The Wizards

Naruto © Masashi Kishimoto

First Love by Utada Hikaru

Warning: Chapter yang satu ini masih tetap sangat panjang, khu khu khu… OOC, Typo mungkin, gaje, aneh dan sebangsanya.

Pairing: SasuSaku, GaaSaku, SasuKarin

RnR?

Enjoy…

.

.

Chapter 10

Sakura duduk di kursi panjang yang ada di balkon mansion The Wizards. Dia menengadahkan kepalanya memandang langit yang terasa kelam dibanding malam-malam sebelumnya. Tidak ada satu pun bintang yang menghiasi langit yang gelap itu dengan kecantikannya, bahkan bulan pun terasa enggan menampilkan dirinya.

Awan gelap menyelubungi langit malam ini. Sakura menghela nafasnya perlahan sambil mencengkeram sweater ungu yang dia pakai tepat di depan jantungnya, dia mencoba mengurangi beban yang ada di dadanya itu. Terasa begitu sesak di dalam sana, terasa begitu sedih di dalam sana, dan terasa begitu rapuh di dalam sana.

Kembali Sakura menengadahkan kepalanya ke langit, "Malam ini terasa kelam sekali," Sakura menghela nafas berat, "Aku rindu kaasan dan tousan. Sasori-nii, kenapa kau juga ikut meninggalkanku sendirian?" lirih Sakura dengan suara parau.

Sasuke berjalan menuju kamarnya, saat dirinya mau membuka pintu kamar sekilas dia melihat Sakura yang sedang duduk di balkon. Sasuke pun membalikkan badannya dan berjalan menuju balkon. Dia menaikkan sebelah alisnya ketika melihat Sakura yang sedang memandang langit dengan tatapan yang sendu. Rasa penasaran pun merasuki otaknya, dia mendekati kursi yang Sakura duduki dan berdiri di samping kiri kursi itu.

Sasuke melirik Sakura lewat ekor matanya lalu dia memandang langit seperti yang Sakura lakukan, "Apa menariknya memandang langit yang gelap dengan bulan yang tertutup awan hitam?" tanyanya.

Sakura yang mendengar suara seseorang pun tersentak. Sebelumnya dia tidak menyadari kehadiran Sasuke di sampingnya, "Sasuke-senpai? Sedang apa di sini?" tanyanya dengan wajah polos.

Sasuke kembali melirik Sakura dan menaikkan sudut atas bibirnya karena kesal, "Aku duluan yang bertanya, kenapa kau balik bertanya?"

Sakura mengerucutkan bibirnya, "Gomen ne, " ucapnya, "Iya memang gak ada menariknya memandang langit yang gelap. Tapi jika ada bintang, pasti langit akan terasa lebih indah. Dan jika ada bintang, seenggaknya aku bisa mengurangi rasa rinduku pada kaasan dan tousan," ujar Sakura sambil memandang langit dengan mata sendu sedih.

Sasuke yang melihat perubahan mimik wajah Sakura tanpa sadar merasa iba dan ingin menenangkan hatinya. Sasuke pun duduk di samping kiri Sakura. Dia siap mendengarkan segala isi hati Sakura.

"Memangnya orang tuamu dimana?" Sasuke menyilangkan kedua tangannya di bawah dada dengan wajah yang memandang langit gelap namun ekor matanya mengawasi gerak-gerik Sakura.

Sakura tersenyum pahit dan kemudian mengatakan, "Mereka sudah di surga," Sasuke sedikit tersentak mendengar kenyataan itu dan dia menoleh ke arah Sakura, "Mereka meninggal setahun yang lalu karena kecelakaan mobil. Setelah kedua orang tuaku meninggal, aku sangat merasa kesepian walaupun aku mempunyai sahabat-sahabat yang setia menemaniku,"

"Saat aku merasa kesepian, Sasori-nii selalu ada untukku. Dia selalu menghiburku dengan berbagai macam cara agar aku tertawa. Aku bahagia sekali bisa mengenal Sasori-nii. Bagiku, dia sudah seperti seorang kakak yang dapat menggantikan sosok orang tuaku," Sakura menghela nafas pelan dan melanjutkan,

"Sekarang Sasori-nii sudah pergi. Walaupun hanya beberapa tahun, aku tetap merasa sedih dan merasa ada yang hilang dari diriku. Aku merasa seperti kehilangan orang tuaku. Aku merasa seperti malam ini yang gelap dan terasa kelam. Aku gak bisa menjadi bintang yang bersinar terang menebarkan senyumku pada semua orang seperti janjiku pada Sasori-nii, aku… aku…" suara Sakura terdengar bergetar saat mengatakan itu semua.

"Bodoh!" Sasuke bicara dengan nada yang dingin tanpa menatap Sakura, Sakura menolehkan kepalanya memandang Sasuke, "Kau itu sudah menjadi bintang. Gak peduli siang atau malam, sinarmu sudah membuat orang lain bahagia. Kau adalah bintang kami, bintang The Wizards. Dan aku yakin orang tuamu dan juga Sasori pasti bangga padamu," Sasuke menengokkan kepalanya menatap mata zamrud Sakura yang sudah berkaca-kaca.

Sakura membulatkan matanya mendengar kata-kata Sasuke tadi, "A… aku… aku…" air mata Sakura pun menganak sungai dan mengalir di pipinya.

