Title : I Did It For Love
Genre : Romance, Drama, Hurt/Comfort
Cast : Park Chanyeol x Byun Baekhyun and others
Rating : T (Yaoi / Genderswitch)
Length : Chaptered
A/N : Aku memutuskan untuk membuat FF ini kembali pada cerita awalnya, aku enggak akan mempersingkat jalan cerita atau bikin FF ini selesai dengan secepatnya, bagi yang enggak suka jalan cerita yang penuh konflik atau berkepanjangan, dipersilahkan untuk tidak membaca FF ini, terima kasih :)
Chapter 10
Baekhyun tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk saat ini. Saat Chanyeol pergi meninggalkannya didepan pekarangan rumahnya seorang diri.
Baekhyun masih berdiri terdiam disana, berusaha mencerna perlahan-lahan apa yang sebenarnya baru saja terjadi.
Ia sama sekali tidak menyadari kalau wajahnya telah basah oleh air mata setelah Chanyeol mengusir dirinya untuk turun dari dalam mobil yang sekarang telah bergerak semakin menjauh dari pandangannya dan menghilang dibalik tikungan jalan.
Hingga akhirnya Baekhyun berhasil menyeret paksa kedua kakinya untuk berjalan kedalam rumah saat ia mulai risih dengan pandangan orang-orang yang mulai berkerumun menatap dan berbisik penasaran seraya menunjuk dirinya yang masih menangis dipinggir jalan.
Tadi Chanyeol mengatakan kalau Baekhyun telah mengkhianatinya. Kekasihnya itu meninggalkan Baekhyun padahal ia belum sempat menjelaskan apapun atas kesalah pahaman yang telah terjadi diantara mereka.
Dan Baekhyun hanya bisa merutuki dirinya sendiri karena merasa bersalah telah menyakiti Chanyeol, walaupun ia tidak benar-benar berniat untuk melakukan hal itu pada kekasihnya tersebut.
Baekhyun benar-benar menyesal kenapa ia tidak jujur saja sejak awal. Menjelaskan apa yang telah terjadi malam itu dan mengatakannya terlebih dulu sebelum Chanyeol mendengarnya dari orang lain seperti saat ini.
Baekhyun hanya tidak menyangka kalau Chanyeol akan bertemu langsung dengan Jongin. Ia mengira dengan tidak lagi menghiraukan segala panggilan dari Jongin, cerita tentang malam itu juga akan menghilang dengan sendirinya.
Sepanjang malam Baekhyun menghabiskan waktunya untuk menekan berulang-ulang satu nomer yang ia ingat diluar kepala pada telepon rumahnya, ia tidak bisa menggunakan ponselnya karena saat Chanyeol menarik paksa dirinya dari rumah Luhan tadi, Baekhyun tidak sempat membawa ponsel apalagi tasnya, tapi sesuai dugaan Chanyeol tidak akan mengangkat panggilan telepon darinya untuk saat ini.
Baekhyun ingin sekali pergi keluar rumah dan berusaha mencari Chanyeol kemanapun untuk mengejarnya dan memaksa pria itu untuk mendengarkan penjelasannya atas semua kesalahan ini.
Tapi Baekhyun sadar ia masih memiliki perasaan malu. Ia tidak mungkin bertindak seolah-olah ia yang paling benar dan membela dirinya sendiri padahal jelas-jelas dirinya lah yang telah bersalah. Ia juga tidak bisa mengabaikan perasaan Chanyeol yang sudah terlanjur tersakiti olehnya.
Hingga saat kesekian kalinya Baekhyun mendengar suara operator seluler menyahut disambungan teleponnya, Baekhyun memutuskan untuk menyerah menghubungi Chanyeol.
Ia duduk bersimpuh diujung sofa ruang tengah dan menyembunyikan tangisnya dengan kedua tangan yang memangku wajahnya, berharap nanti Chanyeol akan berbaik hati menghubunginya kembali setelah melihat berpuluh-puluh panggilan tidak terjawab dari dirinya.
.
.
.
KRING KRING
Baekhyun terkejut saat telepon rumah dipojok ruangannya berbunyi. Ia tidak sadar telah jatuh tertidur dalam posisi masih setengah tertelungkup diatas sofa ruang tengah.
Dengan tergesa Baekhyun segera menghampiri mejas telepon. Harapannya saat mengira Chanyeol yang baru saja merespon panggilannya luntur seketika saat mengenali nomer telepon Luhan lah yang nyatanya tertera dilayar telepon.
"Ya-"
"Baekhyun? Ya! Apa yang terjadi? Kenapa Chanyeol tiba-tiba datang dan menarikmu dengan kasar seperti itu? Kau tidak mengatakan akan kerumahku? dan demi Tuhan, kenapa kau meninggalkan ponselmu, aku hampir saja menyusulmu kerumah kalau saja Sehun tidak mengingatkan kau masih memiliki telepon dirumah untuk bisa dihubungi. Astaga, ada apa dan-"
"Luhan? Biarkan aku berbicara dulu," sela Baekhyun sebelum sahabatnya itu kembali memberikan semakin banyak pertanyaan.
"Oh, maaf. Aku hanya terlalu khawatir, Chanyeol terlihat sangat marah dan aku takut ia menyakitimu karena emosinya itu."
Baekhyun duduk bersandar pada kursi disamping meja telepon, lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan untuk menetralkan suaranya yang terasa serak sisa dari tangisnya tadi.
"Semua baik-baik saja, Luhan-ah. Hanya ada sedikit salah paham." jelas Baekhyun.
Baekhyun bukannya tidak ingin mengatakan kejadian yang sebenarnya pada Luhan, tapi ia tahu Luhan akan begitu khawatir kalau Baekhyun menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya tadi.
Saat ini Luhan sedang memasuki usia kandungan delapan bulan, membuatnya mengkhawatirkan masalahnya hanya akan memperburuk kesehatan sahabatnya itu dan Baekhyun cukup tahu diri untuk tidak melibatkan orang lain menjadi kesulitan hanya karena masalahnya sendiri.
