Kamu langit...
Dan aku bumi...
Hal yang mustahil dalam kelogikaan...
Bahwa aku dan kamu...
Memang seperti langit dan bumi...Chapter 10 : Langit dan Bumi
Earth ...
Heaven ...
Fire ...
Water ...
Blue ...
Green ...
Ia memaparkan kedelapan gulungan tersebut tepat berada di atas meja para siswa. Menimbulkan rasa penasaran yang begitu terasa tatkala para siswa dan siswi menatap intens kepada gulungan tersebut. Ia, sosok yang menunjukkan suatu hal aneh itu mulai menatap satu-persatu anak didiknya.
"Ujian para Esper. Sekarang." Singkat, padat namun jelas. Kalimat itu dapat membuat seluruh siswa menggema meneriakkan kata-kata 'jeritan derita' di masing-masing frekuensinya. Sang guru sok cool itu hanya diam menatap anak didiknya yang tengah dilanda keterkejutan. Yah, sebuah ujian mendadak tanpa sebuah pelatihan dan persiapan memang wajar membuat para siswa panik. Namun, ini hanya semata-mata untuk mengungkapkan sebuah resolusi dari kasus yang menimpa ketua B. A. B. E. L itu.
"Oh no ... Apa yang harus kulakukaann?! aku tak tahuu! oh, kami-saamaa! tolonglah hambamu ini yang terkena kepahitan, penderitaan dari seorang guru datar overdosis yang-"
"BISAKAH KAU DIAM NARUTOOO?!" bentakan bak guntur diterjang guntur lain membuat kelas menjadi hening dan sedikit syok. Ya, bentakan dari seorang Haruno Sakura yang selalu menjadi tunjangan keheningan di kelas itu benar-benar membuat para guru tersenyum puas.
Yah, bisa dibilang, gadis pinkish itu juga sedikit 'depresi' karena memikirkan ujian tanpa persiapan apapun. Beruntungnya ia yang bernotabene seorang Esper psycokinesis, dan buruklah nasib seseorang yang bernotabene seorang Esper psykometrer. Karena tanpa sebuah senjata, Esper psykometrer hanyalah seorang manusia lemah tanpa kekuatan.
"Matilah aku. Sial, guru sialan." Umpat salah satu seorang gadis yang tengah menelungkup di atas meja belajarnya. Rambut pirang pucatnya ia gerai hingga ujung pangkalnya ia ikat. Terus membenturkan kepalanya ke meja belajarnya, Sang gadis tersebut berujar.
"HUWAAAA!" Shion, gadis itupun menangis dengan manjanya. Membuat suasana kelas yang semula diterjang guntur kembali diterjang tangisan keras.
"BISAKAH KAU DIAM SHION?!"
"Ta... Tapi Sakura-chan ..."
"-DIAM!"
"Ta... tapi ..."
"-DIAM! DIAM! DIAM!"
"Huwaaa ... Sakura-chan jahatt!"
"KYAAA! KUMOHON DIAAMM!"
Sungguh, hampir semua murid di kelas bersweatdrop ria melihat aksi overakting yang dilakukan Sakura dan Shion. Yah, dua gadis itu memang selalu membuat keributan di kelas. Dan dalangnya? yah, pasti si gadis pirang yang memicu kemarahan Sakura.
"Sudahlah Sakura-chan, tenangkanlah dirimu." Naruto mulai menepuk pundak Sakura dengan perlahan. Memasang senyum terlembutnya kepada Sakura.
Dan apa yang ia dapatkan?
BUAAK!
"Ugh."
"Dasar! gara-gara Sakura itu kekasihmu, jadi kau tidak mengkhawatirkanku hah?!" ya, wajah tan Naruto sukses terkena lemparan sepatu dari Sang gadis bersurai pirang a. k. a Shion. Memaki-makinya dengan nada melengking. Yah, setidaknya, wajarlah ia kesal. Sebagai wanita, ia dianggap nenek sihir diantara kedua Romeo dan Juliet ini.
Akan tetapi, itu tak lebih dari sekedar guncangan biasa. Sebuah kata yang keluar dari indra pembicara dapat membuat akibat yang fatal. Dilalui oleh sebuah argumen seenaknya yang Shion buat, akan mengakibatkan,,
Twitch!
