Lucy POV
Dulu ketika kecil, dia selalu tampil sebagai orang yang melindungiku. Dulu, ketika aku menangis, dia yang selalu datang padaku untuk memberikan aku semangat bahwa aku tidak boleh menangis. Bersamanya di masa kecil membuatku sadar bahwa dia adalah orang yang berarti dalam perjalanan hidupku.
Natsu Dragneel.
Fairy Tail © Hiro Mashima
A Fairy Tail Fanfiction
Three Heart for One Love
By Yusa-kun
Warning : AU, Typo(s), OOC.
.
.
.
.
.
Seorang gadis kecil yang cantik sedang bermain ditaman. Ia berlarian kesana kemari dengan riangnya. Rambut pirangnya yang tergerai tersapu oleh hembusan angin, menambah kecantikannya. Ia sedang bersama dengan kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya sedang mengobrol dengan kerabatnya.
Tiba-tiba, gadis kecil itu pun terjatuh dengan posisi terduduk. Dimata karamelnya yang indah mengeluarkan setitik airmata. Tiba-tiba gadis kecil itu mendengar suara anak laki-laki. Ia pun menoleh keatas.
"Kau tidak apa-apa?" ucap anak laki-laki kecil yang sebaya dengan gadis kecil itu.
Gadis kecil yang mempunyai rambut pirang itu terdiam memandangi wajah sang anak laki-laki yang bertanya padanya. Anak laki-laki yang memiliki wajah yang manis dan mempunyai rambut spike berwarna pink. Anak laki-laki itu segera mengulurkan tangannya ke gadis kecil yang masih duduk karena terjatuh.
"Ayo" ucap anak laki-laki itu. Gadis kecil itu masih memandangi anak laki-laki itu dengan pandangan heran. Anak laki-laki itu tersenyum dengan grins-nya yang terlihat sangat manis. Gadis kecil itu memandangnya dengan takjub, gadis itu terpesona. Lalu dengan perlahan, gadis kecil itu menyambut uluran tangan anak laki-laki itu.
Gadis kecil itu sudah berdiri dihadapan anak laki-laki yang menolongnya. Tidak lupa, gadis kecil itu tersenyum dengan manis kepada anak laki-laki yang ada dihadapannya.
"Siapa namamu?" Tanya anak laki-laki itu yang masih menggenggam tangan milik sang gadis kecil.
"Lucy, aku Lucy Heartfilia. Dan kau?" Jawab gadis kecil itu, senyuman manisnya tidak lepas dari wajahnya.
"Aku Natsu. Natsu Dragneel. Yoroshiku.."
XXX
Pagi hari pun menjelang. Gadis mungil nan cantik masih bergerumul dengan selimut dan juga bantalnya. Gadis kecil yang cantik ini memilii nama lengkap Lucy Heartfilia. Ia lahir dikeluarga yang berkecukupan, bisa dibilang keluarganya adalah bangsawan. Usianya 8 tahun, tidak membuat Lucy seperti anak-anak bangsawan lainnya yang tinggi hati dan sombong, namun Lucy memiliki sifat yang bertolak-belakang dengan sifat yang di miliki anak-anak bangsawan lainnya. Saat ini ia bersekolah kelas tiga sekolah dasar. Ia adalah anak tunggal dari pasangan Jude Heartfilia dan Layla Heartfilia.
"Lucy..sayang..bangunlah" ucap Ibunya dengan suara yang begitu lembut. Ibunya membelai rambut Lucy dengan maksud membangunkan putrid kecilnya.
Lucy akhirnya membuka matanya. Ia menguap dan ada setitik airmata yang keluar dari kedua mata karamelnya. Ia melihat ibunya tersenyum didepannya.
"Ohayou Okaa-san" ucap Lucy dengan suaranya yang kekanak-kanakan.
"Ohayou" jawab ibunya.
Lucy pun bangkit duduk dan menoleh kearah ibunya yang duduk disebelahnya.
"Okaa-san, sekarang jam berapa?" tanya Lucy sambil mengucek matanya dengan perlahan.
"Sudah jam tujuh pagi sayang, ayo kita mandi. Kita punya janji sama keluarganya Natsu loh" ucap ibunya.
"Nat..su?" gumam Lucy. Ibunya mengangguk.
"Kau sudah mengenalnya bukan? Ternyata dia juga akan bersekolah disekolahmu. Jadi mungkin kalian akan berteman baik" ujar sang ibu sambil mengusap punggung putri kecilnya.
Lucy mengingat wajah Natsu dan ia tersenyum.
"Baiklah, aku siap-siap dulu ya, Okaa-san" ucap Lucy dengan penuh semangat.
XXX
Lucy sudah siap untuk pergi bersama dengan orangtuanya. Mereka akan pergi kekediaman keluarga Natsu. Keluarga Natsu dan Keluarga Lucy pun sudah dekat sebelum anak-anak mereka lahir. Para orang tua mereka adalah sahabat saat mereka masih bersekolah.
Lucy pun turun dari mobil mewahnya bersama dengan kedua orang tuanya. Keluarga Natsu pun menyambut mereka dengan hangat.
"Ah, Lucy-chan juga ikut. Ayo masuk, Natsu ada didalam, ia tidak berhenti menanyakan dirimu" ucap ibu Natsu. ibu Natsu mempunyai rambut panjang yang digelung keatas dan berwarna sama dengan warna rambut Natsu.
Lucy tersenyum dan mengikuti kedua orang tuanya masuk kedalam rumah Natsu.
"Natsu… Lucy-chan sudah datang.." ujar Ibunya.
Tiba-tiba Natsu berlari keluar dari kamarnya dan menyambut kedatangan Lucy.
"Hey" sapanya sambil memberikan cengiran khasnya yang membuat Lucy terpesona.
"Hai" Lucy pun tersenyum dan melambaikan tangannya.
Natsu pun berjalan menghampiri Lucy dan menyambar tangan Lucy. "Ayo kita bermain" ajak Natsu
Lucy tersenyum dengan riang dan mengangguk. Mereka pun akhirnya bermain diluar rumah.
