"Sialan kau." Balas Soonyoung. "Aku seperti akan berhadapa dengan Eagle Kill." Lanjut Soonyoung menunduk dengan wajah pucatnya.

"Hahahah.. Aku setuju denganmu hyung." Ucap Vernon masih dengan nada bercanda.

"Bahkan kalau mereka berdua mengaku sebagai Eagle Kill-pun mungkin aku akan percaya." Tambah Junhui dengan nada seriusnya. Mereka semua menatap Junhui bahkan Vernon berhenti tertawa.

Ada satu fakta penting yang mereka lewati, mereka semua merasakannya, tapi masih belum memahami dan mengerti fakta penting itu.

The Sign

Main cast : Kim Mingyu dan Jeon Wonwoo

Cast : Seventeen, BTS, EXO and others

Genre : Romance Mystery

Warning : Cerita ini mengandung unsur gay, kekerasan, sadisme, serta kata-kata yang masih banyak typo, dan cerita yang masih acak-acakan. Jika kalian tidak suka jangan maksa buat cerita oke? Cerita ini murni buatan Ken sendiri, Ken hanya meminjam nama dan tempatnya saja.

Summary : Angka. Pola. Surat. Tanda teror kematian. Kepolisian berusaha memecahkan misteri ketiganya. Tidak ada bukti yang bisa mempermudah kerja mereka. "mereka" akan hilang pada tanggal yang sama dan ditemukan pada tanggal yang sama. Namun itu belum cukup untuk membuka simpul benang misteri ketiganya.

...

...

...

"..." : Percakapan langsung

'Italic' : Inner/ suara pikiran

Italic : Flashback

"italic" : Percakapan dalam telefon/ dalam video.

Chapter 9

"Bahkan kalau mereka berdua mengaku sebagai Eagle Kill-pun mungkin aku akan percaya." Tambah Junhui dengan nada seriusnya. Mereka semua menatap Junhui bahkan Vernon berhenti tertawa. "Apa? Aku hanya bercanda." Ucap Junhui saat melihat semua mata kini tertuju padanya.

"Kami tahu itu hanya bercanda. Tapi bercandamu itu keterlaluan. Kau membuat Soonyoung tambah takut." Ucap Seongcheol sambil menunjuk Soonyoung yang sudah seperti kehilangan nyawanya.

"Ohh.. Maafkan aku Soonyoung-ah. Aku tak tahu itu membuat ketakutan. Hehehe." Ucap Junhui ditambah dengan tawa canggung yang membuat Soonyoung putus asa.

Sementara itu diarah toilet kantor terlihat Wonwoo berjalan terburu-buru dengan tangan menutup mata sebelah kirinya. Setelah sampai ke toilet dia membuka pintu dengan cepat lalu menguncinya dengan cepat juga. Wonwoo membuka keran air lalu membasuh matanya yang tak sengaja terkena cairan kafein tadi. Saat dirasa sudah cukup dia mengangkat wajahnya dan menatap cermin. Didepan cermin terlihat mata sebelah kirinya memerah, dia berdecak kesal.

Tok tok tok

"Hyung, ini Mingyu." Ketukan dan suara panggilan Mingyu dari luar mengalihkan atensinya.

"Hm. Ada apa?" Tanya Wonwoo.

"Ini. Aku membawakan baju baru dan handuk. Sepertinya kau harus mandi Hyung." Jawab Mingyu. Wonwoo menatap kembali tampilannya didepan cermin. Mingyu benar dia harus mandi. Lihatlah rambut lepek bekas cairan kopi, badannya yang beraroma kopi dan jangan lupakan wajah kusut bercampur kesal, matanya juga sangat memerah. Setidaknya dia harus berbenah sebelum memukul kepala Kwon bebal Soonyoung itu.

'Baiklah." Ucapnya lalu berjalan menuju pintu dibukanya sedikit pintu toilet. Wonwoo menjulurkan tangannya, tidak berniat menatap Mingyu. Oh ayolah, dia sangat berantakan sekarang. Setelah dirasa tangannya memberat karena beberapa pakaian dari Mingyu dia menarik kembali tangannya.

"Thanks." Ucap Wonwoo singkat lalu menutup pintu toilet dan kembali menguncinya setelah mendengar gumaman dari Mingyu.

Setelah menyerahkan pakaian ganti pada Wonwoo, Mingyu bergegas masuk ketoilet sebelah untuk membersikan diri. Keadaan Mingyu tidak jauh berbeda dengan Wonwoo, pakaiannya penuh dengan tumpahan coffe ditambah dia sekarang menggunakan pakain berwarna abu-abu terang. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka berdua berbanah diri, setelah 20 menit mereka keluar hampir berbarengan, mereka berjalan menuju keloker untuk meletakkan pakaian kotor.

