Malam itu, kau sadar sepenuhnya−begitu juga istrimu. Di mana kau mendekap wanita itu dalam kehangatan dan penuh kelembutan. Di mana kau tidak menemukan sedikit pun perlawanan darinya. Malam itu, betapa kau sadar, kau menyukainya−kau mencintainya. Namun, mampukah kau untuk mengutarakannya?

Kau sangat bersyukur malam itu ada. Tapi, mungkinkah malam itu akan berlangsung sama seperti besok malam dan besoknya lagi?

entahlah….

.

.

Because An Accident

.

I'm not own all characters in Naruto. Naruto is own Masashi Kishimoto.

Rated: T

Pairing: Sasuke and Sakura, slight Naruto and Hinata.

Warning: still OOC, still find typo(s), etc.

.

If you like this story, please read. And if you don't like this story, please read too. And… review! XD

.

.

.

(Chapter ini, ada konflik Shion lagi yang 'wow')

This is it! Chapter 10. Chek this out, NOW!

.

.

.

Chapter 10 I'm Jealous!

.

.

.

"Hei, bangunlah. Ini sudah pagi," ucap wanita bersurai pink sembari mengguncang-guncangkan tubuh atletis lelaki di atas tempat tidur dihadapannya yang masih tertidur. Namun, lelaki itu sama sekali tidak menghiraukan ucapan istrinya−Uchiha Sakura. Bukannya bangun, ia malah menarik tinggi-tinggi selimutnya mencapai kepalanya. Sama sekali tidak berniat untuk bangun−masih memikirkan peristiwa indah semalam bersama Sakura.

"Heei, kubilang bangun!" lama-lama begini, Sakura merasa kesal juga. Suaranya meninggi dan tatapannya mulai menajam. Tadinya lembut sekali, tapi kali ini tidak lagi.

"Ooi, sudah pagi! Ayo banguuun!"

Masih belum bangun juga.

"SUDAH PAGI, WOY! BANGUN!" teriak Sakura pas ditelinga Sasuke−bisa dipastikan Sasuke tengah merasakan telinganya memanas dan terasa sakit. Bagaimana tidak? Teriakan itu, benar-benar keras. Sakura memasang wajah masamnya, ia ingin sekali melempari wajah bukan-damai-tapi-innocent itu dengan meja bundar didekat pintu.

Dan, masih belum bangun juga. Se-sulit itukah lelaki itu membuka matanya?

Dengan kejam dan sadis, Sakura menarik paksa selimut dari tubuh Sasuke dan melemparnya sembarangan−saking kesalnya ia pada lelaki itu. Ia kembali mendekatkan mulutnya pada telinga Sasuke dan siap untuk berteriak lagi.

"Kau harus bangun! Lihat! Ini sudah pa−kyaaaaaa!" teriak Sakua lagi. Namun belum kalimatnya sampai, ia sudah memekik keras. Ia merasa ia terhuyung ke depan seperti ada yang menarik pinggulnya. Dan ia pun terjatuh di atas tubuh sang suami. Tak apalah, suami-istri tidak diharamkan. Tapi, sepertinya Sakura sudah meluncurkan tatapan tajam dan mematikannya ke arah Sasuke yang matanya baru terbuka setengah.

"H-hei! Kenapa kau hobi sekali menarikku sampai terjatuh!" protes Sakura sambil berusaha bangkit dengan tangan kanannya yang bebas. Dan kembali ia merasakan sakit dibagian perut dan… dadanya. Tadi sempat berbenturan dengan dada Sasuke.

"…"

Lelaki itu diam. Tapi bukan berarti, anggota badannya juga diam. Tangannya sibuk mempererat pelukan ditubuh istrinya itu. Membuat wanita musim semi itu tidak bisa bergerak.

"H-Hei! Kau ini kenapa, sih! Aku mau bangun!"

Mata Sasuke sudah sepenuhnya terbuka. Ia menatap Sakura datar. "Ini belum pagi. Lihat, di luar masih gelap."

Reflek Sakura menoleh ke arah tirai jendela yang sedikit terbuka. Dan ia kembali menoleh ke Sasuke dengan tampang malas. "Tapi ini sudah pagi, bodoh!"

"Kalau aku bilang belum pagi, kau mau apa?" ucap Sasuke dengan nada menantang. Ia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari wajah istrinya itu. Kalau dilihat-lihat, Sakura memang cantik dan… indah. Mungkin seperti itu komentar Sasuke.

"Kau kubunuh!" jawab Sakura dengan tatapan setannya. "Hahaha!" kemudian ia tertawa setan.

