Min Yoongi bukanlah orang yang pandai dalam menyembunyikan emosinya, termasuk menyembunyikan kemarahannya. Semua yang menyangkut Min Yoongi berputar diantara apakah kau berada disisi yang dicintainya atau yang ingin dilenyapkannya dari dunia ini. Tidak ada yang berada diantara itu.
Dan Kim Taehyung berada di sisi yang kedua.
Patut disyukuri bahwa Min Yoongi yang sekarang adalah orang yang lebih bisa mengendalikan emosinya -sebagian dikarenakan tunangannya, Park Jimin, yang berhasil membuatnya menyadari bahwa semuanya tidak dapat diselesaikan dengan kekerasan. Walau sekarang Yoongi ingin sekali melakukan tindak kekerasan pada pria yang sedang berlutut di depannya.
Isak tangis pelan dari adik sepupunya yang kini masih mengurung diri di kamarnya itu terpampang jelas di benaknya. Berani sekali pria yang bukan siapa-siapa ini membuat adik yang disayanginya mengalami semua hal menyeramkan itu. Jika bukan karena ucapan Jimin sebelum ia menemui pria ini, mungkin sekarang ia telah menyerahkan diri pada polisi karena telah menghilangkan nyawa orang lain.
Yang membuatnya semakin kesal, Jungkook tidak mau menceritakan apa yang terjadi walaupun ia memaksanya hingga membuat tunangan manisnya melotot tajam padanya -karena tanpa sengaja ia menaikkan intonasi suaranya ketika bertanya. Kini ia akan memaksa pria didepannya ini untuk menceritakan apa yang terjadi diantara mereka, dan tidak ada yang bisa melarangnya untuk berteriak di wajah pria ini.
Kim Taehyung.
Yoongi sudah menduga pemuda itu bukan orang baik. Sejak Jungkook memperkenalkan dia sebagai kekasihnya, Yoongi sudah ingin melempar Taehyung ke dasar sungai Han. Bukan hanya karena ia memang sedikit posesif pada Jungkook namun firasatnya mengatakan bahwa Taehyung menjalin hubungan dengan Jungkook bukan karena ia mencintainya. Gelagat Taehyung yang tidak bisa menatap langsung pada matanya ketika ia bertanya waktu itu menjelaskan semuanya.
Jimin berkata itu mungkin dikarenakan Taehyung merasa takut menatap langsung ke matanya yang memancarkan aura pembunuh bayaran.
Menggelikan.
Ia tidak memiliki tatapan sejahat itu. Tatapannya selalu hangat!
Mungkin...
"Jelaskan semua padaku sebelum aku benar-benar mengakhiri hidupmu disini, Kim Taehyung."
Ingin rasanya Taehyung menjelaskan semuanya pada kakak sepupu istrinya itu, namun ia berpikir ia tidak memiliki kewajiban menjelaskan apapun pada pria ini. Ia tidak perduli apakah Yoongi mengerti keadaannya dan memaafkannya jika ia menceritakan semuanya. Yang ia perdulikan adalah Jungkook.
Jika Jungkook percaya padanya, maka itu sudah cukup.
Ia hanya perlu bertemu dengan istrinya, bukan orang lain.
"Aku mohon, hyung, biarkan aku bertemu Jungkook."
"KAU BERANI MEMINTA BERTEMU DENGAN ADIKKU SETELAH KAU MENYAKITINYA? LAGI?"
"Aku mohon, hyung!"
Kim Taehyung adalah pria yang memiliki harga diri yang tinggi -tidak kalah dengan Min Yoongi. Melihatnya berlutut di lantai seperti ini bukanlah hal yang akan kau lihat setiap hari.
"Hyung, biarkan ia menemui Jungkook."
Pembawaan Park Jimin semakin luwes dan anggun ketika ia beranjak semakin dewasa -tidak seperti Yoongi yang semakin terlihat seperti seorang preman. Pria yang baru merubah warna rambutnya menjadi merah jambu itu terlihat menuruni tangga rumah itu dan mendekat pada tunangannya.
"Tidak akan."
"Hyung," Jimin mengehela nafas panjang, "Aku tahu kau mencintai adikmu, percayalah, karena aku juga sangat mencintainya. Tapi kau harus ingat, Jungkook sudah menikah, dan kita tidak berhak ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka, hyung."
Sebelum Yoongi sempat membantah ucapan tunangannya, Jimin melanjutkan, "Jika kita menikah nanti lalu kak Chanyeol memutuskan untuk melarangmu menemuiku saat kita -mungkin saja- bertengkar, apa yang akan kau lakukan?"
Wajah menyebalkan kakak tingkat yang dibencinya ketika kuliah yang sialnya adalah kakak kandung Jimin muncul di benaknya.
"Nah, sekarang sudah mengerti?" tanya Jimin dengan senyum kemenangan melihat tunangannya yang sedikit liar itu terdiam. "Jungkook ada di kamarnya, Taehyung. Pergilah, dan temui dia."
Taehyung langsung berdiri dan membungkuk pada Jimin, "Terima kasih." ucapnya sebelum kemudian segera berlari kecil menaiki tangga menuju kamar yang pintunya sengaha dibuka sedikit oleh Jimin.
Sementara pasangan mini dibawah terdengar masih berargumen kecil satu sama lain, Taehyung membuka pintu berwarna putih didepannya perlahan. Matanya menjadi istrinya yang sedang duduk membelakangi pintu masuk, menatap lurus keluar jendela kaca yang berada tepat di depannya.
Taehyung yakin Jungkook menyadari keberadaannya namun memilih untuk mengabaikannya. Taehyung bisa menerima itu.
