BAB 7
Jongin menggandeng tangan Kyungsoo dengan formal ketika memasuki restaurant. Sang kepala restaurant sendiri yang menyapa mereka dan mengantarkan mereka berdua ke meja yang sudah disiapkan. Jongin tampak akrab dengan kepala restaurant itu, dan Kyungsoo melihat kepala restaurant, seorang lelaki Perancis dengan logat Perancis yang kental. Sesekali Jongin berbicara dalam bahasa Perancis yang lancar dan tersenyum menanggapi perkataan kepala restaurant itu.
Dari informasi yang pernah didapat Kyungsoo, ayah Jongin adalah orang korea dan ibunya keturunan Perancis. Mungkin ini sebabnya Jongin lancar berbahasa Perancis, meskipun itu bukan urusannya. Kyungsoo cepat-cepat mengalihkan pikirannya dari Jongin. Ketika kepala restaurant itu pergi, Jongin menarikkan kursi untuk Kyungsoo dan duduk di depan Kyungsoo,
"Restaurant ini milik ibuku," Jongin menatap kepergian kepala restaurant itu, "Francoise adalah asisten ibuku sejak lama, dia mencintai restaurant ini seperti mencintai hidupnya"
Kyungsoo terdiam menatap Jongin. Orangtua Jongin juga telah meninggal, itu yang dia tahu, tetapi entah kenapa, informasi tentang orang tua Jongin itu tersimpan rapat, jauh sekali hingga tidak ada seorangpun yang bisa menggalinya.
Seorang pelayan datang dan Jongin memesan lagi dalam bahasa Perancis yang fasih. Ketika hidangan pembuka datang, Kyungsoo terpesona dengan tampilannya, Jongn menjelaskan bahwa makanan itu adalah L'imperial de saumon marine yang ternyata adalah filet salmon asap. Ditemani dengan Creme, potongan jeruk citrus, dan Roti Baggue. Penyajiannya begitu indah, seperti hamparan padang pasir di atas piring lengkap dengan suasana eksotisnya.
Kyungsoo menyuap untuk pertama kalinya dan mendesah, merasakan crème itu meleleh di mulutnya dan menciptakan cita rasa yang bercampur baur antara rasa manis dan kelembutan yang nikmat.
Tak disadarinya bahwa Jongin menatap ekspresinya itu dengan tatapan kelaparan. Suasana hati Jongin luar biasa buruknya, hasratnya yang tidak terlampiaskan membuatnya frustrasi luar biasa. Dia amat sangat ingin meledak… di dalam tubuh Kyungsoo. Jongin memesan anggur Chardonnay sebagai teman makan mereka, sambil berharap malam ini Kyungsoo sedikit mabuk sehingga mengendorkan pertahanannya. Tetapi pikiran bercinta dengan Kyungsoo dalam kondisi perempuan itu mabuk sama sekali tidak menyenangkannya. Dia ingin perempuan itu sukarela, melingkarkan pahanya di tubuhnya, ketika tubuh mereka bersatu. Saat itu akan datang pada akhirnya, kalau Jongin mau bersabar dan menundukkan perempuan keras ini pelan-pelan.
Hidangan utama datang, yakni Parmentier de canard et son bouquet de verdure, hidangan daging bebek yang dipanggang hingga cokelat muda dan berminyak bersama dengan kentang lembut yang dihancurkan, dan disajikan bersama semangkuk salad. Rasanya luar biasa lezat dengan paduan bumbu-bumbu yang tidak biasa dan khas, membuat Kyungsoo terpesona akan citarasa masakan khas perancis ini. Pantas saja restaurant ini dianugerahi lima bintang.
"Kau menyukainya?," dalam cahaya lampu yang temaram, Jongin tampak lebih lembut. Garis kejam di bibirnya tampak memudar dan itu membuatnya tampak lebih santai. Kyungsoo ingin membantah, tetapi tidak ingin merusak suasana indah ini. Terkurung selama berminggu-minggu di dalam kamar terkutuk itu dan sekarang entah kenapa Jongin berbaik hati membawanya keluar – meskipun dengan pengawalan ketat – Kyungsoo sempat melirik ke arah pengawal-pengawal Jongin yang berdiri seperti biasa di akses pintu keluar.