Dirumah Natsu, ada sebuah taman dimana taman itu dipenuhi dengan bunga-bunga yang indah. Bukan hanya taman bunga, tapi ada sebuah ayunan yang bergantung dipohon yang besar. Lucy menaiki ayunan itu dan didorong oleh Natsu. mereka tertawa dengan riang. Para orang tua hanya melihatnya dari dalam rumah. Setelah bosan bermain ayunan, Lucy duduk direrumputan sambil memandangi bunga-bunga yang telah ia petik. Rambut Lucy yang tergerai dibelai lembut oleh hembusan angin. Natsu melihat wajah Lucy yang tersenyum dengan manisnya membuatnya menjadi terpesona. Kedua pipi Natsu merah merona.
"Bunga-bunga ini sangat cantik" puji Lucy
Natsu pun berjalan mendekati Lucy dan duduk disebelahnya. Pandangannya tidak lepas dari wajah Lucy.
"Lihat ini, indah bukan?" Lucy menyodorkan sebuah bunga dengan kelopak berwarna merah muda dan kuning. Benar-benar indah. Natsu pun mengangguk.
"Tapi akan lebih indah jika kau meletakkannya disini.." Natsu mengambil bunga yang dipegang oleh Lucy dan meletakkannya di salah satu telinga Lucy.
"Yoshh, sangat cocok untukmu, Luce" puji Natsu sambil memberikan cengiran khasnya. Lucy pun blushing.
"Natsu, kenapa kau memanggilku Luce, namaku kan Lucy" tanya Lucy dengan suaranya yang kekanak-kanakkan.
"Karena itu mudah diucapkan olehku.." jawab Natsu sambil memberikan cengiran khasnya.
Tiba-tiba sebuah bola sepak menggelinding didepan Lucy dan Natsu. Natsu melihatnya dan memungutnya.
"Siapa yang bermain bola ini.." ucap Natsu sambil memandangi bola sepak itu.
Lucy pun bangkit berdiri dan berdiri disebelah Natsu. Natsu pun menoleh kesana-kemari untuk mencari pemilik bola itu.
"Aku" tiba-tiba terdengar suara anak laki-laki dari arah belakang mereka. Lucy dan Natsu pun menoleh mendapati seorang anak laki-laki yang sebaya dengan mereka yang mempunyai rambut spike dan berwarna pirang.
"Siapa kau?" tanya Natsu dengan polosnya. Lucy pun berdiri dibelakang Natsu.
"Perkenalkan, aku Sting. Sting Eucliffe" ucap anak laki-laki yang sekarang diketahui bernama Sting. Ia berbicara dengan nada yang angkuh.
Sting menatap Lucy yang sekarang berdiri dibelakang Natsu.
"Kau bermain dengan seorang gadis kecil? Cih, kau tidak seperti laki-laki" ejek Sting pada Natsu. Natsu yang diejek langsung merasa kesal, terlihat ia sudah mengepalkan tangannya. Lucy pun yang menyadari kalau Natsu kesal langsung menarik pakaian Natsu. Natsu pun menoleh dan melihat Lucy menggeleng.
"Memangnya salah kalau aku bermain dengan Lucy?" ujar Natsu
"Tidak. Tidak salah. Hanya saja terlihat aneh" jawab Sting sambil bersandar dipepohonan. Sting masih menatap Lucy. Lucy tidak suka tatapan Sting terhadapnya. Lucy pun menundukkan wajahnya. Natsu yang menyadarinya menatap Sting dengan kesal.
"Jangan menatapnya seperti itu" Natsu memperingatkan Sting.
"Memangnya kenapa? Kau ini bodyguardnya?" ledek Sting pada Natsu, Natsu hanya mendecih.
"Kau Lucy Heartfilia kan?" tanya Sting sambil menunjuk Lucy.
Lucy akhirnya berdiri disebelah Natsu dan memberanikan diri menatap Sting.
"Iya, aku Lucy Heartfilia. Salam kenal" ucap Lucy dengan lembut.
Sting berjalan kearah Lucy dan Natsu. Setelah berada dihadapan mereka. Sting memandang Lucy sambil tersenyum, sedangkan tangannya mengambil bola sepaknya.
"Memang benar kata orang-orang, kau ini cantik" puji Sting sambil membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Natsu dan Lucy. Kedua pipi Lucy pun merona.
Natsu berdecih "Apa-apaan anak itu, kalau mau berteman dengan kita, harusnya sikapnya bisa lebih sopan" Natsu mulai menggerutu. Lucy hanya tertawa pelan.
"Sudahlah, mungkin karena dia baru mengenal kita" ucap Lucy dengan maksud menenangkan Natsu.
XXX
"Anak-anak, ayo duduk" ucap guru didalam kelas.
Lucy dan Natsu duduk bersebelahan, mereka sudah duduk dengan rapid an mendengarkan ucapan dari ibu gurunya.
"Nah, hari ini kita kedatangan murid baru. Kalian pasti bisa berteman dengannya. Ayo masuk" guru itu pun mempersilahkan anak baru itu masuk. Pintu terbuka dan menampilkan sosok yang Natsu dan Lucy kenal.
"Itu kan.." ucap Natsu tertahan
"Sting" tambah Lucy
Sting sedang berdiri didepan kelas dan menuliskan namanya dipapan tulis.
"Perkenalkan, namaku Sting Euclifffe. Kalian bisa memanggilku Sting saja. Yoroshiku" terang Sting
Pandangan Sting mengelilingi kelas dan berhenti saat melihat Natsu dan Lucy. ia pun tersenyum.
"Baiklah, kalian sudah tahu namanya kan? Sekarang tempat duduk Sting-kun di sana.." sang guru menunjuk kearah tempat duduk yang berada didepan Natsu dan Lucy. kebetulan tempat duduk itu kosong.
Sting berjalan perlahan menuju tempat duduknya. Sebelum duduk, Sting menyeringai kepada Lucy dan Natsu. Lucy memegang lengan Natsu. Natsu memandang Sting dengan pandangan yang tidak bisa dijelaskan.
"Tidak apa-apa, Luce..tidak apa-apa" gumam Natsu bermaksud untuk menenangkan Lucy.
XXX
Hari-hari yang dilalui Lucy penuh dengan kejahilan Sting. Setiap harinya Sting selalu menjahili Lucy. entah Sting menyembunyikan alat-alat tulis Lucy, mengagetkan Lucy saat Lucy sedang lengah, lalu kadang mencoret-coret buku milik Lucy, yang paling parah waktu itu adalah menempelkan permen karet ditempat duduk milik Lucy. Lucy sampai menangis dibuatnya. Natsu yang tidak tahan akhirnya memukul Sting dan terjadilah perkelahian. Pada akhirnya, orang tua Natsu dan Sting pun dipanggil kesekolah.
