Chapter 10.

Title : My Ice cream Doctor.?

Author : Rilakkumaa_94

Cast : Oh Sehun.

Xi Luhan.

Park Chanyeol.

Do Kyungsoo.

Pairing : HUNHAN ( SEHUN X LUHAN)

Genre : Drama, Romance, Friendship, Comedy (gaje) dll.

Rating : T

Playing : SECHSKIES - Couple

Rilakkumaa_94

Present

.

.

.

" Oh Sehun 27 tahun, lelaki tulen, penyayang wanita."

" Aku cantik kan.?" Ulangnya lagi.

" Mentang mentang dia menyukai Soobin."

.

.

.

.

.

Oh Jin Hee.

Wanita paruh baya itu terlihat tidak nyaman dengan acara TV yang ditontonya. Matanya tidak focus kedepan, dia terlihat bingung karena memikirkan sesuatu. Jin Hee memainkan remote TV mengganti kesiaran yang lebih layak ditonton.

" Belum punya pasangan yang cocok, cobalah cara berikut ini."

Suara ditelevisi menampilkan seorang wanita muda yang sangat cantik membawakan sebuah acara. Pilihanya jatuh pada sebuah acara yang bertemakan pengakuan cinta.

" Jika anda menyukai seseorang ungkapkan dengan beberapa hal, pertama menuliskan surat. Cara ini memang sudah tidak digunakan tapi sebuah surat bisa menjadi alternative untuk mengungkapkan perasaan."

Jin Hee focus menatap kedepan, mendengarkan dengan seksama.

" Kedua, melalu puisi biasanya seorang wanita menyukai puisi yang diciptakan sendiri." Wanita itu bersuara lagi.

" Sehun mana mau menulis puisi." Jin Hee berkomentar.

" Ketiga, sebuah lagu. Lagu adalah sarana yang paling banyak peminatnya, karena biasanya memuat isi atau pesan yang indah dan dinyanyikan dengan alunan music yang menyentuh hati." Wanita tadi kembali bersuara.

Jin Hee menggeleng " Sehun mana bisa menyanyi, si pelit bicara itu benar benar." Jin Hee geram sendiri jika mengingat kedinginan Oh Sehun.

Dia menatap lagi layar ditelevisi.

" Nah untuk anda yang berminat mencari pasangan, dan ingin menemukan tambatan hati yang tepat. Ikutilah acara ini, anda bisa mendaftarkan teman, saudara atau anak anda yang belum mempunyai kekasih."

Jin Hee mangut mangut.

" Silahkan mendownload aplikasi ini di google atau play store, dan temukan cinta sejatimu."

Jin Hee tertarik, dia bahkan mengambil ponselnya kemudian.

" Jika aku tidak bertindak, maka putraku pasti akan melajang seumur hidupnya." Jin Hee berkomentar sembari mengetik sesuatu diponselnya.

Dia menggeser, mengetik dan menghapus tulisanya. Mengisi identitas Oh Sehun.

" Umur 27 tahun, seorang dokter, tampan dan penyayang."

Jin Hee mengetikan itu, " Ini berlebihan." Komentarnya, lalu menghapus lagi.

" Oh Sehun 27 tahun, lelaki tulen, penyayang wanita."

Jin Hee mengamati tulisanya, dan menggeleng lalu menghapus lagi.

" Anakku bukan seperti itu. Ini bukan gayanya."

Lalu Jin Hee menuliskan lagi, tidak terlalu berlebihan seperti tadi.

" Nah seperti ini saja." Ucapnya bangga sembari melihat ponselnya.

" Lalu foto yang mana ya.?"

Jin Hee menggeser dan memilah photo photo Sehun yang ia ambil diam diam. Sehun bukan tipe orang yang suka berfoto.

" Ah ini saja."

Pilihan Jin Hee jatuh pada photo Sehun yang mengenakan kemeja putih dan sedang duduk, sembari menghadap kearah lain.

.

" Putraku sangat tampan."

Jin Hee berkomentar senang, dia tak henti hentinya memuji ketampanan Sehun.

Ting.

Pesan masuk. Jin Hee melirik ponselnya.

" Baru beberapa menit, sudah ada yang tertarik pada putraku." Jin Hee berucap senang, ketika sebuah chat dari seorang wanita yang tertarik pada Sehun.