Seseorang bak tertimpa genting jatuh.
"SEENAKNYA SAJA KAU BICARAAA SHIOONN!" kemarahan Sakura membludak. Disertai wajah bersemu merahnya yang sukses menodai wajah cantiknya. Sementara Sang pelaku? ia hanya mendelik malas kepada Sakura. Menunjuk Naruto dengan acuh tak acuh seraya berkacak pinggang.
"Tanya saja Naruto. Sakura itu benar-benar kekasihmu bukan?" entah apa hubungannya dengan Naruto. Ia ditunjuk dengan ketus oleh Shion.
Tapi, waktu yang sekarang ia pikirkan adalah ...
Apa yang harus ia jawab?!
"Err, bagaimana ya? aduh, kok aku seperti ini sih? err, i-yaampun, apa yang harus kujawab-"
"TENTU SAJAA BUKAN BAKA!" cukup untuk disamakan dengan buah kesukaan sahabat teme Naruto itu. Wajah Sakura benar-benar memerah. Entah karena apa itu, namun hal tersebut cukup membuat Shion tersenyum bangga. Ya, ia dalang dari semua ini, hanya mempunyai satu tujuan. Yaitu untuk membuat Naruto dan Sakura semakin dekat.
Tapi dengan cara yang 'penuh penderitaan'.
Saat murid-murid tengah asik dilanda keributan, seorang wanita bersurai sama dengan Shion datang dengan tenang. Menatap suana kelas yang begitu ramai di balik kaca jendela kelas. Sedikit wanita tersebut mengernyit heran tatkala melihat seorang Guru yang tengah menundukkan kepalanya di atas meja. Apakah Sang Guru tidak peduli sama sekali atas keributan yang berada di kelasnya?
'Ah, pasti ia kelelahan menangani anak didiknya.' Pikirnya. Menghampiri Guru tersebut seraya menyibakkan tangan Guru itu.
Dan sialnya, bukanlah hal yang dapat wanita itu duga, ia dapat mengambil sebuah asumsi kepada Sang Guru yang tengah meringkuk itu.
Melainkan, Guru tersebut tengah melakukan sebuah sleeping beauty dengan sebuah majalah 'para gadis'.
Nasib buruk.
BRAAAK!
"UWAAA!" kini, perpindahan generasi yang dilakukan sebuah keributan tersebut benar-benar menjadi. Wanita tua bersurai pirang pucat namun awet muda itu memukul Sang Guru tersebut dengan keras. Membuat raut wajah para siswa itu patut disamakan.
Melongo.
'Sakura kw 2.' Pikir Naruto tatkala melihat Guru tersebut. Tersenyum puas seraya melirik Sang Guru yang 'hampir' babak belur itu. Seakan-akan raut wajahnya mengatakan 'heh, rasakan itu.'
"Perkenalkan, aku Tsunade Senju. Divisi perlindungan Esper tingkat Mayor III yang berada di ANBU. Mungkin, ini bukan pertama kalinya saya memperkenalkan diri atau saya ke kelas ini. Tujuan saya kemari, hanya untuk membawa para siswa dan siswi disini untuk mengikuti ujian yang akan dilaksanakan hari ini." Wanita cantik itu berujar dengan begitu tegas. Menggambarkan seseorang yang begitu berwibawa. Seketika, raut para murid berubah drastis menjadi raut serius. Tak terkecuali para The God Esper yang tengah menyeringai licik.
"Esper Psykometrer. Kami telah menyiapkan sebuah senjata untuk melawan para ANBU. Untuk semuanya, jangan khawatir." Tsunade tersenyum kecil. Meyakinkan para siswa-siswi yang semula ragu akan kekuatannya.
Dan ujianpun, baru saja dimulai.
"Apa kalian siaap?"
"SIAP!"
Disclaimer : ©Masashi Kishimoto
Pair : Sakura x Naruto
Rate : T
Genre : Fantasy x Romance
Warning : TYPO, OOC, AU, DLL
Don't like ? Don't Read!
Blue Heaven..
