Dunia ini sudah rusak.
Pembunuhan, seks bebas, narkoba ... hal itu bahkan sudah terlihat umum di mata masyarakat.
Salah siapakah dunia ini seperti ini?
Salah manusia, kah? Atau salah alam? Ah, atau justru sudah takdir dari Yang Maha Kuasa?
Begitu mengingat hal-hal itu, aku jadi bertanya sebuah pertanyaan yang tak akan terjawab―
"Mengapa manusia suka mencari kesenangan tanpa mengenal resiko?"
Sebuah Dunia Sempurna
Vocaloid © Yamaha. No commercial profit taken.
Warning Full Miku's POV, bahasa gaul, typo(s), et cetera. Kesamaan ide harap dimaklumi.
Aku hanyalah gadis remaja biasa. Usiaku bahkan baru menginjak angka lima belas tahun. Tapi kenapa ya, aku merasa berbeda dengan remaja lainnya? Karena akunya yang salah atau merekanya yang salah?
"Gua udah pernah ngelakuin 'itu' seharian sama pacar gua. Maklumlah, orang tuanya lagi nggak ada di rumah selama beberapa hari."
―atau bahkan, karena dunia yang sudah terlalu miring?
Aku mendesah kecewa seberat-beratnya begitu mendengar sekelompok lelaki saling berbagi cerita dewasa mereka. Mungkin aku tak perlu mendesah kecewa jika yang mereka bicarakan dari majalah, video, atau situs-situs dewasa. Tapi kalau kenyataannya mereka membicarakan hal itu karena sudah pernah melakukannya? Aku tak mau tahu lagi akan kelanjutan obrolan mereka.
Masa remaja adalah masa yang paling rentan. Masa dimana bocah ingusan beranjak menjadi orang dewasa dengan segala macam keperfeksionisannya. Hingga naasnya, pada proses itulah orang dewasa yang sering bekerja di balik relung sinar rembulan mencekoki mereka dengan obat-obatan terlarang. Oh, jangan lupakan juga soal pornografi yang mudah di temukan dalam lingkup dunia maya.
Kadang miris juga. Di televisi, orang-orang lebih heboh soal prostitusi artis ―sampai-sampai hampir semua stasiun televisi membahas tentang itu hingga membuatku harus mengganti channel terus-terusan saking bosannya. Bukannya bermaksud mengatakan tindak pelecehan pada artis-artis itu terdengar biasa, namun kalau kalian selidiki lebih dalam, pasti kalian bisa menemukan bahwa pelecehan terhadap anak lebih banyak dan harusnya lebih menghebohkan lagi.
"Lu ambil LM IPS apa, Mik?"
Aku menoleh. Seorang lelaki bersurai pirang dengan iris secerah langit biru bertanya padaku, dengan suaranya yang sedikit nyaring.
"LM IPS ya―"
Aku berpikir sejenak. Sebagai anak jurusan MIPA, kami wajib memilih salah satu pelajaran IPS yang ingin di pelajari dari tiga pilihan, yakni Ekonomi, Sosiologi, dan Geografi.
"―aku pilih Sosiologi."
"Oke, berarti kita akan bertemu lagi di kelas LM."
Wow, double wow. Seumur-umur ini pertama kalinya ada yang tertarik dengan Sosiologi di kelasku. Oh, ayolah. Kebanyakan orang-orang lebih memilih LM Ekonomi loh. Walau aku akui Ekonomi memang ada sangkut pautnya dalam kehidupan sehari-hari, memangnya mereka nggak mumet apa ngitung-ngitung mulu? Hafalin rumus Matematika saja susahnya udah setengah mati, apalagi hafalin rumus pajak? Oke, tolong abaikan sok tahu diriku ini dan suara misterius guru Matematika yang mengatakan bahwa rumus Matematika bukan di hafal tapi di pahami.
"Kenapa pilih Sosiologi?"
"Karena suka dengan filosofi, mungkin."
Mataku melotot. Apa? Jadi laki-laki yang ada di hadapanku ini doyan dengan filosofi? Oh ... aku tak menyangka ada laki-laki yang seperti ini di kelas ini.
"Well, ternyata cowok ada beberapa cowok di sini yang nggak brengsek juga rupanya."
Kulihat ia menatap tajam diriku.
"Jadi lu awalnya ngira gua itu cowok brengsek, gitu?"
"Iya."
