Chapter 10
Hati Kecil
Hingga siang menjelang, Naruto sama sekali tak memakan ramen instan yang diseduhnya tadi pagi. Memang ini hal yang tak biasa. Seorang Uzumaki Naruto melewatkan satu cup ramen yang sudah diseduhnya. Ini merupakan keajaiban dunia ninja.
Tapi mau bagaimana lagi? Pikiran Naruto terlalu kacau sekarang. Ia tak menyangka kalau Naruko akan benar-benar meninggalkan apartemen, meninggalkan Naruto di sana sendirian. Selain itu, Naruto lebih tak menyangka lagi kalau ternyata dirinya akan merasa sangat kehilangan saat ditinggalkan gadis pirang itu. Naruto sadar, terkadang sikap Naruko memang suka menyebalkan dan selalu saja merepotkannya. Tapi jika diingat-ingat lagi, justru kemanjaan dan keceriaan Naruko itulah yang membuat hidup Naruto lebih berwarna akhir-akhir ini. Sekarang keceriaan itu sudah hilang. Apartemen Naruto sekarang telah kembali ke keadaan sebelumnya, sepi dan sunyi.
Naruto tidak nyaman dengan keadaan ini. Ia sudah terlanjur terbiasa dengan kehadiran Naruko di sisinya. Naruto tak keberatan jika Naruko kembali merepotkan dirinya. Asalkan gadis itu mau pulang.
Akhirnya Naruto memutuskan untuk mencari Naruko. Ia tahu mungkin Naruko akan sulit bahkan menolak untuk diajak pulang. Tapi minimal, Naruto butuh penjelasan yang detail akan alasan kepergian Naruko.
Siang itu Naruto mengunjungi tempat-tempat yang mungkin dikunjungi Naruko. Ichiraku, taman, lapangan tempat berlatih, dan tempat lainnya. Naruto juga bertanya ke setiap penduduk yang ditemuinya apa mereka melihat Naruko. Tapi hasilnya nihil, Naruto tidak menemukan Naruko di tempat-tempat yang dikunjunginya. Orang-orang juga tidak ada yang melihat Naruko dari pagi.
"Naruto-kun!"
Suara lembut Hinata menghentikan langkah Naruto. Dilihatnya Hinata sedang berlari kecil ke arahnya.
"Hai Hinata."
Naruto menyembunyikan kegalauannya untuk sementara karena tak mau Hinata tahu. Yaaa kalian tahu sendiri Naruto paling tak bisa membagi kesedihannya dengan orang lain. Selagi dirinya masih mampu menghadapinya sendirian, Naruto pasti akan berusaha sendiri.
"Aku menunggumu di Ichiraku, tapi kau tidak datang. Umm.. jadi aku putuskan untuk mencarimu," kata Hinata pelan, terutama pada kata terakhir yang diucapkannya.
Mata Naruto melebar. Sial, batinnya. Ia melupakan janjinya kemarin untuk kembali makan siang bersama dengan Hinata. Rencananya mereka akan makan siang di Ichiraku siang ini. Ternyata kepergian Naruko telah membuat Naruto panik dan melupakan segalanya, termasuk janjinya dengan Hinata. Merasa tak enak kepada Hinata, tanpa membuang waktu lagi Naruto langsung membungkukkan badannya meminta maaf.
"Maaf Hinata, aku benar-benar lupa."
"Tidak apa-apa kok," ujar Hinata. Ia berusaha tersenyum menanggapi Naruto agar bocah itu tak terlalu merasa bersalah telah melupakan janji mereka.
"Kalau begitu ayo kita pergi ke Ichiraku."
Naruto berbalik arah, kemudian mulai melangkahkan kakinya diikuti Hinata di belakang. Naruto nampaknya harus bersabar, pencarian Naruko harus dihentikan dulu. Ia sudah terlanjur berjanji kepada Hinata.
Di Ichiraku, kali ini Naruto memakan ramennya karena ia tak bisa berbohong kalau perutnya sudah sangat lapar. Tanpa diketahui Naruto, sepasang mata lavender Hinata terus saja memperhatikannya. Hinata tahu, ada yang salah dengan Naruto. Hinata tidak bodoh, ia menyadari tingkah Naruto yang aneh.
Pertama, Naruto melupakan janji mereka. Sejak kapan Naruto melupakan janji? Naruto bukan tipe orang yang suka melanggar janji. Kalaupun ada urusan mendadak, Naruto akan berusaha tetap datang meskipun terlambat.
Kedua, sikap Naruto yang nampaknya tak banyak bicara kali ini. Rasanya orang yang di samping Hinata sekarang bukan Naruto. Bayangkan saja, sejak memesan ramen, Naruto belum memulai percakapan sekalipun. Ini tentu saja membuat Hinata tidak nyaman. Masalahnya Hinata bukan orang yang terlalu aktif bicara. Jadilah mereka saling terdiam.
