Story belong Lhyn Hatake
Cast Belong them self
Chanbaek/BaekYeol – GS
.
CHILDREN NOT ALOWED!
.
Yang kemarin nanya dimana NCnya… perhatikan bagian ini…. (aku capslock dan bold)-
-CHAPTER 9
.
Untuk seminggu berikutnya, kami terjebak dalam aksi saling diam. Tak ada seorangpun dari kami yang ingin memulai pembicaraan. Kami masih melakukan banyak kegiatan bersama seperti hari-hari sibuk Chanyeol sebelum ini. Hanya saja, sekarang kami melakukannya tanpa kata.
Ini tidak biasa. Biasanya aku tak akan tahan untuk mendiamkan Chanyeol lebih dari dua hari, pun sebaliknya dengan Chanyeol. Biasanya saat seorang diantara kami diam, maka yang lainnya akan mencoba menyenangkan hatinya agar mau kembali bicara.
Kadang aku merasa bersalah, tapi rasa marah juga masih menutupi perasaanku. Kadang aku ingin memulai untuk bicara padanya, tapi kadang aku juga merasa cukup kesal untuk melakukannya.
Tapi siang ini aku merasa berbeda. Aku merasa begitu merana dengan sikap Chanyeol yang seperti itu. Hari ini aku ingin sedikit mengalah, aku ingin mengundang namja itu untuk makan ice cream bersama ditoko favorite kami. Jadi aku menelponnya dan dia menjawabnya setelah dering yang cukup lama.
"Halo, Chanyeol…"
"Hai, Baekhyun. Ada apa?"
"Umm… apa sekarang kau sibuk? Maksudku, aku ingin mengundangmu makan ice cream, aku yang traktir," aku merasa sedikit kaku.
"Oh, Maaf Baeki, aku cukup sibuk saat ini," dan jawabannya membuatku kecewa.
"Begitu, baiklah—"
"Kau bisa datang kalau mau, bawakan aku cup ice cream pisang yang besar."
"Oh, ya tentu saja," aku tersenyum. "Sampai jumpa."
Setelah menutup ponselku, aku memesan dua porsi makan siang dan satu ice cream pisang cup satu liter yang cukup besar untuk kami berdua. Aku menggunakan taksi agar lebih cepat sampai karena tak mau ice creamku terlalu lama berada dijalanan yang panas.
Aku sudah pernah kegedung ini sebelumnya –dengan sedikit insiden saat itu– jadi aku tak perlu lagi ke reseptionis melainkan langsung menuju ke salah satu liftnya dan menunggu. Saat lift terbuka, beberapa orang keluar sementara aku dan beberapa yang lainnya masuk. Beberapa orang menekan tombol lantai mereka, tapi tak seorang pun yang menekan lantai dua puluh delapan, jadi aku menekannya.
Setelahnya, aku merasa beberapa orang mengawasiku. Perasaanku jadi sedikit tak nyaman, terutama karena kedatanganku sebelumnya justru membuat sedikit keributan di cafeteria. Mungkin beberapa dari mereka mngingat wajahku, wajah si pembuat kekacauan.
Lift berhenti dibeberapa lantai untuk menurunkan atau menaikkan orang-orang berikutnya. Tapi ketika lift itu sampai di lantai dua puluh delapan, hanya aku yang keluar.
"Minseok Unnie!" aku segera menyapanya dan yeoja yang tengah fokus pada layar laptop itu terkejut.
"Hai, Baekbyun! Kau sudah datang, chanyeol bilang kau akan datang!" dia berseru dan melompat dari kursinya untuk berdiri dan memelukku. "Apa kabarmu? Kau terlihat sehat."
"Tentu saja aku sangat sehat, Unnie bagaimana? Apa seorang bayi sudah mengisi perutmu?"
"Umm… tanyakan pada salah satu kesatuan keamanan rumah tempatmu tinggal," dia mengusap perutnya penuh dengan misteri.
"Ya, akan kutanyakan nanti. Bagaimana Chanyeol? Apa yang sedang dia lakukan?"
"Oh, dia tidak di dalam. Zitao datang beberapa menit yang lalu dan mengajaknya makan siang. Chanyeol bilang kau bisa menunggunya di dalam atau menyusul mereka ke cafeteria."
Aku kecewa. Dia bilang cukup sibuk untukku tapi masih menyempatkan makan siang bersama tunangannya.
"Unnie, kau sudah makan? Aku bawa dua, untukmu dan Chanyeol," aku mengangkat bingkisan di tanganku. "Dan cup ice cream khusus untuk Chanyeol, tapi kau boleh memakannya kalau Chanyeol mengijinkan." Aku tersenyum, "Aku titipkan ini padamu ya? Aku tak bisa lama, masih ada kuliah," kataku berbohong.
