Gelombang ombak terlalu pasang, sehingga deburannya terdengar riuh dan ribut, membuat seorang Park Chanyeol tidak bisa tidur. Chanyeol sengaja mencari penginapan di dekat pantai, karena menurutnya pantai selalu menjadi tempat yang menenangkan walaupun kadang menakutkan. Bukan keributan ombak yang ia permasalahkan, atau kesunyian kamarnya, selalu ada hal lain yang ia pikirkan sebelum waktunya terlelap. Gelisah, hampir setiap waktu ia rasakan. Pikiran-pikiran buruk tentang banyak hal tak mampu mencegah menelisik dalam rongga otaknya. Kemarin tentang orang lain, lusa tentang pekerjaan dan hari ini tentang Kai. Chanyeol merasa bahwa, dia seharusnya ikut dalam keputusan yang Kai ambil. Jika Kai tidak mengikutsertakannya hanya karena pengakuan cinta di dapur waktu itu, Kai salah besar. Chanyeol tak punya banyak orang untuk ia perhatikan, dan Kai adalah orang terkahir itu sebelum dia menikah. Mungkin perih itu datang beberapa saat mengingat ia akan kembali hidup seorang diri di rumah, membersihkan rumah sendiri, berangkat kerja mungkin juga sendiri. Memang seperti itu, dia memang selalu ditinggalkan, tidak seharusnya ia menjadi sesedih ini, bukan?

.

Luhan mendekati Sehun yang sejak tadi memijat pelipisnya. Pria itu belum makan sejak siang, dan hari beranjak lebih malam. Beberapa kali ia memanggil untuk mengajaknya makan namun Sehun tidak menyahut, dia hanya duduk sesekali memandangi TV,ponsel atau meja atau apapun itu yang ada di sekitarnya. Luhan tahu bahwa focus Sehun tidaklah pada benda-benda mati itu, demi menunggu Sehun untuk bersedia makan ia juga belum memasukkan apapun kedalam perutnya. Semenjak kejadian tadi pagi di rumanhnya. Luhan amat mengerti, namun ia tak bisa berbuat apapun ketika menyaksikan semua itu, maka pilihan terakhirnya adalah menghubungi Sehun yang kemudian ia berubah menjadi seperti itu.

"Sehun, makan." Panggil Luhan untuk yang kesekian kalinya. Sehun tetap acuh. Kini Luhan mendekatinya menyentuh pundak lelaki itu yang di tepis dengan sedikit keras oleh sang suami membuat Luhan terkaget.

"Keluargamu, sangat kejam." Tatapannya menusuk mata Luhan dan ia sadar kini Sehun marah padanya.

"Ya, keluargaku sangat kejam. Kau berhak marah." Luhan memutuskan untuk membiarkan Sehun seorang diri kini. Sehun melihat tatapan kecewa dari mata Luhan dan ia merutuki dirinya sendiri, dia telah melukai Kai tadi dan sekarang Luhan. Ia melukai dua orang yang tidak bersalah, sebenarnya ada apa dengannya? Ketika pandangannya mengarah ke meja makan, ia melihat makanan mereka masih utuh tanpa tersentuh. Jadi, Luhan belum makan juga? Seketika ia menjadi menyesal, ia marah pada dirinya sendiri.

Sehun membuka pintu dengan perlahan membawa makanan serta air yang telah disiapkan Luhan tadi. Sehun meletakkan nampan tersebut di mejanya sebelum naik ke atas ranjang bersama Luhan.

"Luhan?" Luhan menoleh pada Sehun dan memberikan sedikit senyuman, ini yang ia suka dari Luhan dia adalah seorang pria dewasa yang dapat mengerti perubahaan mood Sehun. "Luhan belum makan sejak tadi?" suara Sehun terdengar lucu membuat Luhan melebarkan senyumnya dan tertawa kecil.

Ia mengusap kening kemudian ke pipi Sehun, "bagaimana denganmu?" Sehun hanya tersenyum, ia menyukai waktu bebasnya berkumpul bersama Luhan.

"Maaf, soal yang tadi. Ayo makan, aku akan menyuapi kalian."

Luhan terkikik, "kau juga."

"Baik berarti kita."

Acara makan malam di atas ranjang itu berakhir dengan tegukan air putih di tenggorokan Sehun. Kemudian ia menyusul Luhan yang sejak tadi bahkan tak berpindah posisi, bersandar pada kepala ranjang.

"Maafkan ayah Luhan yang tidak memberimu makan, ya. Sekarang kau sudah kenyang kan?" Sehun menidurkan dirinya di atas paha Luhan sembari memeluk pinggang Luhan sehingga ia bisa berkomunikasi lebih dekat dengan HunHan kecilnya. Sehun mengecup perut itu sebentar sebelum mengecup Luhan. Rasanya menyenangkan melihat wajah menenangkan dari suaminya itu. wajahnya kecil dan manis bonus imut, kadang terlihat cantik kadang juga terlihat tampan mengenakan jas putih kebesarannya itu.

"Adikku akan menyusul Kai."

"Kyungsoo?"

"Memangnya aku punya adik yang lain?"

"Ya, dia memang seharusnya melakukan itu."

.

.

Kai baru saja membersihkan rumahnya. Terdapat banyak ruang kosong karena memang rumah itu tidak berisi banyak barang selain lemari dan tempat tidur juga beberapa meja dan peralatan dapur, atau mungkin isinya telah ikut dibawa lari bersama dua sekutu itu, Kai tidak begitu perduli bahkan ia tidak peduli jika malam ini harus tidur tanpa kasur lagi. Sampahnya terasa sangat banyak setelah kemarin sore Kai menghancurkan beberapa perabotan. Ketika ia keluar untuk membuang sampah, betapa kagetnya ia menemukan Kyungsoo tengah duduk di dekat pintu rumahnya masih menjinjing tas yang barusan Kai lihat.