Kakinya melangkah mantap menuju istri yang begitu dirindukannya, membuatnya semakin merasa bersalah ketika ia telah berdiri di depan Jungkook dan melihat sisa air mata di pipinya. Tubuh Jungkook jelas mengalami penurunan berat badan walau hanya beberapa hari Taehyung tidak melihatnya.
Taehyung menekuk kakinya dan berlutut di depan Jungkook, membenamkan wajahnya di atas paha pria yang selalu tersakiti oleh tindakan bodohnya itu. Ia melingkarkan kedua tangannya di kedua kaki Jungkook, memeluknya erat, semakin membenamkan wajahnya diatas kedua paha Jungkook. Menumpahkan air matanya disana.
"Mianhae...Maafkan aku... maaf..."
Suara Taehyung terdengar bergetar hebat dan terdengar sangat pelan hingga Jungkook hampir saja tidak bisa mendengarnya -sebagian karena wajah Taehyung masih terbenam di atas pangkuannya. Ingin rasanya Jungkook marah dan memaki pria ini, namun ia menyadari bahwa bukan hanya dirinya yang terluka disini.
Sebenarnya Hoseok baru saja menghubunginya dan menjelaskan sebagian kecil dari apa yang didengarnya di kantor Taehyung. Kakak tirinya itu menyuruh Jungkook untuk tidak menolak Taehyung jika ia datang dan mencoba mendengar apa yang ingin dikatakan suaminya. Jungkook tidak mengerti namun selama ini kakaknya tidak pernah mengatakan apapun yang akan membuatnya mengalami kesulitan. Jadi ia memutuskan untuk melakukan apa yang disuruh Hoseok.
Suara rendah Taehyung masih terdengar meminta maaf, sesekali senggukan terdengar disela-sela permintaan maafnya.
Perlahan, tangan Jungkook terangkat dan membelai rambut suaminya yang berantakan. Mencoba menenangkan pria yang seharusnya kuat itu melalui sentuhan tangannya -karena ia masih tidak mempercayai suaranya sendiri.
Keduanya hanya diam tanpa berniat untuk bergerak dari tempatnya masing-masing. Mencoba menenangkan diri mereka sendiri dari emosi yang bergejolak dalam dada mereka. Pun air mata Jungkook juga telah jatuh dari pelupuk matanya, menambah perik di matanya yang tak henti mengeluarkan air mata dalam dua hari terakhir.
Kali ini, air matanya juga mengalir untuk rasa sakit yang dirasakan suaminya. Yang sepertinya lebih terluka dalam hal ini.
Park Jimin membuka pintu kamar Jungkook setelah menunggu sekitar satu jam lamanya -sebagian karena ia menghabiskan waktu itu untuk menenangkan tunangannya. Sebuah senyum simpul diberikannya ketika melihat dua sosok yang kini tengah terlelap sambil berpelukan di atas ranjang besar milik calon adik iparnya itu.
Terkadang Jimin sangat mengagumi bagaimana Taehyung dan Jungkook hidup dalam kebencian yang dibuat-buat selama enam bulan ini. Bagaimana Jungkook bisa bertahan dalam drama kebencian yang dibuatnya ketika di dalam hatinya hanya ada nama Kim Taehyung. Bagaimana Taehyung pun ikut bermain dalam drama yang diciptakan Jungkook agar ia tak semakin dibenci oleh pemuda yang paling dianggapnya berharga didunia ini.
Namun yang paling membuat ia bersyukur adalah keputusan Jungkook memainkan drama kehidupannya inilah yang membuatnya mampu bertahan untuk tetap hidup.
Jika ini adalah dirinya, maka ia tidak akan mampu menahan rasa sakit atas pengkhianatan kekasihnya. Mungkin ia sudah mengambil keputusan bodoh seperti mengakhiri hidupnya sendiri.
"Mereka terlihat bahagia."
"Aish! Kau mengagetkanku, hyung.!"
Min Yoongi bahkan tidak menggerakkan satu otot pun di wajahnya mendengar ocehan tunangannya itu. Matanya sibuk memperhatikan dua orang yang tertidur dengan senyuman di wajah mereka.
"Yah, paling tidak aku tak harus mengirim si brengsek itu ke rumah sakit."
"Hyung, kadang aku berpikir apa yang membuatku bertahan bersamamu."
"Kau mencintaiku. Titik."
Park Jimin hanya menghela nafas mendengar jawaban Yoongi.
"Kau sudah bangun?"
Wanita itu merintih ketika memaksa badannya untuk bangun dari tempat tidur itu. Kepalanya terasa sangat sakit, dan seluruh tubuhnya juga begitu sakit. Seorang pria muda terlihat duduk di atas sofa berlengan yang diletakkan sejajar dengan tempat tidurnya.
"Si-siapa kau? Apa yang kau lakukan padaku?!" bentaknya.
"Bagaimana rasanya?"
"Apa?"
"Bagaimana rasanya mengalami apa yang dialami adikku?"
Bae Irene menoleh kesamping ketika sebuah suara terdengar, mendapati seorang pria asing terlentang disebelahnya tanpa memakai sehelai benang pun dibadannya. Ia lalu menyadari bahwa kondisi tubuhnya juga sama seperti pria itu.
Pria yang tadinya duduk dengan angkuh itu berdiri dan memperlihatkan sebuah handy cam padanya.
"Sekarang kau akan merasakan apa yang Jungkook-ku rasakan karena perbuatanmu, Jalang."
tbc
Maaf, chapternya pendek lagi :')
