Sasuke berjalan menyusuri pepohonan di hutan yang dia ketahui sering dikunjungi oleh Itachi. Pagi ini dia bermaksud mengikuti kakaknya yang setiap pagi selalu pergi ke dunia manusia dengan alasan yang tidak jelas, bukannya dia brother complex atau apa, sebenarnya dia hanya penasaran kenapa sang kakak begitu rajin mengunjungi dunia manusia di jam yang sama setiap paginya.
"Setahuku Aniki sering masuk ke dalam hutan ini, tapi untuk apa? Memangnya hal menarik apa yang ada di sini hingga Aniki mengunjunginya setiap hari?" pikir Sasuke sambil menyusuri kedalaman hutan yang terletak di pinggir kota.
Tak berapa lama kemudian dia mendengar suara tawa seorang anak kecil tak jauh dari tempatnya berdiri, dan dia pun segera mengikuti arah suara itu datang.
"Kenapa ada suara anak kecil di hutan?" pikir Sasuke sambil menyibakkan semak belukar yang menghalanginya, dan seketika pandangannya bertemu dengan mata aquamarine gadis kecil yang sedang memetik bunga di tengah taman.
"Pangeran?" pekik gadis itu yang kemudian berlari menghampiri Sasuke dengan gembira, sementara Sasuke terdiam tak tahu harus berbuat apa pada gadis kecil yang memanggilnya pangeran itu.
"A ... kau potong rambut ya pangeran? Tadi masih panjang kok?" gadis kecil bermata aquamarine itu menelengkan kepalanya, dan menatap Sasuke dengan polosnya, sedangkan Sasuke lagi-lagi hanya terdiam sambil mencerna ucapan gadis kecil di depannya.
"Eh? Potong rambut? Masih panjang? Sejak dulu kan rambutku memang begini." Sasuke bingung sendiri memikirkan ucapan gadis kecil yang masih menatapnya dengan pandangan menyelidik.
"Hm … tapi begini juga tetap tampan kok hehehe ..." lanjut gadis itu dengan memamerkan deretan gigi putihnya, sementara Sasuke baru menyadari sesuatu setelah memikirkan ucapan gadis itu.
"Jangan-jangan dia mengira aku Aniki, jadi selama ini Aniki datang ke dunia manusia untuk menemui anak ini?" batin Sasuke.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa aku harus membunuhnya agar tidak memberi pengaruh buruk pada Aniki nantinya?" batin Sasuke lagi, sementara gadis kecil di depannya sudah mempermainkan dirinya dengan menaruh bunga di setiap celah baju Sasuke yang bisa dia selipkan bunga.
"Ouji-sama wa kakkoi!" seru gadis itu yang membuat Sasuke tersadar dari lamunannya.
"Kau salah orang!" sentak Sasuke sambil menyingkirkan bebungaan yang terselip di bajunya, kemudian mulai beranjak.
"Pangeran mau kemana? Temani aku di sini sebentar lagi!" gadis itu mengamit lengan Sasuke sambil menatapnya dengan puppy eyes berharap itu akan meluluhkan pangeraannya.
"Sudah kubilang kau salah orang!" Sasuke menyentakkan lengannya hingga pegangan sang gadis terlepas, sementara gadis itu menatap tak percaya akan apa yang sudah dilakukan sang pangeran padanya.
"Jahat! Pangeran jahat! Padahal kau bilang kau akan menemaniku di sini!" seru gadis itu pada Sasuke yang kini sudah berlari menjauh, namun dia masih sanggup mendengar ucapan dan suara tangisan gadis bermata aquamarine itu.
"Maaf saja ya, aku bukanlah orang yang membuat janji itu denganmu!" gumam Sasuke sambil mempercepat langkahnya untuk kembali ke Ondergrondse.
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Black Pearl Exorcist © Hyzumi
Special thanks:
Chika cyntia, Runa BluGreeYama, Reiya Hakami, Rambu no baka, michelia, kaname, Inocent cassinopeia, rini melyanti, kay aqua, RNGaluh, ichacaca shendy,khamya uchiha, ich2chan, fitriyahab, azuna, El-nechama, dan beberapa guest yang sudi membaca dan memasukkan review, arigatou gozaimasu.
Juga untuk silent reader jika ada, untuk yang sudah memasukkan BPEX ke dalam list fave, dan yang sudah memasukkan saya dalam list fave author, terima kasih untuk semuanya
Well then, happy reading …
Chapter 10
Malam masih terasa mencekam di Ondergrondse, kelelawar penjaga pun masih melakukan tugasnya mengitari istana Uchiha untuk mengamati keadaan sekitar dan mencegah adanya penyusup, sementara itu Sasuke yang masih terjaga kini memilih untuk keluar kamarnya untuk mencari udara segar.
Sudah seminggu lamanya Ino meninggalkan dirinya, dan dia masih belum bisa merelakannya, mungkin saja tak akan pernah bisa.
Helaan nafas panjang keluar dari mulut sang Uchiha Muda. Entah berapa kali dia melakukan itu sepeninggal Ino, bahkan mungkin sudah tak terhitung lagi. Sebenarnya dia ingin sekali menyusul Ino ke dunia manusia, tapi dia terlalu takut jika gadis itu benar-benar melupakannya atau lebih parah lagi membencinya. Shizune sudah mengatakan padanya kalau Ino yang sekarang sudah bukan lagi Ino yang dia kenal, jadi misalnya dia benar-benar menyusulnya ke dunia manusia, lalu apa yang akan dia lakukan?
Sasuke mengacak rambutnya frustasi, dia tak tahu harus berbuat apa saat ini. Sempat terpikir olehnya untuk mencari keberadaan kakaknya lebih dulu untuk mengambil kembali Black Pearl, dan meminta penjelasannya akan semua kekacauan mengenai Blood Pearl, juga alasan kenapa sang kakak meninggalkan Ino dulu, namun dia juga belum tahu kemana dia harus mencari Itachi.
"Cih Kuso!" decak Sasuke kesal.
"Sasuke!"
Sasuke tersentak saat mendengar seseorang memanggilnya, rupanya dia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tak menyadari adanya orang lain yang mengawasinya sejak dia keluar dari kamar tadi.
"Okaa-san?" Sasuke tampak salah tingkah saat melihat ibunya mendekat. Dia takut kalau Ibunya menanyakan keberadaan Ino, sementara dirinya sendiri tak tahu harus bagaimana menjelaskannya.
"Beberapa hari ini kau tidak pernah keluar kamar, apa kau baik-baik saja?" Tanya Mikoto yang tak mendapatkan jawaban dari Sasuke, pemuda itu hanya menuduk dan menghindari tatapan sang ibu.
