[REMAKE] Michiru Heya by Nekota Yonezou
.
.
Main Casts: Byun Baekhyun, Park Chanyeol
And others. Genre: Romance, Drama.
Rated: M
.
.
Warning: Yaoi, Some Age-Switch, OOC, No Children
Disclaimer: Cerita sepenuhnya milik Nekota Yonezou.
Saya hanya mengganti nama karakter dan beberapa hal lainnya agar sesuai.
.
.
Really hope you guys will enjoy this story~
Review, kritik dan saran sangat dinanti.
No bash. If you hate ChanBaek or hate this story then don't read.
Thank you.
.
.
Please read remaker's note in the end if you don't mind.
.
.
Chapter 10
Chanyeol melangkah pelan menyusuri koridor. Bel tanda jam sekolah berakhir baru saja berbunyi beberapa saat yang lalu. Seharian ini, Chanyeol sama sekali tidak bertemu dengan Baekhyun. Mungkin karena dia juga tidak sama sekali keluar dari dalam kelas dan mungkin juga Baekhyun sibuk dengan teman-temannya. Semua tidak masalah. Lagipula, Chanyeol akan menghabiskan sisa waktunya dengan Baekhyun di kamar nanti.
"Hey, casanova!"
Chanyeol menghentikan langkahnya dan berbalik ketika ia mendengar seseorang memanggil namanya. Dia melihat Jaehwan melangkah mendekatinya dengan senyum konyolnya seperti biasa.
"Dimana Baekhyun?" Tanya Jaehwan. "Kenapa dia tidak masuk kelas seharian ini? Apa dia sakit?"
Chanyeol mengerutkan dahinya. "Bukankah dia tadi pagi sarapan denganmu?" Chanyeol balik bertanya.
Jaehwan menggelengkan kepalanya. "Dia sama sekali tidak muncul di ruang makan pagi ini," jawabnya. "Dan dia juga sama sekali tidak muncul di kelas. Aku kira dia sakit."
Chanyeol berbalik dan berlari menuju kamar. Entah kenapa, perasaannya tiba-tiba saja tidak enak. Baekhyun sama sekali tidak kembali ke kamar sampai dia pergi ke sekolah pagi tadi. Baekhyun juga terlihat baik-baik saja, sama sekali tidak terlihat tidak enak badan.
Chanyeol membuka pintu kamarnya dan dia bisa melihat sepatu dan seragam Baekhyun tergeletak di atas lantai. Dia melangkah masuk dan telinganya menangkap suara seseorang meringis dan menangis dari dalam kamar mandi.
"Baek, kau di dalam?" Teriaknya sembari mengetuk pintu kamar mandi.
Tak ada jawaban.
Perlahan Chanyeol membuka pintu kamar mandi dan dia bisa melihat siluet Baekhyun di balik tirai bak mandi. "Baek, Jaehwan bilang kau tidak sekolah." Chanyeol berkata sembari melangkahkan kakinya mendekat. "Ada apa denganmu, Baek? Apa kau sedang sakit?"
"Tidak. Aku tidak apa-apa," Baekhyun menjawab dan Chanyeol bisa mendengar dengan jelas suara Baekhyun yang bergetar. Baekhyun benar-benar sedang menangis.
"Kau tidak terdengar tidak apa-apa, Baek." Chanyeol terus melangkah mendekat.
"Jangan mendekat!" Seru Baekhyun. "Please, jangan kemari..."
Chanyeol tidak mendengarkan Baekhyun. Dia mengangkat tangannya untuk menyibak tirai bak mandi dan kedua matanya melebar melihat Baekhyun memeluk lututnya dengan tubuh yang terendam di dalam bak mandi. Tangisan Baekhyun semakin terdengar jelas di telinga Chanyeol.
"Baek, ada apa?" Chanyeol menyentuh bahu Baekhyun, tetapi Baekhyun menepisnya.
"Pergi. Lebih baik kau pergi, Yeol!"
Chanyeol menggelengkan kepalanya. Dia meraih tangan Baekhyun dan menariknya agar Baekhyun mau berbalik kepadanya. Tak peduli Baekhyun terus meronta meminta agar Chanyeol melepaskannya, Chanyeol terus berusaha. Sampai akhirnya dia berhasil dan dia terkesiap melihat keadaan Baekhyun yang bisa dibilang sangat buruk. Kedua matanya bengkak karena menangis dan sudut bibirnya terlihat lebam. Tubuh Baekhyun juga tidak berhenti gemetar.
"Baekhyun, apa yang terjadi padamu?" Chanyeol berteriak dengan nada khawatir.