Ketiga, Naruto seperti tidak bernafsu memakan ramen di hadapannya. Biasanya Naruto akan menghabiskan mangkuk ke-3-nya bahkan sebelum Hinata sempat memakan setengah ramen miliknya.
Hinata sudah tak tahan dengan kesunyian yang tercipta di antara mereka berdua. Rasanya kalau Hinata tak memulai pembicaraan, Naruto yang sekarang tak akan berinisiatif untuk memulai pembicaraan. Setelah berusaha menyingkirkan rasa malunya, Hinata memberanikan diri memulai pembicaraan.
"Kau sedang ada masalah Naruto-kun?" tanya Hinata.
Naruto tersentak. Ia memandang Hinata sejenak, kemudian kembali memandang mangkuk ramennya.
Diam lagi.
Hinata merasa ada masalah yang besar yang sedang dihadapi Naruto. Pasti ada masalah yang begitu menyita pikiran Naruto hingga Naruto bertingkah seperti ini.
"Kau bisa cerita padaku," lanjut Hinata.
Naruto menghela nafas pelan kemudian kembali menatap Hinata. Naruto berpikir beberapa saat. Mungkin bercerita kepada Hinata tak ada salahnya, pikir Naruto. Lagipula Hinata sendiri yang memintanya bercerita.
"Naruko pergi, dia tidak akan kembali ke apartemenku lagi."
Mata lavender Hinata melebar. Hinata langsung mengingat kejadian semalam. Saat itu Naruko memang mengucapkan kalimat perpisahan kepada Hinata. Tapi Hinata tidak menduga kalau Naruko akan berbuat sejauh ini.
Jadi inilah arti dari ucapan selamat tinggal Naruko semalam kepadanya? Naruko sengaja menjauh dari Naruto dan Hinata dengan cara pergi dari apartemen?
Sementara itu di akademi, Iruka sedang memperhatikan kertas di tangannya. Sesekali kedua matanya melirik Naruko yang sedang berdiri di hadapannya, lalu kembali memperhatikan kertas tersebut.
Ninjutsu 1.5
Taijutsu 3
Genjutsu 1
Intelligence 4
Strength 2.5
Speed 3
Stamina 4
Hand seals 1
TOTAL20
Kertas yang berada di tangan Iruka merupakan hasil tes kemampuan Naruko. Dari pagi Naruko sudah menghadap Iruka untuk menguji kemampuan ninjanya ditemani Anko. Dari hasil itulah nantinya Iruka akan menyatakan apakah Naruko layak untuk menjadi seorang genin tanpa harus mendaftar menjadi murid akademi atau tidak. Lagi pula untuk apa Naruko daftar di akademi jika kemampuan ninjanya sudah melebihi level murid akademi? Itu hanya akan menimbulkan ketidakseimbangan kekuatan di antara murid akademi.
Iruka melirik Anko yang berada tak jauh darinya. Firasatnya ternyata benar.
"Dengan nilai sebesar ini, seharusnya dia sudah jadi chuunin. Aku tak punya alasan untuk menyuruh Naruko belajar di akademi."
Naruko tersenyum puas mendengar kata-kata Iruka, begitu juga Anko yang terlihat bangga melihat muridnya yang ternyata tak mempermalukan dirinya. Tak percuma ia menemui Nara Shikaku tadi pagi untuk mengizinkan Naruko jadi muridnya. Karena Tsunade masih belum siuman, Anko merasa izin Nara Shikamaru saja sudah cukup untuk mengangkat Naruko jadi muridnya.
Iruka menyimpan kertas di tangannya ke atas meja, kemudian ia kembali menatap Naruko.
"Sekarang saatnya ujian terakhir."
Iruka menatap Naruko untuk melihat ekspresi tegang gadis itu. Berbeda dengan Naruko, Anko malah terlihat menahan tawanya. Tak mau membiarkan Naruko semakin tegang, Iruka melanjutkan kalimatnya.
"Aku yakin ini pasti mudah untukmu, tapi ini prosedur untuk menjadi seorang genin di Konoha. Sekarang coba praktekan Henge no Jutsu. Coba buat henge yang mirip dengan gurumu."
Raut muka tegang Naruko langsung lenyap. Naruko mengangguk, lalu menatap Anko beberapa saat. Ia memperhatikan fisik serta lekuk tubuh gurunya tersebut dari ujung kaki sampai ujung rambut. Ia ingin henge yang dibuatnya sempurna. Setelah Naruko bisa mengingat sosok gurunya itu, ia membuat segel jurus henge. Naruko terlihat percaya diri melakukannya. Ini jurus mudah, ia merasa yakin bisa melakukannya dengan sempurna.
"Henge no Jutsu!" seru Naruko.
Dari balik kepulan asap, nampaklah sosok yang mirip dengan Anko. Saking miripnya hingga tak bisa dibedakan dari Anko yang asli.
