MODERNIZATION! CHAP 8

Gomen saia baru bisa update sekarang! Saia udah kelas 3 dan harus ujian, pulang sore segala macem. Apalagi mami saia ngelarang saia buka kompie… Akhirnya saia terpaksa bikin ini fic pake kertas en bolpen. (Biar kelihatan kalo kayaknya belajar)

Doain saia Lulus UN!!

Disclaimer : D Gray Man adalah hak milik Hoshino Katsura seutuhnya. Kimchi Sumeragi adalah OC milik Kentona Seizaburo. Reiya Sumeragi ya Reiya Sumeragi.

Pairing : Straight OC.

WARNING : OOC, GAJHE, YURI (?), Ingat! Kisah ini hanya fanfic. Kesamaan nama dan tempat jelas-jelas disengaja! *plak*

Ya sudah, kita nikmati saja~~~


Semua penghuni asrama tidak ada yang berniat mendengarkan pertengkaran mereka.

Bagi kedua gadis itu, Tiada Hari Tanpa Bertengkar mungkin adalah slogan yang senantiasa diemban.

"Tapi, Kimchi, sungguh, aku tidak bermaksud..,"

"Terserahlah!!"

"Tapi.. Itu kan keputusan Kururu-sama dan Komui-san.. Jadi, aku nggak berhak..,"

"Pergi saja kamu!! Lebih baik kamu menghilang selamanya!! Aku benci padamu!"

"Kimchi…" Reiya melihat sahabatnya yang lari masuk ke dalam kamarnya, meraung keras-keras.

Reiya mencoba memutar kenop pintu kamar Kimchi. Tapi dikunci.

"Kimchi….," Reiya menunduk sedih. Kemudian dia menyadari sesuatu hal yang sangat penting.

"Sial kau!!!! Woiii!! Terus gwe tidur di mana!! Kita kan sekamar! Bejad luu!!" Reiya mengumpat kesal.

"BERISIK!!" bentak salah seorang tetangganya sambil melempar uang receh.

"Wah! Lumayan, 500 perak!" ujar Reiya berseri-seri.

"Hah?" Reiya nyadar, "BUKAN ITUUUUU!!! TRUS GWE TIDUR DI MANA??"

Sepertinya malam ini Reiya terpaksa harus menginap di luar. *sigh*


Tempat Favorit Reiya setelah Kamar Tidur dan Kamar Mandi : LOTENG!!

Loteng dengan jendela yang besar adalah saluran frustasi bagi Reiya. Hebusan angin malam yang sejuk selalu berhasil membuat gadis itu rileks kembali.

"Kururu-sama dan Komui-san bego…," Reiya menggumam pada dirinya sendiri. Bukan ini yang dia mau. Kini tidak hanya Kimchi. Semua siswa di sekolah berasramanya sudah mengetahui kabar itu. Dan kekuatan gossip itu ternyata memang luar biasa. Masalahnya, di sekolah asrama yang mayoritas siswanya adalah perempuan, gossip beredar sering sekali jadi 'miring'.

Pro dan kontra. Banyak yang tidak setuju dan sangat sedikit yang setuju. Yang setuju memutuskan untuk diam saja, supaya tidak dicerca siswa lain. Yang tidak setuju sangat bersemangat. Dengan gencar mereka melontarkan fitnah semacam, "Reiya nyogok kepala sekolah," "Reiya pakai jampi-jampi dari Mbah Ki Joko Bodo," atau bahkan, "Reiya mengancam akan me-XXX kepala sekolah kalau tidak diberikan tugas itu,"

Persetan dengan semua itu!! Reiya menarik napas dalam-dalam… menahannya selama 1 jam.. lalu mati… YA ENGGAKLAAAH!!! Reiya menarik nafas dan menghembuskannya dengan berat. Gosip gossip nggak jelas asal-usulnya itu benar-benar membuatnya gerah.

Reiya jadi agak putus asa. Sempat terbayang perkataan Kimchi, "Lebih baik kamu menghilang selamanya!!"

"Hmmm….. kalo bunuh diri dengan terjun dari lantai 4 mall gimana, ya…," Reiya memikirkannya dengan serius, mengingat bunuh diri di mall yang sedang trend saat ini. "Jangan ah… Kasian nanti yang di mall. Ngebersihinnya repot, belum lagi kalo arwah gwe gag tenang dan malah ngehantuin mall itu," ujar Reiya menggelengkan kepala.

"Hmm…. Kalo bunuh diri nabrak ke kereta? Ah, nggak ah. Kasihan nanti, jadwal keretanya ketunda,"

"Hmm… Nyilet tangan? Ogah. Cakit, Cyerem," (sok imut)

"Atau…. Minum baigon? Superpel? Amoniak? Ogah ah. Pait. Ntar berbusa lagi,"

"Aaaah!!" tiba-tiba Reiya mendapat pencerahan, "Kalau dicium ama Kim Bum atau Rain atau Robert Pattinson pasti bisa mati, kan?" (saking senengnya)

Tapi Reiya kembali kecewa karena dia cukup waras untuk sadar bahwa dia gag mungkin ketemu, apalagi dicium, sama artis-artis ganteng kayak mereka.

