Summary : Len dan Kaito terlempar ke dimensi para peri tanpa sayap. Sebuah dunia berteknologi canggih yang tak kalah dengan dunia asal mereka. Apakah mereka bisa kembali ke dunia asal mereka atau selamanya terjebak di dunia asing ini?


"Vocairy no Sekai"

.

Disclaimer!

Vocaloid bukan punya ku, dan aku tidak mengambil keuntungan dari itu!

.

Warning!

Like usual... typos, typos, and typos.
(Yuki : kebanyakan typo... -_-)

.

Don't like? Must Like! Hahahaha...

#gue serius!

.


[ Normal PoV ]

15 Tahun yang lalu - Kerajaan Kagamine...

Kerajaan Kagamine sedang dalam masa tegang karena menunggu kehadiran dari calon penerus kerajaan itu. Di ruang persalinan, seorang Putri Kerajaan tengah menjalani proses hidup dan mati. Setelah beberapa jam ditemani sang Raja, Pangeran, dan beberapa pengawal serta perawat dan dokter kerajaan, akhirnya calon tersebut lahir.

Namun, raut muka sang Pangeran berubah saat itu juga. Dari tegang dan antusias menjadi kosong dan kecewa.

Sudah bukan rahasia lagi kalau sang Pangeran menginginkan seorang anak laki-laki, namun ternyata yang lahir adalah seorang perempuan yang memiliki rambut dan iris mata yang sama dengan nya. Kalau yang lahir laki-laki, maka dialah yang akan menjadi Raja selanjut nya, namun begitu melihat bayi yang baru lahir itu, impian nya hancur.

Tradisi di Kerajaan Kagamine memang unik. Jika sang calon Ratu melahirkan bayi laki-laki, maka suami nya akan menjadi Raja selanjut nya. Namun jika yang lahir adalah perempuan, maka yang akan menjadi penerus kerajaan adalah bayi itu bersama calon pendamping nya yang akan dipilih nya sendiri.

Melihat ekspresi kosong dan kecewa itu, sang Putri hanya bergumam, "M-maaf..."

Sang Pangeran tidak menjawab, melainkan berbalik dan meninggalkan ruangan itu tanpa sepatah kata pun. Meninggalkan istri nya yang menangis pelan. Tak ada seorang pun yang berani bicara di ruangan itu, hingga salah seorang pengawal mendekati sang Ratu.

"Jangan bersedih Putri, aku yakin Rinto-sama hanya kelelahan dan ingin istirahat."

Dari nada pengawal itu, terdengar kalau dia ingin menenangkan sang Putri, tapi dalam hati nya, dia terlihat kecewa atas sikap suami nya.

Sang Putri yang kini resmi menjadi Ratu kerajaan hanya mengangguk lemah. Berusaha melupakan rasa sakit setelah proses persalinan.

"Kalau boleh tahu, siapa nama calon Tuan Putri ini, Ratu?" tanya pengawal itu.

"Rin... Aku akan menamai nya Rin. Dengan harapan dia bisa melanjutkan lingkaran kerajaan."

"Hmm... Rin (putaran), nama yang cocok untuk calon Putri Kagamine." Ucap pengawal itu dengan senyum.

Sang Ratu juga tersenyum sambil memeluk anak pertama nya yang tertidur pulas.

3 Tahun kemudian...

Seorang gadis yang masih berumur 3 tahun 2 bulan berlari dengan gembira ke arah Ibu nya.

"Kaa-san!"

Bagi sebagian orang mungkin kalimat itu hanya biasa saja namun, bagi sang Ratu kalimat itu adalah penyejuk hati. Itu adalah kalimat pertama yang diucapkan oleh Rin Kagamine.

"Iya Rin-chan? Ada apa?" tanya Akane dengan senyum lembut di wajah nya.

"Rin lapar!" dua kalimat diucapkan dengan lancar dan ceria.