Ya, sebuah gulungan yang tergenggam erat oleh seorang pemuda bersurai pirang. Menatap gulungan itu dengan raut datar. Mencoba memikirkan apa rencana para ANBU dibalik ujian mendadak seperti ini. Jika ia pikirkan dengan logis, adalah sebuah hal yang mustahil jika benar bahwa ujian ini hanya untuk semata-mata mengukur kemampuan para siswa TCE.
"Ini mungkin hanya asumsiku. Bahwa mereka, mungkin telah mengetahui sosok yang telah mencelakai ketua B. A. B. E. L . Dan melaksanakan ujian ini, agar salah satu dari The God Esper... mengeluarkan kemampuannya." Gadis yang berada di samping pemuda itu berbicara dengan raut dingin. Menggenggam gulungan yang bertuliskan 'Red Heaven' yang berada di tangan mungilnya. Naruto, pemuda tersebut menatap kearah Sang gadis dengan tatapan yang masih dalam keadaan netral.
"Cara yang brilian untuk seorang manusia lemah seperti mereka. Dan kita pun tak terlalu bodoh untuk mengeluarkan kemampuan yang dapat membongkar identitas kita. Huh, tak usah dipikirkan." Perlahan, pemuda itupun mulai melangkahkan kakinya. Meninggalkan Sang gadis yang diketahui bernama Shion tersebut dengan tenang.
Namun, sebuah pertanyaan sukses menuntutnya untuk menghentikan langkahnya.
"Hei, alasan yang samakah saat kau tak mau menyelamatkan Gaara-kun yang hampir jatuh ke jurang?"
Tep!
Itu pertanyaan logis dan jenius untuk seorang Gadis sepertinya. Memikirkan jawaban dari Sang ketua yang penuh kemisterian ini. Memang, jika ia pikirkan, menyelamatkan Gaara dari sebuah jurang adalah hal yang mudah jika ia bernotabene Esper Psycokinesis walaupun mempunyai level rendah. Entah kenapa, itu selalu menjadi hal yang janggal bagi Shion.
"_"
"Kau tak mungkin membiarkannya jatuh dari jurang bukan? itu tidak-"
"-untuk apa menyelamatkan seorang manusia yang hampir menyakiti kita? jika bukan karena kau, mungkin dia sudah menjadi sekumpulan tulang belulang disana." Ya, perkataan dari Naruto sukses membuat Shion terpaku. Ternyata, Naruto belum mampu melupakan tragedi mengerikan yang menimpa ibunya.
"Seseorang yang telah membuat kita menderita. Takkan membuat mereka mudah meluluhkan sebuah rasa sakit. Karena dendam ini terlalu kuat untuk dikendalikan. Memori pahit itu terlalu kuat untuk dilupakan. Dan jangan berharap, aku akan mudah luluh seperti hatimu itu." Perkataan dari Naruto sukses membuat Shion bungkam seketika. Membelalakkan kedua iris lavendernya dengan raut tak percaya. Apakah benar, hatinya terlalu mudah luluh? apakah benar, ia terlalu cepat melupakan kejadian yang menimpa keluarganya?
Ayah... dan ibunya.
DEG!
Sontak raut wajah jelitanya berubah drastis. Menatap sinis dan licik kepada sekitarnya. Sosok kegelapannya, sepertinya kembali menghadangnya. Mengalahkan sebuah rasa cintanya dan rasa kehangatannya.
"ANBU menginginkan kita. Berarti, kita menginginkan nyawa ANBU." Ujar Shion sarkatis. Menyeringai sinis seraya menatap anggota ANBU yang berada dihadapannya.
.
.
.
"Tsunade-sama, gawat." Sedikit terkejut atas kedatangan anak buahnya, wanita bersurai pirang itu mulai menghentikan pekerjaannya seraya menatap serius kepada Sang anak buah.
"Ada apa?"
"Presentase 'Devil' dari E-meter me-meningkat 10%."
DEG
"APA?!" ya, diselingi keterkejutan dari seorang Tsunade Senju. Membuatnya takluk pada sebuah ketidakpercayaan. Devil, jika presentase Devil mencapai 100%. Itu berarti, The King of Esper dan rekannya akan diselimuti oleh kebencian. Menyerang para golongan manusia biasa dengan kejam. Dan Tsunade, tak ingin kotanya bernasib sama dengan Desa Konoha.