"Kalau aku mati, kau bagaiamana?"

"…tentu saja menikah dengan Sasori-nii! Ya!" ucap Sakura penuh semangat. Namun mengundang tatapan tidak suka dari Sasuke. Lelaki itu membuang muka lalu melepas pelukannya dari tubuh Sakura. Menggeser tubuh wanita itu lalu ia sendiri bangun dengan tampang suram. Ia benar-benar tidak suka pada pemuda berambut merah itu. Dan Sakura malah menyebut namanya, bahkan mengatakan bahwa akan menikah dengan pemuda itu.

'Cih, ini yang tidak ku suka' batin Sasuke kesal. Ia menghampiri jendela dan menyibakkan tirainya. Dapat dilihat, matahari belum sepenuhnya tampak. Sementara Sakura yang sudah duduk di tepi ranjang menatap Sasuke bingung. Padahal, ia baru saja ingin mengikuti permainan Sasuke.

"Umm… hei, Chickenbutt. Kau… kenapa?" tanya Sakura sedikit was-was−takut lelaki itu marah lagi seperti beberapa hari yang lalu. Ia juga tidak mengerti kenapa.

"Bahkan sampai sekarang, kau belum mengerti juga," ucap Sasuke tanpa menoleh ke arah Sakura. Selain merasa kesal, kali ini ia juga merasa sesak−seperti yang dirasakannya ketika melihat Sakura berpelukan dengan Sasori.

"Memangnya apa?"

"Tak apa. Kau keluarlah."

"Oh, baiklah," Sakura pun berjalan menuju pintu dan memegang kenop pintu. Namun, sepertinya ia teringat sesuatu dan langsung menoleh ke arah Sasuke.

"Oh iya!" decak Sakura sambil memukul jidatnya yang lebar. "Hampir saja aku lupa. Nanti aku akan ke pasar, kau jaga rumah ya!"

"Apa!" kaget Sasuke dan langsung menoleh cepat ke arah Sakura. Sepertinya, ia terlalu berlebihan saat mengucapkan 'apa'.

"Iya, kau jangan keluar rumah, karena kau hanya sendiri di sini!" ucap Sakura.

"…sendiri?"

"Tidak. Kau bersama hantu penjaga rumah ini…. Tentu saja kau sendiri, dasar bodoh!" ucap Sakura.

Sasuke menatapnya tidak percaya. Bukannya ia takut sendiri di rumah milik Sakura ini. Akan tetapi, kalau ia yang tinggal di rumah, berarti yang menemani Sakura ke pasar adalah… "Kau pergi dengannya?" tanya Sasuke sambil membuang muka kesal.

"Ya! Aku belanja banyak, jadi aku pergi bersama Saso−"

"Aku ikut."

"Eh?"

.

.

.

"Sasori-nii, bisa tolong pegang ini?" ucap Sakura sambil menyodorkannya satu kantong plastik berisi sayuran kepada pemuda berambut merah di belakangnya. Dan dengan senang hati pemuda itu mengambilnya−lagi-lagi lelaki di sampingnya itu mendeliknya tajam. Si tuan muda Uchiha hanya bisa menenangkan dirinya agar tidak meledak di pasar ini. Banyak orang yang lalu lalang, ia harus menjaga wibawanya agar tidak kelihatan hancur.

Salahnya sendiri karena mau ikut.

Tapi, bagaimana pun juga, Uchiha itu tetap mempesona. Daritadi, ia tidak pernah luput dari tatapan kekaguman para pengunjung pasar−terlebih lagi para gadis-gadis yang sesekali memekik kagum, tak sedikit juga ditemukan ibu-ibu yang menatapnya kagum.

Itu sudah biasa bagi Sasuke, tapi tetap saja membuatnya tidak nyaman.

"Hey, pegang ini! Jangan melamun saja!" sebuah suara familiar memasuki indra pendengarannya membuatnya sedikit tersentak dan dengan cepat menoleh. Tampak istrinya sedang menyodorkan kantong plastik berisi buah-buahan ke arahnya−dengan tatapan sinis.

'Ah, lagi-lagi. Tak bisakah kau untuk tidak menatapku seperti itu?' Sasuke menggerutu dalam hati sambil mengambil kantongan itu dan balas menatap sinis ke arah Sakura.

