Remake novel A Romantic Story About Serena karya Santhy Agatha.

::

HunHan-KaiLu

::

[3.304 words]

::

Typo(s). YAOI. M-Preg.

::

Enjoy!


9


Lelaki itu marah, marah besar padanya.

Luhan bisa merasakannya dari suasana pagi itu, ketika mereka bersiap-siap berangkat ke kantor.

Semalaman Luhan tidak bisa tidur, dan Luhan yakin Sehun juga tidak tidur, karena lelaki itu bergerak dengan gelisah sepanjang malam.

Suasana tegang di waktu sarapan pagi itu terasa seperti kawat berduri yang direntangkan, siap putus dan melukainya.

Ia tidak menyukai suasana seperti ini, lebih baik Sehun meledak-ledak marah seperti kemarin, setidaknya semua kemarahannya terlampiaskan, tidak seperti sekarang.

Lelaki itu murka, tetapi menyimpannya sehingga membuat seluruh dirinya tegang dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Kita berangkat bersama." desis Sehun setelah membanting serbet makannya ke meja.

Tangan Luhan yang menyuapkan roti ke mulutnya berhenti di tengah-tengah.

"Apa?"

"Kita berangkat bersama-sama." ulang Sehun datar.

"Tapi..."

"Tidak ada tapi Luhan." sela Sehun kasar lalu berdiri dengan marah ke pintu. "Ayo cepat!"

Dengan gusar lelaki itu membukakan pintu mobil untuk Luhan, dan membantingnya ketika Luhan sudah duduk di kursi, tanpa dapat membantah, tanpa dapat memberikan perlawanan.

Sepanjang jalan, lelaki itu menyetir dengan sangat kasar, seolah-olah melampiaskan kemarahannya. Luhan hanya duduk berdiam, tidak mau melakukan apapun yang dapat memancing kemarahan Sehun.

"Nanti kau pulang denganku! Kau dengar itu? Kau datang ke ruanganku setelah jam kantor, kita pulang bersama!" gumam Sehun tanpa mau dibantah ketika menurunkan Luhan di lobby kantor.


Hari ini berlalu dengan amat lambat bagi Luhan, perasaannya tidak enak, sampai kapan Sehun akan marah padanya? Sampai kapan Sehun akan bersikap seperti ini kepadanya?

Dia tahu dia bersalah, tapi dia kan sudah meminta maaf? Lagipula kenapa permasalahan kecil semacam ini begitu dibesar-besarkan oleh Sehun? Pemikiran itu masih berkecamuk di kepalanya ketika keluar dari lift yang mengantarkannya ke ruangan pribadi CEO perusahaan.

Sebenarnya Luhan tadi bermaksud pulang sendiri dan mampir ke rumah Sakit menengok Jongin, memanfaatkan waktu bebasnya yang dijanjikan oleh Sehun pada waktu perjanjian awal mereka.

Tapi dengan ancaman Sehun tadi pagi, Luhan tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Sehun untuk menemuinya di ruangannya sepulang kerja.

Meja sekertaris Sehun sudah kosong, dengan pelan Luhan melangkah ke pintu besar ruangan Sehun, mengetuknya pelan.

"Masuk."

Sebuah suara mempersilahkannya dari dalam. Luhan masuk dan menutup pintu di belakangnya, ketika membalikkan badannya dia terpaku.

Bukan Sehun yang ada di sana, tetapi Suho, lelaki itu sedang duduk santai di sofa, menyesap segelas brendy, menatap Luhan dengan penilaian santai yang sedikit kurang ajar.

"Sehun menyuruh saya kesini jam pulang kantor." jelas Luhan terbata.

Suho tersenyum, masih duduk santai di sofa sambil menatap brendynya yang tinggal seperempat gelas.

"Aku tahu, Sehun menyuruhku menunggumu di sini, dia sedang menemui tamu penting dari Jerman di ruang pertemuan."

"Oh."

Luhan tidak tahu harus berkata apa, suasana terasa sangat canggung. Entah karena Luhan memang tidak kenal dekat dengan Suho, atau karena sikap santai palsu yang ditunjukkan Suho.

"Kalau begitu mungkin saya akan menunggu di luar saja." gumam Luhan cepat-cepat, ingin segera meninggalkan ruangan itu.

