[REMAKE] From The Darkest Side by Santhy Agatha
Genre :: Romance, Thriller
Cast :: Kim Jongin, Xi Luhan, and others. [KAILU]
Rated :: M
.
Disclaimer : Saya me- remake novel favorit saya, cerita aslinya kalian bisa
baca novel From The Darkest Side (Santhy Agatha). So, cerita ini
bukan milik saya, saya hanya meremake oke?jangan nuduh saya plagiat ya.
Oh iya ini re-post ya?
.
Typo(s). SG.
Don't Like , Don't Read chingu!
Annyeong, ini lanjutan ff remake From The Darkest Side KaiLu Ver ^^
Happy Reading!
Kai menggedong Luhan memasuki rumah itu. Para pelayan tampak sibuk menyiapkan segala sesuatunya, suasana begitu sibuk tidak kelihatan kalau sekarang sudah dini hari.
Lelaki itu mendudukkan Luhan di ranjangnya yang berseprai satin, lalu memberikan beberapa instruksi kepada para pelayannya.
Setelah air panas dan perban serta obat-obatan lain diletakkan, para pelayan melangkah pergi dan meninggalkan Luhan sendirian di dalam kamar bersama Kai.
Luhan terdiam, berusaha menggenggam jari-jarinya yang gemetaran. Dia masih mengenakan jas Kai yang diselimutkan di bagian depan dadanya, menutupi pakaiannya yang robek. Dia sangat ketakutan, usaha pemerkosaan yang dilakukan Minwoo telah menguras seluruh emosinya, dan kemudian pemandangan mayat Minwoo yang bersimbah darah dengan mata dan ekspresi terkejut akan selalu menghantuinya. Ditatapnya Kai dengan pandangan ragu.
"Apakah kau akan membunuhku?"
Kai hanya tersenyum misterius dan kemudian bergumam tenang. "Buka jas itu."
Luhan langsung berjingkat dari ranjang, terkejut. Apakah dia dilepaskan dari mulut buaya hanya untuk masuk ke kandang harimau yang lebih ganas? Apakah lelaki itu akan memperkosanya?
Digigitnya bibirnya. Dia tidak akan menyerah kepada Kai, dan membiarkan lelaki itu menguasainya dengan mudah.
"Tidak." Jawabnya dengan menantang.
Kai mengangkat alisnya, "Keras kepala, padahal kau begitu lemah. Buka jas itu."
"Tidak!" suara Luhan makin keras, dia benar-benar ketakutan.
"Aku tidak akan memperkosamu. Aku tidak tertarik dengan perempuan yang acak-acakan setelah dipegang lelaki lain, dan terluka di mulutnya, tidak akan enak untuk dicium." Kai tampak tidak sabar, "Biarkan aku melihat lukamu."
Luhan gemetar. Aura menakutkan itu masih ada, memancar jelas dari tubuh Kai.
Benarkah lelaki itu akan melakukannya? Ataukah lelaki itu akan memperdayanya?
Kai mendekatkan meja yang berisi baskom air hangat, obat-obatan, kapas, perban dan beberapa obat luar lainnya ke dekat ranjang. Kemudian dia menarik kursi, duduk tepat di depan Luhan yang terduduk di tepi ranjang. Matanya menatap tajam, memaku Luhan di tempat sehingga Luhan tidak bisa berbuat apa-apa ketika Kai melepaskan jas yang melindungi buah dadanya yang terpampang jelas karena pakaiannya yang robek.
Otomatis Luhan langsung menutupi buah dadanya. Tetapi Kai mencengkeram pergelangan tangannya lembut, dan menyingkirkan tangannya ke samping tanpa kata. Pipi Luhan memerah ketika telanjang dada di depan Kai. Tetapi lelaki itu tampaknya tidak tertarik dengan pemandangan ranum buah dadanya. Matanya terpaku pada bekas cakaran dan goresan yang menimbulkan bilur-bilur merah di pundak Luhan. Dengan seksama Kai meraih pergelangan tangan Luhan, memeriksa memar-memar kemerahan yang beberapa mulai membiru dengan mengerikan di sana. Lelaki itu lalu menggunakan jemarinya untuk mengangkat dagu Luhan.
