Q: Alamat blog Saki apa?

A: blog punya saki itu kitaharasaki.[blogspot].com

Q: Berapa umur YunJae dan Kyumin?

A: Yang saki tahu, Jae dan Yunho sudah 12 tahu berpisah. dua belas tahun yang lalu Jae umur lima belas. dan Yunho baru beberapa bulan lulus kuliah. Jadi usia sekarang Jae dua puluh tujuh, dan Yunho mungkin 35 dengan anggapan dua belas tahu yang lalu usia Yunho dua puluh tiga. Untuk Kyuhyun, dia memang veteran tentara, tapi umurnya tidak jauh berbeda dengan Yunho, dan dia lebih muda dibanding Yunho. tapi diatas Jae. Sungmin, dia masih awal dua puluhan..

Q: Kapan Siwon mati?

A: Di draft yang Saki buat, Siwon mati di chapter lima belas. sebentar lagi dia mati kok. tenang aja...

Q: Kapan Yunjae NC?

A: Untuk sekarang hubungan mereka masih banyak yang harus diselesaikan. (meski diantara keduanya selalu aja mau kelepasan) tapi untuk Yunho yang bener2 ngebobol Jaejoong, mungkin di chapter awal dua puluhan.. biar sama kayak umurnya sungmin../plak! (Apa hubungannya) yang jelas setelah Siwon mati.

terima kasih kepada semua orang yang sudah ngedukung Saki buat lanjutin FF remake ini. Saki udah kecantol sama ceritanya Agatha, jadi rada berat buat baca punya Sandra Brown yang ini. makanya ini bener2 dipaksain buat baca perhalaman... cek FF saki yang Salang-ui ba ya? itu FF remake punya Santhi Agatha.. menurut Saki sih ceritanya lebih keren. gak tahu temen2 gimana pendapatnya.. Oke langsung aja

masitge deuseyo cingudeul...

ACTOR - ACTRIS:

Kim Jaejoong (GS), Jung Yunho, Lee Sungmin(GS), Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Kwon Boa

Dan beberapa pemain pendukung lainnya

Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita

STORY BY:

Cerita, Alur, Judul, dan Plot milik SANDRA BROWN

Setting dan beberapa perubahan untuk kepentingan cerita kukerjakan sendiri

Cerita Sebelumnya…

Kali ini umpatan Yunho makin kasar, tetapi hanya dalam hati. Umpatan itu ditujukan kepada dirinya sendiri karena perasaan bersalah. Tak ada hal yang lebih diinginkannya saat itu kecuali memeluk Jaejoong, melindunginya, mengecup bibirnya, merapatkan tubuh yeoja itu ke tubuhnya. Betapa tololnya dirinya dulu. Pikiran itu membawanya membayangkan tubuh Jaejoong berpelukan dengan appanya. Oh, Tuhan! Terkadang ia merasa seperti akan gila bila membayangkan hal itu.

Kendati demikian ia tidak bisa menyalahkan Jaejoong, seperti yang ingin ia lakukan. Tiap kali menatap Jaejoong, ia makin menginginkan wanita itu. Ia harus segera meninggalkan tempat ini. Segera. Sebelum ia melakukan sesuatu yang bisa mempermalukan dirinya sendiri. Namun itu pun tidak bisa ia lakukan, apa pun alasannya. Sungmin. Appanya. Tetapi terutama karena Jaejoong. Berjumpa lagi dengan Jaejoong dua belas tahun kemudian membuat Yunho tidak bisa serta merta meninggalkannya.

"Kau tahu di mana bisa mencariku," kata Yunho sambil berjalan keluar pintu.

.

.

Masitge deuseyo…

Jaejoong bekerja di kantor menyelesaikan surat-surat, sementara Yunho dibantu karyawan mencari perkakas yang dibutuhkan. Sejam kemudian Jaejoong berdiri di belakangnya, ketika ia tengah membongkar bagian dalam mesin besar. "Yunho, aku akan pergi ke rumah sakit sebentar. Kalau aku belum kembali tapi pekerjaanmu sudah selesai, kau bisa minta tolong salah seorang karyawan mengantarmu pulang."

Yunho tersenyum getir. "Tak usah repot. Aku masih agak lama di sini." Jaejoong nyengir. Yunho melihat tangan Jaejoong setengah terangkat hendak menyentuh lengannya. Namun ia tak jadi melakukannya, malah cepat-cepat mengucapkan selamat tinggal dan pergi.

.

.

_Mizuki Kitahara_

.

.