Atau kemungkinan terburuk, mereka mengetahui tentang rencana dibalik ujian ini
"Menurut saya, kejadian seperti ini tidak dapat dikatakan sebagai sebuah kebetulan belaka. Bahwa The God Esper, mungkin saja mengetahui rencana kita Tsunade-sama." Ya, apa yang dipikirkan anak buahnya sama dengan apa yang dipikirkannya. Bertopang dagu di mejanya. Berpikir keras atas resiko yang ditimpal balik jika ia tetap menjalankan ujian ini. Sungguh, Tsunade takkan menduga rencana ini akan mengakibatkan hal yang begitu fatal.
Akan tetapi, ini akan lebih fatal jika ia menghentikan ujian tersebut tanpa sebuah alasan yang jelas.
"Tetap jalankan ujian ini."
"Eh?"
"Bagaimanapun juga, kita telah berusaha keras untuk merencanakan ujian ini. Takkan kubiarkan hasil dari kerja keras kita membuahkan hal yang sia-sia." Ujar Tsunade seraya berjalan ke lorong sekolah. Melangkahkan kakinya menuju para siswa dan siswi yang tengah berkumpul di sebuah lapang nan luas. Ia berhenti tatkala tujuannya telah mencapai batas waktu untuk berjalannya. Menggenggam 4 gulungan di masing-masing tangan putihnya seraya menyimpan gulungan tersebut di meja yang berada di hadapannya. Kemudian, ia keluarkan kembali 4 gulungan yang lain yang ia terima dari rekannya.
"_"
Tak ada tawa, candaan, atau suara sekalipun yang keluar dari Sang indra pembicara. Berbaris rapi disertai tatapan menyimak kepada Tsunade.
"Tujuan dari ujian ini, adalah..." Ia pun meraih keempat gulungan di masing-masing genggamannya.
"Memasangkan gulungan Blue Earth dengan Green Heaven, Blue Heaven dengan Green Earth, Green Fire dengan Blue Water, dan Blue Fire dengan Green Water. Carilah salah seorang teman kalian yang mempunyai gulungan pasangan kalian. Lalu, bawa gulungan tersebut hingga sampai di kuil yang berada di tengah hutan terlarang. Jika kalian berdua lulus dalam ujian tahap pertama, maka kalian akan mengikuti ujian tahap kedua dimana keduanya akan menjadi satu team yang beranggotakan dua orang. Apa penjelasanku dapat dimengerti?"
"Siap! mengerti." Mendengar itu, ia tersenyum kecil. Mulai berjalan kearah gerbang hutan terlarang yang sepertinya akan Tsunade buka.
Crieett...
Raut wajah semua siswa mulai berubah.
Crieet..
Siap untuk melaksanakan sebuah ujian tanpa latihan. Dan dengan kemampuan mereka sekarang ...
Brak!
Ujian ini akan terasa sulit.
"MULAI!"
Set!
Set!
Set!
Semua siswa, mulai melompat menuju arah gerbang. Berlarian kencang dengan semangat di atas puncak. Dengan menjalankan ujian secara individu, mereka mulai berlari. Melewati sebuah jembatan yang akan menjadi pembatas untuk berpencar, dan mencari pasangan gulungan mereka.
Set!
Set!
Set!
Bagaikan sebuah perkumpulan tak tentu arah. Dalam sepersekian detik, mereka telah berada di sebuah jembatan. Dan mulai berpencar dalam interval yang begitu singkat. Tak terkecuali Sang pemuda bersurai pirang yang masih melanjutkan larian kilatnya.
Dengan membawa sebuah gulungan Blue Heaven.
.
.
OoOoOoOoOoOo
.
.
Green Heaven
Ia terus menyipitkan kedua mata onixnya. Mengamati sebuah gulungan yang berada di genggamannya. Ya, Sang pemuda raven tersebut terus mengamati segulung kertas itu dengan cermat. Memikirkan suatu hal yang terus menghantui pikirannya.
Apa isi dari gulungan itu?
Bruk!