Kyungsoo menganggukkan kepalanya. Dia memang sangat menikmati semua ini, bukan hanya makanan – meskipun makanan di rumah Jongin tidak kalah nikmatnya – tetapi bisa makan dengan pemandangan bebas, bukan pintu kamar dan ruangan yang selalu terkunci sangat menyenangkannya.
"Bagus," Jongin bergumam puas, lalu memanggil pelayan untuk menghidangkan hidangan penutup, dan kopi, "Aku ingin gencatan senjata"
Kyungsoo mengalihkan pandangan tertariknya pada hidangan penutup yang baru datang itu. Itu adalah crème brûlée, hidangan cantik dari krim yang dibakar di permukaan atasnya sehingga membentuk lapisan karamel renyah tapi lembut di bagian bawahnya.
"Gencatan senjata?," ketika menyadari arti dari kata-kata Jongin, Kyungsoo waspada sepenuhnya.
"Aku akan memperlakukanmu dengan baik, bukan sebagai tawanan, tetapi sebagai kekasihku. Menurutku kita bisa menjalin hubungan kerja sama yang cukup baik"
Kyungsoo tergoda. Bukan, bukan tergoda menjadi kekasih Jongin. Tetapi tergoda akan janji itu, bahwa Jongin tidak akan memperlakukannya sebagai tawanan, yang berarti akan melonggarkan keamanan ketat yang selama ini menjaganya. Itu berarti kesempatannya untuk melarikan diri akan… Jongin sepertinya bisa membaca pikiran Kyungsoo dari raut wajahnya, bibirnya mengetat marah dan lelaki itu menggeram,
"Lupakan saja!," dengan marah Jongin melempar serbetnya, lalu berdiri, "Minjoong!" Dengan cepat Minjoong menyiapkan mobil Jongin, dan Kyungsoo mendapati dirinya ditarik pergi meninggalkan rumah makan itu.
Dalam kegelapan sosok itu mengawasi, kabel rem mobil itu sudah berhasil dipotongnya. Susah memang, mengingat pengawal-pengawal Jongin selalu siaga. Tetapi jangan panggil dia Jackal , nama samarannya di dunia gelap yang cukup populer sebagai pembunuh bayaran paling ahli.
Potongannya sudah diatur dengan rapi, ketika diperiksa sekarang pun tidak akan ada yang menyadarinya. Tetapi seiring dengan berjalannya mobil, dan kira-kira 10 kilometer dari sini, tepat ketika mereka memasuki area pinggiran kota dengan jalan berliku dan pohon besar di kiri kanannya menuju rumah Jongin…. Kabel itu akan putus. Jackal terus mengawasi sampai mobil itu berjalan dan menghilang di tikungan, lalu tersenyum jahat, sekarang saatnya menagih bayarannya kepada Yunho yang menyedihkan.
Ketika mereka dalam perjalanan pulang, suasana hati Jongin tampaknya lebih buruk dari sebelumnya. Kyungsoo mengernyit menatapnya. Apakah Jongin selalu melalui hari-harinya dengan marah-marah seperti ini? Lelaki itu pasti akan mati muda, pikirnya dengan puas.
Perjalanan itu berlangsung sedikit lama dan Kyungsoo mengantuk mungkin karena pengaruh anggur dan makanan tadi, Kyungsoo mulai memejamkan mata dan godaan untuk tidur terasa sangat nikmat.
"Kyungsoo!," teriakan itu mengejutkan Kyungsoo membuatnya terperanjat kaget, ketika sadar dia merasakan dirinya ada dalam dekapan Jongin, didekap dengan begitu kuat hingga merasa sakit. Seluruh tubuh Jongin melingkupinya seolah melindunginya. Melindunginya dari apa…..? Sekejap kemudian, mereka berguling dan benturan keras mengenai kepalanya, membuat semuanya gelap dan Kyungsoo tidak ingat apa-apa lagi.
"Bagaimana dia?," Jongin menyeruak di antara kerumunan perawat itu. Para perawat di ruangan lain tampak mengejarnya karena luka di lengannya belum selesai dibalut, Dokter dan perawat yang menangani Kyungsoo menoleh serentak dan sedikit terpana ketika menyadari bahwa di pintu ruangan gawat darurat itu, berdiri sosok lelaki yang luar biasa tampan, mengenakan kemeja putih yang penuh darah, dan tampak begitu marah.