"Hn, tidak buruk. Kau bahkan menduplikasi ukuran dadaku dengan tepat," canda Anko sambil tertawa.
Iruka tak menghiraukan perkataan Anko yang menurutnya terlalu blak-blakan.
"Baiklah, kurasa hasilnya sudah jelas. Dari semua ujian yang kuberikan kau layak menjadi seorang genin."
Iruka menyuruh Naruko menandatangani formulir yang menyatakan kalau mulai saat ini Naruko telah resmi menjadi shinobi Konoha. Setelah itu, Iruka memberikan sebuah protektor berlambang Konoha kepada Naruko.
"Selamat Naruko-chan, sekarang kau adalah seorang shinobi Konoha," kata Iruka ramah.
"Terima kasih guru Iruka," kata Naruko sambil menerima protektor dari Iruka. Tak lupa Naruko memperlihatkan senyum manisnya. Naruko bersyukur ujian genin ini berjalan mulus. Ini adalah langkah awal untuk menjadi seorang kunoichi. Dengan jadi kunoichi, ia akan semakin mudah untuk melupakan Naruto.
Iruka membalas senyuman Naruko. Naruko mengingatkannya pada Naruto. Dua orang pirang itu menempuh jalan yang sangat berbeda untuk menjadi seorang genin. Jika Naruko sangat mudah menjadi seorang genin, maka Naruto dulu harus mati-matian mendapatkannya. Harus dijebak Mizuki, dianggap pencuri, dan terluka parah terlebih dahulu. Iruka mengingat kenangan lama itu sambil tetap tersenyum. Itu hanya masa lalu, pikirnya. Sekarang, Naruto, orang yang dulu jadi genin saja susah, sudah jadi pahlawan desa. Waktu memang cepat berlalu.
"Seperti dugaanku, ini pasti mudah untukmu," ujar Anko saat ia dan Naruko sudah keluar dari bangunan akademi. Naruko sedang sibuk merapikan protektornya yang ia letakkan di leher. Rasa bangga jelas sekali terlukis di wajahnya meskipun Naruko tahu ini baru permulaan. Setelah ini ia akan berlatih keras dengan Anko yang terkenal kejam.
"Tentu saja, aku sudah berjanji tak akan mengecewakanmu guru," kata Naruko sambil nyengir.
"Bagus. Tapi sudah berulang kali kubilang, jangan memanggilku guru, aku merasa sudah tua jika dipanggil guru." Anko melipat kedua lengannya sambil menatap Naruko dengan tatapan apa-aku-setua-itu?
"Tapi kau memang sudah-"
Naruko tak mampu melanjutkan kalimatnya karena Anko sudah terlanjur memeluk lehernya sambil berbisik di telinga Naruko. Ini membuat bulu kuduk Naruko merinding seketika.
"Sudah apa hah? Kenapa tidak melanjutkan kalimatmu?"
Naruko menelan ludahnya. Gurunya benar-benar tak bisa ditebak. Kadang ia bersikap baik, suka bercanda, tapi ada kalanya terlihat sangat menyeramkan seperti sekarang.
"Ti-tidak-tidak, aku juga berpikir kalau memanggilmu 'Anko' lebih nyaman," jawab Naruko gelagapan.
"Bagus, bagus. Itu baru muridku."
Anko tersenyum lebar, lalu mengacak pelan rambut muridnya itu. Kalau diperhatikan mereka memang tak terlihat seperti seorang guru dan murid, lebih terlihat seperti dua orang teman.
Setelah melanjutkan perjalanan mereka, tiba-tiba Anko mengganti topik pembicaraan. Ada kabar baik yang tak sabar ingin segera ia sampaikan kepada Naruko.
"Naruko, sepertinya kau memang sedang beruntung," ujar Anko, memulai pembicaraan.
"Maksudmu?" Naruko memperhatikan Anko, kali ini wajah sang jounin spesial itu serius sekali.
"Kau tahu? Sebentar lagi ujian chuunin akan diadakan di Suna. Kau boleh mengikutinya kalau kau mau."
Naruko jadi bersemangat mendengar kabar ini. "Aku ingin mengikutinya!" katanya antusias.
Anko sudah tahu kalau Naruko akan bereaksi seperti itu. Sebagai seorang guru, Anko ingin muridnya bisa menjadi shinobi yang hebat. Karena itu, Anko menenangkan Naruko dan ingin menyampaikan hal lain yang tak kalah penting.
"Sebentar, jangan terlalu senang dulu," ujar Anko. "Sebelum itu aku harus melatih kemampuan ninjutsu-mu yang payah. Belum lagi kemampuan genjutsu-mu yang tak bisa diharapkan."