Aku menjawab dengan blak-blakan. Bukan maksudku mengatakan bahwa semua cowok itu brengsek ya. Hanya saja gara-gara kerumunan cowok yang ngomongin 'itu' tadi, wajar saja kan kalau aku beranggapan bahwa cowok di kelas ini merupakan cowok brengsek yang tidak memiliki tata krama?
"Lu mah gitu ya sama gua."
Aku tertawa. Berbanding terbalik dengan cowok brengsek, Len adalah satu dari sekian sedikit dari cowok di kelasku yang masih bisa jaga etika dan rada alay. Oh, atau rada 'aneh'? Mengingat dia pernah senyam-senyum sendiri di kelas seperti orang kerasukan.
"Ngomong-ngomong, lu udah tahu belom?"
"Soal apa?"
"Anak dari kelas sebelah pernah minum miras."
Aku memutar bola mataku. Tentu kalian tahu jelas aku merasa jengkel karena apa, bukan?
"Siapa?"
"Itu loh si Benach. Katanya si Yuzuki, nafasnya Benach bau alkohol."
Aku berpikir sejenak. Ada yang terasa menjanggal.
"Bagaimana si Yuzuki bisa tahu bau alkohol seperti apa?"
"Duh, lu curigaan banget sih, Mik. Paling si Yuzuki pernah dikasih tahu sama emak bapaknya bau alkohol itu kayak gimana. Tahu sendiri kan, kalau emaknya Yuzuki itu dokter sementara bapaknya itu polisi?"
"Maaf, Len ... Kebanyakan baca Conan."
"Lagian kebanyakan ngebaca Conan."
Aku tertawa.
"Yaudah, yaudah. Jadi, gimana tuh sama si Benach itu? Nggak ada yang ngelaporin?"
"Kayaknya nggak tuh. Buktinya belum kuat."
Aku menghela nafas. Benar juga, mengapa bisa begitu? Maksudku, mengapa para remaja bisa mendapatkan miras dengan mudah? Padahal kalau aku tonton anime, anak usia 17 tahun saja tidak di izinkan untuk membeli miras. Lantas, mengapa di Indonesia miras mudah di perjualkan bak menjual baju?
"Helaan nafasmu terdengar berat, Mik."
Aku tersenyum pasrah. Len memang tahu segalanya.
"Wajar saja, Len. Aku sedang memikirkan masa depan anak remaja sekarang yang kebanyakan sudah mulai rusak karena kurang ketatnya―"
"Lu mau bilang kurang ketatnya pengawasan orang tua?"
Aku nyengir.
"Mungkin."
"Masa remaja itu adalah masa dimana kita menentukan jati diri kita secara mandiri. Makanya, pengawasan orang tua nggak seketat waktu kita SD."
Aku mengangguk paham. Berbanding terbalik soal tubuh Len yang kurus dan lebih pendek dariku, sikap dan pemikirannya jauh lebih dewasa dariku. Ah, mungkin itu sedikit wajar. Berhubung Len lahir di penghujung tahung 1999, lebih tua dariku yang lahir tahun 2000.
"Hey, Len."
Aku memanggil namanya.
"Apa?"
"Menurutmu, apa itu dunia sempurna?"
Kulihat Len nampak berpikir. Tangannya menompang rahang bawahnya.
"Sebuah dunia dimana semua orang bisa hidup bahagia, dan dunia dimana―"
Iris langit cerah milik Len menatap iris mataku. Membuat jantungku berdebar, menunggu rentetan kata-kata yang akan ia ucapkan.
"―ada seorang gadis baik hati bernama Hatsune Miku bersama gua."
Mukaku memerah.
"Nah, Hatsune Miku. Tertarikkah engkau membangun sebuah dunia sempurna bersama Kagamine Len?"
Aku mengangguk. Tangan kananku meraih uluran tangannya.
"Ya, Len. Mari kita buat dunia sempurna tanpa adanya anak remaja yang rusak masa depannya."
"Dan mari kita memulainya dari sekolah ini."
Untuk kalian yang masih remaja,
Maukah kalian mendengar sebuah kisah?
Kisah tentang dua anak remaja yang berusaha membangun dunia sempurna.
Ya, dunia sempurna.
Sebuah dunia dimana semua orang hidup bahagia bersama orang yang mereka sayangi,
Dan sebuah dunia dimana kita duduk di puncak keberhasilan bersama-sama.
Lalu setelah kalian mendengar cerita mereka,
Akankah kalian mencoba berubah menjadi yang lebih baik lagi?
Lalu, marilah kita bertemu di panggung keberhasilan saat kita dewasa nanti.