Tapi… setelah Reiya pikir-pikir lagi…. Menghilang belum tentu harus mati, kan?

Gadis itu memakai pakaian lengkap dan memasang google-nya. Sang Queen alias si obeng tercinta diikat di sabuknya. Reiya duduk di kusen jendela sambil memakai roller blade. Sebelum dia terjun ke bawah, sempat terbayang wajah Kimchi yang menuduhnya dengan penuh kebencian.

Reiya pun mulai menyanyi dengan sedih.

"Aaah… Kimchi… wajahmuu… cerahkan duniaku…" ? –lagu gag nyambung-

"Selamat tinggal kasih, ku tak akan kembali lagi… aku pergi… sangat lamaaaa.. Hanya se-abad saja, ku akan kembali lagi. Asalkan engkau tetap… menantiiiii~~~~ " –gila-

"Kau cinta… pertama dan terakhirku~" nyanyi Reiya sok melankolis.

Dan Reiya pun terjun ke dalam kegelapan.

Tubuh gadis itu bereaksi dengan cepat, dan meluncur di jalanan dengan mulus. Dia terus berlari dan berlari. Meninggalkan sekolah jauh di belakang. Membiarkan ke manapun angin membawanya. Terbang… dan terbang….

Dia menyukai sensasi ini. Perasaan ketika roda di kakinya membawanya pergi, melesat bagaikan rajawali sakit ayan...

DUAAAAKH!!! -sepertinya Reiya membentur sesuatu-

"WAAAADAAAAWWW!!" teriak Reiya kaget.

"INU!!!" bentak objek yang ditabrak.

"Adududududuh… I-inu?"

Reiya kesakitan, dia baru saja membentur seseorang dengan sangat keras. "Baka!! Inu!!" seorang yang ditabraknya mengumpat keras. Walaupun Reiya nggak ngerti maksud orang itu, tetep aja dia ngerasa kalo dia dipisuhin. (Buat yang nggak tau Inu itu apa, cari aje di kamus)

Reiya memperhatikan wanita cantik berambut panjang yang menatapnya dengan penuh nafsu membunuh. "Mbak… Cewek ngomongnya jangan kasar-kasar, dong…" Reiya agak kesal sedikit. Dasar, cantik-cantik kok galak, pikirnya.

Mbak-mbak cantik itu malah tambah marah. "WTF!!! Bilang ape lu tadi?? Mbak?? Gwe cowok tauuu!! Cowoook!! Priaa!! Keturunan Adam!! Batangan!!" bentaknya. 'Makjan. Suaranya ngebass, euy. Tapi, batangan itu apa?' pikir Reiya dengan polosnya.

"Maaf, deh, mba… eh, mas…. Mas sih yang salah…. Udah tau mau ditabrak kagak minggir," ujar Reiya ngeles.

"Enak aje lu! Mana gwe tau lu mau nabrak!! Makanya, kalo mau nabrak, klakson dulu!!" –emangnye mobil? Pake klakson segala-

"Hey, hey… Kanda, apa-apaan nih?" seorang gadis berambut biru dikucir dua datang dan menanyai Kanda. "Kanda…. Udah dong. Kita kan lagi nyari innocence yang dibilang Komui-niisan ada di sekitar sini. Perjalanan ke sekolah asrama katholik gag jelas itu masih lama, lho," seorang gadis berambut hijau satunya memperingatkan.

"Berisik. Akira, Lenalee. Ni anak nih! Nabrak gwe! Ayo bayar! Tanggung jawab!" palak Kanda tanpa ampun sambil mencengkeram kerah Reiya. "Ogaaaah!! Saia nggak salaaaah!!" Reiya mewek. "Kanda!! Kamu jangan kasar sama cewek!" bentak si rambut biru, Akira. Akira melepaskan cekikan Kanda dan melindungi Reiya.

Reiya berlindung di balik Akira dengan sikap defensif. Kanda tersulut kesal. "Grrr!! Dasar boca.."

PIP PIP PIP PIP!!

Perkataan Kanda terhenti karena bunyi berisik yang dikeluarkan dari makhluk semacam burung hitam terbang yang dikenali Reiya sebagai golem.

Mata Reiya membelalak terkejut. Seketika itu juga dia baru memperhatikan pakaian mereka. Seragam Black Order? Golem? Kalau begitu… mereka ini….

PIP PIP PIP PIP PIP PIP!! INNOCENCE DETECTED!! DETECTED!! DETECTED!!

"Celaka dua belas.…," bisik Reiya pelan ketika melihat ketiga exorcist di depannya melihat gadis itu dengan cengo.


"Rei-chan?"

Reiya tersadar dari lamunannya. Ditatapnya seorang gadis berambut oranye di depan wajahnya, Aya.

"Eh?"

"Kok malah EH!! Dasaaar!! Ngelamun mulu!! Ntar ayam tetangga mati, loh!" Aya cemberut.

"Hee…," Reiya mengusap jidatnya. Kenapa tiba-tiba kepikiran soal Kimchi, ya?

"Kita gimana, dong? Di mana sih, anak-anak lain?" Aya menggandeng tangan Reiya, menuntunnya berjalan ke depan.