Minseok terlihat ingin membantahku, tapi aku segera menambahkan "Sampai Jumpa," dan berbalik kembali ke lift. Aku kembali turun dengan perasaan yang berbanding terbalik dengan saat aku naik. Saat aku keluar dari lift dan berjalan menuju keluar gedung, sesaat aku melihat ke arah cafetaria dan aku melihat dengan jelas Chanyeol dan Zitao duduk berhadapan dimeja yang sama.
Perasaanku semakin kecewa saat melihat Chanyeol yang tersenyum dan bicara dengan bebas bersama yeoja lain sementara saat ini dia masih mendiamkanku. Aku berlari cepat meninggalkan gedung itu dan berjalan dengan gamang setelahnya.
Halte bus cukup kosong jadi aku bisa duduk dikursinya untuk menunggu dan termenung. Apa yang sebenarnya kuharapkan? Seperti apa persisnya hubungan kami saat ini? Apakah Chanyeol masih menginginkanku untuk menunggunya? Apakah dia masih mengharapkan kesabaranku? Sampai kapan? Sampai kapan dia berharap aku terus bersabar dan menunggunya seperti ini?
Ya Tuhan. Pikiranku kacau sekali.
Bus ku datang dan aku segera naik, menggesek kartu bus ku di samping supir dan duduk di kursi kosong terdekat. Aku menggeser tasku kepangkuan saat aku duduk dan kembali termenung. Aku mencari-cari sesuatu di dalam tasku dan menemukannya… sebuah kotak berbeludru hitam.
Aku membukanya, sebuah cincin dengan permata ungu gelap yang cantik. Sejak Yifan memberikannya, aku tak tahu bagaimana cincin ini semakin membuatku berharap padanya. Pada sebuah cincin kecil. Aku belum pernah memakainya, jadi tak tahu apakan ukurannya pas dijariku atau tidak.
Sejenak, aku mempertimbangkan untuk memakainya, hanya memakainya. Namun sekejap kemudian keinginan itu hilang. Aku menutup kembali kotak itu dan memasukkanya lagi kedalam tas.
Lalu aku merasakan bus berhenti, tapi tujuanku masih jauh, jadi aku mengabaikannya. Aku mengeluarkan ponselku, menguraikan kabel headset ku saat suara yang sangat kurindukan memanggilku.
"Baekhyun!"
Aku terkejut mendongak menatap Chanyeol.
"Chanyeol? Apa yang terjadi?" tanyaku bingung.
Chanyeol tak menjawabku, dia justru membungkuk dan meminta maaf pada penumpang lain karena mengganggu perjalanan bus mereka. Setelahnya, dia menarikku keluar dan berjalan cepat kearah mobilnya, melajukan mobilnya agar tak menghalangi bus dan dia membawaku kembali ke gedung Phoenix.
Dia memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang cukup ekslusif dan kembali menggandengku keluar dari mobilnya.
"Chanyeol, biarkan aku pulang," aku memohon sementara dia tetap menganggdeng tanganku memasuki gedung.
"Aku berpesan supaya kau menungguku atau menyusulku ke cafeteria, bukan pulang Baekhyun," kami memasuki lobby dan aku menunduk rapat. Memalukan sekali aku kembali kesini dalam seretan paksa seorang Park Chanyeol.
Saat Chanyeol menggunakan lift, tak seorang pun ikut masuk hingga hanya kami berdua didalam lift. Bahkan bila lift berhenti dan membuka untuk siapapun yang menunggu, orang itu akan memilih tak masuk hingga pintu lift kembali menutup.
"Aku tak bisa bergabung denganmu dan Zitao," aku berkata pelan dan rendah.
"Kenapa tidak? Kami hanya mengobrol biasa dan kau bisa bergabung kapan—"
"Chanyeol mengertilah, apapun yang berhubungan dengan Zitao itu menyakitiku!"
Aku melihat bahu Chanyeol yang berubah tegang, aku ingin menunduk tapi Chanyeol mencegahnya dengan menahan daguku. Matanya menatapku lekat.
"Baekhyun… kena-masudku…" dia terlihat bingung. "Baekhyun, kau masih percaya padakukan?"
Aku merasa ini pertanyaan yang sangat tepat saat ini. "Aku percaya padamu, sangat percaya padamu. Hanya saja…" sebuah tawaran dari seorang namja yang berlutut dikakiku sangat menggodaku.
"Hanya saja…?" dia menuntutku mengucapkannya.
"…" dan aku tak bisa.
"Baekhyun," dia meraih kedua pundakku. "Kumohon percayalah padaku."
