The Eden's Calling

Chapter 10 : Ardens Papilio

Noctis membuka kedua matanya, yang ia hadapi masih saja anak yang telah ia temui saat tenggelam dalam lubang gelap di Solheim. ia terdiam menatapi anak lelaki yang sedari tadi mengacaukan pikiranya dan telah membawa Noctis ke berbagai tempat, namun masih saja kebingungan entah di mana ia sekarang dan apa yang baru saja terjadi padanya. Semua hal yang telah dilihat membuat pikiran nya menjadi kacau, terlarut dengan rasa kebingungan. Pandangannya yang tertuju pada seorang bocah yang berdiri dihadapan nya itu melarut menjadi sebuah pandangan sinis. Ia tekuk kedua halisnya, menggeram seraya mengatakan apa yang ada dalam benaknya.

"kau mempermainkan aku? Apa mau mu?!"

"ho, tenang lah."

Bocah itu melempar tatapan serius dengan sebuah senyuman picik tergores pada bibirnya.

"apa kau tak bisa berpikir dengan kepala dingin, pangeran? Etro telah memilih mu menjadi seorang Adam."

"persetan dengan Adam! Di mana aku sekarang? Aku harus menyelamatkan Stella!"

"kau terlalu Naïve."

Anak itu berjalan mengitari Noctis, ular yang berada pada lehernya berdesis seraya menjulur-julurkan lidah panjangnya. bola mata Noctis mengikuti gerik bocah itu, tubuhnya pun bergerak serentak membalik saat kepalanya menoleh, ia menatapi anak yang sedang mengusapi dagunya, lalu ia berkata,

"aku heran, mengapa Etro memilih orang macam kau." Ia berjalan dan berhenti kembali di hadapan pria berambut kelam itu.

"berhenti lah bicara! Keluarkan aku!" Noctis melempar pukulan nya pada wajah anak itu yang lalu menghilang dari hadapan nya.

"hei! Bukan kah aku sudah bilang? Berpikir lah dengan tenang." Suara yang terdengar di belakang telinganya, Noctis memutar tumit tuk berbalik, melihat kembali dengan jelas sosok bocah itu.

"bedebah kecil!" pangeran yang sedang marah itu kembali melempar pukulan yang lalu di tahan oleh lengan dari anak misterius itu.

"satu-satu nya cara membuat mu tenang adalah.." suara bocah itu terdengar semakin melembut, suara yang kali ini ia dengar bukan lah suara anak lelaki yang sedari tadi berbicara dengan nada angkuh.

"bertemu dengan wanita ini."

Kedua mata Noctis terbelalak menyaksikan sosok anak yang berdiri di hadapanya berubah menjadi sesosok wanita dengan rambut merah muda dan mantel putih yang biasa ia kenakan. Spontan, Noctis kembali mengepalkan lengan, ia tak mampu mengeluarkan sepatah kata. Noctis hanya terdiam membeku setelah melihati wajah wanita yang amat familiar. Dengan sebuah ekspresi hangat pada wajah sang wanita, ia memanggil lembut nama pangeran Lucis yang berada dihadapanya.

"Noct…"

"Lightning?!"

Sebuah nama yang sedari tadi ingin ia ucapkan. Mengingat nama itu, Noctis mulai berpikir kebelakang, melihat kembali rekaman yang telah di simpan otaknya. Memori tentang wanita tua itu, diari usang, Valhalla, ia tahu ini semua terkait dengan Lightning. Baru pertama kalinya ia bertemu dengan wanita dengan rambut berwarna aneh itu, juga, ia amat mengetahui percis soal Mythology dalam sejarah dunia ini.

Fabula Nova… entah mengapa ilmunya amat mendalam seakan ia pernah singgah pada tempat bersejarah yang telah lama musnah itu. bahkan ia mengetahui banyak tentang nautilus, luxerion, nama yang menjadi sebuah logo dari Mythology kuno—hal yang tak mungkin bisa informasinya di korek lebih banyak. Tidak habis pikir dengan tingkah dan pengetahuan mendalam milik Lightning.

Tiba-tiba sebuah cahaya kecil terpancar dari balik pakaian Noctis. Ia merasa sesuatu keluar dari dalam T-shirt yang ia kenakan. Benar saja, sebuah kalung berbentukan bulan sabit terbang melayang, terlepas dari lehernya.

'Stella…'

Hingga, kalung itu berada dalam genggaman wanita yang berada dihadapan nya. sekejap kedipan mata, sosok Lightning yang ia lihat kembali berubah menjadi sosok anak lelaki kecil dengan rambut kelamnya. Sebelah mata merahnya mengeluarkan cahaya, kali ini bukan tatapan picik yang ia keluarkan, namun saat menatapi kalung yang tergenggam dalam tangan nya, anak itu terlihat sedih.

'apa yang-'

"karena dia… kelahiran ku bisa di batalkan."

Mulut pangeran bersurai kelam itu membungkam seketika saat mendengar sebuah kalimat yang tercetus dari mulut anak itu. 'kelahiran?!' kelahiran siapa?! Noctis menatapinya, kembali berpikir apa yang sebenarnya yang dimaksud dengan kalimat yang diucap bocah lelaki itu. Anak ini—sungguh-sungguh aneh. Ekspresi yang di tunjukan bocah itu berbeda dari ekspresi sebelumnya, Noctis bingung harus mengatakan apa, ia benar-benar tak mengerti dengan semua yang telah ia lihat, semua berhasil mengacaukan pikiran nya. anak itu menggenggam kalung bulan sabit dengan erat.

"kau harus berhenti menjadi egois. Berhenti lah mengejar Lilith."

Kalung bulan sabit itu hancur seketika dalam genggaman nya. Noctis kaget dibuatnya, jantungnya serasa berhenti berdebar saat melihat serbuk dari hancuran kalung indah yang berjatuhan bagai pasir dari tangan anak itu.

"aku tak suka itu." Lanjut anak yang berada di hadapan nya.