"Aw!"
"Ugh."
Tak melihat jalan, naas pemuda raven itu, Sasuke Uchiha menabrak seseorang yang berlari di sampingnya. Ia terjatuh oleng, sehingga menggenggam sebuah gulungan yang digenggami oleh seorang pemuda yang menabraknya.
Blue Earth?
"KYAA, Sasuke-kun~ Sepertinya kita akan menjalankan ujian ini bersama-sama dalam senang maupun duka~"
Deg!
Bagai kilat menyambar tubuhnya. Bagai jarum yang menghujam tubuh Sasuke. Perkataan yang berlogat dibuat-buat imut itu, membuatnya seperti jatuh dari langit ketujuh.
Rock Lee
Apakah takdirnya untuk menjalankan ujian ini dengan seorang pemuda menggemaskan namun terlihat berlebihan?
"Berikan gulungan itu padaku!" dengan ketus, Sasuke meraih gulungannya yang berada di genggaman Sang pemuda beralis tebal itu.
Dan apa reaksi Lee?
Pemandangan yang terlihat 'menyedihkan'. Dengan latar belakang matahari terbenam di sore hari, dan sebuah tangisan deras aliran air mata dengan tatapan memelas, itu cukup membuat Sasuke bersweatdrop ria.
Oh, ayolah. Ia benci hal ini.
"Sa-Sasuke-kun."
"Hn."
"Ku-kumohon."
"Hn."
"Ja-jangan Hn-Hn saja. Kau seperti orang bisu tahu."
Buruknya ia di hari ini, atau nasibnya kurang beruntung mendapat pasangan yang begitu menyedihkan ini. Sasuke tak tahu, bahwa ia akan berpasangan dengan Sang pemuda maniak hijau. Atau, memang ia harus menolongnya?
'Huh, lebih cepat lebih baik.'
"Hn, baik-"
"-KYYAA! Terimakasih Sasuke-kuun!" beginilah, begitu bencinya ia kepada Sang pemuda. Jika Lee tengah berbahagia dengan seorang temannya, Lee pasti akan memeluk temannya layaknya berpelukan ala teletubies.
Dan akhirnya, Sang pemuda raven hanya dapat menghembuskan nafasnya pelan.
Sabar.
.
OoOoOoOoOoOoOo
Tap.
Tap.
Tap.
Langkahnya begitu tenang. Tak jua henti menatap ke depan. Sunyi begitu mencekam dalam atmosfer sekitarnya. Menggerayanginya dengan hantuan para pengintip Anbu yang pasti tengah mengintainya.
Ya, pemuda pirang itu tak begitu nyaman dengan suasana ini. Suasana dimana seseorang mengintainya dengan tatapan tajam.
Sebuah perasaan kegelapan selalu mendatangi setiap jiwa tatkala dikuasai oleh rasa dendam.
Membunuh perasaan empati yang berada di lubuk hatinya dengan perlahan.
Ia menyeringai licik. Mendelik kearah belakang dengan raut wajah sinis. Mengepalkan tangannya dengan erat. Mencoba mengumpulkan kekuatannya untuk menyerang para pengintai.
1.
2.
3.
4.
'4 ANBU.'
Perlahan, tangannya mulai ia angkat keatas. Sang The King of Esper itu tak peduli jika para ANBU mencurigainya. Toh, mereka telah menganggunya.
Krek! Krek!
?!
Ketika para ANBU yang mengintai Sang pemuda menyadari ada sesuatu yang berada di belakangnya, bersifat mengancam dan terdengar retakan dari tanah. Mereka berbalik kearah belakang. Dan mendapati sebuah tanah keras dengan ujungnya yang runcing bak katana tersebut tengah menghadap kearah mereka dengan keadaan melayang di udara.
"Ti-tidak!"
"I-itu mustahil!"
Ya, mungkin di luar kenalaran manusia. Sebuah tanah takkan dapat terbentuk dengan mudahnya walaupun ia seorang Esper Dewa sekalipun. Esper bukanlah pengendali tanah ataupun elemen tanah yang dapat membentuk tanah. Mereka hanya dapat menggerakkan, menghancurkan, menerbangkan serta memindahkan.