Memiringkan bibirnya agar terkena sinar lampu sehingga lukanya terlihat jelas. Sejenak suasana hening. Tetapi aura kemarahan terasa kental. Memenuhi ruangan, membuat suasana menjadi menakutkan. Lelaki itu menggertakkan gerahamnya sambil mengamati luka-luka Luhan. Dan kemudian terdiam lama seolah mencoba menahan diri.
Lalu dalam keheningan pula Kai mengambil kapas dan mencelupkannya ke dalam cairan alkohol antiseptik kemudian mengusap bilur-bilur kemerahan yang sedikit berdarah di pundak Luhan. Luhan mengerang atas sentuhan pertama kapas itu. Tetapi Kai memperlembut gerakannya,
"Shhh..." dia berbisik pelan, mencoba menenangkan Luhan ketika sekali lagi dia mengusap bilur-bilur itu dengan cairan alkohol dan antiseptik, membersihkannya. Luhan mengernyit merasakan pedih di kulitnya ketika proses itu. Kemudian lelaki itu mencelupkan kapas di air hangat dan menggunakan jemarinya sekali lagi untuk mengangkat dagu Luhan, dengan gerakan lembut tetapi pasti, diusapnya luka bekas tamparan Minwoo di ujung bibir Luhan.
"Ini akan membiru dan rasanya akan sedikit sakit." Kai mengucapkan kata-kata yang memecah keheningan, dia mengerutkan keningnya seakan tidak suka, "Aku tidak akan bisa menciummu untuk beberapa lama.
Luhan melotot, memandang Kai dengan marah. Seluruh tubuhnya sakit dan dia hampir diperkosa dengan memar dan luka di semua sisi tubuhnya, dan lelaki itu malahan mencemaskan tidak bisa menciumnya? Luhan makin yakin Kai lelaki yang jahat dan tidak punya empati.
Tetapi lelaki jahat inilah yang menyelamatkannya dari pemerkosanya. Luhan tiba-tiba menyadari kenyataan itu. Kalau Kai tidak datang dan menancapkan pisaunya ke punggung Minwoo tadi, mungkin Minwoo sudah berhasil memperkosanya. Luhan bergidik ngeri membayangkan apabila hal itu benar terjadi.
Kai mengamati perubahan ekspresi Luhan. Tetapi dia tetap diam. Tangannya masih sibuk membersihkan darah di sudut mulut Luhan. Setelah yakin sudah bersih, lelaki itu melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya dengan bilur-bilur bekas goresan dan cakaran di tubuh Luhan, dioleskannya dengan antiseptik.
"Selesai. Sekarang buka bajumu."
"Tidak mau." Luhan kembali melindungi dadanya dengan kedua lengannya. Lelaki itu bermimpi kalau dia bisa membuat Luhan telanjang secara sukarela di depannya.
Kai menatap Luhan dengan marah. Sejenak ada api di matanya, seolah dia bertekad akan membuat Luhan menuruti kemauannya. Tetapi kemudian lelaki itu melihat penampilan Luhan yang mengenaskan dan acak-acakan, dan entah kenapa memutuskan mundur dan mengalah.
"Oke. Ganti bajumu dengan itu." Lelaki itu menunjuk piyama sutra warna hitamnya yang terlipat rapi di meja. "Aku akan membalikkan badan."
"Kenapa kau tidak keluar dari ruangan ini?"
"Karena aku tidak mau." Tatapan Kai kejam dan mengancam, mengingatkan Luhan kalau perempuan itu sudah terlalu jauh mencoba batas kesabarannya, "Cepat ganti bajumu."
Kai melangkah ke jendela yang membelakangi Luhan dan menatap ke arah luar. Sejenak Luhan terpaku menatap punggung Kai, tak menyangka kalau Kai mau mengalah untuknya.