Baekhyun kembali menangis. Perlahan dia mengangkat kepalanya dan menatap Chanyeol dengan sedih. Tanpa pikir panjang, Chanyeol langsung melingkarkan kedua lengannya untuk memeluk Baekhyun erat dan Baekhyun hanya terus menangis sembari memanggil namanya.
Perlahan Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun dan menggendongnya. Dia mematikan keran shower dan kemudian melangkah membawa Baekhyun keluar dari kamar mandi. Dia meraih handuk kering dan juga jubah mandi milik Baekhyun dan dengan cepat mengeringkan tubuh Baekhyun yang menggigil.
"Bisa kau jelaskan ada apa sebenarnya?" Tanyanya kemudian.
Baekhyun mendengus pelan karena sisa sisa tangisnya. Dia menundukkan kepalanya dan menggenggam kedua tangannya erat. Chanyeol hanya diam menatapnya, menunggu Baekhyun menceritakan segalanya.
"Kemarin seorang laki-laki bernama Wu Yifan menghampiriku," Baekhyun berkata dengan suaranya yang serak. "Dia memintaku untuk menyuruhmu pindah dari kamar ini."
Chanyeol menatap Baekhyun terkejut. "Wu Yifan? Kenapa kau tidak memberitahukannya kepadaku?"
"Karena, aku pikir jika aku memberitahumu, kau akan mengikuti perintahnya dan pergi dari kamar ini," jawab Baekhyun. Air matanya perlahan jatuh lagi. "Aku tidak mau mengikuti perintahnya, karena itu pagi ini dia mendatangiku lagi dan dia mengatakan kepadaku kalau dia akan membuatku merasakan pengalaman yang pernah kau alami dulu..."
Chanyeol terbelalak. Pengalaman yang pernah dia alami dulu? Dia menggelengkan kepalanya tak percaya. Tidak mungkin. "Baek, kau..."
"Tidak!" Sahut Baekhyun memotong kalimat Chanyeol. "Dia tidak melakukannya."
Chanyeol terdiam dan kemudian menghela napas lega. Dia tidak tahu akan bagaimana jadinya jika Baekhyun mengalami hal yang pernah dia alami dulu. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Yifan melakukan hal itu kepada Baekhyun. Laki-laki itu benar-benar gila. Entah apa sebenarnya yang dia mau dari dirinya.
"Tetapi..." Baekhyun melanjutkan ucapannya. Dia kembali menangis tersedu-sedu. "Aku mengatakan padanya kalau aku akan mengikuti semua keinginannya. Laki-laki bajingan itu benar-benar menakutiku. Maafkan aku, Chanyeol. Aku hanya... Aku benar-benar takut jadi aku terpaksa mengatakan itu. Aku benar-benar malu kepada diriku sendiri."
"Kau melakukan hal yang benar, Baek," ucap Chanyeol.
"Tidak, aku tidak!" Baekhyun berkata dengan suara tegas dan mengalihkan pandangannya ke arah Chanyeol. Chanyeol bisa melihat air mata mengalir deras di kedua pipi Baekhyun. "Walaupun aku mengatakannya hanya karena ingin terbebas darinya, aku masih mengkhianatimu. Aku benar-benar marah kepada diriku sendiri. Ini benar-benar membuatku frustasi. Aku tidak akan melakukan apapun yang bajingan itu perintahkan padaku!"
Chanyeol terdiam. Dia menatap Baekhyun dengan perasaan bersalah yang luar biasa di dalam hatinya. Lagi-lagi seperti ini. Dia hanyalah pemberi masalah bagi kehidupan orang-orang yang dia cintai.
"Aku akan pergi," ucap Chanyeol pelan.
Kedua mata Baekhyun melebar karena terkejut mendengar ucapan Chanyeol. Dia kemudian berdiri dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Kau tidak akan pergi!" Serunya. "Tidak ada alasan bagimu untuk mengikuti keinginannya, Yeol!"
Chanyeol mendesah frustasi. "Tetapi..." bisiknya. "Aku tidak mau kau terlibat dalam semua masalah ini, Baek. Kau sudah terlibat dalam begitu banyak masalah sebelumnya karena aku, jadi..."
"Chanyeol!" Baekhyun mencengkeram kedua bahu Chanyeol erat. Kedua matanya menatap Chanyeol tajam dan napasnya terdengar terengah-engah karena rasa kesal. "Kau dengarkan aku! Berhenti berpikir kalau semua yang terjadi adalah salahmu!"
Chanyeol mengangkat kepalanya, membalas tatapan Baekhyun.