Rasanya ingin menggeram saat melihat bocah yang baru saja menghancurkan kalung dari cinta matinya—Stella, namun sayang, rasa itu entah mengapa terpupuk dalam dan tak kian keluar saat sekejap ia mengingat Lightning kembali dalam benaknya.

"kau harus segera kembali. aku ingin kau memperbaiki semuanya."

Noctis masih saja menatapi anak itu karena bingung harus berkata apa. Yang ia rasa kali ini amat pedih, mengejar seseorang yang kian lama hilang, walau berjarak dalam dua bulan, sekarang ia mengerti siapa yang peduli padanya.

Namun sayang, masih saja ada ruangan besar dalam hatinya yang menyimpan Stella, juga benak nya tak luput dari memori indah saat bersama Stella. Di luar sana ada sesorang yang mempedulikan nya, namun ia telah egois mementingkan apa yang ia hasratkan : bertemu Stella, hidup dengan bahagia bersama nya. walau hati kecilnya tak mau menyakiti seseorang yang telah peduli padanya, namun, rasa ego itu tak kian hilang dari dirinya, membuatnya semakin bimbang, entah apa lagi yang harus ia lakukan jika ia bertemu dengan Stella—juga Lightning.


"Hello~ layanan pagi telah datang~" ucap Prompto yang memasuki kamar Lightning sambil membawakan satu baki makanan. Ia berjalan menghampiri Lightning yang terduduk di atas ranjangnya, lalu meletakan makanan yang ia bawa di atas sebuah meja kecil dekat ranjang tersebut.

"Light, kau harus sarapan, Ignis telah susah payah membuatkan bubur behemoth ini. Enak loh!" ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya dan melempar senyuman ceria yang biasa ia buat.

Lightning masih saja terdiam di sana, lalu menoleh pada Prompto sambil menatapinya dengan pandangan yang amat jauh dari kata enerjik. Prompto perlahan menurunkan geratan senyum dari bibirnya, ia memalingkan wajah dari tatapan Lightning dan mengusapi belakang lehernya sambil mendesah pasrah.

"aku—maaf. Aku tak bisa bertingkah layaknya pria biasa."

Pemuda bersurai pirang-keemasan itu mengerutkan halisnya, menatap Lightning kembali dengan sebuah senyuman, namun-senyum nya berkesan amat di paksakan.

"pria ini amat bodoh bukan? Masih bisa tersenyum saat sahabatnya sendiri dalam kesulitan dan entah kemana ia pergi." Dengar nya dari pria berambut pirang yang menunjuki dirinya sendiri.

"konyol."

Prompto tercekat saat Lightning mencetus sebuah kalimat yang baru saja didengarnya. ya, ia setuju jika ia di sebut konyol, itu masuk akal.

"konyol sekali kau berkata seperti itu."

"aku memang-"

"konyol sekali kau merendahkan diri mu seperti itu." Lagi, Prompto kaget dengan apa yang telah Lightning ucapkan saat ia memotong omongan nya.

"bukan kah Prompto yang aku kenal selalu membuat suasana kembali cerah?" Lightning menatapnya dengan mata yang di penuhi cahaya, mata yang indah.

"dan mendadak sekali, kau bertingkah seperti itu."

"itu bukan Prompto yang aku kenal." Wanita itu menggerat senyuman dan melemparkan nya pada pemuda berambut pirang-keemasan yang berada di hadapan nya.

Tersadar dengan apa yang telah ia lakukan, Prompto memalingkan pandangan dan kembali mengusapi belakang lehernya, rona pada pipinya terlihat samar, namun berkesan manis. Ia berdehem seraya memberikan jawaban 'maaf' dengan pandangan menyesal.

"entah apa yang merasuki ku, namun aku berfirasat 'ia' akan kembali." Lightning membuat pandangan yang sendu, Prompto yang melihatinya kembali merasa kahwatir.


Hening yang menyelimuti ruangan gelap yang hanya di sinari sebuah cahaya yang terpancar dari kristal-kristal berwarnakan putih terang. Kedua bola mata biru muda yang menatapi tiga buah kristal yang terjejer di hadapan nya, sedari tadi tak kian mengalihkan pandangan nya. tatapan kosong yang di buat wanita bergaun putih itu terlihat sendu, entah apa yang tengah ia pikirkan.

TAP TAP TAP

Langkah kaki yang bergema di sepanjang ruangan yang luas akhirnya mengalihkan pandangan dari kedua bola mata biru muda itu.

"Lilith…"

Walau itu bukan lah nama asli dari wanita pemilik rambut pirang ini, ia tetap saja megalihkan pandangannya pada pemilik suara yang memanggilinya 'Lilith', seolah-olah ia telah terbiasa dengan panggilan tersebut. Terlihat seorang pemuda tinggi bersurai merah marun berjalan menghampirinya. Ia menatapi wanita yang berada di hadapan nya, wajah suram nya tak kian hilang sedari pertama ia membawanya pergi dari tempat nya berasal.

"indah bukan? Kau tahu? Di tempat ini semua penyihir tak dapat melacak kita. Bahakan dewa sekali pun tak bisa mendengar ucapan kita."

Ucap pemuda itu, berniat tuk mencerahkan suasana. namun pemilik nama 'Stella' ini memalingkan wajahnya dari pemuda yang kini berdiri di samping nya. ia mulai menurunkan tubuhnya, terduduk sambil memeluki kedua lutut yang di tekuknya di hadapan kristal-kristal agung yang di simpan pada sebuah tempat berbahankan kaca. Pemuda yang masih berdiri di samping nya menghela pelan seraya memandangi wanita yang berada di sampingnya, akhirnya pun ia bergabung bersama dengan Stella, ikut terduduk. walau masih tetap menjaga jaraknya agar tidak terlalu dekat dengan wanita bersurai pirang itu.

"aku tahu kau pasti membenci ku karena semua yang telah ku lakukan pada mu 'kan?"

Tak ada jawaban.

