KITCHEN IN LOVE
Genre : Romance, Drama
Author : Miyazakie Erizawa
Rate : M minus.
Warning! Author baru, masih sangat hijau, many typos, BOY x BOY a.k.a SHOUNEN AI
Inspired by : Korean Drama "Pasta" and my daily life.
.
.
.
Selamat Pagi, Siang, dan Malam, kapanpun readers-san membaca fic ini.
Miya mau ngucapin maaf sebesar gunung seluas samudra atas keterlambatan kelanjutan dari fic ini. *deep bow* dan sungguh rasanya sangat rindu dan aw aw aw banget pengen pacaran dan bermesraan lagi sama fanfiction dan para readers sekalian tentunya. Ehehehe.. jangan bosen-bosen ama miya yaa.. :*
Nah, biar asoy, reply reviewnya miya kasihin di depan.
Ehm ehm…. *ketuk mikropon*
Makasii buat : Miszshanty05 ,, ,, .5 ,, gdtop,, Nauchi Kirika-Chan ,, olive1315 ,, Angel Muaffi ,, Kim midori kimi ,, TheBrownEyes'129 ,, ,, Axa Alisson Ganger ,, 7D ,, Subaru abe ,, MoodMaker ,, hanazawa kay ,, Phoenix Emperor NippleJae ,, tomoyo to yaroo ,, ukkychan ,, hatakehanahungry ,, Icha Clalu Bhagia ,, 989seohye ,, R.A.F ,, Indahyeojasparkyuelfsaranghae Kim Hyun Joong ,, Zen Ikkika ,, SukeNaru ,, guest ,, diyas ,, kitten-kitty70 ,, yunaucii ,, Aristy ,, Isnaeni love sungmin ,, Malachan12 ,, henizawa yagami ,, wflyhr ,, Jesslyn Rikaharu ,, Guest ,, Calico Neko ,, Guest ,, ini kelanjutannya, silahkaann… :D
Kirei-neko : miya jugaa berdoa semoga sasuteme gak marah ama naru.. =A=
Uzumaki Prince Dobe-Nii : umm… yang mana yaa? :D.
Alvida the dark night : um. Pertanyaan bagus. Akan ada chapter half yang akan menjelaskan seluruh kejadian masa lampau, dimana yahiko bertemu dengan naruto dan bagaimana bisa ia memiliki rasa seperti itu sama Naruto. Tungguin yah :D
Amach dan yuzuru : iihh! Yahiko cantik tauu! Bayangin aja dia tanpa tindiik… dia itu sebenarnya bishounen.. ihik ihik… :3 dann. Untuk itakyuu… miya suka pair itakyuu… tapi, untuk buat pair itu, miya agak kurang bisa. Hehe… kasian tachi dibuat pair sama chara yang gak memiliki tubuh manusia.
Foschidelic Reika : ahay, ini nih yang miya suka. Oke kita bahas satu per satu. Yang pertama, kenapa miya milih yahiko? Karena… Cuma dia yang muncul di pikrian miya pertama kali. *KETEPLAKK XDD* soalnya miya rasa pair yahinaru itu belum banyak, dan miya merasakan ada chemistry saat naruto berhadapan dengan pain di anime aslinya. Yah jadi terpikir "ntar kapan2 buat naru di rape sama yahiko ah. Abis dia kejam banget sih ama naru… :p". dan lalu, entah kenapa miya selalu nulis seperti itu. Seingat miya dulu waktu miya masih di dunia cerpen, miya belajar dari guru bahasa Indonesia miya tentang penggunaan tanda baca, dan sampai sekarang, itu masih miya pegang teguh. Nanti miya cek lagi kebenarannya. Terimakasih Rei :D
7D : miya juga kangen sama 7D-san *plakkk XD
: ssssttt~! :p rahasia yaa hahahah XD
: hihihi.. liatin aja chef juna, tattonya kayak gituu.. :3 miya aja ngetiknya ngebayangin chef juna hohohoh…
Kkhukhukhukhudattebayo : sejak kapan yaa.. hmm… liat di chapter halfnya yaa ;)
Qnantazefanya : WOOOOWWWW~! Ngg.. terus bilang gimana? Hmm… omedetoo buat miyaaaa hehehe.. :3
..