"Kubilang aku percaya padamu, hanya saja aku tak tahu sampai kapan aku bisa menggantungkan hatiku pada apa yang sedang kau lakukan yang bahkan aku tak tahu apa itu!" aku mengucapkannya terlalu cepat. "Aku tak tahu kapan hatiku akan hancur! Melihat kau dan Zitao semakin dekat selalu menyakitiku dari waktu ke waktu, aku hemph!—"
Dia membungkam bibirku dengan bibirnya. Memberi sebuah kecupan yang menuntut tajam namun singkat.
"Sedetikpun, bahkan hanya sesaat aku tak pernah berniat untuk menyakitimu. Sedetikpun, tak ada orang lain dihatiku selain kau. Meski hanya sedetik Baekhyun," aku tahu ucapannya benar, sebuah kejujuran yang terang terlihat dari matanya.
"Byun Baekhyun…" dia menarikku lagi. "Aku mencintaimu."
Dan tiba-tiba aku merasa bersalah. Bila Chanyeol tak pernah melakukannya bahkan hanya sedetik, kenapa aku bisa berpikir berulang kali ingin menganggantikan namja ini dengan Yifan? Siapa yang kejam sebenarnya? Hanya karena ketakutan, aku berpikir untuk memakai cincin dari namja lain?
Akan sehancur apa Chanyeol jika aku benar-benar melakukannya?
Air mataku menetes. Aku telah begitu kejam padanya.
"Jangan menangis," dia mengusap air mataku dengan segera.
"Maafkan aku," gumamku pelan.
"Jangan menangis Baekhyun, aku juga meminta maaf padamu."
Tapi aku tak bisa. Air mata terus saja mengalir tanpa bisa kuhentikan. Aku memeluknya dan sesegukan didadanya.
"Baiklah, Drama selesai!" suara Minseok mengejutkan kami, kami berpaling dan menatapnya bingung. "Ayolah, kalian harus keluar dari lift karena aku pegal terus menekan tombol ini agar lift tidak kembali turun kebawah membawa kalian dengan bodohnya!"
Aku mengusap air mataku dan Chanyeol nyingir pada unnie tembam satu ini.
"Terimakasih Noona," Chanyeol tersenyum pada sipipi bulat. "Dimana makan siang dan ice cream yang tadi Baekhyun bawa? Dan aku punya waktu berapa lama?"
"Saya sudah memakan bentonya satu dan sisanya kuletakkanya dimeja dan anda tak punya waktu sedetikpun tuan Park!"
"Noona, aku tahu kau yang terbaik," Chanyeol mencoba merayu dengan senyumannya.
"Kau punya tumpukan berkas! Bagian perencanaan menunggu persetujuanmu dan Joonmyun menunggu kau memeriksa laporannya sebelum dia berangkat ke Tokyo besok." Minseok mendelik, dan panggilan formalnya berubah jadi banmal dalam sekejap. rayuan Chanyeol jelas tak berguna untuk wanita ini. Oh, Chanyeol mungkin harus mengingat bahwa wanita berpipi tembam ini sudah menikah.
"AH! Sial," Chanyeol menggerutu. "Baiklah, hanya menemaninya makan siang."
"Ya. Hanya makan siang! Jangan coba-coba membawanya masuk ke kamar!" Minseok memperingatkan dan jarinya yang bercat kuku menusuk perut Chanyeol.
"Apa? Kamar didalam, kuncinya masih di Yixing Noona."
Minseok tersenyum dan menarik kembali telunjuknya, dia membiarkan Chanyeol membawaku masuk kedalam.
Kami menuju set sofa di sisi kanan dari ruangan besar ini karena disanalah terlihat sekotak bento dan satu liter ice cream yang kubawa tadi. Kami duduk dan aku memakan bentoku sementara Chanyeol menyendok ice creamnya dengan nikmat.
Saat bentoku hampir habis Chanyeol membawakanku segelas air putih dan aku meminumnya hingga habis untuk mengakhiri makan siangku.
"Sudah selesai?"
"Ehem." Aku mengangguk dan meletakkan gelas itu dimeja.
"Mau ice cream?"
"Tidak, itu pisang."
"Ini enak," Chanyeol mengulurkan sesendok ice cream kedepan mulutku. "Ayo…" dia membujukku dan aku membuka mulutku untuk membiarkan dia memasukkannya.
Sesaat, ice cream dingin itu terasa dilidahku sebelum Chanyeol dengan begitu cepat menyapukan lidahnya di mulutku dan ice cream itu lenyap dari sana.
Aku melongo.
"Coba lagi?" dia menawarkan.
"Tidak," dan aku menolak cepat.