"memisahkan mu dengan seseorang yang telah di takdirkan untuk bersama-sama dengan mu."

Masih tak ada jawaban.

"meniduri mu layaknya bajingan."

Stella masih menatapi kristal yang berada di hadapan nya. semakin banyak pria itu berucap, semakin besar rasa berat pada kantung matanya. Perih yang ia rasa lewat hatinya membuat kedua matanya mengalirkan tetesan air mata. Ia terseguk pelan, berusaha untuk tidak melihatkan kelemahan nya.

Tak kuasa menahan tangis yang kian menderas, ia menungkulkan kepalanya, menyembunyikan wajah di balik kedua lutut yang masih ia tekuk. Pemuda itu mendengar Stella memanggili nama seseorang, terdengar terlalu samar untuk telinganya-jadi ia mendekatkan tubuhnya, berusaha duduk lebih dekat dengan wanita bersurai pirang itu. Kini ia dapat mendengar nya, wanita itu memanggil nama pangeran yang kini telah termakan jebakan dari pemuda bersurai merah marun tersebut. Ia melempar tatapan tajam saat mendengar bisikan 'No—ctis' dari mulut kecil putri Tenebrea yang masih menangis. Pria itu segera beranjak dari tempatnya terduduk, membuat Stella mengalihkan pandangan nya pada seseorang yang baru saja duduk menemaninya.

"Gilga—"

"kau tahu? Aku terpaksa melakukan ini karena Bhunivelze telah menahan seseorang yang amat berharga bagi ku."

Tersentak mendengar pernyataan pria bernama 'Gilgamesh' ini, Stella membuat kedua matanya terbelalak.

"aku juga sama seperti mu. Aku masih seorang manusia. Semua yang ku lakukan ini atas kehendak Bhunivelze yang agung. Sesungguhnya aku membenci semua ini."

Masih terdiam di sana, Stella menatapi Gilgamesh yang melangkah menjauh darinya, hingga langkah dari pemuda itu terhenti tak jauh dari tempat Stella yang kini beranjak dari duduknya.

"aku tahu aku bukan lah boneka. Namun aku terpaksa membangitkan kembali Bhunivelze. Aku ingin menagih hutang ku pada nya, janji di saat orang yang aku cintai akan kembali."

Langkah pelan yang di buat Stella lambat laun menghampiri pemuda yang menghadapkan punggung nya, namun ia tetap tidak mencapai pemuda itu karena ia telah melangkah cepat, menjauh dari Stella. Ia terdiam dalam ruangan gelap itu, di temani cahaya dari kristal-kristal agung yang berjejer di belakang nya.


"tiba-tiba mendadak sekali kekacauan terjadi bersamaan di negara-negara yang jaraknya berjauhan. Apa yang mulia tidak berpendapat ada yang salah dengan semua kejadian yang telah terjadi di Solheim, Lestallum, dan Tenebrae ini?" ucap Alberton Khell, perdana mentri kerajaan Lucis pada raja Caelum yang tengah selesai membaca proposal-proposal yang berada pada mejanya.

Regis terdiam di sana, bersandar pada kursi kantor berukuran raja miliknya. Ia mendesah sambil mengusapkan telapak tangan pada wajahnya. Ia tentu saja masih pusing karena ketiga negara aliansi-nya ini meminta bantuan di saat yang bersamaan, terlebih, angka kematian di Tenebrae semakin meningkat di karnakan mahluk buas yang semakin lama semakin bertambah jumlah nya. di saat yang mendesak seperti ini ia masih berpikir 'kemana Idola Aldercapt?' ia tak kian muncul atau pun membuat pergerakan pada pemerintahan nya yang kian lama kian tak terdengar lagi. kepemimpinan tertutup, bukan kah Aldercapt sendiri yang telah menandatangani perjanjian perdamaian untuk menyatukan Lucis dan Niflheim dan membuat sumpah di hadapan publik untuk membantu sesama aliansi? Apa yang tengah Aldercapt pikirkan?

"aku 'pun berpikir demikian." Ucap Regis yang menjawab pertanyaan wakil nya yang terduduk pada kursi yang berada tak jauh dari mejanya.

"kalau boleh saya tahu. Bagai mana kondisi pangeran sekarang?"

Pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut Alberton mengiang di telinga raja ke 63 dari Dynasty Caelum. Hal itu membuat nya terdiam kembali dari pergerakan nya saat berniat tuk mengambil sebuah kertas dari tumpukan berkas yang tertata rapi di atas mejanya. Dikarenakan kesibukan yang semakin hari semakin bertambah, ia hampir melupakan putra kesayangan nya yang memiliki watak keras kepala itu. Seingatnya Noctis masih dalam pase pemulihan. walau anaknya masih saja bertingkah egois dan selalu melawan kehendak ayahnya, walau mereka berdua tidak pernah cocok satu-sama lain, tetapi jiwa seorang ayah tak akan pernah luput dari diri Regis. Terlebih, kematian Pluvia Lucis Caelum, ibunda dari pangeran bersurai hitam itu membuat Regis semakin menambah tindak Protective pada anak semata wayang nya ini.

Orang tua mana yang mau anak nya yang memiliki masa depan suram? Sesungguhnya Regis sendiri menanamkan didikan keras pada Noctis semenjak ia tumbuh menjadi seorang remaja yang kini sangat sulit tuk di atur. Terkadang ia merasa sedih dikarnakan anaknya lebih banyak meluangkan waktu bersama dengan kawan-kawan nya, tak seperti hubungan ayah dan anak pada umumnya, mereka hanya bisa teridam dalam dilema ; ayah dan anak yang tak bisa akur.

"dia masih dalam pase penyembuhan." Ucap Regis yang sedikit menundukan kepalanya sambil membaca isi berkas-berkas yang kini berada dalam genggaman tangan nya.

"saya harap pangeran lekas sembuh."