Miya ngucapin beribu-ribu terimakasih kepada para readers yang setia membaca fic miya baik yang review maupun silent reader. Dan tanpa kalian, miya gak mungkin bisa menembus 300 review dalam 9 chapter padahal miya ini Cuma author baru yang masih pemula dan ini adalah fic ke-2 (atau ketiga?) yang miya buat di ffn.… TERIMA KASIH pake BANGET!
Dan. Ini dia chapter 9.5. douzo! :D
.
.
.
Chapter 9.5 : Irreplaceable
.
.
.
BRUUKK!
.
.
Buku-buku berjatuhan dari bagian paling atas rak buku kayu bervernish di sebuah ruangan perpustakaan besar, menimpa seorang pemuda berambut orange yang kini tak terlihat lagi – tertimpa buku tebal yang kertasnya tak lagi berwarna putih.
Tidak ada gerakan dari dalam sana. Apa mungkin… pingsan?
"H-hei, kau…", seorang pemuda pirang yang sedari tadi berada lorong yang satunya, mendekati tumpukan buku tersebut dan menendangnya perlahan. Setelah ia yakin terdapat sedikit pergerakan, iapun memunguti buku itu satu persatu sehingga kini terlihat bulu berwarna orange yang—tunggu! Bulu?
Bukan, bukan,
Itu rambut, Nar!
"Hey! Are you allright?", pemuda pirang yang diketahui bernama Naruto – yang masih sangat muda – menarik-narik rambut orange yang menyembul diantara tumpukan buku tersebut. "H-hey, Are you allr—aaaaaaAAAAAAA!", sontak Naruto terkejut dan melempar 3 buah buku yang tadi ia ambil, mengenai pemuda orange yang baru saja bangkit dari alam bawah buku – lagi.
Bruk~!
Pemuda itupun pingsan – terbaring dilantai dengan latar buku-buku lawas yang terbuka.
Tega sekali, Naruto.
.
.
.
+ Kitchen in Love +.
.
.
.
"Uugh…", sinar matahari sore meyilaukan matanya yang baru saja terbuka. Ia meraba sekelilingnya. Seprai berwarna putih, dan sebuah meja disampingnya dengan vas berisi bunga matahari di dalamnya. Pria orange itu menggelengkan kepalanya – mencoba mengembalikan kesadarannya.
"Wake up already?"
Sebuah suara lembut menyapa gendang telinganya, pemuda orange itu menolehkan wajahnya menuju asal suara itu. Seorang pria pirang dengan kaos, jeans, dan kemeja yang tidak terkancing seluruhnya duduk di atas ranjang lain disampingnya.
"Uugh", pria orange itu pun mencoba mendudukkan dirinya dengan susah payah. Pusing hebat melanda di kepalanya saat ini. Ia terduduk, memijat pelipisnya perlahan.
"Don't force yourself"
Suara lebut itu lagi.
Pemuda orange itu mengalihkan pandangannya ke arah si pirang, mengikuti setiap gerakan tubuhnya yang kini turun melopat dari ranjang dan berjalan mendekat ke arah si orange dan menyodorkan tangan tan miliknya.
"Uzumaki Naruto", cengiran 5 jari terpatri di wajah manis itu. Semakin memperjelas tiga buah garis melintang yang berada di masing-masing pipinya. "and you?", Naruto masih menunggu tangannya disambut oleh orang yang berada di hadapannya saat ini.
Namun ia tak juga mendapatkan sambutan yang baik dari pemuda asing ini. Raut wajah Naruto berubah badmood.
