Chapter sebelumnya. .
"Ja kalau begitu bisa. . ." Kouko membisikkan sesuatu ke Kenma. dan Kenma langsung terlihat terkejut dan seketika itu pula ia mengangguk ke arah Kouko. Kemudian Kenma kembali membelai rambut Hinata lembut.
". . . ja kalau begitu aku titip Sho-chan ne~" ucap Kouko.
Anata Ni Nani O Imi Suru Nodesu Ka?
Disclaimer : Furudate Haruichi
Warning : OC, OOC, Shounen-ai, typo everywhere.
Kantin menjadi sunyi setelah Ibu Hinata keluar.
"Ne~ Kenma. . apa yang dibisikkan ibuku?" tanya Hinata sambil beranjak dari pangkuan Kenma.
"Bukan apa-apa. Kau sudah makan?" Kenma mengalihkan perhatian Hinata.
"Ng sudah!" Hinata mengangguk lucu.
"Hinata"
Hinata berbalik melihat orang yang memanggilnya.
"Ya Tsukishima, ada apa?" Hinata berjalan mendekati Tsukishima.
"Kau terlalu lama disana, ayo siap-siap. Sehabis ini kita ada ada latih tanding lawan Fukurodani" ucap Tsukishima.
"Ha'i ha'i"
Hinata keluar dari kantin.
Tsukishima yang masih di kantin dengan seluruh anggota tim Karasuno melirik ke arah Kenma yang asik dengan ponselnya.
"Ano. . Kozume-san. ." ucap Yachi ragu-ragu.
Kenma menatap ke arah gadis berambut blonde tersebut dengan pandangan malasnya.
"I. . itu. . aku mau menanyakan sesuatu. . etto. . apa yang di bisikkan oleh Ibu Hinata tadi?"
"Hn?. ." Kenma menaikkan satu alisnya.
"Yang tadi. . i. . itu loh" ucap Yachi mengingatkan.
Kenma berdiri dan menghampiri Yachi yang berada di dekat Daichi dan Shimizu.
"Bukan urasanmu" ucapnya singkat kemudian keluar dari kantin.
"aku merasa ada yang ia rahasiakan" gumam Yachi.
oOo
Hinata duduk di lantai gym dan memandang kosong ke arah lapangan tempat mereka tadi berlatih.
'Suasananya Canggung' batin Hinata sembari menghela nafas lelah.
"Ano. . Hinata-kun. . bisa ikut denganku sebentar?" Ucap Sugawara di depan Hinata.
Hinata tersentak kaget.
" A. . i. . iya, bisa kok Suga-senpai" jawabnya sambil melirik lapangan yang sepi.
'Eh. . bukannya tadi mereka berlatih disini. lalu mereka kemana?' pikir Hinata.
"Ayo!" Sugawara menarik tangan Hinata dan membawanya ke suatu tempat.
Sugawara membawa Hinata ke belakang Gym yang mana disana sudah ada anggota Karasuno lainnya.
"Hn? Kenapa kesini Suga-senpai?" tanya Hinata.
"Hinata. . ."
"Maafkan Kami!!" ucap mereka Kompak.
Hinata tertegun mendengar teman-teman se klubnya meminta maaf secara bersamaan dan ditambah lagi mereka membungkuk.
"Hinata. ." panggil Kageyama.
Hinata menatap Kageyama, menunggu apa yang akan dikatakan partnernya itu.
"Maafkan aku. . aku sungguh-sungguh menyesal. Tanpamu aku. . aku kembali menjadi-"
"Shoyo!" panggil seseorang.
Hinata berbalik menatap orang yang memanggilnya.
"Kenapa kamu keluar dari gym? bukankah masih ada pertandingan lain? dan. ."
". . . Kalian. . apa kalian yang membawanya keluar dicuaca seperti ini? kalian pikir Shoyo sudah pulih betul? dia baru keluar rumah sakit tadi pagi. ingat itu" ucap Kenma dengan nada tidak suka terbesit didalamnya.
"Kami tidak bermaksud seperti itu. Kami hanya ingin meminta maaf padanya" jawab Kageyama.
"Dan menyuruhnya keluar dicuaca panas yang bisa membuatnya dehidrasi seperti ini?" sindir Kenma.
"Sebentar. . Kozume-san kenapa kau sepertinya sangat tidak suka?" ucap Tsukishima.
"Tentu saja, aku sangat tidak suka dengan kalian" ucap Kenma sembari melemparkan tatapan tajam.
"Ke. . Kenapa?" ucap Yachi.
"Hn? entahlah. . "
"Ayo Shoyo kita kedalam gym saja disini panas nanti kamu demam" Kenma menarik tangan mungil Hinata dan membawanya pergi menjauhi tim Karasuno yang masih terdiam.
