137darkpinku Present

KYUMIN FANFICTION

.

Eloquent Silence

.

Warning : Genderswitch , Typo(s) , kosa kata yang berantakan

Disclaimer : Remake Novel karya Sandra Brown dengan judul yang sama.

.

Don't Like? Just Don't Read ^^

.

.

enJOY it !

.

.


Bab Sepuluh

Sungmin duduk di meja makan untuk sarapan bersama orangtuanya, Kyuhyun, dan Minhyun. Jaejoong berkeras membuatkan sarapan bermacam-macam untuk menghormati si pengantin baru. Untuk alasan itu saja Sungmin sudah merasa bersalah.

Jaejoong bercerita penuh semangat pada mereka tentang keluarga Kibum, menunjukkan foto-foto kedua putranya, yang dengan patuh diamati Kyuhyun. Dia menceritakan pada Kyuhyun kisah-kisah lucu masa kecil Sungmin yang membuat anaknya tersipu-sipu dan pria itu tertawa.

Kalau saja tidak mengenal sifat pria itu, Sungmin pasti mengira Kyuhyun menikmati semua ini. Pria itu bersikap seperti menantu baru yang ingin sekali menyenangkan keluarga mempelainya.

Kyuhyun memuji ibu Sungmin dan mendengarkan cerita ayah Sungmin yang membosankan dengan penuh perhatian.

Karena desakan mereka, Kyuhyun mengungkapkan gosip-gosip seputar sinetronnya. Jaejoong ingin tahu tentang semua kisah cinta di balik layar, siapa yang menikah, siapa yang tidak. Apakah aktris ini aslinya secantik di film? Apakah mereka boleh memiliki pakaian yang mereka kenakan? Siapa yang memasak makanan yang mereka pakai di setting? Dan seterusnya. Kyuhyun menjawab semuanya dengan sabar, bahkan membumbui beberapa ceritanya supaya lebih seru.

Percakapan mereka dilakukan dalam bahasa isyarat untuk melibatkan Minhyun, meskipun mereka tahu tidak semuanya dipahami anak itu. Karena Kibum, suami-istri Lee biasa memakai bahasa isyarat dan secara otomatis menggunakannya. Minhyun segera menerima mereka, dan orangtua Sungmin pun membalasnya.

Jika Minhyun punya kakek-nenek lain, Sungmin tidak mengetahuinya. Orangtua Kyuhyun sudah meninggal.

Sangat sedikit yang diketahuinya tentang Chegmin sehingga dia tidak tahu apakah orangtua wanita itu pernah melihat cucu mereka atau tidak.

Kyuhyun berkeras membantu Jaejoong mencuci piring-piring bekas sarapan sementara Sungmin membereskan tempat tidur. Yunho pergi ke ruang tamu untuk membaca koran. Minhyun duduk di pangkuannya dan melihat-lihat komik.

Sungmin pergi ke atas untuk melakukan tugas-tugas paginya. Tenggorokannya terasa seperti tercekik dan dengan susah payah dia menahan air mata yang membasahi matanya. Alangkah indahnya jika semua ini memang nyata. Tapi ini hanya pura-pura, kebohongan.

Kyuhyun mengerahkan segenap kemampuan beraktingnya untuk peran sulit ini dan tampil dengan cemerlang. Dia berhak bangga pada dirinya sendiri.

Merapikan tempat tidur besar yang semalam mereka tiduri membangkitkan kenangan-kenangan yang terpatri dalam ingatannya. Sikap Kyuhyun mesra dan lembut, dan seumur hidup tidak pernah Sungmin menanggapi pria seperti dia menanggapi pria itu.

Pada malam pengantinnya dulu Sungmin naik ke tempat tidur Jungmo dalam keadaan perawan. Dengan bimbingan tidak sabar pria itu, pengalaman bercinta pertamanya tidak menyenangkan, tapi waktu itu dia berasumsi orang terlalu melebih-lebihkan seks. Apakah seks kehilangan daya tariknya karena harapan yang terlalu tinggi? Apakah keadaan yang sebenarnya meredup akibat antisipasi yang berlebihan?

Disingkirkannya pikiran-pikiran yang seakan meremas-remas hatinya itu, lalu cepat-cepat berganti pakaian, dan pergi ke bawah.

Minhyun tidak suka ketika harus turun dari pangkuan Yunho dan mengikuti Sungmin ke kelas. Sungmin berkeras mereka belajar hari ini karena kemarin waktu pergi ke pusat kota mereka tidak belajar. Betulkah itu kemarin?

Yunho membuat murid yang ogah-ogahan itu lebih bersemangat dengan meminta izin untuk ikut belajar.

Sungmin setuju, tahu ayahnya dulu berpartisipasi dalam pendidikan Kibum dan akan membantunya menangani Minhyun.

Kyuhyun bertanya pada Jaejoong apakah wanita itu ingin melihat-lihat kota dan Jaejoong senang dengan tawarannya.

Mereka pergi setelah berjanji akan kembali saat makan siang.


.

.

.


Makan siang ternyata lebih meriah dan rileks daripada sarapan. Semua orang merasa gembira, kecuali Sungmin.

Dia diliputi perasaan bersalah karena kebohongan ini, yang tidak berusaha diungkapkannya. Ini tidak boleh diteruskan! Tapi bagaimana cara menghentikannya?

Alisnya berkerut karena pikirannya yang galau, dan ketika Kyuhyun menatap matanya, wajah pria itu tampak bingung. Kau seperti tidak tahu masalahku saja, pikir Sungmin sambil memandangnya tajam.