"Bagaimana rasanya?"

Pertanyaan tiba-tiba Suho itu menghentikan gerakan tangan Luhan membuka pegangan pintu.

"Apa?"

"Bagaimana rasanya menjadi pacar simpanan taipan kaya seperti Sehun?" Suho bangkit berdiri dari sofa dan menghampiri Luhan.

Luhan tidak suka mendengar nada melecehkan dalam suara Suho, dia ingin segera keluar dari ruangan ini.

"Eh, mungkin saya harus menunggu di luar." Luhan berhasil membuka pintu sedikit, tapi dengan lengannya Suho mendorong pintu itu tertutup lagi.

"Aku bertanya padamu Tuan Xi." ulang Suho sinis.

Luhan menatap Suho tajam.

"Saya tidak akan membiarkan anda merendahkan saya." desisnya pelan.

Ucapan itu membuat Suho tertawa, penuh penghinaan.

"Merendahkan katamu? Bukannya kau yang datang merangkak meminta dijadikan pelacur oleh Sehun?" ejeknya kasar, lalu mencekal lengan Luhan tak kalah kasar, tak peduli Luhan mulai meronta-ronta.

"Kau adalah pria paling rendah, paling murahan yang pernah kukenal, kau mungkin berhasil merayu Sehun dengan tubuhmu." Suho menyeringai sinis.

"Tak kusangka Sehun bisa bertekuk lutut pada pria sepertimu, memang kau cantik dan manis, tapi kau tentu sudah tahu kan? Sehun terbiasa dikelilingi pria maupun wanita dewasa yang berpengalaman, jadi citra polos dan kekanak-kanakanmu tentu saja menjadi hal baru yang menyegarkan untuknya."

"Anda salah! Saya tidak begitu." Luhan berusaha menyela, berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Suho, tapi genggaman lelaki itu seperti capit besi, dan dari napasnya yang berbau brendy, sepertinya lelaki itu setengah mabuk.

"Kau tidak bisa membohongiku!" Suho menggeram pelan. "Meski dulu aku terpaksa membuatkan kontrak tiga ratus juta yang konyol itu, jangan kira aku akan membiarkanmu menyetir Sehun untuk membuat kekonyolan lain yang merugikannya!"

"Anda salah paham!" Luhan setengah berteriak, semakin meronta dari cengkeraman Suho yang sangat keras.

"Kau menjual tubuhmu seharga tiga ratus juta." Suho mulai merapat ke tubuh Luhan.

"Aku mulai bertanya-tanya, apakah hargamu sepadan dengan pelayananmu?"

"Tidaaak! Lepaskan saya!" Luhan mulai berteriak membabi buta, berusaha melepaskan diri dari Suho yang semakin gelap mata.

Lelaki itu mencengkeramnya kuat, mendorongnya ke tembok dan berusaha menciumnya dengan kasar.

Luhan meronta membabi buta, berusaha menghindari ciuman itu sekuat tenaga, memalingkan kepalanya seperti orang gila, dia tak mau disentuh Suho, dia tidak mau!

Sehun! Sehun! Tolong aku!


Lay sedang duduk di ruang tamu rumahnya, merenung.

Ada yang mengganjal di pikirannya, terus mengganggu. Sesuatu yang diketahuinya sejak dulu tapi di lupakannya.

Sesuatu tentang Luhan, dia merasa dia seharusnya mengetahui sesuatu tentang pria itu, tapi apa?

Apa itu? Bukankah kau merasa sudah pernah mengenal pria itu sebelumnya? Sebelum pria itu bekerja di perusahaan ini? Bukankah pria itu terasa begitu familiar?

Dengan gelisah Lay berdiri, melangkah ke depan lemari putih yang terpajang rapi di ruang tamunya.

Sebenarnya dia punya firasat Luhan berhubungan dengan masa lalunya, masa lalu yang ingin dilupakannya, karena terlalu pedih untuk diingatnya.

Dengan gemetar Lay membuka laci lemari putih itu, lalu mengeluarkan sebuah kotak putih yang tidak pernah disentuhnya sejak dua tahun lalu. Hati-hati dibukanya kotak itu dan dikeluarkannya isinya, sebuah map tebal berisi berkas-berkas.

