Chapter 10: Ray
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rating: T
Warning: TYPO(S), Abal, AU, OOC, Boys Love, Freak, and So on.
DO NOT LIKE DO NOT READ~
Tak semua ingatan merangkum sebuah cerita bahagia yang indah dan membawa seribu harapan. Sebagian ingatan bahkan sangat menyakitkan dan sangat ingin untuk dilupakan. Ketika rangkuman kehidupan yang penuh dengan ingatan disatukan … maka di saat itulah kepingan cerita yang sudah lama tak ingin diingat akan terpental di jalan. Terseok-seok mencoba kembali ke dalam buku kehidupan. Namun Sang Pemilik hanya mengangkat telapak tangannya mengatakan "Jangan mendekat" dengan guratan kesakitan. Tak semuanya kepingan cerita yang begitu berat dan menyedihkan terdengar menyakitkan.
Ribuan orang berlomba-lomba mengukir kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan. Rasa sakit dan perih ditinggalkan begitu saja tanpa belas kasihan sedikitpun. Dianggap tak ada dan bahkan tak pernah tercipta dalam buku kehidupan. Namun, ada satu yang dapat menerima semua keburukan dalam rangkuman kehidupan.
Kesabaran.
Hanya itu yang dapat menerimanya. Bahkan cinta kadang tak mampu menerima kenyataan dengan sabar.
I Can't Take It Anymore!
.
.
Rasa tegang melanda ruangan bernuansa putih dengan aroma obat-obatan yang begitu menyengat. Asabat tercekat tak mampu mengungkap. Hembusan angin ditolak dengan tebalnya rasa marah dan kecewa. Cahaya ruangan pun tak mampu menyaingi terangnya raut kemarahan yang tampak pada wajah Kyuubi. Seorang pria yang berstatus sebagai kakak ini nampaknya begitu marah dan kesal terhadap orang-orang yang ada di hadapannya. Tak tahu lagi yang mana kawan dan lawan. Semuanya telah menipu dari dalam.
Air mata yang membendung masih sanggup terbendung. Menahan semua perasaan sakit yang tak pernah memiliki ujung. Sarafnya terasa begitu kaku dan kejang. Antara ingin berteriak dan menangis dalam diam. Orang terdekat merupakan penghianat dalam persahabatan. Darah daging menjadi penipu dalam tautan darah yang bahkan sudah mengeras dari kekentalannya. Rasa sakit yang ada tak cukup untuk melukiskan semuanya. Terlalu sakit dan terlalu pahit. Kopi pun hanya sebatas dasar penyerta
Kyuubi tersenyum tipis. Mata itu tampak begitu redup dan kelam. Kekurangan cahaya yang seharusnya selalu menyertainya setiap kali dia tersenyum. "Sudah cukup semua ini. Tidakkah kalian merasa ini sudah keterlaluan? Ini sudah kelewatan. Kalaupun ingin putar balik … semua ini terlalu jauh. Sangat jauh dari cerita yang kuharapkan. Aku berdiri di sini sebagai seorang kakak sekaligus teman yang telah dibohongi. Tidakkah kalian tahu bagaimana perasaanku saat ini?"
"Kyuu—"
"Jangan menyentuhku! Aku ingin menyelesaikan kata-kataku saat ini juga. Aku berusaha sejauh ini untuk melindungi orang yang ternyata sudah tahu semuanya. Aku jatuh dan bangun demi orang itu. Namun apa yang kudapat? Kenyataan yang terlalu pahit. Mungkin karena terlalu lama disimpan."
"K-Kyuu-nii, Naru melakukan ini de—"
"Ya, aku sudah tahu jawabanmu. Melakukan ini semua demi kebaikanku, bukan? Lihatlah aku, aku benar-benar dalam keadaan yang sangat baik. Aku tetap tegar dan masih bisa tersenyum, bukan?" Kyuubi tersenyum lebar sampai-sampai matanya menyipit. "Aku sangat bahagia masih bisa menerima ini semua dalam keadaan yang seperti ini. Yah, sesungguhnya aku berharap aku menerimanya dalam keadaan pingsan, lupa ingatan, atau mati mungkin."
