Scandal
Rated : T
Genre : Romance, Humor, Frendship, Family
Pair : Draco x Hermione, Theo x Hermione, dll
Disclamer : J.K Rowling
Author : Constantinest
Harry Potter
Au, Typoss, dll
-Enjoy Reading-
-XOXOXO-
"Apakah kau yakin, kita harus memberitahunya?" tanya Hermione menatap dua pria dihadapannya.
"Aku tak yakin," Ucap Theo menatap Tom.
Sementara Tom hanya diam saja, "Dia harus tahu,"
"Tapi aku tak tega memberitahunya, kau saja," ucap Hermione menunjuk Theo.
Pria yang ditunjuk menunjukan ekspresi kaget, "jangan aku. Aku kasihan kepadanya!"
"Memangnya kau peduli dengannya?" ucap Tom menyeletuk.
"Tidak sih, aku biasa saja. Hanya saja aku kasihan kepadanya,"
"Nah! Kalau begitu kau saja yang beritahu!"
"Enak saja aku, kau saja yang beritahu. Kaukan bilang keladinya," ucap Theo menjerit.
"Huft, malas."
"Bisakah kalian berhenti bertengkar seperti anak kecil? Dia harus diberi tahu!" jerit Hermione meninggi dan mengempaskan tubuhnya kesofa.
"Aku takut dia terkena penyakit jantung, kau tahu. Terkadang orang yang lemah bisa terkena penyakit jantung." Ucap Theo menjelaskan dan duduk disamping Hermione.
"Menyingkir kau dari adikku," pekik Tom dan segera duduk menyerobot disamping Hermione membuat Theo mengalah dan menghindar menjauh, "Berlebihan."
"Apakah dia punya riwayat penyakit jantung?" tanya Hermione.
"Tidak tahu, aku tak kenal dia," ucap Theo.
Tom melihat Hermione membisikkan suatu kata ditelinganya, "Hermione, pertama kalau kau ingin membuat semuanya menjadi normal, kau harus menyembuhkan yang kecil dulu. Seperti dia yang lupa ingatan itu, sembuhkan dia baru kita memberitahu Draco. Bahaya jika diteruskan,"
"Memangnya kalau dia kembali ingatannya, dia bakal ingat? Kakak lupa? Dia memiliki penyakit gampang lupa yang sangat parah?" ucap Hermione berbisik.
"Setidaknya dia tak meniruku,"
"Apa yang kalian bicarakan, sampai-sampai berbisik seperti itu?!"
"Apakah aku harus memukulnya lagi agar dia bisa mengingat?" tanya Tom, mengacungkan tangannya yang menggengam. "Aku bisa membuat dia kembali ingatannya hanya dalam satu pukulan."
Hermione memengang tangan Tom dan menurunkannya, "Tidak cuma ingatannya kak yang hilang, nyawa dan kepalanya juga bisa. Jangan memukulnya, bagaimana kalau dia mengira dirinya orang lain tentu repot?"
"Kau benar, kerumah sakit saja,"
Hermione berdiri, berjalan duduk disebelah Theo. "Theo kau mau menemaniku sebentar?" tanya Hermione lembut.
"Kemana?"
"Kedokter,"
"Kau hamil Hermione?!" tanya Theo memengang perut Hermione.
Pukulan besar mendarat ke kepala Theo, membuat Theo terjungkal kebelakang. "Memangnya aku hamil?"
'Bukankah dia barusan bilang bahwa Theo jangan dipukul? Nyatanya ia memukulnya hanya dalam lima menit setelah ia mengucapkannya, mengerikan,' pikir Tom
Tom segera membantu Theo, "Hey, bangun." Ucap Theo menarik baju Theo.
Theo diam.
"Um, Hermione. Sepertinya kau memukulnya terlalu keras sampai-sampai dia pingsan,"
"Apa?!" Hermione segera berdiri dari sofa dan mendekati Theo. "Theo bangun,"
"Kalau kau membunuhnya, itu pertanda—"
"Kak, tak bisakah kau tak menakutiku?" ucap Hermione sedikit panik, mengoyangkan baju Theo.
"Maaf, tapi kalau itu benar—"
Hermione menatap Tom dengan garang. Tom segera pergi menuju dapur mengambil segelas air kemudian membawanya keruang tengah. Ia menyiram wajah Theo dengan air di tangannya dengan kasar.
