Vocal

Don't Like Don't Read

Still Kyumin, Only Kyumin

It just my delution, Hope you like it.

enJOY~

.

.

.

Complicated.

Perasaan Sungmin saat ini begitu rumit. Wake up Lee Sungmin! Kyuhyun tak ubahnya bintang di angkasa. Bersinar. Dipuja banyak orang.

Sedangkan kau? hanya namja biasa. Bahkan untuk sekolah saja ia harus memperolehnya dari bantuan beasiswa, untuk anak tidak mampu yang bersungguh-sungguh. Garis bawahi kata tidak mampu itu.

Kawasan tempat tinggalnya, berbeda dengan perumahan elite Kyuhyun. Kamar teman sebangku saja sebesar ruang tengah rumahnya, mungkin lebih. Pekerjaan sampingan Kyuhyun pun keren, artis, musisi, benar-benar berbakat.

Sementara ia? hanya bekerja part time di sebuah rumah makan dekat rumah.

See? Mereka jauh berbeda. Bagai bumi dan langit.

Sungmin sempat bertanya-tanya, apa yang membuat Kyuhyun menyukainya? Selain pikiran negatif Kyuhyun mempermainkannya –berdasar segala fakta yang tadi dipikirkan, Sungmin sulit menemukan jawabannya.

Well, sangat aneh bukan jika orang istimewa seperti Kyuhyun menngejarnya? Tentu saja tidak masuk akal! Sungmin sadar, ia tidak hidup di dunia dongeng.

Namun pengakuan Kyuhyun tempo hari, sedikit melunakkan hati Sungmin. Ia harus berperang dengan logika dan hatinya. Ibarat kata malaikat putih disamping kanan yang membisikkan penerimaan, maka malaikat bersayap hitam di sebelah kirinya dengan tegas mengutarakan penolakan.

"A-aagh!" Sungmin mengeluh, meletakkan kepala di meja belajar.

Sudahlah! Sungmin lelah. Apapun yang terjadi, terjadilah.

Bukankah ia telah berjanji pada dirinya sendiri akan bersikap biasa-biasa saja pada Kyuhyun? Ya, mereka berteman. Sudah seharusnya tak ada sikap canggung seperti sekarang.

Cekatan, Sungmin mengetik balasan dari beberapa pesan Kyuhyun yang tak kunjung ia balas. Basa-basi singkat seperti apa kabar, kau sudah makan, atau ucapan selamat tidur lainnya selalu Kyuhyun kirim untuknya.

Hubungan mereka saat ini rumit. Kerumitan yang dibuat sendiri oleh pikiran yang dilandasi ego namja bergigi kelinci itu. Seperti fenomena galau yang marak di kalangan remaja seusianya, Sungmin berkali-kali melihat handphone demi membaca –lagi pesan dari Kyuhyun.

'Aku baik-baik saja. Terimakasih Kyuhyun, dan selamat malam juga.' Hmm, rasanya balasan seperti ini cukup.

Membaca apa yang ia ketikkan, Sungmin kembali diserang ragu.

Kirim,

Tidak.

Kirim,

Tidak-

Ah, masa bodohlah. Sungmin menekan tombol sent sambil memejamkan mata lalu menghela nafas.

Balasan Kyuhyun datang semenit setelahnya, berupa panggilan telepon. Sungmin refleks mengangkat panggilan telepon tersebut karena kaget.Setelahnya ia menyumpahi diri sendiri. Sial.

"Sungmin?" sapa suara bass di seberang sana.

"Y-ya?" jawab Sungmin gugup.

"Emm, aku senang kau membalas pesanku."

"Mm hm.."

Meja belajar diketuk dengan kuku cantik Sungmin. Hening menyelimuti.

"Apa yang sedang kau lakukan sekarang?"

"Huh? Mm, tidak ada. Sedang santai saja tidur-tiduran. Kenapa?"

Sungmin segera berpindah dari kursi meja belajar menuju kasur. Sesuai dengan yang ia ucapkan pada Kyuhyun. Perlahan merebahkan dirinya.

"Oh, tidak apa."

Jeda cukup lama, keduanya sama-sama diam. Mungkin tak tahu harus memulai percakapan dengan tema apa. Sungmin sibuk berpikir dan merangkai kata, tapi ia terlalu sungkan membuka mulutnya. Untungnya inisiatif datang dari si penelepon.

" Sungmin?"

"Hm?"

"Apa kau marah padaku?"

Sungmin mengernyitkan kening heran. "Marah?"

"Ya. Aku pikir kau marah karena perkataanku kemarin. Kau tidak membalas pesanku dan tak menjawab teleponku. Jadi ku kira kau marah padaku." komplain diseberang.

"Apa aku terlalu mengganggumu?" imbuhKyuhyun.