"Aku disini karena aku mencintaimu. Jadi, tolong jangan katakan hal seperti kau memberiku masalah atau apapun itu. Aku disini karena aku memilihnya, aku memilihmu. Aku mencintaimu. Jadi, tolong hentikan omong kosongmu itu dan berhenti berpikir semuanya adalah salahmu." Baekhyun berkata dengan nada tegas.
"Tapi..."
"Aku akan baik-baik saja," sela Baekhyun. "Ini... Ini bukanlah apa-apa. Aku bukan anak kecil. Tetapi dirimu... Dirimu hanyalah anak kecil ketika kau mengalami semuanya. Aku benar-benar tidak percaya kau bisa bertahan menahan segalanya sendiri."
Chanyeol menatap Baekhyun sendu. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca.
"Kau selalu sendirian selama ini, menahan semuanya sendiri. Aku benar-benar tidak percaya kau bisa menahan semua ini sendiri," Baekhyun berkata dengan suaranya yang bergetar.
"Maafkan aku." Chanyeol mengangkat tangannya untuk menutupi wajahnya dan mulai menangis. Mengingat saat itu. Saat dia harus menahan semua siksaan itu sendiri di saat usianya bahkan baru menginjak sebelas tahun. Menyadari betapa berat beban yang ia pikul sendiri selama ini. Membuat air matanya terus memaksa turun.
Baekhyun menggelengkan kepalanya dan menarik Chanyeol masuk ke dalam pelukannya. "Chanyeol, kau tidak sendirian sekarang," ucap Baekhyun dan mencium kepala Chanyeol lembut. "Aku disini. Aku bersamamu, dan aku berjanji aku akan melindungimu."
Baekhyun berjanji kepada Chanyeol, kepada dirinya sendiri, apapun yang terjadi dia tidak akan menyerah. Dia akan terus berada di samping Chanyeol. Melindungi Chanyeol.
.
.
.
.
Chanyeol dan Baekhyun melangkah berdampingan menuju kelas Baekhyun pagi ini. Kali ini, Chanyeol ingin memastikan Baekhyun benar-benar sampai ke kelasnya tanpa harus menghadapi gangguan dari Wu Yifan. Baekhyun mengatakan dia akan melindungi Chanyeol, dan Chanyeol juga akan berusaha semampunya untuk melindungi Baekhyun.
"Hey Baek!" Jaehwan melambaikan tangannya ketika dia melihat Baekhyun dan Chanyeol mendekat. "Pagi, casanova."
"Pagi," balas Baekhyun dan Chanyeol.
Jaehwan tersenyum, namun senyumnya seketika luntur ketika dia melihat lebam di sudut bibir Baekhyun. Sedetik kemudian, dia sudah berada tepat di hadapan Baekhyun dengan tangannya memegang dagu Baekhyun.
"Apa ini, Baek?" Tanya Jaehwan.
Tingkah Jaehwan membuat teman-teman Baekhyun lainnya, termasuk Sehun dan Jongin langsung mengalihkan perhatian mereka kepada Baekhyun. Sehun mengerutkan dahinya ketika ia juga menyadari apa yang terjadi dengan wajah Baekhyun.
"Baek, ada apa dengan wajahmu? Siapa yang melakukan ini padamu?" Tanyanya dengan nada khawatir.
"Ah ini," Baekhyun melepaskan tangan Jaehwan dari dagunya dan menunjuk lebamnya dengan jarinya. "Aku kemarin dihadang oleh beberapa senior."
"Apa?" Jaehwan, Sehun dan Jongin bertanya dengan nada tidak percaya kepada Baekhyun.
Tentu saja mereka tidak percaya. Selama ini, Baekhyun tidak pernah terlibat masalah dengan murid lain, terutama seniot. Baekhyun adalah anak yang ramah dan baik hati. Semua orang menyukainya.
"Iya," Baekhyun menganggukkan kepalanya sembari tertawa. "Dan untuk pertama kalinya di dalam hidupku, aku merasakan bagaimana rasanya dipukuli."
Baekhyun mengatakan semuanya tanpa beban, membuat yang lain menatapnya dengan tatapan apa-apaan dirinya ini. Chanyeol hanya memperhatikan tanpa membuka mulutnya sejak tadi.
"Lihat lebam ini." Kali ini Sehun yang mengangkat tangannya untuk memeriksa lebam di sudut bibir Baekhyun. "Apa masalah orang itu sehingga membuatmu menjadi seperti ini. Apa boleh buat, mulai saat ini aku dan yang lain akan menjagamu. Jadi, orang-orang itu tidak akan punya kesempatan mendekatimu dan melakukan ini kepadamu lagi."
"Ya, jika mereka kembali. Kami akan membuat mereka menyesal sudah melakukan hal ini," ucap Jongin sembari menunjukkan kepalan tangannya.
