Dame? : Tidak boleh?

Atarimae darou?! : Tentu saja, bukan?!

Kaichou wa Ojou-sama

Chapter 10 : Penyerangan penduduk fantasi

Disclaimer : Yang pasti bukan punya saya

Author : ini baru saya~ si EL23

Rating : T

Pair : Sona X Naru,Sasu,Saji

Warning : Crack, gaje, aneh, OOC (mungkin), typo(tak luput), mungkin masih ada yang lain jadi waspadalah.

.

.

.

Diatas bukit kota Kuoh, Hamparan padang rumput yang luas tersaji sejauh mata memandang. Tidak ada pohon, semua pemandangan hijau itu hanyalah rumput.

Disalah satu tempat ada batu-batu besar yang dijadikan tempat duduk oleh 2 orang. Di batu yang lebih tinggi seorang pria dengan armor china duduk berjongkok diatasnya. Dibatu yang satunya seorang gadis cantik nan sexy yang mengenakan kimono hitam dengan sedikit terbuka, duduk sambil mengayun-ngayunkan kakinya. Seseorang lain, berdiri tak jauh dari mereka sambil memasukan kedua tangannya di saku celananya, dia memiliki rambut putih perak dan mengenakan kaos hijau yang dirangkap jaket kulit berwarna hitam.

"Huuum, sepertinya aku sedikit menyesal karena dulu pernah menghancurkan satu-satunya pohon besar yang ada di sini dulu." Pria berarmor china berbicara.

"Um!" Gadis berkimono menoleh padanya. "Tentunya kau sangat menyesal karena saat itu kau dihajar habis-habisan oleh kucing pirang jantan yang kita temui dulu!"

"Jangan memutar balikkan fakta, Kuroka. Jelas-jelas saat itu aku yang menghajarnya. Kalau saja saat itu Arthur tidak tertangkap sudah pasti aku akan membunuhnya. Ya kan, Vali?!" Dia menoleh pada kawannya yang memiliki rambut perak.

Teman yang ditanyanya itu tersenyum. "Aa, itu sudah kelihatan jelas. Dan lebih terlihat jelas lagi adalah tikus-tikus yang coba bersembunyi dibalik batu-batu itu."

Mengetahui keberadaan mereka telah diketahui oleh musuh, membuat Xenovia dan Kiba keluar dari tempat persembunyiannya.

Sriiing

Kruuuhss

Begitu keluar mereka langsung menyiapkan senjata mereka masing-masing. Kiba menciptakan pedang iblis di depannya, Xenovia mengambil Durandal dari dimensi penyimpanannya.

"Heeh, ternyata itu teman-temannya si Sekiryuutei-chin. Sipemuda Casanova dan mantan gadis gereja pemilik Durandal." Gadis berkimono yang bernama Kuroka berkata seperti itu.

"Apa yang kalian lakukan di sini, Vali Lucifer?" Kiba yang pertama berbicara, sambil menatap penuh waspada pada ketiga musuh di depannya.

"Tidak ada yang penting. Kami di sini hanya mampir untuk mengisi perbekalan." Jawab Vali santai.

"Kau pikir kami akan percaya dengan perkataanmu itu?" Ujar Xenovia sembari menyipitkan matanya.

Wajah Vali masih terlihat santai meski ditatap seperti itu. "Kalau kau tidak percaya untuk apa kau bertanya?"

"Kau pasti merencanakan sesuatu. Katakan yang sebenarnya, apa tujuanmu datang kemari. Kalau tidak-"

"Kalau tidak apa?" Vali memotong perkataan Xenovia. "Apa kalian akan memotongku?" Vali menatap Kiba dan Xenovia dengan tatapan remeh.

Rahang Kiba dan Xenovia mengeras melihatnya.

"Sepertinya bermain dengan kalian bukanlah hal buruk selagi aku menunggu Arthur dan Le Fay mengumpulkan perbekalan." Mengatakan itu, sepasang sayap biru bercahaya melebar keluar dari belakang punggung Vali.

Melihat itu Kiba dan Xenovia menekan kuda-kudanya.

Merekapun telah bersiap untuk memulai pertarungan.

.

O.o

Setelah insiden pembajakan Dullahan satu menit yang lalu, Naruto masih terbaring terlentang di tanah dengan wajahnya yang terdapat jejak berupa cap sepatu dari Irina.

Tatapan kagum diberikan ketiga pemirsa insiden tersebut tanpa ada niat untuk membantu.

Saji yang pertama sadar dari kekagumannya. Dia kemudian berinisiatif mendekat ke tempat tubuh Naruto terkapar.

Mengambil sebatang ranting di bawah kakinya, Saji menusuk-nusuk pelipis Naruto dengan ranting tersebut. "Hoy, Naruto. Kau masih hidup? Jika kau masih hidup cepat menyingkir dari situ, kau mengotori jalan dengan bangkai tub- woooh!"

"AAAAAAAAAAAHHH! DASAR MALING DULLAHAN!"

Saji langsung melompat terkejut ketika Naruto tiba-tiba bangkit duduk bersila sambil berteriak penuh kekesalan.

Naruto lalu berdiri dan langsung melesat ke udara. "KAU TAKKAN BISA KABUR!"

Semua siswa menatap itu sebagai pertunjukan menarik bagi mereka. Saji sendiri yang melihatnya malah mendesah. "Haah, sepertinya aku bakal kerja lembur hari ini. Aku akan memasukan ini kedalam daftar hutangnya padaku. Dasar, dia benar-benar teman yang kejam."

'Kejam mana dengan dirimu yang menganggap tubuh temannya sebagai kotoran yang mengotori jalan.' Yura yang mendengarnya membatin begitu.

Sajipun berdiri dengan seratus pekerjaan yang harus diselesaikannya. Yura dan Momo juga tak punya pilihan selain ikut membantu Saji menghilangkan ingatan semua orang tentang kemampuan Naruto barusan.

Sedangkan Naruto, dia telah jauh pergi meninggalkan kawasan sekolah. Dia melakukan pengejaran dengan cara melompat-lompat menggunakan atap bangunan dan pohon sebagai pijakan.

"""""""HAAAAAA!"""""""

Di perjalanannya Naruto menemukan sejumlah manusia besar menghadangnya. Mereka memiliki tubuh setinggi 3 meter, memakai pakaian kulit berbulu, sepatu boot kulit, dan helm bertanduk. Mereka juga membawa senjata raksasa seperti kapak batu, pedang, tombak dan juga perisai. Penduduk kota berlarian menyelamatkan diri. Manusia besar itu memenuhi mulai dari jalanan sampai atap bangunan.

Naruto melihat mereka berlari ke arahnya. Meskipun tubuh mereka besar gerakan mereka terlihat gesit, mereka bisa melompat sangat tinggi, setiap tempat yang menjadi pijakan mereka seketika retak.

Mengetahui hal itu tidak membuat Naruto mengurangi kecepatannya. Dalam satu lompatan tubuh Naruto terselimuti cakra kuning keoranye-oranyean, udara di sekelilingnya bergetar seketika. Saat manusia besar itu telah mendekat, satu kata Naruto ucapkan.

"MINGGIR!"

.

O.o

.