Regis terdiam sebelum menjawab dengan ucapan 'terima kasih' pada perdana mentrinya. Lalu ia melanjutkan kembali pekerjaan nya. sayang, Regis tidak mengetahui bahwa Noctis sekarang berada di Solheim dengan kondisi yang tidak memungkinkan. Jikalau ia mengetahuinya, tamat lah riwayat sahabat-sahabat pangeran berambut kelam itu, habis di marahi sang raja karena tidak dapat menjaganya dengan betul. walau pun kesalahan tidak dapat di tumpahkan seluruhnya pada keempat sahabat Noctis.


Angin berhembus menerpa helaian dari kain jubah yang di kenakan seorang pemuda tinggi yang berdiri di puncak sebuah gedung pencakar langit. Kedua bola mata cokelat tua nya menatapi kota yang berada di bawah gedung tempatnya berada. Kota dengan nuansa klasik yang berdampingan dengan bangunan-bangunan bermodelkan elegan, bentangan jalan yang luas dan cahaya yang berkelip-kelip di setiap bangunan yang memberikan kesan indah.

"Accordo… sayang sekali. Keindahan kota ini akan segera sirna."

Ia menarik ujung bibirnya, senyuman picik yang tergerat tersembunyi di balik tudung dari jubah putih yang ia kenakan. Pemuda itu pun segera beranjak dari tempatnya berada, melompat dari tingginya gedung, tak meninggalkan jejak atau pun membuat keramaian, dengan sigap ia segera beradaptasi dengan lingkungan yang berada di Accordo.


"Bencana telah menimpa kita kembali! Bulan lalu tiga negara telah diserang oleh segerombolan prajurit misterius yang menyertakan hewan-hewan buas untuk ikut memberontak. Kali ini mereka menyerang kota pusat di Accordo! Apa yang sebenarnya terjadi—Gyaaaaaa!"

Saluran TV yang tiba-tiba terputus saat pembawa acara itu menghilang dari kamera. Lightning yang menyaksikan hal itu dengan sigap bangkit dari kasur tempatnya terduduk, Prompto yang duduk di samping ikut bangikit karnanya.

"Light?"

Pertanyaan perlahan yang tidak dihiraukan oleh wanita bersurai merah muda yang lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Prompto yang menghela dalam segera mengejarnya. Hentakan kaki yang semakin lama semakin cepat bergema di sepanjang lorong, panggilan "Lightning" tidak mampu menghentikan langkahnya, hingga akhirnya pemuda berambut keemasan itu menarik pergelangan lengan pemilik nama Lightning itu dengan kuat.

"lepaskan!"

Ia berusaha melepaskan genggaman kuat itu dengan paksa, membuat tangan Prompto terhempas. Prompto yang segera meraih kedua pundak Lightning menariknya mendekat, membuatnya mendekapkan tubuh kurus wanita itu dengan erat, tak membiarkanya pergi.

"itu terlalu berbahaya."

Lightning kembali berusaha melepaskan dekapan Prompto.

"adik ku berada di sana!"

Lightning menghempas tubuh Prompto dengan kuat, membuat nya melangkah mundur sembari menyeimbangkan tubuhnya yang hampir menimpa lantai. Lengan pria bersurai keemasan itu mengulur, namun terlambat sudah, jemarinya tak mampu menangkap wanita bernama Lightning yang telah berlari kencang, lambat laun menghilang dari pandangan nya, menjauh darinya.

Lagi-lagi harapan yang terputus, usaha yang telah bersi keras ia lakukan untuk berada di sampingnya ketika ia membutuhkan bantuan selalu nihil, namun—jika ia berputus asa, sampai kapan pun ia tidak akan mendapat yang ia inginkan dan usahanya akan menjadi debu, sirna seketika di tiup hembusan angin. Prompto bukan orang yang bertipe seperti itu, "putus asa hanya lah untuk seorang pecundang" kata-kata yang selalu menjadi moto hidupnya mendadak mengiang di dalam benak. Tidak—ia tak akan menyerah begitu saja.


BLAAAAAAAR! BLAAAAAAAAR!

Gemuruh yang terdengar jelas dari reruntuhan bangunan yang kini berserakan, jatuh menimpah bumi, membuat seisi pusat kota Accordo dimakan ketakutan. Mahluk raksasa yang berdiameter panjang, dengan sepasang sirip pada kedua sisi kepalanya mengeak, suara bising yang di timbulkan raksasa besar dengan bentuk menyerupai ular itu terdengar bagai keakan seekor gagak pembawa kematian.

Lightning dapat mendengar suara mahuk itu, walau keberadaan nya berjarak kurang-lebih sekitar 236 kilo meter. Kepala mahluk raksasa berbentuk naga itu dapat terlihat dengan jelas, rahang mulut yang terbuka menunjukan jelas keangkuhan dari kekuatan yang ia miliki, hanya sehempas serangan yang ia lemparkan, puluhan gedung serentak rata di buatnya. Ukuran mahluk yang menyerupai separuh ular dan naga ini jelas lebih besar dibandingkan dengan seekor titan yang pernah menelan wanita bersurai merah muda ini, sungguh pengalaman yang sulit untuk dilupakan.

Decitan yang terdengar dari keempat roda mobil putih yang telah dikendarai wanita bernama Lightning ini membuat kendaraan nya menemukan tempat untuk bersinggah. Kedua kaki yang perlahan melangkah keluar dan menyentuh tanah. Lightning bergegas pergi menuju tempat tinggal Serah, berharap masih ada sepucuk harapan untuk bertemu dengan nya.

Langkah kaki tergesa yang bergema memenuhi sebuah jalan sempit di kota pusat Accordo. Lightning memilih rute ini untuk menghindari perhatian monster raksasa yang tengah melanda Accordo.

'Serah… semoga kau baik-baik saja.'

Cemas yang menggebu-gebu dalam benak Lightning membuatnya semakin tidak tenang, terlebih, kehilangan Noctis semakin membuat diri nya tidak karuan. Ia takut masalah ini akan menyebar ke publik dan sampai pada telinga Regis, tentu saja ini akan menjadi bencana besar karena hilangnya putra mahkota tunggal untuk Dynasty Caelum.