"Kau pernah memancing di salah satu sungai itu, Kyuhyun?" tanya Yunho, membuyarkan pikiran-pikiran marah putrinya. "Ya, Abeoji. Kau ingin memancing sebentar siang ini?"

"Aku tidak membawa pakaian yang cocok, walaupun aku pasti akan menyukainya." Suaranya menunjukkan kekecewaannya.

"Kita tidak usah seserius itu," Kyuhyun tertawa. "Kita kan bisa berdiri di tepi dan melemparkan kail dari sana. Bagaimana?" Senyum Kyuhyun amat memikat dan Sungmin jengkel pria itu bisa menangani situasi ini begitu gampang sementara dia gelisah dan bingung.

"Kenapa tidak, Sayang?" komentar ibunya. "Kau akan sibuk ikut konferensi tiga hari yang akan datang. Udara pegunungan ini baik untukmu."

Yunho mengusap-usap hidung dengan ibu jari dan telunjuk ketika berusaha memutuskan. Matanya memandang Minhyun. Dia mengulurkan tangan dan menepuk-nepuk kepala anak itu. "Aku mau asal Minhyun ikut dengan kami," katanya. 'Kau mau pergi?' Dia mengisyaratkan.

Anak itu memandang Sungmin penuh semangat. Seperti anak-anak lain, dia tahu persis kata pergi. 'Pergi ke mana, Sungmin?' tanyanya, secepat tangannya bisa bergerak.

'Pergi memancing', Sungmin menjelaskan, tapi dia tahu dari tatapan bingung Minhyun bahwa anak itu tidak memahami kata yang terakhir.

"Ikutlah, Sungmin. Acara ini akan jadi pelajaran yang bagus untuknya," kata Kyuhyun.

"Tidak, aku harus tinggal di sini bersama Ib—"

"Jangan tinggal karena aku," Jaejoong cepat-cepat menukas, memotong omongannya. "Aku akan merajut, setelah itu rasanya aku ingin tidur sebentar. Karena telepon di rumah selalu berdering, aku jarang punya kesempatan untuk tidur siang."

"Kalau begitu semua beres," kata Kyuhyun, seraya berdiri.

"Ayo, Abeoji, mari kita periksa peralatan. Semua disimpan di gudang belakang."

Yunho tidak perlu diajak dua kali, dia bergegas mengikuti Kyuhyun, dan Minhyun membuntuti mereka.

"Sungmin sayang, sebaiknya kau berganti pakaian. Biar aku saja yang mencuci piring," kata Jaejoong sambil mulai membersihkan meja.

"Oke," kata Sungmin lesu. Situasi berkembang di luar kontrol, dan dia tidak berdaya menghentikannya.

Dia lalu mengenakan jinsnya yang paling tua, dan sepatu yang tidak akan rusak karena lumpur. Dia mengambil jaket untuk Minhyun dan dirinya sendiri, mengumpulkan beberapa selimut lama, dan pergi ke bawah. Jaejoong sudah memasukkan kue-kue, buah-buahan, dan minuman dingin, juga setermos kopi ke dalam tas besar.

"Ibu, kami kan cuma pergi sekitar satu jam," protes Sungmin.

"Aku tahu. Tapi kau juga tahu bagaimana laparnya orang kalau berada di alam terbuka," Jaejoong membela diri. "Ibu yakin tidak apa-apa sendirian?" tanya Sungmin.

"Ya Tuhan, ya! Aku malah akan menikmati kesendirianku." Mereka berempat melambaikan tangan padanya sambil berjalan kaki ke arah kaki bukit dengan dipimpin Kyuhyun. Pria itu membawa sebagian besar peralatan memancing, tapi karena Yunho ngotot ingin membawa juga, dia kebagian selimut dan keranjang berisi umpan ikan.

Minhyun memegang keranjang anyaman kecil dan Bunny, sedangkan Sungmin menenteng tas berisi makanan yang disediakan ibunya.

Tidak sulit untuk menemukan tempat memancing yang menyenangkan. Kaki bukit bagai menyala dengan pepohonan aspen keemasan. Daun-daun yang berguguran berkeresak di bawah kaki waktu mereka berjalan menerobos hutan. Sungai yang dipilih Kyuhyun berdeguk dari pegunungan dan berkilauan disinari cahaya matahari sementara airnya yang sebening Kristal berdesir di atas bebatuan yang terhampar di dasar sungai.

Kedua pria itu asyik memancing, meskipun seperti kata Kyuhyun tadi, mereka tidak terlalu serius melakukannya.

Mereka menikmati acara ini dengan melemparkan tali pancing ke sungai dan menggulungnya. Hanya beberapa kali ikan kecil terkait di kail mereka, dan ikan-ikan ini pun mereka lemparkan kembali ke sungai begitu Minhyun selesai mengamatinya dengan hati-hati.

Anak itu haus ilmu pengetahuan. Dia menanyakan nama segala macam hal pada Sungmin, dan gurunya harus bekerja keras untuk memuaskan rasa ingin tahunya yang tak ada habis-habisnya.

Acara memancing ini menarik minatnya, tapi waktu Sungmin menjelaskan bahwa ikan-ikannya biasanya diawetkan dan dimakan, bibir bawahnya mulai bergetar, dan Sungmin buru-buru mengalihkan perhatian anak itu ke tingkah tupai yang melompat dari pohon ke pohon. Mereka belajar tentang dari mana asal makanan, tapi rupanya melihat makanan dalam keadaan hidup membuat hati gadis kecil itu terenyuh.

