I pray endlessly, wish that God will bring me to him; In his embrace once more but to last forever. I accept this curse to remember but if that's the toll to finally find him, I don't mind. Afterall, this curse will end when it finally comes, the day when we met again.
.
.
Melqbunny presents
"Drown in the Sea of Red String"
An Alternate Universe fanfiction
Pairing : Homin (Jung Yunho X Shim Changmin)
Rate : T – M.
Disclaimer : I own the story only, but whatever
Warning! : Bahkan tanpa adegan enceh pun saya merasa perlu memasukkan ini dalam rating M. Yang udah baca review ya! Termasuk yang biasanya nongkrongin couple lain.
Berhubung ini kejadian di masa lalu, maka saya tidak akan mengganti dengan italic. Kalau satu chapter isinya miring semua, saya khawatir reader sekalian lehernya jadi bengkong habis baca. Wkwkwk. Just kidding. Don't take it seriously.
.
.
Chapter 10
.
.
Semenjak hari itu lukisan diri Mooseok jadi bertambah. Awalnya Lee Yoon menolak; menggambar gadis sebanyak-banyaknya hingga kertas-kertasnya habis dalam waktu singkat. Tetapi hanya gestur sederhana dari Mooseok saja membuatnya ingin melukisnya.
Tidak apa-apa, hanya mata, matanya tajam dan indah.
Rambutnya bagus ketika angin menerpanya.
Bibirnya punya bentuk unik.
Dan daftar itu terus berkembang sampai dia menggambar Moosek lagi dan lagi. Setiap hari sampai rasanya mustahil untuk berhenti.
"Aku benar-benar sudah gila." Katanya suatu hari.
"Benar. Kau terlihat frustasi akhir-akhir ini." Dan sumber kegilaan Lee Yoon justru ada di sini bersamanya.
"Kapan hyung sampai?" sampai dirinya tak mendengar suara pintu digeser.
"Baru saja." Orang sibuk, selalu saja ada yang dikerjakan.
"Heejong hyung datang ya?"
"Ya. Aku memesan ini untukmu." Lee Yoon mengangkat kepalanya dari meja. Dirinya bekerja di gubuk kecil dekat kebun tanaman obat. Baunya gabungan dari tanah dan berbagai jenis obat. Entah kenapa dia justru merasa nyaman di tempat ini. Ada seseuatu dengan aroma tumbuhan kering yang dia suka.
Mooseok meletakkan benda itu di meja dan Yoon mengambilnya dengan agak ragu. Meski dibungkus dengan kain begitu, dia tahu apa isinya. "Pedang? Untukku?"
"Dan ini. Pisau kecil. Yang ini tidak akan terlalu mencolok, tetapi akan sangat berguna. Kami tahu pandai besi yang baik. Karena itu aku putuskan untuk meminta Heejong memesannya untukmu."
Pedangnya sendiri? Lee Yoon mengeluarkan dari sarungnya, berkilat ketika terkena cahaya. Kuat dan lentur ketika dia mencoba menghunusnya. "Bagus. Ini pasti mahal."
Mooseok hanya tersenyum. "Ini hanya untuk menjaga diri. Kalau tidak mendesak jangan dipakai," dia sendiri punya pedang yang disimpan di rumahnya, tetapi setiap kali berlatih, mereka hanya memakai pedang kayu.
.
.
.
Lee Yoon tak tahu apa yang harus dia lakukan dengan pedang itu, tetapi dia menyukainya. Karena Mooseok yang memberinya? Senyum muncul di wajahnya tanpa henti. Diberi hadiah selayaknya wanita, tetapi barang yang diberikan tidak feminim sama sekali.
Dia juga membuka pisaunya. Benar kata Mooseok, benda ini bagus dan cukup ringan. Dia bisa membawanya dengan mudah di balik pakaian. Dan akan lebih berguna juga untuk sehari-hari. Dia jadi berpikir, apa yang bisa dia berikan untuk Mooseok. Sudah diberi sebanyak ini, dari rumah, pakaian, makanan, pekerjaan dan kemampuan bertahan hidup.
Memasak tidak mungkin. Dia tahu tentang adanya koki istana yang adalah laki-laki, dan masakan mereka begitu lezat terkadang lebih lezat dari masakan dayang istana. Tapi dirinya tahu apa soal memasak?
Dia juga tak bisa menjahit pakaian, dan pakaian yang dia punya saat ini adalah pemberian Mooseok. Bukan baju milik Mooseok, selain yang tiga hari pertama dia kenakan. Baju baru dengan kualitas yang cukup baik, dibeli dari pasar.
Pedang atau semacamnya juga tidak mungkin. Semua serba tidak mungkin.
Puisi? Apa tidak terlalu aneh ya?
Atau lukisan?
Memangnya mau ditaruh dimana? Apa Mooseok akan senang dengan hal itu? Lagipula dia sudah ketahuan oleh Mooseok kalau dia menggambar penyelamatnya itu. Gara-gara dirinya terlalu sok untuk memamerkan lukisan-lukisannya sih, jadi ketahuan kan?
Tapi memang jika dipikir-pikir, Mooseok itu nyaris sempurna. Bisa apa saja, sukses, kepribadiannya juga bagus. Masa melukis adalah satu-satunya kelemahannya sih?
"Mustahil"
TAK.
Satu anak panah menancap di sasaran sebelah kiri. Ada tiga sasaran disana. Terlalu ke bawah dan bukan sasarannya. Incarannya yang di tengah. Dia mengambil satu anak panah lagi dan memasangnya. Menariknya perlahan hingga ke pipi kanannya. "Kenapa kau memejamkan mata kananmu?"
Syuut. Tak.
"Hyung mengagetkanku." Katanya dan mengambil satu anak panah lagi.
Yoon bisa mendengar helaan nafas dari Mooseok, pasti dirinya sudah melakukan kesalahan. Apa postur tubuhnya kurang tegap? "Yoon. Pejamkan mata kirimu, bukan yang kanan," suaranya terdengar berbisik, Mooseok sudah dibelakangnya sedikit mengganggu telinganya.
Dia baru menyadari. Dia menarik busur sekali lagi menahan tangan pada pipinya dan memejamkan mata kiri. "Kau harus bisa melihat ujung anak panah itu menyentuh bagian atas sasaran." Mooseok menaikkan tangan kiri Yoon sedikit.
"Bukan tengahnya?"
"Tidak. Yang atas." Tangan kanan Mooseok menyentuh dada Yoon sementara tangan kirinya meneka punggungnya sedikit. Memaksa Lee Yoon untuk berdiri lebih tegap. Tangan Mooseok tak segera menyingkir dari dadanya, melainkan perlahan turun dan menyentuh perutnya, perlahan mundur ke pinggang sebelum benar-benar terpisah dari badannya.
Yoon menelan ludahnya dengan susah payah, tetapi dia menurut. Berusaha untuk fokus sekali lagi. Ujung anak panah terlihat pas di tengah atas sasarannya. Setelah yakin dia melepaskannya. Syuuut. TAK. Dia membuka kedua mata. Lalu menoleh pada Mooseok dengan tersenyum. Kena di sasaran bagian tengah dan nyaris di tengah sasaran.
.
.
.
"Hyung."
"Hm?"
"Kenapa kalau Heejong hyung kesini, kalian justru tidak membicarakan sesuatu di rumah. Apa karena ada aku? Aku orang asing?"
Mooseok tersenyum tipis mendengarnya. "Ada banyak orang, tak mungkin berbincang disini, pastinya kami pakai tempat lain, ya kan?"
Itu adalah pertemuan yang tak pernah melibatkan Lee Yoon, dan hal ini sukses membuatnya curiga kalau ada sesuatu yang penting di pertemuan itu Pasti seseuatu yang tak boleh dia ketahui. Tapi meminta Mooseok untuk diijinkan ikut pergi sudah pasti bukan hal yang baik.