Kemudian dia berusaha membuka gaunnya. Roknya sobek dan menggantung dengan menyedihkan di pinggangnya. Luhan melepaskan gaunnya hingga dia hanya mengenakan pakaian dalam. Diliriknya Kai dengan waspada. Lelaki itu masih membelakanginya dan menatap ke luar jendela. Kaku bagaikan batu. Dengan cepat Luhan meraih celana piyama itu yang kebesaran dan mengenakannya. Ketika hendak memakai piyama hitam itu, dia harus mengenakannya dengan susah payah. Lengannya kaku karena memar, dan kegiatan mengancingkan kemeja itu sangatlah susah dilakukan karena jemarinya kesakitan dan gemetar.
Air matanya menetes, berusaha mengancingkan kemeja itu berkali-kali tetapi tidak berhasil. Dia mengutuk ketidakberdayaannya.
Kai membalikkan badannya ketika mendengar isakan tertahan Luhan, dan menemukan gadis itu sedang berusaha mengancingkan kemejanya dengan tangan gemetar dan air mata bercucuran. Lelaki itu mengumpat pelan, lalu menghampiri Luhan.
Tatapan Luhan kepadanya sungguh meluluhkan hati, bahkan untuk lelaki berhati kejam seperti Kai. Air mata yang menetes tanpa henti mengalir di pipi Luhan,
"Aku... aku sudah berusaha... tapi ini susah sekali." Tangan Luhan gemetar tak terkendali. Hingga Kai menangkupkan jemarinya ke jemari Luhan, berusaha menghentikan gemetarnya,
"Biarkan aku yang melakukannya." Lelaki itu menyingkirkan tangan Luhan dan mengancingkan kemeja Luhan satu persatu. Ketika sudah tertutup sampai ke atas, dia menghela Luhan supaya berbaring ke atas tempat tidur satin hitamnya.
"Tidurlah." Kai bergumam memerintah, tetapi rupanya dia tidak perlu melakukannya karena begitu berbaring, Luhan langsung tertidur pulas.
Semalaman Kai tidak tidur. Dia bersandar di jendela, sambil mengamati Luhan yang tertidur pulas.
Suho menghadapnya pagi-pagi sekali, dan Kai menemuinya di ruang kerjanya.
"Sudah kau bereskan?"
"Semuanya." Jawab Suho tenang, "Tidak akan ada yang tahu bahwa Minwoo telah lenyap. Dia menghilang begitu saja dari muka bumi. Dan apartemennya sudah bersih, dari semua bercak darah, dari semua sidik jari dan jejak kaki. Tidak akan ada yang bisa mengaitkan kita dengan apartemen itu."
"Bagus." Kai masih tampak tak puas, "Apakah Minwoo punya keluarga?"
"Dia punya seorang kakak laki-laki, kakaknya seorang wartawan juga. Dan juga seorang tunangan di luar kota." Suho mengerti apa yang diinginkan bosnya, "Apakah anda ingin saya 'membereskan' seluruh keluarganya?"
"Ya." Kai menggeram. "Jangan habisi mereka, cukup hancurkan kehidupannya, aku ingin mereka hancur perlahan dan menderita pelan-pelan." Bayangan akan goresan luka di pundak Luhan, memar-memarnya dan bekas tamparan keras di pipi dan ujung bibirnya membuatnya marah besar. Minwoo sudah mati untuk bisa menerima pembalasannya. Tetapi keluarganya tidak.
Kai tidak tanggung-tanggung kalau membalas dendam. Siapapun yang berani menyentuh apa yang menjadi miliknya, dalam hal ini merusaknya, maka akan menerima pembalasan yang setimpal.
Luhan terbangun hampir tengah hari. Kali ini seluruh tubuhnya benar-benar terasa sakit. Ujung bibirnya terasa bengkak sehingga dia susah berbicara. Dengan susah payah dia berusaha duduk di ranjang. Tetapi lalu berbaring lagi dengan lemah.
"Jangan duduk dulu. Kau akan merasakan kesakitan yang tidak menyenangkan setelah beberapa hari, tetapi setelah itu kau akan membaik." Suara itu terdengar lagi dari sudut gelap di dekat jendela. Luhan menolehkan kepalanya dan mendapati Kai berdiri di dekat bayang-bayang di jendela, lelaki itu sedang mengamatinya.
Kepala Luhan terasa pening, bahkan sekarang dia ditempatkan di kamar Kai. Bagaimana mungkin dia bisa melepaskan dirinya?