"Kau tidak menyusul Ino-chan ke dunia manusia? Bukankah dia sudah kembali sejak seminggu yang lalu? Memangnya kau tidak merindukannya Sasuke?" tanya Mikoto lagi, dan kali ini Sasuke mendongak menatapnya, namun kembali menunduk karena ragu apakah dia harus menceritakan yang sebenarnya atau tidak.
"Apakah terjadi sesuatu?" tanya Mikoto lagi, sepertinya dia menangkap gelagat yang tidak beres dari putranya, dan dia menyimpulkan kalau telah terjadi sesuatu antara putranya dan Ino.
"Kaa-san, aku …" Sasuke tampak ragu untuk mengatakan apa yang dia pikirkan saat ini, setidaknya dia perlu keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya pada sang ibu.
"Ada apa Sasuke? Katakanlah!" Mikoto tentu penasaran dengan sikap Sasuke yang tak biasanya itu, karena Sasuke tak pernah merasa ragu sebelumnya.
"Sebenarnya aku … tak bisa lagi bertemu dengan Ino," kata Sasuke yang masih belum mau menatap langsung ke mata ibunya.
"Kenapa? Apa kalian bertengkar? Bukankah kalian baru saja bertunangan? Dan Ibu lihat kalian baik-baik saja malam itu." Mikoto tentu belum mengerti dengan kata-kata ambigu Sasuke yang mengatakan kalau dirinya tak bisa lagi bertemu dengan Ino.
"Kaa-san, apa yang Kaa-san rasakan saat pertama kali bertemu dengan Ino?" tanya Sasuke yang membuat Mikoto semakin bingung.
"Apa yang Kaa-san rasakan? Tentu saja senang karena dia putri Shiizu-"
"Bukan itu yang kumaksudkan!" potong Sasuke yang membuat Mikoto sedikit terhenyak.
"Maksudku … energi kehidupannya, apakah Kaa-san merasakan sesuatu yang aneh darinya?" tanya Sasuke lagi.
"Sesuatu yang aneh? Mungkin kenyataan kalau dia murni seorang manusia, padahal dia putri Shiizu," jawab Mikoto sesuai dengan apa yang dia rasakan, sementara itu Sasuke menghela nafas sebelum menjawab ucapan ibunya.
"Itu juga yang kurasakan saat pertama kali aku bertemu dengannya, tapi ternyata itu salah." Mikoto mengerutkan keningnya saat mendengar koreksi dari putranya.
"Ino itu … sejak awal adalah seorang half." Kini Mikoto dibuat terkejut dengan ucapan Sasuke.
"Ino-chan seorang half? Itu tidak mungkin! Aku dan ayahmu tahu kalau dia seorang manusia, tak ada energi vampir sedikitpun dalam dirinya, jadi bagaimana mungkin dia seorang half?!"
"Yamanaka Inoichi telah menyegel energi vampirnya dengan Black Pearl." Mikoto terdiam mendengar kenyataan itu. Dia tahu tentang Black Pearl dan setahunya benda itu telah hilang beribu tahun yang lalu, tapi ternyata benda itu malah berada di tangan klan Exorcist Yamanaka.
"Dan sekarang Black Pearl telah terenggut dari jantungnya, aku melihatnya sendiri. Aniki … merebut paksa Black Pearl dari jantung Ino," lanjut Sasuke yang membuat Mikoto lebih tercengang.
"Apa? Itachi? Kakakmu masih hidup?! Di mana dia sekarang, Sasuke?!" Mikoto mengguncang tubuh Sasuke berharap dengan begitu dia bisa mengetahui di mana putra sulungnya saat ini.
"Aku tidak tahu, malam itu … setelah dia mengambil Black Pearl dari tubuh Ino, Blood Pearl yang tertanam di dahinya hancur kemudian dia sendiri menghilang tanpa jejak," kata Sasuke sambil mengenang kembali saat-saat di mana dia berada di puncak rasa takutnya ketika melihat jantung Ino hancur tepat di depan matanya.
"Blood Pearl? Itu kemampuan khusus yang hanya dimiliki klan Ushiromia, selain Shiizu seharusnya tidak ada yang …" Mikoto terdiam sesaat memikirkan kemungkinan yang terjadi mengenai aktifnya Blood Pearl saat ini. "Tunggu! Jangan-jangan itu perbuatan adik Shiizu?" pikir Mikoto.
"Kaa-san, aku memang pernah mendengar tentang Blood Pearl dan pernah juga menghadapi vampir yang dibangkitkan dengan itu. Menurut pengamatanku sendiri saat ini Blood Pearl sedang digunakan untuk memburu Ino, karena Blood Pearl bertentangan dengan Black Pearl. Kupikir jika yang Kaa-san katakan tentang adik Shiizu itu benar, kemungkinan dia ingin membunuh Ino agar kekuasaannya di Istana Ushiromiya tidak tergoyah karena keberadaan Ino yang merupakan keturunan Ushiromiya," kata Sasuke mengungkapkan apa yang ada di pikirannya tentang Blood Pearl.
"Kalau begitu kenapa harus Itachi yang dia gunakan untuk membunuh Ino-chan?" tanya Mikoto yang tentu saja tidak rela jika putra sulungnya menjadi korban Blood Pearl.
"Kaa-san, sebenarnya … Aniki dan Ino pernah menjalin hubungan jauh sebelum aku," kata Sasuke yang kembali mengejutkan Mikoto. Entah sudah berapa kali Mikoto dibuat terkejut dengan kenyataan-kenyataan yang diceritakan Sasuke padanya, karena dia memang tak pernah menduga hal-hal itu bisa terjadi selama dia berdiam di Istana Uchiha sambil menanti kepulangan putranya yang menghilang.
"Alasan Aniki pergi dulu juga karena Ino. Dulu memang aku menentangnya, aku sudah berusaha mencegahnya pergi, tapi Aniki tak mau mendengarkanku dan tetap pergi dengan membawa Ino yang masih kecil dalam dekapannya, lalu sekarang ironisnya aku terjebak hubungan tak terduga dengan orang yang sama." Sasuke menunduk memikirkan nasibnya saat ini, sementara Mikoto sendiri tak tahu harus berbuat apa jika memang kedua putranya memiliki perasaan khusus pada sang putri Yamanaka, tapi pada kenyataannya saat ini gadis itu sudah bertunangan dengan putra bungsunya, meskipun nasib sang putri sendiri masih belum dia ketahui setelah Black Pearl tercabut dari jantungnya.
"Lalu bagaimana dengan Ino-chan sendiri, Sasuke? Kalau Black Pearl telah terenggut, bagaimana dengan nasibnya? Ino-chan … apakah dia masih hidup?" tanya Mikoto yang tentu saja khawatir dengan keadaan Ino.