Kedua kaki Lightning mencapai ujung dari jalan sempit yang telah di laluinya. Ia menengok ke dua arah berlawanan untuk mencari rute aman lain nya agar terhindar dari serangan monster raksasa berbentuk naga itu. Sambil terus mengucapkan do'a kepada dewi Etro, ia berlari sekuat tenaga untuk mencapai rumah sang adik.

Namun ketika Lightning berhasil mencapai halaman Café yang terletak sepuluh kilo meter dari rumah adiknya, kedua telinga Lightning menangkapi jeritan suram dari mulut seorang wanita. Lantas wanita bersurai merah muda ini mendekat perlahan pada tempat kejadian perkara. Namun tiba-tiba, kedua matanya menangkapi seutas rambut yang sangat familiar.

Tercengang menatap ke arah pemilik rambut itu, kedua bola mata Aquos miliknya terbuka lebar. 'rambut merah muda', rambut yang selaras dengan miliknya, hanya satu orang yang memiliki rambut serupa dengan nya-

"Serah?!"

"GYAAAAAAAAA!"

KREEEEK—

Pemilik nama "Serah Farron" yang sedang berteriak kesakitan akibat lilitan erat dari ekor monster bertubuh panjang ini berusaha melepaskan diri. Namun cengkraman dari ekor monster melata itu sangat kuat sehingga membuatnya sulit bergerak bahkan untuk menangkap oksigen pun' ia tak mampu.

Tidak terima dengan apa yang tengah ia lihat, Lightning segera mendekati monster itu dengan sebuah langkah kaki yang berhentak cepat. Gagnarath tiba-tiba muncul dari lengan kanannya, tanpa pikir panjang ia melempar senjata yang hampir mirip Boomerang itu kearah ekor yang melilit Serah.

TAK!

Hantaman Gagnarath berhasil membuat lilitan ekor panjang milik monster raksasa itu terlepas dari tubuh Serah. degan cekatan, Lightning segera berlari, berusaha menangkap tubuh Serah yang terjatuh lemas.

"Serah!"

Seru Lightning, kahwatir dengan adik yang kini berada pada dekapanya. Kedua mata yang sendu, bibir yang pucat, menunjukan jelas Serah yang kini terjatuh pingsan setelah monster besar itu melilit tubuhnya.

Lightning menggeram kesal pada monster yang berada pada tatapan bola matanya, apa yang telah diperbuatnya sudah keteraluan. Lightning kembali melemparkan sebuah serangan pada monster besar yang membuat isi hatinya menggebu-gebu dipenuhi rasa amarah. Tak peduli jika ia akan terluka, Lightning kembali menghantam monster bertubuh panjang itu dengan kekuatan yang ia miliki. Namun sayang, hasil nihil yang ia peroleh, monster raksasa itu menghindar secepat kilat dan memberikan hantaman balik pada tubuh kecil Lightning.

BLAR—

Tubuh Lightning terhempas mengenai tembok sebuah kuil tua, menimbulkan retakan lebar dari hantaman keras tadi. 'sial!' cetusnya lewat mulut. ia segera bangkit dari tempatnya terjatuh, Lightning menggunakan cara lain untuk menyentuh monster besar itu. dengan sebuah lontaran mantra Billizara, segumpal es berhasil membekukan separuh tubuh besar monster biru berbentuk naga yang kini mengeak.

Tarikan senyum pada bibir Lightning tidak menunjukan bahwa ia sudah puas, Lightning masih tetap melemparkan mantra Billizara, membuat tubuh monster itu makin membeku. Dengan hantaman mantra ketujuh kalinya yang ia lontarkan, Lightning bergegas melempar kembali Gagnarath-nya yang kini mengikis kulit bersisik milik monster yang kesakitan itu.

KEAAAAK—KEAAAK—

Teriakan bising yang dikeluarkan monster besar itu membuat telinga Lightning pengang. Karena luka yang diakibatkan kulit terkikis, monster besar itu makin bertindak liar. Ia hempaskan ekor separuh bekunya pada bangunan yang masih berdiri kokoh hingga membuatnya runtuh. Lightning yang berada di samping bangunan runtuh itu dengan cekatan menghindarinya, hingga ia membuat kesalahan fatal.

BLAAR—

Suara sebuah puing bangunan yang menindih tubuh Lightning. Walau Lightning berusaha untuk keluar dari tumpukan reruntuhan itu, ia tetap tidak bisa bergerak dengan ketidak berdayaanya. perlahan sebuah cairan hangat mengalir menyentuh kulitnya. walau Lightning tidak dapat melihat Liquid yang tengah membasahi pakaian serta tubuhnya, namun ia yakin, perih yang ia rasa membuat luka besar dan darah lah yang telah membasahi lantai yang ia tindih.

Dengan padangan Lightning yang mulai samar-samar, ia melihati tubuh Serah yang kini tergeletak jauh dari tempatnya berada. Ingin rasanya ia segera bangkit dan menyelamatkan Serah, namun luka yang menyentuh organ tubuh vital membuatnya terdiam tak berdaya. Dengan berat hati, akhirnya Lightning menerima semua rasa sakit yang membuat tekadnya kalah, hingga seluruh pandanganya dibuat gelap.

'maafkan aku—Serah..'


'Adam, aku tahu kau bisa mendengarku dengan jelas.'

"kau lagi?!"

'aku tahu kau pasti bisa merasakan-nya.'

"apa maksud mu?"

'kau bisa merasakan firasat ini kan? Kesakitan yang dirasakan-nya.'

"….."

'aku akan meminjamkan kekuatanku, jika kau bisa memperbaiki kerusakan yang telah kau perbuat.'

"tunggu dulu, apa maksud mu?"

'buka lah mata mu—SEKARANG!'

