~Misunderstand Love~ / PART 10
Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto ( Naruto hanya milik Masashi Kishimoto)
Judul : Misunderstand Love
Author : Ciel Bocchan a.k.a Febi N Maulida
Genre : Comedy, Romance, School Life, Brothership, Friendship, and Family
Pairing : NaruHina ( Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata) and Other.
Rating : T
Hinata kaget ketika ia turun dari mobil, Neji berjalan ke arahnya dengan wajah serius. Gadis itu menatap kakaknya dengan kening mengerut.
"Niisan, a-ada apa?" tanya Hinata.
"Masuklah" kata Neji sambil berjalan di belakang Hinata. Neji tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini, dalam beberapa menit ke depan. Ia akan berdiri di belakang adiknya itu untuk menopang. Neji bahkan sudah mendapatkan sekolah baru yang bagus untuk Hinata tidak lebih dari satu jam. Dan besok adiknya itu sudah bisa masuk ke sekolah tersebut seperti yang Ayahnya inginkan. Karena keluarga mereka memiliki banyak relasi. Bahkan Neji kenal baik dengan beberapa kepala sekolah karena sejak dulu Hyuuga Hiashi sudah mengajarkan padanya bagaimana membuat hubungan yang baik dengan orang-orang penting. Lalu, Ayahnya memperkenalkan orang-orang penting tersebut padanya.
Hinata heran ketika Neji membawanya ke ruang keluarga dan di sana sudah ada Ayah dan Ibu yang duduk menunggunya dengan wajah serius. Hinata melihat sekilas pada mata Ibunya yang seperti baru saja menangis. Gadis itu kemudian menurut ketika Neji menyuruhnya duduk dan kakaknya itu duduk di sampingnya. Ini seperti deja vu. Saat Hinata pernah mengaku pada Ayahnya bahwa ia sedang menyukai seseorang. Tapi, keadaan sekarang terasa jauh lebih menegangkan.
"Hinata, besok Ayah akan mengantarmu ke sekolah yang baru" Hiashi membuka pembicaraan dengan pemberitahuan yang mengejutkan Hinata.
"...Eh?"
Neji melihat pada adiknya itu dengan wajah sedih. Jelas sekali kalau Hinata sangat kaget.
"A-apa yang...Ayah katakan...?" tanya Hinata terbata.
"Neji sudah mengurus kepindahanmu, jadi, mulai besok kau sudah bisa masuk ke sekolah baru"
Hinata terdiam. Gadis itu sedang mencerna apa yang sedang terjadi sekarang.
"Jangan memperpanjang pembicaraan masalah ini lagi. Sudah waktunya makan malam" kata Hyuuga Hiashi sambil berdiri. Ayahnya itu sudah akan melangkah keluar dari ruang keluarga ketika Hinata kemudian bertanya dengan suara lantang.
"Kenapa?"
Langkah Hiashi berhenti. Ayah juga Ibunya menoleh. Ibunya sama sekali tak bisa membantu. Karena apa yang dikatakan suaminya adalah sesuatu yang sama sekali tak bisa ia bantah. Ibunya tak pernah melawan Ayah. Beliau melakukan apa yang Ayah katakan. Tidak melakukan jika Ayah melarang. Tidak berbicara jika Ayah tidak mengizinkan. Itulah Ibu mereka. Perempuan yang seluruh hidupnya hanya untuk patuh pada kata-kata suaminya benar atau salah hal tersebut. Bahkan hanya untuk membela anak-anaknya dia tidak akan berani jika orang yang ia lawan adalah suaminya. Tetapi Ibu mencintai Ayah. Mencintai sikap keras kepala dan begitu dinginnya Ayahnya mereka.
"Bukankah kau seharusnya sudah tahu apa kesalahanmu?" sahut Hiashi sambil menatap putrinya yang masih duduk menatapnya dengan wajah shock. Mendengar kalimat itu membuat Hinata teringat pada Naruto. Mencintai Naruto adalah jelas suatu yang salah bagi Ayahnya.
"...Ayah..."
"Kau tidak mungkin lupa pada apa yang pernah terjadi kakakmu, bukan? Masalah yang kau buat bahkan lebih besar. Kau tahu kenapa waktu itu Ayah melarang kakakmu menyukai perempuan seperti itu? Karena latar belakang kita jelas berbeda. Neji tidak akan pernah menikahi perempuan yang berasal dari kalangan bawah. Ayah akan memaksanya. Pasti. Untuk menyukai perempuan yang sudah jelas sangat pantas baginya. Sementara kau, masalah yang kau buat bukan ada pada status sosial karena Ayah sudah mendengar tentang keluarga Uzumaki dari kakakmu. Masalahnya adalah...anak itu masih terlalu kecil bahkan untuk menjaga dirinya sendiri. Kau pikir bagaimana dia bisa menjagamu? Uzumaki Naruto, anak SMP yang suka berkelahi sepertinya tidak akan bisa kau cintai. Lagipula, bagaimana anak-anak sepertinya bisa meyakinkanmu bahwa dia menyukaimu? Dia hanya anak-anak. Yang bahkan belum berpikir tentang masa dengan. Yang ada dipikirannya hanyalah bermain-main"
Hinata sudah menangis.
"Kau mengerti, Hinata? Sekarang, ganti pakaianmu dan turun untuk makan malam. Dan juga...mana ponselmu?"