Dia orang asing. Tak peduli seberapa baik orang desa, Mooseok dan Heejong memperlakukannya. Dia tak bisa memaksa untuk ikut campur. Dia masih tahu diri dan punya harga diri.
"Oh ya. Sebenarnya hyung berasal dari mana? Aku pernah bertanya pada paman di kebun tapi hanya mengatakan..."
"Kalau aku muncul secara tiba-tiba di suatu hari?"
"Ng... ya. Begitulah." Agak tak enak hati sebenarnya, seolah hyungnya bisa baca pikiran seenaknya.
Mooseok menunduk matanya terlihat sedih, membuat Lee Yoon khawatir kalau dirirnya sudah membangunkan kenangan yang menyakitkan. "Aku... keluar dari pohon yang terbelah..."
"Tidak lucu." Sebal karena hanya dipermainkan oleh Mooseok.
Dia tertawa kecil. "Aku hanya kebetulan lewat dan melihat kalau desa ini punya potensi. Mau apa lagi? Sayang kalau tidak dimanfaatkan."
Yoon tahu itu tidak sepenuhnya benar, desa ini dulu warganya begitu miskin. Tak selalu bisa memenuhi batas pajak. Tapi kini mereka mampu, yang berarti Mooseok sukses, tetapi dia tidak hidup dalam kemewahan. Entah kemana semua uang yang dia hasilkan. Meski katanya disimpan, tetapi dia tak tahu dalam bentuk apa. Tapi memang tidak pernah kekeurangan juga.
.
.
.
"Hyung mau kemana?"
"Ke hutan. Mencari tanaman obat, kalau bisa mungkin berburu juga. Mau ikut?"
Yoon berpikir, Mooseok memang atasannya dan memberikan tugas padanya, tapi selain itu mereka mungkin bisa dibilang sebagai teman. Tak pernah dirinya terpaksa ikut ke pasar atau tempat lain, tetapi juga tidak terlalu dijaga. Dia bukan lagi pangeran, dan hal itu justru membuka wawasannya. Sebuah pengalaman baru yang tak terduga. Dia sudah lebih dewasa sekarang. "Aku mau. Tunggu!"
.
Mooseok mengumpulkan tanaman obat dengan hati-hati. Soal ini Yoon tak tahu banyak dan Mooseok juga tak mengajari. Selalu saja tak ada tekanan, kalau Yoon mau belajar, dia tinggal bilang saja dan akan segera diajari. Tapi dia belum berminat.
Ada tanaman yang dikenalinya, dia sering melihatnya dulu tetapi dalam bentuk yang sudah dikeringkan, ada dalam ramuan obat yang dimasak untuk ibundanya dulu. Dia memberikannya pada Mooseok. "Ini."
"Oh? Kau tahu juga." Mooseok menerimanya dengan senang.
"Obat untuk darah tinggi, kan?" penyakit ibundanya dulu. Sudah bersarang sejak sebelum menikah, sepertinya riwayat keluarga, tetapi menurut tabib desa ini yang pernah memeriksanya, dia tak punya penyakit itu. Mooseok menatapnya aneh, seolah ada yang salah dengan kata-katanya. "Kenapa? Bukan ya?"
"Yoon, ini obat untuk darah rendah. Kalau orang dengan darah tinggi meminumnya, sakitnya bisa semakin parah."
Yoon balas menatap Mooseok dengan tatapan mata kosong.
.
.
.
Bukannya Mooseok tak menyadari perubahan sikap Yoon kala itu. tapi Yoon sendiri yang tak mengatakan apa-apa. Mungkin dia tahu apa penyebabnya, tapi tak tahu pasti. Yang jelas moodnya memburuk.
Sampai hari itu ketika Eunshi datang. "Oh? Kau? Bagaimana?" tak seperti Mooseok yang biasanya, dia sempat kehilangan kata-kata ketika melihat gadis itu ada di dalam rumah.
Gadis itu begitu sopan dan lembut. Cantik alami tanpa riasan berlebih. Dia membungkuk pada Mooseok, "Saya membawakan makanan untuk tuan."
Ada keheningan beberapa lama. "Duduklah. Kau bersama Heejong?"
Dia mengangguk. "Benar."
"Lalu di mana kau memasak semua itu?" keranjang itu sudah membuat Yoon tertarik, dan menaikkan semangatnya, tetapi baru saja dijungkirbalikkan lagi. Nafsu makannya hilang begitu saja saat tahu wanita ini memasak untuk Mooseok.
Gadis itu tersenyum, "Aku sampai kemarin dan Heejong ssi mencarikan rumah kenalannya untukku memasak. Aku akan menghidangkannya."
"Berhenti Eunshi. Tidak perlu. Ini rumahku, aku yang harusnya melakukannya." Yoon masih berdiri di dekat pintu. "Yoon! Duduklah, ini temanku."
"Kurasa aku akan memeriksa pembukuan hari ini. Heejong hyung datang itu berarti ada penjualan baru, kan?" Dia tak terlalu suka gadis itu, tetapi itu juga tak ada hubungannya dengannya. Lagi pula gadis itu baik dan sopan, juga kenal dengan Mooseok sejak lama.
Mooseok berdiri dan menghampirinya. Berbisik padanya. "Ini rumahmu juga, kan? Jadi sopanlah pada tamu."
Dia tak suka jika ada yang berniat mengajarinya soal sopan santun. Dia sudah dicekoki sopan santun sejak lahir, tetapi hyungnya benar. Dia tak sopan kalau meninggalkan tamu begitu saja. Akhirnya dia duduk dengan patuh, mendengar basa-basi dari kedua orang yang telah saling mengenal sejak lama. Terkadang dia diikutkan dalam percakapan, tetapi rasanya tertinggal banyak karena dia tak punya memori yang sama dengan mereka berdua. "Ah. Sudah sore, aku lupa aku harusnya mengantar sayuran untuk nenek tua."
Tak ada yang menyuruhnya, dia memang ingin melakukannya karena tak banyak yang mau melakukan hal itu. Selalu saja diteriaki nenek tua, kecuali dirinya dan Mooseok mungkin.
"Kalau begitu Eunshi, sebaiknya kau juga kembalilah ke penginapan. Kau datang kemari bersama dengan saudara lelakimu, bukan?" Mooseok tahu hal seperti itu, kebiasaannya.
"Iya."
Yoon bisa melihat gurat tak rela di wajah gadis itu. sayangnya tak ada pilihan sama sekali. "Aku akan mengantarmu. Yoon, kita antar Eunshi dulu baru ke rumah nenek."
.
.
.
"Kenapa kau terlihat tidak bersemangat begitu? Makanlah..." hari sudah malam dan mereka sudah mengantarkan sayuran pada nenek tua yang pernah ditolongnya di pasar. Juga sudah mengantar Nona Eunshi ke penginapan di desa. Harusnya dia ini lelah atau bagaimana, bukannya malah makan tanpa semangat, hanya menyuapkan nasi saja tanpa lauk apapun.
"Itu untuk hyung, kan? Dia memasak semua itu untuk hyung. Masa' aku malah memakannya?" tanyanya polos.
Mooseok menghela nafas. "Karena aku mau kau memakannya. Apa salah?"
"Tentu." Tantangnya, akhir-akhir ini dia mulai menunjukkan sikap membangkang sesekali. "Dia bermaksud baik tapi aku akan merusak harapannya."
Mooseok hampir kehilangan akal untuk membujuk Lee Yoon agar mau memakan hidangan yang dibawakan Eunshi. "Kau membencinya?"
"Tidak. Dia gadis yang baik dan menarik."