"Eh. . tunggu dulu Kenma. Aku belum menjawab permintaan maaf mereka" ucap Hinata sambil mencoba menghentikan Kenma yang menariknya.
"Oke. . Tapi sehabis itu kita segera masuk ke gym lagi. Nanti kamu jadi sakit kalau terlalu lama terkena sinar matahari yang sangat terik ini"
Sungguh itu kalimat terpanjang yang diucapkan Kenma.
"Tentu saja Kenma"
Kenma melepaskan tangannya yang tadinya menggenggam erat tangan Hinata. Ia Memilih menatap apa yang akan terjadi.
Hinata berjalan mendekati teman-teman satu klubnya. Dan tepat berhenti dihadapan Kageyama.
"Kageyama aku juga minta maaf karena kemarin aku sudah tersulut emosi" ucap Hinata sembari membungkuk.
"Aku tahu. . seharusnya aku tidak bertengkar denganmu hari itu. Karena pertengkaran Kita. . Kau. . Kau merasa menjadi orang yang . . yang . . egois" ucap Hinata lirih namun masih bisa didengar oleh mereka.
"Ya. . aku memaafkanmu. Dengan begini kita impas kan? Jadi. . " ucap Kageyama tersenyum.
". . . jangan tinggalkan aku sendiri lagi dilapangan" Tambah Kageyama menunduk.
Hinata tertegun menatap Kageyama yang masih menunduk.
"Ya. . Semoga saja kita bisa bersama selalu Kageyama" sahut Hinata memberikan senyum cerahnya.
"Hinata terima kasih. . terima kasih telah memaafkanku dan. . ya. . kuharap juga begitu" ucap Kageyama dan refleks langsung memeluk Hinata.
"Ya. . ya. . ya Kageyama. ."
'Maaf. . Kageyama. .' batin Hinata yang masih dipeluk oleh Kageyama.
Tsukishima yang melihat itu merasa kesal. Oh bagaimana tidak kesal, si Ousama itu memeluknya terus tanpa menghiraukan mereka yang masih ada disini.
"ehem. . sudah selesai Ousama?"
"eh?!" ucap Hinata dan Kageyama bersamaan.
"Kubilang sudah selesai acara pelukannya? aku juga ingin berbicara pada Hinata" ucap Tsukishima kesal.
Kageyama melepaskan pelukannya, dan melemparkan tatapan mengejek.
"tck. ." decih Tsukishima yang melihat tatapan dari Kageyama.
"Ah aku lupa. . aku juga memaafkan kalian. . dan aku juga minta maaf minna-san" ucap Hinata.
"Yokatta~~" respon Yachi.
Hinata tersenyum lagi melihat teman-temannya itu.
"Shoyo sudah cukup acara minta maafnya. sekarang ayo ke dalam gym. nanti kau demam kalau kelamaan diluar dengan cuaca seperti ini" ucap Kenma dengan nada dan pandangan malasnya.
"Ha'i~~" sahut Hinata kemudian berlari ke arah Kenma dan pergi meninggalkan mereka.
"Ne~ Kenapa aku merasa Hinata lebih seperti. . ." ucap Sugawara menggantung.
"Seperti apa?" ucap Nishinoya.
". . . lebih seperti anggota tim Nekoma daripada Karasuno" sambung Sugawara.
"Eh? Maksud senpai apa?" beo Kageyama.
"Kalian lihatkan? Hinata lebih sering bersama dengan Kenma. Dia juga saat makan selalu bersama dengan anggota Nekoma" ucap Sugawara.
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja Senpai" ucap Tsukishima.
"Ya Suga. . mungkin hanya perasaanmu saja" imbuh Asahi.
"Ya. . Semoga saja"
oOo
Sudah 3 hari lamanya mereka berbaikan dan hari ini adalah hari terakhir latihan camp musim panas. Suasana canggung yang tadinya tercipta antara Hinata dan teman satu klubnya juga sudah hilang entah kemana.
Setelah Latihan hari itu para pelatih melakukan acara barbeque untuk mereka. Mereka semua nampak menikmatinya termasuk Yachi yang awalnya nampak masih canggung.
Hinata memilih duduk di depan pintu gym dan menundukkan kepalanya.
"Hinata" panggil seseorang.
"Hn" sahut Hinata tanpa mengangkat kepalanya.
"Hinata. . Kau kenapa?"
"Hinata. . Oii. . Hinata. ." orang yang tadinya memanggil nya berjongkok didepan Hinata dan mulai menggoyang-goyangkan Hinata.