Lay duduk, menarik napas panjang dan membuka map itu, isinya adalah kliping, potongan berita-berita tentang tragedi dua tahun lalu.

Tragedi kecelakaan beruntun di jalan tol yang menewaskan suaminya.

Saat itu, dalam kesedihannya, Lay mengumpulkan semua berita yang memuat tentang tragedi itu, menjadikannya satu di dalam satu map besar, memasukkannya ke kotak, dan menyimpannya, menyimpannya bersama segenap kepedihan yang dia rasakan.

Sekarang dia membuka lagi kotak kepedihan itu, hatinya terasa nyeri, tangannya gemetar ketika membuka halaman demi halaman. Potongan artikel itu.

Sampai kemudian dia menemukan apa yang dia cari.

Gambar sosok itu persis sama, meski terlihat muda, rapuh dan remuk redam, itu Luhan yang sama, di gambar artikel itu, dia sedang menunduk mengenakan pakaian serba hitam di ruang tunggu sebuah rumah sakit.

'SELURUH KELUARGA TEWAS MENJADI KORBAN TABRAKAN BERUNTUN'

Begitu judul artikel itu.

Disitu dijelaskan bagaimana Luhan kehilangan kedua orang tuanya dan ditinggalkan sebatang kara sendirian. Sedangkan tunangannya, seorang pengacara bernama Kim Jongin terbaring koma tak sadarkan diri.

Tunangan? Koma?

Lay membaca artikel itu dengan teliti, lalu mengamati background rumah sakit pada gambar artikel Luhan itu. Dia tahu rumah sakit ini karena pernah praktek lapangan disana beberapa tahun lalu.

Dengan segera dia menelephone rumah sakit itu, menggunakan berbagai koneksi profesi dokternya untuk memperoleh info dari dokter- dokter yang dikenalnya, Lay mencari informasi sebanyak-banyaknya, dan pada akhirnya menemukan kebenaran.

Kebenaran yang pasti akan menyentuh hati siapapun yang mendengarnya.

Bahkan matanyapun berkaca-kaca karena terharu.

Tiba-tiba Lay teringat akan kata-kata Suho ketika mereka makan siang bersama tadi, mengenai rencana lelaki itu untuk memberi Luhan pelajaran...

Malam ini...

Oh Tuhan!

Dengan segera, seolah tersadarkan, Lay segera meraih dompet dan kunci mobilnya.

Dia harus mencegah Suho melakukan apapun rencananya untuk memberi pelajaran pada Luhan! Suho sudah salah paham, dan apapun yang dilakukan lelaki itu, dia pasti akan menyesal begitu mengetahui kenyataan yang sebenarnya!

Lay harus mencegahnya sebelum terlambat!


Tamu penting itu akhirnya pulang juga, beres sudah, semua berjalan sesuai keinginannya.

Sehun mengacak rambutnya kesal.

Kalau begitu kenapa dia tidak merasa lega?

Kau tahu kenapa? Bisik suara hatinya.

Ah ya, aku tahu kenapa.

Sehun mengakuinya.

Luhan.

Cukup satu nama yang mewakili segalanya. Satu nama yang sedari tadi menghantui pikirannya.

Dia masih marah pada Luhan, marah besar. Tapi bahkan meskipun dia marah, dia tak ingin membuat Luhan sedih dengan kemarahannya.

Sungguh ironis.

Sehun tersenyum sinis, menertawakan dirinya sendiri.

Tanpa terasa , pria itu, Luhan telah menjadi harta yang begitu berharga untuknya. Tidak pernah dia secemas itu untuk siapapun, seperti yang dia lakukan untuk Luhan kemarin malam.

Akuilah Sehun, kau menyayangi pria itu.

Suara hatinya menekannya lagi. Dan Sehun tidak membantahnya, dia sudah terlalu lelah membantahnya.

Pria itu dengan sifat polos, jujur dan kekanak-kanakannya telah menyentuh sisi hatinya yang tidak pernah diijinkan tersentuh oleh siapapun.

Ah ya, Luhan pasti sudah menunggunya di ruangannya. Tamu penting yang datang mendadak ini membuatnya terpaksa menghubungi Suho agar menunggu di ruangannya kalau-kalau Luhan datang.