Rumah sakit terasa sejuk dan tenang setelah dari pengolahan ginseng yang berisik dan hiruk-pikuk. Siwon masih terbaring di ranjang, tatapannya lekat pada layar televisi, walaupun ia mematikan suaranya. Tubuhnya dipasangi selang untuk makanan dan untuk mengeluarkan kotoran. Layar monitor berkedip, mengeluarkan suara mencicit dan merekam kerja organ tubuhnya yang penting. Kondisinya tampak sangat mengenaskan. Jaejoong tersenyum ceria dan dengan berani mendekatinya.

"Siang, Wonnie." Jaejoong mencium pipi Siwon yang pucat pasi. "Bagaimana keadaanmu?" Ucapan itu terlalu kasar untuk yeoja peka sepertimu," jawab Siwon. Diamatinya pakaian Jaejoong dan bertanya, "Kau pulang dari pabrik?"

"Ya. Sepagian ini, sebenarnya, kalau tidak, aku pasti datang lebih awal ke sini. Ada masalah dengan salah satu mesin pengolah."

"Masalah apa?"

"Aku belum tahu pasti. Masalah di bagian mesinnya. Yunho sedang memeriksanya. Bunga dari anak-anak Sekolah Minggu ini cantik sekali."

"Apa maksudmu, Yunho sedang memeriksanya?"

Jaejoong memerhatikan rangkaian bunga yang diantar ke rumah sakit sewaktu ia belum tiba dan membaca kartu nama pengantarnya, agar ia tahu kepada siapa ia akan mengucapkan terima kasih. Namun ia berbalik seketika mendengar kata-kata Siwon. Tak pernah Jaejoong melihat air muka Siwon sedemikian mengerikan. Atau penyakit yang dideritanya membuat wajahnya kelihatan penuh kebencian?

"Jawab pertanyaanku, brengsek!" bentak Siwon nyaring, di luar dugaan Jaejoong. "Apa yang dilakukan Yunho di pabrik pengolahan ginseng itu?"

Jaejoong yang merasa sangat terkejut tidak segera dapat mengucapkan kata-kata dari mulut nya. "Aku... aku memintanya memeriksa mesin yang rusak. Ia insinyur. Ia bisa…"

"Tanpa izinku kau minta putraku ikut campui urusan di pabrik?" Siwon berusaha duduk "Ia sudah melepaskan haknya atas pabrik pengolahan ginseng milik keluarga Jung ketika ia pergi dari rumah dua belas tahun yang lalu. Aku tidak ingin ia ada di pabrik, mendekatinya sekalipun. Kau mengerti Jae?"

Keringat bercucuran di dahinya. Matanya membeliak karena marah.

Jaejoong takut melihat kemarahan Siwon dan memikirkan nyawanya. "Wonnie, tenanglah. Yang kulakukan hanya meminta Yunho memeriksa mesin yang rusak. Ia bukan ikut campur dalam bisnis di sana."

"Aku kenal anak itu. Ia akan mencari-cari kesalahan di sana, menasihatimu tentang bagaimana mengatur keuanganku." Siwon menunjuk Jaejoong dengan jari telunjuknya, dan berbicara dengan suara melengking, "Kau dengar, dengarkan sebaik-baiknya. Kau tidak boleh memakai satu sen pun uang pengolahan itu tanpa seizinku."

Jaejoong serasa ingin menepis jari telunjuk yang diarahkan kepadanya itu, yang menuduhkan sesuatu tidak pada tempatnya.

"Tidak akan pernah, Siwon," jawab Jaejoong jujur.

"Yunho juga tidak pernah ada."

"Dan salah siapa itu?"

Pertanyaan Jaejoong yang tidak cukup bijaksana itu menggema di ruangan yang steril dan berbalik menyerangnya. Beberapa menit lamanya Jaejoong merasa tidak dapat bernapas, hanya mampu melirik tubuh suaminya yang tak berdaya, yang sudah lemah, yang menyiratkan bahaya, seperti binatang jinak yang terluka dan kini berusaha menghancurkan siapa pun yang mencoba mendekatinya.

Siwon memperdengarkan tawa yang mengerikan, kemudian ambruk di atas bantal.

"Itukah yang dikatakan Yunho padamu? Bahwa aku mengusirnya karena ia mempermalukanku dengan menghamili anak yeoja keluarga Go?"

Mata Jaejoong tertuju pada tangannya. Ujung jarinya terasa kaku, AC rumah sakit hanyalah sebagian penyebabnya. Telapak tangannya basah karena keringat.

"Tidak. Kami tidak bicara soal itu," kata Jaejoong jujur.