"Kyungsoo?" panggil Kai, dan Kyungsoo mengangkat kepalanya menemukan mata itu lagi namun memandangnya berbeda, entah kenapa ia merasa lega mengetahui bahwa mata itu tidak menatapnya seperti anak panah yang siap meluncur dari busur.

"Kau masih di sini, aku menyuruhmu pulang dan kembali seminggu lagi."

Kyungsoo tersenyum kecut, "perlu kau ingat Kai, aku bukan anak sekolahan lagi, aku sudah lulus setahun lalu jadi aku tidak perlu menurut." Mata Kyungsoo sedikit berkaca-kaca namun ia tidak menangis, karena kelopaknya menghalangi air itu untuk keluar Kyungsoo berusaha mengedip-ngedipkan matanya agar ia tak terlihat cengeng dan membuat Kai makin muak.

"Kembalilah seminggu lagi." Kai hendak masuk sebelum terkaget lagi karena tangan yang sangat dingin itu menyentuh pergelangan tangannya.

"Aku tidak akan pulang, aku sudah sampai di sini mencarimu, memastikan hubungan kita. Dan ketika semua sudah jelas kau menyuruhku pulang membiarkanmu mengurus semuanya sendirian, kau pikir ini hubungan satu orang. Dan kau pikir aku seorang wanita yang terus menunggu?!" Kyungsoo menelan ludahnya dengan berat.

"Ini tentang sebuah rumah tangga Kim Jongin. Sebagai dua orang lelaki, kita punya tanggung jawab yang sama, bukan hanya dirimu! Aku tahu keluargaku sudah keterlaluan menghinamu dan sekarang aku di sini, minta maaf atas nama mereka. Setelah hubungan kita selama 3 tahun belakangan, aku sama sekali tidak bisa lagi untuk pergi darimu, terlepas dari siapa dan apa profesimu sebenarnya. Hanya saja aku merasa sangat bodoh, saking bodohnya aku, aku masih mau mencari seorang lelaki yang membohongiku selama 3 tahun kemudian menyuruhku pulang dan dia bilang akan menyelesaikan semuanya selama seminggu sendirian, sementara aku masih diam di sini setelah diusir dengan sangat kejam. Bodoh sekali bukan?" Kyungsoo menghela nafasnya, ia merasa sangat emosional dan kemudian menyesal telah membentak Kai.

Kai masih mematung, lalu ia mengambil tas Kyungsoo dan menggenggam tangan pemiliknya membuka pintu rumah lebih lebar agar mereka dapat masuk tanpa masalah. Kyungsoo kini duduk di sofa mengamati teh hangat yang mungkin telah di buat Kai dalam termos, mereka masih terdiam sebelum Kai mengamit tangan Kyungsoo yang sangat dingin.

"Dingin?" Kai menyentuh pipi Kyungsoo yang sama dinginnya, yang di jawab anggukan pelan oleh Kyungsoo. Kai meletakkan kedua tangan Kyungsoo pada pipinya mencoba memberikan kehangatan. ia melakukan hal yang sama pada kedua tangannya yang menempel di pipi Kyungsoo, sambil menghangatkan ia menarik sedikit kepala Kyungsoo untuk memberikan satu kecupan pada bibir Kyungsoo.

"Bawa aku pergi bersamamu." Bisikan Kyungsoo membuat Kai tersenyum dan mengecup sekali lagi bibir itu.

"Terima kasih telah memilihku." Kemudian Kai membawa Kyungsoo untuk mendekat ke dada bidangnya dan merengkuhnya dalam hangat tubuhnya. Perasaan menyesal seketika hinggap pada dirinya ketika merasakan tubuh Kyungsoo dingin, Kai memeluknya makin erat dan mengecup kepala pria itu. Lama mereka seperti itu hingga kini punggung Kai telah bersandar pada sandaran kursi sedangkan Kyungsoo masih betah berada dalam rengkuhan Kai.

"Bagaimana dengan keluargamu?" Kyungsoo mendongak sebentar untuk melihat Kai.

"Tidak masalah." Jawabnya acuh.

"Kau tidak sedang lari dari rumah kan?"

"Apa? Tidak tentu saja, ayah membebaskanku pergi atau diam."

"Ibumu?"

"Jika ayah sudah mengijinkan, maka siapapun tidak bisa melarang." Kai mengangguk, dia mengerti seberapa berperan seorang kepala keluarga kini. Entah kenapa pikiran kini melayang pada seorang pria tinggi dengan senyum lebar, teman serumahnya yang bahkan mungkin ia anggap sebagai kepala keluarga dulu saat tinggal bersama Sehun dan kini mereka berdua, dirinya dan Sehun akan menjadi kepala keluarga untuk orang baru.

"Chanyeol bagaimana? Dia tinggal sendiri?" suara Kyungsoo memanah langsung pada jantungnya yang berdetak, pria mungil itu seperti tau apa yang tengah dipikirkan Kai. Apa ini yang orang-orang sebut sebagai ikatan batin pasangan yang akan menikah?

Kai menggeleng pelan, "ponselku mati dan aku belum berniat menghubunginya."

"Mungkin dia belum kembali, karena tidak ada tanda-tanda ia sudah tau kau pergi."

"Sehun ada di sana, dia yang akan menjelaskan."

"Bagaimana bisa? Kau yang harus menjelaskan apa yang telah terjadi, tidakkah kau merasa bersalah telah meninggalakannya tanpa kabar?"

"Ya, Sehun…"

Kyungsoo mengeram kesal, "kenapa kau selalu menggantungkan sesuatu padanya, kau bilang kita akan menikah sekarang kita yang memiliki tanggung jawab untuk banyak hal, bukan kau dan Sehun." Kai hendak membuka suaranya lagi, namun Kyungsoo lebih cepat menyalipnya, "atau jangan-jangan, sebenarnya kau menyukai Oh Sehun?"