Ayah dan Ibunya akhirnya keluar dari ruang tamu. Hiashi membawa ponsel Hinata karena ia tahu kalau putrinya itu pasti akan menghubungi Naruto setelah ini.
"Kau tahu kau tidak akan bisa menyembunyikan ini dari Ayah. Meskipun hari ini kakak tidak memberitahu Ayah. Keadaan akan lebih parah jika Ayah mengetahuinya sendiri. Kakak minta maaf, Hinata." Neji memeluk Hinata yang terisak. Hinata balas memeluk kakaknya. Jika saja Neji tidak ada. Tidak akan ada orang lain lagi yang bisa membuatnya tenang dalam situasi seperti ini. Tidak ada yang salah dalam masalah ini. Mungkin Hinata yang salah. Tidak. Baginya mencintai Naruto bukan kesalahan. Hanya saja pemikiran Ayah mereka terlalu bertentangan dengan apa yang ia inginkan. Sama seperti yang penah terjadi pada Neji.
Apa yang harus ia lakukan sekarang dan selanjutnya? Bagaimana ia memberitahu Naruto masalah ini? Bagaimana reaksi Naruto ketika mengetahui kepindahannya? Bagaimana anak itu ketika suatu pagi ia tak lagi melihat Hyuuga Hinata berangkat ke sekolah melewati rumahnya? Selamanya.
Karena Hyuuga Hinata baru saja berjanji padanya sorenya tadi untuk tetap bersamanya. Akan berangkat bersama ke sekolah setidaknya sampai Hinata menyelesaikan masa SMU. Gadis itu yang berjanji dan Naruto mempercayainya dengan senyum lebar. Namun pada kenyataannya, hanya Ayahnya yang memiliki kehendak untuk melakukan apapun terhadap anak-anaknya. Ayahnya membuat Hinata mengingkari janji yang bahkan belum berjalan lebih dari dua jam. Ia menghianati Naruto. Itu yang Hinata tahu pada apa yang telah ia lakukan terhadap Naruto sekarang.
"Berbicara dengan keluarga Hinata-san?" seru Menma sangat kaget ketika akhirnya ia dan Naruto berbicara berdua di kamar Menma. Aah, pantas saja Ayah dan Ibu sangat cemas bahkan Ibu sampai menangis. Permintaan Naruto memang gila. Adiknya itu ingin agar saat ini Hinata bisa resmi menjadi miliknya sementara menunggu waktu berlalu sampai akhirnya ia bisa mengambil gadis Hyuuga itu.
"Naruto, apa kau bisa bertanggungjawab?"
"Kalau sekarang aku belum bisa, aku akan belajar. Jadi, Oniisan, bantu aku"
Menma tahu Naruto menyukai Hinata. Tapi ia sama sekali tak menduga kalau adiknya itu akan seberani ini meminta Ayah dan Ibu berbicara dengan orangtua Hinata. Ibu benar. Naruto memang sudah gila. Tapi seberapapun gilanya Naruto, pada akhirnya Menma juga tidak bisa menolak untuk tidak membantu adiknya itu.
"Makan malam sudah siap!" terdengar suara Ibu mereka berseru dari bawah. Tanpa mengetahui jawaban dari Menma pun Naruto tahu kalau kakaknya itu pasti akan membantunya.
"Neechan, kau menginap di sini lagi?" tanya Naruto pada Shion yang sedang mempersiapkan makan malam di atas meja membantu Kushina.
"Ya. Omong-omong sore tadi kau kemana? Saat aku sampai aku tidak melihatmu. Begitu pulang juga kau langsung membicarakan sesuatu dengan Menma" kata Shion
"...Aku ke rumah Sasuke" kata Naruto bohong sambil duduk siap untuk makan malam.
Menma sedang berpikir apakah ia harus memberitahu Shion masalah ini. Siapa tahu gadis itu bisa membantu. Lagipula selain dirinya, Shion juga bisa mengerti bagaimana harus bersikap terhadap Naruto. Bercerita pada gadis itu tentu bukan hal yang salah.
"Ada apa?" tanya Shion ketika mereka telah selesai makan malam dan Menma mengajak Shion untuk berbicara. Naruto menduga pasti kakaknya itu akan menceritakan masalah ia yang menyukai Hyuuga Hinata pada Shion.
"Kau tahu temanku Hyuuga Hinata itu, bukan?" tanya Menma sambil duduk di kursi belajarnya menghadap pada Shion yang duduk di pinggir tempat tidurnya.
"Iya, ada apa dengannya?"
"...Apa kau percaya kalau aku bilang Naruto menyukainya?" tanya Menma hati-hati. Shion bisa saja menertawakannya karena pertanyaan tersebut.
"Percaya. Memangnya kenapa?" tanya Shion heran
"Kau percaya? Kau tidak merasa aneh Naruto menyukai orang yang lebih tua darinya?"
"Apa yang enah? Wajar jika mungkin Naruto menyukainya, kan? Perbedaan usia bukan masalah besar" kata Shion
"Naruto benar-benar menyukainya, kau tahu?"
"Hah? Jadi benar? Sudah kuduga" sahut Shion dengan wajah seolah ia sudah yakin kalau Naruto memang akan jatuh cinta pada gadis Hyuuga itu. Menma malam menatapnya heran. Kenapa Shion tak kaget sama sekali? Maksudnya, tak sekaget dirinya ketika menyadari bahwa adiknya itu menyukai Hyuuga Hinata.