"Hmm, supaya kau tidak mendapat informasi yang salah, sebaiknya kuluruskan. Aku tidak menyuruh Yunho meninggalkan rumah selama dua belas tahun. Tetapi ia tahu aku marah sekali padanya, tetapi bukan karena ia menghamili yeoja itu."

Siwon tertawa terkekeh. "Aku sudah mengira ia bisa melakukan kenakalan seperti itu. Bagaimanapun ia namja. Mereka akan meniduri yeoja bila dapat kesempatan, bukan?"

Jaejoong membuang muka. Kata-kata Siwon bak tombak yang dihunjamkan ke tubuhnya. "Kurasa memang demikian."

Tawa Siwon makin nyaring. "Percayalah padaku. Seorang namja akan melakukan apa pun, mengatakan apa saja, asal bisa menyusup ke balik rok yeoja. Apalagi kalau yeoja itu agak penurut.

Jaejoong memejamkan mata, ingin menghapus air matanya, ingin menghapus kata-kata Siwon, ingin menghapus perasaan malu yang menyergap dirinya.

"Tentu mereka tidak suka tertangkap basah seperti yang dialami Yunho. Ketika Go Namjun datang menemuiku dan mengatakan Yunho menghamili anak yeojanya, Ahra, aku langsung mengatakan padanya Yunho akan menikahi putrinya. Itu tindakan terhormat yang harus dilakukan, bukan?"

"Ya." Sakit rasanya harus mengucapkan kata itu.

"Hmmm, tetapi anak bajingan itu berkata bukan ia yang menghamilinya. Benar-benar memalukan. Bukan karena Yunho tertangkap basah ketika membuka celananya, tetapi ia tidak mau mengakui kecerobohannya. Kemudian Yunho mengatakan padaku, bila aku memaksanya menikahi yeoja itu, ia akan pergi dari rumah dan takkan pernah kembali."

Siwon menarik napas panjang, seakan ingatan akan peristiwa tersebut menyakiti hatinya.

"Aku harus melakukan apa yang menjadi kewajibanku, bukan demikian, Jae? Aku harus memaksanya menikahi yeoja itu. Ia yang memutuskan pergi dari rumah setelah itu, bukan aku. Makanya, tak perlu mengasihani Yunho, apa pun yang dikatakannya padamu. Ia yang berbuat, ia yang harus menanggung akibat perbuatannya seumur hidupnya."

Siwon terdiam, beberapa saat Jaejoong hanya melempar pandang ke luar jendela. Bila ia berbalik, Siwon akan menangkap keputusasaan yang melanda perasaannya saat itu, Siwon pasti akan tahu. Setelah berhasil mengendalikan perasaan, barulah Jaejoong kembali ke pinggir ranjang.

Siwon memejamkan mata ketika Jaejoong menyandarkan tubuhnya ke tubuh suaminya.

Jaejoong mengira Siwon sudah tidur. Perlahan-lahan ia beranjak meninggalkan kamar, tetapi secepat kilat Siwon mencengkeram pergelangan tangannya kuat-kuat. Jaejoong terkejut dan merasa sesak napas.

"Kau tetap berperilaku sebagai istri, kan, Jae?"

Sorot mata Siwon yang berapi-api membuat Jaejoong takut sekali, juga pertanyaannya.

"Tentu saja. Apa maksudmu?"

"Maksudku, kau akan menyesal bila melakukan sesuatu yang tidak pada tempatnya sebagai istri yang tengah berduka, sangat sedih menyaksikan suaminya dalam keadaan sekarat."

Jari-jari Siwon mencengkeram pergelangan tangan Jaejoong yang rapuh sampai membuat Jaejoong merasa tulang pergelangannya mau remuk. Dari mana Siwon punya kekuatan seperti itu?

"Jangan bicara soal kematian, Wonnie."

"Mengapa tidak? Itu kenyataannya. Tetapi kau harus ingat ini."

Kembali Siwon berusaha duduk. Air ludah terkumpul di ujung bibirnya yang biru ketika ia mendengus pada Jaejoong. "Sampai aku mati pun, kau tetap istriku. Dan sebaiknya kau berperilaku seperti itu."

"Aku berjanji," kata Jaejoong, yang mengucapkan janji dengan panik, dan berusaha melepaskan tangannya. "Maksudku, aku akan bersikap seperti itu."

"Aku bukan pemeluk agama yang patuh, tetapi ada satu hal yang aku yakini. Berniat melanggar hukum Tuhan sama berdosanya dengan melakukannya. Kau belajar tentang hukum itu waktu di Sekolah Minggu, kan?"

"Ne," jawab Jaejoong, hampir menangis, putus asa, takut pada Siwon, dan tidak tahu apa sebabnya ia merasa seperti itu.