Ditengah kerumunan orang yang berlalu lalang di trotoar Sasuke berjalan santai sambil membawa tas sekolahnya yang disampirkannya di belakang punggungnya. Suara bising kendaraan terdengar jelas. Pemandangan pertokoan di sekitarnya menjadi pandangan menarik baginya.

Bruk

"Ittai."

Pandangan Sasuke beralih ke bawah begitu menyadari dirinya telah menabrak seseorang.

Seorang gadis manis berambut pirang yang mengenakan kostum penyihir duduk bersimpuh sambil mengusap-ngusap keningnya. Usianya telihat seperti anak SMP. Dia membawa banyak barang belanjaan yang kini jatuh tergeletak di trotoar karena tadi dia menabrak Sasuke.

"Hn, maaf."

Gadis itu menggeleng lembut. "Um, tidak apa-apa. Ini juga salahku."

Gadis itu mengambil topi kerucutnya yang jatuh dan memasangkannya kembali di kepalanya. Lalu setelah dia mengambil belanjaannya, dia berdiri untuk menatap Sasuke.

Saat dia menatap Sasuke, wajahnya nampak terkejut. "Kamu!"

"Hm?"

"Kamu temannya Naruto-san yang waktu itu kan?!"

'Sejak kapan Naruto punya kenalan seorang gadis.' Batin Sasuke. Dia memperhatikan wajah gadis itu mencoba mengenalinya, namun dia tetap tak mengenalnya. "Aku tidak mengenalmu."

"Sou ka." Gadis itu menunduk dan tersenyum masam. 'Tentu dia tidak tahu aku karena saat itu dia tidak sadarkan diri.'

Sasuke menaikkan alisnya melihat gadis di depannya yang tiba-tiba diam.

Beberapa lama gadis itu terdiam, dia akhirnya tersadar dan kembali berkata. "Oh, perkenalkan namaku Le Fay, Le Fay Pendragon."

"Hn." Sasuke hanya memandangnya datar tanpa ada niat untuk membalas memperkenalkan dirinya juga.

Le Fay yang mengetahui hal itu mencoba merusak kecanggungan. "Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Naruto-san?"

"Dia sangat sehat, saking sehatnya aku sampai ingin sekali memukulnya." Topik yang sangat tepat diberikan Le Fay. Mendengar pertanyaan perhatian itu entah kenapa menimbulkan gejolak rasa pada Sasuke. Saat mengatakan itu mata Sasuke terlihat membara, mulutnya menyeringai sadis, dia mengepalkan tangannya dan bunyi 'krek,krek' terdengar. Sasuke mengingat kembali apa yang telah dilakukan Naruto terhadapnya. Gara-gara Naruto satu jam pagi ini dia habiskan hanya untuk berbaring di UKS, belum lagi semua sarapannya yang hilang dimuntahkan karena ulah makluk itu.

"Sou ka naa ¶" Melihat itu Le Fay hanya bisa membalas seadanya sambil tersenyum canggung, keringat dingin bercucuran dengan deras dari tubuhnya.

"Toloong!"

"Woaaa!"

"Selamatkan diri kalian."

Suara keributan mendapatkan perhatian Le Fay dan Sasuke. Kepanikan melanda sekitar, orang-orang yang tadi berlalu lalang kini lari terbirit-birit ke setiap tempat.

"Apa yang terjadi?" Gumam Le fay.

Sasuke tak menganggap itu. Dirinya kembali mencoba melihat ke sekitar.

Dum dum dum

Mata Sasuke menemukan masalah apa yang terjadi. Sosok manusia bertubuh besar setinggi 3 meter memakai pakaian kulit berbulu dan helm bertanduk, berlarian kesepanjang jalan sambil mengayunkan kapak batu pada apa saja yang ditemuinya, setiap langkahnya menimbulkan bunyi berdebum yang keras.

"""""HAAAA!"""""

Tak hanya satu, Sasuke mendapati jumlah mereka belasan, puluhan... tidak, banyak sekali manusia yang sejenis mereka yang berkeliaran disana.

"Mereka." Sasuke menoleh pada Le Fay yang menampakkan ekspresi terkejut. "Kenapa mereka bisa sampai di sini."

"Apa mereka kenalanmu?" Pertanyaan konyol Sasuke ucapkan dengan wajah datar.

"Tidak, tapi sepertinya mereka mengenalku." Le Fay menjawab begitu melihat salah satu dari mereka menemukannya.

Manusia besar itu menatapnya tajam. Dia kemudian menoleh pada kawanan temannya yang tak jauh dari tempatnya.

"Hey wassup!"

Mereka seperti berkomunikasi. Lalu kawanan temannya itu mengarahkan tatapan mereka pada Le Fay, seketika tatapan mereka menajam seolah keberadaan Le Fay membuat kemarahan mereka muncul.

Le Fay yang ditatap seperti itu hanya bisa tersenyum canggung. "Ahaha, Konichiwa."

"""HAAAA!"""

Bukannya balas menyapa, mereka malah berteriak sambil berlari ke arah Le Fay dan bersiap menyerang.

Sasuke mengambil satu langkah ke depan Le Fay.

Le Fay menatap Sasuke yang melankah dengan tatapan bingung.

Sasuke merentangkan tangan kanannya kesamping. Matanya terpejam.

Pofft

Asap tiba-tiba muncul dari gelang yang memiliki gambaran aksara rumit yang dikenakan Sasuke. Saat asap itu menipis, kini di tangan Sasuke terdapat pedang Kusanagi yang telah keluar dari sarungnya.

Jarak manusia besar itu yang semakin mendekat itu tak membuat Sasuke mengalihkan kakinya dari tempatnya.

"HAAA!" Begitu Sasuke berada dihadapannya, manusia besar itu langsung mengayunkan kapaknya kearah Sasuke tanpa menghentikan larinya.

Tanpa mengubah eksprsi datar, Sasuke membuka matanya.

Zhiing!

Sebuah kilatan cahaya terlihat saat manusia besar itu melewati Sasuke.

Semuanya sempat memandang peristiwa itu bingung, terlebih manusia besar yang berada di belakang Sasuke, yang tadi menyerangnya.

Jraashh!

Tiba-tiba saja luka tebasan lebar muncul di bahu manusia besar yang tadi menyerang Sasuke. Wajahnya penuh keterkejutan. Lalu sedetik kemudian dia jatuh berlutut dan akhirnya ambruk tak sadarkan diri.

Teman-temannya yang melihat itu juga terkejut. Namun beberapa saat wajah mereka mengeras, mereka memandang Sasuke yang diam ditempat penuh kemarahan.

Sasuke membalas tatapan mereka dengan tatapan datar.

"Enyahlah."

.

O.o

.

Traang traaang traaaaaaaaang traang traaang!

Keberisikan suara Dullahan terdengar di sepanjang jalan. Berbagai perhatian orang teralih hanya untuk melihat motor itu melewatinya sekilas. Sipengendara sendiri tak mempedulikan perhatian orang-orang yang tertuju padanya dan lebih memilih terus menarik gass motor itu full untuk kabur dari sipemilik motor.

"Kuhehehe!" Ditengah lajunya dia mengendara, sigadis berambut pirang kecoklatan itu tersenyum ceria. "Dengan begini Naruto-kun pasti akan mengikutiku."