"Bagaimana dia?!," sekali lagi Jongin bertanya, dengan nada sedikit berteriak. Dokter Teddy, yang bertugas di sana, cukup mengetahui reputasi Jongin yang begitu kejam dan cepat naik darah – lagipula, lelaki itu adalah pemilik rumah sakit ini. Dia menghampiri Jongin dan mencoba menjelaskan,
"Dia baik-baik saja Tuan Jongin, kami sudah menjahit luka di kepalanya. Tetapi dia kehilangan banyak darah, dan saat ini kami sedang mencari darah dari penyedia terdekat…."
"Cari darah itu…Minjoong!," Jongin berteriak memanggil Minjoong, yang dari tadi sebenarnya sudah berdiri di belakangnya, "Dia akan membantu mencari darah untuk Kyungsoo, apa golongan darahnya?"
"A," dokter itu menjawab cepat, tiba-tiba merasa takut akan api yang menyala di mata berwarna kelam itu.
Jongin tertegun sejenak, "Ambil darahku, aku juga A"
"Tuan jongin, Anda juga habis terluka karena kecelakaan ini," Minjoong menyela cemas.
"Kami tidak bisa mengambil darah Anda, kondisi Anda tidak memungkinkan," Dokter itu menyela tak kalah cepat hampir bersamaan dengan Minjoong.
Jongin mengepalkan tangannya marah, "Dengar, ini hanya luka lecet kecil, dan aku ingin semua perkataanku dituruti, ambil darahku dan selamatkan dia! Dan kalau…," Jongin terengah, matanya melirik ke arah tubuh Kyungsoo yang terkulai lemas di sana, "Dan kalau sampai terjadi sesuatu kepadanya, aku akan membuat kalian menerima ganjarannya," gumamnya dengan nada mengancam yang menakutkan.
Jongin duduk di pinggir ranjang dan menatap Kyungsoo yang masih tertidur karena pengaruh obat. Transfusi darah sudah dilaksanakan dan kondisi Kyungsoo berangsur membaik.
Kali ini barulah Jongin merasakan sedikit pusing dan sakit di lengannya yang tersayat besi mobil yang terguling tiga kali sebelum terhempas ke turunan jalan tadi.
"Kondisinya sudah membaik," Minjoong yang berdiri di sana berusaha memecah keheningan,
"Kami sudah menyelidiki pelakunya"
"Yunho," Jongin menggeram, dia sudah tahu bahkan sebelum Minjoong memberitahunya. Bajingan busuk itu berani beraninya melakukan ini. Dia tidak tahu apa yang menantinya. Jongin pasti akan mencincangnya sampai menjadi bubur. "Kau sudah menemukannya?"
Minjoong bergerak sedikit gelisah, "Belum tuan, ketika dia sadar bahwa dia gagal membunuh Anda, dia langsung melarikan diri entah kemana"
"Cari dia, temukan lalu bawa dia ke depanku, hidup-hidup," suara Jongin terdengar mengerikan dan Minjoong tahu Jongin sedang sangat marah. Saat ini seharusnya Yunho berdoa supaya dia ditangkap dalam kondis sudah mati, karena kalau Jongin sudah menemukannya dalam kondisi hidup… Minjoong tidak berani membayangkan bagaimana jadinya.
"Ada satu lagi tuan," Minjoong tiba-tiba teringat, Jongin hanya melirik tidak berminat, "Apalagi?"
"Yunho tidak melakukan semuanya sendiri, dia menyewa seorang pembunuh bayaran yang sangat terkenal di dunia gelap, Jackal."
Jackal. Jongin pernah mendengar nama sebutan itu. Jackal adalah pembunuh jenius bermental psikopat yang sangat keji dan maniak. Dia membunuh korbannya dengan perhitungan yang sangat matang dan terkadang bisa sangat kejam. Sampai saat ini, tidak ada yang tahu sosok asli pembunuh itu, mereka semua menyebutnya Jackal karena dia selalu berhasil membunuh korbannya… sampai sekarang.
"Jackal terkenal tidak pernah gagal. Dia akan terobsesi kepada korbannya kalau tidak bisa membunuhnya. Dan sekarang, dia pasti akan mengejar Anda. Anda harus berhati hati karena sampai saat ini kita tidak tahu siapa dirinya" Jongin menganggukkan kepalanya. Merasa siap karena marah. Yunho dan pembunuh psikopat yang entah siapa itu telah berani-beraninya melukai Kyungsoo, miliknya. Kalau mereka memutuskan berhadapan dengannya, berarti mereka telah memilih musuh yang salah.