"Okay, sorry for troubling you. I've just find you collapse at the library and bring you here.", Naruto mengangkat kedua tangannya – tanda menyerah.
"Bodoh."
"Eh? Kau bisa bahasa Jepang?", Naruto terheran saat ia mendengar kata 'Baka' keluar dari bibir pemuda asing tersebut.
"Thank's anyway", pemuda itu menyingkirkan selimut yang menyelimuti kakinya, lalu beranjak turun – sok cool.
"Hei, hati-hati.", Naruto menangkap kedua bahu pemuda yang lebih pendek darinya itu sesaat sebelum ia terjatuh, "jangan sok keren, kau baru saja tertimpa puluhan buku tau!"
Pemuda itu menyandarkan dahinya yang terasa berat di bahu Naruto. Seketika wangi khas jeruk ala Naruto menguar di indra penciumannya, membuat seluruh indranya rileks dan bersandar dengan nyaman di bahu pemuda manis itu.
"Setidaknya beritahu aku namamu.", Naruto tetap memegangi kedua lengan pemuda itu, "agar aku bisa menghubungi orang tuamu. Pasti mereka khawatir murid SMP sepertimu berkeliaran di kampus besar seperti ini"
CLETUK!
Syaraf kesabaran pemuda itupun konslet.
Pemuda itu mendorong Naruto dan menatapnya tajam, "aku bukan anak SMP, idiot! Aku kakak kelasmu. Dasar mahasiswa baru idiot.", urat kekesalan tampak di seluruh dahi pemuda tampan tersebut.
"Hiiihh! Sedaritadi kau hanya mengataiku idiot idiot idiot! Kau kira aku senang dipanggil begitu?!", Naruto menghentak-hentakkan kakinya ke lantai, "Lagian kan aku tidak tau kalau kau kakak kelasku! Badanmu bahkan lebih mungil dariku. Wajar kan. Kalau aku mengira kau anak sekolahan. Soalnya dari awal aku masuk di institute ini, aku tidak melihat ada orang pendek lain, hanya aku yang berukuran pendek.", pandangan garangnya berubah menjadi sendu seketika. Yah… memang benar Naruto adalah orang termungil diantara teman-temannya yang lain. Begitu juga dengan pemuda itu.
"Idiot tetap idiot.". pemuda itu mencoba cuek dan berjalan kearah pintu ruang kesehatan, keluar, lalu membanting pintunya – membiarkan Naruto sendirian di dalam sana.
"DASAR SIALAAN~!"
Teriakan penuh kemarahan terdengar dari dalam ruang kesehatan.
Sedangkan yang berada di luar ruangan merasakan ada yang aneh dengan kepalanya sekarang.
Bukan bukan, bukan karena tertimpa buku tadi.
Hanya saja, rasanya ia demam. Jantungnya berdetak tak menentu.
"C-cantik sekali….", Yahiko meremas bajunya – tepat di bagian dada.
Mungkin ia akan ke dokter setelah ini. Ia merasa penyakit Sipilisnya akan kambuh.
.
.
.+ Kitchen in Love +.
.
.
.
"Having trouble?", seorang pria tampan berambut hitam sebahu tiba-tiba muncul di samping bangku – tepat duduk Naruto.
"Utakata?", Naruto mengerjapkan matanya kaget, menutup bukunya, lalu tersenyum menanggapi pertanyaan sahabatnya itu. "Um.. not at all… I've got Chicken Maryland as main course. It's not a problem."
Saat ini mereka sedang berada di ruang baca asrama Culinary Institute. Naruto tengah menggambar di atas sebuah note orange – mendesain garnish yang akan dipergunakannya untuk menghidangkan 'Chicken Maryland' sebagai menu ujian test food-nya besok.
"Where did you go yesterday? I'm waiting you at the library for so long. Disappear like magician, huh? ", Utakata bersungut, duduk di samping Naruto dan memangku tangannya.