"Maaf ya, karena aku orangtuamu dipanggil kesekolah" ucap Lucy dengan penuh rasa sesal.
Natsu menggeleng. "Bukan salahmu, Luce. Aku hanya tidak suka cara Sting yang seperti itu"
"Aku bingung dengannya, kenapa selalu kau yang dijahili" tambah Natsu
"Entahlah, Natsu. aku juga tidak begitu mengerti dia" sahut Lucy
Lucy dan Natsu melihat Sting sedang dimarahi oleh ibunya yang baru saja keluar dari kantor kepala sekolah. Natsu melihat ayahnya yang berjalan menghampirinya.
"Ojii-san" sapa Lucy
Ayah Natsu memiliki rambut merah dan bentuk rambutnya tidak jauh berbeda dengan Natsu. Ayah Natsu menaruh tangannya dikepala Lucy dengan pelan. Lucy pun tersenyum. Ayah Natsu memandang anaknya yang sedang menunduk.
"Hah, anak ini. padahal ada ayahnya berdiri didepannya, tapi tidak disapa sama sekali" gerutu ayah Natsu.
Natsu berpikir kalau ayahnya akan memarahinya karena telah berkelahi dengan anak sahabatnya. Oh iya, Sting itu adalah anak dari sahabat keluarga Lucy dan Natsu. Keluarga mereka bertiga bersahabat dekat.
"Ayah.." ucap Natsu
Ayahnya hanya mengacak-ngacak rambut Natsu. Natsu pun tertawa. Lucy lega melihatnya, karena ayah Natsu tidak memarahi Natsu.
"Ayo kita pulang, aku akan mentraktir kalian makan es krim. Bagaimana? Kalian setujukan?" usul ayah Natsu.
Natsu dan Lucy saling memandang dan tertawa. "Setuju!" ujar mereka
"Ojii-san, apa tidak lebih baik kita mengajak Sting?" tanya Lucy. Natsu menoleh kearahnya begitu pula dengan ayah Natsu.
"Luce..kau terlalu baik. Dia kan sudah menjahilimu beberapa kali.." ujar Natsu
"Baiklah, kau ajaklah dia. Hitung-hitung untuk permintaan maaf karena Natsu memukulnya duluan" sahut ayah Natsu sambil tersenyum. Natsu tidak percaya dengan kata-kata yang terlontar dari mulut ayahnya.
"Ayah!"
Lucy akhirnya berlari kekelas untuk mengajak Sting. Lucy masuk kedalam kelas dan melihat Sting sedang menatap keluar jendela.
"Hmm anoo.." Lucy takut-takut memanggil nama Sting. Sting mendengar suara Lucy akhirnya menoleh dan menatapnya sinis.
"Ada apa?" tanya Sting
Lucy menggenggam erat tangannya dan menundukkan kepalanya.
"Hmm apa kau mau ikut kami makan es krim? Ayah Natsu akan mentraktirnya" ajak Lucy dengan suara yang lembut. Sting tercengang.
"Apa? kau mengajakku?" tanya Sting
Lucy mengangkat wajahnya dan terlihat senyuman manis dari wajahnya. Senyuman itu membuat Sting blushing. Tidak mau ketahuan kalau wajah Sting memerah, Sting mengalihkan pandangannya. Lucy memandang bingung Sting. Lucy memberanikan diri berjalan menghampiri Sting, setelah dekat Lucy meraih tangan Sting dan menariknya.
"Ayo" ajak Lucy sambil tersenyum kepada Sting. Sting masih blushing.
XXX
Lucy, Natsu, Sting dan juga ayah Natsu sudah berada di kafe. Mereka sedang menyantap es krim yang sudah mereka pesan. Lucy terlihat senang dengan es krim rasa vanilla. Natsu yang melihatnya hanya ikut tersenyum. Sting hanya diam saja menyantap es krim blueberry-nya.
"Sting-kun, maafkan Natsu ya. Sudah memukulmu" ucap ayah Natsu dengan lembut.
Sting mengangguk. "Aku juga minta maaf" sahut Sting
"Makanya kau jangan menjahili Lucy, aku akan kesal kalau kau menjahilinya" ujar Natsu
Sting menatapnya dengan sinis lalu memandang Lucy yang tersenyum.
"Aku juga minta maaf padamu, Lucy" ucap Sting
Lucy meletakkan sendoknya dan tersenyum kepada Sting. "Tidak apa-apa. mulai hari ini, kita bertiga harus lebih akrab lagi seperti orang tua kita" sahut Lucy
Natsu dan Sting yang melihat senyuman Lucy pun sontak membuat pipi keduanya memerah. Sadar akan hal itu, ayah Natsu hanya bisa tertawa.
'Dasar..' batin ayah Natsu.
XXX
"Ne ne Luce..ayo kita main.." ajak Natsu
Lucy pun mengangguk. Lucy berdiri disebelah Natsu. Mereka akhirnya berlarian kesana kemari saling mengejar. Dari kejauhan Sting melihatnya dengan sinis. Sting pun akhinya berjalan menghampiri Natsu dan Lucy yang sedang bermain -tiba Sting mendorong Lucy hingga terjatuh.
"Hahaha dasar anak perempuan lemah.." Ujar Sting.
Gadis kecil itu sudah terjerembap. Ia hanya bisa menangis.
Natsu yang melihat Lucy jatuh dengan segera ia menghampiri Lucy dan membantu Lucy berdiri. Natsu menepuk-nepuk punggung Lucy untuk menenangkan Lucy. Setelah Lucy tenang, Natsu berjalan kearah Sting dan menatapnya dengan kesal.
"Kenapa kau masih menjahili Lucy? Aku sudah bilang, aku tidak suka kau bersikap seperti itu!" Natsu akhirnya memukul Sting kembali. Sting pun jatuh terjerembap. Sting menatap Natsu dengan sinis dan bangkit berdiri. Sting membalas memukul Natsu. Lucy pun akhirnya berusaha melerai keduanya.
"Sudah cukup!" seru Lucy
Sting dan Natsu menoleh kearah Lucy.