Mereka akan membicarakannya di lain waktu kalau Minhyun tidak seemosional sekarang.

Para pria bergabung dengan mereka untuk menikmati makanan kecil dan beristirahat di atas selimut-selimut, yang untung tadi dibawa Sungmin. Ketika Kyuhyun berdiri dan berjalan kembali ke arah sungai, Yunho berkata, "Kurasa untukku sudah cukup. Bagaimana kalau kubawa Minhyun pulang, dan kami akan membaca buku atau melakukan sesuatu yang tidak terlalu melelahkan."

"Aku ikut," kata Sungmin cepat.

"Tidak, tidak," tukas ayahnya. "Aku tahu jalan kok, lagi pula aku ingin bersama cucuku. Kau tinggal di sini dengan suamimu. Aku belum lupa bahwa kalian sedang berbulan madu. Aku tahu kapan harus menyingkir."

Yunho mengedipkan sebelah mata pada Kyuhyun, yang menanggapi dengan cengiran jail. Ingin sekali Sungmin menamparnya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain setuju untuk berduaan dengannya di hutan ini. Dia sengaja pelan-pelan mengancingkan sweater Minhyun, memperlama kepergian mereka. Yunho menerangkan soal daun-daun di musim gugur ketika mereka berjalan di antara pepohonan dan meninggalkan Sungmin dengan Kyuhyun.

"Menyenangkan, bukan?" kata pria itu, bergeser mendekatinya di atas selimut. "Ayo kita bergulung di balik selimut."

Sungmin mengusirnya dengan mendorong bahunya. "Jangan sok manis dan lucu denganku. Kau boleh berhenti berakting sekarang. Di sini tidak ada lagi orang menonton aktingmu yang menakjubkan sebagai pengantin dimabuk asmara. Jangan ganggu aku."

"Aku betul-betul membuatmu kesal, ya?" Wajah Kyuhyun terlalu dekat.

"Ya, betul!" sembur Sungmin.

"Sebaiknya kau berhati-hati," Kyuhyun memperingatkan dengan suara berirama dan menggoyang-goyang telunjuknya di depan batang hidung Sungmin. "Itu berbahaya."

"Bicara apa kau ini?"

Dicengkeramnya rahang Sungmin dengan jari-jari yang kuat dan dipaksanya wanita itu memandangnya. Ditariknya wajah wanita itu makin dekat. Dengan suara sangat pelan Kyuhyun berbisik, "Kalau kau tidak begitu bernafsu padaku, tidak mungkin aku bisa membuatmu semarah ini." Sebelum Sungmin dapat membalas omongannya, pria itu menciumnya dengan ganas dan cepat, lalu melompat berdiri.

Sungmin duduk di atas selimut dan mengamati ketika pria itu berjalan santai kembali ke pinggir sungai dan memungut alat pancingnya. Dalam hati Sungmin marah sekali, tapi kata-kata Kyuhyun benar.

Kenapa ia menyiksa dirinya sendiri?

Kemarahan hanya salah satu dari sekian banyak emosi yang dibangkitkan pria itu, dan dia terlalu gampang dan sering menunjukkan semuanya padanya.

Dengan gaya pura-pura tidak peduli, Sungmin berbalik dari Kyuhyun dan berbaring di atas selimut. Ia berbaring telentang, sehingga bisa merasakan hangatnya sinar matahari yang menyirami wajahnya. Dipejamkannya matanya supaya tidak silau karena cahaya terangnya.

Kyuhyun tidak mungkin tahu bahwa dia menikmati kenangan setiap ciuman, setiap sentuhan. Pria itu tidak mungkin tahu bahwa jantungnya berdebar-debar setiap dia memikirkan pagi itu ketika berbaring telanjang di bawah tangan dan bibirnya yang lihai. Tangannya... bibirnya... matanya.

Sungmin tersentak bangun ketika sesuatu menggelitik telinganya. Dia berusaha menepisnya, tapi tangan Kyuhyun mencengkeram pergelangan tangannya dan menahan tangannya di dada sementara pria itu melanjutkan menciumi telinganya. Bibirnya bergerak menyusuri leher Sungmin, menghujaninya dengan ciuman-ciuman singkat dan ringan yang membuatnya merasa melayang-layang.

Pria itu berbaring telungkup, tubuhnya memanjang di belakang kepala Sungmin sehingga mereka membentuk garis lurus dengan kepala saling bertemu.

Disingkapkannya kerah kemeja wanita itu supaya dia bisa leluasa menciumi lehernya. Tak sadar Sungmin melengkungkan leher dan memberikan lebih banyak ruang untuk dijelajahinya. Akhirnya Kyuhyun mengangkat kepala dan menatapnya.

"Membangunkanmu lama-lama jadi kebiasaanku. Terbalik begini pun kau luar biasa cantik," kata Kyuhyun.

"Dan kau pembohong. Aku berantakan. Aku selalu berantakan kalau baru bangun."

"Tidak benar," bantah Kyuhyun mesra. "Aku menganggapmu luar biasa cantik pada hari pertama aku melihatmu berdiri dengan tampang ketakutan tapi tidak gentar di samping meja perlengkapan syuting."

Sungmin tertawa, teringat. "Kau jahat pada wanita itu. Kau jahat padanya hari itu ketika mengatakan dia terasa seperti pizza anchovy"

"Aku tidak pernah mengatakan hal sejahat itu!" Kyuhyun kedengaran tersinggung.