Kedua bola mata Blue Ocean perlahan terbuka menatap samar pada langit abu yang membentang luas. Tunggu dulu?! Abu—

Noctis menyadari bahwa tubuhnya tengah terjatuh dari ketinggian beribu kilo meter. Entah apa yang membuatnya terjatuh dari atas langit, tapi ia bisa mengira bahwa ini perbuatan bocah lelaki misterius itu.

Dengan rasa syok yang ia hadapi, Noctis hampir kebingungan bagaimana jika ia tidak mendarat dengan selamat.

'Jangan panik! Aku sudah berjanji untuk membantu mu, bukan?.'

Sebuah kalimat mengiang dibenaknya. Itu suara yang baru saja berbicara pada pria bersurai kelam ini, Noctis berusaha untuk tenang. Dengan melihat kondisi di sekitarnya, ia tercengang, sebagian besar banggunan Classic yang menjadi ciri khas Accordo telah hancur lebur meninggalkan puing bangunan yang kini tidak berbentuk.

"apa yang—"

Refleks, kedua bola mata Noctis mengarah pada seekor monster besar yang mengeluarkan suara bising.

"sial!"

Spontan dengan keberadaan mahluk buas yang tengah melanda Accordo, Noctis segera melemparkan sebuah pedang yang ia Summon pada kepala raksasa biru itu, ia pun' melakukan sebuah Teleport untuk mencapai jarak sang lawan. Sebuah Great Sword muncul pada genggaman lengan kiri pangeran bersurai kelam itu, tanpa asa ia menancapkan pedang besarnya pada dahi lebar-berduri milik monster raksasa yang dikenalnya sebagai Leviathan.

SRAAAAAAAAAK—

Gesekan sebuah benda tajam yang melukai kening milik monster yang kini meneriakan kesakitan nya. tenaga kuat yang semakin lama semakin bertambah mendorong Noctis tuk merobek dahi keras milik Leviathan yang kini sedang berada pada rasa sakitnya.

Kepala besar milik monster biru bersisik itu mengoyak, ia sungguh-sungguh tidak terima dengan perbuatan kasar dari pangeran Lucis yang bermain dengan pedangnya hingga melukai dahi sang Leviathan yang tidak tertandingi.

Tubuh Noctis terhempas jauh dari kening Leviathan itu. Namun dengan sigap, ia menancapkan pedangnya pada dinding kokoh milik gedung pencakar langit yang berdiri tegap tidak jauh dari keberadaan sang Leviathan.

Noctis melempar pedang ringanya itu jauh menancap pada tanah, dengan sebuah Teleport ia menghilang meninggalkan debu benderang dari tempat awalnya berada, dan akhirnya mendarat dengan sempurna di samping pedang tipis yang baru saja ia lemparkan. Namun tiba-tiba, sebuah suara mengganggunya kembali.

'wanita bersurai merah mudah itu! Adam! Selamatkan dia!'

Sontak, pangeran berpakaian hitam yang berdiri tegap itu memutar tumit dan mengghadapi setumpuk puing bangunan didepan kedua bola matanya. Debar jantung seketika terasa berhenti, sesak yang ia rasa saat melihat sebuah genangan darah yang melintas dihadapan sepatu Boots-nya. bukan hanya itu yang membuat napasnya sesak, namun rambut yang terlihat amat familiar di matanya menangkap jelas sosok Lightning yang kini langsung memasuki benaknya.

Tanpa tunggu lama, Noctis melintas melangkahi genangan darah yang berada dihadapanya. Tidak peduli dengan kondisi sekitar, dengan tergesa Noctis menyingkirkan puing-puing bangunan yang menimpahi tubuh Lightning.

"Lightning!"

Mencoba meraih tubuh Lightning yang terjebak dari bangunan runtuh, Noctis mendapati kedua matanya terbelalak menatap pada luka yang menggerat perut Lightning. Darah terus mengalir perlahan, membuat seluruh pakaian putihnya berubah menjadi merah. Noctis masih bisa merasakan denyut nadi pada lengan wanita bersurai merah muda itu, walau begitu, masih saja ia merasa was-was dengan kondisi Lightning sekarang.

Noctis yang mulai merasa panik berniat menggendong Lightning untuk mendapatkan pertolongan pertama, namun…

KRET—

Lengan mencengkram kerah baju pangeran Lucis itu, sontak Noctis yang merasa kaget menatap lengan yang menggenggam erat pada kerah bajunya. Lengan kecil yang dimiliki Lightning, Noctis sungguh tidak percaya dengan apa yang ia lihat, wanita ini masih sanggup mencengkram kerah baju Noctis dengan seerat itu sedangkan tubuhnya mendapati luka parah. Sungguh tidak masuk akal—dia ini apa?

"t-tak akan—aku biarkan—"

Kata-kata patah yang terucap lewat bibirnya. Bibir mungil milik Lightning bergetar saat mengeluarkan kalimat tadi. Suaranya terdengar lemah namun menyimpan amarah besar.

Lightning melirik pada tempat dimana Serah berada, namun sayang tubuhnya sudah tiada lagi ditempat semula. Lightning mendorongkan niatnya untuk memaksa kedua kaki lemasnya berjalan. Walau dengan gerakan yang sempoyongan, wanita itu bersi keras meraih tubuh adiknya yang terombang-ambing pada lilitan ekor Leviathan besar penghancur itu.

Napasnya yang terpatah-patah, seluruh tubuh yang bergetar, darah yang terus menerus mengalir lewat luka besar pada perutnya, ia sungguh-sungguh terlihat seperti mayat berjalan. Tidak hanya secara fisik, mentalnya pun terluka berat. Lightning memang tidak bisa menerima apa yang kini ia lihat. Seharusnya ia sudah bisa berbahagia setelah ratusan tahun mencari hidup normal dan kebahagiaan yang pada akhirnya ia dapat, namun sekarang rasanya semua kembali pada kehidupan awalnya saat menjadi seorang L'cie pulse.