Biasanya, anak seusia nya masih belum bisa membedakan antara "R" dan "L", namun karena Rin termasuk anak yang genius, belum lagi garis keturunan nya, Rin sudah menguasai cara bahasa dasar.

"Rin-chan lapar? Tadi kan sudah makan?" tanya Akane masih tersenyum dan terhibur dengan wajah anak nya yang cemberut.

"Lagi!" seru Rin memohon.

"Memang nya Rin-chan mau makan apa?"

Tanpa kehilangan satu detik, Rin kecil menjawab dengan semangat, "JERUK!" dan berteriak dengan keras.

Para pelayan dan pengawal yang ada di sana hanya tersenyum, sebagian tertawa kecil atas kegemaran sang Tuan Putri terhadap buah jeruk.

"Hehe, ini Rin-chan. Kupas dulu kulit nya, bisa?" ucap sang Ratu sambil menyerahkan se buah jeruk manis tanpa biji.

"Arigatõ!" seru Rin ceria lalu mengupas jeruk itu.

"Oh ya Rin-chan, mulai sekarang Rei-sama akan menjadi pengawal sekaligus sensei mu." Ucap Akane.

"Eh? Rei-sama menjadi sensei Rin?," tanya Rin kaget. "Lalu siapa yang menjadi Raja?"

"Tentu saja Kaa-san, Rin-chan~." Jawab Akane dengan mengusap-usap rambut Rin. "Dan bukan Raja, tapi Ratu."

Rin cemberut dengan perlakuan Ibu nya. Dia sudah merapikan rambut nya tapi Ibu nya merusak nya lagi.

"Kaa-san, rambut Rin rusak lagi..." Ucap Rin cemberut hanya untuk direspon tawa dari Akane dan Rei.

"Kalau begitu ayo ke dalam, akan Kaa-san rapi kan lagi." Ajak sang Ratu dengan senyum.

"Hai'."

3 Tahun selanjutnya...

"Lebih kuat Rin!"

2 tahun setelah Rei menjadi sensei nya, Rin sudah menguasai teknik dasar pertarungan. Mulai dari menyerang, menghindar, dan bertahan. Meski pun amsih di tingkat dasar, namun Rin tidak bisa dianggap remeh.

"Kalau kau seperti ini, bagaimana bisa kau akan menjadi penerus kerajaan!" seru Rinto marah.

Seperti biasa, setiap pagi Rin dan Ayah nya selalu latihan di halaman Kerajaan. Namun, karena sifat Rin yang lembut dan penyayang, membuatnya lemah dalam serangan.

Rin sudah kelelahan akibat berlatih selama 3 jam tanpa istirahat. Tapi tetap saja sang Ayah belum puas.

"Sekali lagi!"

"Hai'." Jawab Rin lemah.

Ibu nya yang memperhatikan dari tepi halaman tidak bisa melakukan apa pun selain berharap agar Putri nya baik-baik saja. Latihan yang dilakukan nya memang sedikit keras dari pada orang-orang biasa mengingat dia akan menjadi penerus kerajaan. Rei yang mendampingi sang Ratu juga merasakan hal yang sama.

Rin berdiri dengan sisa tenaga yang masih dimiliki nya. Rin berlari ke Ayah nya dengan sapuan kaki kiri. Rinto meloncat ke belakang diikuti pukulan dari Rin. Tangan kanan Rin berusaha meninju Ayah nya, namun Rinto lebih cepat dan menangkap serangan Rin dengan mudah. Kemudian Rinto menarik Rin dengan kuat dan melempar nya ke samping arena dengan keras.

"Ugh..."

"Sudah cukup! Kau masih terlalu lemah! Ku harap besok kau bisa lebih baik!" seru Rinto sambil berjalan ke dalam istana tanpa menoleh sedikit pun.

Akane dan Rei kemudian berlari ke arah Putri nya yang masih tergeletak di atas rumput.