"Entahlah…."

"Kamu tadi ngelamunin apaan, sih, Rei?"

"Hard yaoi Mukuro-Hibari," jawab Reiya ngasal.

"!!!!!*blush*" Aya kaget. Ternyata Aya juga ngikutin Sinetron KHR di Japansiar, toh.


Sementara itu, di tempat lain...

"Lama tak jumpa, Aion…."

"Lulubell.." bisik Aion rindu.

"Sudah lama kita tidak bertemu, ya… Sejak kejadian itu..," Lulubell memamerkan senyum mautnya.

"Lulubell… Kamu masih selalu mengingat hari itu?"

"Tentu saja," Lulubell melangkah, mendekat, "Itu adalah hari dimana aku kehilangan sesatu yang paling berharga bagiku,"

"Tapi, tapi, Lulubell… Yang menang arisan, kan, aku! Aku yang berhak atas hadiahnya dong!" Aion membela diri. GUBRAK. Rupanya dulu mereka adalah teman arisan.

"Bohong!! Kau pasti sudah mencurangi undiannya sehingga yang keluar adalah namamu!! Pasti!!" Lulubell ngotot nggak mau terima.

"Sungguh, Lulu!! Aku jujur!" ratap Aion pasrah.

"Pembohooong!! Seharusnya DVD YAOI LEMON HARDCORE LIMITED EDITION ITU JADI MILIKUUUU!!!!" teriak Lulubell sekencang-kencangnya. Dasar fujoshi maniak.

Earl Millenium yang sedang menonton adegan ini melalui CCTV langsung sweatdropped.

"Kalau begitu, mari kita bernegosiasi," ujar Aion dengan gaya yang mirip agen CIA kecebur got.

"Nego apa?" Lulubell tertarik, menanggapi Aion dengan gaya yang mirip agen FBI hanyut ke Laut Selatan.

"Tolong kasih aku denah Noah HQ lengkap dengan keterangan di mana Allen, Akira, dan Aru ditawan," ajak Aion bernego. Lulubell tampak ragu, "Bayarannya tentu saja DVD itu," Aion tersenyum licik.

"Deal," ujar Lulubell langsung, menjabat tangan Aion. Muka Lulubell udah senyum-senyum mesum.

"WOIII!!! PENGKHIANAAAT!" teriak Earl Millenium yang menonton pertarungan –bukan pertarungan,sih, tapi negosiasi- kesal setengah mati.

"HUUU!!! Pertarungan nggak seruuuuu!! Penonton kecewaaa!! Kembalikan uang kamii!!" teriak para penonton yang muncul entah dari mana.


"Hai, rasanya lorong ini nggak habis-habis,ya, aku mulai capek nih, Tapi lorong ini bentuknya aneh, menurun," Lavi memainkan palunya dengan kurang kerjaan. "Hmmh. Nggak tau," jawab Kanda sekenanya. "Trus gimana,nih? Mau coba kontak sama yang lain?" Lavi terus nyerocos. "Terserah," Kanda cuek.

Lavi mengeluarkan mobile golem-nya dan memencet nomor Reiya.

TUT…. TUT…. TUT…

"Halo?"

"Yes!! Nyambung!!"

"Ha? Nyari Pak Sambung?"

"Bukan, bego!! Ini Reiya, kan?"

"Ha? Cari siapa mas? Nggak ada yang namanya Reiya tuh. Lea, Mina, Painem, sih malah ada. Per-jamnya bisa nego, lho, mas."

"Hah?" Lavi menyadari sesuatu, "Tunggu, ini siapa?"

"Resepsionis kedai Erotis Honey Bunny Sweety Chu-chu Muach muach,"

"Kedai… Ero.. tis?"

"Yes!! Tempat buat PIIP PIIP PIIP!!"

Seketika itu juga wajah Lavi memerah malu, Lavi membanting golemnya. Sungguh bejaaaad~~!!!!

Kanda geleng-geleng kepala. Tumben-tumbennya Lavi gag mau hal-hal begituan.

"Udah, tobat, lu? Sampe menjauhkan diri dari hal-hal mesum," Kanda tersenyum mengejek.

"Bukan gitu!! Tapi semua percakapan dari golem kan bisa disadap sama Reiya!! Ntar kalo ketauan selingkuh, bisa diapain gwe??"

Jiah. Kirain udah tobat… Ternyata….


"Reiyaa!! Ayaa!!" Aion melambai pada kedua gadis yang sedang berjalan di lorong. "Aion-sama!! Gimana caranya bisa ketemu?" Reiya sangat senang bisa bertemu dengan salah satu rekannya. "Ehhem," Aion berdeham, "ceritanya panjang,"

"Nggak penting, deh! Yang penting, sekarang kita harus cari Kanda dan Lavi yang seharusnya berada di sekitar sector 007," Aion menjetikkan jari tangannya. Reiya dan Aya mengangguk bersamaan. Ketiganya segera berlari secepat mungkin. Terutama Reiya yang memakai roller-blader.

"Reiya, Jangan cepat-cepat! Di daerah ini banyak jebakannya," Aion mengingatkan. Mereka berjalan agak lambat karena jalan itu berbentuk menanjak.