"Jelas pernah. Si sutradara sampai harus—" Dia terdiam waktu melihat pria itu ternyata cuma menggodanya.

Mereka berdua tertawa. "Aku bisa melihat kapan orang sulit mencium seseorang yang tidak disukainya padahal harus membuatnya tampak sungguh-sungguh. Aku tidak pernah mengerti bagaimana para aktor melakukannya."

"Oh, kau bisa mempelajarinya di pelajaran Dasar-dasar Mencium," kata Kyuhyun. "Itu pelajaran wajib di sekolah akting."

"Oh, ya?" tanya Sungmin naif.

"Tentu," jawab Kyuhyun seenaknya. "Sini, duduklah sebentar."

Sungmin duduk, dan mereka berhadap-hadapan di atas selimut.

"Nah," pria itu bicara dengan nada profesional, "ciuman pertama yang kau pelajari adalah ciuman sekadarnya yang dilakukan suami sembrono atau tak pedulian. Biasanya tidak betul-betul kena. Seperti ini." Dia mendemonstrasikan dengan mencium udara di dekat pelipis Sungmin.

"Atau seperti ini," katanya, dengan ringan menyapu pipinya sebelum cepat-cepat memalingkan kepala. "Ciuman itu bisa dilakukan dengan sedikit lebih berperasaan untuk menyambut bibi yang masih gadis waktu ada reuni keluarga atau menyambut teman akrab keluarga."

"Kau tidak main-main?" Sungmin bertanya datar.

"Tidak. Kami diuji melakukan ciuman itu."

"Ujian mencium?" tanya Sungmin heran.

"Aku dapat nilai sempurna."

"Aku yakin begitu." Cibir Sungmin.

"Bisa kita lanjutkan pelajarannya?" Kyuhyun bertanya kesal. Sungmin mengangguk.

"Ada ciuman yang terburu-buru dan brutal. Biasanya timbul karena emosi kuat seperti ketakutan atau kemarahan atau keputusasaan. Ciumannya seperti ini." Jari-jarinya menghunjam lengan atas Sungmin, dan wanita itu tenggelam dalam pelukannya ketika dia menciumnya dengan kasar.

Sungmin terpana ketika pria itu mendorongnya menjauh.

"Mengerti maksudku? Mulut selalu tertutup dalam ciuman itu," kata Kyuhyun mantap.

"Untung saja," gumam Sungmin sambil dengan hati-hati menyentuh bibirnya yang barusan dilumat pria itu.

"Ciuman yang paling penting, tentu saja, adalah ciuman sepasang kekasih," dengan tenang Kyuhyun melanjutkan.

"Butuh latihan berjam-jam supaya sempurna. Ciuman itu harus meyakinkan. Semua penonton harus bisa merasakannya. Si aktor biasanya memeluk si gadis seperti ini."

Dipeluknya Sungmin dengan hangat. "Lalu bibirnya berhenti di atas bibir gadis itu sampai penonton menahan napas menunggu bibir mereka bersentuhan. Lalu si actor—" Dia tidak menyelesaikan kalimatnya karena bibirnya telah mencium bibir Sungmin.

Semangat Sungmin bangkit untuk mengikuti permainan ini, Sungmin mengangkat tangan dan memeluk leher pria itu. Kyuhyun menciumnya tapi tidak meningkatkan intensitasnya.

Pria itu mengangkat kepala dan menatapnya dengan mata onyxnya, yang lurus-lurus menghunjam mata Sungmin. Suaranya parau. "Kemudian ada ciuman yang tanpa ragu mengatakan, 'Mari kita akhiri omong kosong ini dan langsung ke pokok masalah.' Ciumannya seperti ini."

Dia bersandar di tubuh Sungmin sampai wanita itu telentang di selimut karena ditindih tubuhnya yang tegap. Lidahnya menjilat sudut mulutnya dan membelai bibir bawah sebelum menjelajahi rongga mulutnya.

Sungmin membalas ciumannya dengan sama panasnya, menggoda, dan menyelidik sampai mereka memisahkan diri dan terengah-engah karena kehabisan napas.

"Kau bukan cuma murid Dasar-dasar Mencium yang pandai, tapi juga guru yang hebat," kata Sungmin dengan suara bergetar.

"Hanya kalau mengajari murid-murid paling berbakat," pria itu nyengir.

Sungmin menyusupkan jari-jarinya di antara helai-helai cokelat rambut Kyuhyun. "Dan sudah berapa orang muridmu?" dia bertanya cemburu.

"Ribuan, paling tidak." Ditelusurinya bibir wanita itu dengan jari yang provokatif. "Ketika sedang belajar akting, Chengmin—"

Jarinya menghentikan siksaan mesranya, dan nama itu menggantung di antara mereka, tidak tampak namun sangat berpengaruh. Di mata onyx yang tadi lembut dan hangat tampak tatapan keras dan dingin. Selama detik-detik yang penuh ketegangan, mereka berbaring tak bergerak sedikit pun. Lalu Kyuhyun bergeser.

"Mungkin sebaiknya kita pulang sekarang," katanya, bergerak bangun.

Sungmin tidak mampu menjawab. Tenggorokannya yang bagai tercekik tak sanggup mengeluarkan suara sepelan apa pun. Dia mengangguk setuju.

Mereka mengemasi barang-barang dalam keheningan.

Hilang sudah semua kegembiraan tadi, Sungmin merasa tenggelam dalam kegelapan. Chengmin. Selalu Chengmin.