Dia mengambil sesendok penuh dan menyuapkannya pada mulutnya sendiri, aku waspada, tapi gerakan Chanyeol masih cukup cepat untuk meraih bibirku dan menjilatinya. Merasakan ice cream yang meleleh dibibirku, aku membuka mulut namun lidah Chanyeollah yang dengan cepat masuk dan rasa ice cream terasa memenuhi mulutku.
"Yeol…" aku mendorongnya menjauh. "Ini lengket."
Aku senang saat Chanyeol meletakkan sendok ice creamnya, tapi ternyata bukan berarti dia berhenti. Chanyeol justru kembali menciumi bibirku dengan menuntut. Saat aku membalas kecupan-kecupannya, aku bisa merasakan rasa ice cream yang masih tertinggal.
Kadang ciuman Chanyeol berubah lembut lalu kembali menuntut. Dan aku menikmatinya, aku tak bisa menolaknya karena aku juga menginginkannya.
Aku merindukannya.
Aku datang kesini mengalahkan ego dan rasa marahku karena merindukannya. Dia menarik tengkukku dan memaksa lidahnya masuk semakin dalam, membuatku mengerang.
"TEETTT! TEETTT! Okeh, TIME OUT!"
Chanyeol melepaskanku dan berbalik demi menatap Minseok yang berdiri dengan memeluk tumpukan kertas didadanya. Masih dengan terengah, aku mengusap bibirku yang basah dan menunduk menghindari tatapan Minseok padaku.
Ini memalukan! Seseorang memergoki kami bercumbu dengan panas dan aku ingat aku sempat mengerang tadi.
"Kalau kalian tidak berhenti, kupikir kalian benar-benar membutuhkan sebuah kamar!" Minseok berjalan cepat kearah meja Chanyeol dan meletakkan bawaannya dengan keras disana. "Dan anda punya ini Tuan Park! Jadi simpan kembali hasratmu setidaknya untuk nanti malam." Dan yeoja itu kembali menghilang dibalik pintu.
"Kamar apa sih? Kalian mengatakan sesuatu tentang kamar sejak tadi."
Chanyeol menunjuk sebuah pintu. "Sebuah kamar, kau tahu? Joonmyun sering mendapat tugas keluar dan begitu pulang dia akan segera kesini dan menumpahkan hasratnya di atas Noonaku di dalam sana."
Aku mengernyit.
"Aku tidak tertarik," Chanyeol menambahkan dengan cepat dan dia menatapku dengan lembut. "Dan Baekhyun, ini tidak seperti dirumah. Bisakah kau—"
"Ya, aku bisa." Aku memotongnya, dan dia tersenyum lebih cerah untukku. "Bereskan semua pekerjaanmu, aku menunggu disini untuk makan malam bersama. Okeh?"
Chanyeol tak menjawab dengan kata, dia menjawabnya dengan sebuah kecupan yang manis dan lama di keningku. Bibirnya terasa mengatakan begitu banyak kata sayang untukku. Dia mengusap sayang rambutku sebelum meninggalkanku dan ice creamnya yang mulai meleleh untuk menghadapi kertas-kertas diatas mejanya.
Aku melirik ice creamnya dan berpikir kalau dia masih cukup menggoda meski sudah sedikit meleleh cair.
"Chanyeol, apa kau punya beberapa buah strawberry?" aku membayangkan ice cream yang meleleh berisi potongan buah merah yang manis asam dan segar.
"Coba tanya Minseok Noona, dia punya kulkas besar di pantrinya."
Aku mengangguk dan segera bangun untuk melangkah. Kuharap dia punya strawberry atau setidaknya buah-buahan lain yang cukup lezat untuk ditenggelamkan dalam lelehan ice cream.
Tanganku hendak meraih handle pintu saat seseorang dari luar mendorongnya terbuka dan membuatku reflex mundur selangkah.
"Yixing Unnie?"
"Baekhyun? Sedang Ap- AH… aku mengerti kenapa Minseok bilang Chanyeol membutuhkan kunci kamarnya."
"Kupikir kau sudah tak punya urusan disini, Noona? Baekhyun, keluarlah. Kurasa Noonaku punya urusan yang sangat penting denganku hingga membuatnya meninggalkan rumah sakit yang sangat dicintainya."
Aku mengangguk, memandang Chanyeol yang berdiri di kursinya. Aku membungkuk rendah pada Yixing Unnie sebelum keluar. Minseok sedang menekuni laptopnya saat aku mengganggunya dengan pertanyaan keberadaan strawberry dan dia menyuruhku untuk mengecek sendiri di pantry.
Aku menoleh kesisi lain dari ruangan Minseok dan melihat pantry yang pernah kulihat sebelumnya. Ada sebuah kulkas besar ada disana dan aku menyambutnya dengan gembira dan mulai mengobrak-abrik isinya. Aku tidak menemukan strawberry namun menemukan kiwi segar dan nanas kalengan.