"Hey, Wonu hyung." Panggil Mingyu saat mereka berdiri didepan loker masing-masing. Wonwoo hanya bergumam menjawab panggilan dari Mingyu.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Mingyu. Wonwoo menoleh dan mengangkat sebelah alisnya.

"Yahh, aku baik-baik saja, meskipun masih kesal pada Soonyoung." Jawan Wonwoo sambil mengangkat bahunya cuek.

"Aku juga kesal." Ucap Mingyu sambil mengerucutkan bibirnya. "Hyung, ayo kita kerjai Soonyoung hyung." Lanjut Mingyu dengan senyum devilnya. Wonwoo yang melihat senyuman devil Mingyu mau tak mau ikut menampilkan smirk jahatnya.

"Call." Ucap Wonwoo. Mereka berdua berjalan kearah ruangan khusus tim detektif dengan langkah angkuh dan smirk jahil yang mengerikan. Saat sudah didepan pintu ruangan smirk mereka digantikan dengan tatapan datar dan tajam yang siap menerkam. Pintu ruangan terbuka, mereka sedikit kaget melihat Soonyoung yang duduk bersimpuh tak jauh dari depan pintu dengan kepala tertunduk.

"Wonu hyung, Gyu-ie, aku minta maaf. Aku tak sengaja menumpahkan kopi itu pada kalian." Ucap Soonyoung dengan kepala masih tertunduk menyesal.

"Tatap orangnya kalau kau ingin meminta maaf Kwon Soonyoung.!" Hardik Wonwoo dengan suara rendah, terdengar sangat mengerikan. Berbanding tebalik dengan smirk jahil yang bertengger dibibir tipisnya begitu juga dengan Mingyu. Soonyoung menelan ludah kasar, serasa ada batu yang mengganjal tenggorokannya saat ini. Soonyoung memberanikan diri menatap pasangan Mingyu-Wonwoo yang berdiri angkuh didepannya. Tenggorokannya semakin kering saat melihat ekspresi kejam tepampang didepannya.

"Hy-hyung." Gumamnya takut saat melihat mata sebelah kiri Wonwoo memerah. Soonyoung serasa ingin menangis sekarang. Sudah menjadi rahasia umum kalau Soonyoung termasuk orang yang penakut dan cengeng saat berhadapan dengan Wonwoo. Tatapan tajam dari Mingyu membuat Soonyoung serasa akan dimakan hidup-hidup.

Mata Mingyu dan Wonwoo terbelalak kaget saat melihat Soonyoung sudah mengeluarkan air matanya. Oh tidak, mereka hanya ingin bercanda saja, kenapa Soonyoung jadi benar-benar menangis.

"Hy-hyung-ie, aku minta maaf." Ucapnya dengan nada bergetar. Mereka semua yang melihat adegan menangis Soonyoung merasa iba dan juga ingin tertawa. Bahkan Vernon saat ini terang-terangan menahan tawa begitu juga dengan Junhui dan Seokmin sedangkan Seongcheol speechless melihat bawahannya yang begitu cengeng tak jauh berbeda dengan ekspresi dari Mingyu dan Wonwoo.

Cklek

Pintu dibelakang Mingyu terbuka, Jihoon masuk dengan dahi berkerut bingung. Ekspresinya bertambah bingung saat melihat Soonyoung bersimpuh didepan Mingyu dan Wonwoo, dia juga melihat jejak air mata diwajah Soonyoung. Sedangkan Soonyoung serasa akan mati saat itu juga, dia benar-benar malu saat ini. Jihoon memergokinya menangis, wajahnya sangat panas sekarang. Tanpa abab-aba lagi dia berdiri dan berlari keluar, kemana saja asalkan bisa menghindari Jihoon. Persetan dengan kata maaf-nya pada Wonwoo dan Mingyu, itu bisa diurus nanti.

Vernon tidak bisa menahan tawanya lagi. Dia sudah terduduk memegang perutnya, tawanya melebur diikuti tawa Junhui, Seokmin, Seongcheol, Mingyu dan kekehan dari Wonwoo sedangkan Jihoon menatap tim detektif itu heran. Apa-nya yang lucu? Pikirnya. Jihoon sudah mulai jengah, mereka masih tertawa bahkan sudah 5 menit berlalu.

