Title : Do XX To Me

Author : Kyuminjoong

Genre : Romance

Main Cast : Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Kim Kibum, Lee Donghae, Lee Eunhyuk, Shim Changmin

Other Cast : Find out in the story :)

Warning : GS

Disclaimer : The original idea belongs to Ema Tooyama (now it's been mixed with my idea)

.

Note : {...} adalah apa yang akan Kyuhyun tulis dalam novelnya.

.

Chapter 9B : Jadilah Pacarku!

.

AUTHOR'S POV

Kyuhyun baru saja terbangun dari tidurnya, sedikit kaget melihat Donghae yang tertidur di sofa di sudut kamarnya. Sepertinya namja itu memutuskan untuk menginap di rumahnya karena ingin menjaga Kyuhyun-meskipun sebenarnya sudah ada Changmin. Kyuhyun memperhatikan wajah Donghae yang tertidur dengan tenang, kenapa namja itu begitu memperhatikannya?

'Badannya pasti pegal. Aish. Dia tidak memakai selimut.'

Kyuhyun memaksakan diri turun dari tempat tidurnya, membawa selimutnya dan memakaikannya pada Donghae dengan lembut.

[]

"Kemarin, apa kau berniat membongkar rahasiaku?!" Kibum berseru kesal pada Changmin. Changmin sendiri sebenarnya sudah tahu kalau sesuatu akan terjadi saat Kibum menariknya keluar begitu dia sampai di kelas, yeoja itu mencari tempat sepi dan akhirnya mulai memarahinya.

"Aku melakukannya karena namja itu benar-benar menjengkelkan. Dia tidak tahu kau menyukainya, kan? Padahal kalian begitu lama bersama," ujar Changmin, tidak terlihat rasa bersalah sedikit pun di wajahnya.

Kibum terdiam. Rasa marahnya perlahan menghilang. Changmin benar, Siwon dan Kibum sudah cukup lama bersama, tapi kenapa Siwon tak bisa menyadari perasaan Kibum? Selama ini Kibum terus menempel di sisinya, mengikuti kemana pun Siwon pergi, tapi Siwon tak pernah mengubah caranya memandang Kibum. Tak pernah ada cinta seperti Kibum mau.

Seandainya suatu saat dia harus tahu, apa Siwon akan menjauh?

[]

"Ternyata gadis aneh itu bisa sakit juga ya?"

Siwon berjalan dengan pelan, tugasnya menumpuk karena ada acara sekolah yang harus dia urus. Tapi seharian ini mood-nya benar-benar buruk, tidak satu pun tugas yang dia lakukan dengan baik. Kepalanya selalu dipenuhi pertanyaan tentang Kyuhyun. Apa dia baik-baik saja? Atau justru demamnya bertambah parah?

Siwon menghentikan langkahnya saat tak sengaja berpapasan dengan Donghae. Siwon sangat ingin menanyakan keadaan Kyuhyun, sayangnya mulutnya seolah terkunci dan dia tak bisa mengucapkan apapun di hadapan Donghae. Tapi Donghae sepertinya cukup pintar membaca isi kepala orang.

"Kalau kau ingin menanyakan soal Kyuhyun, dia baik-baik saja. Karena aku menjaganya semalaman."

Ucapan Donghae membuat Siwon merasa lega, tapi juga kesal di saat yang bersamaan. Menjaga Kyuhyun semalaman? Huh. Kelihatannya Donghae benar-benar memanfaatkan kesempatan dengan baik, pikir Siwon. Akhirnya tanpa mengucapkan apapun Siwon berlalu pergi, berjalan tanpa memikirkan kemana ia akan pergi, dan akhirnya tanpa sadar dia sudah berdiri di taman belakang sekolah yang selalu sepi. Tempat dimana dia dan Kyuhyun bisa bicara berdua tanpa takut ada orang lain yang mendengar. Ah, mengingat Kyuhyun membuatnya semakin merasa bersalah karena kemarin dia sama sekali tidak menyadari Kyuhyun sedang sakit dan malah berniat meninggalkannya begitu saja. Tapi kemudian perasaannya berubah kesal saat teringat ucapan Donghae barusan.