"Kau yakin? Dia terlihat sangat menakutkan,"
"Tentu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semua sudah baik-baik saja sekarang." ucap Baekhyun berusaha sewajar mungkin, bahkan orang bodoh pun tahu saat ini Baekhyun tengah memaksakan dirinya untuk terlihat baik-baik saja dan justru malah terlihat semakin menyedihkan hanya untuk membuat Luhan tidak lagi mengkhawatirkannya.
"Baekhyun, baik-baik saja?" suara lain yang samar dari seberang telepon terdengar, Baekhyun mengenali suara itu, itu adalah suara milik Sehun, suami Luhan.
Baekhyun melirik jam pada dinding ruang tengahnya. "Sekarang sudah pukul dua belas malam dan kau belum tidur? Jangan bilang itu semua karena kau mengkhawatirkan aku?"
"Aku tidak bisa tidur sebelum memastikan kau baik-baik saja."
Baekhyun menghela pelan nafasnya, "Kalau begitu sekarang tidur lah, karna kau sudah memastikannya. Jangan buat Sehun terlalu banyak tidur larut malam karna kau yang belum mau tidur, ia akan kelelahan nanti." ucap Baekhyun menasihati.
Ia tahu, pasti Luhan yang keras kepala itu telah menyusahkan Sehun sedari tadi. Baekhyun bahkan lupa dengan sosok sahabatnya itu yang pasti juga sama terkejut dengannya karena kejadian Chanyeol yang tiba-tiba datang dan menarik paksa dirinya dari rumah Luhan tadi.
"Baiklah, aku percaya semua memang baik-baik saja. Kau tidak akan pernah membohongiku kan?"
"Iya, Luhan." bisik Baekhyun pelan merasa bersalah telah berbohong.
Setelah mengucapkan salam perpisahan dan ucapan selamat malam Luhan akhirnya menutup teleponnya.
Seingat Chanyeol, dirinya adalah pria yang selalu mengedepankan akal sehat dan kepala dingin dalam menghadapi setiap masalah, apapun itu.
Ia tidak pernah membiarkan sedikitpun amarah menguasai dirinya terlalu lama dan membuatnya hilang akal untuk berpikir jernih.
Tapi entah mengapa semua upaya pengendalian dirinya selama ini seolah telah lenyap begitu saja.
Malam itu ia mendadak menjadi seperti bukan lagi dirinya, ia membiarkan dirinya dipenuhi oleh emosi dan menutup hati dan pikirannya bahkan hanya untuk sekedar memberikan kesempatan pada Baekhyun membela dirinya sendiri atau menjelaskan apa yang terjadi.
Setelah berjam-jam menyetir tanpa tujuan, Chanyeol akhirnya menghentikan mobilnya disebuah kedai tenda makanan di pinggir jalan yang masih buka. Ia hanya tidak tahu harus kemana lagi setelah melirik jam ditangannya yang telah menunjukkan pukul sebelas malam.
Chanyeol memesan tiga botol soju untuk dirinya sendiri kepada seorang wanita paruh baya yang menyambut hangat kedatangannya, lalu memilih duduk disalah satu meja dibagian pojok yang masih kosong, berusaha untuk tidak terlihat terlalu menonjol diantara beberapa orang lain yang sudah lebih dulu berada didalam sama.
Chanyeol menyadari ponsel yang berada di saku jas nya terus berbunyi sedari tadi. Bahkan sampai selarut ini, hingga akhirnya Chanyeol memutuskan untuk melepas jas nya dan meletakkannya disebelah kursi hingga suara dering ponselnya tidak terdengar lagi.
Chanyeol bukannya tidak tahu siapa yang telah meneleponnya sepanjang hari, hanya saja saat ini Chanyeol sedang ingin menyendiri, ia tidak ingin diganggu oleh siapapun.
Termasuk oleh pelaku utama alasaannya untuk menyendiri, kekasihnya Byun Baekhyun, yang mungkin juga adalah sosok dibalik penyebab ponselnya yang terus berdering itu.
"Permisi, Tuan. Apa aku boleh duduk disini? Karna semua meja telah penuh dan- Oh, Chanyeol-ssi?" sapa seseorang yang terlihat begitu terkejut melihatnya berdiri didepan meja.
Chanyeol mengkerutkan keningnya, pertama karna ia kesal acara menyendirinya diganggu dan kedua karena ia tidak mengenal sosok dihadapannya itu. "Maaf, siapa?"
"Oh, kau mungkin tidak mengenalku. Kita bekerja diperusahaan yang sama, aku Do Kyungsoo, karyawan yang baru menempati posisi baru minggu ini. Kita pernah bertemu saat aku menanda tangani kontrak baruku beberapa hari lalu." ucap sosok itu ramah sambil mengulurkan tangannya kehadapan Chanyeol.
Chanyeol tersenyum tipis, lalu membalas uluran tangan Kyungsoo dengan sopan.
Sebenarnya Chanyeol tidak terlalu mengenal sosok dihadapannya itu, karna karyawan yang menanda tangani perpindahan kontrak dengan perusahaan tempatnya bekerja beberapa hari lalu juga tidak hanya satu atau dua orang dan ia juga tidak mungkin bisa mengenal semuanya.
Tapi demi sopan santun antar rekan kerja Chanyeol bersikap seolah ia memang mengenalnya, setidaknya ia harus menunjukkan sikap profesionalnya.
"Apa aku boleh duduk disini?" tanyanya sekali lagi.
"Duduklah, kursi itu bukan milikku." ucap Chanyeol pada akhirnya.
Toh, ia juga tidak bisa melarang dan mengusir sosok itu dan mengatakan ia sedang ingin menyendiri karna memang ia tidak punya hak untuk melakukan itu.
Kyungsoo menarik kursi diseberang Chanyeol dan duduk disana.
