HONTOU NI GOMENNASAI!
author minta maaf dari lubuk hati author yg terdalam, karena keterlambatan (lagi) author mem-publish chapter 10 yg merupakan 2 chapter terakhir~
Tugas" di SMA yg sangat banyak, benar" menghambat author untuk mengapdet SSS ini...
Ini benar" hal yg tidak author inginkan, padahal author sudah berjanji untuk tidak terlambat lagi di 2 chapter terakhir, author minta maaf .. :"(
*sujud sembah pada readers*
sekali lagi SCUSAMI m(_ _)m
author benar-benar merasa bersalah...
author minta maaf sebesar-besarnya, terutama karena ini bulan Ramadhan, minal aidin wal faidzin, dan selamat berpuasa bagi readers yg menjalankannya
maaf kalau chapter ini NGACO BANGET
hontou ni gomennasai kalau chapter ini benar" nggak memuaskan, saya terlalu sibuk dengan tugas" yg tiada habisnya .. :"((
selamat membaca... :")
~Saikyoudai's Side Story~
10th down : The Death God is Behind Us
Disclaimer : Eyeshield 21 © Riichiro Inagaki & Yuusuke Murata
Chapter : 10 of 11
Author : Lady Karin Cecillia D. Lewis
Genre : Romance/Tragedy
Pairing : Youichi Hiruma – Mamori Anezaki
Rated : T
Warning : OC, OOC, Mamori yg manggil Hiruma 'Youichi', nd Hiruma yg manggil Mamori 'Mamori', gaje, aneh, karakter Hiruma yg ngaco 185 derajat, dsb. .
Author Alert! : segala yg tidak mungkin terjadi di komik/animenya, sangat lazim terjadi di ff saya! hati-hati sebelum membaca!
Cerita Sebelumnya. . .
"Tunggu dulu, Nona! Apa yang terjadi?" tanya Yamato panik.
"Youichi… Youichi Hiruma... Kondisinya tiba-tiba drop dan detak jantungnya pun melemah! Saya tidak tahu kenapa, sekarang saya mau memanggil dokter, maaf Tuan!" jelas suster itu seraya berlalu. Mamori yang terbangun pun mematung saat mendengar ucapan suster itu.
"Tidak... mungkin... Youichi..."
"You-nii…" Kali ini Suzuna yang mencucurkan air matanya. Taki menggenggam erat kedua bahu Suzuna, berusaha menenangkan adik perempuannya itu.
"Astaga, apa lagi sekarang?" Akaba menunduk sambil memegangi bagian belakang kepalanya. Bingung.
"Hiruma yang itu... tidak mungkin..." kata Yukimitsu dengan wajah pucat.
Tidak percaya. Mungkin kata itulah yang kali ini tersirat di hati mereka. Sejak tadi mereka menunggu dan berharap semuanya baik-baik saja. Tapi, harapan mereka bagai kaca yang hancur berkeping-keping sekarang. Harapan mereka terkikis bersamaan dengan harapan hidup Hiruma yang semakin menipis.
DRAP DRAP DRAP
Suara langkah kaki terdengar menggema di koridor rumah sakit tersebut.
Dokter berkacamata yang selama ini mengurus Hiruma berlari menyusuri koridor menuju ruang ICU, dengan seorang suster yang mengekor di belakangnya. Mereka pun cepat-cepat masuk ke ruang ICU tersebut. Suster hendak menutup pintu, namun Mamori menahannya.
Mamori menggamit lengan suster tersebut dan menatapnya dengan wajah memelas. "Kumohon, biarkanlah kami masuk, atau beberapa dari kami saja..." pinta Mamori.
"Maaf Nona, saat ini kami akan melakukan pemeriksaan, kalian diperbolehkan masuk jika pemeriksaan sudah selesai," jawab suster itu datar.
"Tapi ini tidak adil! Kami belum sekalipun melihat Hiruma sejak ia dibawa ke sini tadi!" ujar Mamori agak memaksa.
"Nona..."