Baekhyun hanya tertawa. Di saat seperti ini, Baekhyun benar-benar merasa bersyukur memiliki teman seperti mereka. Chanyeol di belakangnya juga menghela napas lega. Setidaknya, masih banyak yang akan melindungi Baekhyun ketika dia tidak sedang bersama Baekhyun.
.
.
.
.
Chanyeol berjalan pelan menyusuri koridor. Di tangannya, ia menggenggam selembar check yang baru saja dikembalikan oleh institusi sosial. Sesungguhnya, Chanyeol sama sekali tidak mengira check ini akan dikembalikan. Tetapi dengan begini dia memiliki alasan untuk menemui Luhan. Dia memiliki rencana untuk menghadapi Wu Yifan dan dia membutuhkan Luhan untuk itu.
Chanyeol menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar Luhan. Dia menarik napas panjang sebelum akhirnya mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu. Dan tidak membutuhkan waktu lama, Luhan sudah membuka pintu kamarnya.
"Selamat sore, sunbae-nim," sapa Chanyeol.
Kedua mata Luhan melebar terkejut melihat Chanyeol di hadapannya, kemudian ia mengerutkan dahinya bertanya-tanya. "Chanyeol? Ada apa?" Tanyanya.
Chanyeol menyerahkan check yang ada di tangannya kepada Luhan. "Terima kasih," ucapnya kemudian. "Aku kira akan membutuhkan waktu lama untuk mengembalikannya, tetapi ternyata aku tidak jadi menggunakannya."
Luhan menatap check itu sebentar sebelum akhirnya menerimanya. Di dalam hatinya, dia merasa sedikit kecewa karena ini berarti nanti ketika dia meninggalkan tempat ini maka dia tidak akan bisa bertemu dengan Chanyeol lagi.
"Dan juga sunbae-nim..."
Luhan mengangkat kepalanya.
"Aku ingin meminta tolong, tetapi kali ini bukan soal uang."
.
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam. Perlahan Chanyeol membuka kedua matanya ketika telinganya mendengar dengkuran halus dari Baekhyun. Dia menghela napas panjang. Kedua tangannya terangkat untuk menyapu rambut Baekhyun yang menutupi keningnya kemudian ia menempelkan ciuman di sana.
"Aku akan melindungimu," bisiknya pelan.
Dengan sangat hati-hati Chanyeol kemudian beranjak dari atas ranjang. Dia melangkah keluar dari kamar dan menutup pintu di belakangnya dengan sangat pelan. Setelah mengumpulkan keberaniannya, dia mulai berjalan menyusuri koridor yang gelap. Sekarang adalah saat baginya menghadapi rasa takutnya. Demi Baekhyun, dan juga demi dirinya sendiri.
Chanyeol menghentikan langkahnya tepat di depan pintu gereja. Setelah menarik napas panjang dan meminta maaf atas hal yang akan dia lakukan, dia melangkah masuk ke dalam gereja. Disana, dia bisa melihat Wu Yifan sudah menunggunya. Seringai lebar muncur di wajahnya ketika ia melihat kedatangan Chanyeol.
"Aku benar-benar tidak menyangka kau akan mengajakku untuk bertemu kali ini," ucap Yifan ketika Chanyeol sudah berada di hadapannya. "Aku kira kau sudah tidak mau lagi berurusan denganku. Tapi, sepertinya kau memang tidak bisa membiarkan mainan kecilmu itu disakiti."
"Sunbae-nim..." Chanyeol mulai berbicara. "Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan. Aku akan tidur denganmu jika itu yang kau mau, tetapi tolong jangan ganggu kami. Jangan ganggu Baekhyun lagi."
Yifan mengerenyitkan dahinya. Kemudian dia mendengus dan dengan kasar menarik tangan Chanyeol. Tangannya yang lain menangkup dagu Chanyeol dan mendekatkan wajah mereka. Chanyeol tidak melawan. Ia hanya menatap Yifan dengan tatapan datar.
"Setelah membuatku seperti orang bodoh. Apa yang sedang kau coba lakukan sekarang?" Yifan menggeram di tengah gigi-giginya yang terkatup. Kemarahan terlihat dengan sangat jelas di kedua matanya.
Chanyeol tak menjawab.
Yifan tertawa keras. "Jadi..." bisiknya. "Sekarang kau memilih untuk menyelinap di belakang kekasihmu itu untuk tidur denganku hah? Itu benar-benar seperti dirimu. Pelacur kotor yang tidak tahu diuntung."