Kyungsoo baru saja pulang bekerja, malam itu ia menghabiskan waktunya untuk lembur dikantor karna ia memiliki begitu banyak pekerjaan yang ditinggalkan oleh ketua tim sebelumnya yang sedang cuti dan sekarang telah ia gantikan posisinya.
Jadi malam itu, Kyungsoo berniat untuk mampir ke kedai tenda pinggir jalan dan meminum sebotol soju sebelum pulang kerumah agar bisa membuatnya tertidur lebih lelap dan melepaskan lelahnya. Ia juga tidak menyangka sebenarnya akan bertemu dengan seseorang yang dikenalnya ditempat seperti itu, apalagi seseorang itu adalah Park Chanyeol, sosok yang sering dibicarakan oleh rekan kerjanya.
"Hm, kau meminum semua ini?" ucap Kyungsoo ragu-ragu memulai pembicaraan setelah sekian lama terdiam, menunjuk tiga botol soju yang telah kosong dan satu botol yang setengah terisi diatas meja.
"Ya," jawab Chanyeol singkat.
"Kau baik-baik saja? Kau mabuk?" tanya Kyungsoo agak sedikit khawatir. Karna kalau itu adalah dirinya, mungkin Kyungsoo sudah jatuh terkapar dan hilang kesadaran sedari tadi karna mabuk, bahkan tanpa bisa membuka kedua matanya lagi.
Sedangkan Chanyeol dengan raut wajah tenang menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak akan mabuk hanya dengan soju."
Chanyeol menghembuskan berat nafasnya, lalu kembali menuangkan botol soju keempat pada gelasnya yang telah kosong dan meneguknya sekali.
Chanyeol mengetahui memang dirinya memiliki sifat yang tidak mudah mabuk, maka dari itu Chanyeol jarang sekali meminum alkohol apapun jenisnya karna baginya itu adalah hal yang tidak berguna dan membuang-buang waktu.
Dan mabuk karna alkohol adalah hal yang paling dihindari oleh Chanyeol seumur hidupnya, karna ia tahu seseorang yang sedang mabuk akan bertindak diluar akal sehatnya, sangat berbeda jauh dengan kepribadian Chanyeol yang begitu rasional.
Ia hanya meminum alkohol disaat-saat tertentu, seperti saat berkumpul dengan teman-temannya atau saat ia sedang berada di pesta perayaan. Itupun dengan batasan yang masih dimilikinya agar tidak sampai mabuk.
Tapi tidak untuk malam ini, Chanyeol sekali lagi mengabaikan akal sehatnya untuk berpikir. Yang ia tahu, saat ia memasuki tempat ini yang dapat ia lakukan adalah mabuk dan melupakan masalahnya dengan Baekhyun.
Chanyeol sebenarnya bisa saja datang ke bar atau klub malam dan meminum alkohol dengan kadar yang lebih kuat seperti vodka atau wishkey disana sehingga bisa membuatnya lebih cepat mabuk. Tidak seperti soju yang diminumnya saat ini, yang hanya menimbulkan efek sakit dikepalanya dan nyatanya tidak membantu sama sekali untuk melupakan masalahnya.
Tapi Chanyeol tahu disana pastilah sangat berisik dan ramai, sedangkan yang Chanyeol butuhkan saat ini adalah sebuah ketenangan agar dapat membantunya meredam emosi yang tengah meledak-ledak didalam dirinya.
"Kau baik-baik saja? Maksudku, kau terlihat seperti sedang menahan sesuatu." tanya Kyungsoo lagi, ia sudah ikut menuangkan soju yang baru ia pesan pada gelasnya.
"Apa kau akan baik-baik saja setelah mengetahui kekasihmu tidur dengan orang lain?"
Kyungsoo menghentikan pergerakan tangannya yang baru saja hendak menuangkan lagi soju-nya kedalam gelas. Ia agak terkejut mendengar pengakuan terang-terangan dari pria dihadapannya.
"Oh, maaf. Tidak seharusnya aku mengatakan hal itu, lupakan saja." Chanyeol merutuki mulutnya yang baru saja asal bicara pada sosok yang bahkan tidak akrab dengannya, sambil menarik simpul dasinya yang mulai terasa mencekik Chanyeol menenggak kembali segelas soju-nya.
Kyungsoo berdeham sebentar. "Hm, aku tahu mungkin agak aneh kedengarannya, tapi kadang menurutku memang lebih mudah berbicara dengan orang yang asing denganmu daripada orang yang sudah lama kau kenal." ucapnya seakan dapat membaca pikiran Chanyeol.
"Maksudku, aku tidak tahu kau percaya atau tidak, tapi aku adalah tipe pendengar yang baik dan penyimpan rahasia yang paling terpercaya diantara teman-temanku." Kyungsoo menuangkan botol soju miliknya untuk mengisi gelas kosong Chanyeol.
"Jadi karena kau terlihat seperti memiliki begitu banyak beban didalam kepalamu, aku pikir sepertinya kau perlu teman untuk membaginya dan aku akan bersedia untuk melakukannya." tawar Kyungsoo dengan nada meyakinkan, caranya memancing Chanyeol untuk berbagi cerita nyatanya cukup berhasil untuk membuat Chanyeol sedikit tertarik membagi masalahnya.
"Entah aku tidak tahu darimana harus memulainya." awal Chanyeol sambil tertawa getir. Memutar-mutar gelas ditangannya ragu-ragu.
"Ceritakan saja dengan perlahan, aku memiliki banyak waktu untuk mendengarnya."
Chanyeol menghela pelan nafasnya, entah sudah keberapa kalinya ia melakukan hal itu, lalu dengan berhati-hati mulai menceritakan awal dari segala masalah yang terjadi diantara dirinya dan Baekhyun, soal hubungannya, rencana memiliki anak, semua omongan orang dan sampai pada pertengkaran mereka karna kedatangan Jongin tadi siang dikantornya.