"Kalau begitu kau suka padanya? Kau cemburu?" kali ini gantian Mooseok yang menantangnya. Yoon mengernyit. Lalu menggeleng, itu adalah hal yang tidak benar bagaimana bisa hyungnya melihatnya seperti itu? "Kalau begitu apa masalahnya? Makan!"
Akhirnya Yoon menyerah. Mengambil satu makanan disana. Rasanya tidak terlalu istimewa juga. "Dia pantas untuk hyung. Pasti bisa jadi istri yang baik. Memangnya mau menunda apa lagi? Hyung sudah mapan, dewasa, tampan, cerdas, berwawasan luas... aku akan cari tempat tinggal lain sambil menabung untuk bisa membangun rumahku sendiri..." walau sepertinya bakal lama tapi dia bisa tinggal di rumah dekat kebun.
"Kau tak suka di sini?"
Dia tak ingin Mooseok salah paham, harus segera memperbaiki hal ini. "Bukan itu. Tapi kalau hyung menikah, maka mana bisa aku tinggal di sini? Ada wanita dan..."
"Aku tidak akan menikahinya..."
"Nah! Apa?!"
"Aku tidak akan menikahi Eunshi."
"Kenapa?"
"Kenapa aku harus menjelaskannya padamu?" katanya agak sinis. Wajahnya terlihat kesal dan dengan segera mengambil gelas minumnya.
.
.
.
Satu-satunya hal yang membuat pikirannya teralihkan dari seorang gadis bernama Eunshi adalah bisik-bisik yang dia dengar dari pasar. Akan ada pejabat istana yang datang, bukan, tetapi pangeran, sang putra mahkota sendiri yang akan datang. Hal ini membuatnya penasaran. Selama ini yang dia tahu kalau kakaknya terkadang keluar istana untuk tugas kerajaan. Mengunjungi berbagai tempat, tetapi apakah dia biasa mengunjungi tempat sejauh ini?
Apakah ayahandanya yang meminta Rin sendiri untuk mencarinya?
Bisa saja bukan? Ini sudah terlalu lama, mungkin akhirnya ayahandanya merasa ada yang tidak beres dengan hilangnya dia secara mendadak. Lagipula beliau berkata 'Kembalilah dengan selamat'.
Sampai akhirnya dia tak bisa tidur menjelang kedatangan pangeran.
.
.
"Astaga, kenapa dia jadi bersemangat begini?" Mooseok mengeluh karena mendadak Yoon terlihat ingin berlari ke jalan utama untuk melihat pangeran. Sebenarnya dia tak berminat. Dia tak ingin tahu, dia tak ingin membuat penilaian apa-apa soal Putra mahkota, tetapi rasanya dia tak bisa membiarkan Yoon pergi sendiri.
Mungkin memang ada sesuatu pada keluarga kerajaan yang membuat mereka jadi pusat perhatian begini. Tetapi bagi Mooseok, hal ini tak menarik. Istana, Raja, putra mahkota atau yang lainnya. Dia sudah punya penilaian sendiri mengenai keluarga kerajaan dan semua orang yang bekerja untuk istana. Arogan dan kotor. Karena kalau tidak, bagaimana mereka bisa tetap merayakan peringatan ulang tahun raja padahal di saat yang sama desa ini dilanda gagal panen. Makanan kurang.
Hal itu membuatnya antipati pada pemerintahan saat ini.
.
Kemudian hal lain yang membuatnya bingung adalah bagaimana Yoon yang tadinya terlihat bersemangat tahu-tahu menjadi muram. Padahal belum jadi melihat pangeran. Hanya karena percakapan kecil dengan paman penjual ikan yang mengatakan kalau istana hanya punya satu penerus. Satu saja anak laki-laki yang akan jadi Raja.
Sejujurnya baginya aneh karena apabila hanya ada satu penerus, istana harusnya lebih protektif. Tetapi mungkin pangeran yang satu ini cukup bisa diandalkan. Itu, atau pengawal-pengawalnya yang bisa diandalkan.
Memangnya ada yang salah dengan percakapan mereka tadi sampai-sampai Yoon memutuskan kalau hal ini tak lagi menarik?
Mooseok membuntuti Yoon yang berjalan pulang tanpa tenaga. Pria jangkung yang diselamatkannya terus berjalan dengan lemas hingga ke gubuk mereka.
Nyaris mengurung diri di kamar kalau saja dia tidak teringat pada pedang yang diberikan oleh Mooseok. Dia melewati Mooseok di pintu. Pria itu tak bertanya apa-apa soal akan kemana dia atau kenapa bawa-bawa pedang. Juga tidak mengikutinya. Mungkin sadar kalau Yoon ingin sendiri.
Di depan rumah, Mooseok hanya melipat terdiam melihat kepergian Lee Yoon. Desa sepi karena terfokus ke satu tempat: jalanan yang dilewati oleh pangeran.
Jujur saja kelakuan Yoon lah yang membuatnya penasaran dengan tampang pangeran itu, jadi dia putuskan untuk mencari tahu sedikit.
.
.
.
"Anak manja dan arogan. Dia sok kuat dan seolah-olah tak ada yang menandingi ilmu maupun kecerdasannya. Bayangkan tuan, kami sudah memasakkan makanan yang lezat untuknya tapi dia malah bilang sudah bawa juru masak sendiri. Dia juga punya orang yang mencicipi makanannya untuk memastikan kalau tidak diracuni. Sudah begitu dia biang ada satu makanan yang ingin dia cicipi tapi langsung marah dan berkata makanan apa itu?"
Mooseok tadinya bertanya soal wajah dan penampilan pangeran tetapi langsung dijawab dengan hal seperti ini. Justru menggambarkan sifatnya dibandingkan penampilan luarnya. "Tapi dia suka teh nya?"
"Kalau soal itu tak perlu diragukan lagi. Produk teh kita kan unggul. Begitu juga dengan soju buatan tuan. Katanya dia ingin membawa yang seperti itu karena aromanya berbeda dari apa yang pernah dia minum selama ini."
Sudah dia duga produk yang dia jual akan menarik perhatian pangeran. Kalau begini ada peluang meningkatkan penjualan langsung ke istana. "Ada lagi?"
"Dia bilang dia suka tarian yang dibawakan untuk menyambutnya. Sudah kuduga dia itu pasti hanya ingin wanita. Lalu... juru masaknya berkata kalau pasta dan saus yang kita buat tak kalah dari istana dan ada yang rasanya unik dan berbeda dan ingin memesan lagi. Membawanya ke istana."
Satu alis Moosek terangkat. Berita bagus, jualannya laku. Hanya saja... "Aku tak suka ketemu dengan pangeran atau siapapun yang sesombong itu."
"Kalau begitu suruh saja Yoon," usulnya
"Tidak." Katanya tegas. Memang Yoon sudah seperti orang kepercayaannya dan mahir melakukan banyak hal (setelah banyak latihan) tetapi dia tak mau kalau Yoon sampai harus menghormat pada orang yang dia sendiri tak suka. "Pokoknya usahakan agar aku tak perlu bertemu dengannya. Katakan aku sedang mencari tumbuhan obat di hutan atau semacamnya."
"Ah tapi tuan, alasan seperti itu bisa membawa efek yang buruk nantinya."
"Aku tak ingin menundukkan kepalaku pada bajingan sepertinya."
Mendengar nada kesal begitu, tak ada pilihan lain. "Baik tuan, saya mengerti."
Mooseok menyodorkan sesuatu pada paman tetangga. Orang ini bekerja padanya tetapi juga seorang ahli memasak yang sengaja diminta untuk menyiapkan makanan untuk pangeran. "Lalu ini. Tanaman obat yang langka. Istana masih belum bisa mengembangkan ini di kebunnya. Berikan padanya besok saat dia akan pulang."
Dia mengambil bungkusan itu. Ada perasaan tidak rela kalau memberikan benda berharga begini. "Baik."