"KYAAAAA!!!" belum sampai 3 detik Aion ngomong, Aya tanpa sengaja menginjak salah satu ubin dan menghasilkan beberapa panah melesat menghantam mereka.

Untunglah Aion menangkisnya tepat waktu.

"Ka… kaget aku…" Aya ngos-ngosan.

Ketika mereka bertiga berjalan lebih jauh, mereka mendengar suara berisik.

Aion dan Reiya menoleh pada Aya.

"Apa, sih? Aku nggak ngapa-ngapain, kok!!" teriak Aya kesal.

Tetapi suara berisik itu semakin keras.

"WAAAAAA!!!!!!!"

"Lho? Ini suara Lavi…," Reiya menyadari.

Mereka bertiga melihat siluet dua orang berlari sekencang mungkin ke arah mereka.

"Itu Lavi sama Kanda!! Tunggu, yang digendong Kanda itu Yukari?" Aya menunjuk kearah dua orang itu. Masalahnya, dua orang itu sedang lari dari batu raksasa yang menggelinding dengan cepat, siap menggilas mereka.

"Gawat!! Kita harus kabur, Rei-chan, Aion-sama….., lho?" Aya menyadari Aion dan Reiya sudah nggak ada. Rupanya dua orang itu sudah ambil jurus langkah seribu. "Curaaang!! Kabur duluaan!! Dasar! Jendral ama muridnya sama ajaa!!" Aya menjerit kesal.

Aya mengikuti mereka sesegera mungkin. Namun, langkah mereka terhadang oleh gadis berambut pendek dengan mata Geass bercahaya. Sang exorcist cabang Oceania, Aru.

Aion berhenti berlari ketika melihat keponakannya itu berdiri di depan mereka dengan mata mengancam. "Konbanwaaa~~~" ujar Hologram earl yang muncul entah dari mana. Sepertinya si Earl itu buta waktu. Bisanya ngucapin selamat malam doang.

"Apa kabar, para Exorcist? Sepertinya kalian sedang kesusahan dengan jebakan Batuku?" ujar Earl menikmati.

"Aru!! Kamu baik-baik aja?" Aion dengan cemas memerhatikan keponakannya.

"Aru-chan!! Syukur kamu selamat!!" Aya tersenyum senang. (Inner Aya : Gyaa!! Kenapa nggak mati aja, sih? Kan Aru suka nge-goda Allen melulu!)

"Wah… Reunian..," komentar Reiya.

"…… JANGAN KACANGIN GUEEEEE!!!!" Teriak Sang Earl Millenium membahana.

"Nggak ada waktu buat meladenin om-om muka mesum," jawab Reiya cuek.

"Siapa yang om-om muka mesuum??!!" teriak Earl tersinggung.

"Yang penting kita lari dulu dari jebakan batu ini!" Aion mengingatkan mereka semua pada batu yang masih menggelinding di belakang.

Dengan sigap, Aya menonjok Aru sampai pingsan dan menyeretnya untuk lari bersama-sama. Aya dengan senang hati menonjoknya karena masih ada dendam pribadi.

Earl Sweatdrop. Sama sekali nggak ada setia kawannya. Main tonjok aja sama temen sendiri.

Mereka semua berlari, dipimpin oleh Aion yang memegang peta dari Lulubell. Tak lama, mereka bisa menghindari batu dan sampai ke jalan utama.

"Ke sini!! Mulai dari sini, kita bisa masuk ke penjara Allen dan Akira! Tapi… kunci ruangan ini harus dibuka dari mekanisme di ruang sebelah," Aion menunjukkan kepada mereka blueprint NOAH HQ. Kanda mengetuk pintu ruang sebelah. "Nggak bisa. Dari baja. Mugen bisa-bisa bengkok kalau dipaksa," Kanda menganalisa.

"Trus gimana?" Aya kebingungan. "Ah!" Lavi terkejut, dia mendapatkan titik terang. "Eh? Kenapa?" Aion antusias, mengira Lavi menemukan cara. "Ini, nih!! Di balik peta ini, ada tulisannya!!" Lavi semangat, menunjuk belakang eta.

"Oh, ya? Mana?"

I LOVE KIM BUM!! By LuluBell.

Aion menjitak Lavi. Dasar nggak penting!!!

"Ventilasi," ujar Kanda tiba-tiba. Semuanya menoleh ke Kanda. "Eh?"

"Lubang ventilasi," Kanda menunjuk atas, dan memperlihatkan lubang ventilasi. "Cukup untuk anak perempuan… Naik lewat situ, lalu masuk ke ruang sebelah untuk membuka mekanisme, ya, kan?"

Semua mata memandang Reiya.

Anak perempuan. CHECKLIST.

Muat masuk ventilasi. CHECKLIST.

Jago mesin. CHECKLIST.

Reiya menenggak ludah.

"Reiya cantik, deeh~~" Rayu Aya dengan wajah di manis-maniskan.

Yep. Ada Udang di balik Nasi Goreng.


"Akan kubalas mereka nantiiiiii…," Reiya meringis penuh dendam. Badannya merah-merah semua karena kesakitan.