Membayangkan Luhan sedang menunggunya membuat Sehun tergesa melangkah menaiki lift, menuju lantai pribadinya.

Dengan tenang dia membuka pintu ruangannya.

Pemandangan di depannya adalah pemandangan yang tidak disangkanya sekaligus pemandangan yang paling tidak disukainya.

Suho sedang berdiri menekan Luhan ke tembok, memeluknya erat-erat dan menciumnya, tubuh Luhan yang mungil tenggelam dalam pelukannya.

Ketika menyadari pintu terbuka, Suho mengangkat kepalanya, dan menatap Sehun yang terpaku di pintu, membeku seperti batu.

"Oh, hai Sehun." Suho tersenyum, mengusap bibirnya yang sedikit bengkak karena berciuman dengan kasar. "Aku menawar priamu ini dengan harga beberapa juta, dan dia bersedia menemaniku selama beberapa jam, boleh kan?"

Luhan yang masih berada dalam cengkeraman Suho menjadi pucat pasi mendengar fitnah Suho yang begitu kejam.

Sehun tidak akan percaya kata-kata Suho kan? Sehun tidak akan percaya kan?

Tapi ekspresi Sehun begitu susah dibaca, lelaki itu seperti membeku.

"Dan kau tahu Sehun, kau memang benar- benar tidak rugi." Suho menyambung, menyeringai menghina kepada Luhan. "Ciumannya lumayan WOW."

"Tidak!" Luhan akhirnya berhasil bersuara, mencoba membantah kata-kata Suho. "Tidak! Ya Tuhan! Sehun!"

Suara Luhan berubah menjadi jeritan ketika dengan secepat kilat tanpa di duga-duga, Sehun menerjang Suho.

Menarik laki-laki itu dengan kasar dari Luhan, lalu menyarangkan pukulan keras di rahang Suho, kemudian di perutnya sampai Suho terbungkuk-bungkuk menahan sakit.

Tetapi Sehun masih belum puas. Dia menyarangkan lagi pukulan telak bertubitubi ke semua bagian tubuh Suho, tanpa memberi Suho kesempatan melawan.

"Sehun! Berhenti! Kumohon! Kau bisa membunuhnya!" Luhan berteriak panik ketika Sehun menghajar Suho seperti kesetanan.

Dan terus menghajarnya, terus tanpa henti tidak peduli Suho sudah terkulai tanpa memberikan perlawanan. Aura membunuh memancar dari mata Sehun, menakutkan.

"Sehun!" Luhan menjerit sekuat tenaga, berusaha mengembalikan akal sehat lelaki itu.

Kali ini berhasil, Sehun berhenti. Matanya nyalang, napasnya terengah-engah.

Sedangkan kondisi Suho sungguh mengenaskan, lelaki itu berbaring tak berdaya, wajahnya penuh darah, mungkin hidungnya patah. Dan sepertinya dia tidak sadarkan diri.

"Astaga."

sebuah suara tercekat yang berasal dari pintu membuat Luhan dan Sehun menoleh bersamaan, Lay berdiri di sana, pucat pasi.

Seolah disadarkan, Sehun langsung berdiri, menghampiri Luhan dengan bara kemarahan yang membuat Luhan beringsut menjauh.

Lelaki itu tidak peduli, dengan kasar dia menarik lengan Luhan, setengah menyeretnya keluar ruangan.

"Sakit Sehun." Luhan merintih karena perlakuan kasar Sehun, tetapi lelaki itu tidak peduli, seolah tidak mendengar apa yang diserukan Luhan.

Lay berusaha menghentikan langkah Sehun.

"Sehun, kau harus mendengar penjelasanku, semua ini..."

"Diam!" teriakan Sehun yang menggelegar membuat suara Lay tertelan kembali." Kau urus saja bajingan disana itu sebelum dia mati kehabisan darah! Dan begitu dia sadar, katakan padanya bahwa dia dipecat!"

Sehun menggeram marah sambil menyeret Luhan menaiki lift.

Meninggalkan Lay yang masih berdiri terpaku, bingung.


"Sehun! Semua yang Suho katakan itu bohong!" Luhan berusaha menjelaskan ketika mereka sampai di apartemen, dan lelaki itu masih menggelandangnya dengan kasar.