Sang pemuda berbalik arah kebelakangnya. Menatap para ANBU yang semula mengintainya dengan seringaian licik. Langkahnya kembali berjalan berlawanan arah. Meninggalkan para ANBU yang masih kalut akan benda tajam yang dibuatnya.
Dan akhirnya, ia mendapatkan suatu telepati, yang membuatnya harus bertindak cepat.
'Naruto-kun, Sakura-chan dalam bahaya.'
"Aku akan segera kesana." gumamnya pelan. Mulai menjentikkan tangannya seraya mengatakan suatu hal.
"Physics... "
Dan sosok benda tajam itupun, mulai menyerang para ANBU.
"ARRRGGHH!"
"UARRGH!"
Membuat mereka kehilangan nyawa dalam waktu yang begitu singkat.
.
.
Srek
"Blue Fire ... " tersenyum manis dihadapan kekasihnya. Tak membuat kepesonaan serta kecantikkan Sang gadis pudar seketika. Gulungan yang telah ia bicarakan telah ia tunjukkan kepada kekasihnya.
"Jalur kehidupan memang selalu tepat. Sebuah takdir yang begitu mengindahkan, Shion-chan." pemuda bersurai merah itupun mulai menunjukkan gulungannya yang bertuliskan 'Green Water'.
"Ketika sebuah api menyala dengan dashyatnya, sebuah air akan memadamkannya. Hingga Sang api itu tenang." Senyum kecil disertai sebuah semburat merah itu membuat keterpatrian di wajah Shion semakin mempesona.
Walaupun ia tahu, Naruto tengah terburu-buru mendatangi Sakura yang tengah dilanda bahaya. Tugasnya hanya satu. Yaitu menyampaikannya kepada Sang ketua. Biarlah ia tahu sebuah usaha Sang ketua untuk seorang gadis yang dicintainya.
"Kau tak berniat menolongnya?" tidak terpaut rasa terkejut sama sekali, Shion hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh kekasihnya.
"Untuk apa?"
"Yah, setidaknya Sakura sahabatmu-"
"Aku tak mau menolongnya, karena aku akan mengganggu hubungan mereka." Gaara, nama pemuda yang terus mendampingi Shion hanya mengernyit heran. Sungguh, ia tak begitu mengerti apa yang dikatakan Sang gadis.
"Tak perlu memasang raut kebingungan seperti itu, yang ingin aku tanyakan kepada Gaara-kun, berhasilkah Gaara-kun menanyakannya?" Sang gadis cantik itu masih terus memandang gulungannya. Terduduk manis diantara pepohonan yang telah lama mati.
"Soal itu... gulungan yang digenggam Sakura... gulungan bertuliskan Green Earth." Ia mencoba mengingatnya tatakala Sang gadis pinkish itu menerima gulungannya.
"Tepat." Shion kembali tersenyum kecil. Entah kenapa, ia terus memikirkan mengapa kejadian seperti ini dapat terjadi.
Ia dengan Gaara.
Sakura... dengan Naruto.
'Takdirkah?'
Perlahan, tangan kekar Sang pemuda mulai menggenggam tangan mungil Sang gadis. Sedikit rasa penasarannya muncul untuk mengetahui perihal apa yang membuat kekasihnya ini menyuruhnya agar terus membuntuti Sakura hingga Sakura mendapatkan gulungannya.
"Begitu." Sang pemuda tersenyum kecil tatkala ia tahu apa tujuan kekasihnya.
"Langit dan bumi. Sebuah pasangan yang begitu unik. Mereka begitu jauh, dan begitu sulit untuk diraih satu sama lain." Iris lavendernya mulai menatap ke langit. Membuat surai pirang pucatnya berayun seiring sebuah angin yang terus menyapanya.
"Enggan mengakui kenyataan. Namun enggan mengakui, bahwa langit dan bumi saling terikat satu sama lain. Membutuhkan satu sama lain. Tanpa bumi, langit takkan ada. Tanpa langit, bumi pun takkan jua bertahan. Seperti sebuah Api yang takkan padam jika Sang air tak berada di dekatnya." Ia menengadah, menampakkan sebuah kecantikan pesona luar biasa yang dikeluarkan Sang gadis.