"Dia masih hidup, tapi jiwa manusianya telah mati karena jantungnya hancur bersama dengan terenggutnya Black Pearl dari jantungnya," kata Sasuke sambil menahan rasa sakit di dadanya ketika mengingat ketidak berdayaan Ino malam itu. "Dia telah menjadi vampir murni, tak ada lagi Ino yang dulu, dan … dia tak akan mengingat siapa aku baginya, bahkan mungkin … dia akan menganggapku musuh jika aku datang menemuinya." Sasuke menggigit bibir bawahnya, berharap dengan begitu dia bisa meredam emosinya saat ini, sementara itu Mikoto yang tahu rasa sakit yang dirasakan Sasuke kini mendekap putranya berusaha meringankan rasa sakit yang dideritanya.
"Sasuke, jika saja … jika saja Ino-chan benar-benar mencintaimu, jauh di dalam hatinya dia pasti masih mengingatmu meskipun samar, tapi Kaa-san yakin Ino-chan tak kan semudah itu menghilangkan jejakmu dari hatinya, Kaa-san melihatnya, Sasuke. Dari mata Ino-chan terpancar jelas kalau dia mencintaimu, sama seperti kau yang mencintainya," kata Mikoto dengan lembut, sedangkan Sasuke kini tak mampu lagi membendung perasaannya, dan air mata yang selama ini dia tahan akhirnya membuncah keluar diiringi dengan isak tangis pilu darinya.
Pagi itu Ino tampak sedang menikmati morning tea di gazebo sambil bersenandung kecil. Dia bukan sedang dalam keadaan good mood atau apa, hanya saja dia merasa bosan karena tak ada hal menarik yang bisa menghiburnya saat ini, bahkan suasana sejuk di taman belakang serta suara kicau burung yang cukup menentramkan bagi orang biasa itu tak mampu membuat Ino terhibur. Beberapa kali dia menghela nafas panjang sambil menghembuskan uap teh hangat yang baru saja dia minum, kemudian bersenandung lagi sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Entah kenapa dia merasa ada yang kurang di sana, dia merasa seharusnya ada seseorang yang menemaninya di sana menikmati pagi, dan mungkin sambil melakukan sesuatu.
Dan di saat rasa bosan Ino mulai memuncak, serta rasa penasarannya akan orang lain yang seharusnya menemani dirinya itu tak terjawab, seseorang datang menginterupsi lamunannya.
"Kau butuh teman?" tanya orang itu yang membuat Ino mendongak untuk menatap sang pendatang.
"Gaara, kau sudah bangun rupanya. Aku hampir mati bosan di sini, seharusnya kau kemari sejak tadi!" gumam Ino sambil menghirup tehnya.
"Maaf, aku tadi pergi ke kamarmu, tapi kau tak ada, jadi aku harus bersusah payah mencarimu di seluruh kastil besarmu itu," kata Gaara yang kemudian mengambil duduk di seberang meja menghadap ke arah Ino.
"Hm … kau memang belum terbiasa dengan kondisi tubuhmu ya?" tanya Ino sambil menyodorkan pochi tehnya pada Gaara, bermaksud mempersilakan Gaara untuk menikmati morning tea yang sama. "Bahkan sensitivitasmu juga belum bisa diandalkan," lanjutnya.
"Kurasa begitu," jawab Gaara sambil menuangkan teh di cangkir yang tersedia di depannya, sementara itu Ino tampak mencuri pandang padanya sambil menghirup teh yang masih mengepul di cangkirnya.
"Ngomong-ngomong, kau belum lupa perkataanku malam itu kan Gaara?" tanya Ino yang kemudian meletakkan cangkirnya dan menatap Gaara dengan tatapan serius.
"Hm? Perkataanmu yang mana?" tanya Gaara sambil menghirup morning tea-nya.
"Tentang kau yang kehilangan kemampuan exorcist-mu saat kau berubah menjadi vampir," kata Ino yang membuat Gaara menghentikan kegiatannya.
"Aah yang itu? Iya aku masih ingat, kenapa dengan itu?" tanya Gaara lagi, sedangkan tatapan Ino kini terlihat lebih dingin setelah mendengar pertanyaan Gaara yang seakan tak peduli dengan keadaannya saat ini.
"Kalau kau tak memiliki kemampuan apapun, artinya kau tak berguna untukku!" jawab Ino dengan nada datar namun terasa begitu mengintimidasi.
Gaara menurunkan cangkir tehnya perlahan, dan mecoba menahan ekspresinya agar tetap tenang meskipun rasa takut yang besar sedang melanda hatinya.
"Jadi kau mau membuangku sekarang?" Gaara kembali bertanya pada Ino yang masih belum melepaskan pandangan darinya.
Cukup lama keduanya terdiam dan larut dalam pikirannya masing-masing meskipun kontak mata mereka belum terputus, namun beberapa saat kemudian Ino mulai tertawa kecil dan membuat Gaara sedikit bingung.
"Tenang saja, aku tak akan membuangmu. Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan menjadikanmu sebagai pengawalku?" kini Ino kembali mengangkat cangkirnya dan meminum cairan hangat di dalamnya, sedangkan Gaara tampak terdiam di tempatnya sambil mengumpat dalam hati.
"Dia ini, bahkan setelah menjadi vampir pun tetap senang mengerjaiku!" batin Gaara frustasi.
"Aku punya rencana untukmu Gaara," kata Ino yang kembali meletakkan cangkirnya. "Karena kemampuan exorcist-mu lenyap, aku berencana untuk membangkitkan kemampuan lain padamu," lanjutnya sambil menyodorkan sebuah buku besar pada Gaara.
Gaara melirik sekilas judul buku yang disodorkan Ino padanya, kemudian kembali menatap Ino.
"Tamer?" sebut Gaara tak yakin.
"Ya, Tamer. Kurasa seorang tamer akan sangat berguna, lagi pula aku membutuhkan seseorang yang bisa mengendalikan beberapa tipe goblin kuat untuk menghadapi musuh yang banyak."
Gaara tampak memikirkan kembali kata-kata Ino barusan, dan mempertimbangkan pendapatnya untuk beberapa saat.
"Tapi mempelajari kekuatan magis seperti itu tidaklah mudah Ino, tak mungkin aku bisa menguasainya dalam waktu singkat," kata Gaara yang membuat Ino menaikkan sudut bibirnya.
"Kheh, soal itu kau tak perlu khawatir! Tentu aku tak hanya memberimu buku saja, karena aku tahu mempelajarinya tak akan mudah, jadi aku mempersiapkan sesuatu yang lebih special lagi dari pada sebuah buku." Kini Ino berdiri dan berjalan ke arah Gaara kemudian duduk di meja menghadap Gaara yang masih duduk di kursinya. Gadis itu mengulurkan tangannya dan meraih dagu Gaara untuk mendongakkan wajah pemuda itu padanya menjaganya agar tak berpaling darinya.