Kyungsoo terbangun ketika merasakan lengannya disengat. Dia membuka mata dan bertatapan dengan wajah muda berkacamata yang sangat tampan dan ramah.
"Ups aku membangunkanmu," lelaki itu tersenyum ramah, "Aku sedang menyuntikkan obat untuk lukamu. Aku sudah berusaha melakukannya selembut mungkin, tetapi sepertinya aku tak selembut yang kukira"
Kyungsoo mengamati lelaki itu dari jas putih yang dikenakannya, dia adalah dokter.
Lelaki itu mengikuti arah pandangan Kyungsoo dan tersenyum, "Perkenalkan, aku Dokter Teddy, aku dokter yang merawatmu kemarin ketika kau dibawa ke sini, Kepalamu pasti sakit ya? Kau terbentur cukup keras, aku menjahit 12 jahitan di sana"
"Kecelakaan?," Kyungsoo berusaha mengingat semuanya-tetapi ingatan terakhirnya hanya sampai pada teriakan Jongin dan pelukannya yang begitu erat, sebelum semuanya menjadi gelap.
"Ya kecelakaan, kata polisi mobil kalian di sabotase dan remnya blong. Mobil kalian terguling dan kepalamu membentur, untung kami dapat menyelamatkanmu"
"Bagaimana dengan Jongin?," Kyungsoo bertanya cepat, sabotase itu pasti dilakukan oleh musuh Jongin yang mendendam kepadanya. Apakah Jongin terluka? Ataukah lelaki itu sudah mati? Dan kenapa bukannya senang tetapi Kyungsoo malahan merasa cemas?
"Maafkan aku mengecewakanmu," suara khas itu terdengar dari pintu, "Tetapi aku masih hidup"
Kyungsoo menoleh dan melihat Jongin berjalan memasuki ruangannya, dengan kemeja hitam dan penampilan yang luar biasa sehat dan tak kelihatan kalau dia baru saja mengalami kecelakaan. Tanpa sadar Kyungsoo mengernyit, menyesal telah mencemaskan Jongin. Lelaki itu mungkin iblis, jadi susah mati, gumam Kyungsoo menyumpah dalam hati.
"Bagaimana kondisinya dokter?," Jongin mengalihkan tatapan matanya dan menatap Dokter Teddy yang masih berdiri di sana, memeriksa infus Kyungsoo.
Senyum di wajah Dokter Teddy tak pernah pudar hingga Kyungsoo menyadari dua lelaki di depannya ini begitu kontras, yang satu begitu dingin dengan nuansa muram gelap yang melingkupinya, dan yang satunya tampak begitu cerah, penuh senyum seolah-olah dia membawa Matahari di atas kepalanya.
"Kondisinya sudah membaik, tetapi dia masih harus istirahat dan berbaring beberapa hari di sini. Saya belum bisa merekomendasikan dia dibawa pulang seperti permintaan anda tuan Jongin," ekspresi Dokter Teddy berubah serius meskipun masih penuh senyum,
"Itu akan berbahaya untuknya, kepalanya terbentur parah dan goncangan sekecil apapun akan membuatnya mual dan muntah dan kesakitan. Anda tentu tidak ingin hal itu terjadi kepadanya kan?"
"Berapa hari sampai dia bisa normal kembali?," Jongin membicarakan Kyungsoo seolah-olah Kyungsoo tidak ada di ruangan itu. Dokter Teddy tampak menghitung,
"Maksimal tujuh hari, tetapi tidak menutup kemungkinan kalau kurang dari tujuh hari perkembangannya sudah membaik, kami akan merekomendasikannya untuk bisa dirawat di rumah" Jongin tercenung. Tujuh hari, dan Kyungsoo berada dalam area publik yang cukup berbahaya. Otaknya berputar memikirkan keamanan seperti apa yang harus diterapkannya untuk menjaga Kyungsoo. Yunho masih dalam pengejaran dan Jackal berada entah dimana, masih mengincar mereka. Jongin harus menjaga Kyungsoo dengan ekstra hati-hati. Dokter Teddy mengangkat bahunya, dan tersenyum pada Kyungsoo
"Baiklah Kyungsoo, saya harus kembali bertugas. Saya yakin Anda akan segera sembuh", senyumnya yang secerah Matahari memancar lagi, membuat Kyungsoo terpesona, bahkan setelah Dokter Teddy pergi. Jongin menatap Kyungsoo dan mencibir, "Jangan bermimpi", desahnya kesal. Kyungsoo menatap Jongin dan mengernyit, "Apa maksudmu?"