Siwon menghembuskan napasnya dengan kasar, kemudian membalik tubuhnya dan berniat pergi. Tapi Siwon mengurungkan niatnya saat tak sengaja melihat Kibum ada di sana bersama Changmin. Merasa sedikit penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan kedua orang itu, Siwon mendekat perlahan. Tapi tanpa sengaja kakinya justru menginjak ranting dan membuat keduanya menoleh ke arahnya.

Kibum terkejut, tapi berhasil menyembunyikannya. Yeoja itu menghampiri Siwon dengan wajah riangnya dan bertanya apa yang Siwon lakukan disana. Alih-laih menjawab pertanyaan Kibum, Siwon justru sibuk memperhatikan Changmin baik-baik, kemudian kembali menatap Kibum.

"Kibumie, apa kau baik-baik saja bersama dengan Changmin?" tanya Siwon.

Kibum mengerjapkan matanya bingung beberapa kali, dia memutar kepalanya dan menatap Changmin selama beberapa detik kemudian mengangguk pada Siwon. "Eum."

Siwon tersenyum lembut dan mengacak pelan rambut Kibum. "Baguslah. Sepertinya aku tidak perlu lagi terlalu mengkhawatirkanmu."

"Eh?"

Siwon meninggalkan Kibum dan menghampiri Changmin. Tidak ada senyum di wajahnya saat menatap Changmin, tapi bukan berarti Siwon tidak menyukai Changmin.

"Kibum sedikit kesulitan mengatasi emosinya saat tegang, kau harus mengusap kepala atau punggungnya dengan begitu dia akan lebih tenang," ujar Siwon pelan pada Changmin.

Mendengarnya, Changmin tiba-tiba teringat dengan kejadian dimana Kibum terjatuh—menabraknya—, saat itu Siwon sempat mengusap kepala Kibum dengan lembut sebelum kemudian membawanya pergi. 'Apa ini sebabnya dia melakukan itu?'

Puk

Siwon menepuk bahu Changmin sekali, "Aku serahkan Kibum padamu," kemudian berlalu pergi. Changmin menatap Siwon bingung hingga sosoknya menghilang di balik dinding. Keningnya berkerut memikirkan kalimat terakhir yang diucapkan oleh Siwon.

'Apa maksudnya?'

[]

Kyuhyun memutar tubuhnya, berguling ke kiri dan ke kanan di atas tempat tidurnya, entah sudah berapa kali Kyuhyun melakukan hal itu. Mau bagaimana lagi? Changmin harus sekolah, begitu juga Donghae yang baru pulang tadi pagi, sedangkan Eommanya yang baru saja kembali hanya menengok keadaannya sebentar dan langsung sibuk melakukan entah apa di dapur. Bosan. Sangat sangat sangat bosan. Itu yang Kyuhyun rasakan sekarang.

"Daripada tidak ada kerjaan mungkin lebih baik aku membaca novel buatan Siera."

Kyuhyun mengangguk membenarkan idenya sendiri kemudian meraih ponselnya yang tergeletak di meja nakas di samping tempat tidurnya. Beberapa menit terlewati dengan Kyuhyun yang serius membaca rentetan kalimat di dalam ponsel mungilnya.

"Aish. Dia benar-benar lawan yang tangguh. Menulis cerita tentang cinta terlarang antara raja dan pelayannya. Cinta yang menyedihkan tapi juga manis disaat bersamaan," Kyuhyun berkomentar dengan nada tidak suka saat selesai membaca beberapa chapter dari novel buatan rivalnya. Berniat menemukan cara untuk mengalahkan rival yang terus mengancam posisinya itu, Kyuhyun kembali melanjutkan untuk membaca beberapa chapter berikutnya.