"Tuan!" ada seseorang yang berlari dan segera menuju tempatnya dengan terburu-buru.
"Ada apa?" justru paman yang menanyai pemuda itu.
"Sepertinya pangeran berjalan-jalan ke dekat kebun dan hutan sana."
"Yang seperti itu biarkan saja..." hampir saja jantungnya copot karena terdengar begitu mendesak dan berbahaya. Kalau pangeran akan ke kebun bukannya bagus? Jadi bisa tahu produksi mereka.
Mooseok terdiam, rasanya ada yang terlewat. "Tunggu. Yoon disana. Paman segera susul Yoon."
"A? Apa?"
.
.
.
Lee Yoon berusaha mengatur nafasnya. Dia berlatih pedang sendirian disini dan dengan pedang sungguhan pula. Menghancurkan tempat latihan Mooseok dalam waktu singkat.
"Kemampuanmu cukup lumayan."
Deg.
Jantung Lee Yoon yang berdetak kencang karena kegiatan fisiknya barusan dan detaknya makin menggila seolah ada yang memukul genderang di telinganya. Dia ingat suara ini. Mana bisa dia lupa.
"Aku Pangeran Lee Rin. Kau harusnya berlutut atau bagaimana, bukan? Ah... kau pasti tak mendengar kami datang karena itu kau tak bisa bereaksi apa-apa. Wajar saja. Aku memaafkanmu. Karena itu lebih baik kau segera memberi hormat sekarang dan mungkin aku akan membawamu ke ibu kota sebagai pengawalku yang baru, bagaimana?"
Lee Yoon merasa beruntung karena dia membelakangi Lee Rin dan pengawal-pengawalnya sejak awal, tetapi dia tak mau berbalik badan dan memberikan serangan jantung pada Rin. Serta kemungkinan untuk dibunuh kala itu juga.
"Kau tak suka? Padahal ada banyak makanan enak dan gadis di ibukota. Kau bisa bekerja dan bersenang-senang sedikit. Apalagi aku akan jadi raja. Suatu kehormatan bukan, melayani raja masa depan? Ah... pedangmu nampaknya bagus. Kau pasti bukan pendekar biasa. Berikan pedang itu untukku!"
Yoon mencengkeram erat-erat pedangnya. Ini pedang pemberian Mooseok hyungnya. Dia tak akan pernah memberikan benda berharga ini pada siapapun apalagi pada bajingan seperti kakaknya sendiri. Mooseok jauh lebih berharga dari pada putra ayahnya itu.
Paman yang tinggal di sebelah rumah Mooseok tahu-tahu berlari mendekat dengan tergopoh-gopoh. Dia langsung berdiri di sebelah Yoon dan berlutut dan membungkuk dalam-dalam. "Ampun pangeran, pemuda ini tuli, karena itu dia tak tahu kalau pangeran ada disini. Mohon ampuni dia pangeran."
"Tuli? Sayang sekali. Aku perlu pemuda yang sehat. Padahal dia punya tubuh yang tinggi dan bagus. Mengingatkanku pada seseorang. Orang bodoh dan lemah sampai bisa dibodohi dan ditipu dengan mudahnya. Sama sepertinya yang bertubuh tinggi dan bagus. Tetapi kelemahannya sangat besar. Ibunya juga sama saja."
Yoon meremas gagang pedangnya hingga jemarinya memutih. Rin boleh saja menghinanya, tetapi dia tak boleh menghina ibundanya. Ibundanya adalah orang yang sangat baik dan lembut. Beliau juga cerdas dan pandai melakukan banyak hal. Hanya karena fisiknya lemah dan sering sakit. Tetapi ibundanya tak mengharapkan apapun selain agar putranya bisa hidup dengan tenang. Berani-beraninya.
.
Tangan Lee Yoon bergetar menahan amarah. Lebih baik mereka berdua mati saja. Satu serangan telak ke Rin sebelum pengawal-pengawal menghunuskan padanya.
Ayo kita mati sama-sama, Rin!
Dia nyaris berbalik kalau bukan karena sesuatu mengenai tangannya dengan kencang dan membuatnya melepaskan genggaman pada pedangnya.
Nafasnya masih memburu.
"Tu... tuan. Yang Mulia, maafkan anak ini."
"Huh. Pemuda tuli tak ada gunanya buatku." Pangeran berbalik dan meninggalkan tempat itu, para pengawalnya mengikuti. Sementara paman masih membungkuk dan menahan kaki Lee Yoon. Menahannya dari berbalik badan.
.
"Kenapa paman mencegahku?" Yoon berteriak setelah Rin jauh.
"Jangan melakukan hal yang bodoh! Dasar kau ini ya!" Paman meninju lengannya kesal. Yoon tak bisa berbuat apa-apa meskipun sebenarnya dia ingin marah dan berteriak 'Aku Pangeran! Singkirkan tangan kotormu!' –tapi paman ini sudah menyelamatkan nyawanya juga.
"Harusnya tadi jangan dicegah!" hampir saja dia bisa membunuh Rin atau paling tidak melukainya. Mati juga sam saja, bukankah bagi ayahnya dia ini juga sudah tak ada?
"Aku mencegahmu dari menghormat pada pangeran sombong itu! Lihat bagaimana kepalaku harus mencium tanah. Kalau luka aku minta ganti rugi!" Paman itu menggerutu dan meninggalkan Lee Yoon. "Dasar anak muda jaman sekarang. Makin kurang ajar."
.
.
.
"Hyung sedang apa disana? Melamun?"
Sosok Mooseok yang tiduran di atas batu pinggir sungai dengan menggigiti rumput itu terlihat menenangkan untuknya. Yoon duduk di sebelahnya, pedangnya sudah kembali ke sarungnya dan diletakkan di sampingnya. "Habis berlatih pedang? Mendadak sekali."
"Tahu-tahu ingin saja."
Selanjutnya hening. Yoon merasakan tubuhnya lengket karena keringat, pasti bau. Kalau dipikir lagi, mereka berdua ini laki-laki yang tahu-tahu tinggal bersama. Tetapi sudah tinggal dalam waktu yang cukup lama, pastinya sudah terbiasa dengan aroma tubuh masing-masing. "Hyung, apa yang kau lakukan kalau ada orang yang membuatmu kesal? Kau akan membalasnya?"
Mooseok memainkan rumput yang tadinya dia gigiti di jemarinya. "Entahlah. Tidak selalu seseorang membuat kesal karena salah. Bisa saja kita yang salah."
"Kalau menghina ibumu bagaimana?"
"Aku jelas akan kesal. Tapi yang seperti itu kadang tak bisa dihindari."
"Walau semua hal itu tidak benar?"
"Yoon... apa yang sebenarnya ingin kau tanyakan?"
"Tidak." Dia mengelak cepat-cepat.
"Meladeni orang yang tak tahu apa-apa tentang kita itu tak ada gunanya. Kalau sejak awal orangnya sudah membenci kita, mau sebaik apapun yang diperbuat tetap saja salah. Jadi lupakan saja yang begitu. Tak ada artinya." Mooseok kemudian duduk, tetap memainkan rumput itu dengan satu tangan.
Yoon melihat ke bayangan langit yang ada di permukaan air. "Hyung memang orang baik."
"Kau juga orang baik." Mooseok mengangkat tangannya dan merangkul bahu Yoon, mendekatkan tubuh mereka berdua. "Padahal awalnya ada percikan ketakutan dalam dirimu setiap kali bertemu orang, tapi sekarang tidak lagi dan aku suka itu. Kau hebat bisa berkembang sebanyak ini." Kata-kata yang penuh kebanggaan yang membuat wajah Yoon menghangat. Mooseok membacanya. "Oh? Telingamu merah. Kau kenapa? Terlalu banyak memforsir tenaga?"