"Kalian tidak berniat untuk berhenti dan menanyakan ada urusan apa aku kesini, huh?" Tanya Jihoon kesal. Mereka mulai meredakan tawanya, meskipun kekehan masih terdengar dari Mingyu, Seokmin dan Junhui.

"Maafkan kami, Jihoon-ah." Ucap Seongcheol sambil menatap tim forensik yang berada didekat pintu. "Jadi, ada apa?" Tanya Seongcheol.

"Ini." Ucap Jihoon sambil menyerahkan kotak kearah Seongcheol. Bahkan mereka tidak sadar kalau dari tadi Jihoon memegang kotak itu. "Aku kebetulan ingin bertemu dengan Namjoon hyung, dan polisi didepan memintaku untuk mengantarkan ini pada tim kalian." Lanjut Jihoon. "Oh, ngomong-ngomong kenapa Soonyoung menangis?" Tanya Jihoon saat teringat Soonyoung yang berlari keluar.

"Tidak apa-apa. Hanya sedikit bercanda dengannya." Jawab Wonwoo dengan senyumnya. Vernon dan Mingyu kembali tertawa teringat ekspresi saat Soonyoung keluar tadi.

"Ya.. tertawalah sepuas kalian." Mereka semua terkejut saat tiba-tiba mendengar suara Soonyoung. "Oh, itu apa hyung?" Tanya Soonyoung saat melihat sebuah kotak ditangan Seongcheol. Seongcheol hanya mengangkat bahu tanda tak tahu. Lalu tangannya bergerak untuk membuka kotaktersebut. Saat kotak tersebut mulai terbuka, Seongcheol berkerut. Kotak tersebut mengeluarkan bau yang menyengat.

"Yackkss.. Bau apa ini?" Tanya Vernon sambil menutup hidungnya, kebetulan dia berdiri disebelah Seongcheol. Tidak hanya Vernon, mereka yang berdiri didalam ruangan itu juga mencium bau menyengat. Jihoon membulatkan matanya saat mengenali bau menyengat tersebut.

"Andwe!" Teriaknya saat melihat Seongcheol menarik plastik dari dalam kotak tersebut, tapi terlambat.

"Arrrghhh!" Itu teriakan dari Seokmin dan Vernon saat melihat isi dari dalam plastik tersebut, Seongcheol yang terkejut tanpa sengaja melempar plastik ditangannya ketengah ruangan. Mingyu, Wonwoo dan Soonyoung berjengit kaget saat melihat isi plastik tersebut. Bola mata dengan darah dan berbau menyengat.

"Huuuaaa..!" Soonyoung berteriak kaget saat melihat bola mata tersebut mengarah kearahnya seakan-akan sedang menatap kearahnya, bahkan dia harus sembunyi dibalik tubuh tinggi Mingyu. Wonwoo terdiam menatap bola mata tersebut begitu juga dengan Mingyu. Bahkan Jihoon membulatkan matanya.

"A-astaga. Apa itu? Itu mata asli atau hanya mainan?" Tanya Junhui setelah berhasil menetralkan detak jantungnya.

"Aku rasa itu asli." Jawab Jihoon mencoba mendekati plastik tadi dan memperhatikan bola mata itu dari jarak dekat.

"HYUUUNNGG!" Teriakan panik dari arah pintu mengalihkan atensi mereka. Didepan pintu terlihat Seungkwan berdiri dengan napas tersendat-sendat dan terlihat panik.

"Wae? Wae?" Tanya Wonwoo.

"I-itu. Mereka menemukan seorang pria tergeletak didekat sungai Nakdong." Ucap Seungkwan dengan nada bergetar.

"Lalu?

"Pria itu sekarat. B-bola mata sebelah kirinya hilang." Lanjut Seungkwan.

"Bo-bola mata?" Gumam Vernon. Mereka semua serentak melihat kearah lantai tempat bola mata dalam plastik-minus Seungkwan-.

"iwhhhh. Apa itu hyung?" Tanya Seungkwan saat menyadari anggota tim detektif melihat kearah lantai. "Tunggu. Bola mata? Jangan-jangan..." Ucapan Seungkwan terhenti. Jihoon dengan langkah sigap mengambil bola mata itu dan membawanya keluar.

"Akan aku periksa." Ucapnya lalu pergi keluar dengan terburu-buru.

"Seungkwan, bisa tolong kau periksa dari mana kotak ini berasal?" Tanya Seongcheol lalu menyerahkan kotak yang sempat ia pegang tadi kearah Seungkwan.

"Ne hyung. Aku pergi." Ucapnya lalu pergi mengikuti jejak Jihoon.