Entah apa yang ada di pikiran Sasuke, dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Sakura. Sakura yang menyadari hal itu pun tidak bisa berkutik. Entah kenapa pula tubuhnya terasa kaku untuk bergerak, lidahnya terasa kelu untuk bicara, matanya hanya dapat menatap bingung Sasuke. Sakura dapat merasakan hembusan nafas Sasuke yang menyapu pipinya. Dia melihat Sasuke menutup kedua matanya dan memiringkan ke arah kanan kepalanya.

Jarak wajah mereka semakin tereliminasi. Dan pada akhirnya Sasuke menyentuhkan bibirnya di bibir ranum Sakura yang mampu membuat Sakura membulatkan matanya. Lembut, itulah yang Sakura rasakan ketika bibir Sasuke menekan bibir Sakura. Wajah Sakura sudah sangat memerah, semuanya campur aduk karena menangis dan juga malu.

Gaara yang berdiri di depan pintu balkon kini mematung melihat kejadian yang terjadi agak jauh di depannya. Naruto yang ada di sampingnya pun tidak kalah kagetnya, dia terbelalak dan menganga melihat Sasuke mencium Sakura.

Gaara membalikkan badannya karena tidak sanggup melihat adegan tadi lebih lanjut. Naruto yang melihat Gaara membalikkan badannya pun ikut membalikkan badannya dan berjalan di samping Gaara.

"Apa yang tadi aku lihat itu bukan mimpi kan?" Naruto menampar-nampar pipinya hingga dia meringis kesakitan dan pipinya memerah akibat tamparannya sendiri.

Gaara menghentikan langkahnya membuat Naruto juga menghentikkan langkahnya, "Aku sangat berharap ini adalah sebuah mimpi." ujarnya dan membuat Naruto terbengong-bengong mendengarnya.

Sasuke melepaskan ciumannya pada Sakura. Dia melihat Sakura dengan mata terbelalak kaget dan tidak berkedip. Sasuke pun tersadar akan apa yang dia lakukan tadi.

"A… A…" Sasuke menjadi salah tingkah, dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya setelah melakukan itu dengan Sakura. Jujur saja, dia refleks mencium Sakura. Nalurinya yang membuatnya bisa melakukan itu. Dia berpikir mungkin dengan mencium Sakura itu bisa membuatnya tenang dan tidak menangis. Memang benar Sakura jadi berhenti menangis namun kini Sakura menatap Sasuke dengan bingung.

Karena tidak tahu apa yang harus dia katakan pada Sakura setelah insiden dia mencium Sakura beberapa detik yang lalu, Sasuke pun bangkit dari duduknya dengan gerakan yang kikuk. Dia berjalan meninggalkan Sakura mematung sendirian di kursinya.

Sakura pun merasa aneh pada dirinya. Dia melihat begitu banyak bintang di atas kepalanya, "Kenapa banyak bintang di atas kepalaku? Hueee? Bintang-bintang itu berputar-putar mengelilingi kepalaku," Sakura mendongakkan kepalanya melihat bintang-bintang yang berputar-putar di atas kepalanya.

"Kenapa rasanya berdebar-debar jantungku? Hueee? Jangan-jangan aku sakit!" Sakura memegang dada kirinya dimana ada jantung yang sedang berdebar dengan kencang di sana.

Sasuke masuk ke dalam kamarnya dan dia berdiri dengan menyenderkan tubuhnya di depan pintu kamarnya. Dia memegang kepalanya, dan mencengkram bajunya tepat di depan dada, dia bisa mendengar bahwa jantungnya berdetak dengan kencang, "Apa yang aku lakukan tadi?" tanyanya pada diri sendiri.

~THE WIZARDS~

Gaara sedang berdiri di dapur menyiapkan beberapa roti panggang untuk dirinya dan juga Naruto—yang sudah duduk manis di depan meja makan yang besar itu. Gaara melihat jam di dinding dapur yang menunjukkan pukul 07.00 pagi, dan Sakura juga Sasuke belum turun dari kamarnya.

Ketika Gaara meletakkan beberapa roti bakar di meja makan, dia melihat Sakura dengan rambut yang berantakan dan mimik wajah yang terlihat bengong berjalan ke arah meja makan lalu dia duduk di samping kanan Naruto.

Gaara dan Naruto yang sedang duduk pun heran melihat Sakura yang seperti nyawanya belum terkumpul sepenuhnya itu, "Sakura-chan! Kau kenapa? Sepertinya kau sakit ya?"

Sakura tersentak mendengar pertanyaan Naruto, dia juga baru sadar kalau dirinya sudah ada di ruang makan bersama Gaara dan Naruto, "A… Aku gak kenapa-kenapa kok, Naruto," ujar Sakura dengan tertawa canggung.

Gaara yang melihat keanehan Sakura langsung berpikir, 'Mungkin ini ada kaitannya dengan kejadian tadi malam.' Gaara memerhatikan Sakura yang sedang mengobrol dengan Naruto. Sakura tidak kelihatan seceria biasanya. Tiba-tiba Sasuke muncul ke ruang makan dengan keadaan yang sudah bersih dan wangi. Sasuke selalu mandi setelah bangun tidur, berbeda dengan Naruto dan juga Sakura.