"Masalahnya adalah Naruto masih terlalu kecil untuk memahami cintanya pada seorang gadis. Siapa yang bisa menjamin kalau dia tidak akan merubah pikirannya dalam beberapa bulan kedepan" ujar Menma
"Aku juga menyukaimu sejak SMP tapi perasaanku tak berubah, bukan? Itu juga akan terjadi pada Naruto kalau dia benar-benar serius dengan Hinata-san. Apa kau pikir Naruto anak yang suka mempermainkan perasaan oranglain?"
"Tentu saja tidak. Tapi bagaimana kita harus membantunya? Maksudku, kau belum tahu keluarga Hyuuga Hinata. Ayah dan kakaknya benar-benar dingin dan menyeramkan. Bahkan teman dekat gadis itu juga bersikap dingin. Bagaimana Naruto bisa mendekati orang-orang seperti mereka. Ayah Hinata bukan pria sembarangan yang bisa menerima pria manapun memiliki putrinya. Aku yakin itu karena melihat dari jauh saja, tanpa berbicara, kau bisa tahu Ayah Hinata-san itu seperti apa"
"Karena itulah Naruto meminta bantuanmu, bukan?"
Menma membenarkan semua perkataan Shion. Mereka memang harus membantu Naruto. Jika bukan dari keluarga sendiri yang membantu lantas siapa lagi? Karena hanya orang-orang terdekat yang dapat dipercayai dan bisa membantu. Keinginan Naruto mungkin akan menjadi keinginannya juga suatu saat nanti ketika ia sudah menemukan gadis yang ia cintai. Tetapi, bagaimana cara mereka menghadapi Ayah Hyuuga Hinata?
Hinata tidak mengangkat teleponnya. Gadis itu juga tidak membalas emailnya. Dan pagi ini, Naruto bahkan tidak melihat Hinata berangkat sekolah melewati rumahnya? Apa gadis itu lewat jalan lain? Tapi kenapa? Kenapa tidak memberitahunya? Dia juga tidak bisa dihubungi semalaman. Apa dia baik-baik saja? Atau terjadi sesuatu dengan ponselnya?
"Uzumaki-san!"
Naruto kaget. Ia baru sadar dari lamunannya. Dia langsung tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Guru yang memanggilnya tadi hanya menghela nafas. Sasuke melihat ke arahnya sambil menggelengkan kepalanya. Sejak tadi Naruto memang terlihat melamun. Biasanya dia tidak bisa seperti itu kecuali saat dulu dia mendadak jatuh cinta pada Hyuuga Hinata. Apa mungkin terjadi sesuatu lagi?
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Sasuke ketika mereka sedang istirahat sambil makan sianng di kantin sekolah seperti biasa. Kiba, Shino, Shikamaru, dan Sai juga bergabung. Mereka memang belum tahu bagaimana perkembangan hubungan Naruto dan Hinata.
"Sebenarnya aku dan Hinata-neechan sudah berpacaran" gumam Naruto serius dan bersiap untuk melanjutkan ceritanya. Sasuke dan teman-temannya lainnya mengangguk.
"Oh, kalian sudah berpacaran?...Apa kau bilang?" suara Sasuke yang tadi terdengar mengerti langsung berubah. Yang lain juga melihat pada Naruto dengan wajah kaget.
"Kenapa kalian sangat kaget?" tanya Naruto heran
"S-s-sejak kapan?"
"Jadi Oneesan itu juga menyukaimu?"
"Kenapa Hinata-neesan menyukaimu?"
"Bagaimana kalian bisa pacaran?"
Naruto menatap aneh satu per satu pada teman-temannya yang terlihat sangat kaget. Memangnya kenapa kalau mereka berpacaran? Kenapa mereka sikap kaget teman-temannya terlalu berlebihan.
"Itu berarti masalah kesalahpahaman kalian sudah selesai, kan?" tanya Kiba. Yang lain mengangguk.
"Umm, ya" jawab Naruto.
"Jadi, bagaimana dengan rencana mentraktir kami?" tanya Sai
"Sai benar, kau seharusnya mentraktir kami" dukung Kiba antusias. Naruto menatap teman-temannya dengan wajah malas. Tapi akhirnya dia menyanggupi permintaan tersebut. Ya, berbagi kebahagiaan dengan teman-teman adalah hal yang sangat menyenangkan. Sasuke yang tadinya mengira terjadi sesuatu pada Naruto tidak jadi bertanya lagi melihat Naruto kembali bersemangat sekarang. Mungkin hanya perasaannya saja. Lagipula jika memang ada masalah pasti Naruto akan memberitahunya seperti ketika ia sedang memiliki masalah kesalahpahaman dengan kakaknya dan juga Hyuuga Hinata. Tidak perlu mengkhawatirkannya berlebihan. Karena Naruto sudah lebih dewasa dari yang terlihat. Jika dia perlu bantuan dia pasti akan langsung mengatakannya. Hubungan Naruto dengan Hyuuga Hinata sepertinya berjalan cukup baik walaupun ia agak kaget karena ternyata gadis Hyuuga itu juga menyukai Naruto dengan perbedaan usia mereka meskipun tidak terlalu jauh. Sasuke benar-benar ingin bertemu dengan Hinata dan bertanya bagaimana gadis sepertinya bisa menyukai Naruto. Bukan karena Naruto buruk atau apa. Rasanya hubungan mereka menjadi lucu karena perbedaan usia tersebut. Sasuke tidak bisa membayangkan bagaimana jika mereka berkencan dan Naruto masih memanggil gadis itu dengan 'Oneechan'. Jika Sakura tahu bagaimana hubungan Naruto dan Sakura gadis itu pasti akan meminta ijin pulang sebentar setidaknya satu jam hanya untuk melihat wajah Naruto yang sedang bahagia dan untuk melihat Hyuuga Hinata yang mungkin akan membuatnya kaget karena tidak menyangka kalau gadis SMU sepertinya akhirnya memutuskan menerima anak yang masih SMP sebagai pacarnya. Tetapi, baik Sasuke maupun Sakura, keduanya tetap ingin yang terbaik untuk Naruto.