[]

Heechul baru saja selesai membuat bubur untuk Kyuhyun dan sedikit mencicipinya saat tiba-tiba saja bel rumahnya berbunyi beberapa kali. Dengan sedikit terburu-buru Heechul melepas apron yang dikenakannya dan berlari menuju pintu depan rumahnya.

Sedikit tidak percaya saat seorang namja tampan bertubuh tinggi berdiri di depan pintu rumahnya dan mengatakan kalau dia adalah teman sekelas Kyuhyun yang berniat menjenguk Kyuhyun. Heechul mempersilahkan namja itu untuk masuk ke dalam rumahnya masih dalam keadaan trans dan mata yang memandang takjub pada namja tampan dengan senyum yang manis itu.

'Omo! Ada seorang namja menjenguk Kyunie-ku! Rupanya dia benar-benar sudah beranjak dewasa,' pekik Heechul dalam hati. Dengan senang hati—cenderung overexcited—Heechul mengantarkan namja itu ke kamar Kyuhyun kemudian kembali ke dapur—tentu saja Heechul tidak mau mengganggu anaknya.

"Kau? Apa yang kau lakukan disini? Ini kan masih jam sekolah," tanya Kyuhyun saat melihat Siwon yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.

"Apa lagi? Tentu saja menjengukmu, pabo! Lihat ini, aku bahkan membawakan kue untukmu," ujar Siwon seraya memamerkan paper bag dengan logo sebuah toko kue besar yang cukup terkenal.

"Err...gomawo."

Siwon meletakan kuenya di atas meja nakas, kemudian menatap tiap sudut kamar Kyuhyun yang didominasi oleh warna baby blue. Sesekali namja itu mengusap tengkuknya, terlihat jelas kalau saat ini dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

"Maaf..."

"Hmm?" Kyuhyun mengerutkan keningnya bingung saat Siwon dengan tiba-tiba mengucapkan kata maaf.

"Kemarin aku tidak menyadari kalau kau sedang sakit," lanjut Siwon tanpa berniat melihat wajah Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum kecil melihat ekspresi wajah Siwon, mungkin dia harus merayakan ini, Siwon mengucapkan kata maaf dengan sangat tulus—Kyuhyun sangat yakin kalau ini adalah hal yang langka.

"Bicara apa sih? Kau kan bukan dokter, jadi wajar kalau tidak sadar," ujar Kyuhyun dengan senyumnya yang manis, Siwon menatap Kyuhyun dalam diam, sedikit merasa lega melihat yeoja itu tersenyum dan tidak terlihat marah sama sekali.

"Lagipula, aku baik-baik saja sekarang, karena Donghae menjagaku semalaman."

Pop!

Siwon menatap Kyuhyun kesal, empat sudut siku-siku yang tidak kasat mata sudah menghiasi dahinya. Kenapa juga Kyuhyun harus menyebut nama Donghae disaat seperti ini?

"Hya! Apa kau tidak punya kerjaan selain membicarakan namja tengil itu?"

Kyuhyun menatap Siwon bingung. Namja di depannya benar-benar aneh, sebentar dia tersenyum seperti malaikat, detik berikutnya dia marah-marah seperti orang yang baru dirampok.

"Apa, sih? Tapi karena kau bilang begitu, aku jadi ingat novelku. Apa yang akan ku tulis, ya?" ujar Kyuhyun—yang sepertinya sama sekali tidak sadar kalau dia sudah membuat sesuatu terbakar di dalam dada Siwon.

Kyuhyun—yang tidak tahu apa-apa—kembali menatap ponselnya dan kali ini mulai mengetik beberapa kata. "Begini saja..."

{Marie bertemu musuh dan terluka, tapi ksatria Aiden berhasil menyembuhkan lukanya. Sementara itu, entah apa alasannya, Andrew datang menjenguknya.}

Kyuhyun tersenyum kecil, kemudian menatap Siwon. "Kalau begini, misimu ke dua belas adalah...rawatlah aku!" ujar Kyuhyun seraya mengacungkan jari telunjuknya ke arah Siwon.

"Arasseo."