Sakura yang menyadari kedatangan Sasuke langsung menundukkan wajahnya dan mengalihkan pandangannya menatap kaki meja di sebelah kirinya, sementara Sasuke yang berjalan di samping kanan Sakura pun menelan ludahnya kemudian mencoba bersikap setenang mungkin seolah-olah tidak terjadi apa-apa semalam.

Sasuke duduk di kursi ujung, berarti hanya terpisah satu kursi dari kursi yang Sakura duduki. Sakura duduk di sebelah kiri Sasuke. Gaara dan Naruto pun menonton keanehan kedua orang itu dalam diam dan tatapan curiga.

'Apa mereka berdua udah pacaran ya? Tapi kan si teme udah punya calon tunangan.' Begitulah batin Naruto bicara sambil matanya menatap sosok Sasuke dengan penasaran.

Sedangkan Gaara mencoba menenangkan dirinya sendiri dan bersikap wajar agar kedua orang yang sedang bersikap aneh itu tidak menyadari bahwa dia sudah melihatnya semalam, 'Jadi semalam itu memang bukan mimpi ya? Menyebalkan!' batin Gaara berteriak namun wajahnya tetap cool.

"Sakura, ayo makan dulu," perintah Gaara dengan suara yang lembut dan dia meletakkan roti panggang yang sudah diolesi selai strawberry ke atas piring Sakura. Lalu Gaara duduk di samping kanan Sakura yang berarti menjadi pembatas antara Sakura dan Sasuke. Sakura mau tak mau mendongakkan kepalanya dan mengangguk atas perintah Gaara tadi.

Sasuke pun memperhatikan Sakura lewat ekor matanya. Dia meminum air putih lalu meletakkan gelasnya di atas meja dan memandang Sakura, sebelumnya dia mencoba berdehem kecil untuk mengatur suaranya agar tidak terdengar aneh walaupun gerak-geriknya masih dalam kategori aneh dan tidak biasanya, "Sakura, hari ini kau latihan untuk mengisi soundtrack dari filmnya Itachi-nii," Sasuke berhasil bicara dengan nada dinginnya walaupun ya itu tadi masih agak kaku.

Sakura menolehkan wajahnya ke arah Sasuke dengan mulut yang masih ada roti panggangnya, "Hari ini? Apa aku sendiri?" tanya Sakura setelah menelan roti panggangnya.

"Hn," jawab Sasuke singkat. Sakura mengkerutkan alisnya dan wajahnya memasang ekspresi bingung juga takut. Ini baru pertama kalinya dia mengisi OST film. Dan ini baru pertama kalinya dia menyanyi sendiri tanpa anggota The Wizards yang lain.

Melihat ekspresi Sakura yang murung begitu, Naruto pun berseru, "Tenang saja, Sakura-chan! Kami pasti mendukungmu!" Sakura menoleh ke arah Naruto.

"Iya, kami pasti mendukungmu dan pasti akan membantumu kalau kau mengalami kesulitan," tutur Gaara dengan mengusap kepala Sakura membuat Sasuke menaikkan sudut atas bibirnya karena kesal melihatnya.

Sakura tersenyum senang mendengar kata-kata Naruto dan Gaara dan dia mengucapkan terimakasih dengan tertawa kecil.

~THE WIZARDS~

Sakura dan Sasuke kini ada di studio latihan yang ada di kantor studio musik mereka. Sakura sedang berlatih menyanyikan sebuah lagu dari Utada Hikaru yang berjudul First Love. Lagu ini sesuai dengan permintaan Itachi selaku sutradara dari film perdana garapannya yang berjudul sama dengan lagu itu. Dia meminta Sasuke untuk mengaransemen ulang lagu itu setelah mendapatkan persetujuan dari pembuat asli lagu itu. (maaf author gak tau siapa yang nyiptain lagu itu, ehehehe…)

Saat latihan Sakura sering melakukan kesalahan disebabkan karena dia gugup dan grogi berada berdua saja di satu ruangan dengan Sasuke, apalagi setelah insiden kiss semalam. Sasuke yang pada dasarnya adalah seseorang yang bersifat perfeksionis pun tidak menyukai sikap Sakura yang terus melakukan kesalahan itu.

"Sakura! Kau selalu melakukan kesalahan yang sama! Gak bisa ya kalau kau serius latihan?" bentak Sasuke pada Sakura membuat Sakura kaget dan menundukkan kepalanya karena takut.

Sasuke yang melihat sikap Sakura seperti itu merasa geram dan keluar dari ruangan meninggalkan Sakura yang berdiri mematung dengan mata yang berkaca-kaca. Tanpa mereka sadari Karin sudah berdiri di depan pintu ruang latihan itu dan ketika Sasuke mau keluar dari ruangan itu, Karin segera bersembunyi di balik tembok. Saat dirasa Sasuke sudah jauh, Karin pun masuk ke dalam studio latihan itu.

"Seperti biasa ya, kau selalu membuat masalah dengan Sasuke-kun," ucap Karin dan membuat Sakura mendongakkan kepalanya dan menengok ke arah sumber suara. Matanya tidak mau melihat mata Karin. Karin mendesih melihat sikap Sakura.

"Sakura, kau tau? Kau itu selalu membuat repot Sasuke-kun dan kau selalu menyusahkannya dan membawanya ke dalam masalahmu padahal Sasuke-kun gak punya salah apa-apa atau dia gak ada kaitannya dengan masalahmu," kata-kata Karin membuat Sakura menatap matanya, Karin pun menyeringai.