"Rin-chan, daijõbu ka?" tanya Akane khawatir.

"Ti-tidak apa-apa, Kaa-san..." Ucap Rin lemas.

"Kerja bagus Rin, kau sudah melakukan yang terbaik." Puji Rei dengan senyum.

"Ayo masuk, Kaa-san akan merawat luka mu." Kemudian Akane menggendong Rin ke dalam Istana.

Malam harinya...

TING!

KLANG!

Rin terbangun di tengah malam akibat mendengar suara logam yang saling berbenturan. Dengan rasa mengantuk yang masih dirasakan nya, Rin memaksakan diri nya untuk bangun dari tempat tidur nya.

"Kaa-san?" Dicari nya sang Ibu di kamar nya namun tidak ada.

Rin merasa khawatir lalu menelusuri lorong kerajaan. Semakin dekat dia ke luar Istana, semakin jelas dia bisa mendengar suara logam dan teriakan. Merasa semakin penasaran, RIn berlari ke luar istana hanya untuk melihat Rei-sensei bertarung dengan Ayah nya.

"Tou-san?" tanya Rin heran lalu berlari ke arah mereka.

Di halaman kerajaan terlihat sebuah pertarungan tengah berlangsung antara D.C United melawan Perse-#plak!

... Retake!...

Di halaman kerajaan terlihat sebuah pertarungan tengah berlangsung antara dua figur yang memakai baju zirah berwarna merah dan biru.

"Apa yang kau ingin kan?!" tanya figur yang memakai baju zirah berwarna biru, menandakan kalau dia berasal dari wilayah Raikõ.

"Apa yang ku ingin kan? Tentu saja kehancuran kerajaan mu Rei Kagene!" Ucap figur berpakaian zirah berwarna merah.

"Lalu kenapa kau memakai pakaian ras Kasai? Jangan bilang kalau kau-?"

"Benar. Kerajaan ini sudah seharus nya memilih pemimpin yang baru, seorang pemimpin yang memiliki kekuatan besar seperti ku!" seru orang itu kepada Rei.

"Seorang pemimpin dipilih bukan hanya dari kekuatan, tapi juga dari hati nya!" seru Rei yang bersiap menyerang lagi.

"Heh, itu lah kenapa kerajaan ini terlihat lemah dan dipandang sebelah mata oleh kerajaan lain." Jawab orang itu.

"..." Rei tidak menjawab melainkan menghunuskan pedang nya ke aras figur misterius.

KLANG

Kedua logam itu kembali bertemu.

"Kalau kau ingin mengambil alih kerajaan ini, berarti kau bodoh! Kau tidak akan pernah mendapatkan kerajaan ini!" seru Rei marah.

"Kalau begitu aku akan mengambil nya secara PAKSA!" teriak figur itu lalu melompat ke belakang, "Raidõ : Kuroite! (Lightning Technique : Black Shooter!)"

Petir hitam berbentuk bola tak terhitung jumlah nya melesat ke arah Rei yang menyiapkan teknik pertahanan nya.

"Raidõ : Rairyûheki! (Lightning Technique : Thunder Wall!)"

Seperti nama teknik nya, sebuah dinding petir menjulang ke langit, namun tetap saja, bola-bola petir hitam mampu menerobos seperti pisau panas terhadap keju.

BOOM

Terdapat ledakan ketika serangan figur berzirah merah mengenai Rei.

"Kau masih lemah Rei-sensei, sebaik nya kau serahkan kerajaan ini pada ku!"

Rei berusaha bangun dengan bantuan tombak nya. Dara segar mengalir dari kepala dan beberapa bagian tubuh nya, pandangan nya juga terlihat mulai buram.

"Heh, keras kepala," Figur itu mengangkat tangan kanan nya ke atas. "Akan ku akhiri."

Bzzrrrtt

Petir hitam berkumpul di telapak tangan kanan figur itu, kemudian berputar dan mengembang menjadi ukuran bola raksasa, "Selamat tinggal, Rei-sensei!"