Pembajakan yang dilakukannya ini tak lain hanyalah untuk membuat Naruto sang idolanya menghabiskan waktu lebih lama bersamanya, dan itulah yang membuat Irina bersemangat selagi dirinya mengendara.

Semangatnya dia buktikan dengan mengubah jalur lintasannya yang semula beraspal kini ke tanah berbatu yang keras. Memakai jalur perbukitan bukit belakang sekolah, Irina mendaki menggunakan Dullahan. Dullahan yang merupakan motor trail dengan baik melaju pada daratan tidak rata tersebut.

"Yahoo!" Teriakan ceria Irina keluarkan ketika gundukan tanah membawanya meluncur ke udara. Lalu ketika roda motor itu kembali pada daratan, rumput hijau kini menjadi lintasannya.

Irina telah memasuki kawasan padang rumput yang terletak di bagian barat atas bukit belakang sekolah. Saat mengendara matanya tak sengaja melihat seorang pemuda bersayap biru terang yang terbang rendah sambil menatap dua orang berpedang.

Irina begitu familiar dengan gadis berambut biru sebahu salah satu dari dua orang berpedang tersebut. "Xenovia?"

Namun ada yang salah. Melihat bagaimana keadaan Xenovia dan seorang berpedang lainnya yang juga familiar baginya itu membuat mereka mendapat perhatian Irina sepenuhnya. Keadaan mereka nampak lusuh dan terengah-engah, juga terdapat beberapa luka di tubuh mereka.

Satu hal telah tersimpulakan, mata Irina menajam dalam kewaspadaan. Dengan itu dia langsung mengendarai Dullahan ke tempat ketiga orang itu berhadapan.

Traaang!

Dullahan melayang cepat ke arah pemuda bersayap tersebut.

Seolah telah menyadarinya, pemuda itu menghindar dengan mudah.

Begitu roda Dullahan telah kembali menyentuh tanah, Irina langsung melakukan rem mendadak tepat di depan Xenovia dan Kiba. "Xenovia, Kiba-san, kalian baik-baik saja? Apa yang terjadi?"

"Irina? Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Xenovia.

"Itu tak penting. Bagaimana dengan keadaan kalian? Dan apa yang terjadi di sini?"

"Jangan khawatirkan kami. Berhati-hatilah, kami tadi sedang mengamati mereka tapi kami tak sengaja terlibat pertarungan." Jawab Xenovia.

"Begitu, kah?" Mengatakan itu, Irina turun lalu berdiri di samping Xenovia dengan mode malaikat yang telah aktif.

Melihat wujud Irina yang sekarang entah itu Xenovia maupun Kiba menampakkan ekspresi kagum.

"Itu!"

"Irina, kau?"

Kiba dan Xenovia bergumam tanpa mengalihkan tatapannya sediktpun dari Irina.

Irina sendiri hanya berbalik dan tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Heeh!" Seorang pemuda berarmor china yang berjongkok di batu besar tak jauh dari tempat Vali menatap Irina dengan ekspresi tertarik. "Ternyata rencana untuk perenkarnasian malaikat yang direncanakan surga benar-benar berjalan. Aku kira itu hanya isu belaka."

"Huh, dunia ini ternyata semakin menarik meskipun tuhan telah tiada." Vali menyahut kawannya itu sambil menatap Irina dengan wajah santai.

Kembali di tempat Irina berada. Xenovia yang berada di sampingnya berbisik. "Irina, kedatanganmu ke mari tidak akan berpengaruh besar. Kita tidak punya kesempatan menang melawan mereka, bahkan hanya Hakuryuukou saja aku tak yakin."

"Ah, itu benar. Kita di sini hanya mencoba mengawasi mereka, kita tidak bisa bertindak lebih jauh seperti melawan mereka habis-habisan di sini. Kita harus mundur." Kiba menimpali.

Tatapan Xenovia dan Kiba sangatlah serius sehingga membuat Irina tak bisa menyanggah. Irina pun mengangguk. "Um, aku paham situasinya."

"Ada apa ini? Kalian ingin melarikan diri? Setelah kalian dengan sok beraninya datang melawanku?" Seolah dapat mendengar percakapan mereka, Vali menginterupsi dengan nada remeh. "Ku kira ini akan jadi lebih menarik. Kalian tak akan kubiarkan lolos."

Xenovia, Irina, dan Kiba sempat terkejut ketika mendengar suara Vali yang seolah mendengar percakapan mereka. Namun tak beberapa lama, mereka kembali memasang muka serius. Terlebih lagi Xenovia yang mengatakan ini padanya. "Aa, akupun tak berniat lolos begitu saja. Setidaknya biarkan aku memotong salah satu bagian tubuhmu."

"Sayang sekali, aku tak berniat memotong apapun yang kumiliki." Mengatakan itu, cahaya biru yang begitu terang menyelimuti tubuh Vali, sededik berlalu dari cahaya itu terciptalah armor naga putih dengan Vali di dalamnya.

Kiba yang melihat itu bergumam. "Balance Breaker."

'Ini benar-benar bahaya. Apa dia benar-benar akan serius dalam pertarungan ini.' Batin Xenovia.

"Vali, itu terlalu berlebihan, kan." Perkataan Bikou itu sama sekali tak sesuai dengan ekspresinya yang tersenyum menikmati pertarungan tersebut.

"Sudah lama sekali kau tak memakai wujud itu, nyan." Kuroka, si gadis berkimono hitam ikut berkata.

"Sudah lama apanya, bukannya kemarin waktu kita mampir di pulau asing di sekitar skandavia dia menggunakannya."

Sementara Kuroka dan Bikou yang saling adu argumen, Vali sendiri berkata pada tiga orang dihadapannya. "Bagaimana? Apa kalian sudah siap untuk menyerang."

Ketiga siswa Kuoh Academy itu tak menjawab dan lebih memilih untuk bersiaga.

Vali menanggapi itu dengan mangangkat tangannya dan telapak tangannya yang terbuka.

[Half Dimension]

NGENGENGENGENGENG!

Bersamaan dengan suara seperti ngengat, tiga ruang berdistorsi tercipta dengan Irina, Xenovia, dan Kiba di tengah-tengahnya. Pergerakan mereka tersegel oleh distorsi ruang tersebut.

"Jurus ini!"

"Tubuhku tak bisa bergerak!"

"Ugh!"

Kiba, Irina, dan Xenovia benar-benar tertahan. Dengan sekuat tenaga mereka mencoba untuk keluar dari distorsi ruang tersebut, namun percuma.

"Oi, oi, Vali, mereka nanti mati lho!" Bikou yang melihat itu memperingati Vali dengan senyuman yang sama sekali tak sesuai dengan perkataannya barusan yang harusnya diiringi dengan ekspresi khawatir.

"Tenang saja. Aku tidak benar-benar menggunakannnya, bahkan ini sebenarnya tidak bertenaga sama sekali." Apa yang Vali katakan adalah benar. Half Dimension yang dilepaskannya ini sama sekali tidaklah serius. Dia hanya membuka ruang distorsi, dan itu tak lebih hanya membuat pergerakan Kiba, Xenovia dan Irina tersegel.