" Apa boleh berkenalan.?" Pesan datang dari seorang yang menggunakan username Sanaa_99

Jin Hee membalas chat itu. " Tentu saja boleh."

Dia berucap senang sembari mengetik pesan balasan.

Dan selanjutnya mereka berdua sibuk dengan chat masing masing.

.

.

.

12.45 am.

.

Sehun duduk disamping Luhan, dirinya juga sibuk mengerjakan sesuatu. Sedangkan Luhan, gadis itu juga tengah sibuk membaca buku ketiganya yang baru dibuka. Luhan membaca asal lagi, entah mulutnya berkata apa yang penting dia paham isi bukunya.

Sehun yang merasa terganggu, melirik sebentar.

Luhan masih saja focus dan tidak sadar diperhatikan.

" Kau sedang membaca buku atau apa.?"

Luhan tidak mengubris Sehun, dia sibuk sekarang.

Merasa diacuhkan Luhan, Sehun berdecak pelan.

" Baca yang benar, suaramu merusak kupingku.!"

Luhan tetap tidak menyahut, dia masih focus membaca.

" Luhan." Panggil Sehun agak keras.

" Apa, Luhan sibuk.!" Balasnya, tidak perlu repot repot menoleh kearah Sehun.

Sehun menarik nafasnya pelan. " Kau tidak lelah.?"

Luhan sontak saja membanting bukunya, lalu menghadap Sehun.

" Tentu saja aku lelah." Ucapnya kesal.

" Tubuhku bahkan kaku dan pegal semua." Keluhnya.

Sehun tersenyum tipis.

" Kalau begitu ayo kita keluar."

Luhan menjawab tak tertarik. " Kemana?"

" Menemui anak anak.!" Sehun menjawab datar.

Luhan menghadap Sehun lalu mengehmbuskan nafasnya kasar.

" Bisakah kita makan dulu, aku sangat lapar.?" Luhan memohon.

Sehun mengangguk setuju, langsung saja Luhan berdiri dan berjalan dahulu.

Meninggalkan Sehun yang mengikuti dari belakang sembari menutup pintu ruanganya.

.

.

.

Sehun dan Luhan berjalan menuju cafetaria Rumah Sakit. Mereka tidak ada satupun yang berucap atau berbicara duluan, Sehun maupun Luhan diam dan larut dalam fikiran masing masing. Setelah berjalan cukup jauh, mereka akhirnya sampai, lalu mengambil piring masing masing.

" Hari ini menunya apa?" Luhan bertanya pada bibi yang bertugas mengambilkan makanan.

" Daging sapi asam manis." Bibi itu menjawab.

Luhan mengangguk mengerti, lalu menyerahkan piringnya.

" Aku minta sayur yang banyak bi."

Bibi itu mengangguk lalu menyendokkan sayuran kepiring Luhan sangat banyak.

" Dagingnya sedikit saja, aku tidak suka." Luhan meminta lagi.

Bibi itu mengangguk lalu mengurangi porsi daging Luhan.

Bibi tadi menyerahkan kepada Luhan dan disambut oleh tangan Luhan.

" Terima kasih." Ucapnya lalu pergi bersama Sehun yang juga sudah mengambil makananya.

Sehun dan Luhan menatap kursi di cafetaria rumah sakit.

" Kita duduk dimana.?"

" Terserah."

Luhan mengerti dan berjalan asal. Berjalan sembari mencari keberadaan Kyungsoo dan Eun Ha.

" Disana saja." Putusnya, sembari menarik tangan Sehun dengan tangan kirinya yang bebas. Menuju kearah Kyungsoo dan Eun Ha yang berada diujung kiri cafetaria.

Sehun menurut, mengikuti Luhan yang berjalan dahulu sembari menarik tanganya.

" Kyungsoo." Luhan berteriak.

Kyungsoo dan Eun Ha yang juga sedang makan siang menoleh, dan menyuruh Luhan mendekat.

Setelah sampai, Luhan dan Sehun duduk bersebelahan.

Kyungsoo dan Eun Ha memandang Sehun yang datang bersama Luhan terkejut. Kyungsoo menatap Luhan bertanya, Luhan hanya mengedikan bahu acuh dan duduk.