Chanyeol tetap tidak menjawab. Kedua matanya terasa panas karena air mata yang memaksa untuk keluar, tetapi Chanyeol berusaha keras untuk menahannya. Dia terus mengucapkan nama Baekhyun di dalam hatinya bagaikan mantera. Berharap hal itu bisa menguatkan dirinya. Semua demi Baekhyun.
"Sekarang bagaimana kalau kau menciumku untuk memulai semuanya?" Yifan menyeringai. "Kau bisa melakukannya kan? Kau tidak ingin menjadi masalah bagi kekasih kecilmu itu lagi kan? Jika memang begitu, lebih baik kau lakukan itu sekarang."
Yifan melepaskan cengkraman tangannya dan mengusap pipi Chanyeol dengan jarinya.
"Park Chanyeol, buat aku bergairah!" Perintah Yifan kemudian.
Chanyeol perlahan mengangkat tangannya yang gemetar menyentuh dada Yifan. Dia memejamkan kedua matanya ketika dia mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah Yifan. Dalam hati dia meminta maaf kepada Baekhyun ketika bibirnya dan bibir Yifan bersentuhan. Namun, baru saja Chanyeol mengeluarkan lidahnya untuk menyentuh bibir Yifan, Yifan mencengkeram rambutnya erat dan menjauhkan wajah mereka berdua.
"Jangan gunakan lidah kotor sialanmu itu!" Serunya marah. "Tidak ada yang tahu ada berapa laki-laki yang sudah kau hisap penisnya dengan lidahmu itu. Itu menjijikkan. Kau bisa membuatku muntah karena itu.
Chanyeol tak membalas ucapan Yifan. Dia hanya menundukkan kepalanya.
"Kau benar-benar diam malam ini," gumam Yifan mengerutkan dahinya. "Kau benar-benar tidak menyenangkan. Aku sama sekali tidak bergairah jika kau diam seperti ini. Seharusnya kau membalas ucapanku dengan mulutmu yang pintar itu seperti biasa!"
Chanyeol menghela napas panjang dan kemudian mengangkat kepalanya untuk menatap Yifan tajam. "Jika itu yang kau mau, maka apa yang bisa kulakukan?"
Yifan melayangkan satu pukulannya ke wajah Chanyeol, membuat Chanyeol mengerang kesakitan. Dia hampir jatuh, tetapi kepalanya masih ditahan oleh cengkraman Yifan.
"Kau sudah membuatku terluka karena selalu menolakku dan juga sudah membuatku seperti orang bodoh waktu itu. Kau... Laki-laki kotor tidak tahu diuntung. Bisa-bisanya kau melakukan semua itu kepadaku. Aku akan menghajarmu sampai habis. Lihat saja, kau akan menyesal dan memohon kepadaku setelah ini!"
Chanyeol tak menjawab.
Yifan mendengus kemudian mendorong tubuh Chanyeol hingga ia terbaring di atas kursi gereja. Chanyeol tak melakukan apa-apa ketika Yifan mulai melepas celana yang ia pakai. Dia bisa merasakan tangan Yifan mulai menyentuh kejantanannya, tetapi dia tetap diam saja. Begitu juga ketika Yifan mulai memasukkan kejantanannya ke dalam mulutnya. Dia sama sekali tidak melakukan apa-apa untuk melawan perlakuan Yifan.
Chanyeol melirik ke arah jam besar di bagian depan gereja. Sebentar lagi, ucapnya dalam hati. Dia harus menahannya sebentar lagi.
Yifan terus menjilat dan menghisap kejantanan Chanyeol. Namun entah kenapa kejantanan Chanyeol sama sekali tidak mengeras. Membuatnya menjadi begitu frustasi saat ini.
"Sialan!" Seru Yifan sembari mengeluarkan kejantanan Chanyeol dari mulutnya. "Ada apa denganmu hah? Kau ini impotent atau apa?"
Chanyeol terdiam sebelum akhirnya ia tertawa. Dia menatap Yifan mengejek dan menggelengkan kepalanya. "Mungkin ini hanya karena nafasmu yang bau itu. Dari tadi nafasmu itu benar-benar menggangguku. Kejantananku bahkan tidak bisa mengeras karenanya. Atau mungkin, karena kau memang tidak pandai dalam hal ini," ucap Chanyeol di tengah tawanya.
Yifan memandang Chanyeol marah. Dan sedetik kemudian Chanyeol merasakan kepalanya terbentur di lantai dengan keras. Saking sakitnya, teriakannya bahkan sampai tertahan di tenggorokannya, membuatnya susah bernapas.
"Kau benar-benar tidak mengerti tentang posisimu hah?!" Teriak Yifan murka. "Atau kau memang ingin aku menghajarmu dan memperkosamu sampai mati?! Kejantananmu tidak bisa mengeras kecuali aku memperlakukanmu seperti kakakku, benar begitu?!"