Akhirnya, mereka semua makan di luar setelah sekolah selesai. Naruto sambil sibuk mengecek ponsel dan menghubungi Hyuuga Hinata tetapi nomor gadis itu tidak aktif. Dia juga tidak membalas emailnya. Sampai sebuah email dari Menma masuk ke ponselnya. Memberitahu kalau dia ingin membicarakan sesuatu.
"Ini uangnya, aku pulang dulu" kata Naruto tiba-tiba sambil meletakkan uang di atas meja makan mereka. Dia bahkan belum menghabiskan makanannya. Semua temannya kaget dan mendongak.
"Ada apa?"
"Ada masalah mendadak. Sampai ketemu besok pagi" ujar Naruto sambil tersenyum lebar lalu berjalan cepat keluar dari kedai.
"Tidak apa selama dia meninggalkan uang untuk kita" kata Sasuke sambil tersenyum dan menunjuk pada uang di atas meja dengan kepalanya. Mereka akhirnya makan tanpa Naruto dan bercanda seperti biasanya.
Sementara Naruto, terburu-buru menuju sekolah kakaknya. Ia merasa kalau yang ingin Menma bicarakan pasti tentang Hyuuga Hinata. Apa gadis itu berangkat sekolah dan kebetulan tidak melewati rumahnya seperti biasa atau ada hal lain yang terjadi.
Menma belum pulang karena ada kegiatan klub. Ia tidak bisa menunggu sampai mereka bertemu di rumah atau menyembunyikan masalah ini. Ia sebenarnya tidak ingin mengatakan hal ini pada Naruto tapi adiknya itu sangat berhak tahu. Entah akan seperti apa rekasinya nanti.
"Niisan" panggil Naruto sambil berlari ke arahnya. Menma menunggu di pintu utama sekolah dengan gugup. Perasaannya langsung tidak tenang begitu melihat adiknya itu muncul. Ia merasa kasihan.
"Apa hari ini Hinata-neechan masuk? Aku menghubunginya tapi ponselnya tidak aktif. Emailku tidak dibalas. Apa mungkin ponselnya rusak atau semacamnya? Hari ini dia tidak lewat rumah kita seperti biasa karena itu aku khawatir" kata Naruto begitu berdiri di depan kakaknya. Menma mengatur nafasnya dan mencoba untuk mulai bicara. Naruto ternyata sudah merasa ada yang aneh karena pagi tadi Hinata tidak melewati rumah mereka seperti biasa. Adiknya itu menyukai Hyuuga Hinata dan karena perasaan itulah akhirnya dia menjadi cemas.
"...Naruto, Hinata-san sudah pindah sekolah"
"Iya, dia tidak masuk..." Naruto langsung berhenti bicara lalu menatap kaget pada wajah Menma. Pemuda itu terdiam. Kedua matanya menatap Menma tidak percaya. Saat itu yang Naruto pikirkan hanya satu, kalau telinganya salah mendengar.
"Apa..."
"Wali kelas kami memberikan pengumuman itu pagi tadi. Hinata-san sudah dipindahkan ke sekolah lain. Kupikir kau perlu mengetahuinya karena itu aku menyuruhmu kemari, Naruto"
Apa yang terjadi? Naruto merasa semuanya langsung hilang, Hinata dan semuanya harapannya pada gadis itu. Mereka baru saja bertemu malam tadi dan berjanji banyak untuk kehidupan mereka selanjutnya. Tetapi, apa sekarang? Kurang dari dua belas jam janji –janji mereka seakan tak pernah terucap dan tidak akan pernah terjadi. Hinata tiba-tiba pindah sekolah. Kenapa? Ia tahu rumah gadis itu dan bisa berkunjung ke sana. Tetapi, berkunjung ke rumahnya tidak semudah mengunjungi taman hiburan. Bahkan untuk berani menyukai gadis Hyuuga itu saja harus mengumpulkan seluruh keberanian dan kepercayaan dirinya. Karena Naruto tahu, Hyuuga Hinata bukan gadis yang bisa sembarangan di dekati oleh laki-laki. Gadis itu di didik dengan keras oleh Ayahnya. Keluarganya memiliki aturan dan banyak batasan. Naruto tahu itu dan dirinya sudah berani untuk mengambil resiko dan jatuh cinta pada Hinata. Semua orang tidak akan percaya jika ia bilang kalau ia bisa mempertanggung jawabkan perasaannya terhadap Hyuuga Hinata. Karena ia masih empat belas tahun dan terlalu muda untuk bisa mencintai seseorang dengan serius. Tapi Naruto yakin kalau perasaannya terhadap Hinata sampai kapanpun tidak akan berubah.