Tubuh Luhan dihempaskan dengan sangat kasar ke tempat tidur.

"Dia bohong Sehun..." Luhan tersengal, putus asa mencoba meyakinkan Sehun.

"Suho hyung tidak pernah berbohong padaku." jawab Sehun datar, tangannya bergerak membuka kancing bajunya.

"Dia bohong...Percayalah." air mata mulai mengalir di sudut mata Luhan.

"Tidak ada untungnya baginya berbohong padaku."

"Ada!" jerit Luhan. "Dia membenciku, dia ingin menyingkirkanku..."

"Wah...Kau pikir kau seberharga itu? Kau tidak lebih dari pelacur kecil dengan tampilan tanpa dosa...Berapa dia membayarmu untuk sebuah ciuman hah?! Sepuluh juta? Dua puluh juta? Kau pikir kau bisa mendapatkan uang keuntungan dari kami berdua ya?"

"Kumohon Sehun, kau tahu dia berbohong...Kumohon...Kumohon...Percayalah padaku..." Luhan mulai panik ketika Sehun melepas kemejanya. "Ke... Kenapa kau melepas pakaianmu?"

Dengan takut Luhan beringsut di ranjang mencoba sejauh mungkin dari Sehun.

"Yah...Aku sudah pernah bilang kan?"

Lelaki itu tersenyum kejam sambil mulai melepas ikat pinggangnya, tatapan matanya tak lepas dari Luhan yang meringkuk ketakutan seperti sekor mangsa yang menghadapi predator kejam.

"Seorang pelacur harus diperlakukan seperti pelacur!" desis Sehun penuh penghinaan.


"Sakit." Suho mengernyit ketika Lay mengusap luka di bibirnya dengan kapas.

"Kau pantas mendapatkannya." gumam Lay tanpa perasaan, malah semakin kasar mengusap luka itu.

Mereka baru pulang dari rumah sakit, hidung Suho patah, dan tiga tulang rusuknya retak sehinga harus ditahan dengan perban. Belum lagi lebam lebam di tubuh dan mukanya. Mata Suho sudah mulai bengkak membiru. Pukulan pukulan yang diberikan Sehun benar-benar brutal.

"Aku kan cuma membantu Sehun dengan menunjukkan padanya kalau pria yang di peliharanya itu seperti pria murahan yang hanya ingin uang saja." Suho tampak kesusahan bicara, tapi ia masih membela diri.

"Jangan sebut dia pria murahan! Kau mungkin lebih kotor darinya!" potong Lay marah, melemparkan kapas yang di celup alkohol itu ke samping. "Kau sudah bertindak kejam dan gegabah pada Luhan...Astaga! Kau pasti akan menyesal begitu mengetahui semuanya!"

"Mengetahui apa?" kali ini Suho mulai cemas. Lay tampak begitu marah sekaligus begitu sedih. Bertahun-tahun dia mengenal Lay, tak pernah pria itu tampak begitu dikuasai emosi. Kecuali pada saat pemakaman suaminya. "Aku mulai ketakutan." gumam Suho ketika Lay tidak berkata apa-apa. "Mengetahui apa , Lay?"

"Kebenaran tentang Luhan." jawab Lay lirih lalu mendesah seolah-olah tak mampu melanjutkan penjelasannya. "Mungkin kau harus melihat ini dulu."

Lay mengambil bundelan artikel itu dari kotak putihnya, membukanya dan meletakkannya di pangkuan Suho.

Begitu melihat foto yang menyertai artikel itu Suho terhenyak, dan ketika membaca judul artikel itu yang ditulis dengan huruf besar-besar, keringat dingin mengalir di dahinya.

Dan begitu selesai membaca keseluruhan artikel itu, wajahnya benar-benar pucat pasi.

"Astaga..." akhirnya Suho mampu berkata-kata, suaranya lemah dan diliputi shock yang mendalam.

"Ah ya, astaga". Gumam Lay mengejek. "Sekarang kau mengerti kan kenapa aku begitu membela Luhan?"

