Chapter 9

-The Same Feeling-

"Aku berangkat!" teriak Jaehwan sembari sibuk memakai sepatunya, dan hampir mulai berlari namun dihentikan oleh ibunya.

"Tunggu!" Nyonya Lee menarik lengan anaknya.

"Umma~ Aku sudah terlam-" Jaehwan behenti protes ketika ibunya tiba-tiba menyuapkan satu sandwich penuh ke dalam mulutnya.

"Tidak akan terlambat kalau kau makan sarapan lebih dulu.." Jaehwan tersenyum menunjukkan gigi putihnya dengan sandwich itu masih di dalam mulutnya. "Jangan hanya tersenyum! Berangkat sana!"

"Daa, umma!"

.

_Jaehwan POV_

Aku mengendap-endap lewat depan kelasku. Koridor-koridor sekolah sudah sepi karena bel tanda masuk kelas sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Aku mencoba mengintip ke dalam ruang kelas.

"Yess! Sonsaengnim belum masuk kelas!" Aku bersorak-sorai dalam hati.

Ketika aku baru saja berniat masuk kelas, mataku menangkap sesuatu. Dan ekspresi wajah berubah drastis. Hongbin dan Sanghyuk, mereka tengah asyik tertawa berdua. Oke, aku tahu ini hal yang biasa terjadi. Kurasa yang tidak biasa adalah diriku. Jantungku berdetak lebih kencang, dan aku merasa... kesal? Apa artinya ini? Apa ini artinya aku cemburu? Tidak. Kenapa aku harus cemburu?

"Hei! Apa yang kau lakukan di sini?" Sebuah suara muncul dari belakangku. Tiba-tiba saja aku merinding. Aku pun berbalik dengan perlahan, untuk melihat siapa pemilik suara itu.

"Hwa- Hwang Sonsaengnim?!" Aku nyengir di depannya. Dia bukan wali kelasku, tapi dia adalah guru paling killer di sekolah ini. Secepatnya, aku lempar ranselku ke dalam kelas lewat jendela sebelum sonsaengnim menyadarinya. Entah apa yang akan dipikirkan teman sekelasku, pokoknya aku tetp harus selamat sekarang. "A- aku baru kembali dari toilet."

"Kau tidak telat?"

"TI- TIDAK!" Teriakku, berbohong. Ia hanya menatapku tajam. "Aku datang tepat waktu, kok!"

"Kalau begitu cepat masuk kelas! Aku akan segera panggil wali kelasmu."

"Ne!" Aku membungkuk, kemudian melesat masuk ke kelas.

Aku menghelas nafas. Aku ambil ranselku di pojok kelas, sebelum mulai berjalan ke bangkuku biasa duduk. Hongbin dan Sanghyuk menyapaku.

"Hei. Kenapa lari-lari?" Sanghyuk bertanya sambil menepuk bahuku dari belakang saat aku sudah duduk.

"Bodoh. Karena aku terlambat!"

Sanghyuk dan Hongbin hanya mengangguk sekali, kemudian kembali ke percakapan mereka. Sedangkan aku hanya mendengarkan karena merasa lelah. Bahkan untuk mengangkat kepalaku dari meja saja rasanya tak bisa. Mereka membicarakan sesuatu yang aku tak mengerti. Tapi terkadang aku ikut tertawa akibat lelucon Sanghyuk. Tapi aku benar-benar tak tahu apa yang mereka bicarakan.

.

"Aku ke toilet sebentar.." Ucapku berdiri dari bangku tempatku duduk. Mereka berdua hanya menatapku.

Aku berjalan keluar dari ruang kelas. Namun saat di depan pintu, aku sempatkan melirik ke arah mereka. Mereka kembali berbicara satu sama lain. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang aneh. Selain perasaan cemburu yang aku tak yakin benar-benar muncul ini, di sisi lain, mereka seperti tak menghiraukanku selama pelajaran tadi. Aku merasa sendirian.

Aku berjalan sepanjang koridor. Benar-benar gaduh, karena sekarang sedang jam istirahat. Aku menundukkan kepalaku, berjalan tak benar-benar menuju ke toilet. Ya, tadi itu aku berbohong. Aku hanya ingin menjauh dari mereka.

Tiba-tiba, aku bertabrakan dengan seseorang.

"Ah! Ma- maaf!" Aku membungkuk.

"Kau lagi.." Ucap orang yang kutabrak. Aku tahu suara itu. Aku pun mengangkat kepalaku perlahan. "Kita selalu bertemu dengan cara tabrakan."

"Taekwoon hyung?"

Ada yang aneh. Tak seperti biasanya, jantungku berdetak seperti biasa saat mataku bertemu dengan matanya.