"Anezaki, sudahlah." Tiba-tiba Yamato menghampiri Mamori dan melepaskan tangan Mamori yang menggamit lengan suster itu. "Saat ini kondisi Hiruma sedang tidak stabil, tunggulah, sebentar lagi saja," pinta Yamato. Mamori menatap Yamato, mengangguk pelan, lalu kembali duduk di bangku panjang di depan ruang ICU itu.
Beberapa menit berlalu. Sang dokter pun keluar dari ruangan diikuti dengan susternya. Mamori, Yamato, Musashi, dan Kurita langsung menghambur ke arah dokter berkacamata itu.
"Bagaimana, dokter?" tanya Mamori tidak sabar.
"Kondisi Youichi Hiruma mulai stabil lagi, namun tensi darahnya turun dan detak jantungnya pun melemah. Maaf, kami sudah melakukan apa yang kami bisa, selanjutnya tergantung daya tahan tubuhnya saja. Kami permisi," jawab dokter itu tenang lalu beranjak pergi.
"Permisi," ujar suster, "sekarang kalian boleh memasuki ruangan, tapi harap bergantian dan jangan berisik, terima kasih." Mendengar ucapan suster tersebut, Mamori menjadi tidak sabar. Ia langsung memasuki ruangan ICU itu.
Degg!
Mamori menghentikan langkahnya. Tepat sesaat setelah melewati pintu baja silver yang menjadi satu-satunya akses keluar-masuk ruang ICU itu. Lalu ia melangkah pelan ke arah tempat tidur. Ia menatap pria yang ada di atas tempat tidur tersebut. Pria beranting dan berambut pirang. Leher pria itu diberi penyangga dan kepalanya diperban. Pria itu pun mengenakan alat bantu napas.
"Youichi... Youichi..." Mamori memanggil nama pria itu. Mamori terhuyung-huyung, shock melihat keadaan pria itu.
GREP!
Taka menahan bahu Mamori agar tidak terjatuh. "Rileks, Anezaki, tarik napas yang dalam, tenanglah, ok?" saran Taka. Mamori mengangguk dan menarik napas perlahan seperti apa yang disarankan Taka.
"Arigatou, Taka-kun," ucap Mamori pada Taka sambil tersenyum. Taka membalas senyum Mamori dan melepaskan tangannya dari bahu Mamori.
Musashi yang baru masuk ke dalam langsung mengambil barisan terdepan, di samping Mamori. "Aku tak pernah menyangka ataupun membayangkan kalau aku akan melihat anak bodoh ini dalam kondisi begini," ujar Musashi. Suaranya terdengar tenang, namun sorot matanya terlihat bergetar. "Kalau anak bodoh ini bangun, aku akan memukulinya sampai puas!" Musashi mencengkeram erat pegangan tempat tidur Hiruma.
"Uhh... uhh... Hiruma..." Kurita masih mencucurkan air matanya. Terakhir kali ia menangis seperti itu adalah saat tangan Hiruma dipatahkan Gaou di pertandingan Deimon-Hakushuu.
Semuanya hanya bisa memandang Hiruma dengan tatapan penuh harap. Semoga saja ini menjadi yang pertama dan terakhir kali mereka melihat Hiruma dalam kondisi seperti itu. Mungkin Hiruma akan marah jika mendengarnya, namun sudah tak ada cara lain lagi selain berserah pada Tuhan.
Rumah Sakit Daerah Saitama, 00.51a.m.
Mungkin malam ini akan menjadi malam yang bersejarah bagi RSD Saitama. Karena ini baru pertama kalinya dalam sejarah sejak RSD Saitama didirikan, ada pasien yang ditunggui oleh lebih dari lima orang. Biasanya, yang diperbolehkan menunggui pasien hanya satu sampai tiga orang. Namun kali ini pihak rumah sakit sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa untuk menentang tekad para mantan pejuang Deimon Devil Bats ini. Mereka terima walaupun sekarang mereka harus tidur di koridor, asalkan mereka bisa terus memantau keadaan komandan mereka.
Ketika yang lainnya berada dalam alam mimpinya masing-masing, Mamori masih dalam keadaan terjaga. Sejak tadi ia setia berada di samping Hiruma, tidak ada sedikit pun keinginan untuk menutup matanya walau hanya sejenak. Mamori tidak ingin Hiruma luput dari pandangannya meski hanya sekejap.