Suho memejamkan matanya, meringis merasakan matanya yang sakit. Hidungnya sakit, bibirnya sakit, sekujur tubuhnya sakit. Tapi yang paling sakit adalah hatinya. Penyesalan itu datang menghantamnya tanpa ampun sehingga yang bisa dilakukan Suho hanya diam dan menahankan sesak di dadanya.

Dia pantas mendapatkan ini.

"Jadi Luhan melakukan ini semua karena itu..." suara Suho diwarnai kesakitan, lalu dia menatap Lay penuh harap, berharap kalau artikel ini salah. Sebab jika artikel ini benar, apapun yang dilakukan Suho tadi benarbenar tak termaafkan. "Apakah kau sudah memastikan kebenaran artikel ini?"

Lay menatap Suho tajam, tampak puas dengan penyesalan Suho.

"Aku sudah memastikan ke rumah sakit itu. Tunangannya, Kim Jongin masih terbaring koma disana dan belum pernah sadarkan diri sejak dua tahun yang lalu. Kemarin Jongin telah menjalani operasi ginjal – yang aku tahu biayanya amat mahal, hampir mencapai tiga ratus juta rupiah – dan sukses. Operasinya sukses, tapi lelaki itu masih belum sadar." Lay memalingkan wajah. Matanya tampak berkaca-kaca menahan haru.

"Aku bertanya tentang Luhan kepada dokter-dokter di rumah sakit itu, dan rupanya kisah Luhan dan Jongin seolah menjadi legenda sendiri di sana. Kisah seorang pria yang menunggu tunangannya terbangun tanpa putus asa selama bertahun-tahun..."

Jadi karena itu. Kebenaran itu menghantam Suho dengan telak. Jadi karena itu Luhan menjual dirinya. Jadi karena itu Luhan mempunya hutang begitu besar diperusahaan, Suho menatap Lay nanar, lalu mengalihkan tatapannya lagi ke atikel di depannya, dia mengernyit.

Kim Jongin...

Sebuah kebenaran langsung menghantamnya sekali lagi, sangat keras dan tidak tanggung-tanggung.

"Aku mengenal Kim Jongin." gumam Suho seolah kesakitan.

Lay langsung menatap Suho tajam.

"Kau mengenalnya?"

Suho mengangguk, lunglai.

"Dia… dia pengacara handal dan sukses dari sebuah firma hukum terkenal, reputasinya bagus, sangat jujur dan jarang kalah...Aku tidak begitu mengenalnya, hanya pernah beberapa kali bertemu di pengadilan, menangani kasus yang berbeda, tetapi dia terkenal sebagai pengacara muda berprospek paling cerah di antara kami...aku mendengar dia akan menikah, sampai kemudian dia menghilang begitu saja setelah kecelakaan itu,...ada berita cukup simpang siur setelahnya, katanya dia kecelakaan dan kemudian cacat lalu pindah ke luar negeri, bahkan banyak gossip bilang dia sudah meninggal akibat kecelakaan itu...aku...aku sama sekali tidak menyangka dia masih bertahan hidup...Dalam kondisi koma," Suho meremas rambutnya seperti tentara kalah perang, lalu menatap Lay, mengernyit. "Kau bilang kapan operasi Jongin tadi?"

"Kemarin malam." Lay melirik jam tangannya, sudah jam tiga pagi. "Atau bisa dibilang sudah kemarin lusa?"

"Oh Tuhan!" Suho menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Apalagi yang bisa dia katakan? Itu sebabnya malam itu Luhan menghilang tanpa kabar dan tidak bisa ditemukan dimana-mana. Dia pasti sedang menunggui operasi tunangannya. Dan apa yang dia katakan malam itu pada Luhan? "Dan kau, Tuan Luhan, lain kali belajarlah sedikit bertanggung jawab!" kata-kata yang sombong dan penuh tuduhan yang sekarang ia tahu, tak pantas ia ucapkan kepada Luhan.

"Kau benar-benar lelaki paling bodoh dan gegabah yang pernah aku kenal." dengus Lay, masih marah atas tindakan Suho tadi. "Jika kau belum babak belur oleh Sehun, aku pasti akan menghajarmu."

Suho mengernyit mendengar ancaman Lay.

"Tapi kau tidak bisa begitu saja menyalahkanku, suatu hari Sehun menghubungiku untuk mengurus kontrak jual beli tubuh Luhan senilai tiga ratus juta. Kau pikir apa yang bisa kupikirkan selain Luhan adalah pelacur?"

