Saat ini mereka - HunHan tengah berada di Namsan Tower. Untuk menuju kesana, mereka harus menggunakan kereta gantung.

Luhan yang takut ketinggian memohon pada Sehun untuk tidak masuk kedalam kereta gantung.

"Tidak Sehunna... aku mohon, jangan membawaku masuk kesana, a-aku sung-sungguh takut." Luhan memohon, agar Sehun mau mengerti dirinya, jika ia benar-benar takut.

Luhan takut melihat jurang dari atas, rasa trauma yang disebabkan masalalu kelamnya akan kedua orangtua yang telah berpulang.

"Lu, dengarkan aku. Ini aman, dan kau tidak kan kenapa-napa. Ada aku disampingmu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kau tidak usah melihat kebawah. Kau hanya perlu menutup matamu, bahkan jika kau masih ketakutan kau bisa memelukku. Aku tidak akan melepaskanmu." Hibur Sehun kepada kekasihnya ini.

OoOo

Awalnya Luhan tidak ingin kesana, namun ia mendengar jika disana terdapat gembok cinta. Apabila sepasang kekasih menulis nama mereka disana, ada kepercayaan mereka akan bersatu. Dan karena itulah mereka pergi kesana.

Walaupun ia merasa takut, bahkan gemetaran dengan pikiran-pikiran negatif yang berputar-putar dikepalanya.

Jangan-jangan nanti talinya putus, kabelnya konslet dan mereka semua terjebak didalam. Tidak! Luhan tidak ingin itu terjadi.

Greb!

"Sudah kubilang jangan lihat ke luar sana. Cukup pejamkan matamu, dan rasakan dekapanku melindungimu. Kau cukup rasakan jantungku ini yang debar-debar karnamu." Ujar Sehun, lagi-lagi menghibur Luhan yang dilanda phobia.

Sehun merasakan jika tubuh Luhan bergetar, ketakutan. Bahkan ia juga merasakan tangan Luhan yang mendingin.

Sehun mencium rambut, serta kening Luhan, berharap dengan begini rasa takut kekasihnya ini akan berkurang.

.

Luhan merasakan jika pelukan yang diberikan Sehun kepadanya sedikit berefek. Ia yang tadinya gemetar ketakutan kini tidak lagi.

Pelukan hangat, serta aroma maskulin yang keluar dari tubuh Sehun membuatnya tenang, ditambah kata-kata penenang dari mulutnya. Dan Luhan sangat menyukai suara husky kekasihnya ini, begitu menenangkan. Ia juga senang kala Sehun mengecup rambut serta keningnya. Seakan-akan ia dikasihi, disayang oleh pria tinggi albino yang tengah mendekapnya.

Beberapa menit kemudia kereta gantung yang dinaiki oleh mereka tiba dilokasi.

Memang benar dari atas sini pemandangannya sangat elok, terdapat bukit-bukit serta pepohonan dan dibawah ia bisa melihat rumah-rumah berjejeran.

"Apa kau suka hms... lihatlah tidak buruk kan?" Bisik Sehun sambil memeluk kekasihnya dari belakang.

Luhan mengangguk imut, seperti anak usia lima tahun. Ia pun menggenggam tangan Sehun yang melingkari perutnya.

"Kau tahu, kita seperti manten baru yang baru saja menikah." Ujar Sehun. Dan Luhan hanya bisa memasang muka merah, merona malu.

Luhan juga memikirkan hal yang sama tentang itu. Bayangkan saja, semalam ia dan Sehun melakukan itu. Bahkan keduanya baru pertama kalinya melakukan adegan dewasa yang dikhususkan untuk pasangan yang resmi menikah.

"Sehunna..." Luhan berbalik menghadap Sehun. Kali ini mereka saling berhadap-hadapan. Jantungnya semakin bertalu-talu setiap kali melihat pria yang ada ini.

"Hms... baby Lu.." Balas Sehun ramah disertai senyuman..

"Aku bingung, mengapa syarat untuk membebaskan kutukanmu harus dengan berhubungan intim?"

"Entahlah Lu, aku bingung jika menjelaskan itu. Sebab, aku sendiri tidak tahu. Dukun itu mengatakan padaku jika aku harus melakukan itu dengan cinta sejatiku. Ya.. bisa dikatakan sesuai bandul kalung yang aku pakai." Ujar Sehun.

"Begitu ya... ayo kita beli gemboknya, lalu kita pasang. "Ajak Luhan dan Sehun pun menurut apa yang dikatakan kekasihnya itu.

OoOo

Luhan senang, akhirnya nama mereka terpasang disini. HUNHAN FOREVER LOVE.

Mereka berharap cinta mereka sampai selamanya akan tergerus oleh waktu, dan selalamnya akan bersama.

.

Setelah dari Namsan Tower mereka kembali jalan-jalan, kali ini tujuannya adalah makan, mengisi perut. Sehun mengajak Luhan ke kedai makanan dipinggir jalan.

Cuaca yang dingin, ditambah hari telah berganti malam paling enak memakan-makanan yang hangat dan berkuah. Merekapun memilih Ramyeon sebagai menu pesanan mereka.

Ahjuma penjual kedai dengan trampil mengolah pesanan keduanya, setelah itu menghidangkan kepada mereka.

Tanpa ragu mereka memakan Ramyeon yang nampak menggugah selera ini.

Srup...

Srup...

Satu srup mie ramyeon masuk ke mulut mereka. " Ha... enak..." Ucap Luhan seperti bocah lima tahun.

Sehun melihat kekasihnya makan seperti anak kecil, ia pun tersenyum. Luhan sungguh imut, tidak sadarkah kekasihnya itu, jika wajah serta umurnya berbanding terbalik. Jika tidak ada orang disekitar sini, ia sudah pasti - akan memakan kekasihnya ini. Sungguh menggemaskan.

"Pelan-pelan Lu.. nanti kau bisa tersedak." Ujar Sehun menasehati.

"Ini, sangat enak Hunnie." Jawab Luhan senang.

Sehun tersenyum, ia lalu mengambil tissu yang disiapkan di meja kemudian mengelap mulut Luhan dengan tissu yang baru ia ambil.

"Kau sungguh imut baby Lu. Sampai-sampai makanmu seperti anak kecil."

Luhan merengut dikatai anak kecil. Ucapan Sehun itu pujian atau sindirian. Ia paling tidak suka dicap tidak manly dan seperti anak kecil.

"Sudah jangan kesal seperti itu. Habiskan, lalu setelah ini kita jalan-jalan lagi." Perintah Sehun dan Luhan diam saja, tapi - masih memasang wajah kesal.

.

.

.

Setelah acara makan malam telah selesai Sehun ingin mengajak Luhan jalan-jalan lagi. Tapi Luhan tidak mau, ia ingin pulang saja karena dari kemarin ia tidak pulang bahkan tidak memberi kabar pada Yixing yang disebabkan malam panjang mereka (HunHan) diatas ranjang. Kerna hal itulah Luhan sampai lupa tidak menghubungi Yixing.

Sehun mengerti, ia mengikuti apa yang Luhan perintahkan.

Dan benar saja, setiba di tempat kos. Yixing langsung memeluk Luhan. Disana Yixing tidak sendiri, ada sosok saingan Sehun, yaitu Kris.

Kris berdiri disana, dibelakang Yixing.

"DARI MANA SAJA KAU LU?! MENGAPA SEHUN ADA BERSAMAMU!" Cecar Yixing dengan nada tinggi.

"Maafkan aku Xing. Aku janji tidak akan seperti ini lagi " balas Luhan -menyesal.

"Untung kau cepat pulang Lu, jika tidak, mungkin Yixing sudah lapor polisi. Kau terlambat sedetik saja, mungkin polisi tengah mencarimu." Terang Kris, sosok tinggi menjulang itu.

"Maafkan aku Yixing-ah.. aku tidak akan melakukan ini lagi, aku menyesal."

"Sudahlah, lupakan saja. Yang penting kau pulang. Ngomong-ngomong mengapa kau bersama albino ini?"

"Hms.. itu bisa saja. Dan bukannya kau tahu, jika aku selalu di antar olehnya?

"Oh iya aku lupa. Soalnya aku tak lagi melihatmu bersamanya..." Jawab Yixing polos. Benar-benar manusia satu ini, pikunnya kumat.

"DIa siapa Lu?" Kali ini Yifan atau Kris yang bertanya.

"AKu adalah Oh Sehun, kekasih dari Luhan." Terang Sehun mantap sambil memeluk pinggang Luhan posesif.

"Oh... senang bertemu denganmu. Ngomong-ngomong kau harus bisa menjaga Luhan adikku ini. Jika tidak, kau akan berurusan denganku." Balas Kris.

Sehun sebenarnya bingung dengan raut wajah pria tinggi itu. Luhan adiknya? Apakah Kris dan Luhan adik kakak? Tapi mengapa Luhan menyukai Kris sang kakak.

Banyak pertanyaan dikepala Sehun. Ia seakan buntu, pikirannya terlalu lelah untuk memikirkan itu semua.

.

.

.

.

Semua sahabat baik Sehun yaitu ChanBaek dan KaiSoo merasa shock. Pasalnya mereka melihat sosok pria dengan rambut disemir blonde namun menyisakan warna hitam dibawahnya — keluar dari mobil sport yang mereka yakini milik sahabat albino mereka — Oh Sehun.

"Se-SEHUN!" Teriak mereka ber-4.