"Apa kau pernah dengar tentang ruang magis yang digunakan untuk mengisolasi orang?" tanya Ino dengan seringai tipisnya, sedangkan Gaara masih menatap kedua iris crimson Ino dengan poker face-nya.
"Kurasa aku tak pernah mendengar tentang itu," jawab Gaara tanpa ragu.
"Kalau begitu aku akan memberitahumu. Ruang magis itu kuberi nama Nowhere, itu adalah suatu dimensi yang terbentuk dari serpihan informasi tentang kekuatan magis, tentu saja informasinya tergantung dari pengguna, kita bisa mengatur apapun yang kita mau, dan memaksanya untuk masuk ke dalam tubuh orang yang terkurung di dalamnya. Ini adalah cara cepat untuk mendapatkan kekuatan magis yang besar sehingga kau tak perlu bersusah payah untuk mempelajarinya bertahun-tahun untuk menyempurnakan kekuatan magismu," kata Ino yang kemudian menurunkan tangannya dari dagu Gaara.
"Tapi penggunanya tak bisa mengurung dirinya sendiri ke dalam dimensi itu, jadi harus ada pihak kedua yang menerima segala bentuk kekuatan magis yang telah diatur di dalamnya." Ino melirik Gaara seolah memberi isyarat kalau Gaara lah yang saat ini sedang dia bicarakan.
"Kau akan mengurungku dalam dimensi itu?" tanya Gaara yang sudah tentu tak perlu jawaban.
"Tentu saja, untuk apa aku memberitahumu tentang ini kalau bukan itu yang kurencanakan?" kata Ino sambil berseringai tipis, dan itu cukup untuk membuat benak Gaara merasakan sesuatu yang tidak beres.
"Hal seperti itu … pasti ada resikonya kan? Setahuku sesuatu yang instan memiliki resiko yang besar, bertolak belakang dengan kepraktisannya." Ino menaikkan sebelah alisnya saat mendengar ucapan Gaara, namun kemudian dia tertawa karena tak menduga kalau Gaara akan menanyakan hal itu.
"Hahaha … tak kusangka kau cukup waspada mengenai hal ini Gaara, kupikir kau orang yang nekat dan selalu menelan bulat-bulat apa yang kukatakan khufufu …" urat emosi Gaara berkedut begitu Ino mengatakan pendapatnya tentang dirinya, sepertinya dia tak terima dianggap sebodoh itu oleh Ino, namun sepertinya dia masih mempunyai sedikit sisa kesabaran untuk menghadapi gadis pirang di depannya.
"Hm … tapi kalau kau menanyakan tentang resiko tentu saja hal itu sudah jelas. Kekuatan magis yang besar dijejalkan begitu saja ke dalam tubuhmu, tentu saja itu akan menyiksa fisik dan mental, dan jika tubuhmu tak mampu menahannya, tentu saja kau akan hancur dan tak akan pernah bisa kembali lagi."
"Singkatnya aku akan mati kalau tak bisa bertahan kan?" Gaara menyahut ucapan Ino hingga membuat gadis itu terdiam beberapa saat karena reaksi Gaara yang tampak begitu datar meskipun yang mereka bicarakan itu tentang hidup dan matinya.
"Um, kau menyimpulkannya dengan sangat baik," kata Ino sambil mengangguk mantap.
Kini Gaara tampak memikirkan kembali tentang rencana Ino padanya. Kalau dia benar-benar tak mampu bertahan, artinya dia akan mati sia-sia dengan kondisi yang sangat buruk, tapi kalau dia menolak sama saja dia akan dibuang oleh Ino, padahal dia sudah mengorbankan statusnya sebagai manusia dan memilih menjadi vampir agar bisa bersama Ino. Tapi kalau dipikir-pikir lagi dia tidaklah selemah itu sampai bisa hancur hanya karena kekuatan magis yang dimasukkan paksa ke dalam tubuhnya, lagi pula dia pernah memilikinya saat masih berstatus sebagai manusia.
"Aku pernah merasakan rasa sakit yang luar biasa saat bertransformasi menjadi vampir, kalau saja rasanya tak jauh beda dengan itu, mungkin aku masih bisa bertahan," pikir Gaara kemudian.
"Baiklah, aku akan menerimanya. Kurasa menjadi tamer tidak buruk juga," kata Gaara sambil memamerkan seringai tipisnya yang terlihat cukup arogan di mata Ino.
"Hm … aku suka pria pemberani sepertimu." Ino melingkarkan lengannya di leher Gaara dan menatap pemuda itu sambil berseringai puas.
"Tapi aku tak mau membuang waktu, Gaara. Kalau kau tidak keberatan, aku ingin memulainya sekarang," lirih Ino yang masih menatap kedua mata jade Gaara.
"Terserah kau saja!" jawab Gaara kemudian, sedangkan Ino yang merasa senang langsung menyambar buku besar yang dia berikan pada Gaara tadi dan mulai membukanya.
"Baiklah, akan kumulai sekarang. Bersiaplah Gaara!" Ino mulai memejamkan matanya dan membacakan mantra untuk membuka dimensi Nowhere, sementara Gaara tak bergerak dari tempatnya berdiri sambil menanti apa yang akan terjadi padanya nanti.
"Gerbang dimensi yang terlupakan," Ino membuka matanya untuk menatap Gaara. "Bawalah dia ke dalam kegelapan fana, bawa serta serpihan cahaya ini untuk menempanya di dalam kegelapan." Halaman demi halaman buku yang dipegang Ino kini mulai robek dan terbang mengelilingi Gaara yang masih diam di tempatnya. "Satukan dia dengan seluruh cahaya yang kau dapat, dan kembalikan dia saat sang cahaya telah habis tertelan energi kehidupan!" saat bundle kertas di tangan Ino tinggal beberapa helai lagi entah kenapa Gaara merasa ingin keluar dari kepungan kertas-kertas itu biarpun hanya sebentar. Dalam hatinya dia ingin sekali merengkuh Ino dalam dekapannya dan mendaratkan ciuman lembut sebelum dia pergi, namun pada kenyataannya dia hanya bisa berdiri terpaku menatap gadis itu dengan tatapan sendu, sedangkan tangannya yang sempat terangkat untuk merengkuh Ino kini hanya bisa menggapai ruang hampa di depannya. Tentu dia merasa tindakan yang dia pikirkan itu salah, karena sejak awal memang Ino bukanlah miliknya, gadis itu bahkan tak pernah sekalipun terpikir untuk menjadikannya lebih dari seorang teman.