"Apa sih?! Gangg-" Hinata mengangkat Kepalanya dan bersiap untuk mengomeli sipelaku yang mengganggu ketenangannya. Namun seketika itu juga ia terdiam menatap wajah pemuda didepannya yang memiliki surai blonde dan. . tidak lupa kacamatanya yang menutupi mata yang selalu membuat Hinata tertegun.
"Oii chibi. . kau tidak apa-apa?" tanyanya menyadarkan Hinata.
"Ah ya. . tidak apa-apa kok Tsukishima. Ada apa? eh tunggu dulu kau tadi memanggilku dengan sebutan chibi?! yak! aku tidak chibi!" Hinata tak terima.
" Eh haha. . lalu kalau bukan chibi apa? cebol?"
Perempatan tiba-tiba muncul dikepala Hinata.
"Yak! aku seperti ini karena masih dalam masa pertumbuhan. Aku ini juga masih terbilang tinggi kok!"
"Iya tinggi. . " Tsukishima memberikan jeda. Hinata sudah sedikit senang karena Tsukishima seakan menyetujui bahwa ia tinggi.
". . . Tinggi dalam ukuran seorang wanita" Tambah Tsukishima.
"Yak! Jadi kamu bilang aku ini seperti wanita begitu?! Dasar titan bermegane!" ucap Hinata kesal.
"Yah walaupun kau bilang begitu, setidaknya aku memang masih tinggi darimu"
"Huh dasar Tiang listrik berjalan!" ucap Hinata menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya tak lupa ia mempoutkan bibirnya sehingga seharusnya memperlihatkan wajah kesal malah jadi wajah imut.
"oke oke. . aku minta maaf tapi. . Hinata kenapa ku disini? tidak ikut makan disana?" tanya Tsukishima.
"Tidak Tsukishima. . aku. . tidak nafsu makan" sahutnya.
"Tapi wajahmu itu terlihat pucat. Kau tidak menyembunyikan sesuatu kan?" Entah Kenapa Tsukishima merasa ada sesuatu yang dirahasiakan Hinata.
" Ti. . tidak ada Tsukishima. mu. .mungkin ini hanya karena aku sedikit kelelahan saja"
"Kau kelelahan? Hee. . sebaiknya makan beberapa daging untuk mengembalikan energimu mungkin"
"Eh?"
"Ini makan. . nanti kau terlihat makin pucat" Tsukishima menyodorkan daging yang telah ia sumpit ke mulut Hinata. Hinata hanya diam melihat itu.
"Cepat makan chibi. Kau pikir tanganku tidak lelah menyodorkannya sedari tadi" ucap Tsukishima menahan rona malu.
"Eh? ah maaf Tsukishima"
Hinata memakan daging yang tadi disodorkan oleh Tsukishima. Tsukishima tersenyum.
Hinata mengunyah daging tersebut dengan perlahan dan saat ingin meneguknya, Hinata merasa sakit dan kesusahan.
"Uhuk. . uhuk" Hinata memukul-mukul dadanya.
"Kau tersedak Hinata?" Tsukishima sedikit panik. Hinata hanya menggeleng dan berlari masuk ke dalam gedung. Tsukishima yang melihat itu langsung mengikuti Hinata.
Hinata berlari ke arah toilet dan tentu saja membuat Tsukishima mengernyit bingung.
'Ada apa lagi? kenapa jadi ke toilet?'
Tsukishima membuka pintu toilet dan melihat Hinata yang tengah berada didepan wastafel dengan mata sayunya.
'Ini seperti Deja vu' batin Tsukishima.
"Hinata" panggilnya. Hinata berbalik manatap Tsukishima.
"Tsuki. . shima" ucapnya.
"Hinata kau baik-baik saja? kau-"
'HUEK' Hinata muntah di wastafel lagi. membuat Tsukishima segera mendekat dan mengelus punggungnya.
"Sebenarnya kamu kenapa?" tanya Tsukishima sambil mengelus punggung Hinata.
Hinata membersihkan mulutnya dan setelah selesai ia menatap Tsukishima. tatapan yang menurut Tsukishima menunjukkan kesedihan.
"Hinata kau bisa mengatakan semuanya padaku tenang saja"
"Tsukishima. ." Hinata menatap Tsukishima dengan mata berbinar.
". . aku. . sebenarnya aku. ." Hinata terduduk dilantai karena tiba tiba kakinya lemas.
"Hinata. . ck. . ini tidak bisa dibilang baik-baik saja Hinata. Katakan saja padaku sebenarnya kau kenapa" ucap Tsukishima didepan Hinata dan memegang pundak Hinata.
"Sebenarnya. . aku. . ah tidak apa-apa Tsukishima. aku baik-baik saja kok. ini mungkin efek kelelahan" kilah Hinata.