"Aku tidak suka melihat kalian berkelahi, kenapa kalian tidak coba untuk mengakrabkan diri? Dan Natsu, aku tidak apa-apa. Jangan memukul Sting lagi. Dan untuk Sting, kenapa kau selalu menjahiliku? Apa kau membenciku?" terang Lucy
Natsu dan Sting tercengang. Mereka melihat kilatan marah dari mata Lucy. Benar-benar terpancar jelas.
"Aku hanya ingin melindungimu, Luce.." ucap Natsu
Sting yang medengar itu pun berdecih dan berjalan meninggalkan Lucy dan Natsu. Baru beberapa langkah, Sting pun berhenti.
"Aku tidak membencimu, Lucy" ucap Sting. Sting pun melanjutkan perjalanannya lagi. Lucy tersenyum.
"Syukurlah.." gumam Lucy
XXX
Lucy dan Natsu sedang berada didalam lift. Mereka berdua sedang berada didalam galeri seni. Mereka ingin kelantai lima. Mereka ingin melihat lukisan-lukisan yang dipamerkan digaleri seni itu. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan sambil melihat-lihat lukisan yang berbagai macam. Bukan hanya lukisan, ada pula patung-patung disana. Lucy memotret beberapa lukisan dan juga patung kesenian tersebut.
"Kenapa Sting lama sekali" gerutu Natsu
Natsu dan Lucy menunggu kedatangan Sting. Hubungan mereka bertiga sudah cukup akrab dari sebelumnya. Kelakuan Sting pun kini dengan Lucy juga mulai membaik. Sting sudah bisa mengurangi kejahilannya terhadap Lucy dan mulai perhatian pada Lucy. Ia pun kini sudah dekat dengan Natsu. Terkadang bermain bola bersama saat Lucy sedang bermain boneka.
"Mungkin sebentar lagi, bagaimana kalau kita tunggu di lobby saja?" usul Lucy
Natsu mengangguk. "Benar juga"
Natsu dan Lucy pun masuk kedalam lift. Hanya mereka berdua saja yang masuk kedalam lift. Natsu memencet tombol lantai yang mereka tuju. Lift pun berjalan. Tapi tiba-tiba, ditengah perjalanan, lift itu berhenti. Lampu didalam lift pun mati. Lucy pun berteriak ketakutan dan memeluk Natsu. Natsu pun ikut panic. Ia memencet tombol darurat di lift itu.
Natsu melihat tubuh Lucy bergetar hebat. Lucy menangis.
Natsu memeluk Lucy dan menepuk-nepuk punggung Lucy dengan pelan dengan masud agar Lucy tenang.
"Aku..takut..gelap, Natsu.." ucap Lucy dengan suara bergetar disela tangisnya.
"Tutuplah matamu. Aku akan terus memelukmu sampai lift ini jalan lagi. Tenanglah..aku disini" ujar Natsu dengan suara yang begitu menenangkan. Lucy mengangguk didalam pelukan Natsu.
Setelah sekian lama, lampu lift menyala kembali dan lift beroperasi kembali. Dan membawa Lucy dan Natsu kelantai lobby. Pintu lift terbuka dan menampakkan Sting dan beberapa orang. Sting memandang Natsu yang masih memeluk Lucy. Ada rasa tidak suka yang dirasakan Sting saat melihat Natsu memeluk Lucy. Natsu sadar akan hal itu.
XXX
Lucy dan Natsu sedang berada ditanah kosong dengan sekumpulan pepohonan yang tinggi mengelilingi tanah itu.
"Ne ne Lucy, ayo kita bermain bola disini" ucap Natsu. Natsu sedang memegang sebuah bola sepak.
"Aku tidak mau bermain bola, nanti aku sakit kena bolanya" sahut Lucy sambil memeluk bonekanya.
"Ah padahal aku sudah mengajakmu jauh-jauh kesini, aku pikir kau ingin bermain bola denganku" keluh Natsu
"Seharusnya kau mengajak Sting untuk bermain bola bersamamu" sahut Lucy sambil terus memeluk boneka yang ada ditangannya.
"Tidak! Kalau aku mengajak dia, dia pasti akan menjahilimu. Aku tidak suka" ungkap Natsu sambil menyundul-nyundul bola sepaknya.
"Kau tidak suka ada yang menjahiliku?" Tanya Lucy dengan lembutnya.
Bola sepak yang disundul oleh Natsu pun berpindah kekaki Natsu. "Jelas aku tidak suka kalau ada yang menjahilimu dan mengganggumu. Karena aku suka padamu, Luce"
"Aku ingin melindungimu, dari apapun" tambah Natsu
Lucy yang mendengar ucapan Natsu sontak kedua pipinya memerah. Lucy memikirkan kata-kata Natsu. Memang iya, Natsu selalu melindungi Lucy saat Lucy dijahili. Lucy merasa senang mendengarnya.
XXX
"Luce, ayo kita bermain" Natsu masuk kedalam kamar Lucy. Lucy sedang sibuk membaca buku dimeja belajarnya. Setelah mendengar suara Natsu, Lucy menoleh dan menutup bukunya.
"Yuk" jawab Lucy
Mereka pun akhirnya bermain ditaman belakang milik Lucy. Ternyata Natsu membawa sebuah gitar.
"Kenapa kau membawa gitar?" tanya Lucy
"Ayo kita bernyanyi" ajak Natsu
Lucy menaikkan sebelah alisnya. "Apa kau bisa memainkan gitar itu?" Lucy menunjuk kearah gitar yang dibawa oleh Natsu.
"Kalau aku tidak bisa, aku tidak akan membawanya, Luce" jawab Natsu
"Baiklah.." sahut Lucy
Natsu pun bersiap dengan gitarnya. Setelah siap, ia mulai bernyanyi dan memetik gitarnya menjadi sebuah alunan lagu. Lucy melihat Natsu sambil tersenyum. Natsu bernyanyi dengan suaranya yang kekanak-kanakan. Natsu bernyanyi sambil memandang kewajah Lucy. Lucy terlihat sangat menikmati lantunan lagu yang dimainkan Natsu. Tanpa disadari, Lucy memejamkan matanya sejenak lalu Lucy pun ikut bernyanyi bersama dengan Natsu. Mereka saling memandang dan tersenyum hangat.
Setelah selesai bernyanyi, Lucy pun bertepuk tangan dan mereka berdua pun tertawa bersama. Tanpa mereka sadari Sting sudah memperhatikan saat mereka bernyanyi. Sting hanya bisa mengepalkan tangannya.
"Lagu yang bagus" puji Sting sambbil menghampiri kedua sahabatnya.