"Uh? Yesterday?", Naruto tampak berfikir. Kemana dia kemarin? Utakata menunggunya di perpustakaan?
Perpustakaan?
"Ah~…", ia memukul dahi dengan telapak tangannya, "sorry. Someone collapsed back then, so I brought him to medical room. Then… I'll go back to my room. Heheh.. Teribbly sorry…", Naruto nyengir kuda menatap Utakata yang terlihat ngambek karena ditinggal sendirian.
Bicara soal kejadian di perpustakaan. Setelah kejadian itu Naruto sama sekali tidak pernah bertemu dengan pemuda itu baik di kampus maupun di asrama. Apa pemuda itu berbohong mengatakan kalau dia seniornya? Mungkin saja ia benar-benar anak SMP yang kabur dari rumah dan tersasar di kampusnya. Haissh.. Naruto merasa dibohongi.
"Naruto?", Utakata melambaikan tangannya di depan wajah Naruto, "what's wrong? Are you okay?"
Naruto menatap wajah Utakata yang terlihat khawatir, dan lalu ia tersenyum manis, "I'm okay. Thank you for worrying me."
Utakata terhenyak memandang wajah manis Naruto, dan Ia pun ikut tersenyum.
.
Namun tidak dengan dua orang pria yang sedaritadi menatap lurus ke arah ruang baca. Mereka menatap Utakata dan Naruto yang saling membalas senyuman dari balik jendela di gedung yang terpisah. Salah satu diantara mereka menatap pria berambut hitam itu – murka.
"Dei."
"Hm?"
"Bagaimana cara meninggikan tubuhku?"
Pemuda berambut pirang panjang yang dikucir kuda menatap sahabatnya sweatdrop, "Yang benar saja, Yahiko. "
"Jawab saja", Yahiko masih menatap ke arah Naruto yang bersenda gurau dengan Utakata. Memang sih, saat ini terlihat sekali, saat duduk pun, Utakata terlihat lebih (sangat) tinggi dibandingkan Naruto. Mungkin saat Yahiko duduk di sampingnya, orang-orang akan mengira kalau Seme-nya adalah Naruto.
Gila! Mana mungkin Yahiko jadi Uke.
Siapapun bisa mengerti itu termasuk Deidara. Ia tau sahabatnya sejak kecil itu sedang jatuh cinta pada pemuda pirang cantik itu. Padahal dulu Yahiko mati-matian menyumpahserapahi para homosexual dan bersumpah tidak akan mengikuti jejak Deidara dan Sasori – yang kini telah berhubungan selama 3 tahun.
"Minum susu, mungkin?", Deidara angkat bahu.
"Aku sudah melakukannya sejak kemarin, tapi tubuhku tidak bertambah tinggi satu sentipun."
Ha?
Yahiko gila apa? memangnya bisa bertambah tinggi hanya dalam 1 hari.
Jatuh cinta membuat otak jenius Yahiko berkarat.
"Hai, Dei…", Deidara tampak terkejut saat sebuah tangan tiba-tiba melingkari pinggangnya dan sebuah kecupan mendarat di pelipisnya.
"Danna?", Ia tersenyum memandang pria bersurai merah itu, lalu mengecup pipi porcelain milik pemuda tampan minim ekspressi tersebut.
"Berhenti beradegan menjijikkan didepanku, Sasori. Dapat informasinya?", Yahiko menolehkan wajahnya dari SasoDei dan mengangkat tangannya seperti sedang meminta jajan pada orang tuanya.
"No Print out, Kaichou… but I've got something interesting."
Yahiko memangku tangannya, tetap memandang ke arah Naruto
"Uzumaki Naruto. Adalah putra tunggal Namikaze Minato. Pemilik Grand Space International Hotel. Saingan utama GreenHills, hotel milik ayahmu."
Yahiko membelalakkan matanya menatap Sasori, pangkuan tangannya terlepas, lalu mengalihkan pandangan terkejutnya ke arah pria yang masih berbagi tawa dengan Utakata.