"Jangan sebut-sebut kata pelacur lagi hyung!" potong Lay tajam.

Suho bungkam lalu mengangkat bahu.

"Aku memang salah besar, tapi siapa yg tidak berpikir begitu? Sehun sangat kaya, dan pria itu punya reputasi hutang besar diperusahaannya...tentu saja sebagai pengacara aku menilai ada niat jahat dari sisi Luhan." Suho mencoba membela diri lagi karena dilihatnya Lay masih memelototinya dengan tajam.

"Sebagai seorang pengacara kau seharusnya melakukan penyelidikan." Gumam Lay sinis.

Suho menarik napas panjang dan mengangguk.

"Benar, aku terlalu gegabah mengambil tindakan. Sebenarnya aku sudah bertekad tidak akan ikut campur hubungan Sehun dan Luhan, tapi malam itu, ketika Luhan menghilang tanpa kabar, Sehun mencarinya seperti orang gila, hampir kehilangan akal sehat karena mencemaskan Luhan. Sehun berubah karena pria itu, dia begitu emosional. Tidak lagi berkepala dingin dan tenang." Suho menarik napas dalam. "Aku takut Luhan makin lama akan makin membawa pengaruh buruk bagi Sehun, maka aku memutuskan untuk membuat mereka terpisah sesegera mungkin."

"Memangnya apa yang kau lakukan tadi sampai Sehun menghajarmu dengan begitu brutalnya?"

Wajah Suho tampak memerah malu.

"Aku menciumnya dengan paksa, melecehkan Luhan dan memastikan agar Sehun melihat itu semua." gumamnya pelan.

Lay langsung melotot marah mendengarnya.

"Apa?"

Suho memalingkan mukanya, tidak tahan menghadapi tatapan tajam Lay.

"Dan aku..." kata-kata itu seolah susah payah keluar dari mulut Suho. "Dan aku...memfitnahnya, aku bilang Luhan mau kubayar untuk bercumbu denganku selama beberapa jam..."

"Hyung! Oh astaga kau adalah yang paling tua diantara kami! Seharusnya kau bertindak dewasa! " Lay mengerang tak habis pikir dengan perlakukan Suho. "Pantas saja Sehun menghajarmu habis-habisan, kalau aku ada disana waktu itu, aku pasti akan memberi semangat padanya agar menghajarmu lebih keras atau jika perlu aku akan membantunya menghajarmu."

Suho menganggukkan kepalanya.

"Aku...aku pantas menerimanya..." lelaki itu menghela napas panjang. "Tapi Lay...Setelah aku mengetahui semua kebenaran ini, dan melihat tatapan mata Sehun ketika menyeret Luhan pulang tadi, entah kenapa aku...cemas. "

Wajah Lay mendadak pucat pasi.

"Astaga! aku hampir saja lupa, Sehun selalu mempercayai kata-katamu! bagaimana kalau Sehun menyangka bahwa Luhan benar-benar menjual dirinya kepadamu? Kalau melihat betapa posesifnya Sehun pada Luhan, aku tidak berani membayangkan betapa marahnya Sehun! kita harus menjelaskan semua kepada Sehun sebelum dia melakukan sesuatu yang nantinya akan dia sesali." Lay langsung meraih gagang telephone dan memencet nomor Sehun.

Lama ia mencoba tanpa hasil, ahkirnya menarik napas panjang dan menyerah.

"Semua nomornya tidak aktif, kita juga tak bisa menyerbu ke apartemennya begitu saja karena ini sudah dini hari." Dengan pasrah Lay meletakkan gagang telephone.

"Kita harus menunggu sampai besok pagi, dan jika...dan jika ternyata semuanya sudah terlambat..."

Lay melemparkan tatapan tajam ke arah Suho yang balas menatapnya penuh rasa bersalah.

"Aku akan membuatmu membayar semua kekacauan yang telah kau buat Suho hyung."

.

Hai hai hai! Ada yang nunggu? Btw aku ganti pen name yap!

.

.

Thanks for review, follow and favorite!

.

Sampai ketemu di chapter selanjutnya~

.

[hunhan kemana]