Storyline by baekyeolite
Park Chanyeol|Byun Baekhyun
in
LOVE UNCONDITIONALLY
Karena cinta tidak akan membiarkanmu memilih kepada siapa kamu akan jatuh hati
Chapter 10: Another Piece from The Past
Sesampainya dirumah, Chanyeol disambut oleh dua makhluk kecil yang berlarian kearahnya.
"Daddy!" si kembar berseru senang ketika Chanyeol membuka pintu rumah.
"Maaf daddy lama, ayo daddy buatkan susu" meski bibirnya tersenyum namun nada bicaranya terkesan hambar. Anak-anak tidak menyadarinya dan malah menarik-narik tangan Chanyeol menuju dapur.
Setelah membuatkan dua gelas susu, Chanyeol meletakkannya diatas meja makan, tepat dihadapan Chanlie dan Hyechan yang sudah menunggu dengan antusias, mereka tidak akan mau tidur kalau belum dibuatkan susu oleh ayahnya. Lalu Chanyeol mengusak rambut kedua anaknya dengan sayang. Setelah meminum susunya, Chanyeol menggiring mereka ke kamar mandi untuk menggosok gigi sebelum mengantar mereka ke tempat tidur.
"Daddy, apa boleh malam ini kami tidur di kamar daddy?" pinta Chanlie.
Tumben sekali, pikir Chanyeol. Melihat puppy eyes anak kembarnya, Chanyeol pun menuruti kemauan mereka, membawa mereka masuk ke kamar tidur miliknya.
Tempat tidur Chanyeol yang berukuran king size itu cukup untuk menampung ketiganya. Chanyeol baru saja ingin bersiap mandi namun Hyechan memanggilnya.
"Daddy, bisa temani kami sampai tertidur dulu disini?"
Ada apa dengan anak-anak? Kenapa mereka bertindak tidak seperti biasanya. Batin Chanyeol.
"Tapi daddy belum mandi sayang. Tunggu sebentar saja okay? Daddy tidak akan lama" jelas Chanyeol
"Baiklah"
Kemudian Chanyeol masuk ke kamar mandi dan mulai membasuh dirinya, berharap guyuran air air hangat dari shower mampu menenangkan pikirannya barang sebentar. setelah selesai ia mengenakan piyamanya lalu merangkak naik ke tempat tidur, memposisikan dirinya ditengah, memeluk Chanlie dan Hyechan berada di sisi kanan dan kiri. Chanyeol menyandarkan punggungnya di headboard tempat tidur sementara si kepala kembar bersandar di dadanya.
"Kalian belum mau tidur?" tanya Chanyeol, biasanya jam segini mereka sudah mulai mengantuk, tapi mata mereka masih terbuka sepenuhnya.
"Belum mengantuk dad" jawab Chanlie, Hyechan ikut mengangguk. Baiklah, mungkin Chanyeol harus berbicara sekarang.
"Daddy rasa kalian harus menghentikannya" ucap Chanyeol
Kepala Chanlie dan Hyechan mendongak menatap Chanyeol. "Maksud daddy?"
"Daddy tahu kalian sedang melakukan sesuatu terhadap Byun-agasshi dan daddy minta kalian menghentikannya, bisa?"
Chanlie dan Hyechan saling bertukar pandang. Tidak biasanya Chanyeol seperti ini, justru kadang ia malah berterima kasih pada anak-anaknya karena wanita-wanita penganggu itu tidak lagi berani mendekatinya. Chanyeol melanjutkan,
"Byun-agasshi bekerja sebagai sekretaris daddy dan bertugas membantu daddy dalam segala hal yang berhubungan dengan pekerjaan di kantor, maka hubungan kami hanya sebatas rekan kerja, tidak lebih. Jadi apapun rencana kalian selanjutnya, daddy harap kalian tidak melakukannya lagi, mengerti?"
Setelah hening beberapa detik akhirnya si kembar mengangguk pelan.