Namun meskipun begitu, kekuatan ini bukanlah tidak menyakitkan bagi mereka bertiga. Dorongan ruang distorsi tersebut bukan hanya membuat pergerakan tubuh mereka tersegel, tubuh mereka sesak, tekanananya seakan dapat membagi tubuh mereka kapan saja. Jika kestabilan tenaga yang dipakai Vali kelebihan sedikit saja, sudah pasti tubuh mereka bertiga akan terbagi dan pada akhirnya lenyap.

"Heh?-" Tiba-tiba Irina merasa tubuhnya terangkat.

"Irina!" Xenovia spontan berteriak berpikir temannya dalam bahaya.

"Ketemu kau akhirnya!"

Teriakan cempreng terdengar disepanjang area. Semua yang melihat apa yang telah terjadi tak punya ekspresi lain selain membelalakkan mata mereka.

Ditengah salah satu ruang terdistorsi, seorang laki-laki berambut pirang yang membungkus dirinya dengan aura kuning keoranye-oranyean berdiri dengan ekspresi kesal sambil mengangkat Irina dengan memegang belakang lehernya menggunakan satu tangan seperti seekor kucing. Delapan tangan buatan yang tercipta dari aura yang menyelimutinya menahan ruang terdistorsi agar tidak menguncinya.

"Dia!"

"Naruto!"

Kiba dan Xenovia yang pertama mengeluarkan keterkejutannya melalui kata. Ekspresi tak percaya masih terpasang jelas di wajah mereka.

"Anak itu..."

"Dia bisa berdiri seperti biasa meskipun dibawah kemampuan Vali?!"

Orang-orang dari kelompok Vali adalah yang paling terkejut disitu. Kuroka tak bisa melanjutkan perkataannya, Bikou sendiri terlalu tak bisa mempercayai matanya.

Sedangkan Vali, dia tak bisa mendapatkan kesempatan berbicara. Ekspresi terkejut di wajahnya memang tidak terlalu berlebihan, malahan tampangnya terlihat seperti orang bingung, tapi tak ada yang tahu jika Vali benar-benar terkejut dengan apa yang dilihatnya itu.

"Berani-beraninya kau mencuri Dullahan." Naruto menatap gadis yang diangkatnya itu kesal.

Sigadis sendiri yang ditatap seperti itu oleh idolanya hanya bisa menunduk menyesal. "Maafkan aku." Wajahnya sangat imut ketika mengatakan itu tapi itu sama sekali tak berpengaruh pada Naruto.

"Hey, Naruto! Apa yang kau lakukan ini bukan saatnya mempermasalahkan hal lain, kita ada musuh sekarang!" Xenovia yang melihat bagaimana kedua orang itu bisa-bisanya berlaku santai seperti itu disaat begini menjadi ikut kesal.

"Hm?" Naruto menoleh pada Xenovia. Dia mengangkat alisnya melihat posisi Xenovia yang membentuk huruf 'U' karena menahan ruang berdistorsi yang menjepit tubuhnya. "Ngapain kau disini?" Tanya Naruto. Dalam otaknya Naruto berpikir maksud Xenovia berposisi seperti itu seakan berkata "Uzumaki, fUck yoU!"

Memikirkan itu, Naruto menatap tajam Xenovia dengan bola mata berlambang clan Uzumaki.

Deatglare dengan aksen api membara Xenovia berikan menanggapi pertanyaan sekaligus tatapan Naruto itu. "Simpan pertanyaanmu untuk nanti, bebaskan dulu kami dari orang itu." Xenovia mengarahkan kepalanya kearah Vali untuk memberi tanda pada Naruto.

Narutopun menatap Vali yang masih berdiri di tempatnya dengan ekspresi tercengang atau bingung atau entah apa dipakainya. Vali sendiri membalas tatapan Naruto. Dia merasa tak asing dengan wajahnya. 'Rasanya aku pernah melihatnya sebelumnya.'

Vali memang pernah melihatnya. Hanya saja cakra kyuubi yang menyelimuti Naruto itu menjadi perbedaan yang menutupinya. Namun tak butuh waktu lama Vali kembali mengingatnya. Dikepalanya dia teringat dengan seorang pemuda yang dulu bertarung dengan Bikou di tempat yang sama dengan sekarang. "Ah, kecoak itu rupanya."

Vali menyeringai senang. "Ku kira ini pertemuan yang tak terduga. Bagaimana kalau aku buat ini lebih menarik." Tangan kiri Vali yang sedari tadi teracung di depan mulai mengambil remasan kecil dan perlahan semakin kuat.

Mengikuti tangannya, ruang berdistorsi yang ada di tempat Naruto dan Irina perlahan semakin menekan hingga ketitik dimana Naruto merasa tertekan.

Wajah Naruto mengeras. Melakukan tindakan balasan, dengan cepat cakra yang lebih besar membungkusnya. Cakra itu mulai mengambil bentuk menyerupai kepala rubah, lalu dia langsung menggigit dan merobek distorsi ruang itu dengan giginya sebelum membuatnya terbagi.

Vali yang melihat tindakan Naruto tersebut semakin menyeringai senang. Kedua tangannya seakan gatal, tubuhnya begitu bergairah seakan dia ingin langsung maju menyerang Naruto yang ada didalam pandangannya. "Menarik sekali! Dia... akan... ku... beres-"

!

ZAAASSHH!

Semburan api panjang nan lebar berwarna merah seperti kereta api lewat, keluar dari sebuah moncong rubah membuat ucapan Vali terhenti dan membabatnya habis.

Semua yang melihat kejadian itu melotot tak percaya seakan mata mereka ingin meninggalkan tempatnya.

Ketika api tersebut menipis dan akhirnya lenyap tak tersisa, nampak Vali yang masih berdiri, kini tengah dalam kondisi luar biasa tak enak dipandang. Armornya kini hanya tersisa dibeberapa bagian, rambut peraknya kini menghitam layaknya arang, dan seluruh badannya nampak lecet seperti mobil yang habis menyerempet pesawat terbang.

"Dengar ya, mencuri itu tidak baik. Kau tahu bahwa seorang pencuri itu hidupnya tidak akan-..."

"Kenapa kau juga membakar bajuku?!"

Naruto yang masih mengangkat Irina seperti kucing kini menceramahinya, meninggalkan Vali yang dalam kondisi buruk seolah tak merasa bahwa habis bertarung dengannya. Sedangkan Irina, dia tidak mempedulikan ceramah Naruto dan lebih memilih menutupi dadanya. Xenovia dengan Kiba yang telah terlepas dari kemampuan Vali memasang wajah cengoh dengan apa yang mereka berdua lakukan.

Vali jatuh berlutut armornya yang tersisa dibeberapa bagian kecil tubuhnya hancur dan berubah menjadi serpihan-serpihan cahaya biru yang terbang keangkasa.

""Vali!"" Bikou dan Kuroka datang menghampirinya.

"Uhuk!" Vali memuntahkan darah dari mulutnya. Ekspresinya nampak kesakitan.

Namun itu hanya beberapa saat, karena setelah itu dia mengganti ekspresi wajahnya itu dengan senyuman seakan kesakitan yang dirasakannya itu adalah suatu kenikmatan. "Hahahaha!" Dia mulai tertawa. "Menyenangkan sekali! Aku sudah meremehkannya, dia patut untuk kukalahkan!"