Ino yang melihat gelagat aneh dari Gaara sempat terhenti sejenak hingga membuat pusaran kertas-kertas mantra di sekeliling Gaara sedikit melambat, namun sesaat kemudian Ino kembali melanjutkan mantranya yang tinggal sebait dan memilih untuk mengabaikan rasa penasarannya akan sikap Gaara.
"Terbukalah NOWHERE!" seru Ino yang membuat pusaran kertas mantra yang mengepung Gaara semakin menelan sosok pemuda berambut merah itu, namun sebelum seluruh sosoknya tertutup, Gaara memaksa sudut bibirnya untuk sedikit terangkat hingga menghasilkan senyuman lembut, namun begitu getir di mata Ino.
"Ittekimasu," lirih Gaara yang membuat Ino terdiam, dan detik berikutnya, Nowhere aktif kemudian menelan Gaara dalam ketiadaan.
Sementara itu Ino yang tercengang akan ucapan dan ekspresi terakhir Gaara padanya, kini terdiam menatap ruang kosong di depannya. Memorinya memutar kembali kejadian sesaat sebelumnya, jujur saja dia tak menyangka Gaara akan melakukan itu, padahal tadinya dia sama sekali tak merasa ragu untuk mengirim Gaara ke dalam Nowhere, tapi entah kenapa sekarang dia sedikit merasa khawatir pada pemuda yang sudah mengorbankan jiwa manusianya hanya untuk menjadi makhluk yang sama dengannya.
"Nona, lagi-lagi anda mengorbankan Tuan Gaara." Shizune yang entah sejak kapan sudah berada di belakang Ino kini tampak menatap menatap hampa tempat di mana Gaara menghilang tadi.
"Tenang saja, dia pasti bisa kembali dengan selamat!" kata Ino sambil melewati Shizune yang tercengang saat melihat keyakinan di mata Ino, dia pun tersenyum lembut sambil masih menatap punggung Ino yang semakin menjauh darinya.
"Kurasa anda tak sepenuhnya berubah, Nona," lirih Shizune yang kini tersenyum lega karena Nona Muda kesayangannya masih memiliki sisi lembut.
Sementara itu Ino yang kini berjalan di koridor kastil tampak tengah memikirkan sesuatu. Dia merasa ada yang salah dengan sikap Gaara barusan, perasaannya juga mengatakan kalau tidak seharusnya dia mengaktifkan Nowhere pada Gaara. Perasaan khawatir yang sempat terbeslit di hatinya saat mendengar ucapan terakhir Gaara itu juga entah kenapa sangat mengganggu saat ini.
Kini dia teringat kembali malam di mana dia berniat menjadikan Gaara sebagai pengawalnya dan merubah pemuda itu menjadi vampir. Saat itu meskipun hanya sedikit, dia juga merasakan hal yang sama seperti yang dia rasakan saat ini.
Semilir angin berhembus ringan melewati sela-sela jendela besar di dinding koridor, dan aroma dedaunan basah pun menelusup di indra penciuman Ino hingga membuat gadis itu teringat kembali dengan aroma hutan pinus yang menguar dari pakaian yang dia temukan di dalam almari di kamarnya, dan entah kenapa rasa rindu itu kembali menelusup di hatinya begitu mengingat sensasi yang dia rasakan ketika menghirup aroma itu. Ino menghentikan langkahnya sambil mencoba mengingat-ingat di mana dia pernah mencium aroma itu, dan seketika itu juga Ino melupakan tentang apa yang baru saja dia pikirkan tentang Gaara karena terusik oleh aroma pinus yang membuatnya penasaran sejak semalam.
Entah kenapa otaknya terasa penuh dengan berbagai pemikiran yang datang silih berganti, dan membuatnya merasa terbebani dengan semua perasaan-perasaan tak enak ketika berbagai pemikiran itu datang.
"Sebenarnya … di mana aku pernah mencium aroma itu sebelunya?" batin Ino sambil menatap langit-langit koridor, sementara dirinya bersandar di salah satu pilar besar di sisi koridor.
Sebuah gambaran muncul dalam pikiran Ino. Dalam benaknya dia tengah mendekap seseorang sambil duduk di pangkuannya, suasana taman dengan udara sejuknya menjadi background kejadian itu, dan aroma hutan pinus yang dia cari juga terasa memanjakan indra penciumannya. Gadis itu memejamkan matanya menikmati kontak fisik dengan pemilik aroma pine dalam dekapannya, namun dia ingin tahu seperti apa orang yang tengah dia dekap saat ini sehingga dia kembali membuka matanya, dan tertangkaplah helaian rambut hitam yang menelusup di sela jemarinya yang tengah meremas belakang kepala orang itu.
"Raven?" pikir Ino.
Rasa penasaran Ino semakin menguasainya saat ini, dan dekapannya pun mengendur hanya untuk mengambil sedikit jarak dari sang raven, namun saat gadis itu mendongak untuk menatap wajah sang raven, dia telah terkunci dalam sebuah ciuman lembut dari pemuda itu sehingga saat ini hanya mata hitamnya lah yang mampu dia lihat.
"Onyx?" batin Ino yang kemudian kembali memejamkan matanya karena tak kuasa menahan sensasi nikmat dari sentuhan sang raven.
Ino menyentuh dada kirinya yang terasa berdegup kencang hanya karena sebuah bayangan yang baru saja muncul di benaknya. Gadis itu membuka matanya sambil mengingat kembali sensasi nyaman dan nikmat yang baru saja dia rasakan sementara jantungnya masih terasa berdentum tak terkendali.
"Siapa sebenarnya dia?" pikir Ino yang masih belum menemukan identitas pria yang beraroma pine itu. Yang dia tahu saat ini adalah, dia menginginkan sentuhan dari sang raven beraroma pine yang baru saja muncul dalam benaknya.
Malam harinya, Ino memanggil Shizune ke kamarnya hanya untuk menanyakan tentang sang raven.
"Anda memanggil saya, Nona?" tanya Shizune sambil membungkuk hormat pada Ino yang sedang bermalasan di sofa merahnya sambil memainkan cairan merah dalam gelasnya.
"Tak usah basa-basi!" sahut Ino tanpa menatap Shizune yang kembali menegakkan punggungnya.
"Maaf Nona," lirih Shizune sambil menatap lantai di bawahnya. "Lalu ada keperluan apa anda memanggil saya?" tanya Shizune kemudian.