"Mengerti, daddy." ucap Hyechan
"Apa kami perlu meminta maaf kepada Byun-agasshi?" tanya Chanlie
"Tentu saja, kalian harus melakukannya"
"Tapi kapan lagi kami bertemu Byun-agasshi?"
"Oppa, bagaimana kalau kita buatkan sesuatu untuk Byun-agasshi lalu mengundangnya kesini?" usul Hyechan.
"Hmm.. boleh juga. Is that okay dad?"
"Sure, nanti biar daddy yang akan menjemput Byun-agasshi dan mengantarnya kesini"
"Alright, it settled then"
Lalu terlihat si kembar melakukan isyarat melalui mata mereka,
"Ngg… daddy?" Chanlie memulai
"Yes?"
Chanlie bermain-main dengan jari Chanyeol.
"Jika daddy ingin mencarikan mommy untuk pasangan daddy, kami tidak apa-apa"
.
.
.
Butuh beberapa detik bagi Chanyeol untuk menyerap perkataan Chanlie barusan hingga akhirnya ia mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak. Menatap Chanlie dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Selama itu untuk kebaikan daddy, kami tidak apa-apa" Hyechan menambahkan
Ya Tuhan…
Kenapa bisa kebetulan begini? Yang mengganggu pikiran Chanyeol selama perjalanan pulang adalah mengenai eommanya yang hendak mancarikannya calon istri. Entah kenapa rencana lamarannya Yifan membuatnya teringat akan hal ini. Bagaimana jika anak-anak tidak setuju?
"Tunggu, kenapa kalian berbicara seperti ini? Ada apa dengan kalian? Katakan pada daddy" Chanyeol terdengar panik
"Tidak ada apa-apa daddy, tapi kami bersungguh-sungguh mengatakannya" jawab Chanlie
Chanyeol menarik nafas dalam-dalam, memejamkan mata sebentar. Ini sangat tiba-tiba. Ia baru membuka matanya setelah sedikit menenangkan dirinya.
"Dengar, daddy tidak tahu apa yang membuat kalian berbicara seperti ini. Kalian tahu bahwa daddy sangat mencintai kalian, right? Daddy sudah cukup bahagia dengan adanya kalian dalam hidup daddy, jadi jika kalian yang menginginkan itu maka daddy tidak bisa menolaknya"
"Bukan hanya untuk Chanlie dan Hyechan saja daddy, tapi ini untuk daddy juga" ucap Hyechan
Chanyeol tidak tahu lagi harus merespon seperti apa. It's too sudden for him and he hasn't even prepared for this kind of situation. Mencari mommy baru untuk mereka berarti mencari pengganti Hyejin. Baiklah jika anak-anak menginginkannya, tapi apakah Chanyeol sudah menyiapkan hatinya? Apakah Chanyeol sudah benar-benar merelakan posisi Hyejin akan tergantikan oleh siapapun nanti yang akan jadi ibu baru bagi anak-anak? Chanyeol baru ingat, bahkan anak-anak belum 'mengunjungi' Hyejin sama sekali sejak mereka tiba di Korea.
"Kita bisa bicarakan hal ini lain waktu, okay. Besok kalian akan pulang sekolah lebih awal, daddy ingin mengajak kalian ke suatu tempat"
"Kemana daddy?
"Kita akan bertemu dengan mommy"
~L.U.~
Hari itu Chanyeol tidak seperti biasanya, ia lebih pendiam dan tidak terlalu memberi banyak komentar mengenai laporan saat rapat berlangsung. Baekhyun menyadari perubahan sajangnimnya namun segan untuk bertanya. Chanyeol juga meminta rapat diakhiri lebih awal lalu izin pergi tepat setelah rapat selesai.
"Sajangnim, apa anda baik-baik saja?" akhirnya Baekhyun memberanikan diri untuk bertanya sebelum Chanyeol benar-benar pergi.
"Aku akan kembali setelah jam istirahat kantor selesai. Jangan lupa notulensi harus sudah ada dimejaku sekembalinya aku ke kantor. Mengerti, Byun?" Chanyeol malah mengalihkan pembicaraan.
