayah dan ibu yang baik. Kau memiliki kehidupan yang baik setelahnya. Sedangkan aku? Aku masih tetap di panti asuhan hingga usiaku 17 tahun," Luhan melihat kilatan bingung dimanik legam Tao "dan kehidupanmu semakin sempurna karena Kris datang padamu Tao, dia pria yang tampan, baik, dan mapan. Kau berpacaran dengannya," Meski bingung dan tak mengerti apapun yang diucapkan Luhan, Tao memilih untuk diam dan mendengarkan dengan baik. Tentu dia bingung, dia tak pernah melewati hal itu. –dia Sehun, ingatkan itu selalu- "hingga aku iri dan berencana merebut Kris darimu. Aku berkencan dengannya setelah dia berpacaran denganmu, dan itu tanpa sepengetahuanmu Tao," Luhan memberi jeda cukup panjang, memberi kesempatan untuk Tao merenungkan sejenak apa yang barusan dijelaskannya.
Tao sungguh tak tau harus seperti apa. Kalau boleh jujur apa yang disampaikan Luhan tak sedikitpun ada di memorinya. Apa segitu parahkah dia lupa ingatan?
"kemudian pada hari itu, disaat kau akan melaksanakan ujian, kau datang ke apartemen Kris tepat pada waktu itu juga aku datang ke apartemen Kris dan melihat apa yang seharusnya tak ku lihat. Kau terkejut akan kedatanganku. Dan semuanya terbongkar," Luhan diam sejenak, mata dan ujung hidungnya mulai memerah "Hal mengejutkan yang aku, ataupun kami lakukan padamu adalah.. membiarkanmu terjatuh di tangga dan membuatmu koma selama 6 tahun.."
"A—apa?" Tao baru membuka suaranya setelah sekian lama terdiam.
"Dengar, Tao. Aku menyesal. Sungguh. Aku benar-benar menyesal. Hiiiks.. aku— aku terlalu gelap mata dengan iri padamu dan berbuat sejauh itu Tao.. maafkan aku.. maafkan aku"
Luhan terisak kemudian berlutut didepan Tao, memeluk kaki Tao sebagai ucapan maaf. Tao mematung karena dia bingung. Apa.. semua hal itu benar?
"Lufan, dia adalah anak Kris. Aku terpaksa berbohong padamu Tao.. semua terjadi begitu saja. Pikiran bodohku menyuruhku untuk mengatakan bahwa Lufan adalah anakmu. Sebenarnya, aku melakukan itu untuk menebus dosaku padamu Tao. Mengganti semua perbuatan dosaku dengan terus bersamamu. Tidak lebih" Luhan masih terisak seraya memeluk lutut Tao. Jelas, sekarang mulai jelas. Untuk itulah Luhan selalu menolak berhubungan badan dengannya. Karena Luhan memang berbohong, dan apa tadi? Luhan mengatakan bahwa dia sebanarnya adalah adiknya?
"Lalu.. kenapa? Kenapa kau mengatakan aku adalah adikmu? Apa orang tuaku mengangkatmu juga? Dan kemana orang tuaku?"
Pertanyaan yang mengerikan. Luhan seketika menghentikan isakannya oleh pertanyaan tajam Tao. Luhan takut, jika Tao tau Tao pasti meninggalkannya.
"Kau sudah berjanji untuk tidak meninggalkanku dan juga Lufan setelah mengetahui semua ini, Tao. Tidak ada pilihan lain. Kau harus tetap disini apapun yang terjadi"
Luhan mendongak menampilkan mata rusanya yang basah. Tao jadi tak tega sendiri. Sekarang apa yang mesti dia lakukan? Benar dia sudah mengetahui rahasia yang ditutupi Luhan selama ini. Tapi Tao masih merasa ada yang kurang. Ya, ini belum sempurna. Ada satu hal lagi yang masih mengganjal di pikirannya. Dan hal itu selalu mengusiknya, bahkan di dalam mimpi. Oke, tidak masalah untuk saat ini Tao tak bertanya lebih lanjut mengenai dimana orangtuanya jika memang dia memiliki, karena sepertinya apa yang dikatakan Luhan semuanya jujur.
"Tapi, sebelumnya aku ingin bertanya padamu, Ge."
Luhan menghapus sisa-sisa air matanya. Dia setia menatap Tao dari posisinya sekarang.
"Apa itu Tao? Kau bisa menanyakan semuanya padaku sekarang"
"Apa aku mengenal... Oh Sehun?"
Dan untuk pertama kalinya Luhan menyerngit tidak mengerti apa yang barusan dikatakan oleh Tao.
.
.
.
.
TBC
Okke, ini To Be Continued ter—menyebalkan, mungkin. Udah lama update, pendek. Dan masih gantung.
Lega deh lega nyempetin update diwaktu lagi genting-genting.
Nah, Jun mau nyampein aja. Habis chapter ini yang pada nanya HunTao segera ketemu bakal terkabul. Tapi janji ya ntar kalo HunTao ketemu FF nya END. Udah ga sanggup eykeh :v
Ayo. Yang udah baca jaan pelit repiew dong. Masa FF jelek ini mau End yang ripiw itu-itu aja. Aku sayang loh sama yang ripiw. Ahay
Nah. Buat yang nanya YOU . ini lagi diusahain ngetik ya.
Itu idenya kemaren stuck gitu aja. Udah lama sih. Moga aja masih pada yang ingat.
See you cintaaah