"Baiklah. Sasori-nii, apakah masih ada yang belum dibeli−oh ya, aku mau beli coklat!" ucap Sakura namun tiba-tiba memekik saat melihat beberapa macam coklat yang tertata rapi tak jauh dari tempat mereka berdiri. Sasori menatap Sakura bingung lalu berjalan mengikuti Sakura yang sudah ngacir duluan ke tempat penjual coklat itu. Tak lupa dengan Sasuke yang mengekori Sasori.

"Anda mau pilih yang mana, nona? Kedua coklat ini sama-sama enak," ucap penjual itu. Sakura menatap bingung ke arah dua bungkus coklat itu. Yang satu coklat berisi potongan stroberi di dalamnya dengan taburan hazel nut gurih, dan yang satunya lagi, coklat dengan lapisan cream berwarna ungu dan pink di bawahnya. Keduanya memang enak, membuat Sakura bingung untuk memilih yang mana.

"…yang mana, ya?"

'Dasar plin-plan. Pilih saja satu, susah sekali!' lagi-lagi Sasuke menggerutu dalam hati. Ia ingin cepat-cepat pulang, berada di sini ia menderita.

"Baiklah, aku beli dua-duanya!"

"Kita pulang?" tanya Sasori memastikan kepada Sakura yang baru saja membayar kedua coklat tadi. Sakura mengangguk antusias, lalu berjalan melewati kedua lelaki itu. Seperti anak-anak saja.

"Sasuke," panggil Sasori tanpa menoleh ke arah Sasuke yang berdiri di sampingnya, ia masih menatap Sakura yang berjalan dengan riangnya.

"Hn?"

"Sepertinya, Sakura sedang mengidam," ucapnya dengan sedikit senyum dibibirnya.

Sasuke menoleh, menatap datar Sasori, "…mengidam?"

"Ya. Lihat, dia sangat senang hanya karena dua bungkus coklat," ucap Sasori sambil tertawa kecil. Ia bukan suami Sakura, tapi, ia benar-benar senang melihat Sakura saat ini. "Ayo."

Pemuda berambut merah itu berjalan menghampiri Sakura, sementara Sasuke masih berdiri di tempatnya. Masih mencerna kejadian barusan. Melihat Sasori yang ramah seperti itu, ia jadi sadar. Ia akhirnya sadar, ternyata Sasori lebih memahami Sakura daripada dirinya. Bahkan, sedari tadi juga Sakura hanya menyebut nama Sasori−bukan namanya.

Sedangkan dirinya? Mengidam saja, ia tidak tahu. Rasa sesak pun kembali menjalar dibagian dadanya. Ia hanya bisa menatap Sasori dari belakang, dan inilah kekurangannya. Ia sulit untuk memahami semuanya. Ia menghela nafas sejenak, lalu mulai berjalan menyusul dua orang itu.

Ini memang terpaksa, tapi ia sudah terlanjur mencoba untuk menjalani semuanya. Ia harus mencoba untuk memahami semuanya−terutama wanita itu.

.

.

.

Sraaaaaassshhh

Hujan mengguyur kota Suna, membuat beberapa warga Suna menghentikan kegiatannya−terutama yang berada di luar rumah. Seperti ketiga orang ini yang baru saja keluar dari pasar. Mereka tidak membawa mobil, dengan alasan jarak pasar cukup dekat. Namun, hujan turun dengan derasnya, sehingga mengharuskan mereka untuk berteduh di depan toko yang cukup besar.

Ya, itu adalah ide Sakura. Katanya, ia ingin menikmati Suna dengan berjalan kaki. Saking inginnya, Sasori maupun Sasuke mengikuti kenginannya itu.

Dan sekarang, mereka tidak bisa keluar dari tempat berteduh. Sasuke yang berdiri di samping kanan Sakura−yang menenteng satu kantongan penuh buah-buahan lagi-lagi menggerutu kesal dalam hati. Ini benar-benar memalukan.

"Ini semua salahmu," ucap Sasuke kepada Sakura, namun tidak menoleh ke arah wanita itu. Sakura menoleh lalu menatap Sasuke sinis.

"Lalu kau mau protes?" tanyanya dengan nada tinggi. Sasori di samping kiri Sakura hanya menatap bingung.

"Cih," decih Sasuke. Benar-benar menyebalkan wanita itu.

"Huh, dasar menyebalkan!" umpat Sakura sambil menyentakkan kakinya di tanah. Sial sekali, pagi-pagi sudah hujan.

"Kau yang menyebalkan."

"Kau yang me−huaaatchiih!" kalimat Sakura akhirnya terpotong oleh sebuah bersin mendadak. Sasuke menolehkan kepalanya, menatap Sakura yang kini tengah kedinginan. Sepertinya begitu. Sejenak ia merasa kasihan melihat istrinya seperti itu. 'Semoga setelah ini , kau tidak sakit' batinnya perhatian.