"Baik, sajangnim"
Chanyeol melangkah dengan sedikit tergesa meninggalkan ruang rapat sambil melirik jam tangannya, seolah berharap ia tidak terlambat untuk melakukan sesuatu entah apapun itu yang tidak Baekhyun ketahui.
~L.U.~
Flashback malam sebelumnya..
Chanyeol sadar dirinya lelah, namun ia belum merasa mengantuk sama sekali. Sudah pukul 12 lewat, Chanlie dan Hyechan sudah mendengkur halus, tertidur pulas di kanan dan kirinya. Pikiran Chanyeol masih terpaku pada pembicaraannya tadi dengan anak-anak. Mereka sudah berjanji untuk tidak membahasnya sekarang, tapi Chanyeol sendiri malah jadi tidak bisa tidur karenanya.
Hyejin.
Nama itu yang terlintas dibenaknya. Kemudian ingatan Chanyeol, kemudian pikirannya melayang ke memori beberapa tahun lalu…
Seoul, January 2010.
Sudah sekitar 3 minggu sejak diadakannya New Year's Camp Event dan selama itu pula siswa-siwi SMA tingkat akhir SM High disibukkan dengan ujian masuk universitas. Tak terkecuali dengan Chanyeol dan teman-temannya. Dua bandmate Chanyeol, Jino dan Kibum sama-sama ingin masuk Hanyang namun di program yang berbeda, Jino di Engineering sementara Kibum di Ekonomi dan Keuangan. jadilah kedua anak itu kemana-mana selalu bersama mengurus formulir dan hal-hal lainnya. Sementara Chanyeol, disarankan untuk kuliah di liar negeri oleh Tuan dan Nyonya Park, namun ia menolaknya, salah satu alasannya tentu saja ia tidak mau berpisah jauh-jauh dari Hyejin. Akhirnya Chanyeol mencoba mendaftarkan diri ke SNU dengan program Administrasi Bisnis sedangkan Hyejin sendiri memilih KAIST untuk melanjutkan pendidikannya. Biar saja kampusnya berbeda kota, yang penting masih berada di negara yang sama, pikir Chanyeol.
Karena kesibukan Hyejin mengurus segala macam administrasi di Daejeon, Chanyeol dan Hyejin sempat beberapa waktu tidak bertemu dan hanya berkomunikasi melalui telepon. Kermudian, tibalah hari pengumuman penerimaan mahasiswa baru. beruntungnya, Chanyeol dan Hyejin diterima di masing-masing universitas yang mereka inginkan. Mereka kembali bertemu di hari peresmian kelulusan SMA dan disitu Chanyeol menyadari ada sesuatu yang berbeda dari Hyejin. Ia datang terlambat, wajahnya pun terlihat tidak segembira murid-murid lainnya, gadis itu tampak tidak sehat. Akhirnya Chanyeol menghampiri Hyejin di sela-sela sesi foto angkatan. Belum sempat Chanyeol mengeluarkan sepatah kata Hyejin langsung menyela,
"Chan, setelah ini kita harus bicara" Hyejin berucap dingin
"Oke. Tapi izinkan aku bertanya satu hal, apa kau sedang sakit?"
"Akan kujelaskan nanti"
Chanyeol merasa ada sesuatu yang tidak beres, kenapa tiba-tiba jadi begini? Padahal semalam mereka masih saling bertukar kalimat rindu melalui telfon dan pesan singkat.
"Baiklah" ucap Chanyeol akhirnya
Chanyeol menebak-nebak hal serius apa yang Hyejin ingin bicarakan dengannya. Apa ini menyangkut kelanjutan hubungan mereka? Seingat Chanyeol, ia dan Hyejin sudah sepakat untuk tidak mempermasalahkan apapun yang terjadi kedepannya dan tetap akan meneruskan hubungan mereka meski akan berpisah kota, Chanyeol akan berkuliah di Seoul sementara Hyejin di Daejeon. Lalu apa yang membuat kekasihnya itu begitu terganggu? Tidak mungkin kan tiba-tiba Hyejin meminta putus. Sejauh ini mereka baik-baik saja.