Chanyeol membalas tatapan Yifan tanpa takut. "Memperlakukan Baekhyun seperti kemarin," gumamnya. "Kau seharusnya berterimakasih kepada Tuhan karena dia membiarkanmu lari."
Yifan terdiam. Entah kenapa mendengar ucapan Chanyeol barusan membuatnya merinding. Chanyeol menyeringai melihat Yifan yang terlihat ketakutan. Dan senyumnya semakin lebar ketika dia mendengar suara pintu gereja dibuka.
"Apa ada seseorang di dalam?"
Yifan tersentak kaget ketika dia mendengar suara seseorang. Dia menoleh dan dia bisa melihat salah satu pastur melangkah masuk dan terlihat terkejut melihat dirinya dan Chanyeol.
Dengan susah payah, Chanyeol menyingkirkan tubuh Yifan dan merangkak mendekati pastur yang baru datang itu. Dia mulai menangis dan berlutut sembari mencengkram pakaian pastur itu erat. Membuat Yifan seketika panik di tempatnya.
"Tolong selamatkan aku," ucap Chanyeol di tengah tangisnya. "Sunbae-nim... Dia memaksaku. Dia... Dia mencoba untuk memperkosaku. Tolong selamatkan aku, pastur. Tolong aku."
Pastur itu menatap Yifan dengan tatapan marah. Membuat Yifan membeku di tempatnya. "Beraninya kau!" Seru pastur itu. "Apa yang kau lakukan? Beraninya kau melakukan hal ini di hadapan Tuhan!"
Yifan menggelengkan kepalanya. "Itu tidak benar!" Bantahnya. "Dia... Dia yang mencoba merayuku dan menjebakku! Jangan percaya dengan omongannya. Dia berbohong!"
"Jangan dengarkan dia, pastur..."
Chanyeol melirik ke arah pintu dan dia bisa melihat Luhan melangkah masuk. Chanyeol tersenyum tipis karenanya. Rencananya berhasil. Semua ini pasti berhasil.
"Dia sudah sering mengancam Chanyeol, dan bahkan dia juga kemarin melakukan hal yang sama pada teman sekamar Chanyeol," lanjut Luhan. "Karena itu aku meminta pastur untuk memeriksa gereja malam ini. Laki-laki bejat ini harus dihentikan!"
.
.
.
.
Luhan memandang Chanyeol yang tengah ditangani dokter dengan khawatir. Chanyeol harus menerima beberapa jahitan di kepalanya karena kepalanya yang terbentur di lantai dengan cukup keras. Dia bersyukur dia tidak terlambat. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Chanyeol jika dia terlambat.
"Kau sudah benar-benar menolongku, sunbae-nim," ucap Chanyeol tersenyum ketika dokter yang menanganinya sudah meninggalkan mereka berdua. "Tapi sekarang aku sudah tidak apa-apa. Jadi kau tidak perlu khawatir."
"Maafkan aku," Luhan menatap Chanyeol dengan kedua matanya yang berkaca-kaca. "Seharusnya aku bisa datang lebih cepat sebelum dia bisa melukaimu seperti ini."
"Pekerjaanmu sempurna, sunbae-nim," Chanyeol tersenyum lebar, memuji dan berusaha menenangkan Luhan. "Lagipula, jika aku tidak terluka, pastur tidak akan percaya jika aku memang benar-benar diserang oleh Yifan. Selain itu, aku juga minta maaf karena sudah membuatmu berada di posisi yang sulit. Sekali lagi, terima kasih."
Luhan menganggukkan kepalanya.
Tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki yang keras. Chanyeol dan Luhan saling mengerutkan dahi mereka dan kemudian menoleh. Sedetik kemudian, mereka bisa melihat pintu ruang kesehatan yang dibuka dan Baekhyun muncul disana. Chanyeol tersentak di tempatnya. Baekhyun terlihat begitu marah. Baru kali ini Chanyeol merasa Baekhyun begitu menyeramkan di matanya.
Baekhyun melangkahkan kakinya cepat mendekat ke arah Chanyeol dan dengan sebal dia memukul kepala Chanyeol. "Kau benar-benar bodoh!"
Chanyeol memejamkan matanya, siap menerima serangan lain dari Baekhyun. Namun Baekhyun kini terdiam. Tubuhnya gemetar dan air mata mulai jatuh dari kedua matanya ketika dia melihat perban yang menutupi beberapa bagian di kepala dan wajah Chanyeol.
"Jangan bilang kau melakukan semua ini untukku," bentak Baekhyun. "Kau pikir aku akan senang melihatmu seperti ini? Apa yang ada di dalam pikiranmu, hah?"