"Kyuu-nii, Naru mohon hen—"
"Naru, sejak kapan kau berani memotong pembicaraan kakakmu? Bukankah Ayah tak pernah mengajarkan hal seperti itu? Biarkan aku mengatakan hal ini. Setidaknya … hanya itu yang bisa kulakukan." Kyuubi tersenyum tipis ke arah Naruto. Dengan perlahan dia mendekati ranjang Naruto dan memeluk Naruto dengan erat. "Jangan pernah membantah omongan Ayah, Naru. Kau harus jadi anak yang baik dan penurut."
Naruto menitikkan air matanya di bahu Kyuubi. Ini pertama kalinya dia melihat Kyuubi seperti ini. Mengeluarkan semua unek-uneknya dengan nada yang bergetar. Menahan rasa marah dan tangisnya. Ayahnya selalu memberitahunya bahwa seorang pria tidak boleh melepas amarah dan air mata yang buruk. Air mata hanya untuk sesuatu yang bahagia. Naruto tahu semua ini karena dirinya. Tapi dia tidak tahu bahwa semuanya akan seperti ini. Dia tidak tahu kakaknya akan menjadi setertekan ini. "Na-naru minta maaf, Kyuu-nii."
Kabuto dan Itachi hanya mampu terdiam di tempat. Semua kejadian masa lalu dan masa sekarang terus berputar di kepalanya. Seharusnya masalah itu dilupakan begitu saja dan bukan menjadi berkelanjutan seperti ini. Kabuto tahu semua ini ada sangkut pautnya dengan dirinya. Itachi tahu semua kebohongan yang dilakukannya menjadi akar dari ini semua. Namun semuanya telah terjadi diluar kendali dan tak akan bisa kembali lagi.
Mungkin sakit hati Kyuubi tak akan pernah terobati lagi. Mungkin tak ada satupun orang yang mampu mengobati rasa kecewa itu. Baik itu Naruto maupun Itachi. Itachi menatap Kyuubi dengan lekat. Dengan perlahan dia berjalan mendekati Kyuubi. "Kyuu? Kau mendengarku? Aku minta maaf telah melakukan ini semua," ucap Itachi sembari emncoba menarik lengan Kyuubi yang melingkari leher Naruto.
'PLAK'
"Aku tak pernah mengenalmu dan aku tidak mau mengenalmu. Sampai kapanpun." Kyuubi menatap Itachi dengan datar. Itachi hanya mampu membulatkan matanya mendengar kata-kata dingin itu meluncur dari mulut Kyuubi. "Kumohon pergi dan tinggalkan kami," ucap Kyuubi membuat semua orang yang ada di sana mengangkat kepalanya dan menatap Kyuubi dengan tatapan sedih. "Aku tidak butuh tatapan itu. Aku bukan orang yang ingin dikasihani. Kalian boleh pergi dari sini."
"Kyuu, kau harus menenangkan dirimu terlebih dulu." Nagato mencoba angkat bicara dan melirik ke arah Pein yang ikut menganggukkan kepalanya. "Kau sangat tertekan sampai berbuat seperti ini. Kami temanmu, Kyuu. Kau bisa mencurahkan semua rasa sakitmu kepada kami."
"Bukankah aku sudah mencurahkan semuanya tadi. Aku baik-baik saja. Maaf tapi sepertinya aku tidak pandai berbohong seperti beberapa orang yang ada di sini. Aku tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. Tapi aku bisa mengatasinya sendiri. Sebaiknya kalian pulang, terima kasih telah menemaniku seharian ini." Kyuubi kembali memeluk Naruto dengan erat. Naruto hanya mampu menatap kakaknya dengan tatapn sedih. Sejak kapan seorang Kyuubi mampu mengusir orang-orang yang sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri. Jalas ini bukan Kyuubi yang dikenalnya.
'BUK'
Semua mata tercekat saat melihat apa yang baru saja terjadi di hadapannya. Sasuke memukul kakaknya hingga tersungkur di lantai. Matanya menatap nyalang ke arah Itachi. "Apa yang kaulakukan selama ini hanya sandiwara busukmu, hah? Aku mau lihat bagimana sandiwara yang kaulakukan saat ini. Apa berhasil? Apa benar saat ini kau sedih? Kalau memang kau bersedih maka itu memang hal yang paling cocok untukmu. Bangun sialan! Kaupikir pukulan tadi cukup untuk menyelesaikan semuanya. Kalau dihitung berdasarkan logika … hanya ketika kau mati semuanya akan terasa cukup."