Upacara pelepasan berakhir tidak lama setelahnya, lalu Hyejin menarik Chanyeol ke belakang sekolah, hanya berdua.
"Chanyeol" panggil Hyejin, ia menggigit bawahnya, kedua mata sayunya mulai berkaca-kaca, setetes demi setetes cairan bening itu menuruni pipinya
"Hey, hey, ada apa? Kenapa kau menangis?" Chanyeol panik, memegang kedua lengan Hyejin.
"Chan, berjanjilah padaku untuk tidak meninggalkanku apapun yang terjadi" Hyejin memohon
"Kau ini bicara apa? Tentu saja aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku mencintaimu Kim Hyejin, tidakkah kau tahu itu?" Chanyeol menarik Hyejin kedalam dekapannya. Setelah kekasihnya sudah sedikit lebih tenang, Chanyeol melepas pelukannya.
"Sekarang katakan padaku, ada apa?"
Hyejin memasukkan tangannya ke dalam saku blazer seragamnya mengambil sesuatu, lalu ia menyodorkan benda yang terbungus plastik obat transparan ke hadapan Chanyeol.
"Ini apa?" Chanyeol tidak mengerti, yang jelas benda itu berukuran kecil, berwarna putih, panjangnya sekitar 10 cm, dan terdapat dua garis merah yang melintang di bagian tengahnya.
"Hasilnya positif, Chan. Aku hamil"
Jantung Chanyeol langsung berdentum keras menghantam dadanya, susah payah ia menelan ludah yang terasa seperti menelan batu kerikil.
Hyejin hamil?
"Akhir-akhir ini aku merasa ada sesuatu yang aneh dengan badanku, kukira karena terlalu lelah belajar, aku sudah minum obat namun rasanya tidak kunjung membaik, dan tadi pagi ketika aku terbangun, kepalaku pusing dan perutku terasa mual. Kemudian aku teringat ketika kita…." Hyejin mulai terisak, air matanya lebih deras. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Chanyeol tahu yang dimaksud Hyejin adalah 'sesuatu' yang mereka lakukan ketika New Year's Camp Event berlangsung.
"Maafkan aku, Chan. Aku tidak tahu harus bagaima—"
Chanyeol memeluk Hyejin lagi, lebih erat.
"Kenapa harus minta maaf" tangan Chanyeol membelai lembut rambut Hyejin "Kita melakukannya berdua dan atas kesadaran diri masing-masing, jadi tidak ada yang perlu dimaafkan." Chanyeol berusaha menenangkan meskipun dia sendiri masih shock dengan berita ini.
Bayangkan, ia baru saja lulus SMA dan hendak memulai jenjang pendidikannya yang baru, bahkan usianya belum genap 19 tahun, tapi apa yang telah ia lakukan? Menanam benih sebelum waktunya. Namun mereka berdua melakukannya bukan karena paksaan atau ancaman apapun. Keduanya memang saling mencintai dan ketika tiba saatnya mereka sudah merelakan diri masing-masing, segalanya akan mereka berikan untuk membuktikan betapa dalamnya rasa saling ingin memiliki satu sama lain.
Sekarang semuanya sudah terjadi. Hyejin sedang mengandung anak Chanyeol, jika dihitung-hitung usia kandunganya masih sekitar 3 minggu.
"Apa yang harus kita lakukan Chan?" Hyejin terdengar frustasi.
Ya. Chanyeol harus mengambil keputusan sekarang karena ini menyangkut masa depan mereka. Masa depan Chanyeol, Hyejin, dan janin yang ada di perut Hyejin. Ya Tuhan rasanya masih seperti mimpi, mereka bahkan masih mengenakan seragam SMA saat harus berhadapan dengan kenyataan seperti ini.