"Kau ingat? Kau langsung memukulnya saat melihatnya menggoreskan pisau kecil itu di kulit leherku. Kau benar-benar mengkhawatirkanku, ya?" gumam Mamori sambil membelai tangan Hiruma yang terkulai lemas. "Seharusnya kau tidak usah emosi seperti itu… Youichi…"
Hening.
CSSS
"Kya!"
Sesuatu yang hangat menyentuh pipi Mamori.
"Lho, terlalu panas ya?" ucap seseorang. Mamori menoleh.
"Taka-kun?"
"Hai. Maaf, tadinya aku ingin sedikit menghangatkanmu, makanya langsung kusentuhkan kopi kaleng itu ke pipimu. Terlalu panas ya?" tanya Taka agak cemas.
"Ah, nggak kok, tadi aku cuma kaget," jawab Mamori. Taka terlihat lega mendengarnya. Ia pun memberikan kopi kaleng itu kepada Mamori.
"Emm, Anezaki-san, aku minta maaf, tadi tanpa pikir panjang aku sudah membentak dan menamparmu..." Taka tertunduk dalam.
Mamori tersenyum simpul. "Taka-kun tidak salah kok, justru aku berterima kasih."
"Tapi, penyebab awal Hiruma jadi begini juga aku 'kan? Seandainya saja saat itu aku tidak meninggalkanmu untuk mengambil bukuku yang tertinggal..." sesal Taka.
"Taka-kun," ujar Mamori, "aku sama sekali tidak menyalahkan siapapun atas semua kejadian hari ini. Kau tidak salah, Asano Asakura dan teman-temannya juga tidak salah, Youichi juga tidak salah. Mungkin kejadian hari ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua." Mamori menepuk bahu taka sambil tersenyum. Taka menatap Mamori, ia tahu senyuman Mamori tidak sepenuhnya ikhlas, masih ada sedikit beban di hatinya. Namun Taka membalas senyuman Mamori.
"Terima kasih, Anezaki-san. Oh iya, ini sudah sangat larut, sebaiknya kau memejamkan matamu walau hanya sebentar," saran Taka.
"Iya, Taka-kun, sebentar lagi juga aku pasti ketiduran," canda Mamori. Ia dan Taka tertawa kecil. Taka pun meminta izin untuk beranjak tidur lebih dahulu. Mamori memakluminya, karena seharian ini Taka juga sudah berjuang untuk menyelamatkannya. Taka pun meninggalkan Mamori di dalam ruang ICU itu.
Rumah Sakit Daerah Saitama, 02.35a.m.
Dini hari Saitama diwarnai oleh gerimis. Salah satu lorong RSD Saitama dipenuhi oleh orang-orang yang memejamkan mata. Lelah memang. Tapi mereka tetap menunggu. Menunggu pemimpin mereka membuka matanya. Sementara itu, seorang gadis berambut coklat berada di dalam ruangan tempat sang pemimpin beristirahat. Ia duduk di samping tempat berbaring sang pemimpin dengan mata terpejam. Hanya ia yang sama sekali tidak mau meninggalkan sang pemimpin. Tangannya menggenggam erat tangan sang pemimpin. Gadis berambut coklat panjang itu tak mau terpisah lagi dengan sang pemimpin. Ia ingin tetap disampingnya sampai matanya terbuka lagi.
TAP TAP TAP
Seseorang menyusuri lorong rumah sakit itu. Melewati para prajurit yang setia menjaga sang pemimpin di luar ruangan. Ia langsung masuk ke dalam ruangan tempat sang pemimpin berada dan menghampirinya.
"Kenapa begini..." gumam orang itu . Seorang pria paruh baya berambut hitam, ber-kimono, dan juga ber-geta.
"Seberbahaya apapun hal yang kau lakukan, seharusnya kau tidak akan sampai terbaring di sini seperti ini," lanjut pria itu. Pria itu menatap sayu Hiruma yang terbaring. Lalu ia menoleh ke arah Mamori.