Aku menyaring nanas kalengan untuk mendapatkan buahnya dan mengupas kiwi serta memotongnya kecil-kecil. Meletakkanya di sebuah mangkuk yang kutemukan di rak dan membawanya ke meja Minseok dan duduk didepannya.
"Kau dapat apa?" Minseok melirik mangkukku dan mengangguk paham. "Kiwinya agak asam."
"Oh, itu yang kuharapkan," gumamku dengan pandangan memohon kearah pintu. Aku ingin segera masuk dan mengaduk kiwi dan nanasku kedalam ice cream pisang yang hampir cair itu.
"Yixing tidak akan lama. Biasanya mereka hanya berbicara seperlunya dan berdebat sedikit lalu Yixing akan keluar dengan wajah seperti habis perang dunia."
"Oh, aku sudah mengatakan pada Chanyeol agar dia berhenti bertengkar dengan Noonanya. Dia selalu merasa perlu melindungiku dari Yixing, meski sebenarnya aku sama sekali tidak merasa terancam," gumamku.
"Kenapa Chanyeol perlu melindungimu?" Minseok meninggalkan laptopnya dan menatapku.
"Aku tak tahu. Yang kutahu mereka sebenarnya saling menyayangi satu sama lain dan aku seperti berada ditengah-tengah mereka dengan tak pantas."
Baru saja aku menyelesaikan ucapanku, Yixing keluar dengan wajah persis yang digambarkan Minseok tadi. Dia mengabaikanku dan menuju lift tanpa sepatah katapun lagi. Setelah Yixing menghilang didalam lift, aku bangun dan segera masuk. Chanyeol ada dimejanya dengan wajah tenang yang berbeda dengan yixing.
"Apa yang kalian bicarakan? Dia terlihat kesal." Tanyaku dan mataku segera berbinar menemukan ice creamku kembali.
"Tidak ada. Kau mendapatkan strawberrymu?"
"Tidak, tapi aku dapat kiwi dan nanas. Jangan mengangguku, aku mau menaikkan berat badan! MINSEOK UNNIE, KAU MAU?" dan aku berteriak pada yeoja diluar sana. Kuharap dia mendengarnya.
"TIDAK! AKU DIET!" aku mendengar dia balas berteriak.
"LANJUTKAN BESOK SAJA DIETNYA, KEMARI! INI ENAK!"
Pintu terbuka sedikit dan kepala Minseok mengintip dari luar. "Apa ada banyak?"
"Ya, tapi ini sisa Chanyeol," aku mengangkat sendok dengan ice cream dan kiwi ditanganku.
Wajah Minseok berbinar dengan cepat dan dia berlari kearahku. Dan sajian nikmatku habis dengan cepat. Sisa hari selanjutnya kuhabiskan dengan game di ponselku dan aku berbaring menyamankan diri di sofa berbulu yang nyaman ini.
Chanyeol tak bergerak sedikitpun dari kursinya, hanya sesekali dia menyandarkan tubuhnya dan mengerutkan keningnya dengan lucu memandang penuh pertimbangan pada kertas-kertas di depannya.
Chanyeolku yang tampan sedang bekerja.
Pada pukul enam, Minseok pamit pulang. Dia menatapku dan bertanya apa aku tidak bosan? Dan aku menjawab ini sudah jadi makanan rutinku. Dia mengangguk paham dan meninggalkan kami berdua dilantai ini.
Tiga puluh menit kemudian Chanyeol memintaku bersiap pulang. Dia membereskan kertas-kertas diatas mejanya dan menggandengku keluar. Dia menekan finger scan di dekat pintu dengan ibu jarinya selama beberapa detik baru kemudian membawaku menuju lift.
"Lantai ini hanya bisa di akses jika aku atau Minseok ada didalamnya."
Aku mengangguk paham.
Keluar dari gedung phoenix, Chanyeol membawaku kesebuah restaurant jepang yang sederhana. Bukan soal tempatnya, tapi sushi di restaurant ini nomor satu untuk kami. Tuan Nakamoto-san juga sering memberi diskon khusus untuk kami berdua karena kami sudah jadi langganan setia sejak High School.
Setelah menghabiskan Ocha dalam cangkirku, Chanyeol segera membawaku berdiri. Meninggalkan beberapa lembar uang diatas meja tanpa mempedulikan billnya.
"Yeol, kita mungkin dapat diskon," seruku tak setuju saat dia menarik pinggangku dengan cepat keluar melewati pintu bambu.
"Aku tidak butuh diskon, Baekhyun. Aku butuh kau," Chanyeol menjawabku tanpa mengalihkan matanya dari jalanan.
"Ya, kau sudah kaya sekarang setelah bekerja. Tapi aku masih mahasiswi yang memikirkan diskon."