"Aa, biar aku yang pegang kantonganmu. Kau tidak boleh lelah," sahut Sasori yang tadinya hanya diam. Tanpa persetujuan dari Sakura, ia langsung saja mengambil kantongan itu.

"Ne, terima kasih, Sasori-nii−huatchiiih!"

Lagi-lagi ia bersin. Kenapa hujan cepat sekali mempengaruhi suhu tubuhnya? Lihat, wajahnya langsung pucat begitu.

"Huaatchiiihh!"

"Bodoh, kenapa tidak memakai jaket," gumam Sasuke khawatir sambil meletakkan kantongan yang tadi di tangannya. Ia pun membuka jaket yang dipakainya lalu memakaikannya ke Sakura. "Kau hamil, jadi ingat kesehatanmu," ujarnya mengalihkan pandangannya.

"…i-iya…"

Dan Sakura hanya mampu menundukkan kepalanya−karena wajahnya tengah merona.

.

.

.

"Huaatchiih!"

Terdengar bersin Sakura dari dalam kamarnya. Membuat Sasuke yang tengah menonton tv menoleh cepat. Ia merasa sedikit khawatir. Setelah terkena hujan tadi, sepertinya tenaganya down dan kini wanita itu tengah terbaring di kamarnya.

"Tenang saja, sudah kupanggilkan dokter," sahut Sasori yang muncul dari dalam dapur. Sasuke menatapnya dengan tatapan sumringah. "Dia calon dokter, tapi selalu lupa menjaga kesehatannya sendiri," lanjutnya sambil mendudukkan dirinya di samping Sasuke.

"Hn…"

"Dulu… dia selalu saja mengajakku untuk bermain hujan-hujanan. Mungkin karena keseringan terkena hujan, dia jadi cepat flu dan sakit. Tapi, setelah sembuh, pasti dia akan kembali lagi bermain hujan-hujanan," ucap Sasori sambil mengingat kenangan manis bersama Sakura waktu bersekolah. "Dia tidak peduli dengan kesehatannya ketika bermain hujan. Tapi, ketika sakit pasti dia akan mengumpat kesal. Dan pada suatu saat, dia bertekad untuk menjadi dokter agar tidak keseringan sakit. Tapi, tetap saja, kebiasaannya itu tidak hilang."

Sasuke hanya mendengarkan sambil mengangguk-angguk, karena tidak tahu harus merespon dengan apa.

Sasori kembali melanjutkan ceritanya, "dulu juga, ia pernah bilang padaku. Kalau punya suami, ia ingin suaminya itu merawatnya dengan baik ketika sedang sakit. Ia ingin mempunyai suami yang penyayang dan baik."

Sasuke sedikit tertegun mendengar itu, dan perlahan ia mulai penasaran dan ingin tahu kelanjutan cerita Sasori.

"Lalu?"

"Ia bilang, ingin menikah denganku, tapi tahu-tahu, ia sudah menikah denganmu."

"Eh?"

"Tapi…" Sasori menundukkan kepalanya, kemudian melanjutkan, "itu hanya candaan Sakura yang kurespon dengan pembenaran. Hingga akhirnya, aku semakin menjaganya dan terus menjaganya. Aku memang bodoh, ya."

"Kau tidak boleh menyalahkan dirimu, Sasori."

"Haha, sudahlah. Aku harus melupakan perasaanku padanya," ucap Sasori seraya tertawa hambar. Jelas sekali, bahwa ia menyembunyikan kesedihannya dibalik keceriaan palsunya. "Oh ya, dulu Sakura bilang, ia sangat membencimu?"

'Bahkan Sakura juga memberi tahu Sasori tentang itu? Ck!'

"…"

"Haha, mungkin karena itu, ia jadi mencintaimu."

"Eh?"

"…ya, Sakura memang tidak gampang jatuh cinta. Tapi, aku yakin, dia mencintaimu."

"…"

"Dan, aku juga sangat yakin bahwa kau mencintainya, ya 'kan? Aku harap, kau terus menjaganya."