Mereka menyusuri jalan setapak yang tertutup dedaunan menuju rumah. Kyuhyun berusaha memulai pembicaraan, tapi ketika merasakan suasana hati Sungmin, dia menyerah.

Ketika mendekati rumah, mereka melihat ada sebuah mobil asing. Mobil itu diparkir di samping Mercedes dan mobil sewaan suami-istri Lee.

"Siapa, ya?" tanya Kyuhyun sementara mereka berjalan di trotoar.

"Entah. Itu bukan mobil Ryeowook."

Kyuhyun membuka pintu dan menyilakannya masuk. Sungmin disambut kilatan lampu blitz kamera. Terperanjat dan sesaat tak bisa melibat apa pun akibat cahaya terang itu, dia tersentak mundur dan bersandar di dada tegap Kyuhyun. Lengan pria itu secara refleks memeluk pinggangnya. "Apa-apaan ini?" serunya.

Blitz kamera menyambar lagi. "Cukup dulu untuk sekarang, Nak. Biarkan mereka masuk ke rumah," tegur Yunho.

Setelah mata mereka menyesuaikan dengan bagian dalam rumah yang temaram, dan titik-titik ungu terang di hadapan mereka telah memudar jadi kuning pucat, barulah Sungmin dan Kyuhyun dapat melihat pria muda yang memegang kamera itu. Dia memakai jins dan sepatu lari, dipasangkan asal-asalan dengan jaket sport, kemeja sport, dan dasi.

"Hai, Tuan Guixian. Saya Shim Changmin dari majalah Top Issue. Wow, ini hebat sekali!" Dia mengangguk-ngangguk dengan gembira.

Sungmin tidak bisa membayangkan mengapa pria muda ini berada di sini bersama orangtuanya dan Minhyun, yang duduk di pangkuan Yunho dan mengamati situasi dengan penuh minat. Tapi Sungmin tahu nama penerbitan yang disebutkan Shim Changmin tadi. Itu nama majalah mingguan yang dijual berjuta-juta copy di berbagai toko di seluruh negeri. Judul-judul berita majalah itu sensasional, berita-beritanya miring, sering merugikan subjek berita mereka. Para editornya menyukai kebocoran skandal dan rahasia, serta gosip-gosip. Apa yang dilakukannya di sini?

Ketika pria penuh semangat itu mengarahkan kamera lagi, Kyuhyun berkata galak, "Tolong singkirkan—" dia tidak jadi mengucapkan kata itu setelah melirik cepat Yunho dan Jaejoong "—tolong singkirkan kameramu dan beritahu aku apa yang kau lakukan di rumahku."

Untuk pertama kalinya semangat Shim Changmin berkurang sedikit.

"Saya… yah, Tuan, sudah berminggu-minggu saya mencari Anda. Orang-orang ribut berspekulasi tentang sebab Anda tidak berada di lokasi syuting The Hearts Answer. Produser atau sutradara itu atau apa pun jabatannya, dia tidak mau mengatakan apa-apa. Dia sebisu patung. Saya akhirnya berhasil mengorek informasi dari juru kamera bahwa Anda pergi ke Mokpo untuk menghabiskan waktu bersama putri Anda. Saya melacak jejak Anda, bandara, mobil sewaan, hal-hal semacam itu dan menemukan Anda di sini hari ini."

"Well, karena sudah menemukan aku, apa yang ingin kau ketahui?" Kyuhyun sudah lama mengetahui bahwa para reporter media sensasional ini bisa ulet sekali dan bahwa, jika tidak dituruti, mereka bisa berbuat keji.

"Yah, Anda harus mengakui bahwa berita tentang pernikahan Anda akan membuat para wanita menangis sampai terkencing-kencing!" Dia nyengir, tapi Kyuhyun hanya menatapnya tanpa ekspresi. Sadar omongannya keterlaluan, pemuda itu menelan ludah dan bergumam, "Maaf," pada Jaejoong dan Sungmin.

Sungmin tak habis pikir. Bagaimana ini bisa terjadi?

Kyuhyun pasti akan membantah soal hubungan mereka, tapi apa yang akan dikatakannya pada orangtuanya?

Jaejoong berdiri dan mendekati Kyuhyun, memegang lengannya untuk menyabarkannya. "Kyuhyun, kuharap kau tidak marah padaku. Dia datang ke rumah ini tidak lama setelah kalian pergi. Dia bicara begitu cepat dan mengajukan begitu banyak pertanyaan sehingga tanpa sadar aku mengungkapkan fakta bahwa kau dan Sungmin telah menikah. Aku tahu kau pernah bilang ingin merahasiakannya dulu." Suaranya mulai bergetar. "Aku minta maaf—"

"Sudah, sudah," kata Kyuhyun sambil mengitari Sungmin dan memegang bahu Jaejoong supaya wanita itu tenang. "Aku tahu bagaimana kelakuan reporter kalau mencium adanya berita eksklusif. Anda membuatku tidak perlu repot-repot memberitahu pers."

Jika sebelum saat ini dia tidak mencintainya, maka sekarang Sungmin mencintainya. Kyuhyun bisa saja memarahi ibunya, karena di balik sikap tenang itu, dia tahu pria itu pasti marah besar karena perkembangan ini.

Shim Changmin tampak lega melihat sikap santai Kyuhyun dan berkata, "Jika saya boleh berkomentar, Anda menikahi wanita yang cantik, Tuan Guixian." Dia mengedipkan mata pada Sungmin, yang masih belum sanggup bereaksi terhadap apa yang tengah terjadi.