"Baekhyun berhenti bicara. Setiap gerakan bibirmu menggodaku!"
Hup! Aku menutup bibirku dengan sebelah tanganku dan melirik namja itu dengan curiga. "Apa yang kau pikirkan?" tanyaku pelan.
"Membuatmu mendesah dibawahku secepatnya!"
"Yeol kau—"
"Aku sudah cukup bersabar dengan semua pekerjaanku dan makan malammu yang sialnya kau makan dengan sangat menikmatinya!"
Saat mobil memasukin gerbang rumah, entah mengapa aku merasa seperti sandera yang ketakutan meski sekedar menatap Chanyeol. Dia turun dengan cepat, memutari mobil dan membuka pintu disampingku.
"Yeol…" dia menatapku setelah sepanjang perjalanan dia hanya memandang jalan. "Boleh aku kekamarku? Sendirian?"
"Tidak."
Jawabnya singkat sebelum dia menarik lenganku, sedikit menunduk dan menabrak perutku dengan pundaknya. Dan detik berikutnya aku sadar Chanyeol membawaku di bahunya seperti sekarung beras.
"YEOL! TURUNKAN AKU!" jeritku.
Chanyeol sepertinya menjadi tuli, dia berjalan dengan cepat memasuki rumah, melewari ruang demi ruang hingga menaiki tangga dan menurunkanku begitu pintu kamarnya telah tertutup dan terkunci dengan pasti.
"Apa yang kau lakukan bodoh!" aku memukul dadanya dengan keras.
Tanpa berniat menjawabku, Chanyeol segera membungkuk dan meraih bibirku ke dalam jangkauan bibirnya. Anehnya, aku menyambut bibir itu seakan aku sama menginginkannya sejak awal.
Chanyeol meraih tengkukku, menekan dan mengarahkan kepalaku agar sedikit mendongak dan menerima bibir itu dengan lebih penuh. Chanyeol masih bermain di depan, mengecupi bibir atas dan bawahku dan menyesapnya seakan mereka mengeluarkan madu yang sangat lezat baginya.
Aku merasakan bibirku mulai bengkak saat Chanyeol mulai membelai dengan lidahnya, dan lidah itu segera melesak masuk kedalam mulutku yang terbuka untuknya. Tangannya melepas tengkukku dan turun ke pinggangku, keduanya berada disana dan tanpa melepas lidah yang bergerak liar, dia mengangkat tubuhku lagi. Dan tanpa kupikirkan, aku melilitkan kedua kakiku di pinggangnya.
Kakinya bergerak dan tak lama kemudian bokongku menyentuh tempat tidur yang seakan sudah menunggu kami. Dia menarik lidahnya dan aku segera menarik napas dalam-dalam dan terengah. Chanyeol menatapku, mengusap bibirku yang penuh liur dengan ibu jarinya.
"Aku merindukanmu."
Aku mengangguk, masih cukup terengah untuk menjawab.
"Aku hampir mati melihatmu mendiamkanku seperti seonggok batu didepanmu," matanya segera menyiratkan luka dan aku menggeleng."Aku akan mengambil apapun yang aku butuhkan dan kau tidak bisa mencegahku sedikitpun."
Sekali lagi aku mengangguk. "Apapun yang kau butuhkan."
Chanyeol bukan seorang namja yang akan berkata manis dengan bunga dan lilin yang romantis untuk mendapatkan gadisnya. Chanyeol hanya seorang namja dengan setumpuk buku disekelilingnya yang tak akan mengatakan apapun kecuali itu keharusan.
Membuat Chanyeol mengatakan apa yang dinginkannya adalah hal yang sulit dan membuat Chanyeol mengatakan keinginannya dengan kesungguhan hati adalah hal yang hampir mustahil. Chanyeol begitu sulit dipahami, butuh waktu yang sangat panjang dan berada disisinya sepanjang waktu untuk bisa memahami maksud dari sepatah kata yang namja ini ucapkan.
Dan aku satu-satunya yang pernah menjalani masa panjang itu.
Chanyeol mulai lagi dengan mengecupi pipiku. Dia masih berdiri didepanku yang duduk diatas kasur dengan kaki masih melilit pinggangnya. Tangannya bergerak ke kancing kemejaku dan melepasnya satu persatu sementara bibirnya membuatku tak fokus dengan menghisap titik sensitive di leherku dan aku mengerang.
Kemejaku melayang, kait bra ku terpisah dan benda kecil lemah itupun lolos dari kedua lenganku. Chanyeol menangkap payudaraku yang terbebas dengan kedua tangannya, meremasnya dengan lembut sementara bibirnya masih dengan sabar mengukir tanda kepemilikannya di leherku. Tanda yang akan memenuhi tubuhku besok.
