THE HINTS

.

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Warning: Alternative Universe, Out of Character, miss typo(s), etc. Don't Like eh? Don't Read!

.

Chapter 10: Raimuna (Hari ketiga)


Normal PoV

Naruto meminum teh hangat-nya "Huahh... katanya benar ya, hari ini akan ada game dan lomba masak."

"Gak nyambung, pagi menjelang siang gini, minum teh anget. Pas malam nanti, minumnya yang dingin-dingin." Bilang Ino yang sedang memisahkan baju memasukkan baju kotornya ke dalam plastik –cewek baru selesai mandi.

"Yee... suka hati aku lah. Lagian aku ga nanya itu. Jawab yang ditanya aja napa." Jawab Naruto.

"Ck, iya loh... hari ini ada game dan juga lomba memasak." Kata Temari.

"Hmmm..." Naruto manggut-manggut.

Anko masuk ke tenda dan duduk bersila. "Anak-anak, barusan sensei ke tempat panitia, katanya sebentar lagi akan ada game. Kalian bersiap-siap ya... sudah ganti baju semua kan?" Kata Anko.

"Sudah..." Mereka menjawab serentak.

.

.

"Lingkaran besar... lingkaran kecil... lingkaran besar... lingkaran kecil... lingkaran... 7!" Semua peserta cepat-cepat berlari mencari pasangan. Satu lingkaran 7 orang.

"Ayo... yang tidak dapat pasangan sini maju kedepan... scot jump(?) 5 kali" Kata painitia.

Saat ini mereka sedang melakukan game –yang menurut mereka seru. Sebenarnya mereka sudah bermain dari tadi, dan sudah banyak permainan yang mereka mainkan, mulai dari alip jongkok sampai alip patung sudah dimainkan (bayangin aja, beratus-ratus orang main alip jongkok & alip patung. Gak capek tuh?).

Dan sekarang mereka memainkan permainan yang mereka sendiri tidak tau apa itu namanya. Cara mainnya adalah, menyanyikan lagu lingkaran besar lingkaran kecil, lalu nanti secara tiba-tiba disebutkan angka, yang misalnya angkanya adalah 6 maka semua harus dengan sigap mendapatkan pasangan, lalu membentuk lingkaran oleh 6 orang. Ya... pokoknya begitulah.

"Lingkaran kecil... lingkaran besar... lingkaran kecil... lingkaran...-" Semua peserta deg-degan dan mengambil ancang-ancang.

"-lingkaran... KECIL..." Anjayyyy... batin mereka semua geram. Udah ngambil ancang-ancang, eh ternyata.

"Lingkaran besar... lingkaran kecil... lingkaran 20!" Seru panitia. Semua langsung heboh mencari lingkaran 20. The HINTS terpisah.

`Seday... sebelah aku cogan semuaaa...` Batin Sakura. Walaupun batinnya yang satu lagi bilang `Ingat pangeran tampanmu Sakura...!` Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya.

Ino yang sial mendapat satu lingkaran dengan anak BEWAHEM. Walaupun masih ada Temari dan Neji satu lingkaran dengannya.

"Nyanyikan lagiii! Lingkaran kecil... lingkaran besar... lingkaran besar... lingkaran kecil... lingkaran besar... lingkaran...-" Kali ini peserta tidak begitu heboh mengambil ancang-ancang. Karena bisa jadi itu hanyalah troll belaka. Dari pada gondok sendiri?

"-Lingkaran... 4!" Gzzzz... minta dimutilasi jadi 9 kali yak?! Walaupun batin mereka mengumpat, namun tetap saja mereka langsug berlari mencari pasangan.

"OKE... PERMAINAN SELESAI! KARENA SUDAH HAMPIR SORE. SELANJUTNYA ADALAH LOMBA MEMASAK DAN LOMBA KEBERSIHAN TENDA. NANTI MALAM AKAN ADA ACARA API UNGGUN! OKEEE?!" Kata panitia jambore pakai toa.

"OKEEE KAKKKKk!" Mereka bubar barisan.

.

.

.

"Kita masak apa nih?! Pokoknya harus menang." Kata Tenten yakin.