"Ah iya, aku ke sini ingin memberitahumu kalau nanti setelah launching filmnya Itachi-nii, aku dan Sasuke-kun akan bertunangan!" seru Karin dengan menyeringai dan pergi dari ruangan itu.

Sakura mencengkeram kemeja hitamnya. Dadanya terasa sesak saat mendengar semua kata-kata Karin tadi. Tak terasa air mata pun menetes dari emeraldnya. Dia menunduk dengan lesu, "Kenapa terasa sakit di sini sampai aku menangis?" Sakura mencengkram kemejanya di depan dada, "Jangan-jangan aku memang sakit." bisik Sakura pada dirinya sendiri.

Di tengah perjalanannya, Karin berpapasan dengan Naruto dan Gaara yang berjalan ke arah studio latihan. Karin menghentikan langkahnya untuk menyapa kedua pria tampan tersebut, "Kalian pasti ingin menemui Sakura kan?" Naruto mengangguk menjawab pertanyaan Karin, sedangkan Gaara hanya diam saja.

Karin memandang Gaara dari ujung rambut hingga ujung kaki, kemudian dia tersenyum melihat Gaara, "Sepertinya kau cocok dengan Sakura." Imbuhnya, dan dia berjalan meninggalkan mereka berdua yang tetap diam di tempat dengan memandang kepergian Karin. Naruto memandang Karin dengan mimik bingung, sedangkan Gaara menaikkan sebelah alisnya—walaupun alis Gaara sudah dipangkas habis—

~THE WIZARDS~

Setelah kejadian di studio latihan waktu itu, hubungan Sakura dengan Sasuke tidak kunjung membaik. Malah terkesan Sakura yang menjauhi Sasuke. Hal itu Sakura lakukan karena dia terus teringat-ingat dengan perkataan Karin. Karena hubungan yang kurang baik itu, Sakura pun menjadi tidak fokus saat latihan bersama Sasuke. Dan sifat Sasuke yang perfeksionis sangat tidak menyukai hal itu karena itu sangat mengganggu proses latihan dan hasilnya tidak sesuai yang dia targetkan.

Emosi Sasuke memuncak ketika Sakura bernyanyi dengan suara yang sangat fals dan jauh lebih buruk dari latihan-latihan sebelumnya. Sasuke pun menekan tuts keyboard dengan kesal, dia berdiri dari duduknya, "Kau ada masalah apa? Apapun masalah yang kau hadapi itu, kau harus bersikap profesional!" bentak Sasuke pada Sakura dan kini dia berdiri berhadapan dengan Sakura.

Sakura yang lagi-lagi mendengar bentakan Sasuke pun menundukkan kepalanya memandang sepatunya. Tak ada sedikit pun suara yang keluar dari mulutnya untuk menjawab pertanyaan Sasuke tadi. Sakura hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan rasa takut yang menjalar di hatinya.

Karena tidak mendapatkan jawaban dari juniornya, Sasuke merasa geram. Dia mengangkat dagu Sakura sehingga memaksa Sakura untuk melihat matanya. Saat ini yang Sakura rasakan bukanlah rasa berdebar-debar karena malu namun rasa berdebar-debar karena takut. Sasuke sangat berharap tindakannya itu dapat membuat Sakura menatapnya, tapi yang ia dapat adalah Sakura yang mengalihkan pandangan matanya melihat ke arah lain. Sasuke mendesih kesal sebelum berkata, "Tatap mataku! Kau sedang ada masalah apa hah?" teriak Sasuke di depan wajah Sakura.

"A… aku gak ada masalah apapun, Sasuke-senpai," jawab Sakura dengan suara yang pelan tanpa menatap onyx yang menatap tajam dirinya.

"Bohong!" teriak Sasuke dengan masih memegang dagu Sakura.

Emosi Sakura pun terpancing, "Aku gak bohong, Sasuke-senpai!" jerit Sakura dan menatap tajam mata Sasuke dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

Melihat mata Sakura yang tergenang air mata, Sasuke pun merasa perasaan yang tidak enak namun dia kesal dengan Sakura yang bersikap seperti menutupi sesuatu darinya. Lalu kenapa dia harus kesal? Kenapa dia harus marah dan berteriak menuntut kejujuran Sakura? Sakura hanyalah juniornya saja, hanyalah rekan satu timnya, hanyalah wanita yang tinggal satu atap dengannya bersama rekannya yang lain. Lalu kenapa? Kenapa, Sasuke?

Sasuke melepaskan pegangan tangannya di dagu Sakura. Dia berjalan menuju pintu studio latihan itu dan memegang handle pintunya, "Kau memang cuma bisa menyusahkanku saja." ujarnya dengan nada dingin dan pergi dari studio latihan itu.

Sakura merosot dari tempatnya berdiri. Dia sekarang sedang menangis sesenggukan mendengar apa yang dikatakan oleh Sasuke tadi. Ternyata benar apa kata Karin, dia memang cuma bisa menyusahkan Sasuke. Sakura menelungkupkan wajahnya di kedua kakinya yang dia tekuk di depan dada. Dia melepaskan tangisnya yang selama ini dia tahan karena perasaan bersalahnya pada Sasuke, perasaan menyesal karena sudah menyusahkannya.