Kemudian figur itu melempar bola petir hitam di tangan kanan nya ke arah Rei yang menunggu takdir nya. Namun, begitu serangan itu hampir mengenai sasaran...

"Fûdõ : Meinakami! (Wind Technique : Invisible Blade!)"

Sebuah teriakan seorang wanita terdengar dari atas istana. Kemudian, sebuah serangan tak terlihat membelah bola petir hitam menjadi dua bagian yang kemudian menghilang di udara. Menjadi serangan yang tak berbahaya.

"Rei-kun! Kau tidak apa-apa?" tanya perempuan itu sambil mendekati Rei.

"Ratu! Sedang apa Ratu di sini?!" tanya Rei panik.

Tapi Sang Ratu tidak menjawab, melainkan menatap suami nya dengan tajam.

Figur berzirah merah juga menatap Sang Ratu dengan senyum sinis di wajah nya, "Oho~ Sang Ratu menampakkan diri rupa nya."

"Hentikan omong kosong ini, Rinto!" teriak sang Ratu.

"Aku akan berhenti kalau kerajaan ini menjadi milik ku!" Ucap figur yang diketahui bernama Rinto.

"..." Sang Ratu tidak menjawab.

"Rinto! Kau-" Rei ingin membalas tapi Rinto memotong nya.

"Sudahlah, kalau begitu LENYAPLAH KALIAN!" Rinto mengulangi teknik yang sama, namun lebih besar dari sebelum nya.

'Gawat! Kalau sebesar itu, aku-'

"Raidõ- (Lightning Technique-)"

"HENTIKAN!" terdengar suara teriakan seorang perempuan.

Ketiga orang itu menoleh, dan melihat seorang anak kecil tidak lebih dari 6 tahun berlari ke arah Ibu nya.

"Rin-chan!" seru Sang Ratu kaget.

"Kaa-san!" seru perempuan yang bernama Rin berlari ke arah Ibu nya sambil menangis.

Sang Ratu memeluk anak nya dan bertanya, "Kenapa kau ke sini?"

"Kaa-san...*sniff*..." Ucap Rin menangis.

"Dengar, sebaik nya kau cepat berlindung ke dalam istana!" perintah sang Ratu namun Rin tetap memeluk Ibu nya dengan erat.

"Hahaha, suasana yang sangat mengharukan. Seorang Ratu dan Anak nya berusaha menyelamatkan kerajaan bersama sensei." Ucap Rinto yang masih mempertahankan teknik nya di udara.

"Hentikan Rinto! Rin tidak ada hubungan nya dengan ini!" seru sang Ratu menatap Rinto tajam.

"Tou-san... *sniff*... kenapa Tou-san melukai Kaa-san...*sniff*?" tanya Rin menatap Rinto dengan mata nya yang mulai berwarna merah.

"Kenapa? Tentu saja karena aku-" Ucapan Rinto terpotong karena Rei menyerang nya.

TING

"Ckckck, Rei-sensei... bukankah memotong pembicaraan itu tidak baik, hmm?" ucap Rinto dengan senyum sinis.

Tapi Rei hanya membalas dengan, "Raidõ : Koshõ! (Lightning Technique : Breakdown!)"

BLAAAR

Sebuah petir berwarna kuning menghantam Rinto dari atas langit. Membuat tanah di sekitar nya hancur dan menghasilkan asap putih.

"Teknik yang bagus sensei..." Sebuah suara terdengar dari kepulan asap, membuat Rei dan sang Ratu menahan nafas karena kaget.

'Gawat, itu adalah teknik terkuat ku...' Batin Rei.

"Tapi itu saja tidak cukup untuk mengalahkan ku!" seru Rinto yang mulai memompa energi lagi di telapak tangan kanan nya. Beberapa saat kemudian, petir hitam terkonsentrasi, "Raidõ : Gõrai Kuroha! (Lightning Technique : Great Black Lightning Destruction!)"