Kyungsoo sempat terkejut beberapa saat setelah mengetahui fakta kalau sosok yang sedang diceritakan oleh Chanyeol adalah sosok orang yang ia gantikan posisinya di perusahaan tempatnya bekerja saat ini.
Sebelumnya Kyungsoo memang sempat beberapa kali mendengar rumor dari rekan kerjanya soal ketua tim yang dulu, tentang sosok yang sering marah-marah atau sosok yang ditakuti diantara tim redaksi.
Bahkan saat hari pertama Kyungsoo memperkenalkan dirinya, rekan-rekan kerjanya sempat membuat lelucon untuk berhati-hati pada kursi dibalik meja yang akan ditempatinya itu, karna kata mereka kursi itu akan merubah Kyungsoo menjadi sosok penyihir seperti ketua tim yang dulu.
Dan Kyungsoo tidak menyangka justru hari ini ia akan mendengar cerita lengkap soal hubungan dari orang yang sering dibicararan rekan-rekannya dikantor itu dari kekasihnya sendiri yang ternyata adalah Park Chanyeol, pengacara senior yang bekerja diperusahaan yang sama dengannya.
"Sepertinya kekasihmu itu hanya terlalu khawatir dengan rencananya." ujar Kyungsoo akhirnya setelah sekian lama hanya mendengarkan.
Chanyeol terlihat mengeryitkan dahinya, ia terlihat tidak setuju dengan respon yang Kyungsoo berikan.
"Aku tahu itu, aku juga sama khawatirnya. Tapi apa semua kekhawatirannya itu lantas bisa membenarkannya untuk melakukan hal itu padaku?" ucap Chanyeol masih dengan kilat emosi dari sorot matanya.
"Apa kau yakin ia benar-benar tidur dengan pria lain? Maksudku apa kau telah mendengarkan penjelasannya?"
"Tidak perlu," ucap Chanyeol lemah. "Aku sudah melihat buktinya, tidak perlu lagi mendengarkan penjelasannya. Mendengar ia mengakui perbuatannya hanya akan semakin membuatku sakit."
"Tapi itu juga tidak lantas dapat membenarkanmu untuk menolak mendengarkan penjelasannya, bisa saja kau hanya salah paham dan mengambil kesimpulan sendiri. Harusnya kau mau mendengarkannya." ucap Kyungsoo dengan hati-hati, ia hanya ingin berusaha sedikit memahami dari sisi kedua belah pihak yang tengah bermasalah itu. Ia tidak ingin menyimpulkan siapa yang salah dan siapa yang benar.
Sedangkan Chanyeol hanya terdiam cukup lama, ia mengusak kasar wajahnya lalu memejamkan matanya beberapa saat, berusaha menenangkan dirinya sendiri. "Aku hanya tidak siap mendengarkan kenyataannya, aku terlalu takut untuk meninggalkannya, seandainya aku tahu kalau ia benar-benar melakukannya."
Jawaban yang sangat sederhana dan tulus dari Chanyeol membuat Kyungsoo terdiam pada akhirnya. Kyungsoo memandang kagum dengan perkataan jujur dari Chanyeol yang ia tujukan kepada hatinya sendiri.
Baekhyun masih duduk terdiam diatas kursi samping meja telepon dengan pikirannya yang melayang-layang entah kemana setelah baberapa jam yang lalu menerima telepon dari Luhan.
Ia sangat lelah, tubuhnya terasa lemas dan kepalanya mulai pusing. Tapi Baekhyun tidak bisa hanya sekedar untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak karna begitu banyak hal yang masih berputar-putar dikepalanya saat ini.
Hingga ia dikejutkan oleh suara seseorang yang menekan password kunci otomatis didepan pintu dan menyadarkan Baekhyun dengan cepat dari lamunannya.
Suara gesekan sepatu yang tidak dilepas oleh pemiliknya berjalan melewati lorong pintu dan membuat Baekhyun seketika berdiri dari kursinya setelah mengenali pemilik suara langkah kaki tersebut.
Baekhyun melirik pada jam di dinding, pukul satu dini hari. Ia tidak berkata apapun saat menemukan sosok yang begitu dikenalnya telah memasuki ruangan, berbeda lagi dengan Chanyeol yang terlihat sedikit terkejut dengan keberadaan Baekhyun yang tengah menatapnya cemas dari tempatnya berdiri saat ini.
Baekhyun memperhatikan dalam diam penampilan Chanyeol yang terlihat kacau dihadapannya. Baekhyun dapat menyimpulkan kalau saat ini Chanyeol tengah mabuk walaupun tidak terlalu berat dari kemejanya yang terlihat kusut, dasinya yang tidak terpasang sempurna pada tempatnya dan rambut coklatnya yang berantakan seolah tengah meyakinkan Baekhyun dengan dugaannya tersebut.
Dengan acuh tanpa berniat untuk membalas tatapan cemas Baekhyun, Chanyeol melangkahkan kakinya menuju sebuah pintu kamar tamu disamping ruang tengah sebelum Baekhyun memanggil dan menghentikan langkahnya.
"Chanyeol," panggil Baekhyun pelan pada sosok yang sepanjang malam itu menjadi alasannya untuk menangis.
Tapi Chanyeol terlihat tidak begitu perduli, ia tetap melanjutkan langkahnya dan mempertahankan raut wajahnya yang dingin tanpa ekspresi saat melewati Baekhyun.
"Chanyeol, tunggu sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan." panggil Baekhyun sekali lagi, kali ini ia telah ikut berjalan untuk menghampiri Chanyeol sebelum kekasihnya itu menghentikan langkahnya, membuat Baekhyun ikut berhenti beberapa jarak dengan punggung tegap Chanyeol yang menghadapnya.
"Tidak ada yang ingin aku bicarakan," ucap Chanyeol datar, masih dengan memunggungi Baekhyun.