"…aku−"

Tok Tok Tok

"Mungkin itu dokternya," ucap Sasori seraya berdiri dan berjalan menuju pintu saat mendengar seseorang mengetuk pintu. Sementara Sasuke hanya bisa termangu di tempat.

ini tentang perasaan. Kau tidak tahu, apakah perasaan yang kini kau rasakan itu memang cinta. Bahkan sebelumnya, kau tidak ingat kalau kau mempunyai perasaan. Kau hanya dapat menyaksikan semuanya. Ini semua, karenamu. Seharusnya yang berada di tempatmu sekarang Sasori, bukan kau. Ya 'kan? Kau telah mengerti itu, tapi, entah mengapa yang lain terasa sulit untuk di mengerti. Kau iri, bahkan Sasori dengan lapang dada dapat menerimanya, tidakkah kau bisa melakukan itu?

"Silahkan masuk," ucap Sasori kepada seorang dokter yang kini sudah mulai melangkahkan kakinya menuju kamar Sakura, di pandu oleh Sasori. Betapa ia orang yang sangat baik. Sasuke yang baru saja menyadari itu, hanya bisa membuang muka dan mulai melangkahkan kakinya−menghampiri Sasori.

Jujur, ia merasa sangat iri.

"Sasori," panggilnya.

Pemuda itu pun menoleh. Sementara dokter tadi, sudah memeriksa Sakura di dalam kamarnya.

"Ya?"

"Sesuai harapanmu, aku akan menjaganya. Aku akan terus menjaganya. Aku berjanji," ucap Sasuke dengan penuh penegasan disetiap katanya. Tatapannya pun terlihat begitu serius.

Sasori tersenyum tulus mendengarnya. "…terima kasih, Sasuke."

"Hn."

dan akhirnya, Sasori dapat merelakannya, ia percaya. Ia sudah mendengar janji yang dilontarkan Sasuke barusan. Dan mungkin… setelah ini, semuanya akan berjalan dengan lancar.

.

.

.

Mata obsidian itu daritadi hanya menatap wajah damai seorang wanita yang tengah tertidur di atas ranjang. Betapa damainya wajah wanita itu, sangat menenangkan bila dipandang−apalagi jika menatap mata viridian-nya yang meneduhkan. Akan tetapi, kelelahan dan rasa pusingnya yang amat sangat, mengharuskannya untuk tetap berbaring di tempat empuk itu. Entah kapan ia akan terbangun.

Lelaki itu−Uchiha Sasuke, duduk di tepi ranjang di samping istrinya. Menjaganya−mungkin itu tujuannya. Walau hanya menatap wanita itu sedari tadi, tetap saja ada sesuatu yang berkecamuk dalam dadanya. Entah apa itu, tapi membuatnya tidak tenang dan tidak ingin meninggalkan tempat ini. Dan ia merasa, ia kesepian tanpa ocehan wanita itu.

Secara tidak langsung, ia berharap agar wanita itu cepat sembuh. Begitulah.

"Aku tidak akan memaksamu," gumamnya dengan nada rendah. Raut wajahnya yang tadi serius menatap wanta itu, kini berubah lembut. Sangat lembut. "Aku sadar."

Lelaki itu menghirup nafas lamat-lamat, lalu menghelanya pelan. "Kau lelah, katakan saja. Aku tak akan memaksamu untuk tetap di sini."

Pelan tapi pasti, tangan kekarnya menyentuh pipi putih Sakura, membelainya pelan−penuh perasaan.

"Tapi, hatiku berkata lain. Hatiku begitu menginginkanmu tetap di sini. Tetap dalam posisi ini, walau dari awal kau tidak menginginkannya."

"Aku sadar. Aku yang menyebabkan semua ini−kesalahan ini. Tapi kau tahu? Aku telah menerimanya dan mulai mencoba menjalaninya dengan baik. Karena semua ini, berkaitan denganmu−berkaitan dengan perasaanku padamu."

Lagi, ia menghela nafas dan mendekatkan mulutnya pada telingan wanita itu.

"Aku harap, kau juga begitu," bisiknya pelan.

Ia sadar dengan apa yang dilakukannya ini. Bukannya apa, tapi, hatinya sendiri yang memaksa untuk mengutarakan itu semua. Sekali lagi, ini tentang perasaan dan hati. Tak ada yang bisa mengelak jika kedua hal itu memaksa, ya 'kan?

Walau wanita itu sama sekali tak mendengarnya, setidaknya Sasuke merasa lega karena sudah mengutarakannya di depannya.

Senyum tipis terpeta diwajah tampannya, dan dengan pelan ia menyibakkan poni yang menutup dahi lebar milik istrinya itu. Bermodalkan keberanian yang entah dari mana ia dapatkan, ia mulai mendekatkan bibirnya pada kening Sakura.