Kai menatap Kyungsoo, tampangnya datar antara hanya kesal atau memang marah. "Ya, aku menyukai Oh Sehun. Dia orang kedua yang kutemui setelah Chanyeol, dan kami membagi rumah bersama cukup lama, bahkan aku lebih dulu menyayanginya jauh sebelum aku mengenalmu, dia keluargaku meskipun tak ada darah apapun yang mengalir sama pada diri kami."

Kata-kata Kai berhasil membuat Kyungsoo terdiam membuat sentuhan hangat mereka terlepas beberapa waktu lalu, Kyungsoo terdiam di tempatnya duduk dengan canggung kini dengan tatapan mata Kai yang seakan mengintimidasinya, walaupun ia merasa tidak ada yang salah dengan pertanyaannya, namun jawaban Kai membuat moodnya turun dan seakan ia merasa paling bersalah atas semua kekesalan hari ini, semua kegaduhan yang membuat Kai marah adalah karena dirinya.

"Maaf, aku tidak bermaksud bertanya seperti itu. Kalau kau memang tidak benar-benar menyukaiku tak apa, kita bisa menghentikannya. Selain keluargaku yang menyakitimu, mungkin sebab ini juga yang membawamu lari ke desa. Tapi sayangnya, kini aku menemukanmu dan kau tak punya pilihan. Aku benar, kan?"

Kai meremas baju bagian sampingnya, "aku berani bersumpah aku memang menyukaimu! Dan kata-katamu membuat aku tersinggung."

Kyungsoo tersenyum miring meremehkan. "Sejak awal, kaulah yang membuat aku tersinggung. Setelah bagaimana aku bertarung dengan pikiranku, menahan rasa sakit hatiku melihatmu, kemudian mendapat tekanan ibuku dan keluargaku yang bahkan menyuruhku untuk meninggalkanmu dan hampir semua orang melakukannya, hingga ayahku datang dan memberikanku kebebasan perasaanku lega, namun hanya sebentar," Kyungsoo memberikan jeda untuknya menarik nafas.

"yang kemudian pada hari itu juga aku mencari Sehun untuk bertanya alamat di desamu, dan akhirnya aku melakukan perjalanan jauh ini dengan semua cinta yang kubawa. Tapi kau mengusirku bahkan sebelum aku tau bagaimana kabarmu. Tepat di depan rumahmu, aku tetap menunggu seperti orang bodoh. Awalnya aku tak mau menceritakan ini padamu, namun sikapmu yang seperti itu membuatku ingin memakimu. Dengar, bukan hanya kau yang sakit di sini."

Kyungsoo menaikkan dagu Kai agar manik mereka beradu, "lihat, aku sudah cukup lelah bertengkar dengan semua orang untuk pergi denganmu, dan bahkan sekarang aku bertengkar untuk orang yang aku kejar."

Kai menghela nafasnya, menyadari kesalahan yang ia buat kemudian ia menyentuh pucuk kepala Kyungsoo. "Kau perlu istirahat." Dia membimbing tangan Kyungsoo untuk mengikutinya namun Kyungsoo menghempaskannya.

"Setidaknya biarkan aku mandi, aku perlu mendinginkan kepalaku." Kyungsoo menyadari dirinya terlalu sensitive dan mungkin berlebihan saat ini, ia hanya mencoba menyampaikan perasaannya pada Kai, dan Kai memang seharusnya tau apa yang terjadi padanya. Kemudian genggaman tangan Kai menuntunya untuk menuju kamar mandi.

Sambil menunggu Kyungsoo yang sedang mandi, Kai mempersiapkan tempat istirahat untuk Kyungsoo ia bahkan lupa jika dirinya tidak memiliki tempat tidur, maka ia hanya menumpuk beberapa selimut yang ia miliki setidaknya itu terlihat lebih empuk untuk istirahat Kyungsoo. Kai mengambil ponselnya mencoba untuk menimbang apakah ia harus menghidupkannya atau tidak, dan benda itu berakhir di lacinya lagi dalam keadaan mati.

Kyungsoo baru saja keluar dari kamar mandi, menyaksikan Kai yang tengah membersihkan sedikit tempat tidurnya. Dia tersenyum kemudian setelah melihat Kyungsoo.

"Kyungsoo, maaf karena aku belum membeli tempat tidur yang layak." Kai meringis sedikit untuk menyampaikan ketidakenakan hatinya.

"Bukan masalah, aku dan Sehun adalah mahasiswa pecinta alam ketika di kampus dulu. Aku biasa tidur tidak beraturan." Katanya kemudian duduk berhadapan dengan Kai.

Pria tan itu mendekat kearah Kyungsoo kemudian mengelus bagian samping kepala kekasihnya,"kau lapar?" Kyungsoo mengangguk sebagai jawaban yang kemudian dilanjutkan dengan Kai yang menuju dapur untuk mempersiapkan makanan.

.

Chanyeol tidak dalam keadaan baik-baik saja, rapat barusan bahkan tidak dapat sedikit menghiburnya. Jika saja semua hal tidak menurun dengan tiba-tiba maka ia tidak akan merenggut sekarang. Chanyeol kini berada dalam ambang antara overthinking atau akan menjadi gila setelahnya. Ia perlu jalan keluar ketika kurva bergerak turun dan entah kapan akan kembali meningkat. Kepalanya lelah berpikir maka ia memutuskan hanya akan berada di sini dalam waktu beberapa hari, atau kembali secepatnya. Di sini, tidaklah nyaman meskipun ada begitu banyak tempat indah yang mestinya ia kunjungi tapi ia sendirian, tidak ada siapapun yang dikenalnya atau yang menyayanginya. Semua orang tersenyum termasuk service hotel yang bagus, tapi perlu diketahui bahwa Chanyeol tak perlu senyuman seperti itu, ia perlu sesuatu yang menyayanginya, menemaninya atau memeluknya ketika ia berada dalam keadaan terpuruk.