"Kau sudah berhasil menahanku di rumah ini. Sesuai obsesimu. Sekarang apa yang akan kaulakukan padaku?"
Kai tertawa pelan dan melangkah mendekati Luhan, "Kau benar-benar tidak takut padaku ya..." Lelaki itu membuat Luhan menghadapnya lalu sebelah jemarinya mencengkeram leher Luhan yang mungil. "Seharusnya kau tidak pernah mencoba kabur ... " Suara Kai mendesis penuh kemarahan, dan menatap Luhan mencoba-coba. "Aku bisa meremukkan leher mungilmu ini dengan sebelah tangan. Membunuhmu dengan tangan kosong... Kau tahu aku pernah melakukannya pada seorang pelacur. Aku membunuhnya dengan tangan kosong, lalu pergi. Aku melakukannya hanya untuk mengganggu Jongin, meninggalkannya terbangun dengan mayat wanita yang mati tercekik di ranjangnya. Lalu tertawa terbahak-bahak sambil mengamati dia berusaha membereskan semuanya."
"Kalau begitu lakukan saja." Luhan memejamkan matanya. Toh dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Kalaupun dia harus mati di tangan Kai, mungkin itu jalan yang terbaik.
Jemari Kai mengencang di lehernya, seakan benar-benar ingin mencekiknya. Tetapi kemudian pegangannya mengendur dan lelaki itu melepaskan pegangan tangannya di leher Luhan.
Luhan membuka matanya dan melihat Kai sedang mengamatinya dengan pandangan menilai.
"Kenapa kau tidak membunuhku?"
"Karena kau akan lebih bernilai bagiku kalau kau hidup." Kai menyeringai dengan tatapan jahat, "Aku menyimpanmu di sini bukan untuk kubunuh. Kalau aku ingin membunuh perempuan, aku tinggal menjentikkan jari dan membuat mereka datang kepadaku. Mereka bahkan tidak akan sadar sampai mereka sudah di ambang kematian."
Mata Luhan membara, "Seperti yang kau lakukan pada Taeyeon, ibuku."
"Itu kecelakaan." Kai tampak tidak menyesal, bahkan tampak sangat puas, "Ibumu menyelinap masuk ke dalam kamarku, dengan baju seksi transparan yang dikiranya bisa membujukku untuk jatuh dalam pesona tubuhnya." Kai mengernyit jijik. "Dan rasa ingin tahu membuatnya membuka koleksi album foto milikku." Kai tersenyum, tahu bahwa Luhan mengetahui apa maksudnya, dia yakin Jongdae sudah menjelaskan semuanya kepada perempuan ini, "Jadi dia harus kubunuh."
"Apakah begitu mudahnya bagimu untuk membunuh seseorang? Apakah kau memang tidak punya perasaan?"
"Perasaan?" Kai tertawa keras, "Cukup Jongin yang selalu dikuasai perasaannya, perasaan hanya akan membuatmu lemah. Sama seperti ibu kandungku yang dikuasai perasaan cinta membabi butanya kepada ayahku, membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa ketika aku dihajar dan dipukuli ketika usiaku masih kecil"
Luhan memandang Kai dengan terkejut. Jongin tidak pernah menceritakan hal itu kepadanya. Apakah yang dikatakan Kai itu benar, ataukah Kai hanya berusaha memanipulasinya.
"Jongin tidak ingat apa-apa, dia tahu kalau dipukuli, tetapi itu hanya karena dia terbangun dengan bilur luka di punggungnya." Mata Kai tampak gelap penuh amarah. "Ayahku itu monster yang suka memukuli anak-anaknya, kalau aku tidak sesuai dengan standarnya, dia akan mengayunkan tongkatnya dan memukuli punggungku tanpa ampun. Aku muncul karena peristiwa itu." Kai tersenyum dingin kepada Luhan, "Kau pasti bertanya apakah Jongin memilikiku sejak awal. Jawabannya mungkin tidak. Aku adalah pertahanan diri Jongin ketika dia merasakan sakit yang amat sangat ketika dipukuli oleh ayahnya. Jongin menenggelamkan kesadarannya dan lari dari kesakitan itu. Dan akulah yang kemudian terbentuk dari alam bawah sadarnya, terbangun untuk sadar penuh ketika ayahku memukuli punggungku dengan tongkat. Akulah yang menanggung kesakitan atas pukulan-pukulan itu untuk Jongin."