Cup

Sangat lembut dan penuh dengan perasaan. Dikecupnya lama kening itu. Lama, lama sekali. Mencoba untuk menyalurkan sedikit kehangatan untuk wanita itu.

−berharap agar semua berjalan dengan lancar dan baik-baik saja.

.

.

.

"Aah, aku lelah," ucap wanita bersurai merah muda itu sambil merebahkan tubuhnya di ranjang empuknya. Ia baru saja selesai membersihkan badan di kamar mandi. Ia merasa sangat lelah, melalui perjalan yang cukup lama dari Suna. Ah, belum satu hari kembalinya ke Konoha, ia jadi ingin kembali lagi ke sana.

Tapi, selelah-lelahnya Sakura, lebih lelah Sasuke. Ia yang menyetir mobil dan juga, ia harus ke kantor sekarang. Katanya banyak data perusahaan yang harus ia tanda tangani. Padahal, hari mulai sore. Sebaiknya 'kan ia istirahat dulu.

Krieet

"Hei, aku pergi dulu," ucap lelaki yang baru saja membuka pintu kamar Sakura, namun tidak memasuki kamar itu−hanya berdiri di dekat pintu. Ia terlihat rapi, sangat mempesona dengan pakaian kantornya.

"Kau pamit padaku? Tidak biasanya…" celetuk Sakura sambil mengubah posisinya menjadi duduk. Sasuke mendelik.

"Lupakan. Aku pergi dulu."

"H-hei…. Boleh tolong belikan Bimbimbap?" kata Sakura agak ragu, takut Sasuke menolak. Masalahnya, ia sangat ingin menikmati makanan khas Korea itu sekarang. Namun, yang didapatinya hanya wajah datar dan alis terangkat Sasuke.

"…Bim-bim-bap? Apa itu?" tanya Sasuke dengan wajah tanpa dosanya, membuat Sakura tertawa melihatnya.

"Kau orang kaya, tapi kampungan, ya! Hahaha!" ejek Sakura dan kembali tertawa.

Sasuke menatap tajam Sakura. "Kau mau kubelikan atau tidak?"

"Tentu saja! Kau beli di toko Kim-Jang Food, ya!"

"Hn."

.

.

.

"Kenapa orang itu lama sekali. Sebanyak itukah yang harus ia tanda tangani?" gumam Sakura gusar sambil memperbaiki posisi duduknya di sofa. Sedari tadi ia hanya mengutak-atik ponselnya, tidak tahu harus melakukan apa.

"Aku 'kan lapar−"

Tok Tok Tok

Seseorang mengetuk pintu dari luar, membuat Sakura harus berdiri dan berjalan dengan gontai menuju pintu. Ia sudah siap untuk mengeluarkan unek-uneknya kepada lelaki itu, kalau saja ia yang datang.

Krieet

"Kau lama sek−eh?"

Mata Sakura seketika itu terbelalak lebar saat melihat siapa orang dihadapannya. Perempuan itu…. Sakura menutup mulutnya tidak percaya. Tidak pernah menyangka-nyangka, perempuan itu akan kembali.

Perempuan itu−Shion, tengah tersenyum sinis ke arah Sakura.

"Apa kabar, Nyonya Uchiha?" ucapnya dengan nada menantang. Tanpa disuruh, ia mulai memasuki kamar Sakura dan mulai berjalan dengan santainya melewati Sakura yang tengah mematung.

Entah kenapa, ia merasa takut dan mulai merasakan hawa tidak enak di sekelilingnya.

"Kudengar, kau sudah hamil. Hmm, selamat, ya!" ujarnya dengan penuh penenakan di kata-katanya.

"…ada perlu apa?" tanya Sakura seraya berjalan menghampiri Shion.

"Aku ingin memberimu selamat, hanya itu," jawab Shion. Senyum licik terpeta di wajah cantiknya. "Di mana Sasuke?"

"Dia di kantor. Kalau ingin menemuinya, ke sana saja−"

"Tidak. Aku ingin bertemu denganmu, bukan dengannya, Nyonya Uchiha. Dan, baguslah kalau dia sedang di kantor."

"Eh?"

"Karena itu akan semakin memperlancar rencanaku, hahaha!" desis perempuan licik itu sambil berjalan menuju pintu. Ia menutup pintu yang tadinya terbuka dan menguncinya, lalu melempar kuncinya ke sembarangan arah. "Sudah dari kemarin aku menunggu melakukan ini, tapi ternyata kau tidak di sini. Jadi, kau akan mendapatkan bonus tambahan, Nyonya."