Jujur saja, ia merasa lelah harus menjadi teladan dan contoh untuk Kai dan Sehun, dimana ia merasa memiliki tanggung jawab pada dua bocah ingusan itu, tapi diluar dugaannya mereka menikah lebih cepat dibandingkan dirinya. Chanyeol perlu menjadi dirinya sendiri, ia ingin dimanja, ingin dipeluk dan sebuah ciuman dikepalanya dan itu ia dapatkan dulu, sangat lama bahkan ia lupa kapan, dari ibunya.

.

Luhan berada dipangkuan Sehun. Kepalanya bersandar pada bahu lebarnya sedangkan tangan Sehun berada diperutnya untuk berinteraksi dengan 'si kecilnya' sesekali ia mengecup bibir, dahi, pipi, atau leher Luhan. Mereka berdua baru sama-sama pulang dari bekerja sore ini, dan berakhir seperti ini.

"Bagaimana si kecil?" Tanya Sehun sambil mengelus lembut perut Luhan.

"Dia nakal, menendang sepanjang hari jika tidak ada dirimu tapi kini ia terdiam setelah aku bertemu denganmu."

Sehun terkekeh lucu. "Ia tak bisa jauh dariku rupanya."

Luhan hanya mengangguk menanggapi kata-kata itu, beberapa kali ia mengecek kandungannya pada dokter kandungan di rumah sakit tempatnya bekerja atau kadang-kadang jika bisa ia memeriksakan dirinya sendiri. Jangan heran tentang laki-laki hamil yang berkeliaran di rumah sakit, walaupun terdengar jarang namun bukanlah hal yang baru lagi. Teman-temannya biasa menangani hal seperti itu, dan kalaupun ada yang tidak menyukainya Luhan hanya akan memilih tersenyum dan kembali bekerja seperti biasa. Kebanyakan pasien yang ia tangani tidak banyak bertanya karena mereka pikir Luhan adalah seorang perempuan dengan potongan rambut pendek dan tentunya seorang lelaki berwajah cantik.

"Bagaimana dengan Kyungsoo?" Sehun menaikan wajahnya untuk menatap mata Luhan menandakan bahwa mereka tengah bicara serius.

"Ia baik-baik saja."

"Kalau begitu, ayo kita jenguk mereka?"

"Jangan. Mereka akan melangsungkan pernikahan, Kyungsoo yang meminta kita untuk datang saat hari itu saja."

"Kenapa? Kita tidak dapat membantu mereka untuk mempersiapkan pernikahan?"

"Aku tidak tau. Aku hanya menyetujui apa yang ia suruh, dia berharap kita dapat mengerti."

Sehun menghela nafasnya dalam,"sebenarnya berapa lama aku mengenal Kai, kenapa dia tetap seperti itu bahkan padaku!" Luhan mengelus pundak suaminya mengatakan secara tidak langsung untuknya meredam emosi.

"Mengertilah. Mungkin saja ada masalah lain yang bahkan tak bisa ia ceritakan padamu."

"Aku tebak, anak itu belum mengabari Chanyeol tentang kepergiannya." Sehun terlihat sedikit marah dengan nada bicara yang begitu datar. Luhan memutuskan untuk turun dari pangkuan suaminya karena ia merasa mood pria itu memburuk.

"Kau mau kemana?" Tanya Sehun ketika Luhan mencoba turun dari pangkuannya.

"Kau sedang emosi, jadi mungkin-"

"Tidak, jangan turun biarkan kita seperti ini. aku merindukanmu dan si kecil." Katanya merengkuh Luhan kembali.

.

Ketika Chanyeol sampai pada rumahnya, pintu itu terkunci dan ia menebak bahwa Kai sedang keluar. Maka ia masuk dengan tergesa karena tangannya yang begitu penuh dengan oleh-oleh yang dibawanya untuk Sehun dan Kai. Namun ada yang janggal, rumahnya tampak sangat sepi bahkan untuk menunjukan tanda-tanda kehidupan tak ia temui, lantainya sedikit berdebu padahal jika Kai ada dia adalah pria yang paling rajin untuk membersihkannya. Kemudian ia menengok ke tempat cucian piring, dimana sisa piring kotor yang terakhir kali dipakainya masih di sana dalam keadaan belum tercuci. Chanyeol punya firasat buruk, dia segera menuju ke kamar Kai dan kamar dalam keadaan rapi hanya beberapa bagian tempat tidur yang terlihat lecek seperti habis diduduki. Pada akhirnya ia membuka isi lemari yang hampir kosong tak terdapat apapun, jantungnya berhenti berdetak bahkan hingga laci meja lelaki itu tak terisi apapun.

Hanya ada sebuah memo di dalamnya yang bertuliskan 'aku kembali pulang. Maaf dan terimakasih Hyung.' Dan pada saat yang sama ketika ia selesai membacanya kaki panjangnya terasa melemas dan terjatuh begitu saja, ia merasa jantungnya berdenyut perih paru-parunya seperti berhenti bekerja, nafasnya tercekat bahkan untuk mengambil nafas-pun terasa sulit untuknya. Chanyeol mengambil ponselnya untuk menannyakan keberadaan Kai. Ia takut jika pernyataan cintanya pada Kai waktu itu menjadi penyebab hubungan mereka yang tidak nyaman, Chanyeol hanya ingin minta maaf dan mengajak Kai untuk tinggal bersamanya lagi, itu tidak masalah sama sekali, sekalipun ia tinggal bersama Kyungsoo di rumahnya itu tidak apa-apa dan Chanyeol tidak keberatan, dirinya hanya tidak mau tinggal sendirian.