"Hinata dengarkan aku, aku tidak percaya! tubuhmu tidak mengatakan kau baik-baik saja. Kumohon katakan semuanya. . aku. . "
". . . aku tidak ingin orang yang ku. . cintai terlihat kesakitan seperti ini" ucap Tsukishima menatap Hinata tepat dimatanya.
Hinata tertegun. apa itu? Tsukishima bilang kalau ia tak ingin orang yang dicintainya kesakitan? dicintai dalam artian apa? pikir Hinata.
"Tsukishima. . apa maksudmu?" tanya Hinata.
"Aku. . aku. . tidak ingin orang yang kucintai kesakitan. aku hanya ingin kau tersenyum seperti biasa, bukan juga senyum palsu yang kau sering tunjukkan" ucap Tsukishima.
"A. . aku tidak mengerti"
"Aku. . aku menyukaimu Hinata. . aku sudah menyukaimu sejak pertandingan pertama kita. . ." ucap Tsukishima dengan sedikit rona merah di pipinya.
". . . menyukaimu dan mencintaimu. . bukan sebagai teman atau sahabat. . tapi lebih ke orang spesial bagiku. karena itu aku kesal saat melihatmu selalu bersama Kozume Kenma" tambah Tsukishima membuat Hinata tertegun.
"Tsukishima. . aku tidak tau harus bilang apa tapi. . jujur entah kenapa saat dekat denganmu jantungku berdebar dan. . saat melihatmu bersama Yamaguchi terus juga membuatku kesal" Ucap Hinata menunduk.
"Hinata. . kau. ."
"Apa mungkin aku juga menyukaimu Tsukishima?" tanya Hinata dengan wajah pucatnya.
"Aku. . aku"
"Aku juga menyukaimu Tsukishima. aku suka matamu. aku suka wangimu, aku. . suka semua tentangmu" potong Hinata.
"Hinata" Tsukishima memeluk Hinata, Hinata membalas pelukan yang diberikan oleh Tsukishima.
"Aku senang kau mempunyai perasaan yang sama sepertiku, Hinata" ucap Tsukishima.
"Aku. . Juga Tsukishima. Jadi. . sekarang kita pacaran?" Tanya Hinata polos. Tsukishima hanya tersenyum.
"Ya. . Kita pacaran. Kau milikku dan hanya akan jadi milikku Hinata" ucap Tsukishima.
"Jadi. . katakan semuanya padaku. sebenarnya kau kenapa" Tsukishima melepas pelukannya dan menatap wajah pemuda yang telah resmi menjadi kekasihnya itu.
"Kau ingat saat aku pingsan disekolah?" tanya Hinata. Tsukishima mengangguk.
"Saat diperiksa. . dokter bilang aku. . . aku terkena . . "
"Katakan saja Hinata"
". . Aku terkena. . Kanker Lambung. . ibu bilang aku tidak apa-apa mengingat masih stadium satu. Tapi saat beberapa hari yang lalu aku merasa sepertinya ini tambah parah. . Ibu dan Ayahku jadi overprotective dan disini Kenma juga sama seperti Ayah dan Ibuku. Tsukishima hiks. . aku. . aku hiks. . takut kalau-kalau aku tidak bisa. . sembuh "
Tsukishima Kaget dengan apa yang dikatakan Hinata. Ia langsung memeluk kekasihnya memberikan kekuatan untuknya.
"Tenang. . tenang saja. . kau pasti bisa sembuh. Aku akan selalu berada disampingmu. Aku akan selalu menjaga dan melindungimu bahkan jika Shinigami itu ingin mengambilmu dariku" Ucap Tsukishima.
Hinata menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis.
Tsukishima melepas pelukannya dan menatap Hinata lembut.
"Begini lebih baik. Senyummu itu yang paling kusuka Hinata" ucapnya. kemudian ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Hinata dan memberikan kecupan singkat di kening Hinata. Hinata merona karena Tsukishima yang baru saja mengecup Keningnya.
"Selalu tersenyum begini dan Kalau kau merasa sakit atau apa, kau langsung bilang padaku. Oke?" ucap Tsukishima.
"Ya . . Tsukki"
Tsukishima memeluk kembali Hinata dan menikmati aroma Hinata yang selalu membuatnya nyaman.
END
Eh Salah. . Maksudnya *TBC* hehe
Chap 9 Up!! Sorry kalau feelnya kurang ya Minna-san hehe.
Terima kasih bagi kalian yang telah mengorbankan waktunya untuk membaca Fict ini ya~~
Jangan Lupa Reviews, Fav dan Follow Minna-san~~ See you in next chapter!