Sehun hanya mengangkat bahunya, sok keren.

"Ba-bagaimana bisa k-kau kem-kembali seperti se-semula?!" Tanya Chanyeol terbata-bata.

"Keajaiban." Balas Sehun memasang wajah belagu.

"Wah-wah... daebak! Lalu bagaimana sekarang, bukannya kau didaftarkan sebagai Sehan?" Tanya Kyungsoo.

"Itu mudah, tinggal bilang saja pada paman tua itu. Jika Sehan dipindahkan ke luar negri dan aku sebagai siswa baru, mudah kan. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh Oh Sehun sepertiku, heh!"

"Cih, baru saja kembali seperti semula, lagakmu sombong sekali!?" Cibir Kai, pria pemilik kulit yang berbeda jika dibandingkan mereka ber-4.

"Apa kau tam, hitam. Kau iri padaku kan karena jika aku kembali kewujudku, penggemarmu berkurang." Sindir Sehun.

"Enak saja, ada atau tidaknya dirimu itu tidak akan berpengaruh. Karena aku sudah laku. Daripada dirimu yang jones." Balas Kai kesal karena Sehun mengolognya, mengatai hitam.

"Cih, lihat saja, aku akan membawa pasanganku. Dan pasanganku jauh lebih cantik daripada uke kalian.

"Jiah! Jangan bawa-bawa Baekhyun bodoh!" Kesal Chanyeol yang dari tadi melihat perdebatan antara Sehun dengan Kai. "Jadi kau mengatakan jika Baekhyunku ini jelek, begitu?!" Kesal Chanyeol, bahkan pria itu sudah menggulung lengan bajunya siap tempur.

"Aigoo si raksasa ini mau main pukul saja." Batin Sehun.

"Hai-hai sudah-sudah. Kalian ini seperti anak kecil saja, dan kau Sehun. Berhentilah memasang wajah songong-mu itu. Sudah kalian bubar, masuk kekelas masing-masing." Ujar Kyungsoo menghentikan perdebatan tak penting mereka.

Sepanjang koridor seluruh mata memandang kearah Sehun. Namun pria itu tidak peduli, sepanjang koridor menuju kelasnya matanya memandangi sekitar mencari sosok mungil bermata rusa yang saat ini telah resmi menjadi kekasihnya.

.

.

Luhan berjalan dikoridor yang berbeda dengan Sehun. Sedari tadi ia mendengar bisik-bisik dari pada siswi maupun siswa yang tampaknya membicarakan murid baru. Ditengah perjalanan ia dipanggil oleh Song Saem. Luhan menghentikan langkahnya menoleh ke arah Song Saem. Song Saem berjalan menujunya, pria ini mengatakan selamat pagi untuknya dan Luhan membalas ucapan yang sama.

"Lu Saem, apakah kau sudah dengar jika ada siswa baru yang akan masuk kesini. Aku dengar siswa baru ini menggantikan Oh Sehan." Ujar Song Saem. Luhan merasa terkejut namun juga merasa lucu. Pasalnya jika semua orang tahu kebenarannya pasti mereka semua akan shock karena Sehan dan Sehun itu satu.

Namun kali ini Sehan telah kembali menjadi sosok aslinya yaitu Sehun. Dan status mereka pun telah berbeda. Dulu mereka hanya sebatas guru dan murid, namun kali ini menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai.

"Lu, Lu Saem." Panggil Song Saem sebab ia merasa Luhan tengah melamunkan sesuatu.

"Ah, ne." Saut Luhan cepat-cepat.

"Hah.. sudahlah. Ayo kita keruang guru." Ajaknya kemudian. Luhan mengangguk mengiyakan.

Sehun melihat Luhan berjalan bersama dengan saingannya yaitu guru olahraga yang sangat menganggunya —Song Joong Ki. Sosok pria yang Sehun akui tampan, dan memiliki wajah ramah.

Sehun cemburu melihat kekasihnya berjalan bersama guru itu. Disana terlihat jika Luhan tampak tersenyum walaupun pria itu tidak melihat kearah lawan bicaranya namun ia merasa tidak suka. Hatinya panas melihat sang kekasih berjalan beriringan diseberang koridor sana.

Ia merasa jika saingan untuk mendapatkan Luhan tidaklah sedikit. Banyak orang yang menyukai kekasihnya itu dan ia pun harus ekstra waspada, hati-hati jikalau Luhan berpaling padanya.

Ia sungguh tidak ingin kehilangan sosok mungil bernama Luhan. Sosok yang dapat mematahkan kutukan laknat yang ia dapatkan karena ibunya mengolok-olok salah satu pengemis yang meminta-minta pada sang ibu.

.

.

Acara perkenalan pun terkesan kaku serta singkat. Walaupun banyak pandangan kagum, bling-bling dari para uke ataupun gadis yang ada disana, Sehun tidak peduli. Ia juga tidak mau menjawab pertanyaan tidak penting yang ditujukan untuknya. Dia akan diam dan mengatakan "Pertanyaanmu tidak bisa kujawab itu termasuk privasi." Ucapnya dengan mimik wajah stoic terkesan angker. Membuat semua orang enggan bertanya. Hanya dapat memendam didalam hati tanpa mampu mengatakannya langsung.

Dan Luhan yang kebetulan mengajar dikelas pertama milik Sehun tertawa didalam hati. Kekasihnya dapat men-smash para gadis ganjen penggoda kekasih orang.

Dikelas Sehun tak benar-benar memperhatikan Luhan. Ia merasa dejavu. Ya, kejadian ini seperti kala Luhan mengajar dikelasnya untuk pertama kalinya. Dulu Luhan yang memperkenalkan dirinya tapi tadi — ialah yang mengenalkan dirinya.

Ia tak bosan-bosannya memandangi gerak-gerik Luhan saat memberikan pelajaran. Ia juga melihat jika kekasihnya ini memiliki kebiasaan membasahi bibirnya sama sepertinya, karena itulah berjuta-juta pikiran mesum melintas dibenaknya.

Ia membayangkan bagaimana jika bibir merekah bagai busur panah cupid itu ia lumat, hisap, jilat. Pastilah memberikan rasa nikmat bagai candu untuknya. Ia juga merasakan jika bibir dengan bentuk panah cupid itu bagai zat adaktif yang dapat memberikan rasa nyaman, ketagihan didalam dirinya.

Beruntung bel tanda berakhirnya pelajaran telah berbunyi. Luhan pamit kepada mereka. Begitu Luhan keluar, tak lama kemudian Sehun keluar. Ditengah koridor Sehun malah menarik Luhan kesuatu tempat. Luhan sempat terkejut dengan aksi Sehun menarik tangannya. Beruntung tidak ada yang melihat mereka berdua.

"Sehunna, kau mau membawaku kemana?" Tanya Luhan tidak mengerti tapi kekasihnya ini diam tidak menjawab pertanyaannya.

Sehun membawa Luhan ke markasnya. Gudang yang telah lama tidak terpakai, namun dirubah oleh genknya untuk berkumpul. Sehun selaku sang ketua, ia memiliki kunci ruangan ini. Begitu ia masuk, ia menyudutkan Luhan ke dinding.

Luhan sempat terkejut dengan aksi Sehun yang cukup kasar itu. Sehun mengurungnya. Mata onix sang kekasih yang sangat ia kagumi entah mengapa sarat akan nafsu. Sehun mendekatkan wajahnya, pria ini membisikan kata-kata tepat diwajahnya.

"Lu, apakah kau ingin menggodaku eoh?" Bisiknya.

Gleg!

Luhan menelan ludahnya. "Menggoda, menggoda apa maksdmu?" Tanya-nya tak mengerti maksud pertanyaan ambigu Sehun.

"Lu... aku ingin itu sekarang. Karena aksimu didepan kelas tadi. Kau telah membangunkan little Oh." Ucap Sehun terdengar parau karena menahan hasrat.

"Ta-tapi Sehun, ini masih disekolah." Balas Luhan gugup. Luhan merasa gugup dan saat ini wajahnya pun berubah merah —malu. Ya.. walaupun ia telah melihat semua tubuh Sehun tapi tetap saja rasa malu gugup selalu ia rasakan.

Bahkan tubuh Sehun sudah menempel ketubuhnya. Dapat ia rasakan jika area privasi milik pria ini telah menegang. Ia semakin gugup, dadanya bertalu-talu dan ia pun ikut meledak kala bibir Sehun berada di bibirnya. Sehun mengecupnya diawal namun kecupan itu berubah menjadi lumatan yang penuh gairah.

Dirinya-pun ikut terbakar hasrat yang Sehun berikan. Dan Sehun juga merasakan jika bibir Luhan, semua tubuh Luhan adalah nikotin untuknya. Bagai candu baginya, mencoba lagi dan lagi. Bahkan tak tahu bagaimana caranya, tubuh mereka kini bagai adam dan hawa ditaman Eden — telanjang. Saling menghimpit. Dan Luhan telah berbaring di atas sofa yang terdapat diruang itu.

Milik Sehun telah tertanam sempurna dilubang Luhan. Desahan erotis panas keluar dari keduanya. Saling menerima dan memberikan service terbaik untuk pasangan.

Sehun mencengkram tangan Luhan lalu meremas jari-jarinya. Seakan pertalian jari-jari keduanya sangat pas. Seakan-akan mereka adalah jodoh.

Racau-an kenikmatan mereka keluarkan untuk menambah keerotisan hubungan ini.