Pewaris tunggal Grand Space, huh?
BUKK!
Yahiko memukul dinding di samping jendela dengan kepalan tangannya yang kini tampak bergetar, giginya bergemeretuk – menahan emosi.
Konan-san pasti tidak akan tinggal diam jika mengetahui hal ini.
.
.
.
.+ Kitchen in Love +.
.
.
.
"Let me go!"
Yahiko yang dalam perjalanan ke kelas selanjutnya, terhenti saat mendengar teriakan nyaring. Suara yang ia kenal baik. Ia pun mendekati asal suara, beberapa blok dari tempatnya berdiri tadi.
Sebuah ruang diskusi. Ruangan yang hanya digunakan saat rapat event kuliner akhir tahun.
"Let me go! Don't you see? I'm a man! Why you do this to me? Mmmhh!"
Suara itu terdengar lagi dari dalam ruang diskusi. Kali ini terdengar lebih lirih diiringi desahan tertahan.
Ha? Desahan tertahan?
Apa-apan?!
.
BRAKK!
Pintu ruang diskusi terbuka, menabrak dinding dengan keras.
Yahiko masuk setelah menendang pintu yang tak berdosa itu. Matanya hampir melompat keluar melihat tiga orang pria disekeliling si pirang incarannya.
Salah satu dari mereka memegang kedua tangan Naruto,
Yang satu lagi menghisap dan memainkan nipple Naruto,
Dan yang satu lagi… sedang mencoba melepaskan celana jeans loreng-loreng yang dipakai Naruto dengan….
…dengan kejantanan pria itu menempel lekat di kejantanan Naruto.
Ah, matilah kau.
Puk! Puk!
Dalam sekejap, Yahiko menepuk-nepuk kedua tangannya. Ketiga orang tadi kini tengah tergeletak tak berdaya di lantai, meja dan sofa – babak belur. Urat kekesalan masih bertengger manis di dahi Yahiko.
Ia mengalihkan pandangannya menuju pemuda pirang yang sedari tadi berjongkok di sudut ruangan, menatapnya dengan mata biru jernih yang tertutup butiran-butiran air mata yang siap terjatuh.
Yahiko mengepalkan erat jarinya, ingin rasanya ia memeluk makhluk cantik dihadapannya ini. Namun….
… namun tingginya belum mencukupi untuk merengkuh tubuh pemuda yang lebih besar darinya itu.
Haah~.. ini dilemma.
"Kau laki-laki kan?"
"Eh?", Naruto menatap Yahiko dalam-dalam, seolah bertanya 'iya, memangnya kenapa?'
"Angkat kepalamu, lawan mereka. Masa tenaga saja kau tidak punya?", Yahiko mengacak rambut pirang adik kelasnya, lalu berjongkok didepannya. Ia menatap dalam mata sebiru lautan itu, manik kelabunya melembut. Yahiko tersenyum kecut.
Ia kerap kali mendengar Naruto sering mendapatkan pelecehan seksual baik di kampus, bahkan di masa sekolahnya dulu. Sehingga Yahiko menyuruh teman-temannya –Sasori dan Deidara, untuk menjaga Naruto dari orang-orang yang ingin 'mencicipinya' seperti saat ini.
Tapi mungkin setelah ini, ia tidak akan bisa melindungi Naruto dari orang-orang itu, ia akan melindungi Naruto dari masalah yang lain, dengan cara yang lain. Ia yakin pria berambut merah dengan tattoo "ai" di dahinya itu bisa menjaga Narutonya selama ia membuat Nee-sannya sibuk dan tidak mencaritahu mengenai pewaris tunggal hotel saingan mereka.