Jam sudah menunjukkan pukul 07.30 malam. Terlihat seorang pemuda berambut hitam kebiru-biruan yang baru saja keluar dari gedung Konoha Music Entertainment. Dia baru beerjalan sebentar dari pintu gedung namun dia melihat orang yang sangat tidak ingin ia temui, calon tunangan palsunya.

Karin tersenyum sumringah melihat Sasuke dan menghampiri Sasuke, namun Sasuke melengos tidak memedulikan Karin sampai tangan Karin menahan Sasuke pergi.

"Lepaskan, Red devil!" ucap Sasuke dingin.

"Tidak mau! Inikah caramu menyambut calon tunanganmu yang jauh-jauh datang ke sini hanya untuk menemuimu?" tanyanya dengan nada manja yang dibuat-buat membuat Sasuke ingin muntah.

"Siapa juga yang mau bertunangan denganmu? Jangan mimpi!" ucap Sasuke dengan ketus sambil menyeringai.

Karin yang mendengar penuturan Sasuke tadi pun kesal. Secara tidak sengaja dia melihat Sakura yang baru saja keluar dari pintu putar gedung itu, Karin pun menyeringai dan sebuah ide terlintas di otaknya.

Sakura yang melihat Sasuke sedang bersama Karin pun membalikkan badannya dan mau masuk lagi ke dalam gedung—posisi Sasuke membelakangi Sakura—, namun langkahnya terhenti ketika mendengar perkataan Karin pada Sasuke, "Lalu kau ingin bertunangan dengan siapa memangnya, Sasuke-kun? Apa dengan Sakura?" tanya Karin pada Sasuke dengan suara yang dikencangkan agar terdengar oleh Sakura sambil melirik ke arah Sakura.

Sasuke sedikit tersentak mendengar pertanyaan Karin tadi, dia sedikit salah tingkah dengan mencoba membenarkan dasinya, "Mana mungkin," ucapnya dengan nada datar.

Sakura terhenyak dengan pernyataan Sasuke. Tanpa terasa air mata kini turun lagi dari emeraldnya yang tampak sendu. Tangan kanannya meremas kemejanya tepat di depan jantungnya yang terasa sakit. Hatinya mencelos, ya mencelos mendengar dua kata yang keluar dari mulut Sasuke.

Karin menyeringai mendengar pernyataan Sasuke dan melirik Sakura yang masih berdiri membelakanginya. Sasuke melanjutkan perjalanannya menuju tempat parkir, namun Karin kembali menghalanginya, "Kau mau kemana, Sasuke-kun? Aku ikut ya!" serunya sambil bergelayut di lengannya Sasuke.

"Jangan ikuti aku dan aku sedang gak mood untuk bertengkar denganmu, red devil!" ketusnya dan menarik tangannya dengan kasar dari gelayutan Karin.

Karin kesal dengan apa yang Sasuke lakukan tadi, tapi dia cukup senang mendengar pernyataan Sasuke yang seolah mengatakan kalau Sasuke tidak suka dengan Sakura. Karin menghampiri Sakura yang masih diam mematung.

"Kau sudah dengar itu kan, Sakura? Jadi, jangan dekati Sasuke-kun lagi!" perintahnya. Namun dia tidak mendapat respon dari Sakura yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri sehingga tidak menyadari kehadiran Karin yang berdiri di belakangnya.

Karin pun kesal dan membalikkan badan Sakura dengan kasar, "Hey! Aku bicara padamu! Kau dengar gak?" tanyanya dengan nada tinggi sehingga membuat Sakura tersadar dan memandang Karin yang ada di depannya, Sakura kaget dengan kehadiran Karin dan buru-buru menghapus air matanya.

Karin yang melihat Sakura menangis menjadi makin geram karena dia semakin yakin kalau Sakura menyukai Sasuke, "Kau menyukai Sasuke kan? Kau ingin menjadi perusak hubunganku dengan Sasuke?" tanyanya dengan mencengkram bahu Sakura. Sakura menundukkan kepalanya dan menggigit bibir bawahnya, mencoba berpikir dan bersabar dengan perlakuan Karin.

"Akui sajalah! Atau kau takut mengakuinya?" tanya Karin dengan geram dan berteriak.

Sakura menautkan alisnya dan berpikir keras, sampai akhirnya dia berkata lantang, "Ya, aku memang menyukai Sasuke-senpai! Tapi aku gak berniat sedikit pun untuk merusak hubungan kalian! Dan aku tidak takut sama sekali untuk mengakui hal ini!" seru Sakura dengan menatap tajam mata Karin. Kesabarannya cukup sampai di sini, dan rasa yang membelenggu ini cukup menyakitkan sampai di sini saja.

Karin tersentak melihat tatapan tajam Sakura pada dirinya. Sakura yang dia tahu adalah gadis yang polos kini berani memandangnya seperti itu, "Kalau begitu, buktikan! Buktikan kalau kau tidak akan merusak hubunganku dengan Sasuke!"

"Kau ingin bukti apa?" tantang Sakura dengan mengepalkan tangan kanannya.