Sampai pada saat keduanya meledak secara bersamaan mengeluarkan cairan cinta hasil persenggamaan keduanya.

Mereka berdua seakan lepas, lengkap, dan bahagia.

Sehun menatap sosok malaikat tanpa sayap itu dengan penuh puja. Seakan-akan hanya Luhan lah manusia paling cantik didunia ini. Bahkan dirinya rela belog hanya demi Luhan. Dan hanya Luhan orang yang bisa melepaskan kutukannya.

"Saranghae Lu, jongmal saranghae." Ucap pria itu tulus.

Luhan tersenyum cantik. Walaupun terdapat peluh dan bercak-bercak akibat ulah Sehun namun ia tidak menyesal. Ia lalu memeluk pria itu dan mengatakan jika ia pun turut mencintainya. Pria yang membuatnya merasakan disayangi, dikasihi, dan dilindungi. Ia merasa lengkap.

"Saranghae Sehunnie, jongmal saranghae."

.

.

.

.

Kedua orangtua Sehun merasa terkejut kala anaknya kembali menjadi pria tulen - seutuhnya. Eomma dan Appa-nya sujud syukur karena sang putra telah kembali. Tidak lagi menjadi setengah pria ataupun setengah wanita. Hanya sosok pria sejati yang ada dihadapan mereka saat ini.

"Si-siapa orang yang berhasil melepaskan kutukanmu Sehun-na?" Tanya ibunya antusias. Sang ibu penasaran dengan sosok yang membebaskan putranya dari kutukan laknat tsb.

"Iya Sehun-na, siapa yang telah melepaskan kutukanmu, hah? Appa dengan ikhlas akan menyatukan kalian berdua, seperti yang dikatakan orang pintar itu katakan. Yang bisa mematahkan kutukanmu hanya cinta sejatimu saja, siapa dia? Dan jika perlu kau bawa ia kesini." Pinta sang ayah.

Sehun diam, ia belum mengatakan apa pun kepada kedua orangtuanya yang tampak kepo ini. Mereka sungguh penasaran dengan sosok orang itu.

"Appa, Eomma kalian tenang saja. Aku akan membawanya jika waktunya tepat." Ujar Sehun kemudian. Setelah membalas ucapan kedua orangtuanya, ia pun melangkah menuju kamarnya dilantai 2. Meninggalkan kedua orangtuanya yang masih dilanda rasa penasaran yang tinggi.

'Siapakah orang itu?' Batin mereka bersamaan.

OoOo

Bukan keluarga Oh jika tidak menyelidiki siapa sosok misterius yang telah mengembalikan putra kesayangan mereka.

Ayah Sehun, tuan Oh menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki sosok misterius tersebut. Namun bukan Oh Sehun namanya jika dirinya tidak tahu apa yang ayahnya lakukan.

Seperti saat ini misalnya.

Saat ini mereka berdua tengah berada di cafe bubbletea favorit mereka. Walaupun tidak ada yang mencurigai mereka berdua jika keduanya adalah sepasang kekasih. Mereka tampak seperti kakak-adik. Luhan yang sebagai guru magang sesekali mengajari Sehun.

Cek! Menurut Luhan tingkah Sehun membuatnya ingin tertawa. Pasalnya semua ini karena orangtua sang kekasih yang sedang memata-matai mereka.

Kekasihnya menyuruh mereka berdua untuk pura-pura acting. Seolah-olah mereka tengah belajar kelompok. Dengan ia, sebagai guru pembimbingnya. Namun, jika tidak dibimbing pun, kekasihnya ini dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Dirinya akui, kecerdasan Sehun diatas rata-rata. Bahkan ia jarang melihat kekasihnya ini memegang buku.

.

Dan karena mobil hitam metalik dengam plat nomer yang sudah-sangat dihafal oleh Sehun. Bahkan mobil itu tengah parkir diseberang jalan. Sehun yakin ayahnya tengah menyelidikinya.

"Sehun-na, sampai kapan kita seperti ini? Kau bukannya menulis jawaban namun malah membuat gambar aneh seperti itu." Ujar Luhan.

"Sampai pak tua itu pergi. Harusnya appa bisa bersabar, sampai aku mengenalkanmu kepada mereka." Balas Sehun tanpa melihat Luhan.

"Mwo! Kau akan mengenalkanku kepada mereka?!" Luhan terkejut mendengar perkataan Sehun yang terkesan santai.

"Ne, memang kenapa? Apa kau tak ingin menikah denganku?" Tanya Sehun, kali ini pria itu menatap manik mata rusa milik Luhan.

"Bu-bukan begitu... hanya saja, kita masih terlalu muda untuk, ya... me-menikah." Jawab Luhan terbata.

"Aku tahu, tapi aku ingin hidup denganmu Lu... tidak ada yang lain." Luhan dapat melihat jika Sehun sungguh serius padanya. Terbukti dari sorot mata onix pria itu menajam.

"Heem, a-aku pun juga sama." Balas Luhan menunduk. Menyembunyikan semu pink di kedua pipinya.

.

Dilain tempat Tuan Oh bersama sopir pribadinya masih mengintai.

"Siapa sosok mungil yang bersama anakku? Dia wanita atau pria?" Tanya Tuan Oh ragu. Pasalnya sosok yang bersama sang putra tampak seperti wanita tapi berpakaian layaknya pria- Tomboi.

"Dia pria tuan, Aku dengar jika dia adalah guru magang di sekolah tuan muda, tuan." Jawab si sopir.

"Guru magang. Tampaknya ia tengah mengajari anakku sesuatu. Terlihat anakku mengerjakan sesuatu dari pria itu." Ujar Tuan Oh.

"Hms, iya. Aku rasa mereka sedang belajar, tuan tahu sendiri tuan muda sudah kelas akhir. Pasti sebentar lagi akan ujian masuk perguruan tinggi." Terang si sopir.

"Hn, betul juga. Ya sudah kita cabut saja. Tampaknya hari ini kita tidak menghasilkan apa-apa." Ujar Tuan Oh menyuruh sang sopir untuk pergi. Dan sang sopir menuruti apa yang diperintahkan oleh tuannya.

.

.

Sehun mendesah lega kala mobil ayahnya telah pergi dari sana. Dan kini ia bisa bermesra-mesraan dengan sang kekasih. Ia mengenggam tangan Luhan di atas meja. Tapi Luhan menepisnya.

"Hentikan sikapmu ini. Kita masih ditempat umum." Ucap Luhan sambil mendelik.

"Jika tidak ditempat umum kau mau eoh?" Goda Sehun. Dan Luhan hanya bisa mendengus sambil meminum-minumannya yang tinggal separo.

Setelah dari cafe, mereka berdua memutuskan untuk jalan-jalan. Seragam sekolah yang Sehun pakai ditutupi oleh jakat panjang yang pria itu bawa.

"Apa kau tidak membawa baju ganti? Biasanya kau membawanya?" Tanya Luhan pada kekasih albino disebelahnya.

"Aku tidak membawanya. Aku terlalu senang, bisa kembali menjadi sosok asliku sehingga aku lupa membawanya." Balas Sehun dan hanya diangguki oleh Luhan.

Sehun mengajak Luhan ke Lotte World. Taman hiburan terbesar di Korea. Luhan yang takut ketinggian tak ingin menaiki wahana yang tinggi dan menakutkan.

"Ayolah Hannie, ini tidak menakutkan. Ini hanya bianglala, tidak menakutkan, ku jamin aman. Percaya padaku... kau tidak akan kenapa-napa... ada aku disisimu..." Bujuk Sehun.

"Ta-tapi Sehun-nie... a-aku sa-sangat... hmmph..." Belum selesai Luhan berbicara, Sehun sudah membekap mulut Luhan dengan bibirnya. Rasa gugup dan takut yang Luhan rasa mendadak menghilang. Ciuman Sehun memberikan kehangatan dihatinya. Jika saja ia tidak lupa masih ditempat umum mungkin mereka akan melanjutkan ke Ret tertinggi. Namun semua harus di cut, karena mereka masih ditempat umum. Dan Sehun pun melepaskan pertalian kedua bibir mereka.

"Ayo!" Ajak Sehun sambil menarik tangan Luhan. Luhan tidak menjawab, pria itu hanya diam saja sambil menyembunyikan semu pink dikedua wajahnya. Syukurlah Sehun tidak melihat semu pink-nya, atau pria itu pura-pura tidak melihatnya. Jika pria itu melihatnya yang seperti wanita ini. Dirinya akan sangat malu, bahkan tidak terima disebut imut, manis. Intinya ia tidak suka dianggap seperti wanita. Bagaimanapun juga ia ini pria bukan wanita. Cih memalukan jika dianggap seperti itu.

.

Pada akhirnya mereka-pun naik bianglala. Walaupun ada insiden paksaan dan kejadian memalukan ditempat umum. Untungnya tidak ada yang melihat atau mungkin orang-orang not-gagas-not.

Luhan akui jika ia sangat takut berada disini. Ketinggian mengingatkannya pada masa itu. Dimana kecelakaan di bukit, dan mobil orangtuanya yang terjun bebas dari atas menuju jurang, lalu mobil itu meledak, menewaskan kedua orangtuanya.

"TIDAK...! AKU INGIN TURUN! BABA... MAMA...! Jerit Luhan tiba-tiba. Bahkan tubuhnya bergetar, keringat dingin mengucut dari keningnya. Bahkan Luhan berjongkok menutupi telinganya, seakan-akan kejadian buruk itu terulang kembali. Luhan berteriak histeris ketakutan.