"Ha? Ah? Tidak. Tak apa. Mungkin terlalu lelah."
"Mau mendinginkan tubuh?" tawarnya.
Yoon menoleh, melihat air yang hanya 2 meter di bawahnya. Air dingin. Tapi dia sudah terbiasa. Mungkin bisa mendinginkan kepalanya juga.
.
.
.
Tak bisa tidur. Dia hanya berguling-guling saja dan merasa tak nyaman di kasurnya. Keringat yang tak seberapa terasa lengket dan tak nyaman meski sudah berusaha tidur dan menghitung hingga 400 tetapi kantuk tak kunjung datang.
Akhirnya dia duduk di kasurnya. Membuka selimut dan merasa sangat frustasi. Seharian ini sudah cukup berat untuknya.
Mulai dari tahu kenyataan kalau istana mengumumkan hanya memiliki satu penerus dari awal, yang berarti keberadaannya di kerajaan ini sengaja ditutupi, dianggap aib. Kemudian amarahnya yang luar biasa, pertemuan dengan Rin yang nyaris membuatnya berlutut pada bajingan itu. Yang terakhir Mooseok.
Mooseok yang dia kagumi itu, yang selalu dia dengarkan dan dia turuti, yang memberinya kata-kata yang bijak juga.
Dia, orang itu justru mengajaknya berenang berdua saja di sungai.
Bukan apa-apa. Mereka sudah terbiasa melihat tubuh satu sama lain. Berenang seperti itu juga sudah biasa. Bahkan Lee Yoon pernah mengerjainya suatu hari.
Tapi tidak seperti ini.
Tidak saat hati, pikiran dan tubuhnya yang menyukai wanita mengkhianatinya dan bersekongkol untuk memutuskan kalau Mooseok seribu kali lebih menarik dan dia butuhkan dibanding seribu penari istana yang terkenal cantik itu.
Dirinya sampai kesulitan untuk keluar dari air karena barangnya memutuskan untuk merasa gembira karena Mooseok merangkulnya di air. Tubuh atas mereka bersentuhan. Lalu dengan seenaknya Mooseok memutuskan untuk menggosok punggungnya.
Tidak itu bukan pertama kalinya kulit mereka bersentuhan, tetapi bagaimana benda yang menggantung di antara pahanya justru memutuskan kalau itu sangat menyenangkan
Dia sudah gila. Benar-benar sudah gila.
.
.
.
"Ada lingkaran hitam di bawah matamu." Alis Mooseok berkerut karena melihat Yoon dalam kondisi yang kurang baik. Dipikirnya setelah kecapaian kemarin, dia bakal bisa tidur nyenyak. Tak tahunya...
"Semalam tidak bisa tidur."
"Kukira kau lelah karena habis-habisan kemarin."
Yoon tidak menjawab, matanya minta ditutup. Pintu depan diketuk dan seseorang memanggil. "Masuk saja"
"Hei, Mooseok."
"Heejong?" itu sebuah pertanyaan, seolah Mooseok tak mengerti kenapa Heejong ada disana. Bukan sesuatu yang direncanakan atau dia merasa ada yang tidak beres.
"Kau kurang tidur? Ada lingkaran dibawah matamu." Kali ini justru Yoon yang jadi sasaran komentar Heejong. Yoon jadi khawatir kalau dirinya terlihat sangat jelek karena lingkaran di bawah mata yang begitu terlihat. "Aku ingin mengajakmu keluar sebentar. Bisa, kan?"
Mooseok tak dalam posisi bisa menolak. Dia mengangguk tapi ada keengganan disana, Yoon menyadari. "Kalau begitu Yoon, kau mau..."
"Dia terlihat kurang tidur begitu, biarkan dia istirahat..." Heejong mencegahnya mengajak Yoon dan sebagai hasilnya Mooseok menatapnya tajam. Agaknya dia tak suka dengan pertemuan mereka kali ini.
"Aku tak apa. Nanti aku akan ke kebun saja."
Mooseok menatapnya khawatir. "Tak perlu. Kau istirahat saja di rumah, aku akan minta paman untuk mengantarkan makanan untukmu."
.
.
.
Bukannya dia membenci Heejong, tetapi jelas sekali tadi Mooseok bermaksud mengajaknya, apa mungkin untuk menghindari pertemuan itu? Apa yang mereka perbincangkan, Yoon tak pernah tahu. Dia takut bertanya dan melanggar privasi.
Itu adalah pertemuan Mooseok yang tak pernah melibatkan dirinya dan dia tak berhak ikut campur. Begini caranya menghormati orang itu. Tak melulu harus tahu, jika dirinya memang perlu tahu, maka Mooseok sendiri yang memutuskan untuk memberitahunya.
Yoon mengambil bukunya. Dia sedang menuliskan sebuah kisah disana. Masih belum selesai, masih panjang tetapi dia ingin menuliskan secara mendetail.
.
Mooseok pulang dan mendapati Lee Yoon terbaring menyamping di ruang tamu. Tempat dimana mereka biasa duduk dan menikmati taman kecil, membiarkan pintunya terbuka. Ada pagar tinggi yang mengelilingi, tak perlu khawatir dilihat orang.
.
'Yoon, kenapa menangis?'
'Putra mahkota menatap galak padaku, ibunda.' Dia hampir menangis, anak sekecil itu.
Yoon tersenyum melihat mimpi ini. Dirinya yang masih berumur 5 tahun, sebentar lagi akan berbaring di pangkuan ibunya dan akan dibelai dengan sayang.
Dia tidak menjadi anak kecil itu, dia ada disana, sebagai orang dewasa yang melihat kejadian itu dari dekat.
Dirinya dulu begitu kecil dengan pipi berisi, sekarang sudah makin tirus. Dia mendekat pada ibu dan anak itu, duduk di sebelah ibunya sambil memandangi wanita itu.
'Aku merindukanmu, ibu. Apa ibu ada di surga sekarang?'
Ibunya tak mendengarnya dan tetap meladeni Yoon kecil yang ada di pangkuannya. 'Aku juga ingin ibu membelaiku seperti dulu.' Katanya sedih. 'Ibu tahu? Sekarang aku tinggal di luar istana. Memang tak bisa manja seperti dulu tapi disini aku bisa lebih bebas. Aku bisa mendapatkan uang sendiri, bisa berlatih pedang dan memanah. Memancing juga, lalu disini orang-orang desa begitu baik padaku. Mereka tidak menghormat padaku tetapi ini jauh lebih baik daripada tinggal di tempat yang penuh pura-pura. Lagipula ada kedai yang enak disini, sudah mirip dengan di istana. Bahannya juga lebih segar. Ah. Lalu ada Mooseok hyung. Dia begitu baik. Dia menyelamatkanku, bu. Dia..."
'Kau menyukainya, Yoon?'
Ibu dalam mimpinya bereaksi padanya, membuat Yoon hanya terdiam. Ibundanya melihatnya. Tangan kurus itu tetap membelai dirinya yang masih kecil tetapi pandangan itu untuk dirinya.
'Dia begitu baik padamu. Mempertaruhkan semuanya untukmu. Kau menyukainya?'
Yoon menunduk. Tak tahu harus berkata apa.
'Tak apa, Yoon. Tak apa.' Tangan yang terasa dingin membelai kepalanya dan menyentuh pipinya lembut. Sentuhan mengejutkan itu membuatnya membuka mata.
Ada Mooseok yang mengusap pipinya. "Hyung?" katanya lemah dan setangah sadar.
"Tak apa, Yoon."
Ini Mooseok? Membelai pipinya? Kemana ibundanya tadi? Bukankah tadi beliau ada di depannya? Perlahan dia mengerjapkan mata dan tangan itu tetap disana. "Dingin." Komentarnya.