"Pernah terpikir ingin melanggar hukum Tuhan?"

"Ani."

"Misalnya berzina?"

"Tidak!"

"Kau istriku."

"Ya."

"Sebaiknya kaucamkan itu."

Sesudah itu kekuatan Siwon lenyap. Kembali ia jatuh terkulai di bantalnya, sesak napas. Jaejoong melepaskan tangannya dari cengkeraman Siwon, lalu lari ke pintu. Ia ingin melarikan diri dari tempat itu tetapi hati nuraninya menegurnya, dan ia segera memanggil perawat.

"Suami saya," katanya dengan napas megap-megap.

"Saya... saya kira ia perlu disuntik. Ia sangat kacau."

"Kami akan menanganinya, Mrs. Jung," jawab perawat itu ramah.

"Kalau boleh saya bicara, Anda kelihatan sangat letih. Sebaiknya Anda pulang saja dulu."

"Ya, ya," jawab Jaejoong, mencoba mengumpulkan kekuatan. Jantungnya berdebar-debar. Ia gemetar ketakutan. Mengapa ia merasa demikian takut pada suaminya sendiri?

"Saya rasa, ya saya akan pulang."

.

.

_Mizuki Kitahara_

.

.

Yoochun melangkah keluar dari lift ketika Jaejoong akan masuk.

"Jae, ada apa?" Yoochun terkejut melihat air muka Jaejoong.

"Tidak, tidak ada apa-apa. Aku mau ke pabrik. Ada masalah di sana, tetapi jangan beritahu Siwon soal kepergianku. Ia sedang kacau."

Dengan napas tak beraturan, Jaejoong menyandarkan diri ke dinding lift, seakan itu tempat persembunyian yang aman baginya dari ancaman teror yang menakutkan.

"Ada yang bisa kubantu..."

"Tak usah," jawab Jaejoong, sambil menggeleng saat pintu lift mulai tertutup.

"Aku tak apa-apa. Cepat temui Siwon. Ia membutuhkanmu."

Pintu lift tertutup di antara mereka. Jaejoong menutup mulut dengan tangan, menekan kesedihan yang dirasakannya mulai menyesakkan tenggorokannya.

"Tuhan, oh, Tuhan," rintihnya, tidak menyangka Siwon bisa begitu menakutkan. Perutnya terasa seperti diaduk-aduk. Tubuhnya panas-dingin.

Jaejoong berusaha menguatkan diri untuk berjalan di sepanjang lobi lantai satu rumah sakit tanpa sedikit pun kelihatan dalam keadaan tertekan. Ketika sampai di mobil, gemetar tubuhnya berkurang. Dengan jendela mobil terbuka, Jaejoong mengemudikan mobil menyusuri tepi sungai. Angin menerpa rambutnya, membawa aroma musim panas. Lalu lintas tidak ramai dan ia mengemudi dengan cepat, berusaha mengusir ketakutan yang mencekam dirinya beberapa saat lalu.

Ia biarkan pikirannya mengembara. Siwon tak mungkin tahu apa yang terjadi antara ia dan Yunho musim panas itu. Yunho tidak mungkin menceritakan hal tersebut padanya. Jelas. Tak seorang pun pernah melihat mereka berdua atau menggosipkan mereka di kota. Tidak, Siwon pasti tidak tahu. Ia juga tak mungkin berpikiran Jaejoong dan Yunho saling tertarik. Siwon mengira ia dan Yunho baru saling mengenal beberapa hari lalu.

Ancaman terselubung dan peringatan yang diungkapkan Siwon semata-mata hanyalah khayalan dan perasaan bersalah dalam dirinya. Barangkali kata-kata yang dengan cermat dipilihnya tadi bukan dimaksudkan sebagai ancaman. Ya, batin Jaejoong sambil menggeleng. Kata-kata Siwon ingin dianggapnya punya makna yang sebaliknya. Namun mengapa Siwon mengatakan demikian?

Apa lagi yang dipikirkan Siwon? Tidak ada yang bisa dilakukannya, kecuali berpikir, menduga-duga, merasa ketakutan dan curiga. Pria yang otaknya biasa aktif seperti otak Siwon pasti merasa tersiksa ketika hanya bisa terbaring di ranjang sepanjang hari. Siwon paling benci duduk berdiam diri, tidak melakukan aktivitas apa pun. Makanya, kekuatan mental adalah satu-satunya yang tersisa dalam dirinya, sehingga pikirannya bekerja lebih keras untuk kompensasi bagi tubuhnya yang kini tak berdaya lagi.