Reiya merangkak melalui ventilasi dan masuk ke ruangan mekanis. Ruangan itu tak lebih besar dari kamar mandi umum yang biasa ditulisi BUANG AIR KECIL = 500, BUANG AIR BESAR = 1000, BUANG MAYAT = 1000000.

Gadis itu mengaktifkan innocence nya dan mulai mengotak-atik mesin.

"Hmmm… Ini mesin diapain, ya? Ya udah, dibredel aja…," Reiya mulai membredeli mesin itu dengan tak ber-perikemesinan. (Ngakunya jago mesin, aslinya sih jago ngrusakin mesin)

"Rei-chaan!! Bisa dengar aku?" teriak Aya dari balik pintu, walaupun samar-samar.

"Bisa!!" Reiya balas berteriak.

"Rei-chaan!! Pintunya sudah membuka!!" Aion berteriak.

Reiya cengo. Ternyata pintunya bisa terbuka juga, padahal cuma dibredelin.

Reiya naik melalui ventilasi dan menyusul rekan-rekannya.

Tapi percuma. Ruangan itu kosong.

"Apa maksudnya? Bukannya harusnya ini penjara Allen sama Akira?" Aion kebingungan.

"Kok bisa….?" Lavi bingung.

"KOK MALAH WC UMUM, SIH??!! MANA WC COWOK LAGI!!" Teriak Aya dengan nistanya.

Reiya tertegun, "Ini.. mekanisme dua pintu? Sistem dua katup. Bila diterimakan dalam satu arah, katrol akan menarik tuas sehingga akan memicu gerakan elektromagnetik, yang member sinyal impuls kepada jaringan mekanik, sehinggai ruangan dapat berpindah dengan mudah melalui media geser yang sudah disamarkan dalam bentuk jaringan ventilasi dan dirancang dalam mekanisme jenius melalui gravitasi yang disesuaikan dengan keadaan massa dan memudahkan teknik ini dilakukan!!"

Semuanya cengo.

"Lu ngomong apa, sih, Mecha Moya? Baca mantra?" Tanya Kanda agak takut.

"Gue sendiri juga nggak ngerti ngomong apaan. Yang jelas, yang bisa bikin WC sebagus ini pasti professional!! Ukiran keramik yang bagus dan sempurna, bau pewangi aroma jahe yang menyebar, serta ornament bocah pipis di pojok itu benar-benar indah!!" Reiya malah memuji WC itu.

GUBRAK.

"Konbanwaaa~~!!" Yah, si Earl muncul lagi melalui hologram. "Kami sudah memindahkan Allen-kun dan Akira-chan ke NOAH HQ yang lain!!"

"Ap-apa?? Jadi, kalian udah pindah HQ?" AIon tak percaya.

"Yep!! Kami udah bikin selamatan dan udah manggil pengusir setan maupun ahli feng-shui untuk memberkati HQ baru ini supaya anti-radar!!" ujar Earl dengan bangga.

"Kenapa kalian menculik Allen dan Onee-sama?!" teriak Reiya menuntut.

"Hmm… Mereka berdua benar-benar akan sangat berguna. Selebihnya, RA~HA~SI~A~!!" ujar Earl sambil mengedipkan matanya sok imut. Reiya menggeram kesal. Dia kepingin nusuk Earl pake jarum pentul biar badannya yang gemuk itu meletus.

"Reiya," ujar suara lain dari belakang Earl.

Mata Reiya membelalak terkejut.

Seorang gadis seumuran dirinya, berdiri di belakang Earl. Seorang gadis berambut biru sesiku yang memakai seragam sekolah.

"K-KAmu…" Reiya tergagap, "Kamu…"

"Siapa, ya?" Reiya bingung.

Si gadis di belakang Earl swt.

"BAKA REIYAAA!!! MASA UDAH LUPA AMA GWEEE!!!" Teriaknya.

"Eh? Lupa… Mbak ini siapa, sih? Seingat saya, saya nggak pernah ngeliat cewek se-cute mbak," Reiya mengedipkan sebelah mata, malah flirting.

"BEGO!! KIMCHI, TAU!! KIMCHI!!" Teriak Kimchi frustasi.

"Kimchi itu bukannya makanan fermentasi lobak dari Korea itu, ya," ujar Kanda.

"Enak, dong??" Aya berbinar-binar, kelaperan.

"GRaaaaa!! BUkaan!! Aarrrrggh!!!" teriak Kimchi kesal.

"Eh? Kimchi? Berarti…," Reiya memperhatikan obeng yang dibawa Kimchi.

"Kururu-sama udah netapin tugasku di sini!! Aku mana mau kalah sama kamu!" Kimchi tersenyum mengejek.

"Dan juga…," Kimchi menatap Reiya tajam, "Kururu-sama sepertinya juga bilang, kalau kamu akan segera dipulangkan!"

"Eh??" Aya berteriak kaget, memelototi Kimchi.

"Yah~ Wajar aja, sih! Sejak awal, kontrakmu di sini kan, nggak sah!" Kimchi menggelengkan kepalanya, pura-pura prihatin.