Sebelum Tom menyiramkan air, Theo sudah mulai mengerjapkan matanya perlahan. "Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyiramku, freak!"
"Freak katamu?" ucap Tom tak terima.
"Ya, kau si Freak! Hermione, bagaimana kau bisa bertahan tinggal bersamanya?"
Hermione menatap Theo kagum. "Theo kau kembali?" ucap Hermione segera memeluk Theo dengan erat. "Memangnya apa yang terjadi?"
"Siapa kau?" tanya Tom memastikan Theo sudah kembali atau bukan.
"Kau lupa ya, freaky? Aku Theodore Nott, menejer Draco yang paling hebat,"
"Baguslah kau sudah sadar," ucap Tom lega, 'memang pukulan yang keras bisa mengembalikan ingatan seseorang, tetapi bukankah itu terlalu ekstrim?'
"Ngomong-ngomong Hermione dimana Draco?"
"Dia sedang tidur pulas, kau jangan menggangunya."
"Kenapa dia bisa tidur, sementara kita tidak?"
"Ah kau benar, kita harus tidur untuk kekuatan kita besok pagi. Hermione besok pagi saja kita lanjutkan," ucap Tom berjalan pergi, Hermione melepaskan pelukannya, mengulus kepala Theo dengan perlahan. "Sampai besok," ucapnya tersenyum kemudian pergi keluar.
Wajah Theo memerah, "manis," gumannya singkat. Theo menatap sekelilingnya, kamarnya berantakan seperti kapal Titanic. "Apa yang sudah terjadi? Dan bagaimana mungkin mereka meninggalkan aku dengan kamar berantakan seperti ini?" seru Theo kemudian keluar dari kamar. "Kurasa aku harus menumpang,"
-XOXOXO-
Tom masuk kekamarnya, setelah dia mengantar Hermione kekamarnya. Kamar Hotel itu masih rapi dan bersih. Tom merebahkan tubuhnya, kekasur besar itu. Melepaskan dua kancing atasnya. "Rasanya aku bisa pensiun dini, jika mereka sampai masuk militer," kekehnya.
"Rasanya capek sekali, mengurus dua orang pria yang sudah dewasa tetapi dengan tingkah kekanakan. Dan aku belum pernah sesabar ini dalam menghadapi seseorang, kecuali dia." Ucapnya berguman kecil.
Perlahan Tom menatap langit-langit hotel yang bergambar awan-awan. "Apakah kau masih marah kepadaku?" tanyanya pada dirinya.
Sebuah ketukan dipintu terdengar perlahan.
"Ck, siapa yang mengganguku?" serunya kesal, ia bangkit dari ranjangnya dan membuka pintunya. Seorang pria berambut hitam, bermata hijau, menatapnya dengan padangan aneh. "Apa yang kau inginkan dariku?"
Theo segera masuk kekamar itu tanpa dipersilahkan, membanting tubuhnya keranjang dan mulai memejamkan matanya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Kau tak lihat? Freaky? Aku sedang mencoba tidur."
"Aku tahu, tetapi kenapa kau kesini?"
"Kamarku berantakan, dan Draco ada diranjangku."
"Kalau begitu kenapa kau tak tidur disampingnya saja?"
"Tidak, Hermione bilang aku tak boleh menggangu Draco."
Tom memijat kepalanya, menghirup udara sebentar, lalu menatap Theo. "Lalu kau ingin menginap disini? Dikamarku dan tidur bersamaku?"
"Iya," seru Theo senang, menatap Tom dengan gembira.
Tom meremas kepalanya, 'Barusan aku mengurus Draco yang menggila dan aku capek. Kini, aku harus mengurus menejernya juga?'
Tom sudah sangat lelah dan malas berdebat. "Baiklah, kau bisa tidur disini."
"Benarkah,"
"Ya, tetapi disofa."
"Sofa? Kenapa aku tidak tidur diranjang ini saja?"
"Aku paranoid jika ada pria tidur disampingku,"
"Bukankah dimiliter juga sama? Kalian tidur bagaikan pindang dijemur, berjejer-jejer."
"Terserah, tidurlah disofa."