"Kau menatap dokter itu dengan tatapan bodoh dan terpesona seperti perawan yang melihat lelaki pertamanya...Oh maaf", senyum Jongin benar-benar mengejek, "Aku lupa kalau kau sudah tidak perawan dan akulah lelaki pertamamu"
Kyungsoo benar-benar marah kepada Jongin, lelaki itu benar benar perpaduan dari semua yang dia benci, kurang ajar, tidak sopan, dan menjengkelkan. Mungkin karena itulah Tuhan menciptakannya dengan kesempurnaan fisik yang luar biasa, untuk mengimbangi sifat buruknya.
Jongin duduk di kursi sebelah Kyungsoo dan menatap lurus, "Aku ulangi, jangan pernah kau terpesona pada dokter muda itu, dia pasti dari kalangan keluarga konvensional dan aku yakin, pendidikan moral dan keluarganya tidak akan menoleransi kau, perempuan yang sudah dinodai oleh Kim Jongin"
"Hentikan!", Kyungsoo menggeram, tak tahan akan kata kata Jongin yang sepertinya sengaja digunakan untuk menyakitinya. Kepalanya terasa berdenyut-denyut, seperti ditusuk dengan tongkat besi. Dia meringis dan memegang kepalanya.
Ekspresi Jongin langsung berubah, lelaki itu berdiri dari kursinya dan setengah duduk di ranjang, memeluk Kyungsoo,
"Kyungsoo? Kau kenapa? Kyung...?"
"Tidak... Aku tidak apa-apa, maafkan aku, kepalaku cuma sedikit sakit"
"Berbaringlah", Jongin membantu merapikan bantal-bantal di belakang Kyungsoo, lalu dengan pelan membaringkan Kyungsoo di ranjang. Kyungsoo memejamkan matanya, merasakan denyutan itu mulai mereda, dan mendesah.
"Bagaimana?"
Kyungsoo menarik napas panjang dan membuka mata, menemukan wajah luar biasa tampan itu menatapnya dengan cemas, benar-benar cemas, bukan sesuatu yang dibuat-buat. Apakah Jongin benar-benar cemas? Tapi bagaimana mungkin? Bukankah lelaki ini adalah lelaki kejam yang menghancurkan keluarga dan orangtuanya?
Tapi ingatan Kyungsoo kembali kepada malam kecelakaan itu, sekarang terpatri jelas dalam ingatannya kalau Jongin benarbenar merengkuhnya malam itu, memeluknya erat-erat dan menahan guncangan-guncangan untuk melindunginya. Mungkin kalau bukan karena dipeluk Jongin, tubuh Kyungsoo sudah terlempar, dan bukan hanya kepalanya saja yang terluka. Malam itu, Jongin jelas-jelas melindunginya. Tapi, kenapa? Pertanyaan-pertanyaan itu kembali membuat kepala Kyungsoo sakit, dia memejamkan matanya lagi.
Hening sejenak, kemudian Jongin menghela napas, "Istirahatlah, kalau kau perlu apa-apa, kau tinggal menekan tombol di dekat ranjang." Dan kemudian Jongin pergi menutup pintu dengan pelan dari luar.
Jongin menyandarkan tubuhnya di dinding dan memijit dahinya yang berdenyut, dadanya terasa sakit dan nyeri. Jadi, seperti ini rasanya... Melihat Kyungsoo kesakitan hampir membuatnya meledak dalam kecemasan, dan itu semua karena musuh-musuhnya yang hendak mencelakainya,
"Apakah semua baik-baik saja Tuan?", Minjoong muncul, dia memang sedang bertugas berjaga di sana dan cemas melihat Jongin hanya bersandar di pintu, Jongin menoleh, menatap Minjoong dan mengernyit, "Ah.. Ya, dia baik-baik saja, hanya tadi ada serangan di kepalanya, dia kesakitan"
Minjoong menganggukkan kepalanya dan merenung. Jongin juga tampak sibuk dengan pikirannya sendiri,
"Kenapa tidak Anda katakan saja kepadanya?", gumamnya akhirnya.