"Aku rasa kita perlu ke TKP dan ke Rumah Sakit." Kata Seongcheol lalu mulai mengambil barang-barang yang dikiranya penting untuk penyelidikan nanti. "Mingyu, Wonwoo, Junhui dan Soonyoung pergi ke sungai Nakdong dan sisanya ikut aku kerumah sakit. Kita perlu bukti sebanyak-banyaknya." Lanjut Seongcheol lalu keluar diikuti oleh anggotanya.

Tidak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk sampai tujuan. Team Mingyu sampai 10 menit kemudian. Mereka dapat melihat beberapa tim forensik dan beberapa polisi mengelilingi tempat itu. Mingyu menunjukkan kartu identitasnya, begitu juga dengan Wonwoo, Junhui dan Soonyoung. Mereka berempat mendekati tempat yang sudah diberi tanda dan mengamatinya.

"Kalian sudah bertemu dengan saksi?" Tanya Mingyu pada salah satu petugas team forensik disana.

"Ya. Saksi tersebut ada disana." Tunjuk petugas tersebut pada seorang wanita paruh baya yang sedang berdiri ditemani dengan 2 orang polisi.

"Terima Kasih." Ucap Mingyu lalu pergi kearah saksi tersebut diikuti oleh Junhui, Wonwoo dan Soonyoung masih bertanya-tanya dengan petugas tersebut di TKP.

"Annyeonghaseo." Sapa Mingyu dan Junhui sambil membungkuk sopan pada tiga orang yang sedang berbicang tersebut.

"Annyeonghaseo." Balas mereka seraya membungkukkan badannya.

"Saya Kim Mingyu dan ini Wen Junhui, kami salah satu team detektif disini." Ucap Mingyu sopan diiringi senyum cerahnya.

"Ah.. Saya Jeon Somi." Ucap wanita paruh baya tersebut.

"Ne. Ny. Jeon." Kata Junhui sambil tersenyum ramah. "Bagaimana anda bisa menemukan korban, Nyonya?" Tanya Junhui masih dengan senyumnya.

"Saya baru pulang dari supermarket, dan tak sengaja melihat ada orang yang tergeletak ditidak jauh dari sungai. Saya pikir orang itu mabuk karena saya melihatnya dari jalan sana." Ucap Ny. Jeon sambil menunjuk jalan setapak, sekitar 50 meter dari TKP. "Saya pikir orang tersebut pingsan karena tidak bergerak sama sekali, jadi saya dekati. Ketika saya mendekat saya melihat wajahnya penuh darah begitu juga dengan bajunya." Lanjut Ny. Jeon dengan ekspresi tegangnya, mungkin mengingat kejadian tersebut.

"Jadi, apakah anda yang menelpon kepolisan Nyonya?" Tanya Mingyu.

"Tidak, saya panik dan menjerit. Ada beberapa orang datang. Salah satu dari mereka yang menelpon aku rasa." Jawab Ny. Jeon. Junhui mencatat setiap poin penting dari cerita Ny. Jeon. Sementara mereka berdua sibuk dengan saksi, berbeda dengan Wonwoo dan Soonyoung mereka melakukan beberapa kali analisis profiler. Meskipun dengan bukti serta data yang sedikit, mereka berdua tetap memaksa untuk melakukannya. Jangan salah, kemapuan profiler Soonyoung dan Wonwoo merupakan yang terbaik diteamnya.

"Dari posisi terakhir dia terbaring, dia menghadap kearah menuju jalan raya. Besar kemungkinan dia berjalan dari jalan setapak ini." Ucap Wonwoo memulai analisisnya. Soonyoung berjalan didepan Wonwoo, dahinya berkerut saat menemukan hal yang janggal tak jauh dari korban terbaring. Dia berjongkok untuk melihat lebih dekat.

"Hyung, aku menemukan jejak darah." Ucap Soonyoung tiba-tiba. "Ini lihat." Lanjutnya saat Wonwoo juga berjongkok disampingnya, ikut memperhatikan bercak darah yang mulai mengering. Benar analisis Wonwoo, korban berjalan dari arah setapak ini.

"Tunggu, jika darah ini berasal dari korban. Berarti lukanya masih mengeluarkan darah segar, dan dari mata yang kita dapat itu bisa saja diambil dari tempatnya kurang lebih 1 hari sebelumnya karena sudah mulai membusuk. Jadi, lukanya dibiarkan terbuka dari kemarin." Kata Wonwoo dengan mata membulat, begitu juga dengan Soonyoung.