"Hey, Vali kau tak berniat bertarung dengan menggunakan Juggurnuet Overdrive, bukan?"

Vali tidak menjawab pertanyaan Bikou. Dia berdiri lalu cahaya biru terang kembali menyelimuti tubuhnya, sedetik kemudian tubuhnya terbalut armor naga putih seperti semula tanpa meninggalkan lecet sedikitpun. "Kita akan melakukannya, Albion."

[Kau tidak ingin memikirkannya lagi, Vali?]

Suara mekanik menanyakan itu pada Vali.

"Nee! Manusia uban!" Suara Naruto menginterupsi percakapan.

Vali kembali menatap pemuda yang sudah membuatnya terluka cukup berat itu dengan alis terangkat. 'Manusia uban?' Batinnya bingung.

"Kenapa aku merasakan kekuatan Le Fay yang sedang bertarung? Dia tidak ada disini kan? Dia bertarung dengan siapa?" Naruto mengatakan itu begitu dirinya menyadari bahwa Le Fay tidak ada disini. Sebelumnya saat dikota dia sempat menyadari arah niat jahat yang mengelilingi tekanan kekuatan yang dikeluarkan Le Fay menggunakan mode kyuubinya, tapi dia kira itu berasal dari sini karena arah niat jahat terdekat yang dirasakannya diwaktu mencari Irina adalah di sini, namun Le Fay tidak berada disini.

"Apa katamu?" Bukan Vali, namun Bikou yang bertanya.

Naruto tidak menjawab, malahan dia menutup matanya. Cukup lima detik, aura senjutsu menyelimutinya dan kelopak matanya berubah orange, begitupun matanya yang semula orange kini berubah kuning. "Dia bersama Sasuke." Gumamnya menyadari keberadaan Le Fay.

Naruto melepas pegangannya pada leher Irina, sehingga membuat gadis itu terjatuh dengan pantatnya. "Ittai!" Rintih Irina.

"Irina, bawa Dullahan ke tempat yang aman. Aku harus pergi."

Mendengar itu Irina bertanya. "Naruto-kun, kau mau kemana?"

"Hey, yang benar saja. Kau mengerti dengan keadaan sekarang tidak sih? Kita dalam pertarungan sekarang, jangan seenaknya pergi dan membiarkan musuh kembali menguasai pertarungan." Xenovia yang mendengar perkataan Naruto pada Irina tak bisa diam begitu saja, dengan kesal dia memprotes keputusan Naruto.

"Kau tidak perlu memikirkan itu." Naruto berkata tanpa menatap ke arah Xenovia, dia mengarahkan tatapannya itu pada Bikou dan rekannya berada.

Xenoviapun juga mengikuti kemana Naruto menatap. Di sana dia bisa melihat wajah Bikou yang terihat menyadari sesuatu.

"Vali, sepertinya ada masalah dikota, dan kau mungkin akan terkejut dengan siapa yang membuat ulah."

"Um, Le Fay-chan telah duluan terlibat dengan masalah yang terjadi. Kucing jantan-san di sana sepertinya telah lebih dulu menyadarinya."

Dengan mengangktifkan senjutsunya, Bikou dan Kuroka telah mengecek apa yang dikatakan Naruto tadi adalah benar.

Vali nampak berpikir untuk sesaat. Dia sebenarnya sangat ingin melanjutkan pertarungan, bagaimanapun lawan yang di dapatnya kali ini sungguh membuat nafsu bertarungnya membara. Namun mengingat kembali bahwa rekannya sedang dalam masalah, hal lain menjadi tidak bisa dilakukan.

Pada akhirnya Vali memutuskan. "Baiklah, kita pergi ke kota." Vali kemudian mengarahkan kepalanya ke tempat Naruto berada, namun dia tak menemukan orang yang dicarinya itu di sana.

"Bocah itu, dia mendahului kita." Bikou yang mengetahui Naruto telah pergi duluan mengatakan itu dengan nada kesal.

"Um, dia kucing yang cepat, nyan!"

"Tak kan kubiarkan dia mendahuluiku! Awan kinton!" Setelah mengatakan itu, Bikou melompat dan awan emas menyambar membawanya pergi.

"Kita juga harus pergi, Kuroka."

"Ha'i, aku tepat dibelakangmu."

Vali dan Kuroka juga ikut menyusul Bikou.

Disisi lain, Irina yang melihat satu persatu orang mulai meninggalkan tempat pertarungan mulai bangkit berdiri. Dia tak bisa menerima Naruto meninggalkannya begitu saja. "Xenovia, tolong kau bawa motor itu. Aku akan menyusul Naruto-kun." Dengan begitu Irina mengeluarkan sepasang sayap malaikatnya lalu mulai terbang pergi meninggalkan Xenovia dan Kiba yang terpaku ditempat.

"Dari pertarungan, sekarang berubah menjadi lomba balap." Ujar Xenovia yang menatap kepergian Irina.

.

O.o

.

"Jumlah mereka tak ada habisnya." Ujar Le Fay yang kini dikerumuni para manusia besar yang tiba-tiba menginvansi kota. Kelompok mereka yang sebelummnya tersebar diberbagai penjuru kota kini mulai berkumpul di tempat pertarungan Le Fay dan Sasuke berada.

"Ini bukan masalah, tapi setelah aku mengecek. Tujuan mereka adalah kau dan teman-temanmu." Sambil menebas beberapa sekelompok kawanan, Sasuke berkata.

"Eh, bagaimana kau bisa tahu?"

"Ini terlihat jelas!"

Sriing

Salah satu manusia besar yang mencoba mengahantamkan kapak besarnya pada Sasuke tiba-tiba berhenti saat matanya tak sengaja menatap sharinggan Sasuke. Beberapa saat kemudian dia jatuh ambruk ke tanah.

"Apa yang telah kau lakukan sehingga membuat mereka sampai datang ke kota?" Tanya Sasuke.

"Aku tidak terlalu paham. Sebelumnya kami sedang berpetualang, kami singgah disebuah pulau terasing yang memiliki banyak kekuatan tersembunyi. Pulau itu adalah salah satu pulau fantasi tempat mereka para Viking tinggal." Sambil terus melindungi dirinya, Le Fay menjelaskan.

Jriiiiiing!

Lingkaran sihir dengan simbol pentagram tiba-tiba tercipta ditubuh Le Fay, tepat diperutnya seperti membatasi tubuh bagian atas dengan bagian bawah. "Sihir ini!" Le Fay mencoba mengarahan pandangannya ke setiap tempat, pada saat itu matanya menemukan beberapa orang tua dengan jenggot dan rambut putih panjanng yang mengenakan jubah putih dan membawa tongkat kayu berdiri diatas gedung tinggi. Para orang tua itu seperti sedang melafalkan mantra.

Dilingkupi lingkaran sihir itu Le Fay tak bisa menggunakan sihirnya.