'DEG'
Itachi membulatkan matanya saat mendengar ucapan Sasuke barusan. Mungkin memang benar dia harus mati terlebih dahulu. Dia tersenyum tipis sembari mengelap darah yang mengalir di sudut kanan bibirnya. Dia bangkit dari tersungkurnya dan menatap Sasuke dengan lekat. "Maafkan Aniki, Sasuke," hanya itu yang diucapkannya.
'BUK'
Itachi membulatkan matanya saat melihat Sasuke menarik Kyuubi dan memukulnya dengan kuat. "Sa-Sasuke! Apa yang kaulakukan? Hentikan, bodoh!"
"Kaupikir cuma kau yang menderita di sini! Aku dari tadi hanya diam mendengarkanmu! Aku tahu bukan siapa-siapa di keluarga ini, tapi aku juga merasakan hal yang sama denganmu, sialan!"
Kyuubi hanya mendesis pelan saat Sasuke memukul wajahnya berkali-kali. Naruto yang melihat hal tersebut segera turun dari ranjangnya dan memisahkan mereka berdua. "Hentikan Nii-san! Sasuke! Apa-apaan kalian ini?"
"Kau yang apa-apaan?" teriak Kyuubi dan Sasuke bersamaan. "Kautahu betapa hancurnya perasaanku mendengar cerita konyol tadi, hah? Anak kecil umur berapa yang menganggap sandiwara seperti itu hanya hal sepele? Bahkan anak umur lima tahun saja menangis nyaring ketika dibohongi orang yang mereka sayang. Bagaimana denganku? Selama ini ada orang yang mengajariku untuk selalu berkata jujur dan tidak boleh berbohong? Lalu apa yang dia lakukan terhadapku? Dan kau! Jangan pernah berpikir hanya kau yang menderita di sini, dasar rubah sialan!"
"Apa kaubilang pantat ayam?"
-VargaS. Oyabun-
Deidara menatap ketiga orang yang ada di hadapannya dengan bingung. "Untuk apa kalian ke mari? Di rumah ini hanya ada aku seorang," ucapnya sembari membuka pintu rumah itu lebih lebar agar ketiga orang itu bisa masuk ke dalam. Deidara mendudukkan dirinya di salah satu sofa yang ada dan menatap ketiga orang itu dengan lekat. "Ada apa?"
"Keadaan di rumah sakit menjadi kacau karena kedatangan Kyuubi. Kami minta saat dia kembali ke rumah, jangan biarkan dia keluar untuk sementara waktu. Karena, kami tidak ingin hal-hal yang tidak diinginkan terjadi," ucap Shisui sembari membuka minuman kaleng yang memang selalu ada di atas meja. Dia menatap Deidara dengan lekat. "Semua masalah sudah terbongkar. Kabuto juga tidak akan kami lepaskan. Dia mengatakan akan membantu kepolisian dalam urusan forensik. Namun ada satu masalah yang kembali tercipta."
"Apa itu?"
"Kyuubi menjadi galak kembali," ucap Obito menjawab perkataan Deidara. Dia menatap Deidara yang sedang menaikkan alisnya bingung dengan lekat. "Dia menjadi Kyuubi yang dulu. Kyuubi yang galak dan tak punya rasa kasihan."
"Dia memang sudah galak semenjak masih dalam perut, bodoh," batin Deidara tertawa miris. Dia menatap Obito dengan pandangan kasihan. "Kyuubi galak bukan sesuatu yang langka. Dari dulu dia memang sudah galak. Lalu apa masalahnya denganku?"
"Ck, bantulah dia untuk menjadi dirinya yang seperti biasa, bodoh." Shino mulai keluar dari karakternya yang sesungguhnya karena kesal dengan tanggapan Deidara yang sepertinya biasa-biasa saja.
"Ke-kenapa kau mengataiku bodoh? Dasar mata empat sialan! Mau bagaimanapun juga, Kyuubi hanya memiliki satu pemati."
"Siapa?"
"Itachi."