"Kontrak?" Mata hitam Kanda menatap Reiya tajam.

"Kontrak! Sejak awal, hubungan dia sama kalian itu cuma kontrak!" Kilat kemenangan sekilas terlihat di wajah Kimchi.

"Rei-chan…," giliran Lavi yang memperhatikan Reiya.

Reiya jadi ngerasa nggak enak sendiri. "Anu… Mbak Kimchi.."

Kimchi melotot, "HAHH??"

"Saya kayaknya nggak inget pernah ngadain kontrak ama agensi manapun. Dulu sih pernah, sama SM Entertainment (Agensi nya DBSK, BoA-red) tapi karena mereka nunggak gaji saya selama 3 lebaran, saya putusin kontraknya, deh," ujar Reiya yang (sok ngaku) artis kontrakan SM Entertainment.

GUBRAK!!! Semuanya swt.

"GYAAAAAAAAA!! SM ENTERTAINMENT KEPALAMU!!! GAG MUNGKIN KAMU SE-AGENSI AMA YUNHO AMA JAEJOONG YANG CAKEP ITU!!" Teriak Kimchi frustasi.

"Hey, hey, Yunho itu mantan saya, lho, sebelum Kim Bum," ujar Reiya dengan nitanya.

"AARGH!! Sudahlah!! Selamat tinggal!! Kastil ini bakal hancur dalam hitungan 60 detik!!" Kimchi memutuskan hubungan.

SELF DESTRUCT ACTIVATED! terdengar suara seorang wanita entah dari mana.

60..

59..

58..

"Mbak Auto-Computer!! Self Destructnya kagak bisa di-stop, yah?" teriak Reiya minta nego.

ENAK AJE LU NEGO AMA AUTO-COMPUTER! AUTO-COMPUTER KAN ANTI KORUPSI!! KAGAK TERIMA SESAJEN!! KAGAK TERIMA SOGOKAN!! balas suara wanita itu.

"Cih, Auto komputer bejad," bisik Reiya.

BILANG APE LU TADI? GUE CEPETIN COUNT DOWN-NYA!!!

40..

39..

Yah, si Auto Computer marah.

"Ayo cepat larii!!!" Teriak Aion menyadarkan mereka semua.

"Ke mana?? Pesawat kita kan rusak?" Tanya Aya panik.

"Lari dulu aja, demi keselamatan!!" Lavi mengombando.

"Tunggu!! Kalau nggak salah, NOAH juga nyimpen pesawat!" Aion meraih petanya lagi.

20..

19…

18..

"Cepat!! Nggak ada waktu!!" Aion menyeret mereka naik ke pesawat.

Reiya duduk di kursi pilot dan mulai menyalakan mesin.

"AIon-sama!! Tuasnya macet!!" teriak Reiya panik, tangannya memukul-mukul tuas yang tidak mau digerakkan.

12…

11….

Reiya menarik nafas. "Tenang.. tenang..," bisik gadis itu pada dirinya sendiri. Dia bisa merasakan tangannya kebas karena keringat. "Bagaimana ini..,' Reiya sangat panik.

"Minggir, bocah mesin!!" Kanda dengan kasar menghantam tuas itu dengan kepala Lavi.

"WADAAAAWW!!!" Lavi yang malang.

"Bergerak!!" Reiya tersenyum senang.

Reiya menarik tuas itu dan segera mempersiapkan take-off.

8…

7….

"Gawat, kita akan terkena asap ledakan!!!" Reiya mengumumkan.

5…

4…

3…

Pesawat melesat di landasan, mulai meraih angkasa…

2…

1…

0!

BLAAAAAARR!!!!!

"Kyaaaaaaaaa!!!"

"Waaaaa!!!"

Mereka terhempas asap ledakan. Ekor pesawat bahkan sedikit terbakar.

Reiya meghembuskan nafas lega.

Paling tidak, dalam kesempatan kali ini, mereka masih diijinkan Tuhan untuk hidup. (Atau mungkin Tuhan nggak mau menerima mereka. Menuh-menuhin Surga aja, dan udah nggak ada tempat di Neraka, Lucifer lagi sakit kena Global warming -?-)


Seperti biasanya. Black Order yang ramai oleh orang-orang nggak jelas. Yuki dan Yuffie yang memeluk Kanda dan Yukari erat-erat. Komui dan Lenalee yang menyambut mereka dengan hangat. Jerry yang menyambut mereka dengan hidangannya (Jujur, Jerry agak senang karena Allen nggak berhasil diselamatkan). Lavi yang dinasehati habis-habisan oleh Bookman.

Ketika malam menjelang pun, suasana hari ini tampaknya tidak begitu berbeda dari biasanya.

Aion berbaring di ranjangnya. Matanya separuh terpejam, mengantuk. Hari ini sangatlah melelahkan. Tiba-tiba, sang jendral muda mendengar ketukan di pintu kamarnya.

"Aion-sama… Boleh masuk?" suara seorang gadis kecil dari balik pintu.

"Rei-chan?" Aion membuka pintunya, terkejut melihat bocah itu sudah membawa satu set alat tidur lengkap. Bantal, guling, selimut, boneka voodoo (?), sikat gigi, aroma terapi, piyama, ampe bed cover segala.