Kemudian dari langit turun kurungan burung yang memiliki ukuran besar, beserta rantai besi yang menggantungnya. Salah satu viking berlari ke tempat Le Fay. Tanpa bisa memberikan perlawanan, Le Fay ditangkap dan dimasukan ke kurungan yang tadi turun dari langit, lalu sedetik kemudian kurungan itu terangkat ke atas dengan rantai besi yang menggantungnya seperti ada yang menariknya dari atas.

Sasuke baru menyadari Le Fay telah ditangkap ketika dia melihat kurungan besar itu terangkat ke atas. Dia kemudian menengadahkan kepalanya untuk melihat asal rantai tersebut mengangkatnya. Di atas Sasuke dapat melihat sebuah kapal raksasa berwarna biru dengan lambang kepala naga di depannya melayang di langit seakan udara adalah laut untuk berlayar.

Sasuke lalu melompat untuk memotong rantai yang mengangkat kurungan tersebut sebelum kurungan itu mencapai kapal, namun tak sampai jaraknya mendekat lompatan Sasuke seperti tertahan suatu dinding tak kasat mata dan akhirnya Sasuke kembali turun berpijak pada daratan.

"Wassup! Retrett!" Salah satu dari sekian banyak viking berteriak. Kemudian para viking mulai pergi dari area dengan melompat tinggi ke atas hingga mencapai dek kapal.

"Sasuke!" Sasuke mendengar seseorang memanggilnya. Dia pun menoleh dan menemukan Naruto yang datang telah berubah dalam mode kyuubinya.

"Naruto?"

"Sasuke, dimana Le Fay?!" Begitu sampai tepat di depannya Sasuke, tanpa memberikan jeda waktu bernafas Naruto bertanya padanya.

"Jadi kau benar mengenalnya. Dia baru saja di tangkap."

"Ditangkap?! Kok bisa?! Kenapa bukan kau yang ditangkap?!"

Twitch

Pelipis Sasuke tiba-tiba berkedut mendengar perkataan Naruto barusan. "Kau kemari hanya ingin ngajak berantem ya?"

Sementara itu, Seseorang dengan armor china tiba-tiba datang dari langit, disusul oleh dua orang lainnya yang merupakan Bikou, Vali, dan Kuroka.

"Hey, kucing! Dimana Le Fay?! Aku sudah tidak bisa merasakan energinya lagi!"

"Akupun juga sama."

"Dia di atas sana." Sasuke menunjuk pada sebuah kapal yang melayang di langit. Kapal itu berlayar ke barat, tiba-tiba lingkaran sihir raksasa muncul di depan kapal tersebut. Lalu, layaknya gerbang lingkaran sihir itu terbuka dan kapal itu masuk ke dalamnya, sebelum akhirnya lingkaran sihir tersebut kembali menutup dan akhirnya menghilang.

Naruto menatap kepergian kapal itu tanpa melakukan apapun.

Twitch

Setelah sadar bahwa kapal itu telah meninggalkannya, pelipis Naruto tiba-tiba berkedut. Dia lalu menatap Sasuke dan berteriak. "Kenapa kau baru bilang sekarang!"

"Bukan apa-apa!"

"Bukan apa-apa jidat lu! Seseorang sedang ditangkap sekarang dan kau bilang bukan apa-apa!"

"Urusai, kau sendiri juga sama. Aku sudah mengatakannya barusan, tapi kau malah ngajak ribut." Sasuke tak terima, dia kini ganti membentak Naruto. Mereka berdua saling menatap kesal satu sama lain. Selanjutnya adu jotos pun terjadi, kepulan asap mengepul dan menutupi perkelehian mereka, sesekali bunyi 'buagh' terdengar dari kepulan tersebut.

Bikou yang melihat dua orang pelajar SMA itu malah sibuk bertengkar sendiri dibuat swetdrop melihatnya. Dia kemudian mengatakan ini sambil mendekat. "Oi, oi, kalian berdua. Kenapa kalian malah berteng-,"

""Urusai damatteru!""

BUAGH

Sebelum menyelesaikan perkataannya, dua suara dan dua kepalan tangan dengan kompak memotong perkataan Bikou. Kedua mata Bikou membiru dan membengkak.

Bikou menggeram. Selanjutnya, sambil menerjang masuk ke kepulan asap, Bikou berteriak! "Ku bunuh kalian!"

"Huft, kenapa jadi seperti ini." Melihat ketiga orang didepannya itu membuat Kuroka mendesah. "Vali, cepat hentikan mereka." Kurokapun mengalihkan pandangannya untuk menatap Vali.

"Ini tidak buruk." Mengatakan itu, Vali telah berjalan menuju tempat perkelahian dengan armor naga lengkap beserta sayap divine divinding miliknya.

"Kau juga! Jangan ikut-ikutan!" Kuroka dibuat berteriak kesal olehnya.

"Kalian semua hentikan itu!" Dengan geraman Kuroka barusan, roda-roda yang diselimuti api ungu tiba-tiba muncul dan telah siap dimasing-masing leher Bikou, Naruto, Sasuke, dan Vali. Seketika mereka berdua diam di tempat dengan posisi mereka masing-masing tak terkecuali Sasuke yang sedang mendekap leher Naruto dan Bikou yang memasukan tongkatnya ke mulut Naruto. Dilihat dari keadaan posisi tersebut, Naruto merupakan korban pengeroyokan.

"Le Fay sedang diculik sekarang. Kita harus segera melakukan pengejaran." Ujar Kuroka dengan masih mengontrol penuh roda-rodanya. "Kau, kucing jantan." Kuroka menunjuk Naruto. "Kau ikut tidak?"

"Thentwu sajwha."

"Bikou, keluarkan tongkatmu dari mulutnya."

"Maaf." Bikoupun mengambil tongkatnya dari mulut Naruto.

"Tentu saja, aku ikut. Aku harus menyelematkannya." Ujar Naruto begitu tongkat yang ada dimulutnya telah keluar.

"Baiklah kelau begitu."

Sriiing

Lingkaran sihir berwarna biru tiba-tiba muncul di dekat mereka dan seseorang keluar dari sana.

"""Arthur."""

"Kalian, apa yang terjadi di sini?" Tanya orang tersebut yang ternyata adalah Arhur Pendragon.

Bikou menanti Arthur berjalan sambil menjawab. "Le Fay ditangkap oleh para bandit yang kita temui kemarin."

"Maksudmu Viking? Aku tadi baru saja menghajar beberapa dari mereka."

Bikou menaruh tongkatnya dipunggungnya lalu menjawab. "Aa, aku tidak percaya mereka datang kemari. Ku kira Bis tidak memberikan mereka tumpangan kemari, tapi ternyata mereka punya kapal." Dia kemudian nampak berpikir sesaat. "Apa mungkin mereka kemari karena ingin mengambil barang yang kita curi dari mereka waktu lalu."

"Barang apa itu?" Tanya Vali.

"Barang yang Arthur gunakan untuk mengelap kacamatanya saat terkena cipratan sari buah yang kita makan kemarin. Saat itu kita sedang berteduh dipohon, tak jauh dari sana ada jemuran para penduduk jadi aku mengambil salah satu pakaian dalam disitu dan memberikannya pada Arthur untuk dipakai-,"

Sriing

Perkataan Bikou terhenti saat sebuah pedang melewati atas kepalanya. Beberapa helai rambutnya jatuh menuruni matanya.