"Kau tertidur saat baca buku?"
Yoon bergegas duduk dan menatap Mooseok seolah pria itu kepalanya bertumbuh satu. "Apa yang hyung lakukan barusan?" dia nyaris marah, pipi dan wajahnya memerah sempurna. Satu tangan menyentuh tempat yang tadi disentuh oleh Yoon. Basah.
"Kau menangis dalam tidur." terangnya. "Maaf." Katanya sebelum beranjak pergi ke kamarnya sendiri. "Tidurlah di kamar dengan selimut. Jangan sampai kau sakit."
Kecanggungan begitu terasa di udara sekitar mereka sampai Mooseok menutup pintu kamarnya.
.
Dia benar-benar menangis dalam tidur.
.
.
.
"Sudah baikan?" Mooseok yang mulai berbicara ketika mereka sedang makan, berusaha membunuh kecanggungan.
"Iya. Aku hanya bermimpi tentang ibuku." Ada senyum tipis disana. Senyum yang segera menghilang. Perasaannya campur aduk.
"Pasti beliau wanita yang luar biasa. Bisa memiliki putra sebaik dirimu."
Mata Lee Yoon berubah sedih. Dia bukan anak yang seperti diharapkan oleh ibundanya. Apa yang bisa dibanggakan darinya yang punya kelakuan buruk di istana? Sampai dibuang begini pasti karena kelakuannya yang tak pantas. "Ibuku... sakit... andaikan aku tahu ada orang sehebat hyung, aku pasti sudah membawanya kesini." Tangannya bergetar menggenggam sumpit. Ada perasaan yang sangat dia sesali. Bagaimana dia justru memaksa ibundanya meminum semua obat-obat itu. "Beliau meninggal... karena aku..."
Obat-obat yang baru sekarang dia tahu bisa memperparah sakit ibundanya? Kalau saja tabib dan perawat istana jujur dan baik seperti tabib di desa ini. Kalau saja ada Moosek yang memberitahunya kalau obat untuk ibundanya salah.
Satu tangan kekar merengkuhnya dalam pelukan. Begitu sadar dia sudah ada dalam pelukan Mooseok. Air mata mengalir bebas tanpa dihentikan sama sekali. "Tak apa, Yoon." Bisikan di telinganya justru membuat air matanya tumpah.
"Aku pembunuh, hyung." Tangannya melemas, "Aku yang membunuh ibu... harusnya aku tak membiarkannya minum obat itu. Harusnya..."
"Tak apa... bukan salahmu. Kau tak tahu."
"Harusnya aku belajar obat-obatan... Aku bukan anak yang berbakti."
"Ssshhh... Kau bermaksud mengobatinya."
Yoon terisak, tubuhnya bergetar, dia tak bisa peduli kalau dia akan membasahai pakaian Mooseok. Tak ada pelukan seperti ini sebelumnya.
Dan Mooseok disana, memeluknya erat dan membelai punggungnya, memberikan kenyamanan dan perlindungan bagi dirinya yang kini lemah.
.
.
.
"Kau rajin sekali. Sudah selesai... Mooseok tak salah merekrutmu."
Yang benar menyelamatkan, bukan merekrut. Tapi sudahlah. "Karena pekerjaan utamaku hanya ini."
"Mau latihan pedang? Aku ingin tahu seberapa mahirnya dirimu." Karena sedang menganggur juga. Mooseok sedang mengurusi perjanjian penjualan dan pengiriman dengan pihak istana. Sedang bertemu dengan juru masak istana atau semacamnya.
Yoon tidak merasa takut dengan Heejong karena memang orangnya baik, tetapi kalau urusan bermain pedang mana dia tahu? Selama ini hanya Mooseok saja yang melatihnya. "Tidak mahir."
"Mooseok bilang kau bagus."
Pangeran itu berpikir sebentar. "Tidak pakai pedang sungguhan, kan?"
.
"Mooseok mengajarimu dengan sangat baik ya? Heran kenapa dia malah memilih untuk mengajarimu. Padahal buat perguruan saja mungkin bisa." Heejong jelas sekali menahan diri saat berlatih dengan Yoon begini. Sebab dia tahu sudah berapa bulan Yoon berlatih.
"Hyung tak tertarik dengan itu."
"Ya, aku tahu."
Dibanding urusan pedang, ada hal lain yang membuatnya lebih tertarik. "Oh ya, hyung. Eunshi itu siapa?"
"Siapa apanya?"
"Teman sejak kecil atau bagaimana?"
"Teman sejak remaja. Bukan dari kecil. Tapi sejak dulu kurasa dia kagum pada Mooseok." Dia berdiri dengan kedua tangan tersilang di depan dada, tampak berpikir, mengingat-ingat.
"Dan dia menempuh perjalanan jauh untuk bertemu Mooseok hyung?" itu satu poin yang aneh kalau mereka hanya sekedar 'teman sejak remaja'.
Heejong mengangguk. Dia setuju. Itu bukan hal yang biasa juga. Perjalanan jauh tapi masih sempat memaksa untuk memasakkan sesuatu untuk Mooseok. "Kurang lebih. Ibu tirinya yang mengirim Eunshi untuk menemui Mooseok. Sepertinya beliau ingin menjodohkan Mooseok dengan Eunshi. Tapi Mooseok tak bisa dipaksa sih."
"Oh ya?" dia tak tahu apa-apa soal keluarga Mooseok. Tapi Heejong juga tak banyak cerita.
"Dia itu tak akan bergeming semudah itu. Kalau dia sudah memutuskan sesuatu ya tak bisa diapa-apakan lagi."
Kenyataan yang mereka berdua tahu. Orang satu itu begitu keras kepala dan teguh pada pendirian, meskipun sebelum mengambil keputusan, dia akan mendengarkan masukan-masukan dan mencari tahu sebanyak-banyaknya. "Orang yang sulit."
"Kadang-kadang. Tapi memang untuk urusan pernikahan ini rasanya agak keterlaluan ya? Padahal sudah diminta menikah oleh ayah dan ibunya, tapi tak bergeming." Walau kalaupun dia berkata demikian, dirinya sendiri juga belum menikah.
"Oh ya. Ibu tiri? Ibunya dimana?"
"Sudah meninggal."
"Begitu ya? Jadi ayahnya menikah lagi?"
"Yah..."
"Apa karena itu Mooseok hyung meninggalkan rumah?" tanyanya curiga. Dirinya saja tak bisa terbiasa dengan Permaisuri.
"Ha? Tidak. Hubungan Mooseok dan ibu tirinya baik-baik saja. Tidak ada masalah sama sekali." Mendengarnya Yoon jadi merasa sedikit iri. "Lagi pula kurasa ini justru tanggung jawab beliau pada ibunya Mooseok, untuk memastikan agar dia bisa menikahi seseorang yang baik." Baiklah, sekarang kadar irinya bertambah.
.
.
.
Yoon pura-pura tidur begitu mendengar suara pintu terbuka perlahan. Sampai hafal dengan kebiasaan Mooseok yang membuka pintu perlahan dan suara langkah kakinya.
Semua pekerjaan sudah selesai dan dirapikan. Lagi pula dirinya agak lelah karena ikut memanen sayuran tadi. Mooseok? Pria itu juga sama saja. Tetapi setelah memanen lobak, dia pergi untuk mengambil bibit tanaman obat dari seorang pedagang di pasar.
Dia tidur di meja di rumah pinggir kebun. Tempat ini untuk penjaga kebun dengan sistem bergilir, tetapi disana Yoon juga mengerjakan tugasnya. Dia pura-pura tidur di kursinya, kepala di atas meja.
Mooseok mendekat dan menyibakkan rambut yang menghalangi wajahnya. Yoon merasa Mooseok tersenyum melihatnya. Pasti wajahnya begitu konyol saat ini.