Naruko terdiam mendengar kata-kata Anko yang tajam itu. Yang dikatakan Anko memang benar. Naruko juga sadar jika diperhatikan lebih jelas, dirinya tak berbeda jauh dengan Naruto dua tahun yang lalu. Ia punya stamina dan kemampuan taijutsu yang lumayan, tapi ninjutsu dan genjutsu-nya payah. Saking miripnya, bahkan elemen yang dimilikinya sama dengan Naruto, yaitu elemen angin. Mungkin karena Naruko berasal dari bunshin Naruto, jadi kemampuan ninja mereka memiliki banyak kesamaan.
"Aku tak punya banyak waktu luang, jadi aku akan melatihmu sambil kita menjalankan misi. Apa kau siap?" tanya Anko.
"Siap!" jawab Naruko bersemangat. Senyum kembali terlukis di wajah Naruko. Keputusannya menjadikan Anko sebagai gurunya adalah tepat. Inilah yang disukai Naruko dari Anko, bersemangat, tak banyak membuang waktu dan sangat peduli kepadanya .
Anko tersenyum puas, ia semakin yakin kalau Naruko akan cepat menguasai ilmu yang akan diajarkannya. Ia yakin Naruko akan jadi kunoichi kuat seperti dirinya.
Saat Anko dan Naruko lewat di depan Yakiniku Q, Naruko menyuruh Anko untuk pulang duluan. Naruko ingin mampir ke Yakiniku Q untuk secara resmi mengundurkan dirinya dari pekerjaannya sebagai waitress di sana.
Pasca invasi Pain, Yakiniku Q sendiri belum beroperasi sepenuhnya. Dari total kapasitas pengunjung yang bisa ditampung, hanya setengahnya saja yang saat ini bisa dilayani. Masih banyak penyesuaian yang harus dilakukan dari kedai lama ke kedai baru.
Begitu Naruko masuk ke Yakiniku Q, ia disambut oleh beberapa orang yang dikenalnya.
"Naruko-chan! Lama tak bertemu. Kapan kau mulai kerja lagi?" tanya pemilik restoran yang merupakan seorang lelaki paruh baya.
Naruko menghela nafasnya pelan. Berat juga jika harus mengundurkan diri dari pekerjaan yang disukainya ini. Orang-orang di sini benar-benar baik kepadanya. Tapi bagaimana lagi? Naruko harus fokus pada tujuannya. Ia tak bisa menjadi shinobi sekaligus bekerja di Yakiniku Q.
"Justru aku kesini untuk mengundurkan diri," kata Naruko to the point.
Pemilik restoran sedih mendengar keputusan Naruko ini. Biar bagaimanapun Naruko telah membawa keceriaan di restoran miliknya selama dua bulan terakhir ini. Lalu ia melihat protektor di leher Naruko dan langsung mengerti kalau Naruko sudah menjadi seorang kunoichi sekarang. Tentunya akan sulit untuk tetap bekerja di sana jika sekarang Naruko sudah menjadi kunoichi. Akan banyak misi yang tak bisa ditebak kapan datangnya.
"Aku tak bisa memaksamu untuk tetap bekerja disini. Jangan sungkan untuk datang kemari jika kau ada waktu."
"Terima kasih, aku pasti akan main ke sini jika ada waktu luang."
Naruko membungkuk kemudian pamit pulang. Naruko senang pemilik restoran dan beberapa rekannya begitu ramah padanya meskipun dirinya hanya orang baru.
Belum semenit Naruko keluar dari Yakiniku Q, Naruto datang.
"Permisi," katanya. "Apa kau tahu dimana Naruko?"
"Kau terlambat Naruto, barusan Naruko di sini. Lalu dia pergi lagi," jawab pemilik restoran.
Mata shapire Naruto melebar, akhirnya pencariannya menemukan titik terang. "Ke arah mana dia pergi?" tanya Naruto. Pemilik restoran memberi tahu arah perginya Naruko. Tanpa buang waktu lagi Naruto langsung berlari ke arah yang dimaksud.
Setelah berlari sekuat tenaga, Naruto akhirnya melihat sosok Naruko.
"Narukooo!" teriaknya.
Jantung Naruko langsung berdetak kencang saat ia mendengar suara orang yang sangat dikenalnya. Naruko menoleh ke belakang dan melihat Naruto sedang berlari ke arahnya. Tanpa pikir panjang Naruko langsung berlari menjauh. Ia tak ingin bertemu dengan Naruto sekarang.
"Hei, jangan pergi!" teriak Naruto.
Naruko terus saja berlari tanpa mempedulikan Naruto. Ia berlari ke reruntuhan bangunan dengan harapan Naruto akan sulit untuk menemukannya. Dari kejauhan, Naruko masih bisa mendengar Naruto masih terus saja memanggil namanya.