"Woooaahh, kejam sekali. Aku salut padanya yang masih bertahan bahkan berjalan disaat tubuhnya sudah kehilangan banyak darah. Tak heran kalau dia saat ini sedang kritis." Ucap Soonyoung bergidik ngeri.

"Kajja, kita cari dari mana awal dia berjalan. Mungkin kita bisa menemukan markasnya." Kata Wonwoo menghentikan tatapan ngeri dari Soonyoung yang malah kelihatan seperti orang bodoh. Soonyoung ikut berdiri mengikuti Wonwoo yang berjalan sambil membungkukkan badannya, memperhatikan setapak jalan dengan teliti. Beberapa kali mereka menemukan bercak darah yang sudah mulai mengering. Pencarian mereka berakhir saat menemukan ceceran darah yang banyak, dan menemukan ban motor didekatnya.

"Arrghhhh... Sial.!" Umpat Soonyoung, padahal mereka sudah berharap akan menemukan tempat pelaku mencongkel mata korban.

"Sudah aku tebak dia tidak sebodoh itu." Kata Wonwoo datar melihat ceceran darah yang mulai mengering dan jejak ban motor tersebut. "Kirimkan beberapa team Forensik kesini." Titah Wonwoo lalu mematikan sambungannya. 5 menit kemudian 3 team Forensik berlari dengan beberapa peralatannya menghampiri Wonwoo dan Soonyoung. Tanpa menunggu perintah mereka mulai bekerja. Wonwoo dan Soonyoung berlalu meninggalkan team forensik untuk bekerja. Mingyu dan Junhui terlihat berdiri tak jauh dari garis polisi saat Wonwoo dan Soonyoung datang.

"Ahh.. hyung, kalian dari mana saja?" Tanya Mingyu saat melihat Wonwoo. Jujur saja dia sangat khawatir saat tak menemukan Wonwoo ditempatnya.

"Kami melakukan analisis profiler sederhana." Jawab Wonwoo.

"Dengan data yang sedikit?" Tanya Junhui, yang mereka ketahui analisis profiler perlu beberapa data penting, termasuk rekaman CCTV kalau ada. "Bagaimana mungkin?" Tanya Junhui lagi.

"Mungkin saja, kau lupa siapa kami hyung." Jawab Soonyoung sombong. Junhui berdecih melihat wajah sombong Soonyoung.

"Jadi, kalian menemukan apa?" Tanya Mingyu mencoba menengahi pertengkaran antara Junhui dan Soonyoung yang akan terjadi.

"Kami menemukan beberapa jejak bercak darah, kemungkinan itu darah korban. Tim forensik sedang mengambil sampel darahnya disana. Kami juga menemukan titik awal korban dibuang." Jawab Wonwoo sambil berjalan diikuti Mingyu, Junhui dan Soonyoung yang berjalan berdampingan.

"Dibuang?" Tanya Junhui berkerut bingung.

"Ya, kemungkinan besar korban dibuang, karena kami juga menemukan bekas ban motor tak jauh dari sana. Ah... Menurut analisisku korban ada disekitaran sini sejak beberapa jam yang lalu karena jejak darahnya sudah mulai mengering." Jelas Soonyoung serius, terlihat Wonwoo juga mengangguk membenarkan ucapan dari Soonyoung. "Karena daerah ini termasuk sepi saat pagi hari, jadi pelaku bisa dengan mudah untuk membuang korban." Lanjutnya.

"Jika pelaku memang ingin membuat korban mati kehabisan darah atau hanya ingin mencari kepuasan kenapa dia harus mengirimkan mata korban ke divisi kita." Kata-kata Junhui menyadarkan mereka berempat.

"Benar juga." Gumaman setuju dari Soonyoung terdengar. "Apa ini untuk meneror kita? Atau jangan-jangan ini ulah Eagle Kill ?" Tanya Soonyoung beruntun.

"Eiyy.. tapi tidak mungkin. Mereka itu psikopat, tidak akan berhenti kalau belum melihat korbannya mati. Kita sudah melihat rekamannya." Bantah Junhui.

"Tapi, bisa saja dia itu tipe psikopat yang sudah bisa mengendalikan hasrat membunuhnya." Komentar Soonyoung.

"Aku setuju dengan Soonyoung hyung. Dari video yang kita lihat itu mereka berdua tidak membunuh secara brutal." Kata Mingyu dengan wajah seriusnya.

"Mereka terlihat menikmati setiap sayatan yang mereka buat ditubuh korban." Tambah Wonwoo datar. "Tapi simpan dulu setiap spekulasi kita, kita harus menemui Seoungcheol dan yang lainnya. Kita juga harus memastikan bahwa mata itu benar-benar milik korban ini." Lanjut Wonwoo lalu berjalan kearah mobil patroli yang mereka bawa dan masuk kedalam mobil tersebut diikut rekan-rekannya.