"Lihat, gadis ini begitu menderita karena ingin berada di sampingmu... harusnya kau senang, 'kan? Baru pertama kali ini... ada gadis yang benar-benar mencintaimu seperti ini... belajarlah sedikit, tentang cinta..." lanjut pria itu lagi sambil membelai rambut panjang Mamori. Lalu ia menyelimuti tubuh Mamori dengan mantel abu-abu yang ia kenakan.
"Aku..." Pria itu kembali menatap Hiruma. Perlahan pria itu mengelus kepala Hiruma. "Akan selalu mendoakanmu..." lanjut pria itu.
"Aku harus pergi sekarang, Youichi. Teruslah hidup, dan... jangan kecewakan gadis yang mencintaimu ini. Ayah menyayangimu, Youichi..." pesan pria itu pada Hiruma seraya pergi. Ruangan itu kembali hening. Yang terdengar hanyalah melodi hujan yang mengguyur Saitama malam itu.
Rumah Sakit Daerah Saitama, 08.35a.m.
"Yamato-kun! Semuanya!" teriak seseorang yang berlari menuju ke depan ruang ICU dimana semua orang menunggu. Yamato menoleh, sementara itu Suzuna langsung terperangah begitu melihatnya.
"Se...na?"
"Suzuna! Bagaima—" Sena hendak menanyakan kondisi Hiruma saat Suzuna tiba-tiba menghambur ke dadanya dan memeluknya erat-erat.
"Suzu... Suzuna?" Sena masih kelabakan menghadapi Suzuna yang tiba-tiba saja memeluknya itu.
"You-nii... You-nii..." Suzuna mulai mencucurkan air matanya lagi. Ia tak mampu melukiskan perasaannya sekarang kecuali dengan tangisan. Suzuna pun terisak di dada Sena.
"Ada apa? Bagaimana kondisi Kak Hiruma?" tanya Sena panik. Suzuna tak kuasa menjawab, suara tangisannya menggema di seluruh penjuru lorong rumah sakit tersebut.
"Masih, belum sadar ya..." suara seseorang dengan bahasa Inggris yang begitu fasih. Sebagian dari orang-orang yang ada di sana mengenal betul suara itu.
"Hentikan air mata itu, Nona. Menangisinya sama saja dengan mempercayai bahwa dia akan mati," lanjut orang itu. Suzuna pun mengangkat kepalanya yang tadi ia benamkan di dada Sena.
"Eh... kau 'kan..." Suzuna menatap orang itu. Rambut pirangnya, jasnya yang kelihatan mahal, hidungnya yang begitu mancung, dan matanya yang mirip dengan Hiruma.
"Sudahlah, wajar kalau gadis itu bersedih 'kan, Clifford?" kata Yamato sambil tersenyum pada Clifford. Yang lain hanya memasang ekspresi terkejut yang datar, bertanya-tanya kenapa Clifford yang itu ada di sini. Clifford pun membalas senyum ramah Yamato dengan senyum tipis yang dingin—jarang-jarang Clifford tersenyum.
"Di mana bocah sok itu? Masih tidur di dalam ya?" tanya Clifford. Yamato mengangguk kecil.
"Tenang saja, di dalam ada Tuan Putri yang menjaganya kok," jawab Yamato dengan senyumannya yang percaya diri. "Oh iya, dia, Anezaki belum bangun?" tanya Yamato baru sadar. Taka menggeleng.
Di dalam ruang ICU,
Cahaya mentari yang mulai memancar terik memaksa masuk ke dalam ruangan dengan menembus serat-serat kaca jendela. Teriknya cahaya mentari itu mampu menyinari seluruh sudut ruangan. Lampu ruangan yang masih menyala pun menjadi tak berarti. Perlahan tapi pasti cahaya itu bergerak seiring waktu, sampai kini cahaya itu jatuh tepat di depan kelopak mata Mamori.
"Uh, sudah siang ya?" tanya Mamori sembari membuka matanya. "Eh, siapa yang menyelimutiku dengan mantel ini?" Mamori bertanya-tanya.