"Langsung saja! Apakah aku pernah berhubungan dengan pria berambut raven dan bermata onyx?" tanya Ino yang membuat Shizune menegakkan kepalanya dan menatap Ino yang tengah menyesap cairan merah dari gelasnya. Jujur saja dia bingung akan menjawab apa karena pertanyaan ino bisa dijawab dengan banyak option, tapi setelah dipikir-pikir sepertinya dia memilih option yang paling luas dulu kali ini.
"Anda pernah berhubungan dengan seratus pria dengan ciri-ciri seperti itu, Nona," jawab Shizune kemudian. Sebenarnya dia ingin tertawa saat melihat reaksi Ino yang tampak terkejut dengan jawabannya, namun dia tak mau mati konyol dengan membuat majikannya marah karena dia menertawakannya, tapi entah kenapa dia masih ingin melanjutkan pembicaraan menarik ini beberapa saat lagi.
"Saya bahkan sudah lupa siapa saja nama pria-pria itu, dan saya juga tak tahu yang mana yang saat ini anda tanyakan," kata Shizune yang sekali lagi harus menahan tawanya karena melihat wajah bingung Ino.
Sebenarnya dia bohong soal ketidak tahuannya tentang siapa yang sedang ditanyakan oleh Ino. Siapa sih yang tidak tahu tentang pria berambut raven dan bermata onyx yang bisa membuat Ino merelakan pengalaman pertamanya, meminum darahnya, dan bahkan membuat gadis itu tak bisa bertahan sehari tanpa menciumnya? Tentu saja siapapun tahu siapa yang dia maksud, bahkan seluruh elf di kastil Yamanaka pun akan langsung tahu siapa pria yang sedang ditanyakan Ino saat ini.
Sementara itu, Ino yang diberi tahu tentang hubungannya dengan 100 pria berciri-ciri sama itu pun sempat membayangkan dirinya berada di tengah 100 pria berambut raven dan bermata onyx, serta melakukan ini dan itu dengan mereka semua, tapi entah kenapa pemandangan itu membuatnya merinding, namun dia menutupi kecanggungannya itu dengan meneguk cairan merah yang sejak tadi dia mainkan.
"Seratus orang? Yang benar saja?" pikir Ino sangsi, namun bayangan tentang pemuda raven yang dia dekap itu kembali melintas di benaknya.
"Tapi yang kulihat tadi hanya satu," pikir Ino lagi, dan dia pun kembali terpikir untuk menanyakannya secara lebih spesifik pada Shizune.
"Bagaimana dengan yang beraroma pine?" tanya Ino lagi, sedangkan Shizune hampir saja menjawab dengan benar, namun dia urungkan kembali karena masih ingin menguji sang nona muda.
"Kalau itu sih bagaimana saya tahu, Nona? Saya tidak pernah memeluk pacar-pacar anda, jadi saya tidak tahu seperti apa aroma tubuh mereka," kata Shizune yang membuat Ino terkesiap.
"Apa-apaan dia ini?!" batin Ino yang kini menatap tajam ke arah Shizune yang saat ini hanya tersenyum innocent seolah tak pernah melakukan dosa apapun.
"Ck! Sudahlah kau tidak berguna, sana pergi!" usir Ino yang entah kenapa kali ini tidak membuat Shizune sakit hati.
"Bisa melihat ekspresi Nona Muda yang sedang kebingungan dalam sosok vampir itu adalah anugrah besar untukku!" batin Shizune sambil tersenyum puas.
"Tapi … syukurlah, dia masih memiliki rasa cinta, kupikir dia akan melupakan cintanya begitu berubah menjadi vampir." Shizune menatap pintu kamar Ino sambil tersenyum lembut. "Yaah meskipun dia masih belum bisa mengingat siapa target cintanya sih," batin Shizune yang kemudian berlalu pergi dengan senyum yang masih melekat di bibirnya.
=BPEX=
Tes … tes … tes …
Suara tetesan air terdengar menggema di dalam gua tempat persembunyian Itachi. Suasana hening di dalam sana bahkan bisa membuat suara cicitan kelelawar terdengar jelas mengisi kekosongan gua, dan berpadu dengan suara tetesan air juga suara kepakan sayap yang simpang-siur di dalamnya. Sementara itu Itachi sendiri hanya duduk terdiam sambil menatap Black Pearl yang masih dia bawa.
Memorinya mengulang kembali kejadian malam itu, malam di mana dia menembus jantung Ino dan mencabut Black Pearl dari sana. Emosinya langsung naik begitu mengingat kejadian itu, padahal seharusnya dia melindungi Ino dan bukan mencelakainya seperti itu, itulah tujuannya meninggalkan Ino, dia ingin melindungi gadis itu dari adik Shiizu yang seharusnya sudah dia bereskan sejak dulu, tapi ternyata rencananya itu gagal dan malah membawa malapetaka bagi Ino. Siapa sangka kalau dia malah dimanfaatkan musuh untuk membunuh Ino yang seharusnya dia lindungi?
Itachi meremas Black Pearl di tangannya seolah ingin menghancurkannya saat itu juga, tapi dia tak bisa melakukan itu karena dia yakin benda itu masih bisa berguna suatu saat nanti.
Flap … flap … flap …
Suara kepakan sayap terdengar menggema di dalam gua, sementara Itachi masih terdiam dan larut dalam pikirannya sendiri sebelum gagak hitam miliknya bertengger di bahunya.
Itachi mengusap bulu hitam gagak itu dan saat itu dia teringat akan Sasuke. Sekelebat bayangan tentang adiknya muncul begitu saja, dia ingat saat Sasuke menopang tubuh Ino yang tak berdaya setelah dirinya merebut Black Pearl dari jantung Ino.
"Sasuke?" gumam Itachi yang kini membuka kembali genggaman tangannya dan menatap Black Pearl di sana.
"Benar, aku harus menemui Sasuke sekarang!" Itachi semerta-merta berdiri hingga membuat gagak hitam di bahunya terbang karena merasa terusik meskipun burung itu tak meninggalkan Itachi begitu saja.
"Nightmare!" panggil Itachi yang membuat gagak hitamnya berubah menjadi kabut pekat, kemudian membentuk sosok goblin Nightmare lengkap dengan death scyte-nya.
"Temukan Sasuke, dan bawa dia kemari!" kata Itachi, sementara Nightmare yang mendapat perintah segera melaksanakan tugasnya dan menghilang dalam kegelapan.
Sementara itu di tempat Sasuke, pemuda itu tengah berjalan menyusuri hutan yang menjadi tempat terakhirnya bertemu dengan Itachi, dia berharap bisa bertemu dengannya lagi jika dia menelusuri tempat itu, meskipun kemungkinannya tidak lebih dari 10% setidaknya dia harus tetap berusaha mencari kakaknya. Bukan hanya untuk Ino, tapi juga untuk orang tuanya yang tentu saja sudah sangat merindukan putra sulung mereka.