Luhan menutup bibirnya dengan tangan. Terkejut atas cerita Kai, dia pasti masih sangat kecil ketika harus menanggung kekejaman orangtuanya seperti itu.
Kai menatap Luhan tajam. "Semua kemarahan Jongin, kebenciannya kepada orang tuanya, kebenciannya kepada dunia, semuanya terkumpul pada diriku. Jongin yang membentukku menjadi seperti ini. Sampai kemudian aku tidak tahan lagi menerima pukulan-pukulan ayah. Aku merenggut tongkat itu dari tangannya dan memukul kepalanya sampai berdarah. Ibuku berteriak-teriak, dia membela ayahku, bayangkan, anaknya dipukuli dengan tongkat sampai tidak bisa berdiri dia hanya diam... dan ketika suaminya dilukai dia membelanya sekuat tenaga, sungguh ibu yang tidak berguna," Kai mencibir sinis, "Aku lalu mengancam kedua orang tuaku, kalau mereka berani bertindak kasar kepadaku lagi, aku akan membunuh mereka."
Jadi Kai terbentuk karena kemarahan terpendam Jongin di masa kecilnya. Kepribadian itu kemudian tumbuh bebas dan kuat, mencari waktu di saat Jongin lemah, lalu menjadi individu yang benar-benar berdiri sendiri.
"Apakah Jongin tidak akan kembali lagi?"
Kai tersenyum lambat-lambat, "Tidak sayang, dia sudah lemah dan tak sadarkan diri di sana, aku bahkan tidak bisa merasakan kehadirannya. Kau tahu, aku selalu lebih kuat dari Jongin. Ketika dia menguasai tubuh ini, aku masih tersadar, mengamati dari sudut yang paling gelap di dalamnya.
Tetapi ketika aku menguasai tubuh Jongin, dia sepenuhnya tertidur, dan mungkin akan terbangun dengan ingatan samar-samar akan perbuatanku. Hanya saja ketika itu aku masih merasakan kehadirannya, tertidur dalam tubuh ini. Sekarang aku tidak bisa merasakannya." Senyum Kai melebar puas, "Tubuh ini sekarang menjadi milikku sepenuhnya."
Wajah Luhan pucat pasi, benarkah yang dikatakan oleh Kai? Bahwa Jongin sudah lenyap? Kalau begitu... apakah sama saja Jongin sudah mati?
Itu tidak mungkin. Luhan menggelengkan kepalanya tanpa sadar. Jongin pasti masih hidup jauh di dalam sana. Dia hanya lemah. Kalau Luhan ingin menyelamatkan Jongin, dia harus bisa membangunkan kembali Jongin.
Tetapi bagaimana caranya? Lelaki ini tampak begitu kuat dan berkuasa. Dan juga begitu percaya diri. Akankah Luhan bisa membangunkan Jongin lagi?
Kai menemui Jongdae di rumah sakit. Kedua tangan Jongdae yang patah sudah dipasang pen dan di gips. Lelaki tua itu tampak tak berdaya duduk di atas ranjang rumah sakit, benar-benar sesuai dengan apa yang diinginkan Kai.
Para penjaga berjaga ketat di dalam dan dl luar ruangan rumah sakit di kamar paling privat itu. Kai memasuki kamar itu, dan berdiri sambil mengamati Jongdae.
Jongdae memalingkan muka, tidak mau melihat Kai. Bayangan anaknya, menantunya, dan cucunya yang masih kecil dan api yang membakar masih begitu menghantuinya. Seharusnya Kai membunuhnya juga karena sekarang dia sudah tidak pantas hidup lagi. Tetapi entah kenapa Kai tidak membunuhnya. Jongdae tidak tahu alasannya.
"Aku berhasil mendapatkan kembali Luhan." Kau bergumam lambat-lambat dengan puas, dia seakan hendak menilai reaksi Jongdae.