Ya, dia telah memutuskan ini sejak seminggu yang lalu, tepat setelah Sasori mengatakan informasi yang mengejutkan tentang Uzumaki—ah, Namikaze Naruto
Ia akan pergi ke Inggris untuk menemui Konan. Mengatakan bahwa ia akan pindah jurusan mengambil Management Perhotelan dan melanjutkan perjuangan orang tua mereka mengelola GreenHills.
Dan menjauhi Naruto.
Haah~.. ini cinta pertama Yahiko, dan dia harus menyerah secepat ini?
Tidak,
Yahiko tidak menyerah. Dia hanya menunggu saat yang tepat untuk menyerang balik. Untuk mengambil seseorang yang seharusnya jadi miliknya, suatu saat nanti.
Saat ia sudah bertambah tinggi tentunya
"Maybe this is our last meeting", Yahiko menarik tangannya dari rambut kuning jabrik yang ternyata sangat lembut.
"Ah? Mau pergi kemana?", Naruto menarik kemeja hitam panjang yang dipakai pria yang tidak ia ketahui namanya itu, sesaat sebelum Yahiko akan berdiri.
Yahiko kembali berjongkok di hadapan Naruto, memajukan wajahnya mendekati wajah tan manis yang menatapnya dengan kerutan di antara alisnya.
Yahiko tidak menyukainya. Ia tidak menyukai kerutan itu. Ia tidak menyukai gundah di wajah manis itu.
Ia mendekati kening Naruto, dan mendaratkan kecupan diantara alisnya yang berkerut.
Alis yang dikecupnya itu naik beberapa centi – Naruto terkejut.
Yahiko tersenyum melihat raut wajah kaget itu, ia merasa bahagia, entah kenapa. Belum genap dua minggu ia bertemu dengan pemuda ini, dan dia sudah sejatuhcinta ini.
Okaasan dan Otousan yang ada di surga, Yahiko harus bagaimana?
"Aku akan melindungimu, Naruto. Aku tak akan membiarkan mereka melakukan sesuatu padamu. Tak akan ada seorangpun yang akan tau siapa kau sebenarnya. Aku berjanji."
Naruto membelalakkan matanya, sepertinya ia sedikit mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh pemuda yang sudah 2 x ditemuinya ini, namun ia masih tidak yakin apa. ia tak ingin salah bicara karena ini menyangkut tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Yahiko berdiri, memanfaatkan jeda dimana Naruto masih sibuk dengan keterkejutannya untuk sesegera menghilang dari hadapan si pirang itu.
Naruto tersadar setelah bunyi pintu tertutup dan langsung berdiri mengejar sang senior, berlari tak tentu arah hingga yang ditemuinya hanya…..
… kosong.
Kemana senpai itu pergi? Ia belum mengucapkan terima kasih.
Tanpa Naruto sadari, seseorang memperhatikannya di balik sebuah tembok, terpejam menahan kepedihan yang mampir di hatinya saat ini.
Hah, Yahiko sok jadi ninja. Sembunyi-sembunyi biar keren.
Tapi biarlah, biar kali ini dia mengalah. Tidak tau juga kenapa cinta pertamanya malah jatuh kepada pewaris tunggal Grand Space – saingan terberat GreenHills saat ini. Ia tau, kakaknya saat ini sedang mencari kelemahan-kelemahan Grand Space agar bisa menghilangkan lawan terberat yang dimiliki GreenHills saat ini.
Lalu bagaimana jika Konan mengetahui tentang keturunan Namikaze yang sebenarnya?
Tidak, tidak boleh.
Konan tidak boleh tau tentang ini.
Yahiko tau betul sifat kakaknya yang tidak segan-segan melakukan berbagai cara untuk mencapai obsesinya.
Satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah…
…mengambil kuasa atas GreenHills dan mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya.
Namikaze Naruto.
'tunggulah aku, Naruto'
.
.
.
.+ Kitchen in Love +.
.
.
.
"Pendek, berambut orange, dan tampan?"
Naruto mengangguk, "Gaara-nii kenal? Dia mengaku kakak kelas."