Yoon bisa merasakan jemari kasar Mooseok menelusuri pipinya dengan sangat perlahan, takut untuk membangunkan pastinya. Ada geli yang tertinggal di bekas yang tadi disentuh oleh Mooseok.
Berikutnya bayangan yang terasa melingkupi wajahnya perlahan, ada kulit yang menyentuh pipinya perlahan dan nyaris tak terasa. Awalnya Yoon tak tahu apa itu, tetapi nafas lega Mooseok yang duduk di sampingnya seolah membuatnya mengerti.
Nafas yang tertahan itu.
Itu bibir Mooseok yang menyapa pipinya.
Pria penyelamat nyawanya itu justru duduk dengan menyandarkan kepalanya pada satu tangan yang terkepal. Menikmati wajah Lee Yoon yang harus bertahan ekstra keras untuk tidak membuka matanya.
Ini jadi semacam pertarungan siapa yang lebih tahan dalam posisi begini.
Kalau harus Jujur, pipi dan tangannya terasa sakit dan mulai kesemutan.
.
.
.
"Eh? Tuan? Kenapa malah menggendongnya? Nanti dia jadi semakin manja." Mooseok berpapasan dengan paman yang tinggal di sebelah rumah. Baru saja akan kembali ke rumahnya.
Ada senyum tipis yang ditampilkan oleh Mooseok. "Tak apa paman. Dia pasti lelah karena seharian bekerja."
"Iya tapi... haaah. Padahal ada orang tua yang ingin mengangkat Yoon jadi menantu mereka. Tapi dia malah manja begini kalau dengan tuan."
Mooseok tertawa pelan, tapi getarannya terasa oleh Yoon yang pura-pura tidur dan kini digendong di punggung Mooseok. "Oh ya? Apa anak gadisnya cantik dan baik?"
"Pemalu tuan. Jarang keluar rumah juga. Lagipula Yoon itu tampan."
"Jadi menurut paman gadis itu masih kurang pantas, ya kan?" dengan cepat mengambil kesimpulan.
Paman jadi agak panik. "Bukan saya yang berkata seperti itu. Mungkin kalau teman tuan yang waktu itu. Nona Eunshi saya rasa cukup cocok."
"Eunshi, ya?"
Alis Yoon berkedut mendengar nama itu.
Dia tahu Eunshi itu baik, tetapi dia tak ingin menikahi gadis itu. Bahkan meski Mooseok sendiri yang memintanya. Jangan harap! Baru tadi bibir hyungnya itu menyapa pipinya dan sekarang dia mau menjodohkan?
Tak bisa diterima!
.
.
.
Lee Yoon baru saja kembali dari membeli kertas, kembali ke rumah yang dia tinggal bersama Mooseok. Dia masuk dengan perlahan, walau sama saja karena Mooseok selalu tahu kalau ada yang masuk rumah. Tapi kemana orang itu?
Lee Yoon masuk dan melihat Mooseok sedang membaca dengan tekun. Terlalu fokus hingga tak menyadari Yoon sudah ada disana. Dia mendekat perlahan dan ikut membaca buku yang sedang dibawa Mooseok. "Itu tulisanku?"
Hyung nya terkejut dan berbalik, menatap Lee Yoon dengan perasaan bersalah. "Ma... maaf. Aku membaca ini karena ada di sana dan ini cerita yang bagus."
Wajah Lee Yoon menampakkan kesedihan sekilas. "Hyung baca saja..."
"Ini cerita yang menarik, Yoon."
"Benarkah? Kupikir itu cerita sedih."
"Sedih memang, sangat menyakitkan. Tapi itu berarti ini cerita yang bagus karena membuat pembacanya merasakan sakit." Mooseok tersenyum. "Kau bisa jadi penulis dan menjual cerita."
Sewaktu masih jadi pangeran, dia sempat menerbitkan bukunya. Dapat uang juga tapi tak terlalu dipikirkan. "Lalu menurut hyung? Soal cerita itu?"
"Tembok istana itu menakutkan, ya? Apa yang ada di dalamnya kita tidak tahu pasti, rakyat saja yang sering jadi korban. Lalu? Ini masih ada lanjutannya?" matanya berbinar.
"Aku masih menulisnya."
"Bagus. Aku sudah tidak sabar."
"Tapi hyung harus bayar untuk membaca kelanjutannya."
"Yah! Apa itu? Kau mulai perhitungan denganku? Dasar!" Mooseok mengacak rambutnya, pura-pura kesal. Yoon pura-pura tak terima dan berusaha untuk melakukan hal yang sama terhadap pria yang lebih tua darinya itu.
Tanpa sadar mereka jadi bergulat di ruang tamu itu, tertawa dan menikmati momen konyol ini ketika akhirnya tawa mereda dan Mooseok sudah di atas Lee Yoon. Menahan kedua tangan pria yang lebih muda itu di sisi kepalanya. Baju mereka berantakan dan terbuka begitu saja. Wajah mereka hanya terpisah sejengkal.
Terlalu dekat.
"Aku... " Yoon memulai, tapi dia sendiri tak yakin akan berkata apa.
Mooseok melepaskan tangan Yoon dan berbaring di sampingnya. "Aku tak pernah menanyakan ini sebelumnya... apa kau merasa nyaman tinggal di sini bersamaku?"
Yoon menatap Mooseok yang ternyata sedang menatapnya itu. Dia tak tahu harus menjawab apa karena tak tahu mana yang ditekankan: tinggal di rumah ini, tinggal di desa ini atau tinggal bersama Mooseok.
Yoon hanya memejamkan mata sebelum menatap langit-langit kamar. "Aku juga belum pernah bertanya apa kehadiranku disini baik atu tidak untuk hyung."
.
.
Cerita yang Mooseok baca, itu adalah kisah Lee Yoon sendiri. Dengan menyamarkan nama raja dan yang lainnya, Lee Yoon menuliskan kisahnya sendiri. Tak akan terlalu aneh karena ada beberapa kerajaan yang menguasai dataran ini.
Mooseok sudah membaca kisahnya. Mengetahui masa lalunya yang ditulis dengan nama yang berbeda. Selamanya hyungnya hanya akan mengetahui hal itu sebagai cerita fiksi alih-alih masa lalunya.
Dan ya, memang semenyakitkan itu.
Tapi tak apa. Lain kali dia berharap mengetahui masa lalu Mooseok. Dia tak tahu banyak, tetapi semua orang menghormatinya. Dan perlahan namun pasti orang-orang yang berhubungan dengan masa lalu Mooseok berdatangan. Sepertinya Mooseok adalah anak pejabat atau semacamnya.
Yang jadi kecurigaan terbesar Lee Yoon adalah tata krama dan wawasan yang luas. Seseorang tak akan mendapatkannya kalau bukan dari banyak membaca buku-buku yang bagus dan terbiasa di lingkungan yang penuh tata krama. Meski tinggal di rumah kecil begini, tetapi bersih.
Dia ingin tahu tentang Mooseok. Akan sangat sia-sia kalau seseorang sepertinya tak berusaha untuk mengubah kerajaan yang perlahan digerogoti dari dalam istana sendiri.
Kalau dirinya mana bisa melakukan hal itu?
.
.
.
Mooseok baru saja pulang entah dari mana dan ini sudah tengah malam. Lee Yoon tak suka jika dia tidak diajak dan ditinggal sendiri begini, tetapi dia tak mau dianggap sebagai "adik kecil" yang memaksa ikut kemanapun.
Biar bagaimanapun awalnya dia dan Mooseok kan orang asing. Tak saling mengenal satu sama lain. Kadang dia ingin tahu apa yang menyebabkan Mooseok pergi seperti ini. Sebab dia tidak menghirup aroma alkohol dari pria itu, sepertinya sesuatu yang lebih serius.
