Please read slowly.


"Taika Sayang …"

Taika menggeleng kuat. Ia bahkan membuat Daiki yakin sesaat bahwa kepala perempuan itu hendak terlepas.

"Sayang … ayo dong makan … serius Abang capek …"

Lagi-lagi gelengan.

Kesabaran Daiki makin tipis. Ia meletakkan piring yang dipegangnya di kasur, lalu keluar kamar dan mengacak-acak rambutnya.

Ia masuk ke kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan kasar. Oh Tuhan. Bagaimana bisa seseorang bertahan tanpa makan dan minum seperti istrinya? Ia bahkan tidak yakin apakah istrinya tidur saat ia bekerja. Namun yang pasti, istrinya tidak makan maupun minum. Ia selalu meninggalkan makanan dan minuman sebelum ia mengunci pintu dan pergi. Tapi makanan dan minuman yang ia tinggalkan seringkali tak tersentuh.

Sekali lagi Daiki membasuh wajahnya, lalu keluar dari kamar mandi dan berlutut sembari menunduk di hadapan kamarnya yang terkunci. Dari dalam, ia mendengar isak lirih istrinya.

Ia mengepalkan kedua tangannya, lalu mengangkatnya tinggi di atas kepala. Seiring ia mendengar isakan istrinya di antara sunyinya rumah, air matanya mengalir pedih. Perlahan bibirnya terbuka, merangkai kalimat yang sudah sekian tahun tak ia ucap.

"Bapa kami di surga … dikuduskanlah namamu … datanglah kerajaanmu … jadilah kehendakmu … di bumi seperti di surga … berilah kami pada hari ini … makanan secukupnya dan ampunilah kesalahan kami … seperti kami juga …—" ucapannya terhenti. Ia teringat bagaimana istrinya terikat dan menjerit ketakutan, meminta pertolongan padanya. Namun ia hanya terdiam di balik dinding yang membatasi mereka, tidak berusaha menolongnya.

Daiki! Kamu bahkan tidak bisa memaafkan dirimu sendiri! Bagaimana kamu bisa— "…—mengampuni orang yang bersalah kepada kami."

Air matanya mengalir makin deras. Jalan napasnya mulai tersumbat. Dengan terbata, ia melanjutkan doanya.

"Tuhan … berikan aku kesabaran … dan keteguhan hati dalam menghadapi istriku. Bukakan juga …—bukakan juga …—" Daiki berhenti bicara. Kepalan tangannya mengendur, tangannya terjatuh ke depan, menyangga tubuhnya yang terhuyung ke depan, hingga perlahan dahinya menyentuh lantai. Tangisnya makin keras. Ia tidak sanggup lagi.

"Bukakan hati dan pikirannya agar hamba bisa mendekapnya lebih erat lagi!" raungnya putus asa. "Tuhan! Hamba tidak sanggup lagi! Hamba tidak sanggup melihatnya menderita begini! Ambil saja nyawaku, Tuhan! Ambil nyawaku! Bukan salahnya! Aku yang bersalah! Biar aku yang menanggung semua dosanya! Asal jangan biarkan dia menderita begini, Tuhan …"

Dari balik pintu, Taika yang mendengar lantunan doa Daiki perlahan menyeret tubuhnya ke arah pintu. Ia menyentuh pintu di hadapannya. Satu-satunya yang menghalanginya dari wajah penuh sesal suaminya. Andai saja ia masih bisa menemukan sosok kekasih yang dicintainya dahulu di sana.

Sembari mengelus pintu, Taika mengucap doanya sendiri. "Tuhan, aku merindukannya … pertemukan aku dengan kekasih hatiku yang dulu setia melindungi dan menjagaku … yang rela mempertaruhkan nyawanya demi aku …"

Daiki masih menangis. Tangannya mengepal, menghantam lantai.

Taika kembali menangis. Tangannya menarik rambutnya dengan frustasi.

Tanpa mereka sadari, mereka mengucap akhiran doa yang sama.

"Tuhan … kumohon …"


Hisashiburi da naa.

Maaf banget atas inactivity-ku. Banyak banget yang terjadi. Aku kecelakaan dua kali, laptop-ku rusak, dan aku dilanda UAS yang baruuu aja kelar Jum'at kemarin.

Haish ... berkat rusaknya pacarku ini, aku harus reinstall semua software dan harus kehilangan progress game-game-ku dan koleksi animuku. Untung banget proyek-proyekku terselamatkan.

Sekali lagi mohon maaf ya.