"Kau boleh berkomentar, tapi jangan disebarluaskan," geram Kyuhyun, dan mengerutkan alis untuk memperingatkan.

"Aku ingin memilikinya untuk diriku sendiri dulu." Dia menggunakan kemampuan aktingnya lagi. Reporter muda yang berani itu sekarang sudah takluk padanya.

"Kurasa kau sudah bertemu orangtua istriku?" kata Kyuhyun sopan. Changmin mengangguk. "Dan ini putriku, Minhyun." Kyuhyun menggendong anak kecil itu dan menepuk punggungnya dengan penuh kasih sayang.

"Kami semua tahu Anda punya anak, tapi Anda selalu menjauhkan kami darinya. Apakah karena dia tuli?"

Sungmin terkesiap dan mengira Kyuhyun akan menghajar reporter itu. Ternyata dia cuma melihat otot di rahang pria itu berdenyut ketika menjawab tenang, "Tidak. Aku ingin melindunginya dari orang-orang pers yang tidak sesensitif kau, Tuan Shim. Aku memasukkannya ke sekolah swasta berasrama bukan karena malu."

Reporter itu menjilat bibir dengan gugup dan berkata, "Wah, Tuan Guixian. Saya tidak… maksud saya—"

"Bilang halo pada Changmin," kata Kyuhyun, memotong perkataan terbata-bata si reporter sambil mengisyaratkan perintahnya pada Minhyun.

Minhyun menurut, melontarkan senyum manis yang memikat semua orang yang melihatnya.

Changmin bertanya, "Bagaimana cara saya bilang hai juga?"

Kyuhyun menunjukkannya, dan Minhyun tertawa waktu pria itu dengan kaku mengisyaratkannya. 'Duduklah di samping Harabeoji', Kyuhyun mengatakannya dalam bahasa isyarat setelah menurunkan Minhyun di sebelahnya dan menepuk bokongnya ketika anak itu mematuhi perintahnya. Waktu berdiri tegak lagi, dia berkata, "Dan ini Sungmin. Dia guru Minhyun." Dia pindah ke samping Sungmin dan memeluk pinggangnya dengan posesif, menarik wanita itu ke dekatnya.

"Wow. Bisa Anda beritahu saya bagaimana kalian bertemu?"

Kyuhyun membumbui ceritanya habis-habisan, tapi begitu lancar dan penuh perasaan ketika mengisahkannya sehingga Sungmin sendiri jadi hampir mempercayai kebohongannya.

Setelah Kyuhyun selesai bicara, reporter itu bertanya, "Boleh saya memotret lagi?"

"Sebentar saja, lalu aku harus memintamu pergi. Orangtua Sungmin akan pergi ke pusat kota hari ini, dan kami ingin bersama mereka selama mungkin."

"Yeah, tentu. Terserah apa kata Anda." Karena sekarang sudah punya berita besar, Shim Changmin mendadak jadi penurut.

Selama beberapa menit berikutnya Sungmin merasa tersiksa ketika difoto bersama Kyuhyun, lalu bersama Minhyun. Dia merasa konyol karena bersandiwara seperti ini dan risau memikirkan cara mengoreksi akibat yang ditimbulkan berita ini.

Tepat ketika si reporter tengah mengemasi peralatannya, Kim Ryeowook berlari memasuki ruangan dari dapur. "Ada apa, Sungmin?" tanyanya heboh seperti biasa. "Aku melihat mobil asing di jalan masuk." Tadinya Sungmin bersyukur Ryeowook pergi mengunjungi keluarganya selama beberapa hari. Dia jadi tidak perlu memperkenalkan wanita itu pada orangtuanya, yang dalam situasi seperti sekarang, bisa menimbulkan kekacauan.

Saat ini, ketika Ryeowook memandangnya dengan mata bulat berbinar-binar sambil nyengir gembira campur penasaran, rasanya Sungmin seperti berada dalam mimpi buruk yang tak pernah berakhir. Apa lagi yang bisa terjadi? Seolah menjawab pertanyaannya, anak-anak Ryeowook berlari memasuki ruangan bagai tornado mini dan menyerbu Minhyun, yang sama riangnya dalam menyambut teman-temannya.

"Siapa orang-orang ini?" tanya Ryeowook di antara jeritan anak-anak.

Kyuhyun mengangkat tangan pasrah dan tertawa keras.

Yunho dan Jaejoong berdiri dan mendatangi Ryeowook untuk memperkenalkan diri. Suasana tambah kacau ketika cahaya blitz menyambar-nyambar karena Changmin sibuk memotret mereka.

"Orangtua Sungmin?" Sungmin mendengar Ryeowook berseru.

"Wah, senang berkenalan—"

"...pernikahan mereka..." Dia mendengar suara ibunya.

"...sudah menikah..." Itu ucapan Yunho.

"Ya Tuhan, betul-betul kacau." Ini omongan Kyuhyun, diucapkan pelan.

Lalu Sungmin tenggelam dalam pelukan Ryeowook. "Kalian sudah menikah! Oh, Sungmin! Kyuhyun! Oh, aku bahagia sekali! Sejak dulu aku sudah bilang, tanya Yesung kalau kalian tidak percaya, bahwa kalian berdua berjodoh. Aku tahu kalian saling mencintai! Dan Minhyun kecil! Bagaimana pendapatnya? Oh, aku jadi ingin menangis!"

Dan setelah mengatakan itu, tangis Ryeowook pecah dan dia menangis tersedu-sedu sampai lama sesudah Kyuhyun mengantar Changmin ke mobilnya.