PIP PIP PIP PIP
Di tengah kebingungannya, telinga Mamori menangkap suara yang berulang kali mengalun. Mamori menjelajahi ruangan tempatnya berada, mencari asal suara itu. Lalu mata Mamori terhenti di depan sebuah alat yang menampilkan beberapa angka dan beberapa gambar seperti sandi rumput yang berjalan. Suara dari alat itu mengalun konsisten. Mamori menatap alat itu beberapa saat. Entah kenapa semakin lama Mamori menatapnya, suara yang mengalun dari alat itu terdengar semakin pelan. Gambar sandi rumput yang berjalan pada alat itu juga berubah, jarak dari sandi rumput yang satu menuju sandi rumput yang lain jadi semakin menjauh. Mamori terbelalak, beberapa detik ia berpikir dan ia baru sadar akan apa yang ingin ditunjukkan alat yang biasa disebut elektrokardiograf itu.
Mamori mulai berkeringat dingin. Alat ini… Suara ini… Gambar itu… Tidak mungkin…
"YOUICHI!"
Mamori berteriak keras. Spontan orang-orang di luar bergegas masuk ke dalam ruangan. Dengan refleks yang cukup cepat, Yamato, Taka, Ikkyu, dan Sena sudah berada di barisan terdepan. Memperlihatkan ekspresi seolah bertanya, "Ada apa Mamori?". Mamori menjawab pertanyaan itu dengan tatapan matanya yang begitu ketakutan, ia membekap mulutnya tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Ikkyu yang menyadari kondisi Hiruma bukan dalam keadaan normal langung berlari ke luar ruangan dan memanggil dokter.
Sementara itu mereka yang berada di dalam ruangan hanya bisa terdiam dan saling pandang. Beberapa menangis. Beberapa terkejut dan tidak tahu harus memasang wajah seperti apa. Suzuna menangis lagi di dada Sena yang juga mulai berkaca-kaca, Clifford menatap Hiruma tanpa ekspresi, lalu Yamato dan Taka menggenggam bahu Mamori, menjaga agar gadis berambut coklat panjang itu tetap tegap. Sementara itu bunyi yang dilantunkan elektrokardiograf itu semakin melemah. Tak lama kemudian Ikkyu datang dengan dokter.
"Maaf, tolong buka jalan!" perintah dokter itu terburu-buru. Ia langsung menghampiri Hiruma dan cepat-cepat mengeluarkan stetoskopnya. Dokter berkacamata itu terlihat sangat terkejut begitu selesai memeriksa detak jantung Hiruma. Ia menoleh dengan panik ke arah suster di sebelahnya.
"Suster! Nyalakan alat itu!" perintah dokter itu pada susternya dengan nada tinggi.
"Ba… baik!" jawab suster itu seraya melakukan perintah sang dokter. Ia terlihat linglung, mungkin masih kaget mendengar perintah dokter yang keras tadi.
"Ada apa, dokter?" tanya Monta tidak sabar. Dokter itu hanya menggeleng pelan. Sementara itu susternya sedang berusaha mempersiapkan alat pacu jantung.
PIP... PIP... PIP... PIP...
Suara itu semakin lama mengalun semakin lemah. Kurita yang menjerit semakin keras digiring keluar oleh 3 bersaudara Haa-Haa yang sebenarnya tidak kuat berada di dalam. Air mata Sena juga tidak bisa dibendung lagi. Suster kembali mengecek alat pacu jantung yang sudah ia persiapkan atas perintah sang dokter, ia memastikan alat itu sudah menyala dan siap untuk digunakan. Lalu ia mempersiapkan jam tangannya, untuk berjaga-jaga kalau-kalau terjadi sesuatu.
BRUKK
Mamori jatuh terduduk. Wajahnya tertutup oleh rambut coklat panjangnya. Samar-samar terlihat air mata mengalir deras di pipinya. Tangannya menggenggam erat tangan Hiruma.
Kenapa? Padahal aku belum dengar jawabanmu… Bukankah kau berjanji akan menjawabnya, Youichi?
Bayangan Dewa Kematian kembali menampakkan diri di ruangan itu. Bayangan itu semakin jelas beriringan dengan detak jantung Hiruma yang mengalun semakin pelan.