"…kau… apa yang akan kau lakukan, Shion?" tanya Sakura. Ia mulai berjalan mundur saat melihat Shion berjalan ke arahnya. Ia merogoh tasnya dengan jari lentiknya dan mengeluarkan sebuah benda yang sukses membuat mata Sakura membelalak untuk yang kedua kalinya.

"…pistol?" gumam Sakura. Sepertinya, kakinya mulai bergetar dan terasa lemas.

"Tenanglah, Nyonya. Ini tidak akan berlangsung lama, hanya sebentar."

"Tidak. Kau tidak boleh melakukan itu, Shion…."

"Kenapa? Kau takut?" ia semakin melangkah mendekati Sakura yang juga semakin mundur. Ia menatap tajam ke arah Sakura dan menyeringai licik−ia mulai menaikkan pistolnya. "Dulu sudah kubilang, kau tidak akan tenang, Sakura!"

"…tidak… jangan lakukan itu, Shion."

"Dan, sebentar lagi. Kau akan mati!" bentaknya sambil masih membidik pistolnya ke arah Sakura. Sakura hanya dapat menelan salivanya saat merasakan keadaannya terdesak. Punggungnya berbenturan dengan dinding putih di belakangnya.

"…jangan…" Sakura hanya dapat berucap lemah saat ia merasa seluruh anggota tubuhnya melemas.

"Bersiaplah, Uchiha Sakura!"

"…Sasuke aku takut…" gumam Sakura seraya berdoa dalam hati agar lelaki itu cepat-cepat pulang. Ia sangat takut berhadapan dengan Shion.

Tampak sebentar lagi peluru pistol itu melayang ke arah wanita itu.

Dor!

"…"

"…apa?" bingung Shion saat merasa tembakannya melenceng dan malah mengenai dinding di belakang Sakura. Sakura hanya bisa berdoa dan terus berdoa.

Sementara itu, satpam yang berada di bawah mulai curiga dengan bunyi pistol itu.

"Kau tidak beruntung, Sakura. Sekali lagi, ya!" ucap Shion dan lagi-lagi mengarahkan pistolnya ke arah Sakura.

Sakura lagi-lagi menelan salivanya. "…apa maumu, Shion?"

"Pertanyaan yang bagus! Aku hanya ingin melihatmu mati, itu saja."

"Apa salahku…?"

"Oh? Bahkan kau belum juga tahu kesalahanmu? Kau merebut Sasuke dariku, dasar bodoh!"

"Aku tidak merebutnya darimu, Shion… aku−"

"Tidak usah banyak bicara! Kau harus mati sekarang juga!"

BRAAAKK!

"APA-APAAN KAU, SHION!" teriak Sasuke yang baru saja muncul dari balik pintu yang telah didobrak. Shion menoleh cepat ke arahnya. Didapatinya Sasuke tengah menatapnya tajam. Dengan cepat Sasuke menghampiri Sakura yang tengah terduduk lemas.

"Oh… selamat datang Sasuke-kun!" ucap Shion sambil lagi-lagi tersenyum licik.

Tidak menanggapi kalimat Shion, Sasuke sibuk menatapi Sakura dan akhirnya ia cepat-cepat mendekap wanita itu. Ia khawatir, sungguh.

"Kau tak apa?" tanyanya ditengah-tengah surai merah muda milik Sakura. Ia mengusap keringat yang sempat mengucur dipelipis Sakura beberapa saat lalu.

Shion mendecih kesal melihat pasangan suami-istri itu. Cepat-cepat ia mengarahkan kembali pistolnya ke arah Sakura. "Sasuke-kun, kau minggirlah sedikit, aku ingin membunuh wanita keparat itu dulu, ya?"

"…Sasuke…" gumam Sakura saat merasa tidak kuat lagi untuk bertahan. Ia merasa pusing dan lemas.

"Aku di sini."

"Sasuke!" bentak Shion, kalimatnya benar-benar tidak digubris oleh lelaki itu.

Dengan pelan Sasuke melepaskan dekapannya pada Sakura dan menatap tajam Shion. Sungguh, ia sangat marah pada perempuan licik itu. Ia benar-benar tidak terima jika wanita musim semi itu diperlakukan kasar seperti itu. Ia tidak akan pernah terima itu.

"Kau perlu apa lagi, brengsek?" bentak Sasuke tajam dan menusuk, tatapan tajamnya menandakan bahwa ia sangat marah saat ini. Namun, perempuan itu hanya tersenyum sinis melihatnya.

"Uh, aku takut~ Sasuke-kun, aku hanya ingin melenyapkan kuman itu sebentar saja, kok!"