Sementara itu dirumah sakit, team Seongcheol harus menelan pahit kenyataan karena mereka tidak bisa bertemu dan meminta keterangan dari korban. Saat dibawa kerumah sakit korban sudah sangat kritis dan korban meninggal setelah setengah jam ditangani oleh dokter. Team Seongcheol mengajukan autopsi lebih lanjut untuk mengetahui kondisi korban sebenarnya, dan diterima oleh pihak dokter. Sudah hampir 1 jam mereka menunggu hasil autopsi, bukan hanya dari autopsi tubuhnya tapi juga autopsi dari bola mata yang dikirimkan pada mereka.

"Apa salah satu dari team Mingyu tidak memberi kabar?" Tanya Seongcheol pada Seokmin, dan dijawab gelengan dari wakilnya itu. Seongcheol menghela napas kasar, apa mungkin keadaan disana terlalu rumit sehingga mereka kesulitan untuk menemukan petunjuk. Tidak lama Seongcheol bertanya terdengar langkah kaki terburu-buru mendekati mereka. Seongcheol, Seokmin dan Vernon mengangkat kepalanya melihat Team Mingyu berlari kearah mereka.

"Bagaimana keadaan korban? Kalian bisa bertanya padanya?" Tanya Soonyoung saat sudah berdiri didepan Vernon.

"Korban meninggal setelah mendapatkan perawatan selama 30 menit." Jawab Seokmin. Helaan napas kasar terdengar dari keempat pemuda yang baru mendapatkan kabar buruk itu.

"Sebenarnya aku sudah memasukkan itu dalam list hal terburuk yang bisa terjadi saat melihat keadaan TKP secara langsung." Ucap Soonyoung lalu ikut duduk dikursi disamping Vernon.

"Ada apa? Kalian menemukan sesuatu?" Tanya Seongcheol serius.

"Yah, kami menemukan beberapa hal." Jawab Wonwoo sambil menatap rekan-rekannya, Wonwoo baru akan melanjutkan ucapannya saat Jihoon keluar dari ruang autopsi dengan beberapa kertas ditangannya. Semuanya berdiri saat melihat Jihoo berjalan mendekati tempat duduk mereka.

"Kita lanjutkan nanti." Titah Seongcheol pada Wonwoo dan dibalas anggukan olehnya. "Bagaimana? Apa itu benar bola mata korban yang ditemukan tadi?" Tanya Seongcheol. Jihoon menyerahkan beberapa kerta ketangan Seongcheol.

"Seperti yang kalian lihat itu 100% bola mata korban yang ditemukan dipinggir sungai Nakdong. Pelaku mencongkel mata korban 13 jam sebelumnya, dan mata korban dikirimkan ke kalian. Aku rasa kalian sudah tau, itu terror untuk kalian. Kami juga menemukan kertas ini dirongga mata korban tertempel dengan kuat menggunakan lem dan juga lem tersebut sudah bercampur dengan racun. Racun jenis polonium -210 tepatnya, racun ini bisa membunuh dengan lambat. Akan merusak kinerja ginjal dan liver. Minimal manusia akan mati beberapa hari bahkan ada yang beberapa minggu. Tapi ini kasus berbeda, pelaku tidak hanya memberikannya didaerah rongga mata, namun juga menyuntikan cairannya dipergelangan tangan dan juga membuat korban memakannya. Jadi kematiannya tidak hanya karena kehabisan darah tapi juga racun." Jelas Jihoon dengan sesekali menunjukkan beberapa gambar yang ditangan Seongcheol dan juga menyerahkan kertas didalam plastik.

"Woaahh... aku tau dia kejam. Tapi aku tak menyangka dia akan sekejam ini." Itu reaksi pertama yang keluar saat mendengar penjelasan dari Jihoon. Sedangkan yang lainnya hanya bisa terdiam.

"Terima kasih Jihoon-ah, kami akan membawa ini semua." Ucap Seongcheol lalu pergi diikuti oleh bawahannya setelah sebelumnya membukuk singkat pada Jihoon. Mereka berjalan cepat sedikit berlari saat dilobby rumah sakit menuju kemobil patroli. Mereka akan membicarakan hal ini diruangan team, setidaknya mereka bisa bebas mengeluarkan pendapatan dan umpatan tanpa harus mengganggu pihak lain.

Butuh 30 menit perjalanan untuk sampai kekantor mereka. Saat baru masuk mereka dihadang oleh salah satu petugas kepolisian disana itu Yang Sechan.