"Kau tidak perlu mengatakan apapun, hanya dengarkan saja penjelasanku dulu, kau salah paham dan aku ingin meluruskan kesalah pahaman ini, aku mohon-"
"Aku sudah tidak percaya lagi dengan apapun yang kau katakan," lirih Chanyeol dengan suara gertakan dari giginya menahan kesal.
"Chanyeol, aku tidak melakukannya. Aku bersumpah kau hanya salah paham-"
"Aku sudah tidak perduli lagi!" ujar Chanyeol nyaris berteriak. "Mau kau melakukannya atau tidak, aku tidak perduli lagi! Kau berusaha menyembunyikannya dan itu sudah cukup menjadi penjelasan untukku!"
"Aku tidak pernah berusaha menyembunyikannya, aku sudah bilang padamu akan menjelaskannya nanti saat waktunya tepat."
"Sampai kapan?" ujar Chanyeol sinis. "Kapan menurutmu waktu yang tepat? Saat nanti kau hamil anak pria itu baru kau akan mengatakannya?"
"Chanyeol!" pekik Baekhyun tidak terima.
Chanyeol akhirnya menolehkan kepalanya untuk menghadap Baekhyun, menata tajam pada sosok yang tengah menatapnya dengan terluka. "Sebegitu putus asa-nya kau ingin memiliki anak, sampai kau juga berusaha untuk mendapatkannya dari pria lain selain diriku?"
"BERHENTI!" teriak Baekhyun kemudian, ia sudah tidak bisa lagi menahan sakit hatinya mendengar perkataan tajam yang keluar dari bibir kekasih yang begitu dicintainya itu selama ini.
"Aku berusaha menahan diriku untuk tidak mengatakan ini sejak awal," Chanyeol masih mempertahankan raut wajah datarnya sebelum melanjutkan. "Tapi seharusnya kau memulainya dengan memeriksakan dirimu ke dokter dan mengecek kondisimu, bukannya berkeliaran mencari pria lain untuk bisa membuatmu hamil! "
PLAK!
Baekhyun dapat merasakan telapak tangannya yang berdenyut nyeri setelah tanpa sadar menampar Chanyeol. "Apa maksudmu aku tidak bisa hamil karena diriku sendiri?" ucapnya perih dengan air mata yang semakin deras membasahi wajahnya.
"Siapa yang tahu? Karna sejak awal kau yang tidak pernah mau memeriksakannya." ucap Chanyeol tega, memegang sisi wajahnya yang terasa kebas akibat tamparan dari Baekhyun.
Persetan dengan Baekhyun yang telah menangis dan menantapnya dengan tatapan yang begitu terluka karna ucapannya. Asal tahu saja, Chanyeol juga terluka disini. Ia juga merasa memiliki hak untuk mengatakan apa yang membuatnya begitu sakit selama ini.
Selama beberapa tahun hubungan keduanya, ia telah berusaha untuk menjaga perasaan Baekhyun, tapi lihat apa yang didapatnya, Baekhyun malah dengan tega menyakiti perasaannya.
"Brengsek!" maki Baekhyun, mulai ikut tersulut emosi. "Satu-satunya alasan kenapa aku tidak bisa memiliki anak adalah karena dirimu dan kau sekarang menyalahkan aku dan mengatakan aku yang mencari pria lain untuk bisa hamil?!"
"Apa maksudmu karena aku?"
"Aku tidak mau kita memeriksakannya karna aku tidak mau membuatmu terluka dengan hasilnya! Aku sudah pernah hamil dan aku juga pernah sudah pernah melakukan aborsi saat umurku dua puluh, dan kau tahu apa artinya itu?! Tidak ada yang salah pada diriku! Semua ini adalah salahmu!"
Chanyeol membisu seketika, raut wajahnya berubah semakin gelap dan bola matanya melebar sempurna. Dadanya tiba-tiba bergemuruh hebat saat Baekhyun telah menyelesaikan perkataannya.
"Jadi kau sudah pernah hamil?" bisik Chanyeol nyaris tidak terdengar.
Baekhyun menutup mulutnya dengan kedua tangan karna ia sendiri pun juga begitu terkejut dengan apa yang baru saja dikatakannya.
Baekhyun baru menyadari kalau ia sudah berbicara kelewat batas saat raut wajah Chanyeol yang sedari tadi menatapnya dengan tajam mulai berubah, Baekhyun dapat melihat tidak ada lagi kobaran amarah dari sorot mata kekasihnya itu.
"Chanyeol.." lirih Baekhyun seraya berjalan mendekat pada Chanyeol.
"Kau sudah pernah hamil dan kau tidak pernah mengatakannya padaku?"
"Chanyeol, Maaf itu-" Baekhyun mulai meraih lengan Chanyeol, ia benar-benar menyesal saat ini tapi ia juga tidak tahu bagaimana cara mengatakannya pada Chanyeol yang sepertinya sudah terlanjur terluka karena perkataannya tadi.
Chanyeol tersenyum lirih. "Jadi semua ini adalah salahku," ucapnya pelan sambil menundukkan wajahnya.
Baekhyun menarik Chanyeol kedalam pelukannya, berusaha menenangkan Chanyeol yang mungkin saja akan meledak tiba-tiba. Baekhyun tahu disaat seperti ini pelukannya adalah cara paling ampuh untuk menenangkan Chanyeol, selama ini ia selalu melakukannya untuk meredam emosi kekasihnya itu dan Baekhyun tahu cara ini juga pasti akan berhasil.
"Tidak, maafkan aku, aku tidak bermakud mengatakan itu. Semua ini bukan salahmu-"
Chanyeol mendorong pelan pundak Baekhyun, menjauhkan dirinya dari sosok kekasih yang telah menjalin hubungan dengannya nyaris empat tahun itu. "Sekarang aku mengerti,"
"Chanyeol-" rengek Baekhyun karna Chanyeol telah menolak mentah-mentah pelukannya, padahal Chanyeol tidak pernah melakukan hal itu selama ini, walau semarah apapun ia pada Baekhyun.