Jongin menyentakkan kepalanya, "Apa?"
"Semuanya, seharusnya dia tahu semuanya. Itu akan membebaskannya dan juga membebaskan Anda" Jongin menggelengkan kepalanya,
"Itu akan menghancurkan hatinya". Dengan cepat Jongin mengalihkan pembicaraan, "Dokter bilang dia harus seminggu lagi di sini, kau atur penjagaan di sini, jangan sampai ada yang lengah. Hanya dokter dan perawat khusus Kyungsoo yang boleh masuk ke ruangan itu, instruksikan pada semuanya" Jongin lalu melangkah pergi, dan Minjoong tercenung menatap tuannya itu.
Semua orang selalu takut pada Jongin. Lelaki itu setampan malaikat, tetapi hatinya sehitam iblis, begitu kata orang- orang. Semua orang memujanya sekaligus menjaga jarak karena ketakutan. Yang mereka tidak tahu, kadang-kadang, tuannya itu bisa seperti malaikat seutuhnya, baik tampilan fisiknya maupun hatinya
***
"Selamat sore, sepertinya kau sudah lebih sehat". Dokter Teddy menyapa lagi di sore harinya setelah memeriksa Kyungsoo,"Dan kulihat makan malammu masih utuh, kenapa kau tak memakannya?" Kyungsoo mengernyit meskipun mencoba tersenyum lemah kepada Dokter Teddy,
"Saya masih mual dan muntah-muntah dokter"
"Tapi kau harus tetap makan, aku akan memesankan menu lain untukmu, mungkin sup panas dan jus buah bisa menggugah seleramu?"
Mau tak mau Kyungsoo tersenyum melihat betapa bersemangatnya Dokter Teddy,
"Terima kasih dokter" Dokter Teddy menganggukkan kepalanya,
"Aku cuma tidak menyangka perempuan seperti kau yang menjadi kekasih Tuan Jongin" Tertegun Kyungsoo mendengar perkataan Dokter Teddy itu,
"Apa?" Wajah Dokter Teddy memerah karena malu, dia tampak menyesal telah mengucapkan kata-kata itu,
"Ah maafkan aku Kyungsoo, lupakan aku telah mengucapkannya ya?" Kyungsoo menggelengkan kepalanya,
"Tidak apa-apa dokter, semua yang melihat pasti akan menyangka aku adalah kekasih Jongin"
"Apalagi melihat tingkah Tuan Jongin di ruang gawat darurat kemarin", Dokter Teddy terkekeh
Kyungsoo mengernyitkan matanya lagi, memangnya apa yang dilakukan Jongin di ruang gawat darurat kemarin?
Dokter Teddy sepertinya tahu bahwa Kyungsoo bertanya-tanya, dia mengangkat bahunya,
"Jangan bilang padanya kalau aku membicarakan tentangnya di belakangnya ya, sampai sekarang aku masih merinding mengingat tatapan membunuhnya ketika mengancam akan menghabisi semua dokter dan perawat di sini kalau mereka tidak berhasil menyelamatkanmu", ditatapnya Kyungsoo dengan tatapan menyesal, "Sungguh, siapapun yang melihat kelakuannya kemarin pasti akan mengambil kesimpulan yang sama, bahwa Tuan Jongin adalah kekasih yang amat sangat mencintai dan mencemaskanmu"
Kyungsoo memalingkan muka, tidak tahu harus berkata apa, masih tidak dipercayainya kata-kata Dokter Teddy kepadanya,
"Ah ya, dan sebenarnya dia turut andil dalam menyelamatkan nyawamu"
Ketika Kyungsoo menatap Dokter Teddy dengan bingung, Dokter Teddy mendesah, "hmm. Dia tidak bilang padamu ya, jangan bilang kalau kau tahu dari aku ya"
"Tahu tentang apa?"