"Kita akan merawat bayinya bersama"
Hyejin melepas pelukan Chanyeol. Yang sedari tadi ia khawatirkan adalah apakah setelah ini Chanyeol akan meninggalkan dirinya? Apakah Chanyeol akan menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya? Karena demi apapun Hyejin tidak akan sanggup melakukan itu, anak ini memiliki hak untuk hidup, jika memang Chanyeol meninggalkannya maka Hyejin siap untuk membesarkannya sendirian.
"T-tapi Chan—"
"Jangan katakan padaku bahwa kau berniat ingin menggugurkannya" Chanyeol menatap tajam
"Aku bersumpah Chan tidak ada terlintas sedikitpun niatanku untuk melakukannya. Tapi bagaimana dengan keluargamu? Apa ayah dan ibumu menerimanya? Lalu kuliahmu bagaimana?"
"Hyejin, dengar, kita yang melakukannya maka kita juga yang harus menanggungnya. Kau dan aku akan menghadapinya bersama. Percayalah, apapun yang terjadi aku tidak akan lari dari tanggung jawabku." tegas Chanyeol.
Dan Chanyeol membuktikan omongannya. Hari itu juga, sesampainya di rumah—dengan membawa serta Hyejin—Chanyeol menghadap kedua orang tuanya, Tuan dan Nyonya Park. Setelah Chanyeol menjelaskan semuanya, Chanyeol sudah bersiap menerima cacian bahkan tamparan dari sang ayah, Park Yoochun. Bagaimana tidak, Chanyeol merupakan anak lelaki satu-satunya, diharapkan akan membawa nama baik keluarga dan akan menjadi pewaris utama kerajaaan bisnis yang dibangun ayahnya, namun dengan apa yang sudah ia lakukan ini tentu saja akan mengecewakan Yoochun. Namun semua prasangka Chanyeol tidak terjadi. Ayahnya memang kecewa—sangat terlihat—tapi Yoochun menghargai keberanian Chanyeol untuk berkata jujur dan bersedia bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukannya. Sementara Eunhye hanya menangis tersedu disamping Yoochun.
Bersama dengan kedua orang tuanya, Chanyeol mengunjungi tuan dan nyonya Kim, orang tua Hyejin. Mereka sama kagetnya dengan Yoochun dan Eunhye, namun semuanya sudah terjadi. Yang perlu dilakukan saat itu adalah mencari jalan keluarnya.
Masih terlalu muda dan beresiko jika langsung menikahkan kedua anak mereka, selain itu juga akan mengundang kecurigaan di mata publik. Maka, demi menjaga reputasi kedua keluarga, telah diputuskan bahwa Chanyeol tetap melanjutkan kuliah sementara Hyejin akan menunggu sampai kelahiran anaknya. Sebenarnya baik Hyejin maupun Chanyeol lebih ingin hubungan mereka diresmikan dalam sebuah ikatan yang sah, namun keduanya tidak mampu menentang keputusan orang tua mereka.
October, 2010.
Selama kurang lebih 9 bulan Chanyeol menunggu, seringkali mengunjungi Hyejin untuk mengetahui bagaimana keadaannya. Dan Chanyeol tidak bisa lebih bahagia lagi ketika di minggu ke-16 kehamilan, dokter memberitahu bahwa Hyejin mengandung anak kembar. Namun karena ini kehamilan pertama di usianya yang terbilang muda, keadaan Hyejin cukup mengkhawatirkan dan membuatnya menjadi lebih lemah. Sebisa mungkin Chanyeol mendampingi Hyejin ditengah kesibukannya melanjutkan pendidikan.
Di minggu ke-37, Chanyeol sedang berada ditengah-tengah kuliah ketika ia mendapat telepon dari sang eomma yang memberi kabar bahwa Hyejin sedang dilarikan ke rumah sakit karena akan segera melahirkan. Chanyeol panik bukan main, detik itu juga ia meninggalkan kelas seperti orang kesetanan. Tidak peduli poinnya akan dikurangi karena keluar kelas seenaknya tanpa izin. Ini menyangkut kekasihnya..