Namun ponsel Kai tidak aktif, dan ia telah menghubunginya beberapa kali. Ia melesat ke kantor Sehun menerobos pintu itu hingga bertemu dengan pria pucat yang duduk memangku wajahnya di depan meja. Sehun melihat Chanyeol terengah, dan dia sudah mengerti apa yang terjadi. Sehun mengeluarkan dua kaleng minuman dari mini barnya dan meletakknya di atas meja untuk Chanyeol minum.

"Kau pasti mau mendengar cerita dariku."

Sehun menceritakan semua yang Luhan ceritakan padanya, dan Chanyeol menangis. Melihat Chanyeol seperti itu membuatnya merasa teriris. Mereka tinggal bertiga cukup lama dan dia mengerti perasaan Chanyeol sekarang. Masih dengan ceritanya Sehun tetap melanjutkan hal yang tertunda karena membiarkan Chanyeol menangis sebelumnya, bagaiamana cacian keluarga Kyungsoo yang ia ceritakan padanya membuatnya tersedu menyakitkan.

"Aku harus menemuinya."

"Jangan. Kyungsoo telah menyusulnya kesana dan mereka telah merencanakan pernikahan berdua."

"APA? TANPA MEMBERITAHUKU?!"

"Aku juga hyung, dia bahkan tidak memberitahuku. Kyungsoo yang memberitahu Luhan tentang pernikahan mereka."

"Anak itu keterlaluan!"

"Kita hanya menunggu hingga ia mau mengabarkan pada kita."

.

Kyungsoo mengambil paksa ponsel Kai kemudian menghidupkannya kemudian ia segera menghubungi Chanyeol dan menyerahkannya pada Kai. Kai terdiam ketika mendengar suara itu memanggil namanya beserta dengan makian, dan di akhir kalimatnya Kai mendengar suara pria itu teredam oleh emosinya sebuah akhir yang di gantikan dengan kata-kata yang membuat Kai bahkan ingin menangis.

"Hyung, maafkan aku. Aku minta maaf."

"Kapan kau menikah?" suara berat di seberang menyadarkan Kai kembali.

"Lima hari lagi, aku harap kau dan Sehun datang."

"Tentu."

Panggilan itu berakhir cukup lama, karena keduanya membicrakan banyak hal. Kyungsoo tersenyum di belakang Kai.

.

.

Tidak ada yang istimewa dengan pernikahan mereka, sangat sederhana yang bertempat di gereja dekat rumah Kai. Undangan yang tidak banyak hanya beberapa orang terdekat dan beberapa penduduk desa Kai. Kini mereka sedang berada di rumah Kai untuk mengobrol setelah acara selesai, Chanyeol mengoceh sejak tadi bersama orang tua Kyungsoo. Ibu Kyungsoo memberikan beberapa nasihat pada mereka, sementara Luhan bersandar pada dinding untuk mendengarkan hal yang sama ketika dirinya menikah dengan Sehun dulu. Tidak ada yang istimewa memang dalam acara mereka, namun dalam hati masing-masing Kyungsoo dan Kai tentunya hal tersebut sangat luar biasa. Setelah berpacaran 3 tahun lebih mereka tak akan pernah menyangka akan menikah muda, sementara Kai merasa sangat lega karena ia tak harus membuat scenario drama yang biasanya ia gunakan untuk membohongi Kyungsoo tentang siapa dirinya. Orang tua Kyungsoo pamit lebih dulu karena Yongwoon yang cepat mengantuk jika menyetir jauh, Chanyeol yang semobil dengan Sehun masih mengoceh banyak pada bajingan Kai.

"Jaga dirimu." Kai memeluk Chanyeol di akhir pembicaraan mereka bergantin dengan Sehun.

"Kyungsoo, kau tau apa yang harus kau lakukan? Jaga hal tersebut. Jika terjadi sesuatu hubungi aku segera." Kyungsoo menaikan jempolnya pada Luhan, kemudian ia merunduk untuk mengecup keponakannya sebentar dan berakhir dengan Luhan yang mengecup kepalanya.

Mereka akhirnya pulang dan meninggalkan rumah yang kembali sepi. Kyungsoo membersihkan dirinya lebih dulu sementara Kai menunggunya sambil membereskan kekacauan yang ada di ruang tamu. Setelah Kyungsoo keluar dengan aroma sabun murah yang ia beli di warung, kini gilirannya untuk masuk dan membersihkan dirinya. Sejak tadi, Kyungsoo merasa benar-benar gugup, tangannya tak berhenti bergerak dan matanya tidak fokus, ia merasa khawatir dengan malam pertama mereka. bukannya ia anak yang polos, Kyungsoo bahkan sering menonton porno bersama teman-temannya dan Sehun dulu ketika kuliah. Tapi entah, bermain solo mungkin saja terasa berbeda jika ia memiliki pasangan. Luhan selalu melarangnya untuk melakukan seks bebas karena alasan kesehatan maka dari itu ia tidak bahkan pernah mencoba seks dengan orang lain selain bermain sendiri di kamar mandi dan lagi-lagi itu atas saran Luhan.

Kyungsoo mememilih membuka kado-kado yang ada di hadapanya. Kebanyakan dari mereka memberikan alat rumah tangga seperti sprei dan bed cover namun pengecualian untuk pasangan bodoh HunHan mereka memberikan gel pelumas untuknya dan itu membuatnya melotot, Kyungsoo membaca keterangan pemakaian dan ia melotot, itu sedikit vulgar. Berbarengan dengan itu, Kai keluar dari kamar mandi dan masuk ke dalam kamarnya melihat Kyungsoo yang tengah menggenggam sebuah benda seperti tabung, ia mencoba mendekat untuk melihat benda itu.

"Ini hadiah dari HunHan." Katanya polos dengan mata bulatnya. Kai terkikik kemudian mengusak kepala Kyungsoo.

"Ayo kita gunakan."

"Apa?" Kyungsoo berkata dengan tidak normal.