Sungmin segera menjawab. "Oh.. Tidak, tentu saja aku tidak marah padamu. Kau tidak salah apa-apa. Well, harusnya aku yang minta maaf untuk itu. Aku.. mungkin aku hanya butuh waktu Kyuhyun."

"Ugh..syukurlah kalau begitu." Dapat Sungmin dengar hela nafas Kyuhyun menerpa pendengarannya. Namja manis tersenyum pada langit-langit kamarnya.

"Dengar Min hyung, aku tidak ingin hubungan kita jadi canggung seperti ini. Jika kau memang butuh waktu aku bisa menunggu. Tapi aku masih menginginkan jawaban dari pernyataanku."

"Kyuhyun, aku sudah bilang-"

"Ssh,pikirkan dulu saja baik-baik, aku tidak memaksamu."

Sungmin memutar bola mata malas bicaranya disela, 'Kalau kau tidak memaksa lalu ini apa namanya, setan?' sunggutnya dalam hati.

"Kalau begitu, sebaiknya kau cepat tidur, besok kita sudah mulai masuk lagi bukan?"

"Ya, kau benar.. besok masuk sekolah," –dan esok kita akan bertemu lagi, tambah Sungmin dalam hati.

" Besok kujemput." sela Kyuhyun cepat.

"Apa? Tidak perlu Kyuhyun-ah, Aku bisa-"

"Tidak ada penolakan Lee Sungmin." si vokalis memaksa.

"Tapi Kyuhyun-"

"Jaljayo.. Saranghae Sungmin-ah." ucap Kyuhyun lembut sebelum memutuskan panggilan tersebut.

DEG

Akses komunikasi telah terputus, namun sepertinya si namja kelinci belum tersadar dari kata terakhir yang Kyuhyun ucapkan tadi. Sungmin masih tertegun.

Sungmin lupa cara bernafas. Impact dari satu kata yang diucapkannya tadi benar-benar tak akan bisa Kyuhyun bayangkan.

Memang, ini bukan kali pertama ia mendengar kata tersebut meluncur dari bibir Kyuhyun. Tapi saat ini, entah kenapa ngiangan di telinga tak kunjung mereda.

Bisa Sungmin rasakan perubahan pada jantungnya –yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Wajah memanas, padahal hanya di telepon ia mendengarnya.

Bagaimana besok ia bisa melihat wajah Kyuhyun? Sungmin tak kunjung bisa tidur hingga lewat tengah malam.

.

.

.

Kyuhyun datang sesuai janji, sayangnya- atau mungkin untungnya Sungmin sama sekali belum siap! Jam sudah menunjukkan pukul tujuh. Sekolah ditutup satu lam lagi. Ini bencana!

"Sungmin hyung, Sungmin-ah, Minimi, chagiyaa.. Bangun.." suara Kyuhyun samar-samar membuat Sungmin merasa ia masih di dunia mimpi.

Tak disadari, ia memimpikan new idol itu. Hingga jari telunjuk Kyuhyun yang menekan-nekan pipinya membuat Sungmin yakin sosok yang dipandangnya dengan mata setengah terbuka itu nyata.

"Hwaaaa!" Sungmin terlonjak bangun,

"A-apa yang kau lakukan di kamarku?" bentaknya sambil duduk beringsut ke belakang hingga punggung menabrak dinding.

Yang ditanya memberi senyum termanisnya. "Selamat pagi hyung, ibumu tadi yang menyuruhku langsung masuk kesini. Kau tidak bersiap? Nanti kita bisa terlambat."

"Omo! Jam berapa ini?"

Kyuhyun dengan seringainya menunjukkan ketujuh jarinya. Selanjutnya si remaja terkekeh melihat Sungmin kalang kabut bersiap diri.

Kehebohan yang terjadi tak berlangsung lama. Tidak lebih dari sepuluh menit Sungmin kembali dari kamar mandi dan masuk kembali ke kamarnya. Ia mengusir paksa Kyuhyun dengan alasan ingin ganti baju.

Padahal, Kyuhyun tak keberatan menemani di dalam. Seringaian dikeluarkan. Oh baiklah, dia memang mesum.

Kyuhyun tak membuang waktu. Mendahului Sungmin ke bawah, ia pamit baik-baik pada calon mertua.

"Eomma, aku berangkat dulu ya.." Derap langkah Sungmin menuruni tangga. Mengecup pipi ibu nya singkat dan segera menuju pintu depan rumah.

Sungmin menyambar sepatu sekolah lalu memakai dan menalikan segera. Ia bersiap untuk lari sampai satu tangan menahan lengannya. Membuat ia menoleh otomatis pada lelaki yang sedari tadi menunggunya.

"Oh? Kau masih disini? Ayo cepat lari Kyuhyun! Kita bisa telat!"