… dan juga anak-anaknya. Ya Tuhan, sebentar lagi ia akan jadi seorang ayah.
Hyejin masih berada di ruang penanganan pertama ketika Chanyeol tiba di rumah sakit, sementara Eunhye dan nyonya Kim sedang menunggu diluar dengan cemas.
"Chanyeol!" Eunhye memanggil puteranya yang sedang berlari menghampiri.
"Eomma, eommonim, Hyejin ada dimana?" tanya Chanyeol dengan nafas terputus-putus
"Hyejin ada didalam, sebaiknya kau masuk dulu sebelum proses bersalinnya dimulai. Cepat sayang!"
"Ne, eomma"
Kemudian Chanyeol memasukki ruangan yang ditunjuk Eunhye dan mendapati Hyejin tengah merintih kesakitan diatas ranjang rumah sakit. Sementara dokter dan beberapa perawat sedang sibuk mondar-mandir menyiapkan proses persalinan.
"Chan.." lirih Hyejin melihat Chanyeol sudah berada disampignya
"Tenanglah, aku ada disini" Chanyeol meraih satu tangan Hyejin, menciumnya lalu menggenggamnya erat dengan kedua tangannya.
"Apa rasanya sakit sekali?" Chanyeol menatap penuh kekhawatiran. Peluh membanjiri pelipis Hyejin, wajahnya terlihat pucat. Namun perempuan itu hanya menggeleng dan tersenyum lemah.
"Tidak apa-apa. Aku akan kuat demi anak-anak kita, Chan.."
Air mata mulai menggenangi pelupuk mata Chanyeol. Jika saja Chanyeol bisa menggantikan posisi Hyejin, tentu ia dengan sangat rela menanggung semua rasa sakit yang dirasakan kekasihnya itu. Bagaimana bisa Hyejin masih tetap tersenyum dengan kondisi seperti ini. Satu tetesan jatuh membasahi pipi Chanyeol.
"Hey.. jangan menangis. Aku tidak ingin ayah yang cengeng untuk anak-anakku" Hyejin menghapus air mata Chanyeol dengan ibu jarinya. Saat itu juga Chanyeol merasa dirinya adalah laki-laki yang tidak berguna. Seharusnya dia yang menghibur dan memberi kekuatan pada Hyejin, kenapa malah jadi sebaliknya.
"Maafkan aku.. aku.. ya Tuhan, Hyejin kumohon berjanjilah padaku kau akan selamat" Chanyeol memohon, entah kenapa ia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.
Hyejin belum sempat membalas perkataan Chanyeol ketika dokter berserta beberapa perawat hendak membawa Hyejin ke ruang bersalin. Chanyeol terus memegang tangan Hyejin saat ia dipindahkan hingga akhirnya tautan itu terlepas ketika sudah berada diambang pintu.
"Maaf tuan, sebaiknya anda menunggu diluar" ucap seorang perawat menahan Chanyeol untuk ikut masuk.
Dan Chanyeol benar-benar tidak menyangka bahwa hari itu adalah terkahir kalinya ia merasakan hangatnya tangan Hyejin dalam genggamannya.
Sudah 5 jam namun belum ada tanda-tanda dokter akam keluar. Yoochun dan tuan Kim, ayah Hyejin, sudah tiba 43 jam yang lalu, menunda semua agenda pekerjaan mereka dan langsung mendatangi rumah sakit. Saudara kembar Hyejin juga ada disana. Ya, bisa dibilang gen anak kembar ada di pihak keluarga Hyejin.
Kemudian, masih lengkap dengan atribut operasi serta masker yang diturunkan hingga dagu, seorang dokter yang menangani Hyejin keluar dengan ekspresi yang sulit terbaca. Chanyeol menjadi yang pertama menghampiri sang dokter lalu disusul keluarga yang lain.