Aku kembali menunduk "Ma- maaf.."

"Hm." Ia hanya berdehem. Aku kembali tegak. "Kau sendirian? Di mana Sanghyuk dan Hongbin?"

"Ng.. Mereka di kelas."

"Lalu kau mau ke mana?" tanyanya, dan aku mulai bingung. Aku sudah bohong kepada dua temanku, dan sekarang apa aku harus berbohong pada Taekwoon hyung juga? Oh, tidak. Tidak perlu.

"Tidak ke mana-mana."

Taekwoon hyung hanya menatapku kebingungan. Aku hanya bisa menunduk lagi, sebelum dia tiba-tiba menggenggam pergelangan tangaku.

"Ikut aku saja ke kafetaria."

"Tunggu! Tapi aku-"

"Wae? Kau tak ada tujuan, kan?" Aku terdiam tak menjawab. "Kkaja."

.

_Author POV_

Di kelas.

"Sanghyuk.." ucap Hongbin sambil menundukkan kepalanya. Suaranya terdengar lemah.

"Ne?"

"Aku... Ada yang ingin aku tanyakan padamu."

"Mwo?"

Hongbin terdiam beberapa detik. Ia memikirkan apa yang akan ia katakan ini benar-benar harus ia katakan atau tidak.

"Bagaimana kalau aku menyukaimu?"

Kini giliran Sanghyuk yang terdiam. Matanya melebar menatap sahabatnya tersebut. Sanghyuk tak pernah menyangka kalau Hongbin bisa merasakan hal semacam itu padanya.

"Kau sudah move on dari Wonsik?" Hongbin mengangguk. "Jinjja? W- wae?"

"Dia sudah tak ada di sini! Aku hanya tak ingin hidupku terus dibayang-bayangi olehnya." Hongbin mengangkat kepalanya, matanya bertemu dengan mata Sanghyuk. Namun terlalu gugup menatapnya lebih lama, Hongbin dengan cepat kembali menunduk. "Dan sekarang.. Aku benar-benar menyukaimu."

"Ke- kenapa aku?"

"Mungkin karena kau selalu ada di sisiku. Dan... tingkahmu mirip dengannya, jadi-" Hongbin tak melanjutkan kalimatnya. Tangannya mengepal kuat di lututnya.

"Jadi kau menyukaiku hanya karena aku mirip dengannya?"

"Bukan begitu!" Hongbin berteriak, sembari mengangkat kepalanya. Kali ini benar-benar ingin menatap mata Sanghyuk. "Aku benar-benar menyukaimu... Ada beberapa alasan untuk itu."

Sanghyuk terdiam. Ia tahu bahwa Hongbin kini benar-benar merasa gugup. Itu terlihat dari raut wajahnya

"Hongbin. Aku punya pertanyaan lain untukmu." arah pandang Sanghyuk berpindah pada permukaan mejanya. Hongbin hanya bisa menatapnya. "Bagaimana menurutmu kalau... Aku juga punya perasaan seperti itu?"

.

Di kafetaria

"Ah.. Kenyang.." Taekwoon menepuk perutnya sendiri. Orang di depannya hanya tertawa. Taekwoon menatapnya. "Mwo?"

"Aniya.. Hanya saja, aku baru lihat sisi lainmu yang seperti ini, hyung. Di mata orang lain, kau selalu terlihat dingin dan berkarisma. Tapi ternyata tidak. Aku sekarang tahu kalau kau itu punya jiwa kekanakkan saat bertemu makanan haha.."

"Yah.. Kukira semua orang akan menyembunyikan kebiasaan jelek mereka. Terlebih ketika memiliki saudara yang secara sempurna, selalu lebih darimu." Kata Taekwoon sebelum menyeruput minumannya.

"Maksudmu?"

"Maksudku. Hongbin itu sempurna. Saat kami masih kecil, ayah dan ibu memperlakukannya lebih baik dariku. Tapi aku tak punya masalah dengan itu. Ia anak yang baik, manis, dan dia sangat pintar. Itulah kenapa semua orang menyayanginya." Taekwoon tersenyum sembari dua jarinya memainkan sedotan di gelasnya.

"Dan itu alasan kau mencintainya." Ucap Jaehwan datar.

"Bukankah pernah kukatakan padamu kalau aku sudah move on? Aku sudah tak mencintainya." Jawab Taekwoon dengan lembut.

Jaehwan memutar bola matanya sembari meletakkan dagunya di telapak tangannya, dan sikunya disandarkan di permukaan meja. Matanya menatap ke arah lain, malas menatap orang di depannya. Kata-kata waktu itu kembali muncul di otaknya.