Setelah cukup lama Sasuke berjalan menyusuri hutan, hingga akhirnya dia sampai di tempat terakhir kali dirinya bertemu Itachi. Bau darah elf masih tercium samar di sana, meskipun tubuh-tubuh elf korban pembantaian sebelumnya sudah tidak ada lagi.
Sasuke menatap sekelilingnya, namun tak menemukan apapun yang bisa menjadi petunjuknya untuk bertemu dengan Itachi. Kini pikiran Sasuke melayang mengingat kembali kejadian malam itu, dia ingat betul saat Ino berbalik meninggalkannya dan langsung menuju hutan hanya untuk menyelamatkan Hyuga Neji dari serangan Nightmare.
Apakah Neji sebegitu pentingnya sampai membuat Ino langsung berlari begitu saja hanya untuk menyelamatkannya?
Itulah yang Sasuke pikirkan saat mengingat kejadian itu.
Pemikirannya sebagai seorang pria tentu hanya akan membawanya ke arah negatif saat melihat kekasihnya pergi meninggalkannya hanya untuk menyelamatkan pria lain, apa lagi saat itu hubungannya dengan Ino sedang tidak stabil karena gadis itu menemukan fakta tentang Itachi yang ternyata adalah kakak Sasuke. Jelas saja itu memicu kekhawatiran dalam benaknya, karena Neji juga merupakan mantan kekasih Ino sebelum gadis itu bertemu dengan dirinya.
Sasuke menghela nafas berat mencoba untuk sedikit meringankan beban pikirannya. Sungguh pikirannya saat ini benar-benar kacau karena berbagai kejadian tak terduga akhir-akhir ini, sulit sekali rasanya untuk mencari jalan keluar masalahnya kali ini.
Lagi-lagi Sasuke menghela nafas berat sebelum kemudian kembali melangkah menyusuri hutan, namun beberapa saat kemudian dia kembali menghentikan langkahnya saat merasakan keberadaan sesuatu di dekatnya.
Syuut!
Sasuke menoleh saat melihat sekelebat bayangan hitam di sela semak-semak, dia pun menajamkan tatapannya menelisik kegelapan di sela pepohonan untuk mencari sesuatu yang mengusiknya, kedua matanya berkilat kemerahan saat beberapa kali menangkap pergerakan di sekitarnya.
Kini tangan kanannya mulai mengeluarkan percikan listrik sebagai persiapan untuk melawan musuh kapan saja, sementara kedua mata crimsonnya masih menatap waspada sekelilingnya, hingga hembusan angin yang cukup kencang membuat objek penglihatannya mendapat celah untuk mendekati Sasuke sebelum dapat disadari oleh pemuda itu. Sasuke terbelalak tak percaya saat melihat Nightmare mendekat dengan cepat ke arahnya, namun sebelum dia bisa menyerang makhluk itu, kabut pekat Nightmare telah mengelilingi tubuhnya dan menelan dirinya dalam kegelapan.
Sementara itu, di dalam gua tempat persembunyian Itachi.
Itachi membuka kedua matanya saat merasakan keberadaan Nightmare mendekat, dia pun langsung berdiri dari duduknya untuk menyambut kedatangan Nightmare dengan seseorang yang dibawanya. Beberapa saat kemudian Nightmare muncul di hadapan Itachi, kemudian mengibaskan jubah hitamnya menjadi pusaran kabut hitam yang perlahan mulai menampakkan sosok Sasuke dari dalam kabut itu.
Sasuke yang tadinya bersikap waspada, kini terkejut saat mendapati sosok Itachi di hadapannya.
"Aniki?!"
=BPEX=
"Shizune-san, ada laporan dari tim pengintai mengenai master Blood Pearl." Seorang elf berambut silver menunduk hormat pada Shizune.
"Bagaimana hasil pengamatan kalian kali ini?" tanya Shizune kemudian.
"Beberapa hari ini kami melacak sumber energi Blood Pearl yang masih tersebar di Ondergrondse, dan dari pengamatan kami selama di sana, kami menemukan fakta bahwa para boneka Blood Pearl itu akan selalu kembali dalam satu titik pertemuan setiap tiga hari sekali." Shizune mengerutkan keningnya saat mendengar laporan elf di depannya.
"Maksudmu mereka memiliki base?" tanya Shizune sambil mengisyaratkan pada elf di depannya untuk melanjutkan laporan.
"Benar Shizune-san, mereka selalu kembali ke sektor barat Ondergrondse setiap tiga hari sekali."
"Lalu kalian menemukan apa penyebab mereka selalu berkumpul di waktu tertentu?"
"Sepertinya kami mulai menyimpulkan sesuatu mengenai hal itu. Beberapa saat yang lalu ketika kami menahan seorang vampir Blood Pearl, tiba-tiba saja dia hancur di tengah pertarungan, padahal setahu kami dia tak terluka begitu parah sampai membuatnya hancur, lalu ada laporan dari tim lain mengenai kebiasaan mereka yang selalu berkumpul di tempat yang sama setiap tiga hari sekali, mungkin saja ini ada kaitannya Shizune-san. Mereka selalu kembali di tempat yang sama dan waktu yang sama itu untuk mempertahankan keberadaan mereka, Blood Pearl tak akan bisa bertahan lebih dari tiga hari jika tidak mendapatkan suplai energi dari masternya, ituah yang bisa kami simpulkan saat ini," kata elf berambut silver itu, sementara Shizune tampak memikirkan kemungkinan yang dipaparkan sang elf.
"Hm … hal itu bisa saja terjadi, mungkin saja masternya belum terlalu menguasai penggunaan Blood Pearl sehingga bisa terjadi kesalahan seperti itu. Setahuku Blood Pearl tidak memerlukan suplai energi dari masternya, tapi lain halnya jika penggunanya masih terlalu awam untuk mengaktifkannya," pikir Shizune.
"Lalu bagaimana dengan base mereka? Apa kalian sudah menemukannya juga?" tanya Shizune lagi.
"Ya, kami sempat mengikuti jejak sumber energi Blood Pearl yang terkumpul itu, dan kami menemukan tempat pertemuan mereka di suatu kastil tersembunyi di perbatasan sektor barat Ondergrondse, dan setahu kami itu adalah kastil kedua milik Ushiromiya." Shizune tercekat mendengar nama Ushiromiya, meskipun dia memang sudah menduga jika pelakunya memang dari klan Ushiromiya karena dari kejadian selama ini jelas-jelas orang itu hanya mengincar Ino.
"Begitu? Jadi benar dugaanku kalau pelakunya dari klan Ushiromiya, tapi tak kusangka ada yang bisa menggunakan teknik tingkat tinggi seperti itu di sana, meskipun masih belum sempurna," gumam Shizune.