PIII—P
-Author's Cuap-cuap :D-
Fanfic kedua saya di ffn ! :D
Alhamdulillahirabbil alamin, akhirnya dipost juga ! :D
udah chapter 10 niih !
jadi siswi SMA bener-bener sibuk banget yaa~! o
maaf udah ngebuat kalian menunggu lama, minna ToT
saya mengucapkan terimakasih yg sedalam-dalamnya untuk :
Mashy-Gaara4life
Vhy Otome Saoz
RisaLoveHiru
Rheinny del Zialiony
KwonSooJin
Youichinaluw11
undine-yaha
Kaede yuka-chan
Maharu P Natsuzawa
Yoshi si Kucing Belang
RiikuAyaKaitani
just reader 'Monta'
Unk-gu G-jiy
Mafia No.146 Akari-chan
Uchiha Evans
Micon
Anggi
Raiha Laf Qyaza
Chiyo curippu
Asako Karasuma
mitoia-tan
LeeSunRie
rethaloveyouchi
Ichiriu Misaki
Matsura Akimoto
yarai yarai chan
Tania Emiko Aureliana
SatanSpawn
Hanya Orang Tidak Jelas
TH3M4il
Miharu Koyama
Yg sudah memberikan review-nya di chapt 9 ^^ terimakasih banyak, sensei ^^
Review terus di chapt selanjutnyaa yaa :D
Maklum amatiran, jadi masih ancur penulisannya . Tpi semoga review dri kalian semua bsa membuatku jadi lbih baik ^^
RnR yaa ! Ditunggu loh, jangan segan-segan mengirim kritik, saran atau pesan apapun ^^ [surat cinta juga boleh asal jangan surat tagihan nd ancaman pembunuhan !XD]
-Answer for the last review :D-
Mashy-Gaara4life : ^^
Vhy Otome Saoz : ini udah secepatnya .. u.u
RisaLoveHiru : kalo mati idupin aja lagi pake ilmu alkemi XDD *ditembak mati*
Rheinny del Zialiony : hadah ! XDD
KwonSooJin : sip, apdet coming !
Youichinaluw11 : hehee XP
undine-yaha : semoga hepi ending ;)
Kaede yuka-chan : ahaha, Cuma tim kecil"an dari temen satu sekolah kok ;)
Maharu P Natsuzawa : maksih fave-nyaa ;
Yoshi si Kucing Belang : diksi itu apa ? O.o *ditampol* jelek ff saya tte .. u.u
RiikuAyaKaitani : apdet datang !
just reader 'Monta' : ok, maaf lama !
Unk-gu G-jiy : Insya Allah yaa~ X33
Mafia No.146 Akari-chan : ohohho~
Uchiha Evans : kurangajar ! XD maaf lama ! Dx
Micon : maaaaaffff, saya benar" sibuk :"(
Anggi : maap apdetnya ngga cepet :"(
Raiha Laf Qyaza : iyaa, jangan mati T.T
Chiyo curippu : sip, apdet datang !
Asako Karasuma : heehee, permintaan saya akan saya pertimbangkan X3
mitoia-tan : begitulah saya, sang penggemar cliffhanger n,na
LeeSunRie : ja-jangan nangiss ! T_T
Rethaloveyouchi : maaf yaa, saya benar" sibuk ... :"(
Ichiriu Misaki : sip ! apdet datang !
Matsura Akimoto : maaf apdetnya ngga cepat :"(
yarai yarai chan : engga engga, masih dilanjut kok ;) chapter depan baru tamat u.u
Tania Emiko Aureliana : iyaa ini diapdet walopun telat ^^a
SatanSpawn : hehehe ;
: sankyuu, maaf telat apdet ! Dx
Hanya Orang Tidak Jelas : gomeennn apdetnyaa laamaaa T_T un ? haha, ga bermaksud bikin MamoYama loh saya ; wah, kalo soal flamers saya ngga begitu tau, gomen m(_ _)m
TH3M4il : sankyuu, keep RnR ya ! ;)
Miharu Koyama : ini baru apdet, maaf T_T tamat di chapter selanjutnya ^^
Yg punya fb nd twitter bsa mengakrabkan diri denganku di :)
-fb search : Karin Lighthalzen
-twitter : bontalotte
Thx all, maaf cerewet ! XD
Devil Bat Ghost !