Bling

Kyuhyun mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian memicingkan matanya menatap Siwon dengan penuh curiga. "Eh? Tidak ada penolakan? Mencurigakan."

"Kau ini. Biarkan orang memanjakanmu saat kau sedang sakit!" ujar Siwon gemas, lagi-lagi dahinya yang mulus dihiasi empat sudut siku-siku tak kasat mata.

"Kalau begitu suapi aku kue yang kau bawa itu," ujar Kyuhyun dengan nada memerintah. Siwon menurutinya tanpa protes sedikit pun. Di bukanya kotak kue yang masih tertutup rapat di dalam paper bag yang dibawanya tadi. Siwon mengeluarkan Mount Blanc cake beserta sebuah sendok kecil dan mulai menyuapi Kyuhyun. Kyuhyun membuka mulutnya lebar-lebar menyambut tiap potongan kue yang manis itu, menikmati krimnya yang lembut juga pemandangan orang yang menyuapinya saat ini dengan hati riang.

'Kenapa aku harus merasa gugup? Ngomong-ngomong, saat ini Kyuhyun sedang memakai piyama...' Siwon entah bagaimana mulai tidak bisa mengendalikan pikirannya dan dengan bodohnya malah mengurusi pakaian Kyuhyun yang tipis dan sedikit terbuka di bagian dada itu—well, apa yang kau harapkan dari selembar piyama?

"Hya! Kau membuat wajahku berantakan!" suara Kyuhyun yang mengomel dengan keras mengembalikan Siwon ke dunia nyata dan membuat namja itu mengusir pikiran-pikiran—sedikit—nakal yang mulai hinggap di kepalanya. Oh, sepertinya karena terlalu sibuk dengan hal lain, bukannya mengarahkan sendok ke mulut Kyuhyun, Siwon justru membuat sendok itu mendarat di pipi mulus Kyuhyun.

"M-mianhae. Biar aku bersihkan," ujar Siwon panik seraya mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk membersihkan wajah Kyuhyun yang kini berlapis krim. Untunglah Siwon menemukan sekotak tisu, dengan cepat dia mengusapkannya ke wajah Kyuhyun.

Kyuhyun terdiam membiarkan Siwon membersihkan wajahnya dengan hati-hati. Sejujurnya Kyuhyun sedikit bingung melihat sikap Siwon hari ini.

"Siwon-ah, disini juga ada..." ujar Kyuhyun, seraya menarik sedikit kerah piyamanya, membuat Siwon membelalakan matanya menatap kulitnya yang putih bersih semakin terekspos.

"M-mwo? T-tentu saja kau bisa membersihkannya sendiri," ujar Siwon gugup lalu memalingkan wajahnya yang memerah.

"Hmfft."

Bling

Siwon mematung, otaknya sedang mencernan apa yang terjadi saat ini, Kyuhyun yang baru saja menggodanya dengan tiba-tiba tertawa seperti orang bodoh.

"Hya! Kau mempermainkanku?!"

"Salah sendiri. Sikapmu aneh sekali, aku jadi ingin menggodamu," jawab Kyuhyun masih dengan suara tawa yang tertahan.

"Aish. Dasar. Kau harus ku beri hukuman," ujar Siwon kemudian menatap Kyuhyun dengan seringai menyeramkan di wajahnya. Kyuhyun menelan ludahnya takut.

"Aku kan sedang sakit," ujar Kyuhyun, berharap Siwon mengurungkan niat untuk menghukumnya.

"Tenang saja, ini tidak akan menyakitkan."

Detik berikutnya Kyuhyun sudah terbaring di atasnya tempat tidurnya, bergerak dengan brutal dengan Siwon yang berada di atasnya, menggelitiki pinggangnya. Suara tawa dengan cepat memenuhi kamar yang minimalis itu.

"Aku menyerah! Aku mengaku salah," ujar Kyuhyun dengan wajah yang sudah memerah. Siwon yang merasa kasihan karena Kyuhyun sepertinya kelelahan akhirnya berhenti menggelitikinya dan berbaring di samping tubuh Kyuhyun. Keduanya masih tersenyum sambil berusaha mengatur napas.