"Ini malam pertama kita kan? Ayo gunakan itu." Kai sangat vulgar, namun pipi Kyungsoo memerah dan kepalanya terasa panas. Tidak ada respon dari Kyungsoo, Kai menggendong pria itu menuju ranjang yang baru saja ia beli beberapa hari lalu lengkap dengan bantal baru yang empuk. Kyungsoo kaget ketika tubuhnya terpelanting halus di atas ranjang.

"Sudah siap?" Tanya Kai karena mata Kyungsoo terlihat tak mengurangi besarannya, Kyungsoo menggeleng sebagai jawaban dan Kai kembali terkikik.

"Sepertinya ini akan menyenangkan. Kurasa Luhan sudah banyak mengajarimu."

"Tidak. Luhan tidak pernah mengajariku tentang hal ini."

"Tentu saja, ini tidak perlu belajar. Kau akan langsung bisa dengan melakukannya sekali." Kyungsoo melotot.

"Apa?" ayolah, Kyungsoo tidak sepolos itu. ia hanya malu menannggapi ajakan Kai.

"Mari kita mulai dengan ciuman." Kai tak mau berlama-lama mengulur waktunya untuk mencium Kyungsoo. Beberapa hari yang ia lewatkan bersama Kyungsoo membuatnya sedikit tersiksa ketika kulitnya dan Kyungsoo bersentuhan di atas tempat tidur atau tubuh mereka yang kadang menempel ketika tertidur. Pernah waktu itu Kai hampir kelepasan karena mereka berciuman di atas ranjang, namun kesadaran Kyungsoo tak hilang dan ia mengatakan tak akan melakukannya sebelum menikah, padahal mereka adalah dua orang lelaki yang seharusnya telah melakukannya jauh-jauh sebelum menikah karena ia merasa itu bukan masalah. Tapi ia menghormati Kyungsoo yang terlahir sebagai adik satu-satunya dari seorang Do Luhan yang seorang dokter dan anak bungsu dari Do Yongwoon yang melarang anaknya untuk menghamili anak orang sebelum menikah, jika dengan Kai maka maknanya adalah dilarang berseks sebelum menikah.

Tapi semua itu sudah terlewatkan, kini mereka menikmati ciuman sebagai sepasang suami-suami yang berperan ganda sebagai istri-istri, bibir tebal masing-masing bergerak dengan sendirinya mengikuti naluri dan posisi yang nyaman untuk mereka, tangan Kai mulai bermain-main di tubuh Kyungsoo, ia mengelus pelan leher Kyungsoo membuat bulu kuduk lelakinya itu berdiri, ciumannya berhenti di bibir ia menatap Kyungsoo sebentar dan menurunkan kepalanya ke leher putih Kyungsoo. Ia menghisap dan menggigitnya kecil, Kyungsoo menggigit bibirnya dengan mata terpejam dan ia berusaha mengatur nafasnya yang memburu, Kai berpindah dari leher kanan menjadi leher kiri, seperti vampire ia menggigit leher itu pelan, tangannya membuka kancing baju tidur Kyungsoo hingga terbuka keseluruhan menampilkan betapa putih dan menggiurkannya tubuh lelaki mungilnya. Namun ia tak ingin terburu-buru, Kai masih bermain dengan leher Kyungsoo bagian tengah menyesap jakun kecilnya yang membuat suara Kyungsoo menjadi serak, ia bisa merasakan kini Kyungsoo sering menelan ludahnya ketika ia menghisapnya. Kai turun kembali, mencium pundak Kyungsoo dan kini ia berada di salah satu titik sensitive kesukaannya, Kai mengeluarkan lidahnya dan menjilat nipple Kyungsoo seduktif, membuat Kyungsoo kaget dan geli secara bersamaan.

"Ahhh…" desahannya mulai keluar dan Kai semakin gencar, ia menyesap benda itu seperti bayi kehausan dan membiarkan tubuh Kyungsoo menggelinjang.

"Mmmmhhhhh…" Kyungsoo membusungkan dadanya mendapatkan sensasi geli dan nikmat di kedua nipplenya satu dengan mulut satu dengan tangan Kai. Tangan Kyungsoo beralih pada helaian rambut coklat Kai dan meremasnya.

"Engggghhhh…" suaranya terdengar sensual karena Kai baru saja menggigit kecil benda itu, kini ia berpindah pada nipple sebelah kirinya dan melakukan hal yang sama pada Kyungsoo yang tengah mendesah dengan suara merdunya. Kai mengangkat tubuh Kyungsoo hingga membuatnya terduduk dan ia memeluk Kyungsoo dari belakang, ia mencium leher Kyungsoo sebentar sebelum menurunkan celana Kyungsoo sekaligus celana dalamnya hingga kini lelekinya benar-benar telanjang bulat, memperlihatkan junior Kyungsoo yang mengacung. Kai menggenggamnya gemas, dan itu membuat kepala Kyungsoo menengadah di bahu Kai menahan nikmat yang ia rasakan.

"Ahhhh…Mmmhhh..Engghhhh…" erang Kyungsoo frustasi ketika Kai mulai memijat juniornya perlahan.

"Kau menyukainya?" Kai berbisik di telinga Kyungsoo membuat Kyungsoo mengangguk pelan sebelum kembali mengeluarkan suara-suara nafas yang tak bertauran dari hidung dan bibirnya. Kyungsoo menggenggam tangan Kai yang berada di juniornya.

"Kaihhh…" panggilan itu mengisyaratkan Kai untuk bergerak lebih cepat memberi kenikmatan pada dirinya. Kai mengecup pundak Kyungsoo dan mengocoknya lebih cepat hingga Kyungsoo menggelinjang keenakan. Kyungsoo menatap kearah Kai yang berada di belakangnya,kemudian mereka terlibat dalam ciuman yang benafsu, kini keduanya saling bertukar nafas di dalam mulut masing-masing sementara tangan Kai masih terus gencar mengocok milik Kyungsoo, Kyungsoo mencapai puncaknya kemudian dan mengela nafasnya sebentar.