Disisi lain, Sehun yang melihat sang kekasih histeris merasa cemas. Luhan seperti, bukan Luhan yang ia kenal. Luhan begitu rapuh. Phobianya kali ini sangat parah.

"Lu, Luhannie... lihat aku!" Ucap Sehun sambil memegang bahu Luhan yang gemetaran karena takut.

GREB!

Sehun langsung memeluk Luhan namun Luhan masih tidak sadar. Luhan seakan tidak sadarkan diri. Matanya bahkan tidak fokus, seakan tengah berhalusinasi. Luhan meracau tidak jelas bahkan airmata telah mengalir dari mata indahnya.

Sehun melihat sang kekasih yang seakan tak sadar ini langsung membekap mulut sang kekasih.

Hmmph!

Seakan ditarik dari dimensi lain, mata Luhan membola. Didepannya, ia melihat mata onix kelam Sehun yang memancarkan keteduhan. Sehun kembali menciumnya, ciuman yang lembut, yang dapat menghangatkan kalbu serta menggetarkan jiwa. Lagi-lagi perasaan takut akan kenangan buruk itu sirna. Tergantikan dengan warna pelangi dihatinya. Ia terhanyut oleh ciuman Sehun yang menghangatkan jiwanya.

Keduanya hanyut dalam ciuman manis yang keduanya bagi. Luhan bahkan telah berada dipangkuan sang kakasih. Rasa takut akan ketinggian lenyap tergantikan dengan ciuman hangat tersebut.

Tanpa sadar mereka sudah berada dibawah. Dan mau tidak mau mereka berdua turun dengan rona bahagia tercetak diwajah mereka.

"Bagaimana, apa kau tidak takut lagi?" Tanya Sehun menggoda Luhan.

Luhan malu mengatakan pada Sehun jika dirinya tidak takut lagi. Dan karena ingin menutupi rasa malunya Luhan mendelik kearah Sehun sambil mengatai Sehun Bodoh! Memalukan! Karena menciuminya ditempat umum. Bahkan ia merasa malu ketika dua orang wanita (adik-kakak) melihat mereka masih berciuman. Untunglah dua orang wanita itu Fujoshi. Sehingga senang melihat adegan mereka. Karena itulah ia langsung menyeret Sehun keluar dan dua wanita itu melongo, setelah sadar mereka jingkrak-jingkrak seperti orang gila karna melihat pasangan yaoi yang so sweet ada didepan mata.

"Aduh! Kenapa kau marah, eoh?! Aku melakukan itu karena kau menjerit ketakutan..." Keluh Sehun karena Luhan tiba-tiba malah mengatainya.

"IYA TAHU! TAPI TIDAK DIDEPAN UMUM! DASAR MESUM!" Kesal Luhan, masih memperlihatkan otot lehernya.

"Hah... iya iya... aku minta maaf... lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan aku." Jawab Sehun datar.

Melihat wajah sang kekasih berubah datar seperti papan penggilas. Luhan merasa bersalah, salahkan saja, gengsi, egonya yang tinggi. Bagaimanapun juga ia tahu jika Sehun melakukan itu untuk menenangkan dirinya. Namun ia merasa gengsi jika harus meminta maaf pada Sehun.

Dimobil Sehun tak mengatakan apapun padanya, wajah pria itu masih datar. Sehun fokus menyetir mobilnya dan Luhan semakin merasa bersalah melihat kekasihnya tampaknya marah. Dengan rasa yang berat, bahkan ia mengepalkan tangannya untuk mengatakan maaf.

"Sehunnamaafkanakukarenatelahbertindakbodoh!" Ucapnya cepat tanpa jeda. (Sehunna maafkan aku karena telah bertindak bodoh!)

Mendengar Luhan yang bicara tanpa jeda reflek Sehun menoleh kearahnya.

"Kau mengatakan apa? Aku tidak jelas mendengarmu bicara tanpa jeda." Tanyanya watados.

=_="

Kali ini giliran Luhan memasang wajah datar. Ia ingin memukul kepala sang kekasih, namun salahnya juga berbicara tanpa jeda hanya karna gengsi semata.

"AKU MINTA MAAF BODOH!" Ucap Luhan malah membentak.

"Bisa tidak kau meminta maaf tidak membentak dan berkata kasar, eoh?!" Dengus Sehun kesal.

Diam.

Luhan tahu jika ia salah, tapi ia terlalu gengsi untuk meminta maaf. Bahkan dengan Kris yang telah lama ia kenal, dirinya merasa gengsi untuk meminta maaf atau pun mengalah. Luhan dengan sekuat tenaga akhirnya mau menurunkan kadar kegengsiannya.

"Maaf." Ucapnya Lirih.

"Mwo, kau mengatakan sesuatu?" Tanya Sehun memastikan.

Luhan menahan nafasnya. Sehun ini tuli atau budhek, atau ingin mengerjainya saja. Namun ia menahan emosinya dan mengatakan sekali lagi.

"Maafkan aku Sehun. Aku tahu aku salah, kau melakukan itu karena ini menghilangkan ketakutanku, maafkan aku." Ucap Luhan tulus.

Seulas senyuman manis Sehun berikan kepada Luhan. Dan Luhan akui jika senyuman eyes smile Sehun sangat manis, bahkan menawan. Bahkan satu tangan Sehun menggenggam tangannya. Pertalian jari keduanya menyatu bahkan terlihat pas dikeduanya.

"Aku tahu kau menyesal sayang. Bahkan sebelum kau mengatakan maaf aku telah memaafkanmu karena aku mencintaimu." Ucap Sehun tulus.

Luhan mendengar perkataan Sehun merasa melayang. Dan ia merasa yakin jika ia benar-benar telah jatuh kedalam pesona sosok muda didepannya ini. Yang sialannya wajah, serta penampilan pria ini lebih tua dibandingkan dirinya. Bahkan lebih tampan dari dirinya. Ia merasa beruntung dan juga sebel. Beruntung karena dirinya dicintai, dikasihi oleh orang seperti Sehun. Dan kesal karena Sehun jauh lebih cool, maco,manly daripada dirinya.

Namun demikian ia bahagia. Sehun seperti malaikat yang datang untuk mengisi warna di kehidupan-nya. Sosoknya yang misterius dan tak tersentuh oleh semua orang namun ditangannya sosok ini dapat ia sentuh, bahkan kini menjadi miliknya.

Tanpa rasa malu, gengsi, Luhan memeluk lengan Sehun. Dan dalam hati membisikan,

"Saranghae Oh Sehun, Odultku."

.

.

.

.

Seorang pria paruh baya menganga lebar kala melihat berlembar-lembar foto yang seseorang berikan kepadanya.

Orang suruhannya sangat profesional sekali dalam bekerja. Bahkan ia sama sekali tidak curiga pada orang didalam foto ini.

Ia ingin mengelak, tapi foto yang diambil pria itu nyata. Putranya Oh Sehun dan pemuda mungil yang kemarin ia lihat ternyata adalah sepasang kekasih. Dan difoto ini, Oh Sehun tengah mencium pemuda itu ditempat umum - taman bermain Lotte World.

Jika mencium di pipi masih masuk akal, tapi ini dibibir. Ia merasa shock, tak percaya jika kelak menantunya adalah seorang namja - pria.

'Haruskah aku menyatukan mereka?' Batinnya.

Batin tuan Oh, katakanlah ayah Sehun bergolak, disatu sisi ia tidak setuju jika anaknya menikah dengan pria. Bagaimana keturunan Oh akan muncul? Seorang pria tidak bisa mengandung bahkan melahirkan seperti wanita kecuali jika kelainan, dan itu pun 1:1juta. Hampir tidak mungkin, dan ia merasa gamang.

Disisi lain ia ingat ucapan orang pintar itu katakan. Jika Sehun putranya tidak boleh meninggalkan sosok - orang yang bisa mengembalikan wujud asli putranya. Jika anaknya itu sampai meninggalkan sosok tsb, maka kutukan yang akan anaknya dapatkan bahkan jauh lebih besar. Dan jika ada yang menghalangi jalan mereka untuk bersatu, orang itu pun akan mendapatkan karmanya.

DEG!

Tuan Oh semakin ngeri dengan ucapan orang pintar itu. Tuan Oh yakin jika orang yang ada didalam foto bersama dengan Sehun adalah guru magang itu. Dan ia juga telah menyelidiki guru magang tsb. Yang ia ketahui jika sang guru bernama Luhan. Mahasiswa tingkat akhir di Yonsai University. Ia akui jika pria bernama Luhan adalah pria yang jenius karena bersekolah di universitas top, bahkan peringkat tiga teratas di korea. Ia akui sangat sulit untuk masuk kesana. Ditambah ia lihat diprofilnya jika Luhan orang Chinese.

Melihat sosok orang suruhannya masih berdiri dihadapannya. Ia pun mengambil amplop yang berisikan uang bayaran kepada sosok didepannya.

"Keluarlah, ini bayaran untukmu." Ujar Tuan Oh menyodorkan amplop ketangan orang suruhannya. Jika dilihat dari amplopnya yang tebal. Bisa dibayangkan jika Tuan Oh membayar orang itu dengan mahal. Segepok uang, orang itu telah dapatkan.

"Kamsahamnida." Dan orang itu pergi dari ruangan Tuan Oh dengan segepok uang ditangan.

.

.

.