Tetapi, kenapa di saat mereka baru saja memulai semuanya Hinata malah pergi dari tempat yang mudah ia jangkau? Gadis itu tidak mengatakan apa-apa tentang perpisahan yang tiba-tiba ini. Bukankah tadi malam Hinata berjanji kalau mereka akan terus bersama dan berangkat bersama ke sekolah setidaknya sebelum gadis itu lulus? Dan mereka membicarakan hubungan mereka selanjutnya. Mengenai usia, perbedaan, keluarga, dan hal-hal lainnya. Semuanya baru saja di mulai malam tadi namun hancur bahkan sebelum apapun yang mereka janjikan bersama terwujud.
"Naruto, kau mendengarku?" tanya Menma
"...Uh, umm..ya...Niisan, aku...pulang dulu" sahut Naruto yang terdengar bingung dengan jawabannya sendiri. Wajah adiknya itu entah kenapa tiba-tiba terlihat pucat dan kosong. Atau mungkin itu hanya perasaannya saja? Naruto akhirnya berjalan pergi dengan langkah yang sangat pelan. Dia seperti kehilangan semangat atau semacamnya. Melihat sikap adiknya itu yang tiba-tiba terlihat aneh membuat Menma semakin yakin kalau Naruto memang menyukai Hyuuga Hinata dan dia kaget ketika mengetahui kalau gadis itu sudah pindah. Menma juga awalnya kaget, lalu bingung, kenapa Hyuuga Hinata tiba-tiba pindah. Gadis itu sama sekali tak memiliki masalah apapun di sekolah.
Uzumaki Menma pulang setelah rapat dengan anggota klubnya. Ia pulang terlambat lagi. Ia ingin cepat pulang karena khawatir pada Naruto.
"Uzumaki Menma?" sebuah suara tiba-tiba muncul di belakangnya ketika ia bersiap untuk pulang. Menma menoleh dan kaget ketika melihat ternyata suara itu adalah milik Hyuuga Neji.
"Boleh aku bicara sebentar?" tanyanya kemudian.
"Y-ya" sahut Menma masih heran. Mereka kemudian berjalan dan duduk di sebuah bangku di halaman depan sekolah. Beberapa siswa masih terlihat berjalan kesana-kemari karena kegiatan klub biasanya membuat mereka terpaksa harus pulang saat waktunya makan malam.
"Bagaimana...keadaan Naruto-san?" tanya Neji. Menma menjawab dengan raut wajah masih bingung kenapa Hyuuga Neji tiba-tiba mendatanginya dan lagi sepertinya dia ingin membicarakan Naruto.
"Dia baik-baik saja." Neji terlihat diam untuk beberapa detik kemudian kembali berbicara.
" Ayah kami membuat keputusan sepihak setelah tahu kalau Hinata jatuh cinta pada adikmu"
"Apa? Ayahmu...bagaimana..."
"Ayahku adalah orang yang sangat keras. Apalagi terhadap putri-putrinya. Masalah bukan ada pada status sosial lagi sekarang. Tetapi pada usia mereka"
Menma masih berusaha mencerna seluruh perkataan Neji. Jadi, Ayah Hinata dan Neji sudah tahu? Karena beliau sudah tahu akhirnya Hinata dipindahkan dari sekolah yang berada dalam jangkauan Naruto. Itu berarti bahwa Ayah Hinata tidak menyetujui perasaan putrinya itu terhadap Naruto begitupun perasaan Naruto terhadap Hinata. Masalahnya ada pada usianya di mana Naruto lebih muda dua tahun dari Hinata. Ayah Hinata pasti berpikir kalau Naruto tidak pantas untuk putrinya karena Naruto masih terlalu kecil untuk bisa bertanggung jawab. Dan setelah semua perasaan mereka diketahui oleh Ayah Hinata, gadis itu langsung dipindahkan untuk menghindari kemungkinan Hinata terus bertemu Naruto seperti biasa.
"Jadi, kau setuju dengan Ayahmu atau Hinata?" tanya Menma setelah menyimpulkan dengan yakin dari semua perkataan Neji sebelumnya.
"Aku tidak setuju dengan keputusan Ayah. Aku juga tidak setuju dengan perasaan Hinata" jawab Neji
"Aku ingin tahu bagaimana keadaan Hinata-san" tanya Menma. Neji yang tadinya berbicara sambil memandang ke depan menoleh pada pemuda Uzumaki berambut merah jabrik itu.
"Kenapa kau ingin tahu?"
"Aku ingin pulang dengan membawa kabar pada Naruto bahwa setidaknya Hinata-san baik-baik saja. Bukankah aku sudah memberitahumu keadaan Naruto?"
"...Dia baik-baik saja" kata Neji
"Aku tahu kau akan mengatakan itu meskipun sebenarnya keadaannya tidak sedang baik-baik saja..."
"Hinata baik-baik saja!" Neji malah membentak
"Dia tidak mungkin baik-baik setelah semua yang terjadi sekarang. Apa kau pikir saat aku mengatakan Naruto baik-baik saja itu berarti dia memang baik-baik saja?." Neji diam mendengar kata-kata Menma. Hinata memang sedang tidak baik-baik saja sejak malam tadi
"Mereka berdua tidak mungkin baik-baik saja sekarang. Aku ingin yang terbaik untuk adikku dan itu berarti aku akan mendapatkan kembali Hinata-san untuknya. Dan kau...adalah kakak Hinata-san, bukan?" Kalimat Menma berakhir dengan pertanyaan yang sudah ia tahu jawabannya. Pemuda itu kemudian berdiri dari bangku taman tersebut dan melangkah pergi meninggalkan Neji yang hanya diam melihatnya pergi.