"Aku bersyukur kita hanya sepasang kekasih karna satu kata putus sudah bisa mengakhiri semua ini,"
Chanyeol melepaskan tangannya dari pundak Baekhyun, entah ia benar-benar merasa bersyukur atau justru menyesal karna mereka hanyalah sepasang kekasih bukannya pasangan yang telah menikah, karna tidak akan semudah itu untuk mengakhiri hubungan ini seandainya saja mereka telah bestatus sebagai suami dan istri.
"Pergilah, sekarang kau bisa melakukan apapun yang kau mau. Maaf karena aku tidak bisa memberikan apa yang kau inginkan, dan maaf karna telah menghalangimu untuk bahagia. Kau pantas mendapatkannya dari pria yang lebih baik daripada diriku."
Baekhyun membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Chanyeol, mulutnya terbuka hendak mengatakan sesuatu tapi ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya disaat seperti ini.
Apa Chanyeol baru saja memutuskan hubungan dengannya?
Chanyeol tersenyum tipis, senyum yang ia coba paksakan dihadapan Baekhyun sebelum ia membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan menuju pintu kamar.
Baekhyun masih berdiri terdiam ditempatnya, masih berusaha mencari cara untuk mengatakan sesuatu dan memperbaiki hubungannya dengan Chanyeol.
Sedangkan tangan Chanyeol telah berada diatas kenop pintu, bersiap membuka pintu sebelum ia kembali bersuara. "Sebelumnya ada yang ingin aku tanyakan padamu." ucapnya pelan tanpa membalikkan tubuhnya. "Apa kau pernah merasa bahagia saat kita bersama?"
"Aku tidak pernah mengatakan aku tidak bahagia bersamamu, aku tahu kesalahan ini semua berasal dariku, semua obsesiku tentang bayi dan membuat hubungan kita menjadi berantakan, harusnya aku mendengarkanmu saat kau dulu mengatakan kita belum siap, kau benar kita memang belum siap." ucap Baekhyun dengan tergesa berharap agar jawabannya bisa memperbaiki lagi hubungan mereka dan mengetuk hati Chanyeol untuk memaafkannya.
Tapi respon Chanyeol tidak seperti apa yang diharapkannya, karna Chanyeol hanya terdiam beberapa saat sebelum tangannya bergerak untuk membuka pintu kamar lalu masuk kedalamnya dan menutup rapat pintu dibelakangnya dengan perlahan.
"Kau bisa tidak sih, berhenti menangis sebentar saja." ucap Yixing mulai frustasi sambil meraih kotak tissu baru yang diambilnya dari lemari penyimpanan. "Aku mohon berhenti menangis."
"Tidak! Aku tidak akan berhenti menangis." rengek Baekhyun sekali lagi. "Apa kau pernah melihat seseorang yang baru saja diputuskan kekasihnya baik-baik saja tanpa menangis?"
Yixing mengusap pelan wajahnya, mengabaikan pertanyaan Baekhyun dan meminum kembali sisa wine pada gelasnya.
Setelah menghadiri pernikahan Tao dan Kris beberapa waktu lalu Yixing memang tidak langsung kembali ke New York, tempat tinggalnya saat ini. Tapi Yixing justru menyewa sebuah kamar hotel dikawasan elit kota Seoul dan tinggal beberapa waktu disana.
Ia memang telah mengambil cuti beberapa waktu dari pekerjaannya dan pulang ke Korea, selain untuk menghadiri pernikahan Tao, sesama temannya yang berasal dari daratan China sekaligus teman kuliahnya dulu. Yixing juga berencana untuk liburan dan melepas rindu dengan teman-teman lamanya di Korea yang sudah lama tidak dijumpainya lagi semenjak ia memilih untuk tinggal diluar negeri setelah lulus kuliah.
Dan ia tidak menyangka agendanya untuk berlibur ke negara yang begitu dirindukannya ini harus diwarnai oleh rengekan Baekhyun yang baru saja diputuskan oleh Chanyeol, kekasihnya.
Yixing terkejut saat Baekhyun meneleponnya di pagi buta sambil menangis tersedu-sedu dan meminta Yixing untuk menjemputnya saat itu juga.
Maka tanpa banyak bertanya, pagi itu juga Yixing berkendara puluhan kilometer dari hotel tempatnya menginap selama tinggal di Korea menuju rumah sahabatnya itu, hanya untuk menemukan Baekhyun yang berdiri didepan pagar rumahnya dengan mata bengkak dan kaus tipis yang membalut tubuh kurusnya yang terlihat kedinginan.
Yixing membawa Baekhyun kembali ke hotel tempatnya menginap beberapa hari itu. Mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan Baekhyun sambil menangis saat menceritakan apa yang terjadi padanya dan Chanyeol, sesekali ia memukul kepalanya sendiri, berucap 'bodoh' beberapa kali lalu kembali menangis semakin kencang.
Mereka berakhir diatas meja makan dengan sebotol wine dan beberapa kaleng bir yang Yixing pesan dari layanan kamar hotel tersebut.
Yixing kembali duduk pada kursinya, menyerahkan beberapa lembar tissu lagi pada sahabatnya itu. "Baekhyun, dengarkan aku."
Setelah Baekhyun menyeka hidungnya, Yixing meraih sebelah tangan Baekhyun dan menggenggamnya dengan erat. "Kalian hanya sedang emosi, Chanyeol pasti tidak sungguh-sungguh saat mengatakannya. Kau tahu perasaan Chanyeol seperti apa, jika ada orang lain yang dicintai Chanyeol melebihi ibunya sendiri, maka orang itu adalah kau, Baekhyun."
"Tidak mungkin." Baekhyun membentur-benturkan kepalanya pada meja makan. "Aku mengatakan hal bodoh pada Chanyeol, ia tidak akan pernah memaafkanku seumur hidupnya."
Yixing kembali menghela nafasnya, berusaha menghentikan Baekhyun yang masih membenturkan keningnya yang sudah memerah. Membujuk Baekhyun yang sedang dalam mode merajuk adalah hal tersulit dan ia tahu itu.