Luhan baru mengetahui jika Oh Sehun itu pria yang manja. Terbukti diatas atap ini ia tengah menyuapi bayi besar.

"Makanmu pelan-pelan saja... nanti bisa tersedak." Nasehat Luhan. Bahkan ia melihat ada sisa nasi disudut mulut Sehun dan ia langsung membersihkannya.

"Gleg!"

"Aku suka bermanja-manja denganmu. Sebab kekasihku ini begitu manis dan aku nyaman bersamamu. Hihihihi..." Cengir Sehun senang kala makanan yang ada dimulutnya sudah ia telan, dan Luhan hanya bisa mempoutkan bibirnya, mencibir.

Cup!

Tanpa dirinya undang, kekasihnya ini mencium sekilas bibirnya.

"Jangan mempoutkan bibirmu begitu. Kau bisa mengundangku untuk melahap bibirmu itu sayang." Goda Sehun sensual.

Luhan bergidik melihat Sehun seakan ingin menerkamnya. "JANGAN MULAI LAGI TUAN OH! AKU SEDANG PMS, JADI KAU JANGAN MENGGODAKU!" Kesal Luhan pada sosok kekasihnya yang mesum.

"PMS, kau kan pria. Jadi mana mungkin bisa PMS?" Tanya Sehun malah bengong.

"Aku sedang tidak mood untuk melakukan itu. Anggap saja aku sedang PMS. Jadi aku tidak bisa melayanimu SEKARANG!." Ucap Luhan tegas.

"Oke, oke... jika nyonya Oh sedang tidak mau untuk memanjakan little Oh aku maklumi. Tapi juga jangan lama-lama. Karena milikku rindu pada kandangnya.

Luhan mengeryit kala istilah yang Sehun pakai sungguh aneh.

"Kandang-kandang, memangnya lubangku seperti kandang vivi anjing centilmu itu?! Jika kau ingin kandang, masukan saja milikmu ke kandang Vivi." Ujar Luhan sewot.

Sehun melongo melihat Luhan sang kekasih mendadak seperti PMS sungguhan. Awalnya ia hanya ingin menggoda Luhan saja, namun efek yang ia dapatkan sungguh besar. Luhan marah bahkan pria itu menyuruhnya untuk makan sendiri bekal yang Luhan buat, lalu pergi dari sana.

Sehun hanya bisa menatap Luhan linglung. "Salahku apa? Kenapa Luhan jadi marah? Apa karna aku terlalu fulgar? Apa jangan-jangan ia PMS sungguhan? Oh Tuhan... nasip jadi Seme, sabar..." Monolognya sambil memakan bekal Luhan dengan melas.

Dilain tempat Luhan cukup kesal pada kekasihnya Sehun. Entah mengapa akhir-akhir ini moodnya sering sekali berubah-ubah. 'Apa ada denganku ini?' Batinnya.

"Luhan saem." Panggil pria yang ia tahu adalah Song Joongki.

"Ne." Balas Luhan menoleh kearah si pemanggil.

"Apakah malam nanti kau ada waktu?" Tanya Song Joongki memastikan.

"Jika boleh tahu apa ada Saem?" Tanya Luhan.

"Hms... begini. Aku memiliki dua tiket nonton, apa kau ada waktu?" Tanya Song Joongki berharap. Luhan mendesah berat, ia tidak bisa pergi dengan oranglain selain Sehun. Ia tidak ingin membuat kekasihnya marah dengan berat hati dirinya menolak dengan sopan.

"Maafkan aku Song Joongki saem. Malam ini aku tidak bisa menemanimu, karena aku sudah ada janji dengan temanku... mianhae .. jeongmal mianhae ." Balas Luhan tak enak hati.

"Tidak masalah aku mengerti. Ya sudah mungkin lain kali." Ujarnya. Walaupun ada rasa sedih ditolak namun ia harus ikhlas. Dan ia pun pamit dari hadapan Luhan. Ternyata sedari tadi ada sosok yang tengah melihat kedekatan mereka dengan ekspresi dingin ingin mencincang-cincang saingannya tersebut.

Greb!

Sehun datang, pria itu langsung mencekal tangan Luhan. Luhan kaget Sehun tiba-tiba datang, bahkan langsung memegang tangannya kuat.

"Apa yang kau lakukan Sehun?! Lepaskan, tanganku sakit!"

"Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan bersama dengan guru tadi." Luhan menghela nafasnya. Kekasih mudanya ini ia akui sangat pencemburu, itu sebabnya ia harus ekstra sabar.

"Ia kesini ingin mengajakku nonton film." Sehun mendelik mendengar perkataan Luhan. Menonton film, berdua. Itu sama saja si guru sok ganteng mengajak Luhan untuk kencan.

"Lalu apa jawabanmu." Jawab Sehun datar.

"Aku menolaknya, ya aku tahu jika aku menerimanya akan ada sosok yang mungkin saja akan mengamuk." Sindir Luhan dan sosok itu adalah Sehun.

"Hn, kau benar. Aku akan mengamuk bahkan bila perlu akan aku umumkan pada dunia jika kita ini sepasang kekasih. Jadi tidak akan ada oranglain yang ingin merebutmu dariku." Ujar Sehun berapi-api.

"Iya, iya... maka dari itu aku tidak akan bertindak bodoh, karena kekasihku ini sangat bodoh." Cibir Luhan dan Sehun hanya bisa memasang wajah datar.

"Sudahlah, kau jangan marah, ataupun ngambek lagi. Aku akan menghabiskan waktu denganmu. Mumpung moodku sekarang membaik. Mian atas perlakuan kasarku diatap tadi." Kata Luhan menyesal.

"Baiklah, aku memaafkanmu tapi dengan satu syarat, aku minta jatah... boleh ya..." Ujar Sehun memohon.

"Aniya! Malam ini tidak ada jatah untukmu! Aku tidak mood melakukan itu! JIKA MAUMU SEPERTI ITU LEBIH BAIK AKU MENERIMA AJAKAN SONG SAEM." Kesal Luhan.

"IYA, YA YA... TIDAK ADA JATAH. DAN KAU JANGAN DEKAT-DEKAT DENGANNYA LAGI." Kesal Sehun.

"Anak pintar..." Ucap Luhan sambil mengelus-elus janggut runcing Sehun. Luhan suka mengelus-elus janggut runcing kekasihnya itu.

Dan Sehun hanya bisa mendengus kesal.

.

.

.

.

"Ada hubungan apa engkau dengan Luhan saem Hunna?!" Tanya Baekhyun mengintrogasi Sehun.

Saat ini semua sahabatnya berkumpul. Meminta penjelasan kepada pria itu, untuk menjelaskan perihal apa yang mereka lihat di koridor kelas tadi. Walaupun tempatnya sepi, jarang dilalui orang namun tak sengaja mereka melihatnya. Tingkah Sehun dengan sang guru magang bernama Luhan sangat berbeda. Bahkan mereka melihat Luhan mengelus janggut Sehun. Mereka tahu jika Sehun tidak suka jika janggutnya disentuh oleh oranglain. Karena itu adalah salah satu area sensitif-nya. Pria itu akan merasa geli, jika janggutnya disentuh. Dan Luhan sang guru magang diberi kuasa khusus untuk menyentuh janggut berharga milik Sehun. Sungguh luar biasa.

"Ck, tampaknya aku harus membuka satu kartuku lagi kepada kalian. Ya saat ini aku dan Lu saem tengah menjalin hubungan. Dan kalian pasti tahu hubungan apa yang kita jalani." Jawab Sehun santai.

Semua menganga, tidak mereka sangka jika Oh Sehun yang agung jatuh cinta pada gurunya sendiri. Bahkan sang guru lebih tua darinya.

"Kau serius Hun dengannya? Kau tidak sedang main-main kan?" Kali ini gantian Chanyeol yang bertanya.

"Ck, aku serius. Mana ada dalam kamus keluarga Oh tidak pernah tidak serius. Ya... walaupun tampak diluar cuek, tapi eksekusinya selalu serius." Balas Sehun.

"Ya, ya, ya... aku akui itu."

"Apa jangan-jangan Luhan saem yang telah melepaskan kutukanmu itu Hunna..." Kali ini Kyungsoo si polos yang bertanya.

"Hn."

"WOW, BENARKAH!" Balas mereka serempak.

"Bagaimana kutukanmu bisa lepas?" Tanya Kai penasaran.

"Iya bagaimana Sehun." -Chanyeol.

"Iya, jelaskan pada kami?" - Baekhyun.

"Katakan Hunna.." - Kyungsoo.

Semua penasaran, bagaimana cara Luhan menghapus ketukan didalam diri sahabatnya itu.

"RAHASIA! AKU TIDAK AKAN MENGATAKANNYA KEPADA KALIAN.'' Ujar Sehun tegas dan pria albino dingin itu pun melangkah pergi dari markas mereka. Asal mereka tahu, jika markas ini adalah saksi bisu - jika keduanya pernah melakukan adegan panas.

"OH SEHUN KAU CURANG! TIDAK MAU BERBAGI DENGAN KAMI!" Teriak teman-temannya kesal. Dan Sehun, pria itu hanya bisa tersenyum dari balik punggungnya.

Skip.

Malam minggu adalah malam bahagia untuk para pasangan kecuali untuk jones yang tidak akan bisa merasakan nuansa indah malam minggu dengan kekasih hati. Ngenes.