Etro memang memerintahkanya untuk kembali menjadi L'cie, namun ia tidak mengerti dengan perintah yang Etro berikan. Lightning bahkan tidak tahu bagaimana harus memulai focus yang telah Etro berikan padanya.

Noctis enggan memanggil nama wanita sekrat yang berada dihadapan nya. ia hanya mengikuti langkah Lightning perlahan. Namun masih tetap, debar jantungnya menguat selaras dengan rasa kahwatir yang semakin lama semakin memuncak. Tapi sayang, Noctis tidak mau memperlihatkan kegelisahanya pada Lightning—walau hati kecilnya bertolak belakang dengan tingkah yang dilakoni tubuhnya.

sepancar cahaya hijau bersinar, mengambil perhatian kedua bola mata Noctis. Spontan, Noctis tercengang dengan apa yang tengah ia lihat. Pancaran cahaya hijau itu terbentuk dari kepalan lengan Lightning yang kini mengusapi luka besar pada tubuhnya. Sekejap kedipan mata, luka yang menggores pada perutnya menghilang, kembali tergantikan dengan kulit halus tanpa luka.

Awalnya hanya ia yang tidak mengetahui kemampuan sihir yang Lightning miliki, ia mengira wanita ini hanya lah seorang guru Mythology biasa, namun terbukti jelas dengan kemapuan sihirnya—ia bukan manusia biasa.

"Light—kau…"

Belum sempat meneruskan kalimatnya, angin kencang berhembus dengan dahsyat. Awan abu yang menaburi langit biru kini berkumpul membentuk sebuah pusaran raksasa. Kilat menyambar permukaan bumi, membuat objek yang berdiri diatas tanah hancur lebur karnanya.

Tiba-tiba awan besar yang kini menggumpal membentuk wajah yang tak asing dalam benak Lightning. Terlihat jelas bahwa wajah itu merupakan wajah dari seorang dewa yang telah lama menghilang, sang dewa cahaya—

"Bhunivelze."

"selamat, Savior. Kau berusaha membawa manusia pada perkembangan mereka. Dan telah merenggut dunia ini dari tangan ku."

Noctis masih tidak percaya dengan apa yang telah di ucap sang dewa cahaya agung itu. 'Savior', Lightning terlihat memiliki urusan pribadi yang amat mengganjal dengan dewa besar yang berada dihadapanya, Noctis yang mendengar percakapan Lightning dan Bhunivelze hanya terdiam membeku ditempatnya berada.

"dan kau datang kemari untuk merebut dunia ini kembali."

"tepat!"

Bhunivelze tertawa lepas dihadapan kedua insan manusia yang menatap wajah sang dewa cahaya. Lightning tahu hari ini akan datang, setelah mengalahkan Bhunivelze pada 500 tahun lalu sebelum ia dilahirkan kembali di dunia baru ini, ia masih mengira ada peluang besar bagi sang dewa cahaya tuk kembali.

Bukan Caius Ballad, bukan juga dewi Etro, Lightning yakin Bhunivelze akan mendatangi orang pertama yang telah menghianatinya. Savior ciptaanya sendiri, seseorang yang hampir dijadikan dewi kematian sepenuhnya, Lightning "Claire" Farron.

"namun sayang, kali ini aku tidak akan merenggut dunia ini dari tanggan mu, Savior."

Diluar dugaan, Lightning mengira ia lah yang akan menjadi sasaran dari amarah dewa cahaya itu, namun bukan dia orangnya. Lightning merasa Bhunivelze berlahan memperhatikan pangeran dengan surai hitam-kelam nya yang kini berada di sampingnya.

Sontak, Lightning mendorong Noctis hingga ia terjatuh. Noctis yang terkejut langsung mengarahkan pandangan pada Lightning seraya berucap "apa yang kau lakukan—" namun kalimatnya terputus seketika saat kedua mata bulat nya menatap pada tubuh Lightning yang termakan kekuatan roh dari Bhunivelze.

"Lightning!"

"ahahahaha! Savior, apa yang sedang kau lakukan?"

Lagi, Bhunivelze menambah kekuatan pada roh hitam yang menyelimuti tubuh Lightning, membuat Lightning menggeram menahan sakit yang ia rasa.

"a—aku—tidak akan mem—biarkan mu untuk—ugh! Menyakitinya!"

Awan yang mengukir halis pada wajah Bhunivelze terangkat setelah mendengar pernyataan Lightning yang mengorbankan dirinya demi melindungi putra mahkota Lucis. Noctis sendiri merasa kaget dengan kalimat yang baru saja Lightning ungkapkan.

"aku mengerti sekarang. Kau maksud pengorbanan cinta? Tapi sayang, itu masih berkesan menjijikan di telinga ku."

Entah apa yang baru saja merasukinya, Noctis merasa dadanya sesak saat mendengar ucapan Bhunivelze, menarik napas dalam pun rasanya seperti menghirup udara dengan jarum yang berterbangan, menancap paru-parunya untuk berhenti bernapas.

'tidak—Lightning tidak sepantasnya di perlakukan seperti itu…'

"lepaskan…"

Si dewa cahaya agung melirik sinis pada Noctis yang menyela omongan nya. ia merasa dilecehkan dengan tingkah "kurang ajar" dari pangeran Lucis ini.

"lepaskan Lightning."

Kedua bola mata Ocean Blue mendadak berubah menjadi merah menyala dengan sebuah kedipan mata. Noctis yang melempar pandangan tajam pada Bhunivelze mengeluarkan aura nila yang berhasil menepis roh yang menerkam Lightning. Membuat Lightning terjatuh lemas diatas tanah.

"aku tahu kau akan melakukan ini, Adam."

Tiba-tiba, sebuah kilatan halilintar besar menyambar, membuat Leviathan yang tengah meliliti tibuh kecil dari adik si Savior itu melepaskan lilitannya. Serah terjatuh, namun pada akhirnya kilat berwarna nila itu berhasil memusnahkan Leviathan yang berada ditengah kehancuran Accordo.