Perasaan sakit hati dan marah memperbesar segala yang melintas di benak Siwon, membesar-besarkan masalah kecil. Ia memiliki istri yang tiga puluh tahun lebih muda darinya. Ia punya putra yang tampan dan sangat jantan. Saat ini keduanya tinggal serumah. Siwon menggabung-gabungkan fakta tersebut, yang kemudian menimbulkan kecurigaan yang menakutkan.

Siwon keliru! Jaejoong tidak melakukan perbuatan yang tidak boleh dilakukan seorang istri.

Namun kecurigaan Siwon ada benarnya. Membayangkan bercinta dengan Yunho sudah termasuk melanggar hukum Tuhan. Dan Jaejoong merasa tidak mampu menghilangkan bayangan itu.

Ia harus menghapus pikiran tersebut dari benaknya. Barangkali bila ia memperlakukan Yunho sebagai teman, meskipun kelihatan ganjil, bersikap sebagai ibu tiri yang menjaga kedamaian dalam keluarga, kenangan akan masa lalunya akan lenyap. Ia harus melihat kesalahannya dengan sudut pandang baru, menempatkannya ke masa sekarang, dan melupakan segala yang pernah terjadi di masa lalu.

.

.

_Mizuki Kitahara_

.

.

Ketika tiba kembali di pabrik pengolahan ginseng, sinar matahari sore yang sudah condong ke Barat masuk menyinari lantai melalui jendela yang terletak jauh tinggi di tembok. Jaejoong memandang ke sekelilingnya dengan jengkel. Pabrik sudah ditinggalkan para pekerja, hanya ada Yunho, yang telentang di lantai, satu kaki ditekuk, mengamati kerja mesin pengolah. Yunho sedang memukul besi mesin. Suaranya yang nyaring menggema, menenggelamkan suara langkah kaki Jaejoong.

"Ke mana orang-orang?"

Suara besi beradu berhenti. Kepala Yunho muncul dari balik salah satu peralatan dan ia duduk. Disekanya keringat di dahinya dengan sapu-tangan.

"Hai, aku tidak mendengar kau datang. Aku menyuruh orang-orang pulang satu jam lebih cepat. Tak ada yang bisa mereka kerjakan selama aku membetulkan mesin ini." Yunho mengarahkan ibu jarinya ke balik bahu, ke mesin yang tengah diperbaikinya.

"Debu di mana-mana. Kalau ada kabel yang tidak beres di ruangan ini, bisa berbahaya."

Seharusnya Jaejoong memarahi Yunho yang menyuruh para karyawan pulang lebih cepat, karena Yunho tidak berhak melakukan hal itu, tetapi itu tidak dilakukannya. Sewaktu mengemudi mobil tadi, Jaejoong yakin keputusan yang dibuat Siwon diambil karena ia harus tinggal di rumah sakit. Tindakan yang dilakukan tanpa izin darinya adalah hal yang sangat dibenci Siwon. Tetapi Jaejoong membela diri, bila Siwon tidak tahu, itu tidak akan menyakiti hatinya. Pada akhirnya, apa yang baik untuk pengolahan Jung adalah apa yang Siwon ingin Jaejoong lakukan.

Jaejoong berjongkok di dekat Yunho. "Otte? Sudah ketemu masalahnya?"

"Ya, dan cukup rumit."

"Bisa diperbaiki?"

"Sementara." Yunho menarik napas dan menyeka keringat di alis dengan lengan baju. "Bagaimana kondisi Appa hari ini?"

Mengingat apa yang terjadi di dalam ruangan rumah sakit membuat Jaejoong menggigil. "Tidak terlalu baik. Hampir sama saja."

Yunho mengamati Jaejoong, tetapi Jaejoong tidak ingin memperlihatkan perasaannya. Cepat-cepat ia mengubah topik pembicaraan dengan bertanya,

"Kau sudah makan?"

"Belum. Aku kepanasan dan badanku kotor untuk makan."

Memang benar, badan Yunho kotor. Wajahnya berminyak dan berkeringat. Membuat giginya jadi kelihatan lebih putih ketika ia tersenyum.

"Lagi pula, aku tak mau membuang waktu."

Jaejoong tersenyum lalu merogoh kantong kertas putih. "Kubawakan makan siang untukmu. Kau tidak perlu berhenti bekerja kau bisa meminum makan siang ini." Jaejoong memasukkan sedotan ke gelas plastik.

"Apa ini?"

Jaejoong menyerahkan gelas tinggi dan dingin itu ke tangan Yunho, lalu berdiri. "Milk shake cokelat."

.

.

.

.

.

To Be Continued

review ne?