Usaha Naruko untuk kabur berhasil. Ia sampai di apartemen Anko tanpa bisa dikejar Naruto. Saat itu juga kedua kakinya terasa lemas, lalu ia terduduk di balik pintu. Dadanya terasa sakit. Bukan sakit karena kelelahan berlari, tapi sakit karena sebenarnya ia tak tega meninggalkan Naruto. Bahkan sebenarnya ia tak mau meninggalkan Naruto. Tapi Naruko tahu itu salah. Naruko harus menjauh dari Naruto. Rasa sakitnya sekarang tidak seberapa dibanding rasa sakit yang akan dirasakannya jika ia tetap tinggal dengan Naruto dan melihat orang yang disayanginya bersama dengan gadis lain.
Naruko tak sadar saat pipinya kini telah basah. Air mata mengalir dari mata shapire-nya tanpa bisa dikontrol.
Naruko mengusap air mata yang tak juga mau berhenti. Berulang kali ia meyakinkan dirinya kalau berada dekat dengan Naruto hanya akan menyakitinya lebih dalam. Naruto hanya menganggapnya sebagai seorang adik. Naruto tidak akan menyayanginya seperti rasa sayang yang dirasakannya, Naruto tidak akan menyayanginya seperti seorang laki-laki kepada seorang perempuan.
Naruko memeluk lututnya, menyembunyikan isaknya yang mulai pecah.
"Hei, apa semarah itu padaku sampai kau tak ingin bertemu denganku?" tanya Naruto.
Naruto sedang berada di apartemennya sendirian. Tadi ia mencari Naruko hampir ke setiap penjuru desa. Namun karena hari sudah mulai gelap, Naruto putuskan untuk pulang. Sekarang Naruto sedang duduk di sofa sambil menatap foto Naruko yang tertempel di dinding. Di foto itu Naruko sedang tersenyum lebar, lengannya mengapit manja lengan Naruto yang berada di sampingnya.
"Kau dimana Naruko?" tanya Naruto lagi, bicara sendiri.
Hening.
Naruto seperti menunggu jawaban Naruko yang ada di foto. Tentu saja orang gila juga tahu jika foto tak mungkin bisa bicara dan menjawab pertanyaannya. Sedetik kemudian Naruto menyadari tingkah bodohnya dan beranjak menuju ke dapur untuk mengambil segelas air putih. Ia berharap segelas air putih bisa menenangkan pikirannya yang kacau.
Saat akan kembali ke kamar, Naruto tak sengaja menginjak kulit pisang. Entah karena sedang lemas atau sedang sial, Naruto tak bisa menyeimbangkan tubuhnya dan langsung terjatuh ke lantai. Gelas yang dibawanya ikut terlempar dan menimpa kepalanya. Entah ia harus bersyukur atau tidak saat gelas itu menimpa kepalanya. Bersyukur karena gelas itu menimpa kepala sehingga tidak pecah, tapi di sisi lain keningnya memerah dan memar.
Naruto tak terlalu banyak menggerutu karena ia sadar kejadian ini terjadi karena kecerobohannya. Ia tak membereskan sisa makan malamnya tadi. Piring dan gelas kotor masih berada di meja makan. Beberapa kulit buah, termasuk kulit pisang, tercecer di sekitar meja makan. Belum lagi belasan ekor lalat mengerubungi tempat sampah di pojok ruangan yang nampaknya berisi ramen yang diseduh Naruto tadi pagi.
Naruto mendengus kesal. Ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya, ia sudah terlalu malas untuk kembali mengambil air. Bahkan Naruto membiarkan gelas yang masih tergeletak di lantai.
Sesampainya di kamar, Naruto melihat keadaan kamarnya tak kalah berantakan. Futon yang digunakannya kemarin malam belum dibereskan, baju tidurnya juga berserakan di lantai. Karena mood-nya sudah terlanjur jelek, Naruto sama sekali tak berniat untuk membereskan kamarnya. Ia malah langsung berbaring di tempat tidur yang sebelumnya jadi tempat tidur Naruko. Seandainya Naruko ada di sana, pasti ia akan mengomeli Naruto karena membiarkan apartemennya berantakan.
Naruto baru sadar kalau tanpa Naruko, hidupnya kembali kacau seperti dulu. Bahkan mungkin lebih kacau.
"Pulanglah Naruko," bisik Naruto. Ia memeluk guling yang selama ini Naruko gunakan, berharap aroma gadis itu masih tercium dari sana dan bisa menghibur kesepiannya.
Keesokan harinya, Naruko terbangun di tempat tidur Anko. Padahal seingatnya semalam dirinya menangis di balik pintu apartemen. Bahkan Naruko merasakan pipinya yang agak kaku, air mata yang mengering masih ia rasakan di sana. Naruko menyimpulkan kalau dirinya tak sengaja tertidur dan Anko memindahkannya ke tempat tidur.
"Akhirnya kau bangun," kata Anko saat melihat Naruko sudah bangun.
Anko sendiri sudah memakai pakaian ninjanya, ia terlihat sedang merapikan kunai-kunai dan beberapa peralatan ninja lainnya. Melihat itu, Naruko langsung ingat kalau hari ini ada misi yang akan mereka laksanakan. Ini misi perdana Naruko, ia tak ingin mengacaukannya. Naruko segera menuju kamar mandi, namun tiba-tiba Anko menahan tangannya.