"Gomen ne, Aion-sama… Saia boleh tidur di sini, ya?" Reiya menatap Aion dengan puppy-dog-eyes-nya. Aion swt. "Boleh, sih.. Masuk aja, Rei-chan," Aion tersenyum dan memersilakan muridnya itu masuk.

Reiya mengganti pakaiannya dengan piyama dan langsung bergelung dengan nyaman di bed cover seperti luwing. "Rei-chan, tidur di atas saja. Kan queen size. Ntar masuk angin, lagi," Reiya blushing, "Eh, boleh tidur sama-sama?" Aion mengangguk.

Reiya nyengir-nyengir senang, berbaring di samping jendralnya.

"Rei-chan? Masih bangun?" Aion menatap langit-langit kamarnya.

"Ya, Aion-sama?" Reiya memutar tubuhnya agar dapat bertemu mata dengan Aion.

"Um… Kamu mau cerita soal masalah tadi?" Aion berkata selembut mungkin, membujuk Reiya.

DEG. "Soal apa?" Reiya berusaha untuk terlihat setenang mungkin. Tapi gagal. Terutama karena Reiya tahu kalau Aion juga bisa baca pikiran.

"Aku hargai privasimu. Aku nggak akan baca pikiran… Karena itulah, ceritakan, Rei," Aion tersenyum dengan sangat meyakinkan. Reiya luluh juga, gadis kecil itu mengangguk. (Inner Aion : YES!! Ini Anak gampang banget dibujuk!!)

"Umm… Mulai dari mana, ya…" Reiya menggaruk kepala, bingung.

"Oh, gini… Nggak cuma Black Order. Tapi, di dunia ini ada banyak organisasi independen lain. Misalnya, organisasi milik almarhurmah Anita-sama. Organisasi itu secara diam-diam membantu Black Order, kan?"

Aion mengangguk.

"Begitu juga dengan Bookman. Bookman juga merupakan organisasi independen yang netral."

"Kurang lebih seperti itu, Aion-sama. Tool-Toul-Too adalah organisasi independen yang benar-benar netral. Berbeda dengan klan Bookman yang netral tanpa membantu pihak siapapun, Tool-Toul-Too adalah netral dengan membantu kedua pihak. Organisasi kami mengirimkan tuner kepada kubu Black Order maupun Noah,"

Aion ingin menyela, tetapi dia memutuskan untuk menahannya dan mendengarkan gadis itu.,

"Keluarga Sumeragi turun-temurun menjadi pemimpin Tool-Toul-Too, dan secara kebetulan," Reiya tersenyum pedih, "Kepala klan kami memilih saya untuk dikirim ke Black Order,"

"Bukankah itu hal bagus?" Aion mengernyit.

Reiya menggeleng, "Mungkin saya terlihat hebat di sini. Tapi, di Tool-Toul-Too, banyak yang jauh lebih hebat, lebih punya skill daripada saya." Reiya menghela nafas, "Dan nggak ada yang lebih menyeramkan daripada segerombolan mekanik yang cemburu buta, sehingga saya melarikan diri. Dan membuat kontrak jadi tidak sah,"

Aion mulai paham.

"Dan itu berarti, Kimchi sudah dikontrak secara resmi dengan Noah. Tuner macam kami, adalah alat yang bisa digunakan untuk hal apapun. Karena itulah, kami diwajibkan untuk dekat dengan orang yang mengontrak kami,"

Aion merasakan suara Reiya bergetar, "Tapi, Aion-sama…"

"Kontrak ataupun tidak, saya suka tempat ini," Reiya menyentuh tangan Aion takut-takut. Aion balas menggenggamnya dengan erat. "Nggak ada hubungannya sama kontrak. Sungguh, saya menyayangi semua yang ada di sini…,"

Dan Aion melihat gadis sombong itu menangis. Hatinya tersentuh melihat kesungguhan gadis itu. "Reiya…,"

"HUEEEEEEEE!!!!!" Reiya malah nangis keras-keras deh.

"Hush!! Hush!! Oi!! Diem, Rei~!!" Aion jadi agak panik. "Udah, jangan nangis!" Aion menarik Reiya ke dalam pelukannya. Pelukan seorang jendral, guru, sekaligus wanita dewasa yang kuat dan hangat.

Setelah isakan Reiya mereda, gadis itu berbisik pelan, "Saya menyesal, Aion-sama…"

"Sudah Reiya... Penyesalan itu emang selalu dateng belakangan... Jangan sedih lagi..." hibur Aion.

"Buka gitu!! saya nyesel karena kenapa, ya, dulu saya tolak kontraknya? Kalau tahu bakal cinlok ama Black Order, harusnya saya terima kontraknya!! Kan lumayan, dapet duit! Hitung-hitung buat beli Blackberry Storm,"

Aion menepuk jidatnya. Rugi, deh, ngerasa prihatin ama bocah ini. Ini anak pikirannya kalo nggak mesin, cake, ya duit.

DOK DOK DOK!!

Suara pintu diketuk.

"Siapa?" Tanya Aion keras.