"Tenanglah, Baek," Luhan mencoba menenangkan Baekhyun. "Dengarkan dulu penjelasan dari Chanyeol."
Baekhyun terdiam. Dia terlihat terengah-engah karena menahan emosinya.
"Tidak," ucap Chanyeol pelan. "Ini semua demi diriku sendiri."
Baekhyun mengangkat kepalanya.
"Aku ingin bersamamu," Chanyeol melanjutkan. "Berpisah denganmu, atau membuatmu berada di dalam bahaya. Semua hal ini adalah hal yang tidak pernah aku inginkan untuk terjadi."
Baekhyun semakin tersedu-sedu. "Dasar bodoh," ucapnya pelan. Dia mengangkat kedua tangannya untuk menyentuh wajah Chanyeol lembut dan kemudian memeluk Chanyeol dengan erat. "Kau pikir aku akan memaafkanmu, hah? Melakukan semua ini karena alasan itu. Jangan pernah ulangi hal seperti ini lagi. Kau benar-benar bodoh."
Chanyeol tersenyum dan membalas pelukan Baekhyun. Menguburkan wajahnya di dada Baekhyun. "Ya, aku berjanji padamu," jawabnya.
Luhan terdiam di tempatnya memandang interaksi Chanyeol dan Baekhyun di hadapannya. Dia menatap Chanyeol dan dia benar-benar kaget melihat Chanyeol yang seperti ini. Baekhyun benar-benar luar biasa. Bisa membuat Chanyeol berubah dan juga terlihat begitu mencintainya.
"Kalau begitu," ucap Luhan kemudian. "Sebaiknya aku pergi."
Chanyeol dan Baekhyun melepaskan pelukan mereka sebelum berbalik menatap Luhan. Mereka merasa sedikit tidak enak dan canggung karena baru sadar Luhan masih berada disini bersama dengan mereka.
"Luhan sunbae-nim, terima kasih banyak sudah banyak membantuku malam ini," ucap Chanyeol tulus. Baekhyun di sampingnya tersenyum ke arah Luhan.
"Ah, ini bukan apa-apa. Kalau begitu, aku tinggal dulu. Sampai nanti," Luhan menganggukkan kepalanya dan melangkah pergi meninggalkan ruangan kesehatan.
Di balik pintu, Luhan menghentikan langkahnya. Dia memegang dadanya yang terasa nyeri dan tersenyum sedih. Ini adalah akhir yang menyakitkan baginya. Melihat Chanyeol dan Baekhyun begitu saling mencintai, menyadarkannya bahwa dia benar-benar tidak memiliki kesempatan untuk memiliki Chanyeol.
Setidaknya, dia sudah melakukan hal yang benar dan membantu Chanyeol malam ini. Setidaknya, Chanyeol kini memandangnya sebagai seseorang yang bukan sekedar hanya klien yang membutuhkan seks darinya. Dan karena ini, Luhan benar-benar bersyukur, jadi dia bisa menjauh dengan hati yang lega dan tanpa beban.
Baekhyun menghela napas panjang melihat kepergian Luhan. "Kalau begitu, aku juga harus kembali ke kamar sekarang," ucapnya. "Kau istirahat dan tidurlah disini."
"Huh? Kalau begitu aku ikut denganmu ke kamar!" Sahut Chanyeol mencoba beranjang dari atas ranjangnya.
Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Lagipula, untuk malam ini aku tidak ingin berada di dalam ruangan yang sama denganmu dulu."
Chanyeol menatap Baekhyun kaget.
"Apa kau tahu, caramu melakukan ini semua benar-benar membuatku takut," Baekhyun menjelaskan. Dia menundukkan kepalanya, tidak mampu menatap Chanyeol. "Dan juga... Walaupun kau bersamaku, kau baru saja bersama dengan laki-laki lain. Itu hanya terasa... kotor."
Chanyeol tersentak. Dia bisa melihat Baekhyun menangis sebelum Baekhyun melangkah meninggalkannya sendiri di ruangan ini. Chanyeol benar-benar bingung saat ini. Dia menundukkan kepala menatap kedua tangannya yang berada di pangkuannya, bertanya-tanya apa yang salah kali ini. Dia merasa dia sudah melakukan hal yang benar, tetapi kenapa dia merasa kalau untuk kesekian kalinya dia gagal lagi?
.
.
.
.
Baekhyun menikmati sarapannya sendirian disini. Sejak semalam dia meninggalkan Chanyeol sendirian di ruang kesehatan, dia sama sekali tidak mendatangi Chanyeol lagi. Dia sebenarnya merasa bersalah, tetapi dia benar-benar merasa kesal. Dan dengan begitu, Baekhyun merasa mungkin Chanyeol bisa sadar bahwa yang dia lakukan benar-benar membuatnya marah.