"Ya. Aku adalah kakaknya" gumam Neji"
Menma tidak langsung kembali ke rumah. Ia pergi menemui Shion ke rumah gadis itu. Ia membutuhkan pendapat gadis itu sekarang. Shion adalah orang yang bisa menghibur Naruto selain keluarga dirinya, Ayah, dan Ibu. Ia akan mengajak Shion untuk ke rumah malam ini. Ini sudah waktunya makan malam, pasti gadis itu sedang makan malam. Shion tidak punya kegiatan klub atau kegiatan apapun hari ini selain sekolah.
"Menma?" seru Shion kaget ketika membuka pintu dan melihat ternyata tamu yang datang adalah orang yang selalu ingin dilihatnya setiap saat.
"Selamat malam" ujar Menma sambil tersenyum. Shion mengangguk sambil tersenyum dan mengucapkan selamat malam pula. Gadis itu kemudian memeluk salah satu lengan Menma kemudian membawa pemuda itu masuk. Ibu Shion yang sedang menyiapkan makan malam di ruang makan langsung berseru senang begitu melihat Menma datang. Mereka akhirnya makan malam bersama. Shion sudah merasa ada sesuatu yang salah dengan ekpresi wajah Menma ketika pemuda itu muncul di depan pintu rumahnya. Pasti ada masalah yang sedang terjadi, karena itu Menma datang menemuinya langsung.
"Kau harus melihat Naruto. Aku khawatir padanya setelah tahu kalau Hinata-san tiba-tiba pindah sekolah hari ini" ujar Menma setelah menjelaskan apa yang terjadi pada Shion ketika mereka sudah berada di kamar gadis itu setelah makan malam selesai.
"Ini jadi semakin serius karena masalah sebenarnya bukan pada usia mereka tetapi pada Ayah Hinata-san. Aku tidak yakin Ayahnya bisa menerima Naruto dengan keadaan Naruto yang sekarang masih terlalu muda untuk putrinya" kata Shion yang juga ikut khawatir. Akhirnya, gadis itu ikut pulang ke rumah Menma untuk menemui Naruto. Sayangnya...
"Naruto belum pulang?" seru Menma kaget ketika ia dan Shion sudah sampai di rumah tetapi Ibunya mengatakan kalau Naruto memang belum pulang.
"Oniichan, ada apa?" tanya Kushina yang juga ikut khawatir melihat putra tertuanya itu sangat kaget mendengar adiknya yang belum pulang. Shion juga datang bersamanya dan terlihat kaget. Mungkin sesuatu yang buruk telah terjadi, pikir Kushina.
"T-tidak apa-apa, Bu. Naruto hanya belum mengembalikan buku temanku yang aku pinjamkan padanya. Kalau begitu, aku dan Shion harus ke rumah teman kami dulu" jawab Menma kemudian langsung menarik tangan Shion yang sedang pamit pada Ibunya. Mereka berdua harus mencari Naruto sebelum Ayah dan Ibunya curiga.
Menma langsung menghubungi Sasuke, menanyakan apakah Naruto mungkin ada di rumahnya. Tetapi, adiknya itu ternyata tidak ada di sana. Ia kemudian menelpon Kiba, Shikamaru, Sai, dan Shino. Dan jawaban mereka sama seperti Sasuke. Naruto tidak ada di rumah mereka. Kemana adiknya itu pergi? Teman-teman terdekatnya hanya mereka. Dia tidak mungkin pergi ke tempat seseorang yang tidak dikenalnya.
"Mungkin kita harus mencoba menelpon Hinata-san?" tanya Shion ketika mereka sedang duduk di halte setelah menelpon teman-teman terdekat Naruto.
"Nomornya tidak pernah aktif lagi sejak malam tadi. Naruto juga menelpon dan mengiriminya email tapi sama sekali tidak ada balasan"
"Bagaimana dengan telepon rumah?"
"Ayahnya pasti akan tahu kalau kita menelpon ke sana malam-malam seperti ini" ujar Menma
"Itu kalau kamu yang berbicara" kata Shion. Menma diam sebentar kemudian tersenyum kecil. Pemuda itu kemudian mencari nomor telepon rumah Hyuuga Hinata. Kemudian menghubungi gadis itu melalui nomor tersebut dan memberikannya pada Shion.
"...Moshi-moshi?...Saya Shion, teman kelas Hinata-chan,...Paman Ayahnya Hinata-chan? Apa saya boleh berbicara dengannya?...Hinata-chan pernah meminjam buku dan beberapa benda sekolah lainnya dari saya dan belum dikembalikan. Ketika tahu dia tiba-tiba pindah saya kaget" ujar Shion yang bericara dengan Ayah Hinata. Menma yang melihat dan mendengar gadis itu berbicara hanya tersenyum menahan tawa. Caranya berbohong benar-benar sangat meyakinkan.
"Bicara langsung saja dengan Hinata" kata Hyuuga Hiashi lalu memanggil Hinata yang sedang duduk makan malam. Karena posisi telepon tidak terlalu jauh dari meja makan. Sementara Hyuuga Hiashi kembali duduk dan makan. Neji yang juga ada di sana berpikir kalau yang menelpon pasti salah satu teman Naruto atau memiliki hubungan dengan pemuda Uzumaki itu.