"Aku Aya," suara cempreng.

"Saya Yuki," suara dewasa.

"Yuffie," suara yang kalem.

"Eke Suster Keramas!" suara centil ala bencong. (?)

Aion bangkit dan membukakan pintu.

"Kalian ngapain ,sih? Malam-malam begini, mana ada suster keramas, lagi!!" Aion menatap mereka bingung, sambil mengusir Suster Keramas pake Kitab suci. (Bukannya ngebaca ayat kitab, tapi kitab tebel itu dipukulin ke kepala si suster. Mantab!)

"Mau nginep! Boleh, ya?" Aya memohon. "Eh, curang, ih! Reiya udah abil start duluan!" Yuki menunjuk Reiya yang udah duduk di ranjang dengan posisi wuenak. Yuffie mengangguk menyetujui teman-temannya.

"Hadududuh, walaupun ranjang Queen size, tapi kalau orangnya sebanyak ini ya sempit, lah," Aion menghela nafas pasrah, "Ya udah, ayo!" Aion mempersilakan gadis-gadis itu masuk.

"Yuffie nggak bobok ama Kanda?" Tanya Reiya.

"Nggak. Kanda lagi nemenin Yukari, sih," Yuffie menjawab santai.

"Lagian, jarang-jarang kita cewek-cewek ngumpul gini. Pesta piyama!" umbar Aya dengan semangat.

Mereka tertawa sepanjang malam, melepaskan diri dari peperangan sejenak.

Mengistirahatkan diri dari kenyataan yang harus mereka hadapi di lain hari.

Tapi paling tidak.

Mari kita biarkan mereka bersenang-senang dulu.

Semua orang butuh libur, ya, kan?

TO BE CONTINUE….

"Kamu sudah kirimkan suratnya?"

"Surat pembatalan kontrak Reiya? Sudah,"

"Bagus, kan? Bukannya sejak awal, Onee-san nggak mau ke B.O?"

"Entahlah, dari informasi yang kutahu, dia sepertinya keenakan. Terlalu dimanja, dia,"

Bocah berambut hitam kelam yang merupakan versi Reiya cowok itu terkekeh.

"Jangan lupa, Reiga. Mungkin sebentar lagi kamu akan dikirim ke Black Order,"

"Tentu saja," Reiya versi laki-laki itu tersenyum pede, "Aku akan jauh lebih baik daripada Onee-san,"


OMAKE

(Pukul 2 Dinihari)

"Kalian iniiii!!! Bukannya tidur, malah nonton apaan!!" Bentak Aion kesal.

"Ssssstt!! Jangan berisik, Aion-sama!! Lagi seru, nih, sepakbola-nya!" Aya mengibaskan tangan.

"Eh? Mana lawan mana? Milan ama Barca?" Aion ternyata juga suka sepak bola.

"Itu, tuh, Bonek* versus Hooligan**!!"

Aion swt, "Kalian ini nonton pertandingan sepak bolanya apa nonton anarki suporternya, siiiih??" teriak Aion emosi.

"habis keren sih!! Tuh!! Ada yang kepalanya ampe berdarah-darah!! Kayak Happy Tree Friends!!" teriak Reiya senang.

Aion menepuk jidat. Anak-anak ini pada psikopat semua. Inilah akibatnya kalo waktu TK, bukannya nonton Spongebob malah nonton Happy Tree Friends. Temen-temen sekalian yang baek, mohon kalo nonton TV minta bimbingan orang dewasa, ya.. *sok dewasa*


*Bonek : Kalian tau sendiri^^. Suporter anarki lokal.

**Hooligan : Buat yang nggak tau, hooligan itu semacam bonek-nya luar negeri.

Tawuran suporter itu malah lebih seru, lho, daripada pertandingannya sendiri! *plaak*

Behind The Scene

Author : Akhirnya chap ini selesai!! Sebisa mungkin saya akan apdet teratur… Soalnya WB saya termasuk parah.

Reiya : Eeeh?? Masih apdet lagi??

Author : *deathglare* Atau kamu saya bunuh aja, biar Modernization! cepet tamat?

Reiya : ..... jangan....

Author : Nah, makanya!! Saia akan tetep apdet! Walaupun telat!

Reiya : Elu aja yang males!!!

Author : Woi!! Aku kan yang buat kamu!!

Reiya : Kenapa nekat dilanjutin, sih??

Author : Saya nggak akan berhenti sebelum fic ini paling nggak dapet 100 review!!

Reiya : Paling paling review-nya 1, Flame-nya 99.

Aya : Kenapa sama sekali nggak ada Allen, hah? *cekik Author*

Author : Allen lagi sakit. Jadi nggak masuk buat syuting.. *nyengir*

Kanda : Syuting apanya…

Author : Adegan waktu pesawat landas itu butuh biaya besar lho!!

Lavi : Huhuhhuhu… Akira-chan..

Reiga : Berikutnya saya akan muncul!!

Reiya : *depak Reiga* Ikuti terus Modernization, yaa~! Hanya di fanfiction! (halah)

Lavi : Jangan lupa review~!

Kanda : Flame juga boleh, bagus, malah.

Reiya : Byeee~