Reporter yang gembira itu menjanjikan foto di halaman depan dan berita di halaman tengah yang komplet dengan foto-foto berwarna "Pasangan yang Berbahagia" itu.

Kyuhyun menanggapi dengan kalimat-kalimat singkatsambil dengan ramah, tapi tegas, menyilakan Tuan Shimmasuk mobil.

Ryeowook menawarkan untuk membawa Minhyun ke rumahnya sebentar supaya Sungmin, Kyuhyun, dan orangtua Sungmin bisa menenangkan diri setelah keriuhan tadi.

Orangtua Sungmin pergi ke kamar mereka untuk mulai berkemas-kemas. Mereka harus berangkat satu jam lagi supaya bisa menghadiri pertemuan pertama konferensi pendeta yang dijadwalkan untuk malam itu.

Sungmin kembali ke atas dan membuka pakaian. Dia masuk ke bilik pancuran dan berdiri di bawah siraman air hangat, berharap air bisa mengurangi ketegangan ototnya.

Ketika akhirnya mematikan keran dan membuka pintu kaca bening untuk mengambil handuk, dia tersentak kaget waktu melihat Kyuhyun berdiri di ambang pintu, memandanginya.

Disambarnya handuk dan dipeluknya erat-erat. "Jangan repot-repot. Aku sudah melihat semuanya," pria itu berkata serak dan berjalan mendatanginya.

"Baik. Tidak akan kulakukan," balas Sungmin ketus sambil mulai mengeringkan tubuh. Kemarahan yang tampak di sikap bahu dan dagunya menghentikan langkah Kyuhyun.

Sungmin menghanduki tubuhnya sampai kering, sampai tuntas, tidak memedulikan Kyuhyun, dan itu lebih membuat pria itu merasa tidak karuan daripada kalau dia lari bersembunyi.

"Aku pernah memperingatkanmu soal berjalan ke sana kemari di dalam rumah dalam keadaan seperti itu," kata Kyuhyun.

"Aku tadi kan mandi. Aku tidak mengira ada penonton." Setelah selesai mengeringkan tubuh, Sungmin mengambil celana dalam dari laci dan mengenakannya, melewatkannya di pahanya yang mulus dan langsing.

Kyuhyun bersandar di meja rias, tidak sedetik pun mengalihkan pandangan darinya.

Sungmin merogoh laci dan mengeluarkan bra berenda.

Sebelum dia sempat memakainya, Kyuhyun menyentakkannya dari tangannya dan melemparkannya ke lantai.

Reaksi Sungmin cuma mengangkat bahu tidak peduli dan sebagai gantinya mengambil dan mengenakan sweater.

Tetap mengabaikan pria itu, dia mengenakan celana panjang yang tadi dibawanya ke kamar mandi.

Begitu dia selesai mengancingkan ritsletingnya, Kyuhyun menyerbu dan memeluknya kuat-kuat. Bibir pria itu melumat bibirnya. Tangannya bergerak tanpa henti di punggungnya. Sungmin berusaha setengah mati untuk tidak menanggapi dan membuat tubuhnya kaku. Akhirnya pria itu mengangkat kepala dan berkata, "Kau marah."

Sungmin menjauh. "Boleh dibilang begitu." Mengambil sikat rambut, dia mulai menyisir rambutnya.

"Semua berkembang tak terkendali, ya?" tanya Kyuhyun setelah lama terdiam.

"Ya, memang." Sungmin meletakkan sikat rambut di meja rias dan menghadap pria itu. "Kau punya gambaran tentang kekacauan yang kau timbulkan dalam hidupku? Hidup orangtuaku? Apa kau cuma peduli pada dirimu sendiri?" Dia menarik napas panjang dan bergetar. "Aku minta maaf atas kecerobohan ibuku, meskipun sebetulnya itu kesalahan tak disengaja. Semua ini takkan terjadi kalau kau tidak mengucapkan kebohongan besar itu." Dagunya naik dengan gaya membangkang.

"Memangnya aku menyalahkan orang lain?" tanya Kyuhyun tenang. "Apakah saat ini aku seharusnya mengatakan 'Siapa yang menabur angin, akan menuai badai'?"

"Kau selalu tahu cara menjawab, ya?" Sungmin melewatinya ketika berjalan marah keluar kamar mandi, tapi tangan Kyuhyun mencengkeram lengannya dan menariknya.

"Sungmin, si darah panas. Selalu defensif, selalu siap berkelahi. Bagaimana kalau sekali-sekali kau menyerah?" Bibirnya menyapu pelipis wanita itu. "Pernahkah terlintas di benakmu bahwa aku suka kalau orang-orang mengira kau istriku? Itu jelas akan melindungiku dari biang gosip. Dan kita bisa—"

Sungmin begitu ngotot memberontak darinya sehingga pria itu tercengang. "Kita bisa apa?" teriaknya. "Kita bisa terus hidup dalam dunia pura-pura yang kau bangun ini?" Dia tertawa pahit. "Arogansi, kecongkakan, dan ketidakpekaanmu selalu membuatku takjub, Kyuhyun. Kau pikir aku mau berpura-pura jadi istrimu meskipun cuma sedetik?"'

Kyuhyun memunggunginya dan menjejalkan tangan ke saku dengan gerakan yang sudah dikenal Sungmin. Pria itu berbuat begitu untuk menutup diri.