"Tidak boleh begitu, Tenten. Tidak boleh terlalu ambisius. Tapi juga jangan pesimis. Biasa-biasa aja." Kata Sai menasihati. Yang langsung disoraki 'eaaaaaa...' oleh mereka.

"Orang bagus-bagus menasihati, kok malah disoraki..." Neji geleng-geleng kepala –maklum, anak joget. Eh...

"Iya-iya... bebas aee... yang penting urusin lombanya dulu. Kita masak ikan sarden saja. Ah iya, juga ada makanan penutupnya! Bubur kacang hijau right?" Kata Temari.

"Hu'um... tambahin nasi goren yang pakai sosis-sosis gimana gitu mau gak?" Tanya Sakura.

"Hn, pinggirnya pakai tomat yang dibentuk." Kata Sasuke.

"Ditambah kerupuk yang dibentuk lingkaran!" Usul Shikamaru.

"CUKUP! Itu terlalu banyak." Kata Ino.

"Eh iyaa..."

"Aku yakin, yang masak nasi goreng pasti sudah banyak. Itu terlalu mainstream, karena mudah dimasak. Kalau ikan sarden? Pasti jarang." Kata Naruto.

"Tumben pintar." Kata Sasuke kalem.

"Arghh... sudah kubilang kalau aku ini sangat pintar!" Protes Naruto.

"Jangan berantam! Lebih baik kalian bersihkan tenda. Kutip sampah yang ada di luar maupun dalam tenda! Cuci piring! Pokoknya harus rapi dan bersih!" Perintah Hinata.

Mereka membagi tugas, anak cewek memasak dan anak cowok membersihkan tenda.

Bubur kacang hijaunya sudah siap saat Guy masuk ke tenda. "Anko-sensei di tenda sebelah –BEWAHEM, jadi aku di sini hehehe..." Guy cengengesan. Yang lain manggut-manggut.

"Sensei ¸ ini buburnya sudah siap. Apakah dihias lagi?" Tanya Sakura.

"Ah, iya. Hias saja pakai wafer atau apa. Siapa disini yang ada wafer. Kemarikan bubur kacang hijau itu." Kata Guy. Hinata yang ada wafer, mengambil wafer yang ada di tasnya.

"Tapi sensei¸ ini bubur kacang hijau semalam, hanya kami panaskan saja. tidak apa-apakan?" Tanya Tenten mengasi bubur itu ke Guy.

"Oh... itu tidak ada masalah." Guy mencomot bubur itu.

"E-EHHH! SENSEI... ITU UNTUK JURI!" Teriak Sakura mencegah. Bukan apa-apa, pasalnya Guy mencomotnya memakai jari telunjuknya. Bukankah itu sangat jorok?!

"Biarin aja. Dikit saja kok." Guy cuek. Yang lain sweatdrop.

Seakan teringat sesuatu, Ino terkejut. "Oh iya Sensei... sendoknya tidak ada lagi. Masih dicuci dengan anak cowok." Kata Ino khawatir.

"Biarkan saja. pakai sendok yang belum dicuci saja." Kata Guy masih mecomot.

"Ini wafernya sensei." Kata Hinata yang diminta wafer. "Eh? Kok dimakan?" Hinata bertanya namun tidak ada yang menjawab.

"Sensei... sudah! Waktunya sudah mau habis! Cepat hias wafernya." Kata Temari.

"Ini, ikannya... gak ada dihias apa-apa?" Tanya Hinata memegang piring ikannya.

Sakura menepuk jidatnya. "Nasinya dibentuk kek, masa berantakan gitu." Kata Sakura. Hinata cengengesan.

"Tapi di bentuk pakai apa?" Tanya Hinata.

"Pakai apa aja, yang penting bulat. Mau pakai mangkok, sendok apa kek..." Kata Sakura yang disambut anggukan oleh Hinata.

Akhirnya Guy selesai menghias bubur kacang hijau. Begitu pula ikannya.

"Sensei... sendoknya bagaimana ini?" Tanya Tenten khawatir.

"Ya coba tanya sama anak cowoknya, sudah siap mencuci sendok belum? Wakutnya mepet nih." Kata Guy. Tenten menghampiri anak cowok di luar tenda.