Yang diajak sigap menahan lengan. Sungmin berhenti, raut muka bingung. Sedetik kemudian mukanya pucat lalu melirik jam tangan sendiri.

Sementara Kyuhyun dengan santai menyeret yang lebih tua darinya. "Bernafaslah dengan baik. Jangan panik. Tenang saja, kita tidak akan telat."

"Hah? Mana mungkin ini sudah jam-" kata-kata Sungmin terhenti saat ia melihat mobil hitam terparkir dihadapannya.

Bunyi pip beberapa kali menunjukkan si roda empat dimiliki oleh lelaki yang kini membukakan pintu untuknya. "Silahkan masuk?"

Sungmin ingin menolak tapi akal sehatnya masih mendominasi. Mengingat ia yang tak pernah telat sedang dalam keadaan terpojok saat ini. Sungmin mengangguk dan masuk dengan patuh. 'Oh tentu saja tidak akan telat!' batinnya.

Kyuhyun berada di kursi sebelah tak lama kemudian. Menyalakan mesin mobil dan memakai sabuk pengaman. Tak lupa mengecek apa namja disampingnya memakainya juga.

"Kajja, kita berangkat." sahut Kyuhyun, dijawab anggukan singkat Sungmin.

Diam menyelimuti perjalanan mereka. Kyuhyun memang tak banyak bicara, namun Sungmin berbeda. Ia diam menata hatinya. Setelah berbagai kegaduhan tadi dan kini duduk dalam diam, pikiran melalang pada hal yang sebenarnya tak diinginkan.

'Bagaimana bisa dia duduk dengan santai setelah apa yang ia katakan kemarin di telepon?' pikir Sungmin. Dan jangan lupakan perilaku si remaja berkacamata beberapa bulan belakang ini.

Sungmin menoleh. Sebal. Hei, ada apa dengan dirinya? Kyuhyun diam seolah mengacuhkannya, seolah tak peduli, membuatnya kesal dan-

"Kau mau melihatku sampai kapan hyung?" suara Kyuhyun membuyarkan pemikiran tak berdasar.

Kyuhyun menoleh singkat dan tersenyum. "Yah, aku tahu aku ini tampan. Oh, atau kau mau memotoku hyung? Kalau itu tak usah repot-repot, aku punya banyak foto! bertanda tangan kalau kau mau."

Sungmin menganga mendengarnya. "Hah?"

"Kau lupa kalau mengidolakan aku?" tanya Kyuhyun.

Sungmin melotot. Pipinya bersemu merah. Ia memalingkan muka ke samping, melihat apapun itu diluar dari kaca jendela.

"Diam dan menyetir dengan benar Cho Kyuhyun."

Si evil membenarkan letak kacamata dan tersenyum sangar.

.

.

.

Kyuhyun mematikan mesin kendaraan. Mengerling pada jam di pergelangan tangan. Masih ada waktu lima belas menit sebelum pelajaran dimulai.

Menoleh kesamping, Sungmin tertidur dengan mulut sedikit terbuka. Kyuhyun geli melihat itu. Tapi bukannya membangunkan, si remaja bekerah rapi malah mengeluarkan handphone. Beberapa potret foto dan selca bersama pangeran tidur kemudian memenuhi memori.

Setelah puas –dan melihat waktu yang semakin menyempit, Kyuhyun menepuk pundak Sungmin pelan, membangunkan.

"Kita sudah sampai Sungmin-ah." suaranya lembut.

"Nnhh…" Sungmin mengerutkan dahi. Diam sejenak sebelum membuka sebelah mata dan menemukan wajah didepannya.

Kedua ujung bibir Kyuhyun terangkat.

"Woaaa!" Kali ini ia sadar sepenuhnya. Kaget, namun dengan cepat mengingat situasi terakhirnya.

"Kita sudah sampai." kembali Kyuhyun mengulang.

Sungmin menunduk karena refleks –dan kaget. Dibangunkan dengan cara seperti itu, membuat jantung Sungmin berpacu. "Oh- ah, iya kau benar."

"Sungmin hyung.."

Yang dipanggil mengangkat muka. Kyuhyun mencondongkan tubuh ke arahnya. Mata terbelalak menjadi reaksi namja sederhana.

Tangan menahan dada Kyuhyun yang semakin mendekat. Oh, jangan lupakan senyum yang berubah menjadi seringai itu.

"K-kau! M-mau apa!?" Sungmin terbata.

Tangan Sungmin menyentuh dada Kyuhyun. Bermaksud menahan namun ditepis dengan mudah hingga jarak semakin menipis. Mata bertaut lekat. Sungmin melihat wajahnya dari pantulan kacamata Kyuhyun.

Nafas tertahan dan tubuh menegang ketika wajah Kyuhyun tepat dihadapan. Jantung bodoh berdegup dengan tempo cepat. Tak kuasa menahan gejolak yang ada, Sungmin memejamkan mata.