" Duduklah disini." Ucapnya pada Sehun, menyuruhnya duduk disebelah Luhan.

Kyungsoo dan Eun Ha memandang heran kedua makhluk dihadapanya.

" Bagaimana kau bisa bersamanya Lu.?" Eun Ha berbisik pelan.

" Aku mengajaknya makan siang bersama." Luhan membalas dengan keras.

Eun Ha menatap tajam Luhan, tapi gadis itu tak peduli.

" Apa kehadiranku menganggu kalian.?" Sehun bertanya, nadanya tetap saja datar.

Kyungsoo dan Eun Ha menggeleng, mereka sama sekali tak terganggu dengan kehadiran Sehun. Itu merupakan berkah malahan.

" Tidak dokter, kami tidak merasa seperti itu.!" Kyungsoo mengklarifikasi.

" Iya, kami juga tidak apa apa jika makan bersama anda." Eun Ha menambahkan.

Sehun hanya mengangguk lalu mulai makan.

Mereka berempat makan dalam diam, belum ada yang memulai pembicaraan.

" Kenapa kalian juga baru makan siang.?" Luhan bertanya, memecah keheningan yang melanda mereka.

Eun Ha dan Kyungsoo menatap Luhan.

" Ah kami baru saja membantu di UGD." Jelas Eun Ha.

Luhan mengangguk mengerti.

" Kau tahu tadi banyak sekali pasienya.?" Eun Ha becerita.

" Dan itu anak anak." Kyungsoo menambahi.

" Kau pasti membencinya kan.?" Luhan menuduh sembari menatap Eun Ha.

Eun Ha tertawa pelan " Sudah kuduga, kau sama sepertiku." Luhan menambahkan.

Eun Ha berhenti tertawa " Mereka merepotkan." Eun Ha mengeluh.

Sehun menatap datar Eun Ha, " Wanita ini sama saja." Pikirnya. Menyamakan Luhan dan Eun Ha yang tak menyukai anak anak.

Kyungsoo menatap piring Luhan.

" Kau seperti makan rumput Lu.!" Kyungsoo mengomentari piring Luhan yang dipenuhi sayuran.

" Biar saja." Luhan membalas asal.

" Kau seperti kambing." Eun Ha mencemooh Luhan.

Luhan menyendokkan makananya. " Biar saja aku kambing, yang penting cantik. iyakan.?" Luhan mengatakanya penuh percaya diri, sembari menatap Sehun meminta bantuan.

Sehun yang tengah makan, menatap Luhan sebentar.

" Aku cantik kan.?" Ulangnya lagi.

Sehun memutar bola matanya malas. " Tidak. " Balasnya datar.

Mendengar jawaban kurang ajar Sehun, Luhan memberengut kesal dan memukul lengan Sehun keras.

" Dasar setan." Umpatnya.

Dan selanjutnya ketiga orang itu menertawakan Luhan yang sedang kesal.

Luhan mencoba bersikap biasa saja. " Yang penting aku cantik, dan istrinya Chanyeol oppa." Ucapnya penuh percaya diri.

" Heol dan aku percaya itu."

Eun Ha menghentikan tawanya, lalu memandang Luhan.

" Luhan." Panggilnya.

Luhan menoleh mengahadap Eun Ha.

" Kau mau tahu sebuah berita tidak.?" Eun Ha mengatakanya sembari menunjuk Kyungsoo menggunakan ekor matanya.

" Apa?" Merasa mengerti Luhan bertanya.

Kyungsoo diam saja, dia focus makan begitupun Sehun.

" Akan ada yang berkencan minggu besok." Ucapnya pelan.

" YA.!" Kyungsoo berteriak kesal dia bahkan membanting sumpi yang dia gunakan.

Luhan beteriak terkejut. " Benarkah.?"

Luhan dan Eun Ha tertawa, Sehun memperhatikan mereka bertiga.

" Siapa dia.?" Luhan pura pura tak mengerti.

Eun Ha menunjuk Kyungsoo menggunakan dagunya. Kyungsoo memberengut kesal.

" Jangan percaya padanya.!" Kyungsoo membela.