Tapi hari ini tampaknya tak terlalu membahagiakan bagi Luhan. Ia mendadak sakit. Rasa mual, muntah terus ia rasakan. Bahkan Yixing sahabatnya memaksanya untuk di periksa ke dokter namun Luhan terus menolak. Yixing tahu, jika Luhan sahabatnya enggan kedokter karena masalalu suram yang menimpa keluarga sahabatnya tsb. Peristiwa itu seakan membekas, bahkan sampai menimbulkan rasa traumatik pada psikis sahabatnya itu.

"Tapi Lu, aku cemas padamu?! Lihatlah dirimu, kau seperti mayat hidup. Jika Sehun datang, ia pasti akan memarahiku..." Ujar Yixing cemas.

Tok!

Tok!

Tok!

Terdengar pintu kos dari kamar Luhan diketuk. Mereka tahu jika itu adalah Sehun, karena selama ini hanya pria itu yang datang ke tempat kos Luhan.

"Yising, tolong kau bukakan pintu itu. Kepalaku pusing sekali, aku bahkan malas untuk berjalan." Pinta Luhan lemas.

"Oke baiklah. Akan ku bukakan untukmu." Yixing pun berjalan menuju pintu, membukakan pintu dan benar dugaan mereka. Orang yang berdiri di depannya adalah Sehun, kekasih sahabatnya.

"Yixing kau ada disini, mana Luhan?" Tanya Sehun.

"Masuklah, dan kau akan tahu sendiri." Sehun mengeryit mendengar jawaban ambigu Yixing. Apa maksud pria ini? Pikir Sehun.

Ia pun tahu apa maksud dari ucapan Yixing setelah memasuki kamar sang kekasih. Ternyata Luhan sakit, Sehun langsung duduk dipinggiran ranjang. Ia sentuh kening Luhan. Dan ternyata tubuh Luhan demam.

"Yixing, apa kau sudah memanggil dokter?" Tanya Sehun mendelik. Jujur saat ini ia sangat cemas melihat sang kekasih sakit.

"Lu-Luhan, tidak mau a-aku panggilkan dokter Hun." Ucap pria itu terbata-bata karena takut dengan aura mencekam yang keluar dari diri Sehun.

Sehun lalu mengambil ponsel dari kantung jaketnya. Ia lantas menghubungi dokter pribadi keluarganya.

Beberapa menit kemudian dokter paruh baya yang sudah menjadi langganan keluarganya datang. Dokter itu dengan fokus memeriksa keadaan Luhan. Pria itu tidak suka diperiksa, namun melihat sorot mata Sehun yang tajam dan menakutkan membuat nyalinya ciut. Jika dirinya tidak menurut, bisa saja Sehun akan menerkamnya.

Setelah sang dokter selesai memeriksa keadaan Luhan, dokter itupun ingin bicara kepada Sehun.

"Tuan muda, biasa aku bicara denganmu?" Tanya-nya kepada Sehun.

"Ne, dok." Balas Sehun. Mereka pun keluar dari kamar itu. Menyisakan Luhan dengan Yixing.

"Bagaimana keadaan Luhan dok?" Tanya Sehun.

"Dia baik-baik saja, tapi..." Ada jeda dibalik ucapan sang dokter.

"Tapi apa..." Tuntut Sehun.

"Dia salah satu pria yang spesial tuan muda. Maaf jika saya lancang bertanya, apakah anda dengan pria didalam tengah menjalin hubungan?" Tanya dokter tua ini.

"Hn, Ne." Jawab Sehun sedikit canggung, karena takut menimbulkan persepsi yang berbeda.

"Hah... saya mengerti dan dapat menerima hubungan seperti itu. Dan karna itulah saya mengucapkan selamat kepada anda tuan muda. Jika pasien yang didalam saat ini tengah mengandung. Dan kandungannya menginjak 2 minggu. Anda harus lebih memperhatikan mereka." Terang sang dokter.

Sehun yang masih mencerna ucapan sang dokter tiba-tiba terkejut, tidak percaya. "Apa! Lu-Luhan... hamil..." Ucapnya tercengang. Pasalnya Luhan adalah pria - namja. Mana mungkin bisa mengandung? Tidak masuk akal. "Dokter tidak bercanda kan?" Tanyanya masih tidak percaya.

"Saya jujur tidak percaya juga. Tetapi ini nyata, ada. Inilah keajaiban, Kuasa Tuhan. Terkadang didunia ini ada yang tidak bisa dipecahkan oleh ilmu manusia. Tuhan itu sungguh misterius, kebesarannya sungguh luar biasa. Ada manusia yang memiliki rahim didalam perutnya. Dan pasien yang didalam sana salah satu keajaiban yang Tuhan berikan kepadanya. Tuhan memberikan kespesialan kepada pria itu, pastilah memiliki arti dan maksud tersendiri. Dunia ini memiliki banyak misteri. Anda pasti dipertemukan olehnya, pastilah memiliki arti, bukan? Inilah yang disebut misteri ilahi. Maaf jika saya terlalu banyak bicara. Ini resep obat yang harus Luhan minum. Dan jaga baik-baik kandungannya. Saya sarankan agar anda mau berterus terang kepada orangtua anda. Karena saya yakin mereka pasti akan mengizinkan kalian. Karena ya... bisa dikatakan kalian memang ditakdirkan untuk bersama." Ucap dokter itu menyerahkan resep obat yang harus Sehun tebus.

Setelah sang dokter pamit, pergi. Sehun bergegas ke apotik menebus resep obat untuk Luhan minum. Sehun terkadang merasa kagum kepada dokter Jung. Pria paruh baya itu ternyata memiliki pemikiran yang luas. Bahkan beliau dengan bijak tidak men-judge ia dengan Luhan. Kata-katanya, baik yang tersirat maupun tersurat sungguh bermakna dan dalam. Bagai alunan musik klasik di orkestra.

OoOo

Sehun telah kembali dari apotik, dan sekembalinya ia dari sana dilihatnya sosok sang kekasih telah tertidur. Yixing mengatakan kepadanya jika Luhan telah makan bubur rumput laut yang ia buat, ya.. walaupun Luhan memakannya sedikit, setidaknya pria itu sudah makan.

Sehun mendekat dan duduk disamping Luhan. Ia memegang kening Luhan. Jika demamnya sedikit turun. Ternyata Yixing sudah mengompres kening Luhan, dan itu sangat membantunya. "Lu, Xiao Lu.." Panggil Sehun lembut. Ia pun mengelus kening Luhan sayang. Luhan membuka matanya. Ia mengerjap-ngerjap. Pening dikepalanya masih ia rasakan dan sungguh menyiksa.

"Minumlah obatmu dulu sayang, dan setelah itu kau bisa kembali tidur lagi." Luhan tidak menolak meminum obatnya. Ia telan semua pil-pil yang sebenarnya ia tidak suka. Karena tidak ingin ribut dengan Sehun ia pun menurut. Setelah selesai meminum obatnya, ia kembali berbaring. Sehun juga membetulkan letak bantal, serta selimutnya.

Sehun keluar dari kamar Luhan. Dilihatnya Yixing duduk disofa sambil meremas-remas tangannya - cemas.

"Katakan padaku. Dokter tadi mengatakan apa padamu? Luhan sakit apa?" Tanyanya beruntun.

"Yixing, sebelumnya aku minta maaf padamu. Mungkin setelah mendengar kabar ini kau akan menganggapku brengsek. Tapi percayalah padaku jika aku sangat mencintai Luhan."

"Sehun kau jangan berbelit-belit begitu. Katakan apa yang terjadi?!" Tuntut Yixing.

"Luhan hamil, ia tengah mengandung anakku." Jawab Sehun.

Yixing yang baru memproses ucapan Sehun seakan bingung, namun setelah proses loading didalam otaknya selesai ia baru sadar akan ucapan Sehun. "MWO! KAU SERIUS DENGAN APA YANG KATAKAN!" Sehun menyuruh Yixing untuk jangan berisik karena suara teriakan Yixing dapat membangunkan Luhan.

"Ya Xing, aku serius. Luhan hamil anakku dan aku akan bertanggungjawab untuk ini."

"Tapi Hun, kau itu masih muda. Bahkan kau masih dibawah umur. Usiamu masih 17 tahun bukan?" Ujar Yixing.

"Aku tahu, tapi aku bisa mengatasinya. Luhan sekarang adalah tangungjawabku. Walaupun kau menganggapku bocah. Tapi aku bukan bocah lagi. Aku akan bertanggungjawab, ini demi Luhan dan anakku." Ujar Sehun menyakinkan Yixing.

Yixing melihat pancaran keseriusan didiri Sehun merasa kagum. Ia akui Sehun sungguh-sungguh mencintai Luhan. Bahkan ia sejak pertama melihat Sehun tahu, jika Sehun sudah menaruh hati pada sahabatnya. Namun sayangnya Luhan terlambat menyadari. Setelah dia dicampakan oleh Kris, bukan dicampakan lebih tepatnya sahabatnya itu ditolak oleh Kris, karena Kris hanya menganggap Luhan sebagai adik. Tidak lebih. Karena itulah dengan perhatian Sehun, sahabatnya itu pun luluh.

Yixing berharap Sehun akan terus menjaga, menemani, bahkan mencintai Luhan tanpa bosan sampai raga mereka habis dipanggil oleh sang khalik.

"Baiklah aku mengerti. Aku percaya padamu. Jika begitu aku pulang dulu, dan jagalah Luhan untukku." Jawab Yixing pamit pulang.