"Aku pernah punya istri," gumamnya. "Aku pernah bercerita padamu—"

"Oh, ya," ejek Sungmin. "Kau sudah bercerita banyak tentang istrimu. Kau mencintainya. Dan sekarang kau tidak menginginkan keterlibatan emosional."

Dihampirinya Kyuhyun dari belakang dan dipaksanya pria itu berbalik supaya mau tidak mau menghadapinya.

"Yah, sekarang giliranku memberitahumu. Aku tidak mau jadi istrimu, pura-pura atau tidak. Menurutku lamaranmu tidak menarik, Tuan Cho. Dan aku tidak mengerti kenapa kau ngotot berusaha tidur denganku. Tidakkah menurutmu tempat tidurmu akan sesak karena ada kau, aku, dan hantu istrimu di sana?"

Kulit pipi Kyuhyun begitu tegang dan kerut-kerut di sekeliling mulutnya menegang begitu jelas sehingga Sungmin takut pria itu menyerangnya. Kyuhyun mencengkeram bahu Sungmin dan menyentakkannya ke dekatnya. Sungmin dapat merasakan kemarahan yang mendidih di dalam tubuh pria itu.

"Sungmin, Kyuhyun, kalau boleh aku ingin bicara sebentar dengan kalian berdua." Suara Yunho mengikuti ketukan ragu-ragu di pintu kamar.

Baru beberapa detik kemudian suara itu bisa menembus kemarahan Kyuhyun, tapi pelan-pelan Sungmin merasa cengkeraman di lengannya mengendur sampai pria itu menarik tangannya.

"Ayah," kata Sungmin dengan suara bergetar, "ada apa?"

"Aku tidak ingin mengganggu kalian, tapi masalah ini penting. Setidaknya begitu bagi Ibu dan aku."

Sungmin menoleh pada Kyuhyun dengan pandangan was-was sambil masuk ke kamar dan berkata, "Masuklah."

Yunho bergegas masuk dan minta maaf lagi karena mengganggu mereka. "Kami harus segera berangkat, dan aku ingin tahu apakah kalian bersedia mengabulkan permintaan orang tua ini."

Dari sudut matanya, Sungmin melihat Kyuhyun berjalan untuk berdiri di dekatnya. Sungmin bersidekap seakan ingin melindungi diri. "Ada apa, Ayah?" Sungmin bertanya dengan suara tenang.

"Aku selalu merasa kau dan Jungmo bisa punya kesempatan yang lebih baik jika kalian kunikahkan di gereja kita. Aku tahu ini kuno," katanya buru-buru waktu Sungmin akan memprotes.

"Kumohon, Sungmin, Kyuhyun, izinkan aku melaksanakan upacara pernikahan singkat untuk kalian sebelum aku pergi."


.

.

.

To Be Continued

.

.

.


Wayoloh, KyuMin mau dinikahin sama bapake Sungmin XD

Halo ^^ I'm back with GK BAB 10. Banyak banget review yang telat masuk. It's oke ^^

Maaf belum bisa balas pertanyaan-pertanyaan kalian. Kalian akan menemukannya sendiri ^^

And… Kenapa Sungmin mikir kalau dia bersama Kyuhyun itu malah merugikan Minhyun? Karena disini Sungmin masih mikir kalau Kyuhyun masih cinta sama Chengmin, kalau mereka menikah, yang ada Sungmin sakit hati, dan ujungnya kaya rumah tangga dia sama Jungmo. Kalau Sungmin sakit hati, dan dia milih pisah sama Kyuhyun, itu akan menghambat pendidikan Minhyun. Karena Minhyun masih butuh pendidikan dari Sungmin. Kurang lebih seperti itu ^^

And… about NC. Ampun deh, pada gak sabar banget sama NCnya. Sabar ya kawan-kawan ^^

For Hamano Hiruka, I really don't know who you're u.u

Ok just it. And…

BIG THANKS TO

Kyu rin 71 , abilhikmah , Baby niz 137 , TiffyTiffanyLee , Frostbee , nurindaKyumin , danactebh , Joyers , 137lee , ssuxzy , Pspnya kyu , orange girls , inyezreceel92 , youlliana , alit , minnieGalz , anum, Sri Kencana , Lee Minry , hyunmiie , sanmayy88 , cho kyumin137 , Deliadelisa , nova137 , ryeota Hasu , joy04 , PaboGirl , faizlovely , rahmaotter , shanakanishi , Girls in awesome world , ikakyuminss , chocoyaa , Prince Changsa , GyeOmindo , Mara997 , lee hye byung , nabeshima , Cho Kyuna , mayasiwonest everlastingfriends , SuniaSunKyu137 , LauraChoilau324 , onew's wife , keykyu , nuralasyid , kyushiii , PumpkinEvil137 , Fitri , jin , parklili , Park Heeni , Lilly Aylia , choikyumin , chopurple3 , Acho137 , kimpichiadjah , Michiko Haru , Hamano Hiruka , KyuMinJoy137 , farla 23 , Harusuki Ginichi 137411 , ismayminniELF , gyumin1408 , Shengmin137 , lee kyuza , mandwa , gogoflo55 , kyuna36 , Loving Kyu and Ming , Anisa Jung , kaissss & Guest.

(Yang di cetak tebal itu Reviewer di BAB 9 dan Reviewer di BAB sebelumnya yang baru masuk maupun yang baru review. Untuk yang namanya belum disebut, mungkin reviewnya belum masuk. Apabila ada kesalahan dalam pengetikan nama, mohon maaf ^^)

Once again! Thank you ^^