" Dia akan berkencan dengan-" Eun Ha menggantungkan kalimatnya, menatap Kyungsoo sebentar.

" Jangan jangan si tukang jagal itu ya.?" Luhan menebak, dan Eun Ha tertawa setelah itu.

" Seberapa jauh hubungan kalian.?" Luhan bertanya.

Kyungsoo diam saja, dia terlihat kesal.

" Dia bilang ini baru permulaan." Eun Ha yang menjawab, Kyungsoo menatap tajam Eun Ha dan Eun Ha hanya memberikan tanda V untuk Kyungsoo.

" Kau tidak mau bercerita padaku.?" Luhan bertanya, pura pura marah pada Kyungsoo.

" Kau tidak menganggapku teman ya Kyung.?"

Kyungsoo menggeleng, dia merasa tidak enak.

" Bukan begitu, aku hanya—" Kyungsoo menggantungkan kalimatnya, menatap Sehun sebentar.

Luhan mengikuti arah pandang Kyungsoo, lalu dia mengangguk mengerti.

" Kau malu padanya. Sudah abaikan saja, anggap dia patung.!" Luhan berucap keras, mencemooh Sehun juga.

Kyungsoo terkejut lalu mengangguk.

" Siapa yang kau panggil patung.?" Sehun bertanya dingin.

Luhan mengedikan bahu acuh. " Kau kan seperti patung. Dingin, kaku dan tidak bernyawa." Luhan berucap seperti menakut nakuti.

Sehun memutar bola matanya malas. " Tapi dokter Oh tampan Lu." Eun Ha berucap, membela Sehun.

" Iya aku tahu." Luhan membalas acuh.

Sehun menatap Luhan. Dia masih tidak percaya Luhan mengakui bahwa dirinya tampan.

" Lalu ceritakanlah Kyung.?" Luhan mendesak.

Kyungsoo mengangguk lalu mulai bercerita. Dari awal sampai akhir dan tak ada yang terlewatkan.

" Wahh.." Luhan berteriak histeris setelah Kyungsoo selesai bercerita.

" Kau harus dandan yang cantik, Kyung." Luhan menlanjutkan, sembari menatap Kyungsoo dari atas sampai bawah.

" Kau juga jangan lupa mandi." Eun Ha mencemooh Kyungsoo.

" Ya! Aku selalu mandi, kalian saja yang tidak pernah." Kyungsoo kesal, menatap tajam Luhan dan Eun Ha.

Kedua gadis itu malah tertawa terbahak bahak, meninggalkan Kyungsoo yang sedang kesal.

Dan selanjutnya mereka makan bersama dengan sesekali bercerita dan tertawa bersama, mengabaikan kehadiran Sehun ditengah tengah mereka yang mengomentari keberisikan ketiga dokter magang itu.

.

.

.

Sehun.

.

Setelah makan siangnya yang super berisik bersama ketiga dokter magang itu. Sehun melanjutkan niatnya menemui anak anak bersama Luhan. Tak lupa Soobin juga ikut, dia sudah berada disana duluan, Sehun sempat mengirimkan pesan padanya tadi. Sehun dan Luhan berjalan menuju salah satu pasien anak anak Sehun.

Luhan melirik Sehun yang berjalan disampingnya, dia memperhatikan pria itu sebentar, lalu tersenyum.

" Ada apa.?" Sehun bertanya datar, merasa diperhatikan Luhan.

Luhan menggeleng. " Tidak ada apa apa."

Sehun mengangguk, tidak berniat mempertanyakan lagi.

Luhan mendengus " Kau kaku sekali sih.?"

Sehun melirik Luhan. " Apa maksudmu?"

Luhan menggeleng pelan. " Apa sikapmu selalu dingin seperti ini ya.?"

"Ya."

Luhan berdecak, berbicara dengan Oh Sehun sulit sekali, pria itu seperti tidak memiliki kosa kata lain selain jawaban super singkatnya. Dia tidak berniat bertanya lagi pada Sehun, cukup sampai disini saja! Pikirnya.

Setelah melewati lorong lorong Rumah Sakit, berbelok kanan dan kiri akhirnya mereka sampai di kamar bernomor 124 .

Sehun diam didepan pintu.

" Kenapa tidak masuk.?" Luhan bertanya heran.