"Jauhi Sasuke atau…" Karin menggantungkan kalimatnya membuat Sakura mengkerutkan dahinya, "…kalau perlu keluar dari The Wizards!" mata Sakura terbelalak dengan apa yang dikatakan Karin barusan. Dia keluar dari The Wizards? Dia harus meninggalkan orang-orang yang selama ini mendukungnya dan menyayanginya. Kalau disuruh menjauhi Sasuke, mungkin Sakura akan langsung menjawab iya, namun dia juga diminta keluar dari The Wizards?

Sakura nampak berpikir, jika dia keluar dari The Wizards, mungkin dia tidak akan menyusahkan banyak orang lagi, dan dia tidak akan membuat masalah lagi, terutama pada Sasuke. Sakura menatap tajam Karin, kemudian berkata, "Baik!"

"Aku simpan pernyataanmu tadi!" Karin menyeringai dan pergi meninggalkan Sakura.

'Bagaimana ini? Apa aku harus keluar dari The Wizards?' batin Sakura bimbang. Sakura masuk kembali ke dalam gedung dan berjalan ke studio latihan. Di sana dia duduk di pojok ruangan dengan membenamkan wajahnya di kedua kakinya yang dia tekuk. Dia terus berpikir tentang pernyataannya dengan Karin. Lalu kata-kata Sasuke yang menyakitkan kembali terngiang di otaknya membuat Sakura tidak mampu menahan air matanya dan dia kembali menangis di dalam ruangan yang gelap.

~THE WIZARDS~

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam tapi Sakura belum juga pulang. Gaara terus berjalan mondar-mandir di balkon menunggu kepulangan Sakura dan Sasuke. Dan beberapa menit kemudian terdengar bunyi mesin mobil yang mendekat ke arah mansion. Gaara melihat ke bawah dan ternyata itu mobil Sasuke. Gaara melihat Sasuke keluar seorang diri dari mobil itu. Dimana Sakura? Begitu pikirnya.

Tanpa ba bi bu lagi, Gaara langsung merogoh ponsel yang ada di dalam saku celananya. Dia segera menekan nomor Sakura yang sudah dihapal di luar kepalanya. Beberapa detik menunggu akhirnya panggilanya diangkat, "Sakura, kau dimana? …? Sakura, kamu gak apa-apa? Kau ada dimana? Jangan kemana-mana! Tunggu aku, aku segera ke sana!" Gaara memutuskan sambungan telponnya dan segera menuju kamarnya mengambil mantel cokelat tuanya.

"Gaara, kau mau kemana?" tanya Naruto ketika melihat Gaara yang turun dari tangga.

Gaara melihat di ruang tengah itu ada Naruto dan Sasuke yang sedang duduk menonton TV. Mungkin bisa dikatakan hanya Naruto saja yang menonton TV, sebab Sasuke memejamkan matanya dan bersender di sofa, bahkan dia belum mengganti pakaiannya.

"Ke kantor studio. Aku mau menjemput Sakura," jawabnya sambil melirik Sasuke. Sasuke yang mendengar nama Sakura pun membuka matanya dan melirik Gaara.

"Hueee! Sakura-chan masih di kantor studio semalam ini? Aku ikut!" seru Naruto dan berdiri.

"Gak usah, Naruto. Biar aku saja, kau siapkan makanan saja untuk Sakura, sepertinya dia akan butuh nanti." ujarnya dan pergi dari ruang tengah. Sasuke memandang kepergian Gaara dengan menaikkan sudut atas bibirnya, kesal.

Gaara melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Dia tidak peduli dengan orang-orang di jalan yang memarahi aksinya itu. Yang penting dia cepat sampai di kantor studio, menjemput Sakura yang di telpon tadi sedang menangis terisak-isak. Gaara amat khawatir dan dia bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi? Apa ada hubungannya dengan Sasuke, mengingat beberapa hari ini hubungan Sakura dengan Sasuke kurang baik? Apa ada hubungannya dengan kejadian waktu itu di balkon? Mengingat hal itu membuat hati Gaara sangat sakit.

Gaara membanting stir mobil dan memarkirkannya asal di depan pintu gedung studio itu. Dia segera kaluar dari mobilnya dan berlari mencari Sakura. Setiap ruangan dia buka dan meneriakkan nama Sakura. Ketika sampai di depan studio latihan dia membuka pintunya dan melihat seseorang yang sedang duduk di lantai.

"Sakura?" panggilnya, tapi tidak ada jawaban. Karena lampu di kantor itu sudah dipadamkan semua kecuali ruangan yang penting, Gaara pun berjalan sambil meraba-raba dinding untuk menyalakan lampu.

"Jangan dinyalakan lampunya, Gaara! Aku gak mau kau melihatku seperti ini! Aku senang berada di kegelapan karena gak akan ada yang melihatku!" ucap Sakura masih dengan terisak.

Gaara diam di tempat setelah menemukan stop contact, "Kau pikir menyenangkan jika aku gak bisa melihatmu? Jangan takut, Sakura! Hadapilah masalahmu! Ceritakan padaku semuanya! Semua!" teriak Gaara dan menyalakan lampunya.

Gaara membalikkan badannya dan melihat Sakura yang sedang duduk di pojok ruangan dengan melipatkan kedua kakinya di depan dada, dan dia memeluk kakinya sendiri. Sakura nampak sangat kacau dan berantakan. Matanya sembab, mukanya merah karena menangis terus, rambutnya berantakan.

Gaara berjalan dan duduk di samping kiri Sakura, "Ceritakan mengapa kau bisa seperti ini," ucapnya.