Perlahan, Sang pemuda genggam tangan mungil kekasihnya. Menuntunnya untuk berdiri tegak. Berjalan beriringan bersamanya.
"Dan itulah mengapa, sebuah api, takkan dapat menenangkan dirinya. Tanpa sebuah air yang terus berada di sampingnya." ujarnya pada Shion. Menggenggam erat tangan mungilnya seraya menatapnya dalam. Ia tahu, bahkan sangat tahu kepengaruhan kegelapan yang melekat pada diri Shion tak sebanding dengan The King of Esper.
Dan itu membuat Shion terlihat sendu seraya menundukkan kepalannya.
"Kau adalah dirimu, Ratu dari para Esper. Tak sepatutnya kau mengikuti Sang Raja Esper. Kau mempunyai kekuasanmu sendiri. Begitu juga dengan Raja. Kau tak perlu terlarut dalam kegelapan. Kau harus berusaha mencari sebuah relung cahaya dalam dirimu. Kegelapan tak selalu indah, membuat kita terlarut dalam dendam. Jadi, pikirkanlah. Bahwa kau yakin, kau dapat mencari sebuah cahaya dalam dirimu." Ketika Shion tahu apa sebuah cahaya dalam relung hatinya terkuak dalam setiap aluran kata yang dilantunkan oleh Gaara. Ia terkejut, tak dapat merasakan sebuah kendali nafsu pendendam dalam hatinya. Otot generiknya kaku. Tak dapat merangkaikan sebuah kata-kata untuk membalasnya.
Ia dapat tersenyum tulus. Menyipitkan kedua mata lavendernya. Tersungging senyuman lembut. Terpatri sebuah kepesonaan dalam cahaya kehangatannya.
Gaara, adalah cahayanya.
OoOoOoO
Sret!
Sret!
Tap.
Ia berlari dengan kencang. Melompat diantara rimbun pohon seraya berlari menuju ke tempat seseorang. Jubah hitamnya terkoyak, sedikit rusak. Dengan paras yang tertutupi oleh sebuah topeng serta tudung hoodie yang menutup helaian surai kuningnya, membuatnya terlihat misterius.
Naruto, nama pemuda itu. Tak jua berhenti meninggalkan jejak yang dilewatinya. Hatinya terkubung oleh sebuah rasa gelisah, cemas dan kalut. Ia tak tahu, bahwa Sakura benar-benar dalam keadaan bahaya.
Syutt!
Ia mulai menerbangkan dirinya. Menatap seekor monster besar yang telah menbuat Sakura harus menyerang monster itu.
Kuchiyose.
Dari sekian banyak esper, keturunan sebuah klan istimewa, mempunyai kekuatan physics teleport sebanding dengan Jack. Menteleportasikan seorang monster dari radius beberapa ratus kilometer adalah kekuatan unggulan yang dimiliki klan itu.
Namun, setahunya adalah hal terlarang untuk para ANBU yang mengeluarkan kekuatan ini di dalam ujian Esper.
ANBU sial.
Sang gadis pinkish itu tampak kelelahan dengan adanya Sang monster. Terutama nafasnya yang nampak tersengal saat melawan Sang monster. Naruto tahu, bukanlah hal mudah bagi Sang gadis yang bernotabene hanya Esper psycokinesis level 4 untuk mengalahkan seekor monster besar.
Ia harus menolongnya.
Sang pemuda mulai keluar dari persembunyiannya dengan jubah hitam serta topeng yang masih melekat dalam tubuhnya. Melayang di udara, menatap tajam dari balik topengnya.
"Eh?!"
Kenyataannya, keterjutan memang diluar dari ketidakdugaan. Hal yang di luar nalar kelogikaan, mulai menyapa Sang gadis pinkish itu.
Seorang manusia, tak dapat melayang di udara. Termasuk para Esper pun mengetahuinya, bahwa mereka tak dapat menerbangkan dirinya keatas.
Kecuali satu.
Raja dari semua Esper.
The King of Esper ...
Berada dihadapannya ...
Melindunginya ...