Kalau terus begini, rasanya sangat menyenangkan.

"Tapi...permainan cinta ini tidak benar-benar membuat kita terikat ya...," ujar Kyuhyun tiba-tiba, senyumnya mulai memudar dan kini matanya menerawang menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya.

"Eh?" Siwon memutar kepalanya menatap Kyuhyun, tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan yeoja itu.

"Ikatan yang kuat seperti yang kau dan Kibum miliki, mungkin juga seperti yang aku dan Changmin atau Donghae milikki. Kita tidak memilikinya, iya kan?" ujar Kyuhyun lagi. Siwon terdiam, dia tahu kemana arah pembicaraan ini.

"Semua ini hanya tentang misi. Hanya sebuah hubungan yang dangkal," Kyuhyun melanjutkan ucapannya.

"Ap—"

"Kalau Kibum memang spesial bagimu, maka tinggallah disisinya. Jangan khawatirkan tentang aku. Cukup datang padaku untuk misi."

Siwon mematung. Otaknya tidak bisa mencerna kenapa saat itu Kyuhyun bisa mengatakan hal semacam itu dengan senyum di wajahnya. Senyum yang entah kenapa membuat hatinya berdenyut sakit.

[]

"Siwonie tidak mengangkat telponnya," Kibum bergumam kecil kemudian menatap ponselnya dengan sedih. Sejak bertemu dengan Siwon di taman belakang, Kibum belum melihatnya lagi sampai bel pulang sekolah berbunyi. Kenapa Siwon tidak mengatakan apapun padanya? Kemana dia pergi? Lalu sebenarnya hal apa yang begitu penting sampai Siwon memutuskan untuk membolos sekolah? Itu semua adalah pertanyaan yang berputar di kepala Kibum saat ini.

"Kibum-ssi~"

Kibum sedikit tersentak saat mendengar seseorang memanggilnya, begitu kepalanya terangkat tiga orang namja sudah berdiri di depannya dengan senyum yang sebenarnya membuat mereka terlihat menakutkan.

"Karena Siwon sudah pergi, ayo kita pulang bersama."

"Kami selalu ingin bicara denganmu."

"Mau mampir di jalan?"

"Ini kesempatan yang bagus."

Ketiga namja itu mulai bicara tanpa memperhatikan raut wajah Kibum yang benar-benar ketakutan.

"M-mianhae, aku tidak bisa!" Dan sebelum mereka sempat melakukan apapun Kibum berlari pergi secepat kilat.

Kibum terus berlari tanpa memperhatikan jalan di depannya. Dia merasa takut, biasanya selalu ada Siwon yang berdiri di sisinya, membuatnya merasa terlindungi dan aman. Tapi sekarang Siwon malah meninggalkannya sendirian tanpa kabar. Ini membuatnya sedih dan kecewa.

"Eoh? Hya—"

"UWAAAA!?"

BRUK

Kibum tak sempat menghentikan langkahnya saat tiba-tiba saja Changmin muncul dari balik lorong di depannya. Changmin yang juga tidak siap menahan tubuh Kibum akhirnya terjatuh bersama Kibum.

"Hya, lagi-lagi, berapa kali kau mau menabrakku huh?" omel Changmin.

Seakan tak mendengar omelan Changmin, Kibum justru merasa lega karena orang yang tak sengaja ditabraknya adalah Changmin. Karena itu Changmin, sekarang Kibum merasa semua akan baik-baik saja. Tanpa sadar yeoja itu sudah memeluk Changmin erat-erat, membuat yang dipeluk hanya bisa mengerjapkan matanya dengan bingung. Sebelum kemudian Changmin kembali teringat dengan ucapan Siwon. Meskipun bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, tapi setidaknya Changmin harus menenangkan Kibum yang sepertinya mulai menangis.