Noctis yang semakin lama semakin mengelurkan energi besar dari dalam tubuhnya membuat angin berputar disekitar tubuhnya, membentuk tornado yang mengerikan. Bhunivelze menatap tidak percaya. Sebuah cahaya membentuk ukiran dari simbol dewi Etro di atas langit. Noctis yang menjentikan jemarinya, memangil sebuah pedang dengan cahaya ungu yang tidak biasa pada lengan kirinya.

Tanpa mengucapkan perpisahan, Noctis segera melemparkan pedang nya pada wajah Bhunivelze, meninggalkan sebuah ledakan besar di langit gelap. ledakan dari pedang Noctis meninggalkan cahaya ungu yang menerangi langit. Kini, wajah Bhunivelze yang terukir dari gumpalan awan pun hilang tertelan kekuatan dahsyat milik Noctis.

"ugh.."

Lemas yang ia rasa saat aura nila yang mengitarinya menghilang seketika tertiup angin. Noctis tidak menghela napas lega dengan kepergian Bhunivelze, namun detak jantungnya masih berdetup tak tentu nada saat menghampiri tubuh Lightning yang terjatuh lemas diatas tanah.

Walau ia bisa bersyukur dengan keberadaan Lightning yang telah terbebas dari terkaman roh milik Bhunivelze, namun napasnya kembali tersendat seketika. Perih yang ia rasa pada kedua matanya saat merasakan tidak ada lagi tanda kehidupan pada denyut nadi sang Savior, Hidung yang terasa menyengat bagai mencium aroma alkohol, Noctis refleks mendekap perempuan yang tengah terluka itu.

Kini entah apa yang membuat hatinya amat terasa sakit, dan entah mengapa ia berharap Lightning tidak 'pergi' meninggalkanya. Ia tidak mengerti mengapa ia merasa sangat menyesal saat ini, bukan kah Lightning adalah satu-satunya orang 'luar' yang terlalu ikut campur dengan urusan pribadi si pangeran Lucis ini? Bukan kah ia orang yang telah disuruhnya untuk pergi jauh menghindari kehidupan cintanya? Noctis kini berada dalam ambang bimbang pada tindak-tanduk yang membuat dirinya sendiri pun heran.

"apa yang harus aku lakukan?!"

Panik yang menghantui pikiran Noctis berhasil membuat tubuhnya bergetar diselimuti ketakutan. Entah apa yang membuat kedua bola mata Blue Ocean miliknya berlinangkan cairan bening. Hingga setetes air mata jatuh membasahi pipi Lightning yang berada pada dekapnya.

'kini kau bisa menyesalinya Adam?'

"berhenti lah beromong kosong!"

'apa? omong kosong? Haha—ini lah nyatanya, bahkan seorang Adam berhasil meneteskan air mata tanda kepedihan yang dirasanya. Terima lah itu, Adam.'

Sakit, sakit yang bertambah menusuk hati pria bersurai kelam yang kini sedang mendekap erat wanita bernama Lightning. Seharusnya ia lah yang ber hak menerima 'permohonan maaf' dari pangeran keras kepala yang masih di butakan itu.

'oh… kasihan sekali Adam. Akhirnya kau bisa menelan-bulat perih seorang wanita yang telah kau acuhkan. Perjuanganya selama hidup sungguh 'tidak berarti' bukan?'

"tutup mulut mu! Bajingan!"

Tawa yang mengiang dalam benaknya terdengar memuakan. Anak ini seolah mempermainkan pikiran Noctis, hingga perasaanya goyah. Namun Noctis pribadi tidak menyadari sebuah makna dalam setiap petunjuk yang telah diberikan anak bersurai kelam itu.

'hmp, tak perlu memanggil ku dengan sebutan oktor itu. kau bisa memanggilku Samael.'

"aku tak peduli dengan nama mu—"

'oh—Adam, sepertinya kau mulai menyadari jawaban dari semua petunjuk ku. namun sayang, kau telah menghancurkan perasaanya. Jika kau benar-benar bisa merasakanya, derita yang ia alami lebih perih dari pada derita mu, loh.'

Noctis berusaha mengacuhkan semua kata-kata Samael yang membuatnya amat bersalah. Ia merasa menjadi pendosa besar dengan semua hal yang telah ia perbuat. Ia belum sempat mengejar jauh untuk meraih dan membawa Stella kembali kepada pelukanya, namun sekarang, perjuanganya terasa sia-sia. Semua kekahwatiranya berpusat pada Lightning, ia juga tidak paham mengapa dalam kondisi ini benaknya sekejap menghapus nama Stella dan membuangnya jauh.

Hal yang kini diinginkanya adalah menyelamatkan nyawa Lightning. Entah perasaan kuat apa yang membuatnya beralih dari Stella, ia masih tidak mengerti.

"pinjamkan—"

Sebuah kata terlontar dari mulutnya yang bergetar, Noctis akhirnya menyerah dengan penyesalan mendalam yang kini tengah melandanya. Dengan napas berat ia melanjutkan kalimatnya yang tertunda.

"pinjamkan aku kekuatan mu untuk menyelamatkanya."

To be continued.


A/N : YE YE YE ULULULU YEYEYE! Segini dulu yah, saya potong buat next chapter :v ohohohoho *dilemparin batu*. Masih gereget gak nih? X"D atau kurang gereget? :"v semoga kalian masih nongkrongin the eden's calling yah. Cirer mau kasih spoiler sebernernya, namun nanti gak bakalan gereget hohohohoh! Btw, pengen tanya nih, bagaimana menurut para readers soal si bocah bernama "Samael" ini? Sebenernya dia unyuk banget lho! *goleran* maksud saya, peranya gimana? Rasa curiga kalian akan OC saya yang bernama "samael" ini bagai mana? Pengen kepo nih X"D.

Okeh Cirer pamitan dulu yah—yok ah geboy!

R&R nya jangan lupa yah beloved readers! Hohohoho! *loncat ke bulan*.