"Naruko, sudah cukup aku diam saja. Sekarang aku ingin bertanya langsung padamu, ada masalah apa kau dengan Naruto?"
Dada Naruko bergetar. Seberapa kuatpun Naruko menyembunyikan masalahnya dengan Naruto, nyatanya tetap saja orang lain bisa dengan jelas melihat perbedaan sikap Naruko kepada Naruto. Apalagi dulu Naruko dan Naruto bagai tak bisa dipisahkan, sehingga perubahan ini terlihat sangat drastis.
Naruko membuang mukanya ke arah lain. Ia berusaha menenangkan dirinya.
"Maaf, aku tidak bisa menjawabnya."
Anko melipat kedua tangannya di dada, merasa tidak puas dengan jawaban Naruko.
"Aku gurumu, aku harus tahu apa saja masalah yang kau hadapi yang mungkin bisa mengganggu misi kita."
Naruko mengigit bibir bawahnya. Ia benar-benar tak mau menceritakan masalah ini pada gurunya. Bagaimana bisa Naruko melupakan Naruto jika ia harus terus saja membahas masalah ini?
"Kumohon, kau boleh menanyakan apa saja padaku, tapi tidak hal itu. Aku sedang tidak ingin membahasnya," kata Naruko, lebih terdengar seperti permohonan.
Melihat Naruko masih bersikeras untuk tidak bercerita, Anko tak mau memperpanjang masalah ini. Lagipula Anko tidak ingin terlalu ikut campur urusan pribadi muridnya.
"Baiklah, asalkan kau tidak membawa masalahmu ke dalam misi."
Naruko mengangguk dan menuju kamar mandi. Naruko berharap misi perdananya akan sukses, ia ingin membuang jauh-jauh Naruto dari pikirannya secepat mungkin.
Berkat usaha Naruto yang tak kenal lelah mencari Naruko, akhirnya ia mendapatkan informasi kalau Naruko sudah jadi kunoichi. Mendengar hal ini, Naruto pun mendatangi Iruka untuk memastikannya. Guru Iruka yang saat itu sedang mengajar anak-anak akademi, terpaksa keluar kelas untuk sementara.
"Ada apa Naruto? Aku sedang sibuk sekarang," kata Iruka.
"Guru Iruka, apa benar Naruko sudah jadi shinobi Konoha?" tanya Naruto penasaran.
"Ya, aku sendiri yang mengujinya kemarin. Dia dibimbing oleh Anko. Karena kulihat kemampuannya sudah bagus, aku meloloskannya menjadi seorang genin," jawab Iruka.
Sebenarnya Iruka merasa aneh saat Naruto tidak tahu kalau Naruko jadi kunoichi. Ia belum tahu jika Naruto dan Naruko sudah tidak seapartemen lagi.
Naruto mengepalkan kedua tangannya. Jika Naruko sudah jadi kunoichi, tentu kesempatan untuk bertemu dengannya akan semakin sedikit. Mereka berdua akan disibukkan oleh banyak misi. Naruto tak ingin membuang waktu lagi, ia harus menemukan Naruko sebelum ada misi yang menyibukkan dirinya. Jika Anko adalah guru Naruko, ia yakin Naruko tinggal di apartemen Anko. Soalnya semalam Naruto juga kehilangan jejak Naruko di sekitar apartemen Anko. Pasti kemarin malam Naruko langsung masuk ke apartemen Anko, pikir Naruto.
"Hei, kau mau kemana?" tanya Iruka saat melihat Naruto langsung pergi tanpa pamit.
"Mencari Naruko!"
"Tunggu Naruto! Hari ini kudengar Anko dan Naruko sedang melaksanakan misi!" kata Iruka agak keras karena Naruto sudah menjauh.
Naruto menghentikan langkahnya mendengar kata-kata Iruka. Hal yang ditakutkannya sudah terjadi. Benar 'kan dugaannya? Jika Naruko jadi kunoichi, pasti mereka berdua akan semakin jarang bertemu.
Naruto keluar dari akademi dengan tak bersemangat. Lalu Naruto bertemu dengan Sakura dan Kakashi. Sakura sempat bertanya kenapa Naruto terlihat murung tapi saat Naruto akan menceritakannya, Kiba datang dengan terburu-buru ke arahnya.
"Narutooo!"
"Ada apa Kiba?" tanya Naruto penasaran.
"Posisi Tsunade-sama sebagai Hokage telah digantikan oleh seseorang bernama Danzo!"
Kakashi langsung punya firasat buruk. Ia tahu kalau seseorang bernama Danzou adalah orang yang mengincar posisi Hokage sejak lama, entah kenapa Kakashi tak pernah suka dengan gelagatnya.