Gleek

Melihat itu, Bikou meneguk ludahnya.

"Jadi itu salahmu."

Bikou merasakan aura hitam pekat menguar dari manusia didepannya, sesuatu yang merupakan nafsu membunuh yang hanya ditujukan padanya.

"Kau tahu, berapa lama aku perlu mencuci kacamataku dan berapa macam sabun yang kuperlukan hanya untuk menghilangkan bau yang menempel disini. Rinso, Bukrim, Daia,Boom,Sofell, Sunlight semua tidak bisa menghilangkan baunya." Dengan terus mengumbar nafsu membunuhnya, Arhur tidak sadar bahwa dua dari daftar sabun yang dia katakan terakhir bukanlah sabun, melainkan obat nyamuk dan sabun cuci piring.

"Etoo, Arhur, bisakah kita lakukan ini nanti, adikmu sedang diculik lho."

"Jangan mengalihkan pembicaraan." Suara Arhur terdengar dingin. Dia menatap Bikou dengan tatapan yang juga sama dinginnya. Tak sengaja dia menatap pemuda berambut reven yang berdiri dibelakang Bikou dengan tatapan datar. Wajah itu sangat familiar baginya. "Kau, yang waktu itu."

Sasuke tahu siapa yang Arthur maksud. Waktu hari pertama Sasuke secara nyata berada di dunia ini, dia sempat bertarung dengannya, dan saat itu dia kalah telak karena kekuatannya yang perlahan menghilang. Untung saja saat itu Sona datang bersama kakaknya dan menyelamatkannya.

Sasuke pun membalas Arthur dengan acuh. "Hn."

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Tidak ada. Aku pulang." Mengatakan itu, Sasuke melangkah pergi.

"Teme!" Naruto menahan Sasuke dengan memegang kerah seragamnya. "Kau harus ikut, karena kau yang membiarkan Le Fay diculik."

"Naruto, ini buang-buang waktu. Memang kau tahu kemana kapal itu membawanya pergi?"

"Kalau soal itu tenang saja, nyan. Kapal itu pasti kembali ke tempatnya berlabuh, yakni dipulau tempat mereka tinggal. Kami bisa ke sana dengan menggunakan lingkarang sihir." Ujar Kuroka.

"Begitu." Naruto menekankan kata-kata Kuroka barusan pada Sasuke.

Sasuke memandang Naruto dengan tatapan malas. "Baiklah, terserah."

"Kalau begitu ayo kita pergi!"

"Hn/Um!/Ooh!" Semuanya menyahut serempak dengan perkataan Naruto barusan. Kemudian lingkaran sihir biru hadir di atas dan bawah tempat mereka berdiri.

"Naruto-kun!"

Saat kedua lingkaran sihir itu bergerak untuk bertemu, seseorang masuk dan dia ikut terbawa ke mana mereka berteleportasi.

Sriiing

Mereka sampai disuatu tempat. Yang bisa mereka lihat di sana adalah pohon-pohon lebat yang memiliki kerapatan jarak hingga membuat matahari hanya bisa menembus melalui celah-celah dedaunan.

"Hutan?" Sasuke menyimpulkan apa yang dilihatnya.

"Naruto-kun, kita dimana?"

"KENAPA KAU JUGA IKUT?"

Kini dalam pelukan Naruto, seorang gadis manis yang memiliki rambut pirang twintail memeluknya sambil memasang wajah bingung atas perkataan Naruto barusan. "Dame?" Wajahnya sangatlah imut sampai-sampai membuat suatu perasaan ingin melindunginya muncul dalam hati pria.

"Atarimae darou?!" Sahut Naruto. "Kau sudah ku suruh untuk membawa Dullahan ke tempat yang aman, untuk apa kau mengikutiku?"

"Habisnya," Irina menatap mulai dari Sasuke, Arthur, dan Vali yang mengelilinginya dengan Naruto. "Kau dikelilingi tiga pria tampan, aku takut kau selingkuh."

"MANA MUNGKIN AKU SELINGKUH DENGAN PRIA, BAKA!" Teriak Naruto kesal. "Selain itu, sejak kapan aku menikah dan siapa yang kunikahi?!"

"Naruto-kun, kau tidak peka." Nada Irina terdengar kecil. Saat mengatakan itu, dia menyembunyikan wajahnya di dada Naruto seolah tak ingin Naruto melihat wajahnya.

"Moo! Terserah kaulah, yang lebih penting lagi, pakai bajumu."

Seketika kepala Irina menjauh dari dada Naruto. Dia memperhatikan tubuhnya yang ternyata bertelanjang dada. Mengetahui itu, pipi Irina mulai merona merah. "Naruto-kun , kau mesum!"

Plak!

Satu tamparan Irina layangkan ke pipi Naruto.

"Kenapa hanya aku yang kena?!" Sambil memegang pipinya yang habis di tampar, Naruto berkata dengan nada kasihan.

Irina tidak menjawab. Dia sendiri malah memeluk Naruto dengan pelukan yang lebih erat. "Sembunyikan aku." Ujarnya.

"Wakatta! Wakattayo!" Narutopun terpaksa membalas pelukan Irina untuk menutupi tubuhnya. Naruto saat itu benar-benar merasakannya, dia merasakan dada Irina yang begitu menekan perutnya. Memikirkan itu sempat membuat pipi Naruto memerah. Namun Naruto berusaha mengacuhkan itu, dipikirannya dia ingin segera menyelamatkan Le Fay karena itulah dia ingin Irina segera berhenti merepotkannya. Diapun mengatakan ini pada semua orang. "Kalian berbaliklah, jangan melihat kesini."

"Hn, terserah." Tanpa berbicara lebih banyak Sasuke berbalik, begitupun dengan Arthur dan Vali.

"Naruto-chiin, Jangan nakal ya." Kuroka mengedipkan matanya jahil pada Naruto sebelum akhirnya berbalik.

Saat berbalik matanya menangkap Bikou yang telah menjauh dari kelompok dan berjongkok di bawah pohon dengan aura pundung yang memprihatinkan sambil bergumam. "Tiga pria tampan katanya? Kenapa aku tidak dihitung? Padahal dulu banyak sekali betina yang sangat berharap aku mengencaninya, mana mungkin pria sepertiku tidak tampan."

Kuroka sweatdrop sendiri melihatnya. "Jangan samakan perempuan dengan betina. Dasar primata."

Kembali di tempat Naruto. Naruto yang melihat semua orang telah berbalik, melepaskan pelukannya pada Irina. Dia kemudian melepaskan seragam sekolahnya, meninggalkan kaos hitam polos yang menjadi rangkapannya. "Irina, pakai ini." Tanpa memandang Irina, Naruto menyerahkan kemeja seragam miliknya.

Irina menerima seragam yang diberikan Naruto lalu memakainya.

"Apa sudah selesai?" Naruto mencoba memastikan sebelum membuka matanya.

"Um!"

Mendapat konfirmasi, Narutopun membuka matanya. "Kalian juga boleh berbalik." Ujar Naruto pada semua orang.

"Jadi bagaimana selanjutnya?" Tanya Sasuke.