"Kau menyebalkan, kalau begitu aku tidur dikamar Hermione saja," ucap Theo berdiri dari kasur dan berjalan keluar.
"Tidak, kau tak boleh tidur dengan Hermione."
"Baiklah egois, kalau begitu aku tidur diranjang atau aku pergi kekamar Hermione."
"Terserah, aku mau mandi."
"Aku juga, bagaimana kalau kita mandi bersama?" seru Theo riang.
Tom meneguk ludahnya, berjalan keluar dengan perlahan. "Kurasa aku akan memesan kamar lain, kau gunakan kamar ini sebagai kamarmu. Anggap saja kamar ini milikmu,"
"Hei, kau mau kemana?" tanya Theo menarik tangan Tom.
Tom menatapnya dengan paranoid, "Aku memesan kamar lain,"
"Tak perlu, aku tak perlu banyak tempat. Tidur saja disampingku,"
Tom semakin lemas, "Tak apa Theo, tak perlu ragu."
"Tidak Tom, kita inikan akan segera semakin akrab. Kau tak perlu sungkan, bagaimana kita mandi bersama. Itu mempererat hubungan sesama pria,"
Tom melepaskan tangan Theo dari tangannya, "Tidak apa," ucapnya tersenyum manis. "Aku akan keluar sebentar,"
"Baiklah, akan kutunggu!"
"Tidak—tidak perlu, kau mandilah,"
Theo menatap Tom dengan aneh, "Kenapa dia? Freaky, padahal aku ingin membalas kebaikannya selama ini,"
-XOXOXO-
Tom berjalan keluar kamarnya, ia masih sedikit takut dengan Theo. Terkadang Tom tak bisa menebak apa isi pikiran Theo, mengingat pria itu sedikit tak berotak, mungkin.
Tom menuju lantai bawah, memesan kamar baru untuknya, sambil menunggu kunci kamarnya ia memilih untuk melihat sekitar. Seorang wanita berjalan mendekatinya, kemudian menamparnya.
"Kau laki-laki tak tahu diri!"
"Eh? Apa maksudmu?"
"Beraninya kau mencampakkanku?"
"Mencampakkanmu? Aku tak mengenal dirimu,"
"I—iya aku tahu, itu adalah kau, Robertus!"
"Robertus? Maaf nama saya Tom,"
"Bukan," ucapnya kemudian ambruk, kejadian ini membuat Tom terkejut dan mau tak mau terlibat lagi dengan namanya orang mabuk. "Nona, dimana kamar anda?" tanya Tom mencoba menanyai wanita itu.
"Um, Robertus? Kau menyebalkan," ucapnya sambil memukul dada Tom.
"Hey, hentikan."
"Tuan ini kunci anda,"
"Ah terimakasih," ucap Tom kemudian pergi.
"Tuan, apakah wanita ini bersama anda?" ucap wanita yang bekerja di hotel itu, mengoyangkan tubuh wanita mabuk itu. "Robertus," ucapnya sambil menunjuk Tom.
Beberapa orang mulai berbisik-bisik, membuat Tom risih, ia berbalik tersenyum kecil. "Oh, iya aku lupa kalau aku bersamanya." Kekehnya tak suka. Dengan berat hati Tom mengendong wanita itu sebenarnya ia lebih suka kalau menyeretnya, tetapi bagaimana dengan imagenya sebagai pria tampan, mempesona dan masih banyak lagi.
"Terimakasih sudah memberitahuku," ucapnya, kemudian pergi.
"Apakah hari ini, hari mabuk sedunia? Kenapa semua orang yang mendekati kelainan semua?" eluh Tom, dengan berat hati ia membawa wanita itu kekamarnya. Beberapa orang menatapnya sambil berbisik-bisik, tetapi Tom bisa mendengarkannya.
"Lihat, aku yakin dia pria yang buruk. Terbukti membawa wanita mabuk, aku yakin dia pasti ingin melakukan sesuatu terhadap wanita itu, kasihan."
"Iya, dasar anak muda jaman sekarang,"
Tom hanya bisa mengulus dada dan berharap semua cobaan ini berakhir.