Jari-jarinya bergerak lincah diatas putingku dan aku mendesah karena kegilaan yang belum seberapa ini. Chanyeol meninggalkan leherku dan turun menjilati bagian dadaku yang terbuka penuh. Mengecupinya dengan kelembutan dan gairah, menatapku tajam dan memasukkan salah satu putingku kedalam mulutnya yang hangat.
"Eehhmm Yeol.."
Aku tahu aku akan segera kehilangan kendali. Jari-jariku menarik dengan putus asa surai kecoklatan milik Chanyeol yang telah berantakan. Sementara lidahnya membelai yang satu, tangannya memainkan yang lainnya dengan ahli. Bergantian kanan dan kiri.
"YEEOOLLHH!" aku mengeram, tubuhku bergoncang menahan geliat tak terkendali dalam diriku.
Chanyeol mengangkat wajahnya dari payudaraku. "Aku belum selesai dengan yang ini, tapi aku membutuhkanmu datang dengan segera," katanya dengan mata yang berkilat penuh gairah.
Tangannya bergerak cepat melepas kancing dan resleting jeansku dan meloloskannya dari kakiku, ikut serta pula celana dalamku disana dan keduanya dilempar begitu saja kelantai. Hal yang selanjutnya terjadi adalah Chanyeol yang berlutut dilantai dengan kewanitaanku yang persis berada didepannya. Kakiku yang sebelumnya melilit pinggangnya kini menggantung di pundaknya yang kokoh.
Chanyeol melakukannya seperti seorang ahli. Seperti dia telah begitu mengenal bagian tubuhku disana dengan baik karena setiap sentuhannya begitu tepat dan membuatku mengerang nikmat.
Ketika duniaku runtuh, hanya nama Chanyeol lah yang mampu kuucapkan dalam geraman. Saat kubuka mataku kembali, aku tahu kegilaan ini masih jauh dari kata akhir. Chanyeol baru saja selesai menelanjangi dirinya sendiri dan kini ereksinya yang begitu penuh, menantang meminta ijinku.
Chanyeol masih berdiri sementara aku berbaring di tepi dengan kaki yang menjuntai kebawah. Chanyeol mengambil kakiku dan membuatnya kembali melilit dipinggangnya.
"Aku mulai," bisiknya dengan suara parau. Dia mulai menempatkan miliknya didepan kewanitaanku dan mulai memasukkanya perlahan.
Kami mengerang bersamaan menikmati tubuh kami yang menyatu. Saat mata kami bertemu, aku tahu dia begitu merindukan ini dan dia mulai bergerak, gerakan pelan seakan menikmati setiap senti bagian dalam diriku yang kini melingkupinya.
Seiring dengan tempo yang bertambah, semakin hilang pula kemampuanku mengendalikan desahan nikmat yang keluar dengan menggila. Jadi saat tiba-tiba semua kenikmatan itu terputus, aku mengerang putus asa.
"Yeeoolll…"
"Berbalik," perintah Chanyeol. Aku yang begitu menginginkan semuanya segera berlanjut hanya mematuhinya untuk berbalik.
"Angkat bokongmu,Sayang." Sekali lagi aku mematuhinya, lagi pula tangan Chanyeol pun ikut menarik bokongku keatas.
"ARGGHHH!" aku mengerang keras. Dalam sekejap kewanitaanku kembali dipenuhi ereksi Chanyeol yang keras dan menekan begitu dalam. "Yeol… inihh… dalam dan tepat!"
"Ya, Sayang. Nikmati ini," dan Chanyeol mulai lagi menghantamku dari belakang. Aku bertahan dengan kedua tanganku, membiarkan payudaraku menggantung dan bergoyang seiring hentakan Chanyeol dibelakangku.
"Yeoollhh!" aku mengeram. Kenikmatan ini tak bisa lagi kutampung dalam diriku dan hanya dalam beberapa hentakan keras dan gila dari Chanyeol membuat duniaku runtuh untuk kedua kalinya malam ini.
"ARGGH! Sial, kau menjepit… ah! Baek…hyun!" aku bisa merasakan ledakan-ledakan dari Chanyeol didalam diriku disertai kehangatan yang menyebar penuh didalam sana.
Tubuhku lemas, aku ingin berbaring tapi tangan chanyeol menahanku.
"Yeol…" aku memprotes lemah saat Chanyeol menahan pinggangku tetap diatas dan menempel dengan miliknya yang kurasakan tak sebesar sebelum dia klimaks.
"Tetap seperti ini Baekhyun."
"Aku lelah, beri aku waktu berbaring selama tiga puluh menit," aku bergumam lemah.