Hinata hanya berdiri menatap telepon itu untuk beberapa detik. Kalau tadi Ayahnya berbicara seperti biasa itu berarti yang menelpon bukan seorang laki-laki. Dan itu berarti bahwa si penelpon bukan Uzumaki Naruto. Ia berharap bahwa setiap kali telepon rumah mereka berbunyi itu adalah telepon dari Naruto. Sejak malam tadi ia bahkan tidak memilki celah untuk menghubungi Naruto. Ia juga takut mengubungi pemuda itu lebih dulu. Naruto pasti sudah sangat kecewa padanya sekarang.
"Moshi-moshi?" kata Hinata setelah menjawab telepon tersebut. Shion yang mendengar di seberang sana langsung menyerahkan ponsel tadi pada Menma.
"Hinata-sana, ini Menma. Jangan bicara apapun dulu yang akan membuatmu Ayahmu curiga. Dengarkan saja aku dan bicaralah seolah-olah kau telah meminjam buku dari salah satu teman sekelasmu dan belum kau kembalikan untuk menyahut ucapanku. Karena tadi Shion berbohong seperti itu pada Ayahmu"
"Baiklah"
"Naruto sudah tahu kalau kau pindah tiba-tiba. Aku memberitahunya sore tadi di sekolah kita. Saat aku pulang ke rumah tadi ternyata dia belum kembali ke rumah. Aku khawatir karena dia mungkin sedih dan kaget mendengar kabar kalau kau pindah tanpa mengatakan apapun padanya"
Hinata diam menahan emosinya. Ingin menangis. Ia ingin berbicara dengan Naruto. Ia ingin melihat pemuda itu.
"Aku minta maaf. Pasti akan kukembalikan. Tapi kau baik-baik saja tanpa buku itu, bukan?"
Menma bisa mendengar suara Hinata yang gemetar. Gadis itu pasti sedang menahan emosinya.
"Aku tidak yakin apa dia baik-baik saja setelah sore tadi. Aku dan Shion sedang mencarinya. Apa kau bisa keluar rumah dengan alasan mengembalikan buku pinjamanmu? Tapi tidak malam ini, bagaimana dengan pukul lima sore besok?"
"Besok sore aku ada latihan piano. Ayah, Shion-chan ingin mengambil bukunya besok sore tapi aku bilang kalau aku ada latihan piano. Apa dia bisa mengambilnya di tempat les saja?" seru Hinata pada Ayahnya. Hanya tempat les satu-satunya tempat yang paling baik dan aman untuk bertemu Naruto.
"Ummm..baiklah. Hinata, pastikan kau mengembalikan semua barangnya"
"Baiklah. Shion-chan, besok sore di tempat les ku" kata Hinata. Menma tersenyum cukup lega. Tempat les Hinata. Kenapa ia tidak berpikir tentang tempat les itu? Bukankah Naruto bisa menemui Hinata setiap gadis itu les? Ayahnya tidak mungkin sampai menunggu Hinata selama les.
"Pastikan kau datang. Aku akan membawa semua barang-barangmu" ujar Hinata lagi. Gadis itu punya banyak sekali harapan untuk esok hari.
"Aku akan memberitahu Naruto. Kalau nanti dia bertanya padaku apakah kau baik-baik saja aku harus menjawab kalau kau baik-baik saja, kan?"
"Ya"
Neji mendengar pembicaraan adiknya itu. Shion? Hinata tidak memiliki teman sekelas bernama Shion.
"Na-ru-to!" ujar Shion yang langsung keluar dari kamar Menma begitu mendengar suara Naruto. Pemuda itu baru pulang sekarang, sudah hampir pukul sepuluh malam. Dia beralasan belajar di rumah Sasuke pada Ayah dan Ibu. Naruto baru saja ingin membuka pintu kamarnya saat Shion tiba-tiba muncul dari kamar Menma dan sudah berada di sampingnya dengan senyum lebar.
"N-Neechan? A-apa yang kau lakukan di sini?" tanya Naruto kaget. Shion tersenyum lalu merangkul leher Naruto sementara Naruto membuka pintu kamarnya. Menma yang ada di kamarnya berharap kalau Shion bisa berbicara dengan baik pada Naruto. Sebagai kakaknya, tidak semua hal bisa ia lakukan untuk Naruto. Shion lebih cocok untuk berbicara dengannya di saat seperti ini. Ia hanya bisa membantu pada bagian yang memang seharusnya. Karena Shion sudah seperti kakak perempuan baginya, jadi, gadis itu bisa mengatakan lebih banyak solusi yang baik tentang hubungan Naruto dan Hinata.
"Kau pergi kemana baru pulang sekarang? Ini sudah larut" kata Shion sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Naruto.
"Neechan, kau menginap di sini?" tanya Naruto tanpa menjawab pertanyaan Shion. Shion mengangguk mengiyakan pertanyaan Naruto sambil bangun dan duduk menghadap Naruto yang duduk di bangku belajarnya setelah membuka jas sekolahnya.
"Ada yang mau kau ceritakan padaku?" tanya Shion memancing
"...Tidak" sahut Naruto.
"Heeeeh? Benarkah? Padahal aku ke sini karena khawatir. Kau tahu? Menma memohon padaku dengan wajah bodoh agar aku menginap di sini. Sebenarnya aku tidak mau, tapi ketika memikirkan Naruto, aku dengan senang hati datang ke sini. Kalau begitu, aku akan minta Menma mengantarku pulang sekarang" kata Shion yang sudah akan turun dari tempat tidur Naruto.