"Yaelah, Itachi malah cuma diam saja tadi di rumah sakit. Gara-gara Kyuubi bilang kalau dia tidak pernah kenal dengan Itachi, Itachi jadi gak bisa berkata apa-apa. Apanya yang pemati. Api kali pemati," ucap Shisui dengan nada sarkastis. Dia menatap Deidara dengan tatapan meremehkan.
"Se-serius? Kyuubi bilang begitu? Di-dia bilang tidak pernah kenal Itachi? Wah, bahaya. Bisa-bisa cinta mereka tidak bisa bersatu," ucap Deidara tidak jelas sehingga membuat Shisui ingin memotong lidah Deidara saat itu juga.
Keheningan melanda sejenak sebelum akhirnya Deidara bangkit dari duduknya. "Aku akan ke rumah sakit sekarang. Mereka itu masih kekanak-kanakan. Jika tidak ada yang mengerasi maka akan seperti itu selamanya." Dengan segera Deidara pergi meninggalkan ketiga orang tersebut.
.
.
.
Deidara menatap keempat orang yang ada di hadapannya dengan lekat dan kesal. Keempat orang itu tampak babak belur satu sama lainnya. Helaan napas lelah keluar dari bibir Deidara. "Kalian tahu sebelum berangkat ke sini siapa yang meneleponku?"
"Mana kutahu," jawab Kyuub ketus. Matanya menatap kesal ke arah Sasuke yang sedang sibuk membersihkan darah yang ada di sudut bibirnya menggunakan tisu.
'BLETAK'
"Paman Minato dan Bibi Kushina akan segera pulang. Apa yang akan kukatakan dengan mereka jika mereka melihat kalian seperti ini, hah?"
"Bilang saja ini semua salah Si Pantat Ayam itu. Dia yang memulainya. Dasar pendramatisir," ucap Kyuubi sembari menatap Sasuke dengan lekat. "Na-Naru! Kamu ngapain duduk di sebelahnya? Sini duduk sama Nii-san saja."
"Kyuu, jangan selalu menyalahkan Sasuke. Lagipula yang bersifat dramatisisr tadi kan kau duluan." Itachi mencoba membela Sasuke sebagai adiknya.
"Heh, kamu diam ya! Kamu masih punya utang sama aku, dasar penipu."
Itachi pundung.
"Nii-san, Naru minta maaf. Tapi Naru mau duduk dengan Sasuke," ucap Naruto sembari menundukkan kepalanya ke arah Kyuubi. Kyuubi hanya mendengus kesal mendengar jawaban Naruto barusan.
"Tidakkah kalian menganggapku di sini? Yang bertanggung jawab atas semua ini memanglah Sasuke dan Itachi. Tapi kalian tahu siapa yang akan disuruh bertanggung jawab jika sudah seperti ini. Ujung-ujungnya akan ke aku juga, sialan! Jadi bersikaplah baik untukk sementara dan dengarkan aku baik-baik. Aku sudah bosan melihat perkelahian kalian saat aku sampai di ruangan yang berantakan ini. Kalian tahu berapa banyak ganti rugi yang kukeluarkan untuk mengganti semua kerusakan di dalam kamar ini, hah? Aku bisa miskin hanya karena kelakuan kalian." Deidara memegang dompetnya dengan erat. Ingin rasanya dia menamparkan dompet itu ke keempat kepala orang di hadapannya ini.
"Tapi ini semua bukan salahku. Salahkan para pembohong yang ada di sa—"
'BUK' 'BUK' 'BUK' 'BUK'
Tercapai juga keinginan Deidara untuk menampar keempat kepala orang di hadapannya menggunakan dompet tebalnya yang sekarang telah menipis. Dia menghela napas lelah dan memijat keningnya dengan pelan. "Aku bersumpah demi Dewa Jashin. Aku tidak akan mau memiliki anak seperti kalian," ucapnya sembari menatap lekat ke arah Kyuubi. "Terutama anak nakal sepertimu."
"Ke-kenapa hanya aku? Naruto juga waktu kecil sama sepertiku. Sering manjat pohon. Kalau Si Ayam dan Keriput aku tidak tahu. Mungkin dulunya mereka anak gadis yang tidak mau bermain kotor-kotor sepertiku dan Nar—"
"Hei-hei! Lihat siapa yang berbicara! Kemaren yang disuruh membersihkan wc tidak mau itu siapa, hah?" Itachi menatap Kyuubi dengan tatapan mengejek. Persoalan yang sebelumnya terjadi tampak dilupakan begitu saja.