"Ini tidak adil." Kyungsoo kini berbalik membuka baju Kai dengan cepat sekaligus celananya, Kai tersenyum melihat tingkah Kyungsoo yang nakal. Kini Kyungsoo menghisap leher Kai dan menggigitnya hingga meninggalkan bercak merah disana.

"Jangan buat di tempat yang terlihat. Aku harus mencari pekerjaan segera ahh…" Kyungsoo mengangguk kemudian ia turun ke dada Kai melakukan yang Kai lakukan padanya ia membuat banyak tanda kemerahan di sana dan Kai mengelus rambut Kyungsoo.

"Buat sesukamu, aku milikmu." Kyungsoo masih gencar meninggalkan jejak cintanya untuk Kai, sementara Kai menikmati setiap sentuhan Kyungsoo dengan mata yang tak lepas dari suaminya itu. Kai tak mau meninggalkan setiap incipun kecupan manis Kyungsoo di kulitnya special di malam pertama mereka. Kyungsoo menurunkan fokusnya pada kejantanan Kai yang telah mengacung tegak. Pemikiran pertamanya adalah panjang, bagaiamana benda itu nanti masuk kedalam lubangnya dan bayangan itu tampak menyakitkan untuknya.

Kai meraih tubuh Kyungsoo dan membaringkannya kembali hingga kini mereka bertatapan.

"Biarkan aku masuk." Kata Kai pelan,kemudian mengambil pelumas yang Kyungsoo pegang barusan ia melumuri gel di tangannya dan tangan satunya membuka paha Kyungsoo menampilkan hole Kyungsoo yang terlihat sempit, Kai mengoleskan benda kental tersebut membuat Kyungsoo memekik, Kai tersenyum kearah Kyungsoo sebentar dan memasukan jari telunjuknya untuk membuat pemanasan pada Kyungsoo.

"Kaihhh ahhhh…" Kyungsoo merasa aneh namun juga ada sensasi menyenangkan dilain halnya. Sensasi dingin yang kemudian menjadi panas pada tubuhnya, Kai menambah jarinya dan Kyungsoo merasa lubangnya agak penuh sekarang sebelum ia membayangkan lebih jauh ia melihat Kai memasang ancang-ancang dengan mengoleskan kejantanannya dengan gel itu yang kemudian beranjak masuk ke dalam lubangnya.

"Aaakkhhhhhh…" kini desahannya terasa menyakitkan, dan Kai dapat menyimpulkan bahwa itu merupakan sebuah rintihan bukan lagi desahan kenikmatan, namun Kyungsoo tak mengeluh apapun padanya dia hanya melihat lelakinya meringis sebentar dan setelahnya ia hanya diam menatap Kai.

"Boleh aku bergerak?"

"Perlahan." Ucap Kyungsoo seperti kehabisan tenaga, Kai tau ini akan sakit namun ini pasti nikmat kemudian. Pinggul Kai bergerak maju mundur dengan perlahan membuat Kyungsoo meringis kuat.

"Aaaakkhhh…" Kai tak melewatkan sedetikpun tentang ekspresi kesakitan Kyungsoo saat ini, ia mendorong kejantanannya makin dalam untuk menemukan kenikmatan Kyungsoo, setelah beberapa menit pergerakannya ia akhirnya menemukan ekspresi lain dari adik Do Luhan itu, itu bukanlah ekspresi kesakitan lagi melainkan suara nafas yang memburu saling beradu dadanya naik turun dan keringat mulai membasahi seluruh wajahnya juga beberapa bagian tubuhnya. Kai menusuknya lebih dalam dengan gerakan yang lebih cepat.

"Engghhh Kyungsoo, kau… menakjubkann." Kai mengecupi seluruh bagian wajah Kyungsoo yang sedang terpejam karena tusukan Kai yang memberinya kenikmatan luar biasa, suara-suara nafas dan ranjang yang berderit memenuhi kamar mereka malam itu.

"Kaiihh…saranghaaeee enggghhh… emhhh…" Kyungsoo memeluk leher Kai kedalam dadanya namun hal tersebut tak berpengaruh sama sekali dengan tingkat kecepatan maju mundurnya, Kai masih melakukannya dengan sangat baik hingga ia merasa akan mencapai puncaknya setelah sekian lama menusuk.

"Kaaii aku keluaarrr.." Kyungsoo mengeluarkannya lebih dulu hingga mengenai perutnya dan Kai menyusul setelahnya cairan yang memenuhi lubang Kyungsoo. Mereka berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya.

Kai mengangkat tubuh Kyungsoo menjadi terduduk diatasnya tanpa melepaskan kontak mereka, Kyungsoo melenguh karena kejantanan Kai menusuk lebih dalam. Kai bergerak lagi dengan tempo yang agak cepat membuat mereka sama-sama mendesah lagi.

"Ahhhh…Kaii…engghhhhh."

"Apa enak Kyungsoo?" Kyungsoo tidak sempat peduli dengan pipinya yang merona namun ia tetap mengangguk dan memeluk tubuh suaminya, mereka sama-sama bergerak memberi kenikmatan pada masing-masing. Malam itu terlewatkan dengan aroma cinta dan penyatuan mereka yang entah berapa ronde, mereka seperti kecanduan seks dalam semalam. Entah tenaga darimana hingga mereka bercinta begitu panas di malam pertama mereka.

Kini mereka berbaring di atas ranjang berdua tidur berhadap-hadapan melihat wajah satu sama lain.

"Kai, kuharap setelah ini kau tidak hanya mencintai tubuhku."

"Aku mencintaimu, seluruhnya yang ada padamu." Kai mengelus surai Kyungsoo.

"Ini bukan kepuasan semata, aku sedang menandai dirimu. Ini kepatuhan dan aku mengikatmu."