"Woy... sudah cuci sendoknya belom? Ini udah mepet banget!" Kata Tenten.

"Eh?! Iya ya? Waduh belom dicuci nih. Piring aja belom. Airnya masih diambil sama Sasuke and Shikamaru." Kata Naruto.

"Ya elahhh goblok. Jadi gimana nih?

"Coba deh tanya sama Guy-sensei..." Kata Sai.

"Guy-sensei nyuruh nanya sama mereka. mereka nyuruh aku untuk nanya sama Guy-sensei lagi... puyeng pala berbehhh." Tenten memutar matanya dan masuk ke dalam tenda.

"Sensei... belom dicuci sama mereka sendoknya. Gimana dong?" Kata Tenten.

"Emmm... itu! Pakai sendok itu aja." Kata Guy menunjuk sendok yang terdapat di pojok tenda.

"Waduh, sendok siapa tuh?" Tanya Sakura.

"Ah, itu sendok Anko-sensei tadi, pas makan bubur." Kata Temari.

"Ya sudah, pakai sendok itu saja..." Kata Guy santai aeee...

"APAAN! Mau buat jurinya keracunan jigong Anko-sensei ya? Gila aja kaleee..." Kata Tenten durhaka kepada Guy.

Guy mengambil tisu dan mengelap sendok bekas Anko. Iya, Cuma di lap pake tisu doang. "Sudah lah itu... katanya sering pramuka. Masa gini aja jijik." Kata Guy.

"Ten, emang iya ya? Kalo pramuka kayak gini? Berarti anak pramuka jorok-jorok dong?!" Bisik Ino.

"Ya enggak lah! Guy-sensei aja, yang wong edan." Kata Tenten menatap jijik sendok yang sudah di celupkan kedalam bubur.

"Nah, sudah. Bawa makanan ini ke tempat juri. Tau kan dimana? Nih." Guy mendorong piring makanan itu.

"Sini, biar aku sama Sakura aja yang bawa." Kata Hinata.

"Wokeehhhh..." Kata Tenten.

.

.

"SENSEIIII...HINATA JATUH DAN BUBURNYA HANCUR!" Teriak Sakura menunjuk Hinata yang meringis menunjukkan bentuk buburnya. Wafernya sudah menyatu dengan buburnya.

"Yahhh... gimana dong?" Tanya Guy.

"Loh kok bisa?" Tanya mereka heboh. Bahkan anak cowok yang masih menyapu luar tenda pun ikut melihat.

"Iya nih, tadi aku jatuh... gimana niiiihh..." Kata Hinata.

"Hinata-chan jatuh?! Hinata-chan, kamu enggak apa kan? Aduh... kenapa malah mentingin buburnya, Hinata-chan jatuh tau!" Naruto mengecek tubuh Hinata dari bawah sampai atas. Hinata memutar matanya.

"Aku tidak kenapa-kenapa Naruto-kun. Buburnya, kita bisa kalah." Kata Hinata. Naruto cemberut.

"Ya udah, gak apa. Sini buburnya. Yang menu nasi dan ikannya sudah di antar kan?" Kata Guy.

"Udah sensei, tinggal buburnya aja ini." Kata Sakura.

"Oh ya udah. Biar sensei bersihin dulu buburnya." Guy mengambil sendok bubur lalu memakan bagian bubur yang sudah menyatu dengan wafer. Mereka menatap Guy jijk.

"Ihhh... ya ampun, sensei kok jorok baget sihhh.." Kata Ino jijik.

"Mit amit... jangan sampe punya anak kayak sensei deh."

"Udah, selesai. Gini aja kok ribet." Guy mengamil tisu lagi dan mengelap sendok itu lagi.

"Nih, kasiin ke jurinya." Guy menyodorkan mangkok bubur itu ke Hinata.

.

.

"AYO! NYANYI SEMUAAAA..."

"Yeppo... Yeppo... kawan... bergembira... di sekitar... api unggun... menyala..." Setelah peyulutan api unggun oleh peserta yang sengaja dipilih sebagai petugas api unggun, mereka bernyanyi sambil berjalan mengelilingi api unggun.

"Ughh... sebaiknya sudahi acara ini. Aku sangat mengantuk." Kata Sakura.