Yixing mengalihkan dirinya pada sebotol wine diatas meja, menuangkan segelas dan memberikannya pada Baekhyun. "Minumlah, coba tenangkan dirimu terlebih dulu."
Baekhyun menerima gelas berkaki panjang yang Yixing berikan padanya ragu-ragu. Baekhyun menatap gelas itu lama. Ia sadar sudah lama dirinya tidak meminum alkohol dan ia mempunyai alasan untuk itu.
Pertama karna Chanyeol tidak menyukai dirinya yang mabuk dan yang kedua karna alkohol dapat mempengaruhi kesehatan rahimnya.
Tapi sekarang perduli apa, lagipula saat ini Chanyeol telah membuang dirinya dan ia sudah tidak perduli lagi dengan kesehatan rahimnya. Jadi ia tidak perlu ragu-ragu lagi untuk meminum alkohol karna saat ini tidak ada yang perlu dipikirkannya.
Baekhyun meminum wine-nya seteguk demi seteguk, ia membiarkan rasa pahit bercampur manis yang tajam dan asing dari cairan yang diminumnya itu memenuhi setiap sudut indra perasanya, dan tanpa sadar ia telah menghabiskan gelas keduanya, gelas ketiga hingga ia lupa sudah berapa kali ia menuangkan cairan adiktif itu ke dalam gelasnya.
"Baekhyun, aku tahu kau sudah lama tidak meminum alkohol tapi ini sudah terlalu banyak, kau bisa mati." tegur Yixing saat Baekhyun kembali menyodorkan gelas kosongnya meminta untuk diisi.
Baekhyun mendongak dengan raut wajah bodoh lalu tersenyum lebar hingga kesudut diwajahnya yang telah merah padam karena terlalu banyak minum. Padahal baru beberapa menit yang lalu ia menangis meraung-raung diatas kursinya.
"Aku tidak melakukannya Yixing, aku tidak pernah tidur dengan pria lain selain Chanyeol."
"Iya aku tahu, kau sudah mengatakannya beratus-ratus kali sedari tadi." sahut Yixing bosan.
"Tapi Chanyeol tidak tahu, kenapa kau yang harus tahu tapi Chanyeol tidak." cerocos Baekhyun dengan asal.
"Baek, kau mabuk."
"Harusnya Chanyeol percaya padaku, aku tidak akan pernah mengkhianatinya. Aku begitu mencintainya, Yixing-ah."
"Aku tahu, tidak akan ada yang mencintai Chanyeol seperti kau yang mencintainya saat ini. Jadi sekarang berhenti minum, okay?" ucap Yixing sambil menarik paksa gelas Baekhyun yang sudah kembali ia isi dengan wine.
"Apa kau punya vodka? Aku mau satu gelas vodka." cerocosnya tanpa memperdulikan Yixing.
Yixing dengan sigap meraih pundak sahabatnya itu yang tiba-tiba saja jatuh terhuyung kearahnya dan nyaris membentur meja. "Oke, kita harus benar-benar berhenti sekarang. Kau sudah cukup mabuk." ucap Yixing dengan cemas.
"Tunggu sebentar, kepala ku sakit." keluh Baekhyun seraya meremas helaian kelamnya dengan kuat.
"Baekhyun, kau baik-baik saja? Astaga, aku sudah bilang untuk berhenti."
Yixing merutuki kesalahannya, seharusnya ia tidak membiarkan Baekhyun minum terlalu banyak. Ia lupa kalau Baekhyun bukan lagi sahabatnya yang dulu, saat ini yang ada dihadapannya adalah Baekhyun yang sudah terjalin dalam hubungan yang 'sehat' selama hampir empat tahun dengan seorang pria baik-baik yang begitu dicintainya.
Ia bukan lagi Baekhyun dengan kehidupan bebasnya dulu, yang pandai meminum alkohol hingga bergelas-gelas dan tahan pada setiap jenis alkohol berkadar tinggi, harusnya Yixing mengingat itu.
"Aku akan kekamar mandi." ujar Baekhyun sambil memegangi perutnya dan satu lagi menutup mulutnya yang sepertinya akan mengeluarkan sesuatu dari sana.
Yixing ikut bangkit dari kursinya. "Aku akan menemani." ucapnya khawatir.
"Aku harus mulai berhati-hati saat mengajakmu untuk keluar, minum alkohol adalah kegiatan yang harus aku hindari saat bersama denganmu." gerutu Yixing sambil membantu memapah Baekhyun dengan sebelah pundaknya menuju pintu kamar mandi diujung ruangan.
"Maaf, aku janji tidak akan minum banyak alkohol lagi, argh-" Baekhyun meringis kesakitan, efek alkohol benar-benar membuatnya tidak berdaya.
Mungkin karena ia sudah terlalu lama tidak meminum alkohol jadi saat ia langsung meminum alkohol dengan kadar yang tinggi Baekhyun tidak bisa untuk menahannya.
Yixing membawanya sampai kedepan pintu kamar mandi, Baekhyun mencoba untuk meraih kenop pintu itu namun ia tidak benar-benar bisa meraihnya walau ia telah mengulurkan-ulurkan tangannya, padahal jelas-jelas ia bisa melihat kenop pintu didepannya walaupun berbayang tapi ia tidak bisa memegangnya.
Hingga saat ia akhirnya merasa berhasil meraih kenop pintu, pandangannya semakin kabur dan tiba-tiba semua menjadi gelap seketika, Baekhyun jatuh pingsan didepan pintu kamar mandi.
Yixing melirik kearah bawah kakinya saat tiba-tiba terdengar suara jatuh yang kuat dan langsung terkejut setelah menemukan Baekhyun lah yang sudah tergeletak dilantai dengan wajah pucat dan bibir yang membiru.
"Baekhyun, Baekhyun!" Yixing berteriak panik, menguncang tubuh Baekhyun dan berusaha untuk membuatnya sadar.