Setelah Yixing pamit, Sehun masuk kekamar Luhan. Sang kekasih tidur dengan pulasnya, terbukti dari suara dengkuran halus pria itu keluarkan. Sehun mengelus kening dan rambut Luhan, sungguh pria mungil dihadapannya ini sangat indah, ia juga mengelus perut Luhan yang masih rata. Perut itu nantinya akan membesar, dan akan menjadi bayi, anak mereka. Dan ia akan menjaga mereka, apa pun yang terjadi, karena ia sangat mencintai Luhan.

Bahkan untuk mendapatkan Luhan ia harus mati-matian berusaha keras meluluhkan hati Luhan. Karena awal mula mereka bertemu, Luhan tlah menyukai pria lain yang bernama Kris. Kris adalah sosok pria yang tampan dan gagah. Saingan yang berat untuknya. Mungkin karena Tuhan tlah menjodohkan mereka, akhirnya Luhan luluh juga. Dan mereka pun menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.

Ia tahu jika ini adalah awal dari perjalanan kisah mereka kedepannya pastilah banyak rintangan yang akan menghadang. Tidak mungkin sebuah hubungan berjalan dengan lurus terus. Pasti akan banyak kelokan yang menghadang. Namun mereka yakin, jika mereka mampu menghadapi semua rintangan asalkan mereka tetap bersama.

"Jaljayo Lu, saranghae." Ucap Luhan sambil mencium bibir Luhan sekilas. Dan ia pun tidur disebelah Luhan, memeluk tubuh mungil itu dari belakang.

.

.

Luhan terkejut mendengar perkataan Sehun, jika dirinya berbadan dua.

Flasback.

Luhan mengerjap-ngerjap matanya. Efek sinar matahari yang mengintip masuk dari celah gorden jendela.

Eeehhh...

Leguhan khas bangun tidur pun terdengar. Ia merasakan jika sesuatu menindihnya. Ia menoleh kesamping, seorang pria yang sangat ia kenal tidur disampingnya sambil memeluk tubuhnya.

"Sehun..." Panggilnya parau, khas bangun tidur.

"Eh, Lu kau sudah bangun sayang...'' Balas Sehun mengerjap-ngerjap matanya.

"Heem."

"Bagaimana, apa kau sudah lebih baik?" Tanya Sehun sambil mengelus pipi Luhan. Namun belum sempat Luhan membalas, pria mungil itu langsung berlari menuju kamar mandi. Ia muntah-muntah, mengeluarkan cairan bening. Sehun bangun menyusul Luhan kedalam kamar mandi. Luhan membuka kran air, untuk membersihkan muntahannya.

"Apa kau masih merasa mual? Tampaknya kau harus absen. Dan aku yang akan menjagamu sayang."

"Ti-tidak usah Sehunnie, aku baik-baik saja... minum obat pun aku akan sembuh. Aku sudah banyak sekali absen. Aku hanya guru magang disana bukan karyawan. Dan kau juga anak siswa akhir, kau harus sekolah agar kau diizinkan mengikuti ujian akhir." Terang Luhan.

"Ck! Soal itu mudah. Lagi pula aku tidak ingin melihat bayiku kenapa-napa."

Luhan mengeryit mendengar Sehun mengatakan soal bayi. Omong kosong, hell! Dia adalah pria. Mana mungkin bisa hamil, mimpi.

"Apa yang kau katakan, eoh?! Aku pria mana mungkin bisa hamil!" Sewot Luhan.

"Jika benar seperti itu, apa yang akan kau lakukan? Dokter yang memeriksamu mengatakan padaku. Jika didalam perutmu berkembang calon anak kita." Ujar Sehun. Luhan kaget, tidak percaya. Ia hamil! NO!

Flasback end.

.

.

.

.

"APA KAU BERCANDA! AKU BELUM SIAP MEMILIKI ANAK! AKU BAHKAN BELUM MENYELESAIKAN STUDIKU OH SEHUN! SETIDAKNYA TUNGGU SAMPAI AKU LULUS DULU!" Amuk Luhan.

Luhan memukul-mukul dada Sehun. Mengatai Sehun brengsek! Dan ia pun menangis. Pria mungil itu pun menangis.

"Lu dengarkan aku!" Ucap Sehun lembut namun terdengar tegas.

"TIDAK! KAU TELAH MENGHANCURKAN HIDUPKU, HIKS HIKS...!" Bentak Luhan terisak. Sehun mencengkram tangan Luhan. Ia menyuruh Luhan untuk menatapnya namun Luhan menolak. Pria ini tidak ingin menatap pria yang telah menghancurkan masa depannya.

"Oke, jika kau tidak ingin menatap wajahku setidaknya kau bisa mendengar suaraku."

Diam.

Tidak ada jawaban dari Luhan, bahkan pandangan matanya seakan kosong.

"Oke, jika begitu. Kau harus mendengar ucapanku ini baik-baik. Maafkan aku karena membuatmu hamil. Namun asal kau tahu, aku akan bertanggungjawab penuh atas dirimu dan janin yang kau kandung itu. Walaupun kau menganggapku bocah, tapi aku sungguh-sungguh mencintaimu. Kau pernah mengatakan padaku, jika aku tidak boleh meninggalkanmu dalam keadaan apapun. Bahkan aku dengan kerelaan hati mau bertenggungjawab penuh atas dirimu dan calon bayi kita. Jadi, maukah kau menikah denganku? Aku tahu ini cepat, dan mendadak. Tapi akan kupastikan, kau mampu untuk meneruskan kuliahmu. Lagipula kau berada ditingkat akhir. Magang, lalu skripsi. Aku yakin kau bisa Lu... kau adalah pria yang kuat yang aku temui. Dan kau adalah malaikat penolongku." Terang Sehun panjang lebar, sekaligus lamaran untuk Luhan.

Ia tahu jika lamaran yang ia berikan tidak seromantis seperti dalam drama. Tapi satu hal jika cintanya bukanlah drama. Cintanya memang nyata, dan ia serius ingin meminang Luhan walaupun terbilang cepat.

Luhan seakan kehabisan kata-kata. Perlahan-lahan ia menatap sang kekasih.

Deg!

Mata itu... mata hitam pekat milik Sehun seakan membawanya masuk kedalam dimensi yang berbeda. Namun dimensi yang tidak menakutkan. Melainkan dimensi yang membuatnya seakan berada di surga. Kedamaian, rasa kasih sayang yang tulus nan murni, yang Sehun berikan kepadanya. Seakan semua itu yang ia butuhkan — cinta kasih.

Namun ini terlalu cepat untuknya dan ia harus memikirkannya dengan matang. Dan ia pun meminta kesempatan agar Sehun memberikannya waktu untuknya memikirkan keputusan apa yang harus ia ambil.

"Biarkan aku memikirkannya Sehun. Berikan aku waktu.. aku perlu memikirkan ini." Jelas Luhan.

Dan hari ini mereka absen tidak masuk ke sekolah. Dan absennya Sehun dan Luhan membuat pertanyaan di benak ke-empat sahabat Sehun. Bahkan dirumah kedua orangtua Sehun bertanya-tanya kemana anaknya itu pergi? Pasalnya putra satu-satunya tidak pulang semalam.

Tuan dan nyonya Oh sudah sangat penasaran, kapan Sehun akan memperkenalkan calon menantu keluarga mereka. Bahkan tuan Oh sudah menceritakan perihal kekasih putranya adalah seorang pria kepada istrinya. Nyonya Oh memekik terkejut kala melihat foto sang putra tengah mencium pria cantik difoto itu.

Nyonya Oh suka dengan pilihan putranya karena melihat Luhan yang sangat cantik. Bahkan nyonya Oh tidak yakin jika Luhan adalah seorang namja, bisa jadi Luhan adalah transgender pasalnya Luhan sangat cantik. Cocok sekali dengan putranya yang tampan.

"SUAMIKU, KITA HARUS SEGERA MENIKAHKAH MEREKA, HARUS!" Ucap Nyonya Oh menggebu-gebu.

"Ta-tapi istriku, Sehun masih kecil. Bahkan dia baru berusia 17 tahun." Balas Tuan Oh.

"Huh! Tapi setidaknya Sehun harus bertanggungjawab kepadanya. Awas jika terjadi sesuatu pada pria cantik itu, dan Sehun putraku tidak bertanggungjawab aku akan memarahinya habis-habisan." Terang Nyonya Oh.

.

.

Seharian ini Sehun terus merawat Luhan, menuruti apa yang Luhan mau. Luhan ingin bubbletea rasa cokelat, serta cake rasa stroberry dan Sehun dengan sabarnya pergi membelikannya. Bahkan mood Luhan suka berubah-ubah. Luhan yang biasanya tenang, dewasa berubah manja, dan juga suka marah-marah tidak jelas. Dan Sehun pun harus lebih ekstra sabar. Semua itu dikarenakan sang kekasih tengah hamil, gejala yang ditumbulkan adalah ini. Bahkan hari telah malam, dan ia ingin pulang namun Luhan menolak tidak mau ditinggal sendiri. Ia harus disini menemaninya.

"TIDAK MAU! KAU JANGAN PULANG, TEMANI AKU! JIKA KAU PULANG KAU TIDAK SAYANG PADAKU DAN BAYI KITA! " Marah Luhan hampir menangis.