"Kalian dapat paketan lagi." Ujarnya tiba-tiba menimbulkan raut bingung diwajah ketujuh pemuda itu. "Aku tak menyangka kalian seterkenal itu, sampai bisa mendapatkan 2 paket dalam sehari." Lanjutnya lagi.

"Paketan? Dari siapa?" Tanya Soonyoung penasaran.

"Entahlah. Kotaknya kecil segini." Jawab petugas Yang sambil memperlihatkan bentuk kotak dengan tangannya. "Tidak ada nama pengirimnya, tapi tujuannya jelas kedivi- heii.. aku belum selesai bicara." Omongan santai petugas Yang menjadi teriakan saat ketujuh pemuda divisi detektif itu berlari dengan kalap kearah ruangannya.

"Terima Kasih Sechan hyung." Teriak Vernon dari jauh. Petugas Yang menggelengkan kepalanya melihat tingkah Vernon.

"Dasar.!" Gumamnya lalu mulai berjalan kearah meja kerjanya tak jauh dari tempat dia berdiri.

Saat mendengarkan penjelasan singkat dari petugas Yang, entah kenapa mereka semua seperti punya pemikiran yang sama dan berlari menuju ruangan mereka.

"Aku harap kotak itu tidak seperti yang aku pikirkan." Ujar Soonyoung masih dengan larinya, keenam pemuda lain menyetujui Soonyoung. Saat sudah sampai didepan ruangan, Seongcheol membuka pintu ruangan dengan cepat dan mereka melihat kotak tersebut ada dimeja Seongcheol. Kotak yang sama dengan kotak yang mereka terima sebelumnya. Tiba-tiba mereka ragu untuk maju.

"Hyung, i-itu bukan kotak yang sama kan." Cicit Mingyu, jujur saja dia sudah mual dengan apa yang mereka lihat sebelumnya dan sekarang haruskan mereka mendapatkan kotak yang sama lagi. Wonwoo berniat maju untuk mendekati kotak tersebut namun Seongcheol menahannya.

"Biar aku saja." Katanya, Wonwoo hanya mengangguk patuh. Seongcheol mulai berjalan mendekati kotak tersebut. Sementara itu keenam pria yang lainnya masuk sedikit kedalam ruangan lalu menutup pintunya. Terlihat Seongcheol menghembuskan napas pelan saat sudah memegang kotak tersebut. Jujur saja dia merasa De Javu sekarang.

"Hyung, tidakkah kita membawa kotak tersebut kerumah sakit tempat Jihoon berada.?"Tanya Seokmin tiba-tiba dan mendapatkan gelengan dari Seongcheol.

"Setidaknya kita harus tau terlebih dahulu apa isinya." Jawab Seongcheol lalu membuka kotak tersebut. Seperti kejadian sebelumnya, bau anyir darah dan bau busuk keluar dari kotak tersebut. Otomatis ketujuh namja tersebut menutup hidung menahan mual.

"Arghh.. Bau sekali, kali ini apa lagi.? Bola mata? Lidah? Atau apa?" Komen Soonyoung jengah. Seongcheol menarik plastik dari dalam kotak dan terlihatlah bola mata berwarna biru didalam plastik tersebut.

"Haahh... Aku harus membawa ini langsung ke tempat Jihoon. Soonyoung ikut aku. Yang lain, pergi berkeliling dan cari korbannya." Titah Seongcheol lalu berlalu sambil membawa kotak tersebut, diikuti yang lainnya.

"Aku dan Mingyu akan menelusuri arah taman jauh dari sungai Nakdong, kalian bertiga telusuri daerah dekat sungai itu." Perintah Wonwoo lalu mulai masuk kemobil bersama Mingyu begitu juga dengan Seokmin, Vernon dan Junhui. 1 jam berlalu namun mereka berlima tidak menemukan korban, bahkan mereka sudah berkeliling didua bagian yang berbeda. Saat ini mereka berlima ada disekitaran sungai Nakdong, Mingyu dan Wonwoo memutuskan untuk berkumpul dengan rekannya saat ini.

"Aku tak tau kalau kasus ini semakin rumit. Saat kita harus menghadapi Eagle Kill, dan sekarang kita kembali menghadap psikopat yang tak jauh berbeda dari Eagle Kill itu. Atau jangan-jangan ini ulah Eagle Kill untuk memperlambat kerja kita." Keluh Vernon, pemuda blonde itu dari tadi mengeluh dan mengomel sepanjang mereka mencari korban, meskipun dia tetap fokus tapi bibirnya tidak berhenti mengoceh. Seokmin dan Junhui serasa sedang bersama Seungkwan bukan bersama Vernon.