" Bersikaplah yang baik.!" Sehun berucap dingin, bermaksdu mengingatkan Luhan.

Lalu Sehun mengetuk pintu itu pelan dan masuk kedalam. Luhan mencibir sikap Sehun.

Pandangan pertama yang ditangkap Luhan adalah anak anak yang tertidur diranjangnya, ada juga yang bermain dengan Soobin disana.

" Oh dokter.?" Soobin menyapa Sehun sembari membungkuk.

Sehun mengangguk lalu berjalan mendekat diikuti Luhan dibelakang.

Soobin menatap Luhan tak suka, Luhan tidak peduli dia malah memalingkan mukanya.

" Kau sudah memeriksa mereka semua?"

Soobin mengangguk " Mereka baik baik saja, tapi –" Soobin menggantungkan kalimatnya.

" Ada satu anak yang susah di nasehati dokter." Soobin mengadu sembari menunjuk anak laki laki disebelah kanan yang tubuhnya gendut dan memegang robot robotan.

Sehun mengerti lalu berjalan menghampirinya.

" Jaemin." Panggilnya.

Jaemin menoleh, lalu beralih memainkan mainanya lagi.

Sehun mendekat berdiri disamping ranjang Jaemin.

" Dia suka sekali makan permen dokter, dan tidak mau meminum obatnya." Soobin mengadukan kelakuan nakal Jaemin kepada Sehun.

Jaemin menatap tak suka pada Soobin, tapi Soobin malah menjulurkan lidahnya.

" Apa benar itu Jaemin.?"

Jaemin menggeleng, dia sibuk bermain sekarang.

Sehun melirik kearah nakas disamping ranjang, mengambil obat Jaemin lalu membukanya.

" Kau harus minum obat." Sehun berucap, nadanya tegas dan dingin.

Jaemin diam, menatap Sehun lalu menggeleng.

" Aku tidak mau, rasanya pahit.!" Serunya.

Sehun tidak peduli, dia menyerahkan obat nya kemulut Jaemin. Jaemin menutup mulutnya rapat rapat.

" Buka mulutmu Jaemin.!" Soobin memerintah.

Jaemin tetap tidak mau, Soobin memegang tubuh Jaemin dan Sehun yang mengarahkan obatnya kemulut Jaemin.

Luhan yang mengerti membuka paksa mulut kecil Jaemin.

Mulut itu terbuka sedikit, langsung saja Sehun memasukkan obatnya dan memberikan Jaemin minum.

Jaemin menelan obatnya, tapi dia menangis.

" Huaaaaaaa hiks hiksss, dokter jahat." Jaemin menjerit.

" Jangan menangis." Soobin menenangkan.

Luhan menatap datar kedua orang itu. Jaemin menangis sembari memeluk robot robotanya.

Luhan yang peka, dia mau menyingkirkan robot itu yang menghalangi tubuh Jaemin.

Dia mengulurkan tanganya berniat merebut robot itu, agar memudahkan Sehun memeriksa keadaan Jaemin.

Jaemin menolak, tapi Luhan memaksa.

" Dokter pinjam robot Jaemin sebentar ne.?" Luhan membujuk Jaemin.

Jaemin tidak mau dan menggerak gerakkan tubuhnya, mempertahankan mainanya.

" Dokter akan memeriksa Jaemin dulu, nanti Jaemin main lagi." Soobin giliran membujuk.

Jaemin tetap tidak mau, malah menggunakan robotnya untuk memukul Soobin dan Luhan.

" Jaemin hentikan..!" Soobin dan Luhan berteriak kesakitan dipukul dengan robot.

Sehun yang sadar menarik Soobin menjauh, meninggalkan Luhan sendiri yang masih dipukul Jaemin menggunakan robot ultramenya.

" Akh au auww hentikan Jaemin.!" Luhan kesakitan, mengarahkan tanganya didepan kepalanya.

Jaemin tidak peduli, masih memukul Luhan.

Jaemin mengangkat tinggi tinggi robotnya, tangan Sehun terulur ingin menahan. Dan Soobin yang menutup mulutnya berteriak panic.

Semua seperti gerakan slowmotion, lambat sekali.

Sehun menahan lengan Jaemin yang akan memukul kepala Luhan.