Jongdae memejamkan matanya, merasakan kesedihan yang menusuk jiwanya. Semuanya gagal. Bahkan usaha satu-satunya menyelamatkan Luhan pun gagal. Tuan Jongin pasti akan kecewa kepadanya.
"Lain kali, kalau mau merekrut orang, jangan hanya melihat pada hasil penyelidikan di atas kertas. Nilailah moralitas dan kejujurannya." Kai bergumam lagi, membuat Jongdae akhirnya menolehkan kepalanya dan menatap Kai dengan bingung.
Apa maksud kata-kata Tuan Kai?
"Minwoo langsung meneleponku, menawarkan kesepakatan yang lebih besar." Kai tersenyum mengejek. "Dia berpikir bahwa menjalin kesepakatan denganku akan memberikan keuntungan yang lebih besar daripada denganmu."
Jongdae mengernyitkan dahinya. Dasar wartawan bodoh! Jongdae benar-benar menyesal mempercayakan tugas sebesar itu kepada Minwoo.
"Dan aku menyelamatkan Luhan dari Minwoo pada waktunya."
Hening. Lalu Jongdae menatap Kai dengan pandangan bertanya-tanya. "Apa maksud anda?"
"Rekanmu itu mencoba memperkosa Luhan, aku datang tepat pada waktunya."
"Apakah anda membunuhnya?" Jongdae tetap bertanya meskipun dia sudah tahu jawabannya.
Kai terkekeh, "Tentu saja."
Jongdae menarik napas panjang, baru kali ini dia merasa lega atas pembunuhan kejam yang dilakukan Tuan Kai. Kalau memang benar Minwoo mengkhianati kesepakatan mereka dan kemudian malah mencoba memperkosa Nona Luhan, maka dia pantas mati.
"Aku seharusnya menghukummu karena sudah menempatkan Luhan dalam situasi seperti itu. Dia milikku dan lelaki itu hampir menyentuhnya, dan sudah melukainya."
Jongdae menatap Kai dengan tatapan datar. Tuannya itu sudah mematahkan kedua lengannya, hukuman apa lagi yang akan diterimanya? Apakah Tuan Kai akan mematahkan kedua kakinya juga?
"Aku akan memikirkan hukuman itu nanti. Sekarang aku sedang cukup senang karena Luhan telah kembali kepadaku lagi." Kai melangkah pergi sambil terkekeh mengejek kepada Jongdae. Ketika berada di pintu, tiba-tiba dia memutar langkahnya, "Dan omong-omong, aku tidak membunuh anak, menantu, dan cucumu, mereka baik-baik saja dan berhasil pindah ke tempat antah berantah yang kau sediakan buat mereka. Sayangnya aku tahu di mana tempat antah berantah itu berada." Tawa mengejek Kai semakin keras, "Aku mengatakan bahwa aku membunuh mereka, hanya untuk menyiksamu."
Lelaki itu pergi sambil menutup pintu di belakangnya. Tetapi tawa mengejeknya masih menggema keras dari lorong rumah sakit itu.
Yang bisa dilakukan Jongdae hanya menangis. Air matanya bercucuran. Ia menangis sejadi- jadinya. Tangisan syukur dan kelegaan yang luar biasa.
Kai menatap bayangannya di cermin dan dia mengernyitkan keningnya. Dia merasakan Jongin, yang kini berada di dalam cermin, membalas tatapannya.
Jongin ternyata masih ada. Beberapa lama ini Jongin tidak dirasakannya lagi sampai Kai mengira dia telah berhasil mengenyahkan Jongin selamanya. Tetapi sekarang Jongin sepertinya menggeliat lagi, bangun dari tidurnya yang panjang. Apakah jangan-jangan, kehadiran Luhan juga membuat Jongin menjadi kuat?
"Aku pikir kau sudah mati." Kai tersenyum mengejek kepada bayangannya di cermin Jongin menatap tajam Kai, "Aku masih ada di sini, Kai. Kau tidak bisa menguasai tubuh ini sendirian. Dan aku merasakan kehadiran Luhan."