"Uljima..." Suara Changmin terdengar lembut, sama seperti tangannya yang mengusap kepala Kibum saat ini, terasa lembut.

[]

Donghae memasuki sebuah kafe yang cukup terkenal di kawasan Myeongdong sendirian, matanya yang jernih menyusuri tidap sudut kafe dan berhenti pada sosok seorang yeoja berkulit putih yang duduk sendiri di sudut kafe. Donghae menatap yeoja itu lama, sedikit ragu untuk menghampirinya. Ada perasaan rindu saat melihat wajahnya, tapi perasaan lain membuatnya enggan menemui yeoja yang dikenalnya dengan sangat baik itu.

Donghae berniat meninggalkan kafe itu saat itu juga kalau saja yeoja itu tidak melihat ke arahnya tiba-tiba. Merasa sudah tidak mungkin untk pergi begitu saja, Donghae menghela napas panjang dan melangkah menghampiri yeoja manis itu.

"Oppa, oraen manieyo.." ujar yeoja itu seraya tersenyum manis. Senyum yang dulu selalu mengisi hari-hari Donghae. Donghae hanya membalasnya dengan senyuman kecil, kemudian duduk di hadapan yeoja berambut pirang itu.

"Ah, kau mau pesan sesuatu?" Yeoja itu baru saja akan memanggil pelayan jika saja Donghae tidak menghentikannya lebih dulu.

"Tidak perlu. Aku tidak punya banyak waktu, jadi katakan saja apa yang ingin kau katakan," ujar Donghae, dingin. Benar-benar berbeda dengan caranya berbicara dengan Kyuhyun. Yeoja itu mencoba tersenyum, meskipun terlihat jelas kalau dia kecewa dengan sikap Donghae.

"Oppa...aku benar-benar menyesal karena kita harus berpisah saat itu... Bisakah kita kembali seperti dulu?"

Donghae diam tak menjawab, tangannya terkepal erat. Semuanya akan lebih mudah seandainya yeoja di hadapannya tak pernah memutuskan hubungan mereka dulu, mereka pasti masih bersama sampai saat ini, menjadi pasangan paling bahagia.

"Kau masih marah? Geundae...kau juga harus mengerti, Oppa. Saat itu kita berdua hanya murid SMP, masih terlalu kecil untuk bisa hidup sendiri. Aku tidak mungkin tetap tinggal di Korea untuk bisa bersamamu sementara orang tuaku pergi ke Eropa."

"Aku tidak pernah memintamu untuk tetap tinggal, aku hanya bilang padamu untuk tetap mempertahankan hubungan kita. Tapi kau bilang kau tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh. Aku menerima keputusanmu, dengan susah payah aku menerimanya dan mencoba melupakanmu. Lalu apa yang kau harapkan sekarang? Kembali bersamaku? Apa kau bisa jamin hal yang sama tidak akan terulang?"

"Oppa..." Yeoja itu menatap Donghae dengan mata berkaca-kaca. Donghae yang dulu tak pernah tega memarahinya seperti sekarang. Tapi kelihatannya namja itu berubah banyak, sekarang dia melakukannya dengan mudah. Meski mencoba untuk tidak menangis, tapi akhirnya airmata itu mengalir juga.

Donghae tersentak, dia sama sekali tidak bermaksud membuat yeoja dihadapannya menangis. "Mianhae. Ku mohon jangan menangis. Kau membuatku terlihat seperti orang jahat."

"Kalau begitu kembalikah padaku! Kenapa tidak bisa? Bukankah kau masih mencintaiku?"

Eunhyuk, yeoja manis itu berharap Donghae akan mengatakan 'iya', menganggukkan kepalanya, atau mungkin sekedar menatap matanya agar dia bisa membaca apa yang tertulis di balik bola mata Donghae yang jernih. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, jangankan sebuah anggukkan kepala apalagi jawaban 'iya', Donghae bahkan tak menatap wajahnya sama sekali.

"Mwoya? Apa kau sudah menemukan gadis lain?"