-= To be Continued =-
A/N : Maafkan untuk update yang lama ini. Mungkin, mulai sekarang, saya tak dapat update dengan cepat dikarenakan kehidupan saya tak seperti bulan-bulan yang lalu. Yah, memang. Sembari bersekolah, saya juga menjadi pengajar les sekaligus. Jadi, mohon dimaklumi jika waktu saya hanya bebas dari jam 10 malam keatas.
Dan sepertinya, rencana saya untuk membuat adegan full fighting di chapter depan terlanjur gagal dan mau tak mau diundur. Karena itu akan membutuhkam waktu lama, #sekali lagi) dan jumlah word yang dapat 10 kt keatas jika berada di chapter ini. Yah, mau tak mau, saya TBC kan di bagian ini.
Chapter fic ini juga kupersembahkan untuk readers physics word setia saya yang berulang tahun. :)
Dan untuk Namikaze Sakura. Special thanks untukmu. Karena hampir setiap rutin kau menyemangatiku untuk mengupdate cerita ini. :)
Sebagai hadiah, dengan terhormat saya mengundang anda untuk memasuki grup kami, grup berkumpulnya para author termasuk saya yang berada di jejaring Sosial. Facebook.
Ini linknya : groups/1376569839239756?message_id=1397655240464549&comment_id=1398770143686392&ref=stream&_rdr
Atau kunjungi : FIF (Fanfiction Indonesian Fanspage)
Satu lagi balasan istimewa jenis Review yang pertama kali yang saya dapatkan
Dan untuk yang masih bingung dengan chapter kemarin. Bertanya tentang "Mengapa Shion yang notabene sebagai Ratu Esper terlihat lemah?" atau apapun itu. Saya rangkum menjadi sebuah Glosarium. Karena review di chapter ini, alhamdulillah mencapai 250 review dan saya tak mungkin membalasnya satu-persatu. :)
Glosarium
T'nore : The Nine Rockie Esper, Singkatan untuk grup/kelompok/gank yang dibuat oleh Hyuuga Nedji. Terdiri dari Kiba, Lee, Naruto, Sasuke, Shikamaru, Nedji, Shino, Chouji, dan Sai.
Kelemahan Para The God Esper :
The King of Esper (Tkoe) : Walaupun ia terlihat kuat dan dapat merusakkan bumi dengan mudah. Ia tetaplah manusia. Kemampuan yang terlalu melebihi kapasitas tenaganya/chakranya dapat membuatnya pingsan/tak sadarkan diri. Atau lebih buruknya, ia kehilangan ingatannya dalam beberapa bulan.
The Jack of Esper (Tjoe) : Kekuatannya dalam memindahkan/menteleportasikan melewati dimensi memang hebat. Namun, menteleportasikan objek tertentu butuh waktu/interval yang cukup lama agar Sang Esper itu sendiri dapat menteleportasikan benda kembali. Berikut daftar - daftarnya.
» Esper biasa :
Objek kecil : 20 detik
» Esper khusus :
Objek sedang : 20 detik
Objek kecil : 15 detik
» Esper istimewa :
Objek besar : 20 detik
Objek sedang : 15 detik
Objek kecil : 10 detik
» Esper Dewa :
Objek besar : 10 detik
Objek sedang : 5 detik
Objek kecil : 2 detik
The Queen of Esper (Tqoe) : Ini dia ringkasan chapter 1 tentang kemampuan Tqoe.
Dapat membaca pikiran lima orang sekaligus, menebak pelaku kejahatan hanya dari benda saksi, menggunakan benda dengan sangat ahli dan dapat bertelepati dengan jarak berpuluh - puluh kilometer.
Ya, sebagian besar kemampuan The Queen of Esper bukan type penyerang. Mereka dapat menyerang musuh, tapi dengan sebuah perantara. Yaitu sebuah senjata. Jika tak ada sebuah senjata, mereka tak dapat menyerang dan seperti seorang manusia biasa tanpa kekuatan. Itu mengapa kekuatan physics Psykometrer itu paling lemah dibandingkan kekuatan physics lainnya.
Sekian dari Glosarium yang tak jelas ini. Mohon maaf bila ada salah kata/pengetikan dalam chapter ini.
Akhir kata
Mind To Review?