Gaara menatap Naruto heran, baru kali ini ia merasa adik sepupunya terlihat sangat penasaran dengan seseorang, "katakan, apa yang terjadi?"
"Tidak ada… benar! Naru hanya ingin mencari tahu siapa dia. Itu saja kok!", Naruto menggaruk kepalanya yang Gaara yakini tidak gatal.
Gaara menghela nafas panjang, mau main rahasia-rahasiaan, tapi Gaara tidak tega. Akhirnya Gaara menyerah. "aku tau siapa yang kau maksud."
Raut wajah Naruto berubah cerah, "siapa namanya? Siapa? Siapa? Gaara-nii beritahu Naru!"
"Sayangnya, aku juga tidak tau namanya. Kami tidak sekelas", Naruto terduduk lemas di sofa merah maroon yang berada di apartemen Gaara. "Tapi dia cukup terkenal", Gaara duduk di samping Naruto, "desas-desus yang ku dengar, dia adalah salah satu pewaris hotel terkenal di Inggris."
"Fiiiuuuttt~…", Naruto bersiul bagaikan melihat gadis perawan.
"Tapi sejak kemarin aku tidak melihatnya", Naruto kembali focus pada kalimat Gaara, "aku dengar dia pindah universitas."
"Heeee?! Masa?"
Gaara mengangguk.
Hah! Mencari informasi tentang pria itu saja sesulit ini?! Mana dia Cuma mahasiswa baru dengan bahasa inggris yang masih pas-pas-an! Bagaimana mau mengintrogasi kakak kelas lainnya tentang si orange itu dengan bahasa inggris yang kacau begini. Astaga.
Ia harus cepat-cepat ahli menggunakan bahasa inggris untuk bisa mengintrogasi kakak kelasnya yang lain tentang si orange itu!
"Aku harus cepat mahir berbahasa inggris!"
"Ha?", Gaara menatap adiknya heran.
Tanpa Naruto sadar, saat ia ahli menggunakan bahasa itu, mungkin hal itu sudah terlupakan.
.
.
.
.+ Kitchen in Love
.
.
.
Tok! Tok!
"Masuk!"
"Selamat siang, Pak Presdir"
Seorang pria berkemeja biru donker memasuki ruangan kerja luas milik presiden direkturnya, menghampiri sang presdir berjas hitam dibelakang meja kerjanya, lalu menyerahkan sebuah amplop coklat.
"Ini adalah dokumentasi terbaru dari Uzumaki Naruto, Pak. Saat ini beliau telah kembali ke Jepang dan bekerja di hotel ayahnya sendiri, sebagai Commis Apperentie."
Presdir bersurai orange itu membuka amplop tersebut dan mengeluarkan setumpuk foto dari dalamnya.
Lembar pertama terlihat foto pemuda pirang yang memakai kacamata hitam di bandara Narita.
Lembar kedua menunjukkan foto pemuda pirang yang sama memasuki area hotel Grand Space.
Lembar ketiga menunjukkan foto pemuda pirang itu berbincang dengan seorang wanita berambut pink, yang dapat diketahui sebagai resepsionist Grand Space.
Lembar demi lembar ia telusuri satu persatu sampai kini ia terhenti pada satu lembar foto.
Foto yang diambil dari cctv, menggambarkan seorang pemuda pirang yang selama ini menjadi obsesinya…
… dan seorang pemuda raven yang tengah menyatukan dahi, disebuah ruangan loker.
"Siapa ini, Sasori?", manik kelabu Yahiko tampak penuh emosi, namun setiap perkataannya masih datar dan terkesan tenang.
"Uchiha Sasuke, Executive Chef Grand Space International Hotel. Kemampuannya berada setingkat di atas Jiraiya-sama. Sehingga Minato-san mempercayakan Eclips resto kepadanya, Pak."