Tom membuka kamarnya, menaruh wanita itu disofa. "Maaf Nona, apakah kau tak memiliki tanda pengenal?" wanita itu berambut hitam, pendek, bergelombang, kulitnya putih mulus, terlihat matanya hitam karena eyeliner. Sepertinya dia baru saja diputuskan oleh kekasihnya. Wanita itu mengenakan celana jeans, kaos hitam, jaket kulit coklat dan sebuah tas Chanel keluaran terbaru ditangannya.
"Maaf, aku tahu. Aku lancang tetapi aku harus melihat isi tasmu." Ucap Tom, "Tetapi itu kurang ajar. Ah, kubiarkan saja dia," ucap Tom menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya.
"Aku lelah,"
-XOXOXO-
"Hermione! Hermione bangun!" pekik seseorang.
Hermione perlahan terbangun, "Theo?" gumannya.
"Kau harus segera keluar dari sini!"
"Kenapa?"
"Akan kujelaskan kau, sekarang kau harus pergi! Ayo ikut aku,"
"Tapi aku belum membersihkan tubuhku,"
"Lupakan, ini lebih gawat!"
"Kenapa?"
"Kemarin malam aku mendapat email dari seseorang tak dikenal, bahwa dia akan membunuhmu, bahkan aku juga mendapatkan gambar pisau dengan darah disekitarnya."
"Lalu?"
"Mereka adalah fans Draco, mereka akan membunuhmu! Cepat kurasa kita harus segera naik pesawat,"
"Pesawat? Tapi barang-barangku?"
"Lupakan Hermione, ini nyawamu. Begitu mengetahui bahwa aku mendapat email seperti itu, Draco segera memesankan tiket untuk kita agar kembali," ucap Theo mulai panik, "di internet banyak orang yang tak menyukaimu, kau harus menutupi wajahmu, agar kau tak diburu. Belum ada yang pernah melihatmu bukan? Cepat Hermione,"
"Ba—Baiklah, tapi?"
"Tapi apa?"
"Kenapa mereka ingin membunuhku?"
"Karena mereka tak suka jika kau menikah dengan Draco. Draco terkenal dan karena itu—"
"Tapi kami hanya menikah bercanda bukan?"
"Tetap saja? Memangnya mereka mau peduli? Draco menjomblo baru mereka senang!"
"Cepatlah Hermione,"
"Tapi pernikahannya dibatalkan bukan?"
"Aku belum memberitahu Draco, sebaiknya jangan mengungkitnya dulu. Draco dalam kondisi Badmood, tadi saja dia marah-marah karena foto ini."
"Ba-baiklah," ucap Hermione mengikuti Theo. Theo menggandeng tangan Hermione, ia mengenakan kaca mata hitam dan Hermione juga ditambah dengan topi fedora milik Theo.
Setelah mereka sampai keluar hotel, dengan segera Theo memesan Taksi dan segera pergi kebandara.
"Ayo, kakakmu sedang ada urusan dengan seseorang sehingga ia tak bisa pulang. Jadi kau tak perlu khawatir,"
"I—iya,"
"Hermione kau takut? Tenanglah, aku dan Draco takkan membiarkan hal buruk menimpamu. Percayalah,"
"Tetapi?"
"Aku dan Draco bisa melakukan apa saja, Draco sudah menyiapkan semuanya. Yang penting untuk menjaga kedamaianmu, kau tak boleh terlihat publi!"
"Tapi? Bukanlah semuanya sudah terlambat? Mereka sudah mengenalku dari namaku, aku Hermione Granger."
"Entahlah, ini semua permintaan Draco. Kau tak boleh membatahnya,"
"Baiklah,"
-To be Continued-
A/N : udah lama gak Update, hehe.. aku harap kalian masih mengingat cerita ini :)
Review and Dont be a Silent Reader.
Who you? THIS IS AYY, Selvinakusuma1, rui chan, Nyanmaru Desu, PmBenciPencuriPr, GobletDraconis, , Farah Zharifah, Soooogartsd, LunaScamander17, Priscillaveela, Ms. Loony Lovegood, LovelYuzka, Hermione Malfoy19, Awesome Malfoy, Adellia Malfoy, Lyra Jane Malfoy, Esposa Malfoy, Lya, Ayu rj, Shizyldrew, hime, penyemangat, Aliyanee apple, JCX122, lululala, poosy-poo20.
Thanks you... 3