"Ya, kau akan mendapatkan tiga puluh menitmu nanti, sekarang kau hanya perlu menungging seperti ini setidaknya sepuluh menit."
"Kenapa perlu?"
"Memberi waktu untuk spermaku turun lebih jauh dan menemui benih kecilmu."
Deg.
"Yeol!"
"Jangan bergerak! Aku bersumpah akan memasukkan ereksiku lagi kalau kau bergerak!"
Aku berusaha melihat kebelakang dan mataku segera bertemu dengan mata Chanyeol yang berkilat penuh kesungguhan.
"Aku punya pil."
"Aku sudah membuangnya."
"YEOL!" Aku mengerang, berusaha melepas cengkraman tangannya dipinggangku. "Aku masih dua puluh tahun."
Chanyeol tak menjawabku, namun cengkraman tangannya dipinggangku tak berkurang kekuatannya sedikitpun. Aku hanya bisa berharap, apapun yang akan terjadi setelah ini, Chanyeol akan terus memegangku dengan erat seperti ini. Hingga aku tak perlu ragu, tak perlu ketakutan dan berusaha mencari pegangan lain untuk membuatku tetap bertahan.
"Aku mencintaimu, Park Chanyeol."
Chanyeol membungkuk, memelukku dari belakang dan mencium pundakku lembut. "Dan aku mencintaimu dengan jiwaku, Byun Baekhyun."
.TBC.
NC yang kacau.
dan Ini udah panjang pake banget!
Sedikit pengumuman biar nanti ga kecewa sama chap10. Chap10 punya timeline yang sama persis dengan chap9. Dimulai saat chanyeol makan bersama dengan zitao hingga akhirnya dia ngehamilin Baekhyun. Sama persis. Yang berbeda adalah chap10 diceritakan dari sisi Chanyeol.
Seperti apa sih perasaan chanyeol didalam setiap kejadian diatas? Perasaan chanyeol saat baekhyun malah kabur naik bus, perasaan chanyeol saat baekhyun nangis di lift, perasaan chanyeol saat dia ngehamilin baekhyun…
Ada yang penasaran?
Terimakasih untuk reviewer baru dan terimakasih banyak untuk reviewer lama yang tetap setia dan begitu sabar nunggu fic aneh ini apdet, hari kamis kemarin rifyunya berkurang, jadi ga apdet... tapi, lalu masuk beberapa rifyu lagi yang bikin rifyunya Naik, jadi langsung aku apdet. Sekali lagi terimakasih banyak ya :
4kimhyun, byunchaca, ee ana ki, BaekhyunOh, byunkkaebb, Ervyanaca, BaekhyunOh, Bubbletea947, Chanbaekhunlove, parkyubi, Selene3112, yousee, V0USTALGRAM, tripleone, yoogeurt, azurradeva, parkobyunxo, nayeonight, Real ParkHana, chanbaek lopelopelope, Baek04, byun, Byunae18, devvana614, devrina, intaaany, parkbaexh614, AeELF, Ay, chika love baby baekhyun, chenma, dodyoleu,indivpcy, riribas, neli amelia, HAN SAE HWA, syasya zhang, byunbaekkie, TKsit, Guest, Nevan296, mpiet. lee, bebekJail, Baekkkyeols7, followbaek, Ryry, Baekhyunee, Pcy. Bbh, baekin236, daeri2124, love614cb, bie, Guest, wardatul, inspirit7starlight, Ekayoon, dearbyun06, vickyhardian, Kim6201, Jjia, Haruka el-Q, kaila, deboramichailin, Guest, sebeyeolxo, Guest, narashikaino, rly, adorahttr, Aerii, ssuhoshnet, rizkaa, sukmatheunyum, Cisa, Guest, byunbaekhill, Riskakai88, heymrn, Guest, baekyoung, dila, sakura, dobygong, pcyjang, cintapark, nanda, leeminoznurhayati, debbybaek, BYUNVIE, GUEST, Demuri. Kalo ada yang terlewat protes ya.. nanti aku edit.
Aku bingung mau QnA yang mana... semua pertanyaan jawabannya mengandung Spoiler. tanyain hal-hal yang ga penting donk... kaya makanan kesukaanku apa? lemariku penuh baju warna apa? #dibuangkelaut. aku ambil satu aja yang ini :
Q : Luhan SMP atau SMA?
A : SMA say, SMP ntar Thehun ditangkep Komisi perlindungan anak KorSel, kan gawat.
Q :
DAn kali ini aku mau tanya ya...
Q : Mau ga chap10 beneran dari sisi Chanyeol walopun timeline nya ga nambah?
Q : Banyak yang bilang Baek nikah aja sama Yifan... YAKIN...? Aku nikahin beneran lhooo...
Jawab di rifyu ya...