"Ada satu hal yang paling penting, dia telah menyatakan kalau Sasuke adalah seorang missing-nin!"
Kakashi terpaku mendengar kelanjutan kalimat Kiba. Ia segera memperhatikan reaksi Naruto dan Sakura. Ia tahu Naruto dan Sakura sangat sensitif jika membahas masalah Sasuke. Apalagi jika sekarang Sasuke dijadikan missing-nin. Itu berarti Sasuke sudah tidak diakui sebagai shinobi Konoha dan membiarkan semua orang untuk memburu bahkan membunuhnya.
Sesuai dugaan, Kakashi melihat kedua muridnya kecewa. Apalagi Naruto yang terlihat tidak terima.
"Konoha membutuhkan seorang Hokage," jelas Kakashi. "Mereka tak bisa diam dan menunggu Tsunade-sama sembuh. Ini memang wajar, kenyataannya Sasuke memang seorang missing-nin. Ia seharusnya sudah dicap sebagai missing-nin dan diburu sejak lama. Hanya karena kebaikan Tsunade–sama ia masih dibiarkan hidup."
Mendengar penjelasan Kakashi, Sakura dan Naruto masih tak terima.
"Tapi mereka tak bisa melakukan ini. Mereka melakukan ini padahal Tsunade-sama belum siuman. Aku akan menemui Danzou," kata Sakura kesal.
"Aku ikut denganmu." Naruto mengikuti di belakang Sakura.
Tapi sebelum mereka pergi jauh, Kakashi menahan mereka.
"Tenang kalian berdua. Terutama kau Naruto, kau adalah seorang jinchuuriki. Inilah hal yang Danzou inginkan. Ia ingin kau tetap berada di desa agar kau aman dan Akatsuki tidak menangkapmu. Ia tahu kau akan bereaksi seperti ini. Sekarang Danzou seorang Hokage. Jika kau berbuat kesalahan, kau bisa saja dipenjara. Jika kau dipenjara, tentu keinginannya tercapai dan kau tak akan bisa bertemu Sasuke. Sekarang sebaiknya kalian tenang, itu jalan yang terbaik"
Naruto mengalah dan bisa menahan emosinya. Pikirannya semakin kacau sekarang. Belum masalah Naruko selesai, sekarang muncul masalah lain mengenai Sasuke. Dua hal itu sama-sama penting bagi Naruto.
Masalah semakin rumit saat dua orang shinobi Kumogakure datang dan mengatakan jika Sasuke sudah bergabung dengan Akatsuki. Dua shinobi yang bernama Omoi dan Karui itu datang ke Konoha bermaksud untuk mencari informasi tentang Sasuke. Mereka berniat untuk membalas dendam kepada Sasuke karena ia sudah membunuh senior mereka, Killer Bee.
Naruto sadar jika ini terus dibiarkan, balas dendam akan terus berlanjut dan akhirnya malah akan melahirkan siklus kebencian seperti yang pernah Nagato bilang. Naruto menolak memberi informasi mengenai Sasuke dan malah menyarankan mereka memukuli dirinya sebagai gantinya. Naruto berharap itu bisa membuat pikiran mereka tenang. Naruto rela rasa kesal yang mereka miliki terhadap Sasuke untuk dilimpahkan kepadanya. Naruto pikir ini cara yang terbaik untuk menghilangkan siklus kebencian yang tak ada hentinya.
Karui yang merasa diberi kesempatan langsung memukuli Naruto tanpa ampun.
BUKH!
"Gah!"
Naruko terlempar saat seekor ular raksasa menyerangnya. Saat ini ia dalam misi menyelidiki markas Kabuto.
"Naruko, kau tidak apa-apa?" tanya Anko, yang juga sedang sibuk bertarung dengan ular-ular raksasa yang terus saja berdatangan.
"Aku tidak apa-apa," jawab Naruko. Ia kembali meraih kunai-nya dan berusaha untuk lebih berhati-hati lagi memperhatikan pergerakan beberapa ular yang mengepungnya.
"Cih, aku tak menyangka Kabuto menyiapkan jebakan seperti ini," keluh Anko.
Menyadari ular yang sepertinya tak ada habisnya keluar dari markas Kabuto, dan juga chakra dirinya dan Naruko yang sudah sama-sama habis, Anko memutuskan untuk mundur.
"Naruko, mundur! Misi kita sudah selesai, paling tidak kita sudah mendapatkan petunjuk."
Naruko mengangguk dan segera mengikuti Anko untuk kembali ke Konoha.
Sesampainya di Konoha, Anko langsung ke rumah sakit untuk mendapatkan penawar racun gigitan ular. Naruko mendapat gigitan ular dalam serangan di markas Kabuto. Kebetulan stok penawar racun ular milik Anko habis. Anko sebenarnya merasa agak takut saat melihat Naruko ikut terjebak di markas Kabuto. Apalagi saat muridnya itu diserang ratusan ular dan bahkan ada yang berhasil menggigit Naruko. Sekarang Naruko adalah muridnya, otomatis ia juga jadi tanggung jawabnya.