Donghae tak menjawab, tapi itu cukup membuktikan kalau namja itu memang sudah menemukan penggantinya. Eunhyuk semakin kecewa, airmatanya mengalir semakin deras.

"Oppa...aku tidak percaya kau benar-benar melupakanku begitu saja."

Donghae tak bisa berbuat apa-apa saat yeoja itu berlari meninggalkan kafe dengan terisak. Setengah hatinya menyuruhnya untuk berlari mengejarnya, tapi setengah yang lain terlanjur membeku untuknya dan mengatakan untuk tak lagi berurusan dengannya.

[]

"Syukurlah. Demammu sudah turun." Heechul terlihat lega saat melihat thermometer yang baru saja keluar dari mulut Kyuhyun. Pintu kamar Kyuhyun terbuka, kemudian ayahnya yang baru saja pulang kerja muncul masih dengan setelan jas lengkap dan tas kerja ditangannya.

"Eoh? Kau sudah pulang?" ujar Heechul kemudian menghampiri suaminya.

"Kyuhyun-ah, di luar ada anak laki-laki, dia berdiri di depan rumah kita. Apa dia temanmu?" ujar Hankyung—ayah Kyuhyun dan suami Heechul. Kyuhyun mengernyit bingung, kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan menatap keluar dari jendela kamarnya. Matanya memicing mencoba melihat dengan lebih jelas sosok seorang namja dengan tubuh tinggi yang mengenakan seragam sekolahnya. Seketika matanya membulat, dan tanpa mengucapkan apapun Kyuhyun berlari keluar dari kamarnya.

Kyuhyun berhenti berlari saat dirinya sampai di depan rumahnya. Matanya seolah tak percaya kalau namja yang berdiri di depannya saat ini benar-benar Choi Siwon. Sudah hampir tiga jam berlalu sejak Siwon pamit dan keluar dari kamarnya, lalu kenapa namja itu masih ada di depannya rumahnya?

Siwon menoleh padanya, pandangan matanya sungguh tak bisa ditebak. Kyuhyun masih terdiam berusaha mengatur napasnya setelah berlari dari kamarnya.

"Siwon-ah?! Jangan bilang kalau kau berdiri disini sejak—"

Belum selesai Kyuhyun berbicara, Siwon memotong ucapannya. "Tidak peduli apa yang kau pikirkan..."

Matanya masih memandang Kyuhyun dengan intens. Itu tatapan yang tidak pernah Kyuhyun lihat sebelumnya. Kyuhyun tidak tahu kalau sejak keluar dari kamarnya Siwon terus memikirkan ucapan Kyuhyun tentang hubungan mereka yang dangkal dan tanpa 'ikatan'.

"Sudah sejauh ini...aku tidak berniat hanya menjalani hubungan yang dangkal."

"Eh?"

"Kyuhyun-ah, jadilah pacarku."

TBC

Bwahaha~ TBC dengan sangat tidak elit :p

Lumayanlah, walopun ga secepet kemaren, tapi ini juga termasuk update yg cepet, kan? :3 ,, Tadi'a sempet ilang mood buat nulis krn ada insiden di rumah, tapi krn hari ini ultah babyKyu yang unyu2, aku niat2in deh buat nerusin ni ff :3

Happy born day my sweety~ Wish you all the best! Always be my cutie Kyunie! :p

Cuma Kyu doang manusia yg tambah tua tambah imut XD

Seperti biasa, selalu berharap tiap chapter'a ff ini tidak mengecewakan :3

Oh! Ada yg nanya saya dpt inspirasi dari mana buat ff ini, jawaban'a, pertanyaan ini harus'a dikasih ke Ema Tooyama sensei, karena dia yg buat cerita ini *meskipun saya dg kurang ajar'a ngotak-ngatik ni crita* ,, ff ini remake dari komik, ga pd lupa kan? XD

Trus, kalo masalah ni ff mau mpe ch brp, saya jg ga tau, tp spt'a skitar ch 15.. Knp? Udah kpanjangan kah?

Oke~ Ditunggu review'a~