Kemudian Rinto mengarahkan tangan kanan nya ke arah Rei dan Sang Ratu. Daripada sebuah bola petir hitam yang akan melesat ke arah mereka, sebuah serangan seperti laser hitam melesat ke arah mereka dengan kecepatan tinggi.

Kemudian, sesaat sebelum serangan Rinto mengenai sasaran, mereka mendengar sebuah suara, yang lebih mirip sebuah bisikan.

"Hidõ : Seinaru Shinsei! (Light Technique : Holy Nova!) "

Kumpulan cahaya tak terhitung jumlah nya membelah serangan Rinto dan menghantam Rinto dengan keras.

"GWAAAH!" teriak Rinto kesakitan.

Rei dan sang Ratu (Rin masih di pelukan sang Ratu) menatap figur di depan mereka. Dia memakai jubah berwarna putih dengan garis merah dan biru di belakang nya.

'Elemen cahaya!' batin mereka kaget.

Peri dengan elemen cahaya, hanya ada satu ras yang memiliki elemen itu. Ras itu adalah-

"Hikari..." Ucap Rinto berusaha bangun, namun luka yang diterima nya terlalu parah.

"Kau sudah melanggar peraturan para peri Rinto Kagamine no Raikõ!" ucap ras Hikari terlihat kesal.

"Heh, ini bukan urusan mu!" seru Rinto yang masih berusaha berdiri.

"Tentu saja ini urusan ku! Kau yang mengancam kedamaian di kerajaan mu sendiri tidak pantas menjadi pemimpin!" seru ras Hikari itu.

Rinto yang sudah berdiri tidak menjawab, 'Ini gawat, kalau Hikari ikut campur, rencana ku akan sia-sia.' Pikir nya.

"Kalau kau tidak mengakhiri ini, Aku akan bertindak!" seru ras Hikari yang kedua tangan nya mulai bercahaya.

'Terpaksa aku harus menggunakan teknik itu!' Batin Rinto.

Kemudian, sebelum peri ras Hikari mengeksekusi serangan nya, Rinto menghilang dan muncul tepat di depan ras Hikari. Kemudian Rinto memegang kedua bahu peri ras Hikari di depan nya yang masih terkejut dan berteriak, "Hiraidõ : Jikûkan! (Secret Lightning Technique : Teleport!)"

Dan dalam sekejap, cahaya hitam memancar ke segala arah. Begitu keadaan kembali normal, tak ada jejak dari Rinto maupun peri ras Hikari itu. Mereka telah menghilang.

-0o0-

Unknown Place - Underground

Seorang laki-laki dilempar secara paksa ke dalam sebuah sel tahanan. Tak lupa dengan penyegel kekuatan agar tahanan itu tidak kabur.

"Kalau kau tidak ikut campur, kau mungkin tidak akan bernasib seperti ini." Ucap Rinto sinis.

Sang tahanan hanya menatap tajam orang yang telah memenjarakan nya.

"Nikmati waktu mu, Lui." Ucap Rinto lalu menutup pintu itu, membuat satu-satu nya sumber cahaya menghilang.

T~B~C

.


A/N

Oke, ini adalah "Flashback Arc", jadi sampai chapter ke depan akan menceritakan flashback sebelum kedatangan dua 'alien' gaje.

Bales review yang gak login, lain nya lewat PM.

To Guest

Mengenai Rinto adalah Ayah nya Len itu masih misteri, bisa iya bisa tidak. XD #plak!

Q : Akane beneran mamanya Len kan? berarti Len & Rin kakak adik dong?
A : Akane itu Ibu angkat nya Len, kalau hubungan keluarga antara Len dan Rin itu... himitsu yo~ :D #dikroyok

Arigatõ!

Until Then...

"BakAuthor Technique : REVIEW!"