Dan disini dia tidur, tepatnya pura-pura tidur karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tak tahu juga apa yang akan dia katakan pada Mooseok.
Pintu kamarnya terbuka perlahan, dan Yoon tetap memejamkan mata. Tak terdengar suara sama sekali, pasti kalau Mooseok orang jahat, dia sudah tewas dari dulu.
Hyungnya itu duduk disampingnya sepertinya hanya menatap wajahnya lama. Kedua tangannya terulur untuk memperbaiki letak selimut.
"Yoon... apa yang harus kuperbuat dengan perasaanku ini terhadapmu?" bisiknya lirih.
Dada Lee Yoon terasa sakit kala itu. Mooseok menyuarakan perasaannya?
Dia tak bisa membuka mata dan harus meneruskan pura-pura tidur dengan dada yang terasa sesak. Mooseok bergerak sedikit, satu tangannya terulur untuk menyentuh pipi Yoon.
Selanjutnya bibir Mooseok yang menyentuh pipiya dengan lembut.
Ada helaan nafas sebelum hyungnya itu berdiri dan meninggalkan kamarnya tanpa suara.
Lee Yoon membuka matanya dalam gelap, air matanya mengalir begitu saja.
"Mooseok hyung..." katanya lirih.
.
.
.
Pagi harinya Lee Yoon berusaha bersikap biasa saja. Memakan sarapannya dengan tenang. "Kau menghindariku?"
"Hah? Tidak?" Lee Yoon menegakkan pandangannya, menatap Mooseok yang... Tidak lagi dia bisa menatapnya tanpa perasaan apa-apa. Dia menyukai hyungnya itu. Walau entah perasaan apa. Dan dipaksa menatap wajah begini...
Tampan dan berkharisma. "Apa yang akan kau lakukan hari ini?"
"I... itu... aku... A... kalau hyung?"
"Aku harus bertemu seseorang, tapi aku merasa tak ingin meninggalkanmu."
Yoon memutar matanya terang-terangan. "Hyung, aku bukan anak kecil."
"Bukan begitu. Hanya saja aku merasa tak enak saja."
Kalau boleh, Lee Yoon pun ingin bersama dengan Mooseok, tapi dia tahu sesuatu yang dikerjakan oleh Mooseok saat ini mungkin berbahaya, dan ada hubungannya dengan pemerintahan. Dia merasa mereka; teman-teman Mooseok sedang mengajaknya untuk melakukan kudeta pada kerajaannya. Pilihan yang bagus. Kalau Mooseok, dia pasti bisa. Tak sepertinya yang tak punya pangalaman nyata. Dan lagi teman-temannya itu terkadang menatapnya dengan curiga setiap kali bertemu. Kecuali Heejong yang justru melatihnya bermain pedang.
"Aku akan berlatih pedang atau panahan saja setelah menyelesaikan pekerjaanku di tempat biasa. Hyung pergi saja..."
"Tapi..."
Yoon memotongnya. "Bawakan aku oleh-oleh. Makanan dari kedai yang biasa. Yang paling mahal dan aku minta 3 porsi."
Mooseok tersenyum lalu tertawa tak percaya.
"Tidak usah tertawa!"
"Maaf. Baiklah... akan kubawakan."
.
.
.
Keringat mengalir dari seluruh tubuhnya, tubuhnya lelah, tangannya lelah dan sakit, tetapi dia menolak untuk berhenti. Mata terfokus ke satu titik, dengan penuh perhitungan dilepaskannya tali busur yang dipegangnya. Panah melesat jauh dan mengenai target dengan tepat. Lee Yoon menarik nafas panjang dan menghelanya cukup kuat. Kalau bukan karena Mooseok yang mengajarinya, mungkin dia tak akan bisa mengingat bagaimana besar rasa sukanya dulu terhadap panahan ini.
"Mooseok-hyung menyebalkan!" racaunya. Dia berjongkok dan membenamkan kepalanya dengan kedua tangan. Wajahnya menghangat kalau ingat pengakuan Mooseok. "Kenapa mengatakan hal bodoh begitu sih?" Lee Yoon mengingat-ingat semua kejadian dari awal pertemuan mereka hingga pagi ini. "Aku juga menyukaimu, bodoh!"
"Yoon!"
"Astaga, orang bodoh itu bahkan sudah ada disini..." Lee Yoon berdiri dan melihat ke sekeliling. Mooseok dan seorang temannya yang paling ramah padanya berjalan pelan kearahnya. Masih agak jauh, tapi dia tersenyum saat tahu Mooseok begitu peduli padanya.
Jleb. "Ahk..." Yoon tersentak kaget.
"Yoon!" Suara Mooseok yang berisi keterkejutan dan kekhawatiran terdengar masih jauh.
Pangeran itu melihat ke dadanya. Ada rasa sakit yang luar biasa. Anak panah tertancap di dadanya. Warna merah menyebar perlahan di bajunya. Kakinya kehilangan tenaga dan dia jatuh begitu saja.
"YOON!"
.
.
.
.
Tbc
Read and Review, please.
JiJoonie : aku lebih tercengang sama dirimu yang bisa2nya review pertama lagi. Wakaka... nggak elit ya jatoh disungai? Daripada mati, (ngeles). Mooseok itu adalah... nantinya reader juga tahu. Kalo yoon kan cuma gimana ceritanya dia bisa nyasar kesitu n ktemu Mooseok. Hhh... sabar ya Yoon...
Park Rinhyun-Uchiha : Itu mah... yang naksir duluan... ng... siapa ya... coba tak tanya dulu ke mereka (lho?). iya itu kucing gaje..
Shin min hyo : Iya apdet
Lennie239 : Iya tuh, bapake, (profokator) Nenek itu adalah... masih belum saatnya, aku aja bingung dia siapa, wkwkwkw... Kemaren ada yang bilang suka yg masa sekarang, tp dirimu suka yg masa lalu... fansnya beda2 ya... wkwkwk... btw Aku baper... (nangis di pojokan)
Toto-chan : Iya sabar ya... belum saatnya... Ohoho. Nggak sejak kabur2an karena kami kabar2i plak.
Luvhomin : soal itu... ng... mungkin ada baiknya nunggu chapter2 depan. Siapa tahu akan ditulis secara explisit. eheheh
Siwonnie96 : Iya nggak marah kok. Terimakasih sudah menyempatkan baca dan review, n seneng kalo kamu bisa menikmati fic ini. Iya makanya ada flashback ini. Untuk jadi latar kenapa kelakuan Changmin jadi begini. Soalnya biarpun dia jadi guru (yg lbh tua dr Yunho) dia tetap aja nggak bisa ngilangin sikap manjanya ke Yunho. (Sabar ya Yun... padahal nggak tahu apa2 tahu2 ketempelan). Iya ya... waktu itu nenek bilang apa ya? Kok aku lupa... N sengaja nggak dibikin italic karena saya aja liatnya miring2, wkwkw
Minnie Chwangie : Ini juga masih full plesbek eheheh. Serius nampar diri sendiri? *_* Ya ampun kan sakit... Jangan sering2 penasaran untuk sesuatu yang kayaknya sakit ya ;)
Angelmax28 : akhirnya kak angel baca ya ^^ wkwkwkw... lebih dapet karena lebih gampang ngebayanginnya?
.
.
.
Untuk Chapter depan... tunggu aja ya... akan diapdet kok... tapi kalo semisal absurd... itu karena saya Cuma menggabungkan banyak ide dalam satu fic. (Salahin kak Ela) n saya nggak ngerti banyak soal kerajaan Korea. Film kerajaan Korea yg saya tonton hanya jewel in the palace (itu doank). Jadi maklum ya... n saya lagi pengen ngemil... (gak nanya)