"Pagi, Baek!"
Baekhyun mengangkat kepalanya dan dia melihat Jaehwan sudah duduk di hadapannya. "Pagi," jawab Baekhyun datar.
Jaehwan terdiam melihat tingkah laku Baekhyun. Dia kemudian mengingat sesuatu yang baru saja dia dengar ketika dia sedang dalam perjalanan menuju ruang makan. "Baek, apa kau sudah mendengar tentang rumor yang baru saja tersebar?" Tanyanya.
Baekhyun terdiam.
"Aku dengar kalau semalam salah satu pastur menangkap seorang senior yang sedang mencoba memperkosa si casanova," jelas Jaehwan. "Dan kau tahu, senior yang ditangkap itu adalah senior yang kemarin memukulimu."
"Ya..." Baekhyun mencengkeram garpunya erat mendengar ucapan Jaehwan.
"Semua ini membuatku bertanya-tanya," Jaehwan melanjutkan ucapannya. "Ada kemungkinan kalau si casanova itu menjebak senior itu. Kau tahu, dia melakukannya untuk membalas dendam untukmu."
Baekhyun menundukkan kepalanya.
"Si casanova itu... Dia ternyata bisa melakukan hal menyeramkan seperti itu juga. Sepertinya, dia benar-benar peduli padamu."
"Apa maksudmu?" Tanya Baekhyun.
"Well..." Jaehwan tersenyum menatap Baekhyun. "Sejak dia dekat denganmu, dia menjadi lebih terbuka dan mau bergaul dengan banyak orang dan dia juga mau belajar bersama dengan kita, padahal aku tidak pernah melihat dia seperti ini sebelumnya. Dia melakukan semua yang tidak pernah dia lakukan karenamu. Kau pasti sangat berharga baginya, dan dia pasti sangat marah ketika dia tahu kalau ada seseorang menyakitimu."
Baekhyun tak menjawab.
"Tetapi, walaupun begitu, dia tetap terlalu berlebihan bagiku," lanjut Jaehwan. "Aku tahu dia pasti marah karena kau dipukuli, tetapi seberapa berharganya dirimu baginya, kau kan hanya temannya. Sama sepertiku. Kau bukan keluarga atau kekasihnya kan?!"
Baekhyun terdiam di tempatnya. Kekasih. Mereka adalah sepasang kekasih walau semua orang tidak tahu soal itu. Kini rasa bersalah Baekhyun terasa makin besar seusai mendengar semua ucapan Jaehwan. Baekhyun teringat kata-kata yang ia ucapkan pada Chanyeol semalam. Dia tersadar mungkinkah dia melukai Chanyeol dengan semua ucapannya itu. Baekhyun menganggukkan kepalanya. Chanyeol pasti sangat terluka karena ucapannya semalam.
"Baek, kenapa kau menangis? Astaga!" Jaehwan berkata panik ketika dia melihat air mata menetes di pipi Baekhyun.
Baekhyun tak menjawab. Dia menangis semakin keras.
"Baek, maafkan aku. Aku tidak bermaksud! Astaga Baek, berhenti menangis!"
.
.
To be continued...
.
.
Lol. Jaehwan~
Dan tenang guys, Baekhyun gak jadi diapa-apain sama Yifan kok dan Chanyeol juga udah ngebales perbuatan Yifan ke Baekhyun.
Tetapi semuanya belum selesai. Si Baekhyun juga jadi marah tuh sama si Chanyeol. huhu
Next chapter bakalan jadi chapter terakhir dari cerita ini~
Berdoa saja semuanya bakalan terselesaikan di chapter terakhir nanti dan ChanBaek bakalan baik-baik aja yaa. Hoho
Terima kasih banyak buat yang udah review dan kasih semangat di chapter sebelumnya:
brinabaek, aupaupchan, MeAsCBHS, shinshiren, 90Rahmayani, Guest, hyuniee86, byuncheeseu, Guest, park yeolna, WinterJun09, chxxanyexxol, Mybeeeeeee, alietha dolll, Guest, yousee, piggy69, n3208007, CussonsBaekby, Guest, NwgCB, NawCB, Guest
I'm so sorry aku gak bisa balesin review kalian satu-satu kali ini karena aku mau buru-buru ke bandara. Huhuhu
Pokoknya terima kasih banyak buat kalian. You guys are the best and I love you guys so freaking much!
See you soon in the last chapter and as always, jangan lupa tinggalkan jejak~ Hehe
Bubye aeris~