"Bagaimana keadaan Hyejin dokter? Bagaimana dengan anak-anak saya?" tanya Chanyeol tidak sabar.
"Apa anda tuan Park? Ayahnya?"
"Iya, saya ayahnya"
Dokter tersenyum, namun senyumnya terlihat miris.
"Selamat tuan Park, anak kembar anda terlahir dengan selamat dan sempurna"
Chanyeol beserta yang lain menghela nafas lega, "Thank God. Lalu bagaimana dengan ibunya. Ibunya juga selamat kan? Bisa aku menemuinya sekarang?"
Sang dokter terlihat berpikir.
"Sebaiknya anda ikut saya kedalam."
Dokter itu menuntun Chanyeol untuk memasuki ruang bersalin, sementara keluarga Kim masih menanti dengan cemas.
Begitu sudah berada di dalam, terlihat dua orang perawat sedang menimang-nimang dua bayi kecil yang sedang menangis. Yang satu dibungkus selimut berwarna biru dan yang satu lagi dibungkus selimut berwarna merah muda.
"Anda bisa menggendongnya tuan Park"
Lalu salah seorang perawat menyodorkan bayi yang berselimut biru untuk Chanyeol gendong.
"Ini yang berjenis kelamin laki-laki" jelas si dokter.
Dengan hati-hati Chanyeol menimang sosok mungil itu dan air mata Chanyeol langsung lolos begitu saja.
"H-hai sayang, ini ayah" Chanyeol berucap disela-sela tangisan harunya. Lalu ia melihat bayi lainnya, sudah pasti yang berjenis kelamin perempuan.
"Bolehkah aku menggendongnya juga?" pintanya penuh harap. Si perawat pun memindahkan bayi perempuan itu ke tangan Chanyeol yang satunya dengan pelan-pelan.
Tangisan Chanyeol semakin deras ketika dua anak kembarnya sudah berada dalam gendongannya. Terima kasih Tuhan, terima kasih sudah mengizinkan mereka terlahir ke dunia ini.
"Maaf saya tidak bermaksud mengganggu kebahagiaan anda tuan Park, tapi bisakah anda serahkan dulu bayinya ke perawat? Saya harus memberitahu anda satu hal" dokter berucap serius.
Hyejin.
Chanyeol baru ingat, saking terharunya melihat si kembar ia malah tidak sadar bahwa ia belum mengetahui keadaan Hyejin saat ini. Chanyeol menyerahkan dua bayinya ke perawat sebelumnya.
"Maaf saya harus mengatakan ini tuan Park" Deg! Jantung Chanyeol langsung berdetak cepat.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun keadaan nona Kim sangat lemah dan—
"Hyejin selamat kan, dokter?" Chanyeol menyela. Tidak. Tidak mungkin Hyejin-nya tidak selamat. Tadi ia sudah berjanji pada Chanyeol bahwa ia akan kuat demi anak-anak mereka. Hyejin tidak akan mengingkari janjinya kan?
"Tapi nona Kim mengalami pendarahan yang cukup parah sehingga—"
"Katakan padaku bahwa ibunya selamat. Katakan padaku dokter! Katakan?!" Chanyeol mulai berteriak frustasi. Semoga firasat buruknya tidak terbukti. Semoga Hyejin baik-baik saja.
"Sekali lagi kami minta maaf tuan Park, sayangnya nona Kim tidak mampu bertahan dan—"
Chanyeol menggeleng pelan dengan tatapan kosong.
No. This is not happening. Somebody please tell him everything is alright. Hyejin will keep her promise, won't she? She won't leave him just like that without—
.
.
.
"—dia sudah tiada"
~L.U.~
Tell me that this isn't real.
Tell me that this is just a nightmare.
Tell me that when I wake up in the morning,
I still can see your bright smile and hear your voice.
Just tell me, baby, you're not leaving,
because without you, I will be nothing..
TBC
A/N
I'm sorry. I know the previous chapter is kind of dissapointing TT_TT