"Aku kan harus berangkat sekolah saat itu."
"Hoo, sekolah mana yang memasang jadwal jam masuk jam delapan malam, hah?"
"Itu sekolahku, hari itu kan ada kegiatan di luar. Ke-kenapa kau repot sekali sih, Keriput?"
"Ya jelas repot. Karena tidak ada yang bersihkan, jadinya aku yang bersihkan!"
"Sudah diam! Ya Tuhan, kalian ini anak siapa sebenarnya. Yang seharusnya kalian pikirkan adalah bagaimana cara kalian membicarakan semua ini dengan kedua orang tua kalian. Jika kalian tidak mau bekerja sama, aku akan kembali ke apartemenku yang lama dan melakukan hal yang paling barbahaya."
"A-apaan?"
"Berpura-pura tidak mengenali kalian dan membiarkan kalian dipasung selama ratusan tahun oleh orang tua kalian."
"De-Dei! Bukankah kita teman kerja? Kita mencari mangsa bersama-sama, bukan? Kenapa kau mau maninggalkan kami? Kau kejam, Dei." Kyuubi memanyunkan bibirnya tanda sedang ngambek dengan Deidara. Sebenarnya dia tahu hanya Deidara satu-satunya orang yang mampu membantu mereka untuk menjelaskan ini semua.
"Dan kau Itachi, seharusnya sebagai yang tertua kau bisa mengendalikan mereka. Kau ini dewasa tapi sifatnya melebihi anak tk. Ada apa sebenarnya dengan kalian ini? Aku tahu masalah yang kalian hadapi barusan itu terlalu menyakitkan dan mendadak. Tapi, setidaknya kalian bisa mengendalikan emosi kalian. Aku hidup sebatang kara, aku tidak mempunyai adik ataupun kakak. Tapi, aku masih bisa mengerti kelakuan kalian. Lalu, kenapa kalian tidak bisa mengerti satu sama lain? Gengsi?"
Semuanya terdiam saat Deidara mengeluarkan kata-kata yang sepertinya memang mencerminkan sifat mereka. Bahkan Itachi sendiri tampak terdiam dan merenungkan kesalahannya. Suasana tampak tegang saat ponsel milik Deidara berbunyi. "Halo?"
[Dei, Paman dan Bibi akan pulang bulan depan sepertinya. Jadi paman minta kamu untuk tetap menjaga mereka, ya? Sepertinya bisnis kami harus diperpanjang. Tolong jangan biarkan mereka melakukan hal-hal yang buruk. Pukul saja mereka dengan dompet jika mereka melakukan hal buruk. Paman tutup dulu.]
"Sudah kulakukan," batin Deidara sembari menutup ponselnya. Deidara menatap mereka berempat dengan lelah. "Sebaiknya kita pulang, Naruto tampaknya sudah terlalu lelah," ucap Deidara sembari mengisyaratkan Sasuke untuk menggendong Naruto ke dalam mobil. Ternyata sedari tadi Naruto sedang tidur di pelukan Sasuke.
"Biar aku yang menyetir," ucap Kyuubi yang ditanggapi Deidara dengan gelengan cepat. Sama saja mencari mati menyuruh Kyuubi menyetir dalam keadaan seperti itu.
"Kalian beruntung masih memiliki waktu sebulan untuk menyembuhkan diri kalian."
"Maksudnya?" tanya Kyuubi tidak mengerti.
"Orang tua kalian akan pulang sebulan lagi. Jadi kalian masih bisa mengadakan penyembuhan diri total. Semoga saja pekerjaan mereka bisa lebih lama lagi."
-VargaS. Oyabun-
Deidara menatap Itachi dengan senyuman tipis. Saat ini Itachi sedang membantu Kyuubi untuk mengobati luka-lukanya. Beruntung Deidara dapat membujuk mereka untuk memaafkan satu sama lain. Meskipun masih sempat ada pertengkaran mulut antara Kyuubi dan Itachi. Begitu juga Naruto yang aslinya masih menaruh dendam dengan Itachi. Namun Deidara masih dapat meyakinkan mereka bahwa semua yang terjadi tidak mungkin merusak tali persaudaraan mereka.