"Tandai aku, semua sudah jelas Kyungsoo. Aku milikmu."

"Ayah bilang jika kemesraan pernikahan hanya berlangsung beberapa bulan, setelah itu adalah tanggung jawab."

"Ya mungkin saja kemesraan kita akan berkurang, tapi sebisa mungkin rasa cintaku tidak akan berkurang untukmu."

"Kau hanya menggoda."

"Tidak, aku serius. Ayahmu mungkin benar jika kemesraan kita hanya berlangsung beberapa lama mungkin setelah ini kita akan sering bertengkar tentang hal-hal kecil mungkin akan memaki dan sebagainya, tapi setelah itu kita akan kembali meminta maaf atau melakukan hal-hal bersama seperti biasa. Aku akan tetap mencintaimu." Kyungsoo terdiam.

"Kita akan mesra sampai tua." Ucap Kai lagi.

"Aku akan memegang omonganmu!"

"Baik. Pegang saja." Kyungsoo mendengus .

"Atau kau mau pegang yang di bawah? Pegang hingga tegang." Kyungsoo kini melotot dan memukul lengan Kai.

"Ayo tidur, ini malam yang hebat." Kai mengecup Kyungsoo sebentar sebelum mereka berdua benar-benar tertidur.

.

Pagi mereka tidak bisa di bialng pagi yang indah, sebab mereka bertengkar pagi-pagi karena masalah kamar mandi dan berlanjut dengan makanan Kyungsoo yang selalu keasinan dan Kai mengejek masakannya yang selalu buruk, atas saran Kai besok biar Kai yang memasak atau mereka hanya akan makan nasi dengan garam. Kyungsoo cemberut, karena ia bangun lebih pagi jadi ia pikir dirinya yang akan menyiapkan sarapan namun ternyata percobaan awalnya gagal. Kyungsoo orang yang telaten, namun ia terbiasa di masakan oleh tukang masak rumahnya atau kadang Luhan dan ia belum sempat belajar memasak untuk bekal pernikahan. Kai tidak suka membuang-buang makanan, tapi hasil masakan Kyungsoo terlewat asin hingga tidak bisa di makan, Kai memasaknya ulang menambahkan air dan sedikit gula agar rasa asinnya berkurang. Sesekali Kai mencium pucuk kepala Kyungsoo yang hanya menunggu di meja makan tanpa berniat menghancurkan lagi.

"Terima kasih atas usahamu. Yah, walaupun gagal." Kata Kai terkikik Kyungsoo semakin melotot dan Kai mundur beberapa langkah.

Gebrakan di pintu menyadarkan mereka untuk bergegas melihat siapa yang datang. Dua orang lelaki dengan wajah menyeramkan dan tubuh kekar di bagian belakang, dan yang satu lagi berwajah angkuh, ia tersenyum miring melihat Kai yang baru keluar.

"Kim Jongin?" Kai mengangguk sebagai jawaban, pria itu menyerahkan selembar kertas untuk Kai.

"Utangmu harus segera lunas, kau tidak bisa lari kemanapun karena ada tanda bukti di sini. Jika kau mencoba kabur kau dalam keadaan bahaya aku akan melaporkan kepolisi atau hal yang lebih membahayakan lainnya." Jelasnya, Kai mengkerutkan keningnya bingung.

"Aku tidak pernah merasa berhutang pada siapapun."

"Dua tua Bangka itu berhutang atas namamu." Kai tercekat, dia tau siapa yang di sebut tua bangka dia adalah paman dan bibinya, Kai begitu kecewa setelah melarikan uangnya dan kini ia memberikan hutang pada Kai dengan jumlah yang tidak sedikit.

"Kejam sekali mereka." katanya lirih.

"Kau pernah dengar kata bahwa di dunia ini tidak ada orang yang benar-benar baik? Mereka salah satunya hahahaha. Tapi aku kesini bukan untuk melihatmu meratapi mereka, hutangmu harus segera terbayar jika tidak tanahmu menjadi jaminannya!" rentenir itu memberikan beberapa berkas tanda bukti hutang, ia melihatnya sebentar dan sangat luar biasa sekali foto copy kartu tanda penduduknya ada di sana di bawahnya mungkin hal-hal lain. Paman dan bibinya adalah orang-orang cerdik yang kejam.

"Jangan ambil tanahku, orangtuaku mendapatkannya sangat susah dan aku harus menjaganya."

"Kalau begitu lunasi hutangmu segera!" kedua orang itu pergi meninggalkan Kai yang masih terdiam di depan pintu menatap kertas yang ada di tangannya, Kai bahkan belum pernah memegang uang sebanyak itu dan ia harus mengembalikan apa yang orang lain pinjam. Tubuhnya lemas, ingin rasanya ia mati saja. Namun ketika ia berbalik dan melihat Kyungsoo di sana berdiri dengan wajah datarnya ia harus memikirkan ulang niatnya untuk mati karena jika ia mati maka semua beban otomatis jatuh pada Kyungsoo.

"Kyungsoo, aku harap kau tidak minta cerai setelah ini." ucap Kai serak, ia terluka benar-benar terluka. Kyungsoo sudah mendengar cerita Kai mengenai paman dan bibinya yang kejam, namun setelah melihat langsung ia tahu bahwa mereka bahkan lebih dari kata kejam.

Kyungsoo merentangkan tangannya kemudian mendekat ke tubuh Kai, ia merengkuhnya dalam.

"Selamat datang di kehidupan berumah tangga, Kai." Bisiknya lembut di telinga Kai.

TBC

Anyeooongggg…

Semoga kalian gak kecewa. Terimakasih untuk semuanya…

Untuk yang menghargai karya saya dengan meninggalkan jejak, terimakasih dan aku mencintai kalian…

Aku tau cinta aja gak cukup, tapi bener deh aku bener-bener cinta kalian #Alay

Sampai jumpa! Hwating!