Sasuke yang berjalan di belakang Sakura memeluk Sakura dari belakang sambil tetap berjalan. "Hn, padahal aku kira acara api unggun ini, seperti yang di film-film. Dimana kita bisa bermesraan, di depan api unggun." Bisik Sasuke.

"Mesra-mesra palamu peang. Ya kali, ini Jambore-nya anak pramuka, bukan camping kita-kita." Kata Sakura cemberut. Sasuke mendengus.

"Ino, rambutmu makin panjang ya." Kata Sai menarik rambut Ino.

"Yha bang, YHA. Sukamu lah, dan jangan tarik rambutku!" Kata Ino kesal.

Sai cemberut. "Kau tidak ada romantis-romantisnya! Lihat itu Sasuke dan Sakura. Mereka romantis sekali!" Kata Sai.

"Apaan... kau belum tahu aslinya. Aku yakin, pasti Sakura juga marah dipeluk Sasuke di saat-saat begini. Lagian, yang romantis itu harusnya cowok kalee... dan yang menerima kelakuan romantis, baru cewek." Kata Ino makin kesal. Kzl... kzl...

"Hmm..." Sai manggut-manggut memikirkan perkataan Ino. Ingin rasanya Ino memenggal kepala Sas sekarang juga.

"Hoam... jika sampai setengah jam lagi, acara ini belum usai, aku akan tidur berdiri." Gerutu Shikamaru.

"Jika setengah jam lagi kau lakukan itu, bukan tidur berdiri yang kau dapat. Tapi MATI BERDIRI yang kau dapat." Ancam Temari. Shikamaru terbelalak. Naruto yang mendengar itu tertawa terpingkal-pingkal.

"H-hei apa-apaan itu. Kau sangat mengerikan." Kata Shikamaru menatap Temari ngeri.

"Ohh... sudah berani bilang aku mengerikan ya... hmmm... kau minta put-"

Cup.

"Emmphh... ugh lephaskhan Shika-kun..." Shikamaru menarik Temari keluar barisan.

"Sekali lagi kau bilang 'kata' itu, maka bukan hanya ciuman yang kau dapat." Shikamaru menyeringai lalu menarik Temari ke barisan lagi.

"Euuhh... mereka menjijikkan. Bahkan masih SMA sudah berani berciuman. Mau jadi apa, bangsa negara kita ini?!" Kata Naruto lebay. –Mereka tidak tahu kiss scene-nya SasuSaku.

Hinata meringis. "Ya... biarkan lah, dari pada bertengkar terus." Kata Hinata.

"Tapi tidak begitu juga... tahu tempat dan waktu kali." Kata Naruto.

"Palingan nanti dia juga sama seperti Shikamaru. Sama mesumnya." Gumam Hinata yang ternyata di dengar Naruto. Naruto menyeringai.

"Aku dengar itu. Jika kau mau, aku bisa memperlakukan mu seperti itu." Kata Naruto jahil.

"Mesum!" Hinata menjitak kepala Naruto.

"Baru segitu, sudah dikatai mesum. Bagaimana yang lebih-lebih." Gerutu Naruto yang kemudian mendapat jitakan lagi dari Hinata.

Neji geleng-geleng kepala melihat kelakuan teman-temannya semua.

"Ga usah geleng-geleng." Kata Tenten kalem.

"Kenapa?" Tanya Neji.

"Kau juga terkadang sama absurd-nya dengan mereka." Tenten mengangkat bahunya cuek.

Neji yang gemas dengan Tenten langsung mengecup pipinya cepat. Gemeshhhh...

"Ihh... apaan sih." Tenten pura-pura mengelap pipinya. Padahal kalo bisa, dia gak akan basuh muka 7 hari 7 malam, biar bekas kecupan Neji gak hilang.


.

To be Continued

.


Author's Note:

Haloo ^^ ini versi yang udah diedit ya. Tenang kok, gak saya edit banyak-banyak, Cuma sekitaran typo dan kalimat janggal aja (dan itu pun tidak semua). Tanda baca gak saya ubah. Karena bagaimana pun ini fanfik pertama saya. Buat kenangan, kalo dulu tulisan saya itu amburadul begini xD (walaupun sekarang juga masih amburadul)