Kai mengernyit. Jadi benar, Luhanlah yang menggugah Jongin agar terbangun. Tetapi bagaimana mungkin? Kai yakin Luhan membuatnya kuat karena gadis itu membuatnya terobsesi, obesi membuatnya fokus dan makin kuat sehingga bisa menguasai tubuh ini. Tetapi, bagi Jongin, perasaannya kepada Luhan adalah perasaan cinta. Dan cinta bagi Kai adalah sesuatu yang melemahkan. Bagaimana mungkin perasaan cinta bisa membuat Jongin menjadi kuat? Jongin tersadar lagi padahal Kai sudah mengusirnya jauh ke dasar.
"Kau tidak akan bisa menguasai Luhan." Jongin menatap Kai dengan pandangan mengancam,
"Aku tidak akan membiarkannya."
"Oh ya?" Kai tertawa, "Kita lihat saja nanti."
Ketika meninggalkan cermin itu, geraham Kai mengeras. Dia harus menguasai Luhan segera dan menunjukkan kepada Jongin bahwa dia lebih kuat.
Luhan berdiri mondar-mandir di kamar Jongin. Kamar itu terletak di lantai dua sehingga dia tidak bisa melompat, dan pintunyapun di kunci. Benak Luhan dipenuhi oleh pikiran-pikiran membingungkan. Dia ingin membangunkan Jongin, tetapi bagaimana caranya? Luhan sama sekali tidak punya pengalaman ataupun pengetahuan tentang hal-hal psikologi seperti orang-orang berkepribadian ganda.
Mungkin kalau bisa membujuk Kai supaya mengizinkannya ke perpustakaan, dia bisa menemukan buku-buku psikologi yang bisa memberikannya petunjuk bagaimana caranya membangunkan kembali Jongin. Kai mengatakan dia sudah tidak merasakan Jongin di dalam dirinya, dan dari senyum puasnya, Luhan tahu Kai tidak bohong. Dan itu membuat Luhan ketakutan. Jonginnya tidak mungkin mati dan hilang begitu saja bukan?
Tiba-tiba terdengar bunyi klik dari luar, dan Luhan melompat mundur dari pintu, menatap waspada ke sana. Tahu bahwa musuh besarnya, Kai akan masuk ke kamar ini.
Dan benar, Kai memang masuk, dengan pakaian hitam-hitamnya yang khas. Lelaki itu menatap Luhan dengan intens dan kemudian mengunci pintunya.
Luhan mundur selangkah, menyadari tekad yang sangat kuat di mata Kai. Tekad yang hampir sama seperti hasratnya untuk membunuh. Tubuh Luhan gemetaran. Apakah lelaki ini memutuskan bahwa sudah pantas baginya untuk mati?
"Kenapa kau menatapku seperti itu?"
Kai tidak menjawab. Lelaki itu malahan melepas kancing jasnya dan kemudian membuang jas itu di lantai. Dasinya menyusul kemudian. Dan lelaki itu mulai membuka kancing kemejanya.
"Apa yang akan kau lakukan?" Luhan menatap panik ketika Kai melemparkan kemejanya ke lantai, memamerkan tubuh indahnya yang sempurna. Otot-otot itu begitu pas dan keras di lengannya, bisepsnya membentuk lengkungan yang indah, begitupun otot dadanya dan perutnya yang kencang. Semuanya otot yang keras dan maskulin, tidak ada sedikitpun lemak di sana.
Kai melangkah maju, dan Luhan melangkah mundur. Kai melangkah maju selangkah lagi dan dengan refleks Luhan melangkah mundur lagi.
"Apa yang akan kau lakukan?" Luhan setengah berteriak, dengan panik menyadari bahwa dia sudah menempel pada pinggiran kasur, tidak bisa mundur lagi.
Kai tidak tersenyum, tatapan matanya tampak kejam tetapi penuh tekad,
"Aku akan bercinta denganmu."
TBC
Annyeong chingudeul :D
Gomawo buat yg uda nge-review ff remake'a ini jg memfollow maupun memfavorite ff ini #deepbow
Big Thanks review chingu :)
Kamsamhamnida :D #deepbow
Ditunggu reviewnya chingu :)