Setelah Anko menyuntikkan penawar racun di tangan Naruko, Anko duduk di sisi tempat tidur. Ia melihat Naruko yang masih mengobati beberapa luka goresan di kakinya.
"Maaf Naruko," ujar Anko. "Aku salah perhitungan, kurasa tadi itu misi yang terlalu sulit untukmu, mungkin termasuk misi tingkat B."
Naruko menatap gurunya tak percaya. Seorang Anko meminta maaf? Ini tentunya jadi hal yang jarang. Tapi Naruko bisa mengerti perasaan Anko. Anko baru kali ini memiliki seorang murid, jadi wajar saja jika ia bersikap seperti itu. Naruko tersenyum untuk menenangkan gurunya.
"Bukankah bagus seorang genin menyelesaikan misi tingkat B untuk misi perdananya?" kata Naruko ceria. Anko ikut tersenyum, sekarang pikirannya lebih tenang.
"Baka! Masih beruntung kau bisa pulang dengan selamat!"
"Hehehe."
Tiba-tiba Anko ingat hal yang seharusnya segera ia sampaikan kepada Naruko.
"Ngomong-ngomong, kau sudah dengar kalau Naruto masuk rumah sakit?" tanya Anko.
Naruko terpaku, senyum di wajahnya langsung lenyap. Anko menyadari ini.
"Tadi di rumah sakit, ada perawat yang bilang Naruto sedang mendapat perawatan di sana. Ia membiarkan dirinya dipukuli oleh shinobi Kumogakure yang mengincar Sasuke."
Naruko masih berusaha bersikap datar menanggapi informasi ini walaupun rasa khawatir terhadap Naruto sebenarnya ada dalam hatinya.
"Aku tak tahu kau dengan Naruto sedang ada masalah apa, tapi sebaiknya kau jenguk dia."
Naruko masih terdiam, tak menanggapi apa-apa. Anko tak heran melihat tingkah Naruko ini, Naruko memang seperti ini dari kemarin.
Anko kemudian memakai baju tidurnya dan berbaring di samping Naruko. Setelah selesai mengobati lukanya, Naruko melakukan hal yang sama. Bedanya, Anko sudah langsung terlelap sedangkan Naruko masih saja terjaga meskipun sudah dua jam berbaring di tempat tidur. Naruko belum bisa tidur. Kata-kata Anko masih terngiang di telinganya, ia tak bisa membohongi dirinya kalau ia sangat mengkhawatirkan Naruto.
Akhirnya Naruko bangun, memakai sweater, lalu meninggalkan apartemen.
Setelah Naruko pergi, Anko tersenyum dan membuka matanya. Ia tahu kemana Naruko akan pergi.
"Heh, dasar anak muda."
Hinata baru pulang dari menjenguk Naruto. Ia jadi ikut sedih melihat keadaan Naruto. Meski Naruto sendiri terlihat ceria di hadapannya, Hinata tahu masalah yang Naruto hadapi sangat membebani pikirannya.
Saat akan berbelok ke Mansion Hyuuga, di kejauhan Hinata melihat ada sosok yang berlari, melompat dari atap ke atap. Karena penasaran Hinata mengaktifkan byakukan-nya. Ia khawatir ada musuh yang masuk ke Konoha, apalagi malam-malam begini. Betapa kagetnya ia saat menyadari kalau sosok itu Naruko! Naruto bilang Naruko sedang ada misi. Hinata pikir Naruko belum pulang dari misi.
Dengan byakugan-nya, Hinata mengikuti Naruko dari jauh. Dari arah yang dilaluinya, Hinata tahu mau kemana sebenarnya Naruko.
Benar saja dugaan Hinata, Naruko ternyata pergi ke rumah sakit. Untuk apa lagi selain menemui Naruto? Hinata melihat Naruko tak masuk ke bangunan rumah sakit. Ia hanya melihat keadaan Naruto dari jendela.
Tapi itu saja sudah cukup untuk memberi tahu Hinata satu hal.
"Naruko-chan… ternyata kau memang masih menyayangi Naruto-kun…"
To Be Continue…
A/N: Gomeeeennn lama updatenya. Lagi banyak urusan di dunia nyata :p Bukan skripsi, tapi hal sesudahnya. Terus... sepertinya saya kena writer's block. Ugh, doakan saja semoga fic ini bisa saya selesaikan. Untuk yang request pair, saya ga bisa janjiin apa-apa. Mending ikutin aja ceritanya biar seru. Tapi yang pasti, ga akan SasuXFemNaru. Saya ngambil plot canon, jadi susah masukin Sasuke ke cerita ini. Jangan lupa review, review, review! Kasih saya semangat :)
Arigatou
-rifuki-