"Pergi kau dari sini!" bentaknya lagi.

"Tidak. Sebelum wanita itu mati, aku tidak akan pergi!" ucap Shion. Melihat ada celah untuk mengenai Sakura, ia cepat-cepat mengarahkan pistolnya dan−

"Hentikan!"

Dor!

"Aaakh!"

"S-Sasuke!"

Bukan. Bukan Sakura yang terkena peluru pistol itu, akan tetapi Sasuke. Peluru itu tepat mengenai bahu kiri Sasuke−berusaha menyelamatkan Sakura dari tembakan Shion. Dan perlahan tampak darah segar mulai keluar dari titik itu. Shion sendiri kaget dengan apa yang dilakukannya. Namun, ia kembali tersenyum licik.

"Melenceng lagi rupanya. Baiklah, Sakura akan menyusulmu Sasuke-kun!"

"...S-Sasuke…"

"Bersiaplah, Saku−"

"Hentikan perbuatanmu itu, nona," sebuah suara seorang pria mengagetkan Shion, dan ia pun menoleh ke belakang. Tampak lima orang polisi yang dibelakangnya berdiri Shizune dan seorang satpam. Tak lama, polisi itu pun menghampirinya dan dengan cepat mengunci tubuh Shion agar tidak bergerak, juga mengamankan pistol yang sudah mengenai Sasuke itu.

"Kau kami tangkap," ucap salah satu polisi bertubuh besar itu kepada Shion seraya memborgol tangannya dan cepat-cepat membawanya keluar karena perempuan itu mulai memberontak.

"T-tuan! Bertahanlah, kami sudah memanggil ambulance!" ucap Shizune khawatir seraya menghampiri Sasuke yang bersandar di dinding. Ia harus bertahan, walau terasa sakit.

"…S-Sakura…"

"Y-ya?"

"A-aku…"

Tak bisa. Ia merasa sulit untuk berbicara, namun, segera ia lemparkan senyum tulus ke arah Sakura. Sangat sakit, tapi entah kenapa ia merasa hangat. Ia bisa merasakan kehangatan dari genggaman tangan Sakura yang sangat erat. Perlahan penglihatannya mengabur, dan setelah itu, semua menjadi gelap gulita.

.

.

.

Benar, ini sudah benar. Kau sudah melakukan yang terbaik. Dan kau jangan lupa, janjimu pada Sasori sudah terlaksanakan dengan baik pula. Kau memang merasa sakit, tapi dibalik itu semua, kau mampu untuk tersenyum ke arah wanita yang tengah menatapmu khawatir. Kau bahagia karena berhasil melindunginya.

Ini semua sudah benar, tenang saja. Kau berhasil melindunginya. Dan kau kembali berjanji pada dirimu sendiri, untuk terus melindunginya.

Selalu melindunginya.

Kau akhirnya menyadari, bahwa kau takut kehilangannya. Dan…

sangat−

sangat mencintainya.

.

.

.

TBC!

Bimbimbap: Makanan khas kota Jeonju dan jadi salah satu menu populer di Korea. Makanan ini adalah nasi yang dicampur berbagai sayuran warna-warni, daging sapi, telur mata sapi setengah matang atau matang, dan juga Gochujang (pasta cabai).

Bacokan Author:

Huwehhehhe… hiks! /nangis dipojokan/ bisa-bisanya saya buat Sasuke seperti itu. jangan mati yaa /eh?/ Ya! Para readers dan reviewers-ku sekalian /ditendang/ bagaimana? Bagaimana menurut kalian? Apakah semakin hancur? /iya lah!/

Huwaaaaa chapter depan adalah chapter terakhir aliyas ENDING aliyas TAMAT aliyas HABIS aliya GAK NYAMBUNG-NYAMBUNG LAGI! Huhuu, tidak terasa ya? /apanya? Biasa aja kali/ Ne, kali ini aku tidak bisa balas review! Soalnya, neng Laura Pyordova ngebet banget supaya aku apdet cepet! Jadi, gitu deh~ /dibakar neng Laura karena bilang bilang/ gak papa ya, Laura-say? /iya say/ XDD

Yah, tapi, gak sedikit juga kok yg minta apdet cepet! XD

Nah, semuanya,TERIMA KASIH sudah meluangkan waktu untuk membaca chapter ini. Tunggu chapter depan yaaaa *hiks*

REVIEW AGAIN? THANK'S! *pelukciumsatu-satu*

.

.

Salam Jidat Ayam (ganti)

Uchiha Michiko-chan 'Elf