Dalam gelap remaja bermarga Lee bisa membayangkan sedekat apa wajah mereka. Deru nafas Kyuhyun menerpa paras manis Sungmin.

Detik berlalu, hangat suhu lawan bicara beralih ke telinga.

"Kita bisa terlambat jika kau meneruskan tidurmu Min-hyung." Bisik Kyuhyun disertai bunyi 'klik' sabuk pengaman.

Mata Sungmin membuka seiring menjauhnya tubuh Kyuhyun yang membuka pintu mobil. Wajahnya kini semerah apel atau tomat- mana yang lebih merah?

Malu seratus persen. Sungmin pikir Kyuhyun tadi akan menciumnya. Tapi ternyata –Eh tunggu dulu! Apa tadi? Mencium?

Wajah Sungmin kembali memanas. Apa sih yang dipikirkannya!

Selanjutnya ia mengacak rambut kesal. 'Aaarkh! Dia membuatku gila!' rutuknya. Menarik nafas panjang, mencoba menenangkan hati.

"Sungmin hyung, kau tidak turun? Lima menit lagi bel akan berbunyi." Wajah Kyuhyun muncul lagi dari balik jendela mobil disertai cengiran inosen.

Sungmin mendelik ke arah Kyuhyun. Sebal, ia segera keluar dan membanting pintu mobil agak keras. Kemudian berlalu ke arah gerbang sekolah dengan cepat.

Kyuhyun mengunci mobilnya dan segera menyusul. "Min hyung, tunggu aku."

Sungmin mengindahkan. Malah semakin mempercepat laju jalannya. Dalam hati ia masih merutuki Kyuhyun.

"Kau marah?" tanya Kyuhyun, merasa sedikit bersalah melihat muka cemberut Sungmin.

Gelengan dari Sungmin.

"Benarkah?" tanyanya sekali lagi.

Sungmin tak menjawab.

"Hei-"

Sungmin berhenti. Ia membalik badan, menghela nafas, dan tersenyum paksa pada Kyuhyun. "Aku tidak marah Cho Kyuhyun. Aku malah ingin berterimakasih karena kau sudah memberiku tumpangan, membangunkan aku, dan membuatku tidak tidur lagi dalam mobilmu itu." ucapnya cepat.

Kyuhyun membuka mulut hendak menjawab tapi Sungmin kembali melanjutkan, "Sekarang, ayo cepat masuk kelas sebelum pelajaran dimulai, oke?"

Kyuhyun menelan ludah melihat senyum mematikan Sungmin. Ada siratan ancaman di bibir itu. Kyuhyun hanya bisa mengangguk dan mengekor Sungmin setelahnya.

Tak butuh waktu lama untuk sampai ke depan ruang kelas. Suasana ramai menyambut kedatangan Sungmin dan Kyuhyun. Namun bukan mereka yang jadi pusat atensi.

Majalah yang bersampul depan wajah GX tanpa masker muka ramai jadi perbincangan. Sungmin sempat membaca judul yang tertera saat melewati bangku temannya: GX, Mysterious Idol Identity Revealed.

Sungmin melirik idol sebenarnya yang acuh menghampiri kursi dan duduk dengan tenang.

Sungmin berdecih dalam hati ketika para wanita mengelu-elukan sang idola. Pun beberapa teman lelaki yang menyukai genre musik yang sama. Bedanya, mereka mamuji skill gitar dan vokal yang dimiliki GX, bukan masalah tampang seperti kehebohan teman lawan jenisnya.

"Mereka pasti tak percaya kalau kau orangnya." ucap Sungmin pelan. Melirik Kyuhyun yang memasang muka stoic tengah mengeluarkan buku pelajaran.

"Tak masalah. Aku tak terlalu peduli." jawab Kyuhyun.

"Yah, kau terlihat berbeda."

Bel tanda masuk berdering. Sungmin mengecek kerapian pakaian saat teman sekelas kembali ke tempat duduk masing-masing.

"Tapi aku peduli padamu, Sungmin." lirih Kyuhyun.

Sungmin mendengar pelan, tapi ingin memastikan. "Kau bilang apa tadi?"

Kyuhyun tersenyum tanpa memberi jawaban.

Sungmin membuka mulut hendak protes saat suara lantang terdengar dari depan. Perhatian tertuju pada guru yang telah memasuki ruangan. Kelas pun dimulai.

.

.

.

Hai, ada yang masih menunggu cerita ini?

Sebelumnya, maaf baru bisa lanjut lagi n_n

Lama tidak menulis sampai bingung rasanya

Karena tulisan fiksi dan skripsi itu beda sekali xD

Anyway, semoga kalian menikmati chapter ini

Terimakasih sudah membaca :]