"Sting!" Natsu dan Lucy mengucapkan nama tersebut dengan bersamaan.
"Yo" sapa Sting sambil melambaikan tangannya. Lucy menghampiri Sting dan menarik tangannya agar ikut bergabung dengannya dan Natsu.
"Ayo kita bertiga bernyanyi bersama-sama" ajak Lucy dengan cerianya. Lucy meraih tangan Natsu dan juga Sting. Ia menggandeng tangan kedua sahabatnya dan memandang secara bergantian. "Bagaimana?" tanya Lucy
Wajah Sting dan Natsu sudah memerah melihat senyuman manis milik Lucy. Mereka pun mengangguk setuju. Akhirnya, mereka pun bernyanyi bersama-sama.
XXX
Lucy, Sting, dan Natsu sedang berjalan-jalan ditengah kota. Mereka sedang berjalan-jalan mencari sebuah hadiah untuk perayaan ulang tahun pernikahan ayah dan ibu Natsu.
"Kira-kira kita memberikan hadiah apa ya?" tanya Natsu
"Bagaimana kalau pakaian?" tanya Sting
"Tidak, bagaimana kalau cangkir couple? Itu kan romantis" ucap Lucy
"Mereka sudah terlalu tua untuk itu, Lucy" komentar Sting. Natsu mengangguk-angguk tanda ia setuju dengan komentar Sting.
"Yah yang simple saja, Natsu. bagaimana dengan kue?" usul Sting lagi.
"Kue? Kue ya? Hmm?" Natsu memikirkan usulan Sting.
"Itu ide yang bagus" ucap Lucy
"Yoshhh! Kalau Lucy bilang bagus, aku setuju dengan ide itu" ujar Natsu
Lucy dan Sting bersweatdrop.
XXX
Natsu sudah mendapatkan kue dengan tulisan yang ia inginkan. Lucy dan Sting menunggu diseberang jalan. Toko kue itu berseberangan dengan tempat dimana Lucy dan Sting berdiri. Setelah membayarnya, Natsu membawa sekotak kue itu keluar. Lucy dan Sting melihatnya.
"Dia sudah membelinya" ucap Lucy. Sting mengangguk.
Natsu melambaikan satu tangannya kearah Sting dan Lucy. Lucy pun membalas lambaian tangannya.
Natsu mulai melangkah menyebrangi jalan. Ia terlalu senang karena sudah mendapatkan hadiah untuk ulang tahun pernikahan ayah dan ibunya. Tanpa Natsu sadari ada sebuah mobil yang melaju. Lucy dan Sting melihat kedatangan mobil tersebut.
"Oh tidak! Dia akan tertabrak" ucap Sting dengan panik.
Sting membelalakkan matanya. Tanpa Sting sadari, Lucy sudah berlari untuk menyelamatkan Natsu dan terdengar teriakan Lucy.
"NAATSUU AWAS!" teriak Lucy.
Lucy mendorong keras Natsu kebelakang, tapi karena waktu yang sempit, Lucy pun tertabrak oleh mobil tersebut. Natsu terjatuh tidak jauh dari tempat kejadian, kue yang dibawanya pun sudah jatuh. Sting tercengang melihatnya. Lucy terbaring dengan darah segar yang mengalir.
"LUCYYY!" teriak Sting dan Natsu bersamaan. Mereka berlari menghampiri Lucy yang tergeletak. Natsu yang sampai terlebih dahulu.
"Lucy..Lucy..bangun…" ucap Natsu sambil meraih tubuh Lucy.
Tangan Natsu sudah berlumuran darah, karena kepala Lucy mengeluarkan darah yang cukup banyak. Natsu menangis dengan histeris melihat keadaan Lucy. Natsu sudah memanggil nama Lucy beberapa kali, tetap Lucy tidak membuka matanya.
"Panggil ambulanss! Tolong!" ujar Sting kepada para warga.
Sting berjongkok disebelah Natsu, dan tanpa ia sadari, airmata keluar dari bola mata birunya. Ia berusaha meraih wajah Lucy.
"Lu..cy.." gumam Sting
Lucy dengan perlahan membuka matanya, terdengar rintihan pelan dari mulut Lucy. Saat membuka mata, Lucy melihat samar-samar wajah Natsu dan Sting yang sedang menangis.
"Jangan menangis…" ucap Lucy dengan suara yang begitu pelan. Hanya Natsu dan Sting yang dapat mendengarnya.
"Lucy! kau jangan banyak bergerak dulu!" ujar Sting
"Luce..Lucy…kenapa..kenapa kau menolongku.." ucap Natsu
"Seharusnya aku yang melindungimu.." tambah Natsu
Lucy menggeleng pelan. "Kau sudah sering me-lindungi-ku, Nat..su" ucap Lucy dalam sakitnya.
Natsu menangis mendengar perkataan Lucy. Natsu memeluk Lucy.
"Aku mohon bertahanlah, Luce.." ucap Natsu
"Aku menyukaimu, Natsu.." bisik Lucy ditelinga Natsu sebelum menutup matanya. Natsu tercengang, ia pun menangis. Menangis sejadi-jadinya.
"Maafkan aku, Luce..Maaf.." lirih Natsu
Sting memalingkan wajahnya, ia menangis dalam diam. Sedangkan Natsu, ia menangis dengan histeris sambil memeluk gadis yang menyelamatkannya.
XXX
Natsu, Sting, kedua orang tua Lucy sudah berada dirumah sakit. Pakaian Natsu sudah berlumuran darah Lucy. Lucy sedang berada diruang operasi. Ibu dan ayah Lucy tidak berhenti-hentinya memanjatkan doa untuk putrinya. Sedangkan Natsu hanya duduk terdiam. Sting juga duduk disebelahnya hanya terdiam. Tidak mengatakan apa-apa. Natsu merasa bersalah pada orang tua Lucy, akhirnya Natsu meminta maaf pada kedua orang tua Lucy.
"Tidak apa-apa, Natsu. sudahlah..ini bukan salahmu. Lucy yang mau menolongmu" ucap ayah Lucy
Sting yang mendengarnya hanya mengepalkan tangannya dan meninggalkan mereka yang masih menunggu operasi Lucy.
XXX
Beberapa jam sudah terlewati, akhirnya dokter pun keluar dari ruang operasi. Kedua orang tua Lucy bangkit berdiri begitu juga dengan Natsu dan Sting.