"Aishh, kau ini. Mulutmu tidak capek dari tadi mengomel terus." Protes Seokmin. Sungguh dia sudah sangat capek, dan telinganya sudah berdenging karena keluhan Vernon. Vernon hanya nyengir mendengar protesan Hyungnya. Saat mereka sedang menelusuri jalan setapak, dering ponsel Mingyu mengejutkan mereka.

"Ya hyung?"

"..."

"Apa?"

"..."

"Baiklah kami segera kesana." Jawab Mingyu lalu memasukkan ponselnya kekantong celana. "Kita kerumah sakit sekarang, korban sudah ditemukan." Jelas Mingyu, lalu mereka berlari menuju mobil yang jaraknya lumayan jauh. Tidak terhitung sudah berapa kali mereka berlari dalam sehari ini. 30 menit kemudian mereka sampai dan berlari-lagi- disepanjang koridor rumah sakit menuju ruangan autopsi. Terlihat Seongcheol, Soonyoung dan Jihoon berbincang didepan ruangan tersebut.

"Kita pergi." Perintah Seongcheol lalu berlalu diikuti Soonyoung, sedangkan kelima namja yang tadi sudah berlari untuk menemui ketuanya harus menahan kesal. Kalau seperti ini kenapa harus bertemu dirumah sakit kenapa tidak langsung dikantor mereka saja. Dan masih banyak kenapa kenapa yang lainnya. Bahkan Vernon sudah masuk kedalam mode cerewetnya lagi.

"Kalian sudah mendengar keadaan korban pertama bukan?" Pertanyaan itu yang pertama kali keluar dari mulut Seongcheol saat mereka sudah sampai didalam ruangan khusus didivisi detektif. Keenam namja mengangangguk membenarkan. "Kasusnya sama persis, menggunakan racun dan dilakukan secara bersama juga. Aku baru mendapatkan informasi dari Seungkwan bahwa kedua korban hilang hampir secara bersamaan dan didua tempat yang berbeda, dan hasil autopsi kedua mata korban dicongkel diwaktu yang berdekatan. Lalu dirongga mata mereka berdua terdapat kertas ini." Jelas Seongcheol lalu menunjukkan kertas itu dan meletakkannya diatas meja kerja.

"Apa itu?" Tanya Junhui.

"Bacalah." Titah Seongcheol.

'Bagaimana dengan hadiahnya? Apakah kalian suka? Aku harap kalian suka. Aku suka sekali saat melihat mereka berdua menjerit kesakitan saat aku mengambil matanya, ahh.. aku mau memberi tahu kalau aku mencongkelnya tanpa bius, oh haruskah aku katakan kalau kami mencongkelnya. Aku tau kalian sudah menyadari kalau kami ada dua.. hahahaha.. kalian terlalu lama untuk menyadarinya, jujur aku sedikit kecewa. Dan aku mengirimkan mata itu sebagai hadiah karena kalian sudah menyadari hal itu. Saat kalian gabungkan kedua mata tersebut maka kalian akan menatap mataku. Selamat menikmati.'

"Eagle Kill." Gumam Mingyu dan Soonyoung pelan, dugaan mereka benar. Isi surat itu mengarah pada Eagle Kill. Mereka semua fokus pada surat dan pikiran masing-masing. Tapi ada satu namja bule yang mengerutkan dahinya bukan karena isi surat ataupun Eagle Kill tapi hal lainnya. Matanya tidak mungkin salah lihat, tidak besar memang namun dia masih bisa melihatnya. Tidak. Bukan hanya dia saja yang melihat itu, namja china disebelahnya juga melihat hal itu.

'da-darah?'

...

...

...

==TBC==

Huaaa.. apa iniiiiii...

Menurut kalian gimana kelanjutan ceritanya? Ada yang kurang kah? Atau ada yang harus saya rubah dari gaya tulisannya?

Sebenarnya aku mau update chap 9 tanggal 16 januari, biar bertepatan sama ulang tahunnya Boo Seungkwan. Tapi karena ada beberapa masalah jadinya saya undur sampai hari ini. Semoga kalian nggak kecewa-lagi- sama cerita aku yang acak-acakkan dan penuh typo.

Dan, aku mau ngucapin happy birthday to you Seungkwan-ie. Stay healthy dan happy every day. We love you.. (telat banget saya ngucapnya..hahahaha)

Selamat membaca..

Jangan lupa komentarnya ya..

BYE-BYE