Braaakkkk

" Akh.." Luhan menjerit.

Sehun kaget, Soobin memandang dahi Luhan yang mengeluarkan sedikit darah.

Luhan memegang dahinya, lalu menatap tajam Jaemin. Jaemin malah menjulurkan lidah kearahnya.

Luhan berdecak kesal, lalu pergi keluar. Tanpa mengucapkan apa apa pada Sehun maupun memarahi Jaemin.

Sehun menatap punggung Luhan dan beralih menatap Jaemin tajam. Dipandang seperti itu, Jaemin meringkuk ketakutan. Sehun orang yang jika sudah marah adalah yang paling menakutkan, walau hanya dilihat dari tatapan mata tajam nya saja.

" Anak nakal.!" Marahnya pada Jaemin.

Sedetik setelah Sehun mengatakan itu, Jaemin menangis dengan keras.

" Hueee mama.."

Soobin sontak menghampiri dan menenangkan Jaemin. Sehun menarik nafasnya pelan, lalu ikut menenangkan Jaemin.

.

Luhan.

.

Gadis itu berjalan dengan cepat sembari mulutnya tak henti henti bergumam, mengumpat kesal anak nakal bernama Jaemin itu yang sudah membuat luka didahinya. Luhan memegang dahinya yang mengeluarkan darah.

" Aishhh akhh."

Luhan kesal sendiri dengan hidupnya. Kenapa? Dia harus dipersulit dengan anak nakal yang berwujud anak manis seperti Jaemin.

" Anak nakal, awas kau.!"

" Kupotong potong robot sialanmu itu."

" Ini alasan mengapa aku membenci anak anak.." Luhan berucap frustasi.

Dia tak henti hentinya mengeluarkan sumpah serapah untuk Jaemin.

" Si Sehun itu hanya menarik Soobin saja."

" Mentang mentang dia menyukai Soobin."

" Akh sial, Sehun sialan." Umpatnya untuk Sehun juga. Dia bahkan sampai menghentikan jalannya dan mengehentak hentakkan kakinya dilantai saking kesalnya.

Luhan tadi dengan jelas melihat Sehun yang menarik Soobin dari serangan Jaemin. Luhan bisa dengan jelas melihat bagaimana wajah Soobin yang memerah karena perlakuan Sehun.

" Aishh.."

Luhan masih merutuki nasib sialnya. Tidak peduli tatapan aneh dari orang yang kebetulan melihat. Dia berniat melanjutkan jalanya lagi sampai sebuah tangan menarik tubuhnya.

Dia ingin mengeluarkan umpatan untuk orang yang dengan kasar menariknya.

" Apa yang kau lakukan.?" Teriaknya.

Sehun tidak peduli dan tetap menarik tangan Luhan menuju ruanganya. Luhan ingin melepaskan tanganya dari genggaman Sehun, tapi tenaga Sehun sangat kuat dan susah sekali dilepaskan. Dia sebenarnya sedang marah dengan Sehun, tapi untuk alasan apa? Luhan bertanya dalam hati. Luhan menatap wajah serius dokter dihadapanya, Sehun terlihat lebih dingin dari biasanya.

Untuk itu Luhan pasrah dan diam saja, orang yang dibencinya kini tepat dihadapanya. Sehun menarik tangan Luhan tidak sabaran. Sehun membuka pintu ruanganya dan masuk kedalam.

" Diam disini."Sehun menyuruh Luhan duduk disofa, sedangkan dirinya berjalan kemejanya mengambil kotak first aid.

Luhan menurut, dia memegang dahinya yang mengeluarkan darah dengan sesekali mengernyit sakit.

Sehun kembali dihadapan Luhan dan duduk didepanya. Sehun menatap dahi Luhan, meneliti lukanya.

Sehun mengambil kapas serta alcohol. Dia menyingkirkan rambut Luhan yang menghalangi lukanya.

Sehun mengoleskan alcohol dibagian yang terluka, dan sukses membuat Luhan mengernyit sakit.

" Pelan pelan." Pintanya.

Sehun diam saja, dia focus mengobati luka didahi Luhan.

Setelah dibersihkan menggunakan alcohol, Sehun mengambil obat merah dan mengoleskanya disana.