"Kalian semua keluarga dari saudari Lucy?" tanya sang Dokter.
Kedua orang tua Lucy mengangguk.
"Operasi anak kalian berhasil, tinggal menunggu ia sadar saja" terang sang dokter.
Kedua orang tua Lucy sangat lega mendengarnya, begitu pula dengan Natsu dan Sting.
"Dia akan cepat sembuh kan, Dok?" tanya Natsu
Dokter tersenyum dan mengangguk.
"Terimakasih ya dok. Kami bisa menjenguknya sekarang?" tanya ibu Lucy
"Bisa, dia akan dipindahkan keruang rawat. Jadi kalian semua bisa menjenguknnya" sahut sang dokter
"Terimakasih dok, terimakasih" ucap ayah Lucy sambil berjabat tangan dengan dokter.
XXX
Lucy berbaring dengan infus dan memakai alat bantu pernafasan. Kedua orang tua Lucy hanya memandangnya dan saling merangkul. Mereka sangat sedih melihat keadaan sang putri.
Sedangkan Natsu dan Sting berada diluar ruangan. Mereka mengintip dari kaca pintu kamar rawat Lucy.
"Lucy..cepatlah bangun.." gumam Natsu
Sting yang mendengarnya tidak bereaksi apa-apa. Sting hanya memandangi wajah Lucy yang terbaring lemah diruangan itu.
XXX
Sudah beberapa hari berlalu, Lucy masih belum sadar. Orang tua Natsu dan Sting pun sudah menjenguknya. Begitu pula dengan teman-teman sekolah Lucy. Sekarang Lucy sedang ditemani oleh Natsu dan Sting. Sting hanya duduk diam, sedangkan Natsu menggenggam tangan Lucy.
Tiba-tiba, tangan yang digenggam oleh Natsu itupun bergerak. Natsu pun kaget akan reaksi itu.
"Sting, Lucy bergerak" ujar Natsu
Sting langsung menghampirinya dan melihatnya. "Kita harus panggil dokter" ucap Sting. Natsu pun mengangguk.
Lucy dengan perlahan membuka matanya. Pandangannya masih buram. Natsu yange melihat Lucy membuka matanya hanya bisa tersenyum.
"Lucy.." panggil Natsu
Lucy menoleh kearah sumber suara. Lucy tidak menyahut pannggilan dari Natsu. Lucy menoleh kearah Natsu, pandangannya sedikit demi sedikit sudah mulai jelas.
"Dare?" itulah kalimat pertama yang dilontarkan oleh Lucy saat sadar. Natsu tercengang.
Sting akhirnya datang kembali dengan membawa dokter. Sting melihat Lucy sudah membuka matanya.
"Lucy.." panggilnya. Terdengar keceriaan dalam panggilan itu.
"Dare? Ima doko?" ucap Lucy dengan lemah
Sting mendengarnya tercengang. Dokter sibuk memeriksa keadaan Lucy.
"Dokter, kenapa dia-" ucapan Natsu terpotong oleh dokter.
"Hubungi orang tuanya. Ada yang ingin aku jelaskan" ucap sang dokter. Natsu akhirnya menghubungu orang tua Lucy.
XXX
Diruang dokter yang merawat Lucy, sudah ada kedua orang tua Lucy dan juga Sting. Natsu menjaga Lucy diruangannya.
"Dokter, ada apa ini?" tanya ayah Lucy
"Begini, karena luka yang cukup parah dibagian kepala Lucy, Lucy mengalami Amnesia. Ia tidak bisa mengingat apa-apa setelah kecelakaan itu" terang dokter
Ibu Lucy hanya bisa menutup mulutnya, ia dan suaminya benar-benar kaget mendengar kondisi Lucy.
'Lucy..amnesia?' pikir Sting
"Apa Lucy bisa disembuhkan? Apa dia akan bisa mengingat kami lagi?" tanya Sting
Ayah dan ibu Lucy hanya menyimaknya.
"Itu tergantung Lucy. Kalau Lucy berniat untuk mengembalikan ingatannya, ia akan berusaha keras. Tetapi, sebaiknya Lucy tidak dipaksa untuk mengingat apapun. Karena jika dipaksakan itu akan membahayakan kondisinya" jelas sang dokter
Sting mengepalkan tangannya dan berjalan keluar dari ruangan dokter. Ia berjalan keruangan dimana Lucy dirawat dan dimana ada Natsu disana. Setelah sampai, Sting melihat Lucy sedang tertidur, sedangkan Natsu sedang memandangi Lucy yang terlelap. Sting dengan segera menarik tangan Natsu.
"Kau tahu apa yang kau lakukan pada Lucy?" tanya Sting dengan sinis.
"Apa maksudmu?" tanya Natsu dengan bingung. Ia benar-benar tidak tahu apapun.
Sting menarik kerah kemeja yang dipakai oleh Natsu. Sting sudah siap mengarahkan tinjunya kewajah Natsu. Natsu hanya memandangnya dengan bingung.
"Ada apa denganmu, Sting?" tanya Natsu lagi
Sting melepaskan Natsu dan menatap sinis Natsu.
"Lucy hilang ingatan. Ia tidak bisa mengingat masa lalunya" ungkap Sting
Natsu tercengang. Natsu menoleh kearah Lucy, pandangannya melembut.
"Bagaimana bisa?" gumam Natsu
Sting yang mendengarnya hanya berdecih kesal.
"Kau bilang kau akan melindunginya dari apapun, tapi kenapa kau membuatnya seperti ini? kau tahu kenapa Lucy menjadi seperti ini? ini semua gara-gara kau, Natsu!" ujar Sting.
Natsu yang mendengar kata-kata yang dilontarkan Sting hanya bisa terdiam dan tertunduk. Didalam hati Natsu, Natsu merasa kata-kata yang diucapkan Sting itu benar adanya. Bagaimana bisa Natsu berjanji pada Lucy untuk melindunginya, tapi sekarang..
"Kau tidak akan bisa membuatnya bahagia Natsu, tidak akan bisa!" tambah Sting dengan geramnya.
Natsu masih terdiam. Kata-kata Sting masih terus terngiang di telinga Natsu. tanpa sadar Natsu pun mengeluarkan airmata dari mata onyxnya.
"Menjauhlah dari Lucy, mulai dari sekarang" ucap Sting
Natsu mengangkat wajahnya, kaget mendengar Sting berbicara seperti itu.