Terlihat tak puas. Yahiko tetap menatap lurus ke arah Sasori, berharap ada berita lain yang akan membuat rasa gundah di hatinya terpuaskan.
Sasori yang mengerti pandangan atasan sekaligus sahabatnya itu menghela nafas panjang, "aku rasa dia menyukai Uzumaki Naruto"
BRAKKK!
Yahiko memukul meja dengan kepalan tangannya yang tampak bergetar, buku-buku jarinya memutih. Raut emosi kini tampak di wajahnya.
Apa-apaan?! Selama ia menjaga rahasia Naruto disini, malah ada orang yang mengambil kesempatan merebut miliknya. Tidak bisa dibiarkan!
"Sasori, pesan tiket ke Jepang sekarang juga. Beritahu Konan bahwa aku akan melakukan perjalanan bisnis ke cabang GreenHills", Yahiko menekan tombol 'Shut Down' pada komputernya dan mengambil tas kerja miliknya yang tidak jauh dari tempatnya berada sekarang. Ia pun bersegera bangkit dan berjalan cepat ke arah Sasori.
a—ah.. bukan.
Ia berjalan ke arah pintu di belakang Sasori.
Langkahnya terhenti sesaat sebelum ia sepenuhnya keluar dari pintu.
"Sas.."
"Ya, Pak?", Sasori memandang lekat atasannya.
"Apa aku sudah cukup tinggi?"
Pertanyaan Yahiko serta merta membuat Sasori sweatdrop. "tentu, Pak. Naik dari 150 menjadi 175 merupakan berubahan yang signifikan. Sebagai informasi, tinggi tubuh Uzumaki Naruto hanya bertambah 2 centi sejak terakhir kali kalian bertemu."
"Ah~ ternyata susu itu bermanfaat. Nanti akan kuberikan Naruto susu setiap hari. Mungkin saja ia bisa memproduksi 'susu' lebih banyak", Yahiko merapikan dasinya, "Kau dan Dei, susul aku ke Jepang."
BLAM.
Dan Sasori pun terhenyak mendengar kalimat terakhir sang Presdir.
Bukan, bukan. Bukan kalimat terakhir.
Tapi kalimat sebelum kalimat terakhir.
"Susu?"
Entah bagaimana menjelaskan wajah Sasori saat ini. Ia masih mempertahankan ekspressinya yang minim, namun ada sedikit yang aneh terlihat di bibirnya.
Seringai?
"Aku jadi merindukan Deidara."
Dan Sasori menyusul atasannya keluar dari ruang kerja mewah itu.
.
.
.
.
a/n:
aahh~ mata Miya sepet meriksa typos di fic ini. Belajar dari kejadian kemarin, miya shock banget dengan typos kecil yang ternyata ngaruh banget di chapter 9. Adegan klimaksnya jadi ancur Cuma karena salah huruf K dan M… iiiiihhh~… kesel kesel…
Tapi makasii banget buat para readers yang udah mengkoreksi kesalah Miya, Maaf atas ketidak nyamanannya… semoga di chapter ini minim typos, dan semoga kalau memang ada, gak fatal lagi kayak yang kemaren.
Makasi juga buat Beyonce yang menemani miya dengan lagunya "irreplaceable" yang buat miya bisa move on menghadapi Skripsi yang bikin otak miya goyang bebek. Pusing banget. Dan juga untuk Ariana Grande dengan "The Way"nya.. uuh… jadi ngeerasa kayak bercermin kalo liat ariana grandong.. *dilempar pisang sama readers. XD
Daaaaaaaaaaaaaaaannn~…..
Thank you so much for all readers, baik yang review maupun para silent reader yang dengan setia mengikuti perkembangan Kitchen In Love ini (sampai pada 332 reviews)
At least, if there's a greatest word more than 'thank you', I will give it to you all guys.. :D
I love you!
Medan, 6 November 2013
(ternyata udah sebulan miya gak update -_- )
Miyazaki Erizawa BoF.