"Malam itu kau kehabisan banyak darah, dan Tuan Jongin yang kebetulan golongan darahnya sama denganmu, memaksa kami mengambil darahnya untukmu. Sebenarnya kami tidak boleh melakukannya, Tuan Jongin juga baru selamat dari kecelakaan yang sama, tetapi dia memaksa, dan mengancam. Dan benar apa kata orang, tidak akan ada seorangpun yang berani melawan apa yang dikatakan oleh Kim Jongin . Lagipula dia adalah pemilik rumah sakit ini, perintahnya harus kami laksanakan"
Kejutan lagi. Kyungsoo tidak suka dia harus berhutang nyawa kepada lelaki iblis itu... Tetapi entah kenapa, perasaan bahwa darah lelaki itu mengalir di pembuluh nadinya membuat dadanya berdesir oleh suatu perasaan aneh, seolah-olah bagian diri Jongin sekarang ada di dalam tubuhnya, di dalam dirinya.
Dokter Teddy menghela napas melihat Kyungsoo termenung,
"Ah seharusnya aku tidak terlalu banyak bicara, kau harus segera beristirahat" Ketika Dokter Teddy sudah sampai di pintu, Kyungsoo memanggilnya,
"Dokter..."
Langkah Dokter Teddy berhenti seketika, dia menoleh dan menatap Kyungsoo bertanya-tanya,
"Ada apa Kyungsoo? Ada yang bisa kubantu? Apakah kau kesakitan?" Kyungsoo menggelengkan kepalanya,
"Ah tidak apa-apa dokter, lupakan saja, terimakasih sudah merawat saya"
Dokter Teddy tersenyum,
"Aku hanya melakukan tugasku, tapi sekaligus aku senang kalau pasienku makin membaik".
Ketika Dokter Teddy pergi, Kyungsoo tercenung. Cerita Dokter Teddy tadi membuatnya bingung. Benarkah itu semua? Bahwa Jongin sangat mencemaskan keselamatannya?
Pikiran Kyungsoo teralihkan oleh kesadarannya bahwa dia saat ini tidak sedang dikurung di rumah Jongin yang berpenjagaan ketat, dia ada di area publik. Sebuah rumah sakit, dan itu berarti kesempatannya untuk melarikan diri semakin besar.
Dia harus melepaskan diri dari cengkeraman Jongin karena dia merasa takut. Ya... Kyungsoo takut semakin lama dia berada di bawah Jongin, pada akhirya dia akan bertekuk lutut di bawah kaki Jongin, jatuh ke dalam pesonanya. Kyungsoo hanya perlu seseorang untuk menolongnya,,,,bisakah Dokter Teddy menolongnya? Jika Kyungsoo meminta tolong padanya, akankah Dokter Teddy mengerti? Dari perkataannya tadi, tampak jelas kalau Dokter Teddy menganggap Kyungsoo adalah kekasih Jongin . Bagaimana jika dia menceritakan yang sebenarnya? Mungkinkah Dokter Teddy jatuh simpati dan menolongnya? Atau mungkin Dokter Teddy malah melaporkannya pada Jongin, mengingat rumah sakit ini adalah milik Jongin . Malam itu Kyungsoo tertidur dengan mimpi buruk, di mana Jongin terus menerus mengucapkan ancaman itu di telinganya, bahwa dia akan membunuh siapapun yang menolong Kyungsoo dan siapapun yang lengah hingga Kyungsoo bisa melarikan diri. Kalimat itu terngiang jelas sepanjang malam : "Kebebasanmu akan digantikan dengan nyawa seseorang, Kyungsoo..."
Minjoong melapor pagi-pagi sekali kepada Jongin, "Kami berhasil menangkap Yunho"
Jongin yang sedang menyesap kopinya langsung membanting gelasnya ke meja, "Hidup-hidup?", tanyanya sambil menyipitkan matanya. Minjoong mengangguk, "Hidup-hidup"
"Bagaimana kondisinya?"
"Kakinya sedikit luka, tetapi tidak parah. Dia berusaha melarikan diri dari kami, tetapi kami berhasil menggagalkannya"
"Bagus, bawa dia padaku"
Sosok yang selalu berada dalam bayangan gelap itu mengawasi semuanya dari mobil yang diparkir secara tidak kentara dekat dengan gerbang Jongin.
Bagus. Mereka sudah menangkap Yunho, itu akan mengalihkan perhatian mereka untuk sementara. Dan dia bisa berbuat apapun yang dia mau untuk menyusun rencana menghabisi Jongin... Dan pelacurnya. Jackal tidak pernah gagal membunuh targetnya. Ketika targetnya terlepas, Jackal akan memburunya sampai mati, dan kali keduanya, dia tak akan pernah gagal.
Tbc
Updatenya enggak lama kan? Cuman 2 hari,