"Maksudmu apa, Sting?" tanya Natsu
"Apa lagi? Pergilah dari hidup Lucy, untuk selamanya. Karena aku akan membuatnya bahagia, tidak seperti dirimu yang hanya membuatnya celaka" sahut Sting
Natsu menoleh kearah Lucy lagi. Tatapannya begitu sendu. Natsu melangkah mendekati Lucy yang masih terlelap.
"Baiklah.." jawab Natsu
Natsu membelai rambut Lucy. "Aku mau mengucapkan salam perpisahan untuknya"
Natsu memandangi wajah Lucy yang terlihat sangat damai saat terlelap tidur. Natsu mengingat kenangan-kenangannya yang terukir bersama Lucy. Perasaannya untuk Lucy. Perasaan suka, sayang, ingin melindunginya menjadi satu. Natsu masih membelai kepala Lucy. Tanpa disadarinya, Natsu sudah mengeluarkan airmata. Natsu menggenggam tangan Lucy dengan erat kemudian mencium dahi Lucy.
"Aku selalu menyayangimu, Luce.." bisik Natsu
Natsu melepaskan genggamannya dan berjalan keluar dari ruang rawat Lucy. Sting hanya memandang kepergian Natsu.
XXX
Hari-hari pun berlalu, Lucy sudah keluar dari rumah sakit dan juga sudah kembali bersekolah. Bagaimana dengan Natsu? Natsu tidak bersekolah di tempat Lucy dan Sting bersekolah. Natsu meminta kedua orang tuanya untuk memindahkannya kesekolah lainnya. Natsu merasa terlalu sakit saat melihat Lucy tidak dapat mengingatnya, dan itu karenanya.
Natsu sedang berjalan tanpa tujuan. Ia habis pulang sekolah, ia habis bermain sepak bola dengan teman-teman barunya disekolah jadi ia pulang telat. Ia berjalan sambil menundukkan wajahnya. Saat ia melewati sebuah taman, ia mendengar suara yang begitu familiar ditelinganya. Natsu pun menoleh kearah taman. Apa yang ia lihat?
Lucy sedang bermain bersama dengan Sting. Natsu memperhatikannya dari jauh. Natsu bisa melihat Lucy yang tersenyum bahagia, berlarian kesana-kemari bersama Sting. Tanpa sadar Natsu mengulurkan tangannya, seperti ingin meraih Lucy.
"Dia begitu jauh.." gumam Natsu
XXX
Orang tua Lucy pun meninggal setelah kesehatan Lucy pulih. Mereka mengalami kecelakan lalu lintas saat ingin pulang kerumah setelah mengadakan perjalanan bisnis. Natsu datang bersama dengan kedua orang tuanya. Natsu tidak masuk kedalam rumah Lucy. Karena jika ia masuk, Lucy akan melihatnya. Natsu memperhatikan Lucy dari kejauhan. Lucy menangis didepan peti mati kedua orang tuanya. Terlihat matanya yang begitu sembab. Natsu memandangnya dengan kasihan. Rasanya Natsu benar-benar ingin memeluk Lucy saat itu. Tetapi tiba-tiba terlihat Sting yang memeluk Lucy. Lucy menangis didalam pelukan Sting.
"Hah benar, ada Sting disana.." ucap Natsu
XXX
Tahun demi tahun berlalu. Natsu sudah beranjak dewasa. Sekarang ia sudah menginjak kelas tiga sekolah menengah pertama. Sekarang Natsu benar-benar telah lost kontak oleh Lucy. Ia juga sudah tidak pernah melihat Lucy lagi setelah kedua orang tuanya meninggal. Ia tidak tahu Lucy tinggal dimana. Tapi disetiap tahunnya, Natsu selalu menyiapkan sebuah hadiah untuk ulang tahun Lucy. Hadiah-hadiah itu selalu terkumpul dikamar Natsu, tidak dikirimkan untuk orang yang dituju.
Setelah lulus dari sekolah menengah pertama, Natsu bersikeras untuk tinggal mandiri dan pindah kekota lain. Yaitu ke Magnolia.
"Ayah, aku mohon. Aku kan sudah besar" ucap Natsu sambil memohon pada ayahnya. Ayahnya sedang membaca Koran. Ibunya hanya memandanginya.
"Baiklah. Ayah akan mengurus kepindahanmu. Kau packing saja apa yang ingin kau bawa" ucap sang ayah dengan bijaknya. Natsu begitu senang sampai lompat-lompat.
"Sayang, apa tidak apa-apa membiarkan dia tinggal sendiri?" tanya Istrinya yaitu ibu Natsu.
"Tidak apa-apa. Hitung-hitung membuat dia lupa dengan kejadian beberapa tahun lalu" ujar ayah Natsu. ibu Natsu mengangguk tanda setuju.
XXX
Natsu sudah pindah ke Magnolia, ia sudah dibelikan sebuah apartemen yang begitu mewah oleh ayahnya, dan tidak lupa, ia juga dibelikan sebuah motor sport untuk pergi kesekolah. Natsu juga sudah mendaftarkan dirinya di FairyTail High School. Sekolah itu begitu terkenal di Magnolia.
Saat Natsu hidup sendiri, Natsu diberikan tabungan oleh ayah dan ibunya agar Natsu hidup berkecukupan. Natsu bukan seorang anak yang suka menghambur-hamburkan uangnya dengan tidak jelas. Natsu menyewa seorang pengurus rumah untuk mengurusi apartemennya. Karena jujur saja, Natsu tidak begitu handal dalam urusan kebersihan.
XXX
Hari pertama saat masuk sekolah, Natsu telah memakai seragamnya dengan rapi. Ia melihat jam dindingnya sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Ia harus segera bergegas kesekolah, agar tidak terlambat. Dengan segera ia menyambar tas sekolahnya lalu meraih helmnya dan keluar dari apartemennya.
Natsu membenarkan posisi syal putihnya yang melingkari lehernya, lalu memakai helm dan menaiki motornya. Ia pun berangkat kesekolah.
XXX
Setelah sampai disekolah, Natsu dengan cepat berlari kepapan pengumuman. Ia harus melihat dimana kelasnya. Dari kejauhan terlihat para siswa berebut untuk melihat dimana kelas mereka. Natsu menghela nafasnya. Setelah dekat dengan papan pengumuman itu, Natsu terdorong-dorong oleh siswa yang lainnya. Natsu kembali kebelakang. Ia begitu kesal.