Shizune tak pernah tahu kalau Shiizu Ushiromiya yang merupakan ibu dari Ino itu juga mampu mengaktifkan Blood Pearl, bahkan bisa dibilang tekniknya paling sempurna dibandingkan master Blood Pearl lain, namun karena Shiizu tak pernah mengaktifkan Blood Pearl di depan Shizune, dia pun tak pernah terpikir kalau dalang di balik kasus Blood Pearl ini masih ada hubungannya dengan Shiizu.
"Shizune-san, base mereka sudah kita temukan sekarang, lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya elf berambut silver yang masih menunggu perintah Shizune selanjutnya.
"Kurasa kita lihat keadaan dulu, kita juga perlu menganalisa kekuatan dan jumlah musuh yang akan kita hadapi nanti, dan yang terpenting kita perlu pasukan tambahan untuk misi kita selanjutnya. Kau tahu kan kalau kita baru saja kehilangan banyak pasukan pada misi terakhir kita beberapa hari lalu?" Shizune menghembuskan nafas berat begitu mengingat kejadian di mana hampir seluruh pasukannya mati di tangan orang yang pernah menjadi majikannya.
Shizune pun teringat akan keberadaan Itachi yang dia pikir masih ada di kubu musuh.
"Benar juga, bagaimana kami bisa menghadapi musuh seperti Tuan Muda? Kami tak mungkin bisa mengalahkannya jika dia masih dikendalikan master Blood Pearl saat ini!" pikir Shizune yang tampak frustasi karena memikirkan kemungkinan mereka kembali bertarung dengan Itachi, bagaimanapun juga dia pernah hampir terbunuh olehnya, dan tentu saja keberadaannya di kubu musuh akan semakin membahayakan Ino, apa lagi yang merenggut Blood Pearl dari jantung Ino juga Itachi.
"Sial, apa yang harus kulakukan sekarang?!" batin Shizune yang semakin kesal saja memikirkan ketidak berdayaannya saat ini.
"Tch, pokoknya saat ini kita hanya bisa tetap waspada dulu, lalu untuk tugas kalian selanjutnya adalah mengumpulkan pasukan sebanyak yang kalian bisa untuk bersiap jika ada serangan kapan saja!" kata Shizune yang kemudian berbalik untuk keluar dari ruang rahasia.
Shizune baru saja kembali ke ruang utama saat melihat Ino berjalan di koridor kastil sambil termenung.
"Nona Muda, anda mau kemana?" tanya Shizune sambil menghampiri Ino yang kelihatannya akan pergi keluar, sedangkan Ino yang mendengar panggilan Shizune kini menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Shizune yang membuat wanita elf itu tercekat.
"Aku ingin keluar sebentar," kata Ino yang menatap Shizune dengan pandangan kosong, meskipun tak ada tatapan merendahkan di sana.
"Nona, jika anda lapar, saya bisa mengambilkan darah steril untuk anda." Entah kenapa Shizune marasa khawatir kalau Ino akan membahayakan penduduk sekitar, namun pikirannya sirna karena melihat senyum tipis Ino.
"Tenang saja, tujuanku bukan untuk mencari mangsa," lirih Ino yang masih mempertahankan senyumnya. Shizune sendiri tampak tertegun melihat senyum Ino saat ini, sungguh baru kali ini dia melihat senyum Ino yang seperti itu sejak majikannya itu menjadi vampir.
"Nona Muda …" Shizune bingung mau berkata apa kali ini, namun saat melihat ekspresi yang dia rindukan dari majikannya kini tersaji di depannya, dia pun hanya bisa merelakan majikannya itu pergi kali ini. "Itterashai," lirih Shizune kemudian.
"Hm … ittekimasu, Shizune-chan." Shizune kembali dibuat tertegun melihat Ino yang kini kembali berjalan meninggalkannya. Sejak Ino menjadi vampir, baru kali ini juga majikannya itu memanggil namanya, padahal baru seminggu lamanya tapi Shizune sudah merasa begitu hampa dan selalu merasa sakit saat majikannya itu memanggilnya dengan sebutan 'pelayan' atau 'maid-san', namun dia mencoba bertahan karena rasa sayangnya pada sang majikan jauh lebih besar dari pada rasa sakit yang dia derita, tapi kini begitu Ino mulai kembali menyebut namanya, entah kenapa rasa rindu dan haru begitu memenuhi hatinya hingga tanpa sadar air matanya sudah membuncah keluar karena kebahagiaan kecil yang dia rasakan saat ini.
Shizune tak tahu apa yang membuat sikap Ino berubah, meskipun dia juga tak bisa melewatkan tatapan kosong Ino yang di perlihatkan sebelum dia pergi. Pasti ada hal yang membuatnya seperti itu, tapi apapun itu, dia tetap berharap kalau majikannya bisa mengingat tentang dirinya yang dulu biarpun hanya sedikit.
=BPEX=
Di dalam sebuah ruangan yang gelap, sesosok berambut pirang tengah menggertakkan giginya sambil meremas pegangan kursi kebesarannya. Orang itu tampak menggeram kesal setelah mendengar laporan anak buahnya.
"Sial! Kenapa dia masih hidup?!" desisnya sambil mengeratkan kepalan tangannya.
"Seharusnya malam itu kupastikan kalau Itachi membunuhnya dan menghancurkan Black Pearl!" kedua mata crimson orang itu menyala tajam karena emosi. Bahkan para pengikutnya yang berada di ruangan itu dibuat bungkam dan mengkerut takut memikirkan hal apa yang akan dilakukan majikan mereka karena terlampau marah.
"Brengsek kau Yamanaka Ino! Kali ini akan kupastikan kau mati di tanganku!"
.
.
.
.
.
TBC
Nah kali ini saya benar-benar mengganti pen nameseperti yang sudah saya katakan di chap lalu. Meskipun tidak benar-benar menggantinya secara keseluruhan karena saya hanya mempersingkat nama dari Yuzumi Haruka (Haruka Yuzumi) menjadi Hyzumi. Semoga tidak ada yang bingung dan berpikir ini nama orang lain karena saya sudah sangat lama menggunakan nama Yuzumi Haruka
Bagi para fans sasuini, untuk chap ini memang belum ada adegan sasuino yang sesungguhnya, tapi chapter depan akan ada pertemuan antara keduanya.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Apa yang akan dilakukan Ino saat bertemu Sasuke nanti?
Dan bagaimana dengan kelanjutan adegan pertemuan antara Itachi dan Sasuke?
Temukan jawabannya di chapter selanjutnya!
Saa minna, jangan lupa meninggalkan review setelah membaca
*Salam Cute*