"Bukan masalah yang besar kok, Gaara. Aku hanya stress saat latihan. Aku selalu membuat kesalahan dan membuat Sasuke marah. Aku ini hanya bisa menyusahkan orang lain saja. Maafkan aku, Gaara. Aku jadi menyusahkanmu datang ke sini. Kau pulang saja, Gaara. Aku gak mau meerepotkanmu lagi," Sakura bicara tanpa memandang Gaara. Sungguh bukan ini yang ingin didengar Gaara, Gaara tahu bukan hanya itu masalahnya.

"Aku gak akan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini. Kau tau? Aku sangat menghawatirkanmu," Sakura menolehkan kepalanya ke arah Gaara yang sedang menatap lurus ke depan, "Apapun yang terjadi denganmu, apapun masalah yang kau hadapi, datanglah padaku, ceritakan padaku, aku akan selalu menolongmu, aku akan selalu menjagamu, bukankah kita ini sahabat?" tanyanya dengan menyunggingkan senyum tipis pada Sakura.

Sakura tersenyum mendengar kata-kata Gaara. Gaara sangat baik padanya, dia jadi merasa tidak enak kalau terus-terusan merepotkan Gaara. Sementara Gaara membohongi dirinya sendiri dengan bertanya, bukankah kita sahabat? Sebenarnya Gaara ingin lebih, Gaara ingin mencurahkan semua isi hatinya pada gadis yang duduk di sampingnya ini. Gaara ingin mengatakan siapa gadis yang selama ini dia sukai.

"Terima kasih, Gaara. Kau sangat baik," ucap Sakura dengan tersenyum, "Bagaimana hubunganmu dengan gadis yang kau sukai itu?" tanyanya pada Gaara.

Gaara tersenyum pahit mendengar pertanyaan Sakura kemudian dia memandang lurus ke depan, "Beberapa hari yang lalu aku melihatnya dicium oleh seorang pria. Aku pikir pria itu adalah pacarnya, namun sepertinya pria itu gak mungkin mengencaninya soalnya pria itu sudah punya kekasih. Aku berharap sekali apa yang aku lihat beberapa hari yang lalu itu adalah sebuah mimpi,"

Sakura tersentak mendengar penuturan Gaara, dia merasa kasihan dengan Gaara padahal seandainya dia tahu yang dimaksud Gaara itu adalah dirinya, mungkin dia akan merasa bersalah atau merasa sesuatu yang lain? Tidak ada yang tahu.

Sakura mencoba tersenyum namun hanya senyum getir yang mampu ia tunjukkan, "Sepertinya kita ini orang bodoh yang menyukai orang lain yang gak akan tau sebenarnya tentang perasaan kita ya?" Gaara tersenyum pahit mendengarnya.

"Iya, kau benar. Tapi lebih bodohnya lagi, aku gak bisa membiarkan gadis yang aku cintai itu menderita dan sedih," ujarnya, "Memangnya kau menyukai siapa?" tanya Gaara.

Sakura menundukkan wajahnya, "Aku sepertinya suka dengan seseorang yang menyukai orang lain, apa aku salah?"

'Baru suka kan? Belum cinta?' batin Gaara mencoba menguatkan perasaannya, "Kamu gak salah, Sakura. Perasaan suka atau gak suka itu adalah hak setiap manusia," ucapnya dengan tersenyum lembut, "Hm, memangnya kau melakukan kesalahan apa saja saat latihan?" Gaara mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Banyak sekali kesalahanku, aku saja gak bisa menyebutkannya. Aku gak bisa menyanyikan lagu itu, terasa sulit sekali,"

"Hm, yang kau butuhkan hanyalah menghayati lagu itu. Merasakan setiap makna dibalik lirik lagu itu," Sakura memandang Gaara tidak mengerti, "Baiklah, akan kubantu." Lanjutnya dan berdiri dari duduknya lalu mengulurkan tangannya pada Sakura. Sakura menerima uluran tangan Gaara dan ikut berdiri.

~THE WIZARDS~

Gaara mengajak Sakura ke taman yang tidak jauh dari mansion The Wizards. Mereka duduk di bawah pohon Sakura yang sedang berguguran. Malam semakin larut dan udara dingin makin menyiksa indra peraba mereka. Gaara melepaskan mantelnya dan memakaikannya pada Sakura. Sakura pun kaget dan menggumamkan terima kasih.

Agak lama mereka hanya diam di sana. Gaara memang tipe orang yang tidak banyak bicara namun dia orang yang lembut. Tidak seperti Sasuke yang tidak suka banyak bicara namun kalau sudah bicara ketus dan dingin sekali. Sakura senang berada didekat Gaara namun dia merindukan Sasuke.

Sakura memandang langit yang masih tidak ada bintang, "Lagu yang ingin kau nyanyikan itu first love kan?" tanya Gaara pada gadis yang duduk di samping kanannya. Sakura mengangguk.

"Kau pernah merasakan first love? Ketika kau mencintai seseorang dan dia menjadi cinta pertamamu? Tapi dia pergi meninggalkanmu dan kau tidak bisa mencintai orang lain selain dirinya karena dia adalah cinta pertamamu?" Sakura nampak sedang berpikir mendengar pertanyaan Gaara. Dan di dalam otaknya tebayang wajah Sasuke lalu muncul Karin yang bergelayut pada lengan Sasuke, kemudian Sakura mengangguk.