"Hoy! Aku juga ingin lihat!" ujar Natsu dengan kesalnya
"Aww, ittai yoo" rintih seseorang.
Natsu menoleh kearah dimana sumber suara itu terdengar. Natsu melihat seorang gadis tersungkur dibawah. Ia terjatuh karena dorongan dari siswa lainnya. Natsu memandangi gadis itu. Rambut panjang pirangnya yang tergerai, mata karamelnya yang begitu indah, wajahnya pun sangat cantik. Natsu menjadi ingat dengan seseorang. Natsu dengan cepat mengulurkan tangannya pada gadis itu. Gadis itu hanya menoleh dan tersenyum. Gadis itu menyambut tangan Natsu. Natsu tersentak saat gadis itu menyambut tangannya. Natsu merasa pernah mengalami hal ini. Rasanya begitu sama.
"Arigatou" ucap sang gadis
"Douita" sahut Natsu. Natsu kembali masuk kedalam kerumunan. Tetapi lagi-lagi ia terbawa kebelakang. Natsu mulai kesal. Ia menoleh kearah gadis itu yang masih berusaha masuk kedalam kerumunan. Ia pun menghela nafas.
"Kau mau lihat kelas kan?" tanya Natsu. Gadis itu mengangguk.
"Namamu siapa? Biar aku yang lihat. Nanti kau bisa jatuh lagi. Masih mending hanya jatuh, kalau sampai terinjak-injak dan mati. Itu akan sangat merepotkan" ucap Natsu
Gadis itu menatapnya sinis. "Kau ini! sebenarnya mau menolongku tidak sih? Seharusnya tidak usah berbicara seperti itu" omel gadis itu
"Yasudah, cepat, namamu siapa?" tanya Natsu
"Lucy, Lucy Heartfilia" jawab gadis itu. Mendengar nama tersebut Natsu pun tersentak dan memandang gadis itu tanpa berkedip.
'Lu..cy' batinnya
Gadis yang bernama Lucy itu melambai-lambaikan tangannya diwajah Natsu. Natsu pun tersadar.
"Lucy, namamu Lucy. Yasudah tunggu disini" Natsu akhirnya masuk kedalam kerumunan. Ia menyingkirkan orang-orang yang berada dihadapannya. Entah dengan menyikutnya, atau dengan yang lain.
Akhirnya Natsu dapat melihat papan pengumuman. Ia mencari namanya terlebih dahulu.
"Natsu..Natsu..Natsu..Ah dapat…kelas 1-3" Natsu ingin berbalik dan kembali tetapi ia akhirnya mengingat kalau ada seorang gadis yang ingin ia tolong.
"Lucy..Lucy Heartfilia.." Natsu tercengang melihat nama yang ia temukan.
'Ia sekelas denganku?' pikir Natsu
XXX
Natsu tidak pernah menyangka kalau gadis yang ia tolong adalah teman kecilnya. Lucy Heartfilia. Setelah sekian lama ia tidak mengetahui kabar gadis itu, Natsu bertemu dengannya dan satu sekolah dengannya. Bukan hanya satu sekolah, tetapi juga satu kelas. Mereka begitu dekat.
Setelah tahu, gadis itu adalah Lucy. Gadis yang harus dijauhinya. Natsu akhirnya bersikap dingin pada gadis itu. Tetapi diam-diam, Natsu tetap memperhatikan gerak-gerik Lucy. Lucy tumbuh menjadi seseorang yang dapat diandalkan. Lucy juga sangat pintar, selalu berprestasi, dan mempunyai teman yang banyak.
Disanalah Natsu bertemu dengan sahabat-sahabatnya sekarang. Gray, Gajeel, Erza, Jellal, Levy, Lisanna, Juvia dan juga cinta pertamanya yaitu Lucy. Mereka semua bersahabat, tetapi sikap Natsu selalu tidak biasa pada Lucy. Natsu selalu bersikap dingin pada Lucy, berbeda kalau dengan yang lainnya. Walaupun Lucy diperlakukan seperti itu, Lucy terus menerus baik pada Natsu. Karena ia tahu, Natsu adalah orang yang baik. Dan tanpa Lucy ketahui, Natsu adalah sahabat kecilnya dan juga cinta pertamanya..
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued
Yooossh! Chapter Flashbacknya kelar yohoooo XD Panjang sekali yaa~~ tadinya mau dibuat dua chapter, tapi hmm yasudahlah hahaha-_-
Menurut para readers bagaimana chapter kali ini? hmm pasti kalian berpikir chapter ini kepanjangan hahaha XD
Yasudah mohon reviewnya ya...onegai XD
Nah sekarang author mau bales review dari chapter sebelumnya..
canra-chan clovermitsuki : Ini sudah lanjuttt, tapi pertanyaan dirimu tidak terjawab di chapter ini, mungkin dichapter berikutnya yaa XD
Guest : Ini udah update XD
TheZarkMon : Oh udah tau ya hehehe XD Uwaaaah kejamnyaa *nangisdarah* ini sudah update XD
I love Flamers : Oh kecepetan. Oke, iya nih dikejar, dikejar-kejar ama fans wkwk XD
Fi-chan nalupi : Naaaah, untuk Lucy mati apa gaknya, jawabannya ada di chapter berikutnya hihi jadi tunggu saja yaa XD
ameru chan : Iya dong cepet~ Waaah jangan dibunuh, tar jadi ga rame lagi ceritanya hahaha XD
ErinHeartfilia22 : Ini udah update loh XD
winha heartfilia : Semoga aja ya, jawabannya bakal ada dichapter berikutnya, jadi ditunggu yaaa XD
LRCN : Hehehe urwell XD
Oke deh semuanya udah dibaleskaaan? Makasih banyak ya udah mereview XD
Author bakal kasih bocoran nih buat para readers yang aku sayangi, Cerita ini udah mendekati akhir nih. Yaa walaupun belum tahu endingnya kaya apa hehehe XD Tapi yang jelas mah pasti dibuat happy ending hihihi karena aku gasuka cerita yang sad ending hmm. Jadi dibaca terus yaaa, ayo yang belum review, direview aja duluuu..biar tau nih gak sempurnanya atau salahnya dimana hehehe XD
Oke deh udah dulu bacotannya. Author pamit duluyee
Jaa nee XD