Tapi Baekhyun tidak bereaksi apapun, matanya terpejam rapat dan tubuhnya terasa semakin dingin. Yixing sempat meraba denyut nadi pada pergelangan Baekhyun dan ia dapat merasakan gerakan yang lemah ditangannya.
Yixing berteriak panik, menelepon pihak keamanan dilantai bawah meminta bantuan dan dengan bantuan ambulans yang yang disediakan oleh pihak hotel, Yixing membawa Baekhyun menuju rumah sakit terdekat.
Baekhyun sadar dari pingsannya dengan denyutan hebat yang langsung terasa dari kepalanya. Sambil mengernyit menahan sakit, Baekhyun berusaha membuka kedua matanya yang masih berbayang.
"Baekhyun kau sudah sadar?" Yixing menghela nafasnya lega, bangkit dari kursi disamping ranjang dengan tergesa. Baekhyun dapat melihat raut cemas yang terpancar dari sorot mata sahabatnya itu.
Baekhyun tersenyum lemah. "Apa yang terjadi?"
"Kau tiba-tiba pingsan dan sekarang kita ada di ruang UGD rumah sakit." jelas Yixing sambil meraih tangan Baekhyun untuk digenggamnya. "Demi Tuhan, aku tidak akan membiarkanmu minum setetespun alkohol lagi mulai dari sekarang kalau aku tahu akibatkan akan seperti ini. Ini semua salahku."
"Yixing-ah, ini bukan salahmu. Mungkin ini hanya karna aku sudah terlalu lama tidak meminum alkohol. Tenang saja, sekarang aku sudah baik-baik saja."
Yixing tersenyum lemah, lalu meraih selimut yang menutupi tubuh Baekhyun untuk ditariknya semakin rapat. "Aku belum bisa tenang sebelum hasil pemeriksaan keluar. Sebentar lagi dokter akan datang membawanya."
"Tapi aku sudah baik-baik saja." Baekhyun mencoba bangkit dengan bertumpu pada kedua lengannya untuk meyakinkan.
"Tidak, tidak. Selama disini kau akan menjadi tanggung jawabku." Yixing menahan tubuh Baekhyun lalu mendorongnya lembut agar kembali berbaring. "Dan kita akan pulang setelah dokter yang mengizinkannya."
Baekhyun menghela pelan nafasnya lalu kembali berbaring pada ranjangnya menurut, ia menatap pada jarum infus yang terhubung dengan selang tengah memasukkan cairan kedalam tubuhnya.
Padahal ia merasa baik-baik saja, memang ia masih merasa kepalanya sedikit sakit dan perutnya juga terasa tidak nyaman tapi Baekhyun yakin itu semua karna efek alkohol, ia hanya terlalu banyak minum tadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Saat Yixing sedang membantu Baekhyun untuk meminum segelas air, terlihat seorang dokter muda sedang berjalan terburu-buru kearah ranjang rawat dimana Baekhyun berada menghampiri keduanya sambil membawa selembar kertas ditangannya.
"Oh, itu dokternya." seru Yixing.
"Byun Baekhyun?" panggilnya dengan sorot mata tajam sekaligus cemas secara bersamaan.
"Ya, saya sendiri." ucap Baekhyun merasa tidak nyaman dengan tatapan itu.
"Apa anda gila?"
Baekhyun membulatkan matanya tidak percaya dengan perkataan sosok berjubah putih yang masih menatapnya dengan tajam tersebut.
Apa ia baru saja dimaki oleh seorang dokter yang seharusnya bersikap lembut pada pasiennya?
"Maksud anda?"
"Aku bertanya apa anda sudah gila? Bagaimana bisa anda minum alkohol disaat seperti ini?"
"Maksud anda apa?" ucap Baekhyun mulai tersulut emosi.
"Anda minum alkohol disaat usia kandungan anda tiga minggu, apa anda ingin membunuh bayi yang ada didalam perut anda?" ucap dokter muda itu nyaris berteriak. "Kalau iya, tolong lakukan saja aborsi, jangan menyiksanya dengan alkohol karna bisa saja bukan hanya bayinya yang akan meninggal tapi nyawa anda juga akan terancam."
Teriakan dokter itu berhasil menyita seluruh perhatian dari orang-orang yang juga berada didalam UGD rumah sakit tersebut. Tidak terkecuali dengan Baekhyun yang bahkan sudah ikut bangkit karena terkejut dan duduk pada ranjang rawatnya.
"Ap.. apa? Hamil? Bayi?"
Dokter muda itu terlihat mengernyitkan keningnya, bingung melihat raut wajah terkejut Baekhyun. "Apa anda tidak tahu?"
"Apa maksudmu?! Apa maksudmu aku hamil!?" Baekhyun meraih ujung kerah jubah putih dokter muda itu, menariknya dengan kuat sambil mengguncang-guncangkan tubuh sang dokter dengan tidak sabar, meminta penjelasan.
"Anda sedang hamil tiga minggu, bagaimana mungkin anda tidak menyadarinya."
-To Be Continued-
No comment for this chapter /hehe/
Untuk yang tanya ini bakal sad ending atau happy ending, i'll give spoiler just for this and it will be happy ending story, dont worry
Dan untuk yang nanya tentang ff 'love me if you dare', aku bakal lanjutin ff itu setelah 'i did it for love' tamat ya, aku bakal fokus kesini dulu untuk saat ini.
Sebenernya aku agak kurang feel lanjutin ff ini setelah comeback exo kemarin karna Baekhyun ku yang manis kok jadi manly banget ya sekarang dan Chanyeol malah jadi kebalikannya apalagi dengan rambut pink nya itu /hehe/
At last, terima kasih untuk yang masih baca ff ini, review dan nagih lewat line ya, maaf karna selalu lama up nya karna aku yang sok kesibukan /hehe/
Ask me for questions by PM or Line ID chococone53 /bye/