Sehun langsung memeluk Luhan yang saat ini manja. "Aku harus pulang Lu, jika tidak kedua orangtuaku akan bertanya-tanya. Ditambah aku belum memperkenalkanmu pada mereka. Aku akan memperkenalkanmu kepada mereka jika kau sudah mengambil keputusanmu, dan kau menerima lamaranku." Terang Sehun sambil memeluk Luhan.

Lagi-lagi Luhan membeku. Ia bingung harus mengatakan apa? Haruskan ia menikah dalam usia yang menurutnya masih muda. Namun jika dipikir-pikir Sehun jauh lebih muda darinya. Bukan Sehun yang menghancurkan hidupnya melainkan dirinya yang menghancurkan kehidupan kekasihnya. Diusianya yang masih 17 tahun, Sehun harus menikah dengannya untuk bertanggungjawab, bahkan sebentar lagi pria itu akan menjadi ayah. Harusnya ia yang lebih dewasa dari Sehun, namun apa? Sehun yang jauh lebih dewasa darinya. Dan malam ini dirinya sudah memutuskannya.

"Sehunnie..." Panggil Luhan sambil mengeratkan tubuhnya kedalam dekapan hangat sang kekasih.

"Hms... apa..." Balas Sehun lembut.

"A-aku... aku mau menjadi pendamping hidupmu. Aku terima lamaranmu." Jawab Luhan serius. Bahkan Luhan menatap mata onix Sehun tajam. Tanda jika ia sungguh-sungguh.

"Be-benarkan, Oh, terimakasih Lu..." Dan Sehun makin mengeratkan pelukannya. Tidak hanya itu, setelah berpelukan keduanya kembali menyatukan kedua bibir mereka.

.

.

.

.

.

Malam ini Sehun mengajak Luhan kerumahnya, rumah besar keluarga Oh. Awalnya Luhan sangat takut, takut jika nanti kedua orangtuanya menolaknya. Namun sekali lagi, Sehun dengan sabar meyakinkannya jika kedua orangtuanya akan setuju dengan hubungan mereka.

Begitu pintu masuk terbuka. Mereka disambut oleh para maid, para maid itu menyapa tuan muda mereka jika Sehun telah pulang.

"Sehun putraku kau su-dah pu-lang." Sapa nyonya Oh tak percaya. Nyonya Oh, mengerjap-ngerjap kala melihat sosok yang putranya bawa. Bahkan nyonya Oh tidak percaya jika sosok disamping putranya ini adalah namja. Kecantikan dan aura yang terpancar dari sosok disebelah putranya layaknya wanita. Cantik. Bahkan lebih cantik sosok aslinya daripada di foto. Jika saja ia tidak melihat ada adam apple di leher Luhan mungkin nyonya Oh akan mengira Luhan itu wanita tulen.

"Si-siapa dia Sehun?" Tanya Nyonya Oh sampai tergagap. Padahal dia sudah tahu, jika pria ini adalah kekasih putranya.

"Oh Se-hun, kau sudah pulang." Sapa ayahnya juga terbata melihat siapa yang dibawa oleh putranya.

"Appa, eomma aku kemari ingin mempersun." Belum selesai ia berkata ibunya menyela.

"Sudah, sudah, kami sudah paham apa yang akan kau ucapkan itu sayangku. Kami berdua merestui kalian. DAN KAU OH SEHUN! MENGAPA TIDAK LANGSUNG MEMBAWA SOSOK INI KERUMAH SECEPATNYA! DASAR ANAK NAKAL!" Kesal ibunya.

"DAN KAU SUAMIKU, BANTU AKU MENGURUS PERNIKAHAN ANAKKU INI." Perintah nyonya Oh kepada suaminya. Dan sang suami hanya bisa pasrah. Ucapan istrinya ini tidak bisa ditolak.

"Eomma, mengapa eomma bisa tahu, jika aku akan mempersunting Luhan." Tanya Sehun penasaran.

"Kau ini lahir darimana?! Aku ini eomma -mu, aku tahu tentang dirimu. Bisa dibilang ikatan batin." Terang nyonya Oh.

Dan Sehun hanya bisa memasang wajah datar. Sedangkan dalam hati Luhan tertawa. Tidak ia sangka dibalik wajah dingin mereka tersimpan kesomplakan tiada tara. Tuan Oh yang wajahnya tak jauh berbeda dengan Sehun kekasihnya, ternyata diam-diam takut pada sang istri. Dan ia melihat jika nyonya Oh pribadi yang anggun nan ceria.

Dan Tuan Oh sendiri, ternyata memiliki selera humor yang tinggi pula. Bahkan seperti sekarang ini, mereka tengah mengobrol diruang keluarga sambil bersendau gurau. Bahkan Sehun telah mengatakan terus terang kepada kedua orangtuanya jika Luhan saat ini tengah berbadan dua. Awalnya kedua orangtua Sehun shock, namun setelah itu merasa bahagia. Akhirnya mereka bisa mendapatkan cucu dari Sehun. Dan keturunan mereka tidak akan mati. Memang bagi mereka Luhan adalah anugrah yang dikirim oleh Tuhan untuk keluarga mereka.

Dengan kekuasaan yang dimiliki oleh keluarga Oh, semua menjadi mungkin. Bahkan Luhan telah selesai magang tanpa ada kendala apapun. Dan satu hal, rencana pernikahan keduanya dirahasiakan dari seluruh siswa EXO SHS, kecuali ke-empat sahabat Sehun dan kawan-kawan Luhan, yaitu Kris dan Yixing.

Bahkan pernikahan mereka pun terbilang rahasia, sederhana, tertutup. Hanya diperuntukan untuk keluarga dan kawan dekat. Luhan merasa apa yang ia alami ini mimpi, bahkan ia akan melepas masa lajang secepat ini. Namun ini sudah keputusannya bahkan mungkin inilah jalan Tuhan.

Memang sejak dulu, ia menginginkan keluarga sendiri yang hangat, bahagia. Dan inilah keluarga barunya, bersama dengan Sehun dan kedua orangtua Sehun yang menerimanya sepenuh hati. Ia belajar dari keluarga Sehun. Jika penampilan itu dapat menipu. Buktinya keluarga Sehun sangat hangat, walaupun ia tahu jika wajah mereka terkesan mengintimidasi namun itu hanya topeng. Mereka semua sangat baik, pengertian satu sama lain. Bahkan akan sama-sama melindungi.

Inilah keluarga, keluarga adalah tempatmu untuk pulang. Keluarga akan menerima apapun dirimu dengan apa adanya. Hanya ketulusan yang mereka berikan.

Dan saat ini Luhan menangis haru setelah upacara pernikahan telah terlaksana. Sekarang, ia adalah bagian dari keluarga Oh.

Dan Sehun, suaminya ini yang akan menjaganya dan juga anak-anak mereka. Luhan bahagia, akhirnya ia menemukan cinta sejatinya. Oh Sehun pria yang dikutuk menjadi wanita, dan dengan kekuatan cinta sejati pulalah pria itu dapat bebas.

Oh Sehun pria yang misterius dan unik. Ia bagai rubik bagi Luhan. Namun dengan rasa penasaran yang tinggi akhirnya ia dapat memecahkan rubik yang sukar untuk dipecahkan bagi kebanyakan orang, tapi tidak ditangannya. Rubik itu pun dapat terpecahkan dengan baik dan kini ia mendapatkannya utuh.

.

.

OoOo

.

.

'Terimakasih Tuhan, atas pernyertaanmu dan terimakasih Kau mempertemukan orang ini sebagai pasangan hidupku. Aku berharap pernikahan kami ini akan abadi sampai maut memisahkan. AMIN.'

'Mama, baba lihatlah anakmu disini hidup dengan baik dan bahagia. Kalian disana juga baik bukan? Mulai sekarang tenanglah kalian disana. Luhan anak kalian sudah ada yang menjaga. Berbahagialah baba dan mama.' —LUHAN

.

.

OoOo

.

.

'Terimakasih Tuhan, akhirnya kau mempertemukanku dengan malaikat penyelamatku yang indah ini. Benar apa kata Dokter Jung, jika kita dipertemukan dengan seseorang pastilah mengandung maksud. Dan benar, jika Luhan ditakdirkan bertemu denganku untuk menyelamatku dan menjadi pendamping hidupku. Inilah jodoh, dan aku sangat bahagia dapat berjodoh dengannya. Aku berjanji akan selalu menjaganya, mencintanya dalam suka maupun duka sesuai janjiku dihadapan-Mu. Jika aku nakal, tolong hukum diriku ini, karena melukai malaikat pendamping hidupku ini. Lu, terimakasih dan Saranghae.' —SEHUN.

.

.

.

.

Sesuatu yang dianggap suatu kesialan, malapetaka tidak selamanya membuat orang itu terus mendapatkan kemalangan. Mungkin saja itu adalah awal dari kebahagiaan yang sejati.

Tetaplah berpasrah diri kepada-Nya, berusaha dan percaya jika mujizat itu nyata.

.

.

.

.

.

~~HOLY Shit END~~

Akhirnya, hutangku kelar juga. Elap keringat. Gimana, apakah kalian puas dengan endingnya...

Catatan tidak ada sequel ya...

Dan maaf pemberitahuan jika aku mau pamit dari sini. Sudah kuputuskan untuk tidak lagi publik di akun ini lagi. Mungkin jika update, aku akan update lanjutan cerita yang belum selesai.

Mohon maaf jika membuat kalian sedih. AKu ambil keputusan ini atas dasar pertimbangan yang matang.

Bye-bye Pyong! T^T

.