Vali yang merupakan pemimpin kelompok, menjawab Sasuke. "Kita akan pergi kepusat pulau. Mereka pasti membawa sandera di sana." Semuanya mengangguk dengan perkataan Vali, kecuali Irina yang memang belum tahu apa-apa.

"Tapi, sebelum itu." Naruto angkat bicara sambil mengambil satu langkah ke depan agar semua orang memperhatikan. Dia kemudian melanjutkan. "Dari sini kita membutuhkan rencana. Tapi pertama-tama kita harus menyamar."

Semuanya mengangguk setuju pada perkataan Naruto barusan. Mereka kini sudah tidak mempedulikan status mereka sebagai lawan. Mereka sama-sama punya satu tujuan yang ingin mereka selesaikan.

.

.

.

TBC

Entah kenapa aku membuat arc seperti ini?! Dan entah kenapa aku tidak bisa menjawabnya sendiri?! Dan entah kenapa aku bertanya pada pembaca sekalian yang sudah pasti tidak tahu. Dan entah kenapa aku menulis A/N ini.

Tunggu, itu sudah keterlaluan -_-

Yah maaf untuk pembuka A/N yang diatas. Seharusnya aku menyapa dulu karena tiba-tiba nongol begini.

Yo semuanya, aku kembali dengan account name perdamaian yang baru!

Kini, EL NiiJyuuSan telah berevolusi menajdi EL23(apa bedanya coba?!)

Bersama kelahiran mesin perdamaian yang baru yakni Justice dan Freedom, aku akan mendamaikan galaksi.

Tunggu, itu sudah keluar jalur.

Maafkan aku, mungkin ini efek dari bangun tidur. Dan semoga fic ini tidak kena efeknya juga, karena setelah aku bangun tidur kayak kebo jam 9 lalu, Aku langsung memanfaatkan waktu menganggur itu untuk melanjutkan fic ini yang semula masih 2K kurang menjadi 5,5K.

Sumpah ini tadi ngebut banget. Aku benar-benar menggunakan kesepuluh jariku untuk hari ini dan menurutku chapter ini banyak scen yang dipaksakan. Tapi semoga hal itu tidak mengurangi feel yang di dapat.

Try out ku telah usai, dan hasilnya buruk banget! Apalagi untuk matematika yang dapat nilai 30! Itu bahkan tidak lebih dari ukuran celanaku!

Tapi semoga ujian yang sesugguhnya nilainya bisa menjadi baik. Do'a kan ya!

Um, langsung saja aku buat ke balesan review chapter kemarin :

Ai no Est : hahaha, ok. Ternyata kemarin masih bisa disebut humor ya. Syukurlah kalau begitu. Ok, terima kasih udah mau review.

Sadayana : Ok, terima kasih udah mau review.

Iwas : hahaha, aku tahu kok. Nyantai aja, kamu bebas kok berpendapat, aku disini siap menerimanya, tapi tetap harus aku saring dulu sebelum benar-benar kuterima, kalau memang bisa diterima pasti bakal aku kabulkan. Terima kasih udah mau review dan baca fic ini.

Bolt : karena edo tensei hanya bisa menghidupkan orang yang benar-benar telah mati, sedangkan para shinobi yang ada dikomik Naruto itu tidak pernah mati, bahkan hidup aja tidak pernah, mereka disini hanyalah karangan fiksi seseorang. Begitupun dengan gedo rinne tensei no jutsu. Masih, semua bijuu ada pada tubuh Naruto. Terima kasih udah mau review.

Rook lee : oooh (y), berkobarlah sampai gosong :D terima kasih udah mau review.

MATA : haha, sepertinya anda tidak menerapkan prinsip kocok dulu sebelum minum dengan benar makanya seperti itu hahaha. Terima kasih udah mau review.

Femix : hahaha sangkyuu. Haha dinikmati aja, lagian pair itu bukanlah pair sesungguhnya. Ada, dia tetap polos seperti biasa. Terima kasih udah mau review.

Dsaa : haduh, itu sudah jelas banget. Kau kenal sama frieza? Dia membabat habis planet Seiya beserta makluk-makluk isinya hanya dengan jari telunjuknya sambil tertawa hahahaha. Itu jelas jauh berbeda dengan Naruto yang harus masuk dulu dalam perubahan Six Paths Budha Mode dan menggunakan kekkai genkai tertentu untuk melepaskan serangan penghancur planetnya. Tapi menurutku tetap chara DB masih kalah dengan chara paling favoritku yakni Uchiha Itachi. Andai saja mangenkyuu milikyanya itu abadi, aku yakin tak ada chara anime apapun yang bisa mengalahkannya, kecuali chara yang punya kemampuan seperti Light Yagami dan semacamnya. Maaf kalau membuat kontra, tapi aku harap ini tidak menimbulkan perdebatan. Terima kasih udah mau review.

Yo bro : wah, entahlah. Aku belum tahu enaknya Ophis diajak percintaan pa nggak. Ditunggu aja. Terima kasih udah mau review.

Syafiq : hahaha ok sangkyuu. Terima kasih udah mau review.

Rock lee : oooh (y). Terima kasih udah mau review lagi.

Swendisch : ahahaha, segitunya ya. Thanks banget.

Hmm, yah gapapa, lagian ini semuanya udah kuatur dengan baik. Terima kasih udah mau review.

Guest : Um, terima kasih udah mau review.

Bayu : ahahaha segitunya ya. Hmm chapter ini nggak aku buat humor, tapi yah semoga yang chapter ini cukup menghibur. Terima kasih udah mau review.

Rico : Kalau emank dianya punya niat mendirikan harem, aku juga setuju dia memiliki kesan seorang *****. Tapi sayangnya Sona tak ada niat sama sekali untuk itu, orang-orang sendiri yang jatuh cinta padanya, apa dayanya dia akan hal itu. Terima kasih udah mau review

fullbuster : Um, ok. Saranmu sudah aku terima dan sudah ada rencana. Terima kasih udah mau review.

Guest : Yap, salah satunya pair Sona adalah Naruto juga. Terima kasih udah mau review

None : sekarang.

Hmm, gak tau yah, soalnya aku udah dipenghujung kelas tiga dan aku nulis kalau ada waktu laung doank. Terima kasih udah mau review.

Bayu : Ahaha gomen. Tapi nih udah lanjut, yah gak tahu nih kedepannya bakal lama pa nggak.

Iya, betul sekali, persaingan. Terima kasih udah mau review.

.

Yosh, review udah aku balas. Dan kalian yang ingin bertanya langsung aja tanyakan dikolom review atau pm di akun ini. Dan juga selain pertanyaan, berikan pendapat kalian tentang chapter ini, keluarkan semua isi pikiran kalian tentang tulisanku. Aku menerima semuanya meskipun itu keluhan, tapi harus beralasan.

Dan walah kecepetan, aku ucapin selamat Imlek yang ke-2567!

8910

Abaikan yang diatas. Terima kasih untuk kalian yang telah membaca fic ini, dan terima kasih sangat untuk yang sudah mengapresiasikannya berupa review,Fav, ataupun Foll. Semua itu sangat membuat saya tersanjung dan bersemangat, dan pasti karena itulah saya pasti akan melanjutkan fic ini.

Sampai jumpa dichapter depan.