Dengan sedikit kata-kata bijak akhirnya mereka mau untuk memaafkan satu sama lain. Sasori sendiri saat ini sedang sibuk mengurusi masalah Kabuto dan kawan-kawan. Deidara menghela napas lelah saat melihat Sasuke memeluk Naruto dalam keadaan tertidur pulas. Deidara berjalan perlahan menuju Itachi yang sedang berdiri di dekat dapur. "Itachi aku mau kelu—"
Deidara mematung di tempat melihat adegan yang ada di hadapannya. "Hasrat yang saling tersalurkan," batin Deidara miris sembari meninggalkan kedua orang yang sedang asik berciuman. Tentu saja Kyuubi dan Itachi. Miris rasanya melihat adegan yang dia sendiri belum pernah lakukan. "Aku bilang sama Sasuke saja," ucap Deidara pelan sembari menaiki tangga dengan lunglai.
Dan?
Deidara kembali memutar arah saat melihat Sasuke sedang sibuk dengan Naruto. Padahal sebelumnya mereka sedang tidur nyenyak. Sepertinya dia sedang diacuhkan. Dengan langkah malas Deidara menuju pintu depan dan membukanya dengan perlahan. "Sasori?"
"Hai, urusanku sudah selesai. Boleh aku beristirahat di sini?" tanyanya sembari tersenyum tipis. Deidara yang sedang malas bertengkar dan membahas masalah pembiusan tadi pagi hanya menganggukkan kepalanya lemah. "Ada apa denganmu, Dei? Pasti lelah mengurusi keempat anak elang itu, ya? Bagaimana jika beristirahat denganku?"
Ingatan Deiadara beralih ke adegan Itachi dan Kyuubi lalu Sasuke dan Naruto. Deidara mematung di tempat. "No! Aku tidak mau berciuman denganmu!"
HAH?
Sasori menatap Deidara dengan bingung. "A-apa maksudmu, Dei? Ka-kau kenapa, Dei?"
'trrt trrt trrt'
Deidara terdiam dan segera mengambil ponselnya.
[Bisnis dibatalkan. Senangnya dapat bertemu anak-anakku lagi~ saat ini paman dan bibi di bandara, sebentar lagi pesawan akan take off. Maaf cuma bisa sms. Mungkin besok paman dan bibi sudah sampai di Tokyo. Jangan lupa kabari anak-anak, ya?]
Deidara mematung di tempat.
"A-ada apa, Dei?" tanya Sasori bingung.
"Ga-gawat, orang tua mereka akan segera sampai di Tokyo."
"Hah?"
Deidara segera berlari ke dalam meninggalkan Sasori yang masih saja memasang tampang bingung.
'BRAK'
"Maaf mengganggu adegan kalian. Ta-tapi ini lebih penting!"
"A-ada apa?" tanya Itachi setelah melepaskan pelukannya pada Kyuubi.
"Bisnis dibatalkan. Pa-paman dan Bibi akan sampai di Tokyo besok."
"APAAAA?"
To be Continued
Haaaaai! Maaf baru muncul ya. Terima kasih para reader dan reviewer sebelumnya. Maaf fic ini seperti terlantarkan beberapa bulan ini. saya akan kembali melanjutkannya. Tenang aja kok, sebentar lagi juga tamat, heheh.
Reader: Ga peduli!
Ha—ah, iya iya saya minfa maaf. Gomen ne (-/\-) baru bisa update sekarang. Maafkan kekhilafan saya ya. Semoga tidak ada yang keberatan untuk menerima maaf saja, heheh. Tadi mama sempet nanya apa ga cape seharian di depan komputer ngetik-ngetik fanfic begitu. Bagaimana bisa cape sih kalo bisa dapat pembaca dan kritikan trus pujian dari review, apalagi semangatnya. Semua yang melelahkan pasti ada balasannya. Seneng banget bukan ketika kita buka legacy story stats dan ternyata ada yang tetep ngebaca cerita kita. Pasti seneng banget kan? Heheh nah begitulah perasaan ketika sudah terbayarkan. Ja naaaa~
Mind to Review?