" Perih.." Luhan merengek.

" Tahan sebentar."

Luhan mendengus kesal. " Aku benci anak anak." Rengeknya lagi.

Sehun menghembuskan nafasnya pelan.

" Mereka menyebalkan, makanya aku tidak suka jika bermain bersama mereka. Mereka suka menangis dan merepotkan." Luhan melanjutkan rengekanya.

" Aku tidak suka Jaemin. Dia nakal."

" Jaemin hanya anak anak." Sehun berucap datar mendapati wajah kesal Luhan. Berusaha menenangkan gadis itu yang kelihatan sekali membenci Jaemin.

Luhan menatap kesal Sehun. " Tapi aku tidak menyukainya."

" Kupotong robot sialan itu, yang sudah melukai dahiku." Ucapnya kesal.

Sehun diam, dia menempelkan plester kecil didahi Luhan.

Luhan menatap Sehun yang focus terhadap lukanya. Daritadi Sehun diam saja mendengar rengekan Luhan.

" Kenapa kau mau menjadi dokter.?" Tanyanya.

Sehun menatap Luhan sebentar, dia sudah selesai mengobati luka Luhan.

" Kenapa kau bertanya seperti itu?"

" Aku hanya ingin tahu."

" Karena aku ingin menyembuhkan orang sakit." Sehun berucap datar.

Luhan berdecih. " Itu jawaban yang sudah sering dikatakan orang lain. Maksudku keinginan mu sendiri bukan karena alasan itu."

Sehun merapikan kotaknya, lalu berjalan mengembalikanya ketempat semula. Mata Luhan mengikuti perginya Sehun.

Setelah meletakkan ketempat semula, Sehun kembali duduk dihadapan Luhan lagi. Menatapnya sebentar.

" Kau bertanya alasanku menjadi dokter.?"

Luhan mengangguk, dia penasaran dengan Sehun yang sepertinya menyukai pekerjaanya ini.

" Karena aku menyukainya." Jawaban yang singkat.

" Alasan apa itu.?"

Luhan bertanya, itu bukan alasan yang ingin ia dengar.

Sehun menatap datar Luhan. " Kau tahu, jika kau menyukai sesuatu maka kau akan nyaman terhadapnya. Tapi jika kau tidak menyukainya maka sekeras apapun usahamu, pada akhirnya kau tetap tidak akan berhasil karena kau tidak menyukainya."

Luhan mengangguk. " Tapi suka itu pasti ada alasanya kan.?" Tanyanya lagi.

Sehun mengangguk. " Kau pasti menyukai anak anak kan, jadi kau nyaman bekerja sebagai dokter. Karena kau ingin menyembuhkan anak anak yang sakit, benar.?" Luhan menebak.

" Benar." Sehun membalas.

Luhan menunduk kemudian, dia juga mempoudkan bibirnya ." Aku juga ingin sepertimu, bisa mempunyai alasan untuk menyukai pekerjaan ini." Luhan berucap pelan.

" Agar ayah dan ibu bangga terhadapku." Lanjutnya. Entah karena apa Luhan ingin sekali bisa diakui oleh kedua orang tuanya.

Sehun tersenyum lalu mengusak kepala Luhan. " Carilah alasanmu sendiri kalau begitu."

Luhan mendongak menatap Sehun dan tersenyum untuknya. " Aku akan berusaha." Luhan bersemangat lagi.

Entah karena apa mereka berdua senang sekali tersenyum satu sama lain. Sehun balas tersenyum, untuk sekarang mereka berdua sudah berbaikkan, setidaknya.?

.

.

TBC.!

...

..

.

Aku tahu dan sadar bahwa chap ini alay nya kebangetan, tapi selagi bisa dinikmati nikmatin aja ya. Dan bener juga adanya kritikan buat aku lebih dewasa dan nerima apa adanya. Ya jadiin pelajaran aja yang kemarin itu. Sadar umur udah tua tapi kelakuan masih kek anak kecil, duh malu kalau inget.. Maaf ya baru bisa update sekarang, dan gak bisa nepatin janji buat fast update.. Dan juga terima kasih ada yang mau baca ff receh ini.. gak sabar nunggu comebacknya EXO... :v:v