"Ya, jadi anggap saja itu lagu yang akan kau sampaikan pada cinta pertamamu." ujar Gaara sambil mengacak-acak pelan rambut Sakura. Sakura pun tersenyum.

Mereka berdua kembali terdiam memandangi langit, sementara yang berada di mansion mencemaskan mereka berdua yang belum juga pulang padahal sudah tengah malam begini. Naruto berjalan mondar-mandir seperti setrikaan menunggu kehadiran Sakura dan Gaara. Sementara Sasuke duduk di depan meja kerjanya yang ada di dalam kamarnya, dia duduk dalam cemas.

"Kenapa aku mencemaskan si pinky itu? Memangnya apa artinya dia buatku?" tanya Sasuke pada dirinya sendiri sambil menopang dagunya, "Apa aku menyukainya? Gak, gak! Tapi… kenapa?" tanyanya lagi pada dirinya sendiri. Dia melirik jam sudah menunjukkan pukul 11.35 malam, "Kenapa mereka belum pulang juga?" gumamnya.

Kakashi dan Shizune tiba-tiba datang ke mansion The Wizards. Saat mereka masuk ke ruang tamu, mereka melihat Naruto yang sedang berjalan mondar-mandir di sana. Kakashi dan Shizune pun saling memandang dan mereka pun menghampiri Naruto.

"Kau kenapa, Naruto?" tanya Kakashi.

"Hueeee! Aku kira Gaara dan Sakura!" Naruto kaget melihat kehadiran Kakashi dan Shizune.

"Gaara dan Sakura?" Shizune menaikkan sebelah alisnya, begitu juga dengan Kakashi. Mereka berdua tersenyum penuh arti yang mencurigakan. Dan tepat saat itu juga Sasuke turun dari tangga.

Sasuke berjalan hendak keluar dari mansion untuk melihat apakah Sakura dan Gaara sudah pulang atau belum. Namun ketika di ruang tamu, dia bertemu dengan Kakashi, Shizune dan Naruto, "Sedang apa kalian di sini malam-malam begini?" tanyanya dengan datar.

"Sasuke, kau belum tidur?" tanya Kakashi berbasa-basi, namun tidak ada jawaban dari Sasuke membuat Kakashi menelan ludahnya, "Aku dan Shizune habis pergi ke pantai lalu kalau kami pulang ke apartemen di Konoha rasanya jauh sekali, jadi kami ingin menginap di sini," jelasnya. Sasuke tidak memasang ekspresi apapun membuat Shizune dan Kakashi saling memandang bingung.

Tidak lama kemudian terdengar mesin mobil dari luar mansion, lalu Gaara dan Sakura masuk ke dalam mansion. Mereka bertemu dengan Kakashi, Shizune, Naruto dan Sasuke yang sedang berkumpul di ruang tamu. Semua yang ada di ruang tamu pun memandang mereka.

"Sakura-chaaaan! Kalian kemana saja? Aku khawatir tau!" teriak Naruto dan memeluk Sakura yang masih memakai mantel Gaara.

"Aku diajak ke taman dekat mansion sama Gaara, maaf sudah membuatmu khawatir." ucap Sakura. Kakashi dan Shizune kembali saling memandang dan mereka tersenyum aneh. Sasuke dan Gaara saling bertatapan dalam diam. Tatapan mereka sangat tajam.

TO BE CONTINUE…

A/N: Annyeong haseyo? Mian hamnida readers saya baru update! *innocent* akhir-akhir ini saya sibuk dengan segudang tugas dan presentasi. Belum lagi fd saya yang kena virus jadi bertambah sibuk dengan fighting membasmi virus-virus itu dan saya juga sibuk ngebantuin temen saya yang netbooknya kena virus. Untuk request dari Chousamori Aozora-san, saya udah milih lagu jepangnya first love dari Utada tapi mungkin chap depan munculnya, hoho.

Saya mau nanya deh, bener gak tuh yang buat nyalain lampu namanya stop contact? Soalnya saya sering denger dua kata itu kalo mau nyalain lampu. Chapter ini seperti biasa ya panjang soalnya sengaja karena saya telat update dan hitung-hitung bakal telat update lagi *apakah ada yang nunggu saya update?* *readers: enggaaaaak!* author jumpalitan (?)

Kamsa hamnida buat yang udah review fict abal saya, juga buat para silent readers yang udah baca. Dibaca aja saya udah seneng. Hohoho. Dan kamsa hamnida yang udah fave dan alert story gaje ini. Saya terharu, hiks. Review chap 9 udah dibales lewat pm! Hohoho…

Sakura: Gyaaaa! Aku dicium Sasuke-kun!

Gaara: Hiks… kenapa aku dibuat derita batin gini?

Hyunie: Mian, Gaara oppa. Kalau Sakura gak mau, sama Hyunie aja ya! *ditabok bolak-balik sama Gaara FC*

Gaara sweatdrop.

Naruto: Sabar ya, Gaara! Kalau gak mau sama akyu aja!

All chara sweatdop.

Hyunie: WOY Naruto! Ini bukan fict Yaoi, woy! *ngejitak Naruto* mendingan minta review aja gih!

Naruto: Hiks. Review, please? Fox eyes mode on.