"T-tetap di sini saja" ujar Naruto. Shion tersenyum. Ancamannya berhasil. Naruto kemudian duduk di samping Shion. Pemuda itu terdiam beberapa saat. Ia bingung harus memulai bercerita dari mana. Yang ada di pikirannya saat hanya Hyuuga Hinata. Gadis itu tidak bisa pergi dari pikirannya. Ia cemas dan khawatir. Ia takut. Bagaimana jika sore kemarin adalah terakhir kalinya ia bertemu dengan Hinata? Ia ke rumah gadis itu. Tetapi Naruto bahkan tidak berani untuk mengetuk pintu. Ia terlalu takut untuk melihat siapa yang membuka pintu dan mendengar kenyataan yang menyakitkan. Karena itu, ia hanya duduk selama berjam-jam di sekiat rumah Hyuuga Hinata. Ponsel gadis itu tidak bisa dihubungi. Emailnya tidak di balas. Ketika mencoba menelpon ke telepon rumah, semuanya tidak semudah yang ia pikirkan. Karena jika ada laki-laki yang menelpon dan mengaku sebagai teman Hinata, matikan telepon tersebut. Itu yang dikatakan pembantu rumah Hinata saat ia menelpon.
"Yang harus kau lakukan sekarang adalah meyakinkan Ayah Hinata-san" ujar Shion setelah Naruto bercerita dengan kalimat yang pendek tentang apa yang terjadi. Shion juga memberitahu pembicaraan antara Menma dan Hyuuga Neji. Gadis itu menaruh kepalanya di pundak Naruto. Shion bisa merasakan emosi Naruto saat itu. Rasa sedih, cemas, dan takutnya.
"Aku tidak bisa. Aku takut pada diriku yang tidak bisa apa-apa dengan keadaan seperti ini. Aku tidak bisa meyakinkan siapapun. Aku baru menyadarinya setelah Hinata-neechan pergi. Bahwa aku memang terlalu muda dan manja untuk bisa berdiri di sisinya. Mungkin aku harus berhenti. Masih terlalu banyak laki-laki lain yang lebih hebat dan dari dewasa dariku. Bahkan seharusnya aku tidak bertemu dengannya saat malam festival sekolah dulu"
"Naruto, apa yang kau katakan..." Shion langsung duduk dengan tegang dan menatap Naruto kaget
"Itu yang awalnya aku pikirkan saat rasa takut lebih besar dari kepercayaanku pada diriku sendiri. Tapi, ketika mengingat saat pertama kali aku melihatnya. Saat pertama kali aku berbicara dengannya. Dan semua yang sudah terjadi antara aku dan Hinata-neechan. Aku tidak akan menyerah sebelum melakukan apapun. Aku akan berusaha untuk bisa berdiri di sisinya. Aku tidak bisa menyerah begitu saja ketika Hinata-neechan diambil dariku. Kami bahkan belum memulai apapun. Jika sekarang aku masih terlalu muda dan kekanak-kanakan, aku akan bersikap lebih dewasa. Kalau sekarang aku masih belum pantas untuk berdiri di sisinya, aku berharap Hinata-neechan bisa menungguku menjadi laki-laki dewasa. Tetapi, jika dia tidak bisa menunggu, aku yang akan mengejarnya"
Shion tertegun. Gadis itu tidak bisa mengatakan apapun. Dalam sekejap Naruto terlihat berbeda dari Naruto yang ia anggap hanya sebagai adik kecilnya. Masalah membuatnya bisa berpikir dewasa dalam waktu yang sangat cepat. Saat Naruto berbicara seperti tadi, Shion berharap kalau Ayah Hinata bisa melihat dan mendengarnya. Dewasa memang tergantung pada waktu, bukan usia. Dengan kepercayaan dirinya saat ini, Shion yakin kalau Ayah Hinata akan menerimanya hanya dengan melihat raut wajah Naruto sekarang. Gadis itu tersenyum kecil. Sepertinya keberadaannya di sini tidak terlalu membantu karena Naruto ternyata bisa memikirkan masalahnya sendiri dengan sikap dewasa yang benar.
"Besok di tempat les piano Hinata-san, kau bisa bertemu dengannya" kata Shion. Naruto menoleh dengan kening mengerut.
"Aku membohongi Ayahnya saat menelpon melalui telepon rumahnya. Aku bilang kalau aku teman sekelas Hinata-san yang ingin mengambil buku yang dipinjam Hinata-san padaku. Bukankah aku cukup keren?" ujar Shion sambil tersenyum membanggakan diri sendiri.
"Neechan melakukannya?" tanya Naruto kaget
"Um. Tapi, selanjutnya Menma yang berbicara dengan Hinata-san. Aku hanya berbicara dengan Ayahnya"
Naruto tertawa kecil. Ternyata kakaknya dan Shion lebih nekat dari yang ia pikirkan. Jika mereka hanya bisa bertemu di tempat les piano Hinata, itu berarti waktunya hanya selama les piano berlangsung karena mobil yang menjemput Hinata selalu datang tepat waktu. Dan setelah Ayah gadis Hyuuga itu tahu tentang hubungan mereka. Bisa saja beliau ikut menjemput karena khawatir Hinata akan bertemu Naruto di tempat les?
"Aku akan menyelesaikan semuanya besok" kata Naruto serius lalu tersenyum kecil.
[TBC]