Hongbin. Sungguh.. Aku masih mencintaimu. Aku tak bisa berpaling pada siapapun.

'Dasar pembohong.. Kau tak bisa bohong seperti itu padaku. Lagipula aku juga sudah tak peduli kau masih mencintainya atau tidak. Aku sudah tidak mencintaimu.' Pikir Jaehwan. Ia tak membalas kata-kata Taekwoon.

"Ngomong-ngomong," Taekwoon kembali bersuara setelah menghabiskan segelas minumannya. Jaehwan hanya melirikkan matanya. "Apa kau punya seseorang yang kau sukai?"

Jaehwan menolehkan wajahnya pada Taekwoon. Namun tanpa ekspresi. Taekwoon mengangkat alisnya kebingungan.

'Dulu KAU lah yang kusukai. Tapi sekarang, sudah tak ada siapapun dalam hatiku.' Batin Jaehwan. Kemudian menghela nafas, sebelum berdiri dari bangkunya dan berkata, "Aku tak ingin bicara tentang hal macam ini. Jangan pernah lagi membahas hal ini dengan ku!"

Mata Taekwoon terbelalak, selagi Jaehwan tiba-tba berjalan menuju pintu keluar. Taekwoon menoleh kepalanya, dan menatap punggung Jaehwan.

'Ada apa dengannya?'

.

Jaehwan masuk ke ruang kelasnya dan melihat Hongbin duduk di bangkunya, menunduk. Dan kebaradaan Sanghyuk entah di mana. Jaehwan duduk di bangkunya sendiri menatap sahabatnya dengan bingung.

"Hey, kau baik-baik saja? Di mana Sanghyuk?" Tanyanya sembari mencari wajah Hongbin. Tapi tak berhasil.

"Aku tak tahu." Hongbin menjawab tanpa mengangkat kepalanya sedikitpun. Jaehwan kebingungan. Tapi menurutnya, kalau pun ia bertanya apa yang terjadi, Hongbin pasti tak mau menjawab. Ia pun kembali menatap ke depan kelas.

Hening. Tak hanya karena Jaehwan yang tak punya topik untuk dibahas, namun Hongbin juga masih dalam posisinya, tak berniat sedikit pun untuk bergerak. Kemudian, Sanghyuk masuk ke dalam kelas. Jaehwan hanya menatap selama Sanghyuk berjalan ke tempat duduknya sendiri.

Dan lagi, hening.

Tak satu pun dari mereka yang berbicara.

.

"Jaehwan. Sedang apa kau di sini?" tanya Sanghyuk, sambil terus berjalan mendekati Jaehwan.

Mereka kini berada di atap gedung sekolah. Jaehwan berdiri di dekat pagarnya. Menatap langit, dan menikmati hembusan angin sore yang menyentuhnya.

"Tidak ada apa-apa." Jaehwan menjawab tanpa menoleh. "Apa Hongbin masih di klubnya?"

"Ne.."

Kemudian Sanghyuk berdiri di samping Jaehwan. Ia melakukan apa yang Jaehwan lakukan. Menatap langit, dan menikmati hembusan angin di wajahnya. Tak ada yang bicara untuk beberapa saat.

Sampai Jaehwan memulai.

"Sanghyuk.." merasa namanya di sebut, Sanghyuk menoleh. Namun tak mendapati Jaehwan menolehkan wajahnya. "Apa kau tahu bagaimana rasanya sendirian, dan tak ada yang menyayangimu bahkan mempedulikanmu sedikit pun?"

"Apa maksud-"

"Jawab."

Sanghyuk menatapnya. Namun Jaehwan tak sedikitpun memindahkan pandangannya.

"Itu pasti menyakitkan."

Mendengar jawaban itu, Jaehwan menoleh perlahan untuk menatap sahabtanya. "Apa kau akan membiarkanku mengalaminya?"

"Apa?"

"Apa kau akan membiarkannya?"

Sanghyuk benar-benar tak mengerti dengan kalimat Jaehwan. Ia berpikir sejenak.

"Aku tak akan pernah membiarkan temanku mengalami hal semacam itu." Sanghyuk tersenyum. Sedangkan Jaehwan terdiam. Kini ia tahu apa yang ia rasakan.

"Jae- Jaehwan.. Kenapa kau menangis?" Sanghyuk terkejut ketika melihat air mata membasahi wajah Jaehwan.

Jaehwan pun sadar akan hal itu, kemudian segera menghapus air matanya. "A- Ani.. Aku hanya bahagia memiliki teman sepertimu, Sanghyuk."

Jaehwan tersenyum, dan Sanghyuk menatapnya. Ia tak mengerti apa yang Jaehwan maksud. Ia hanya memberikan sebuah senyum balasan.

Kemudian, Hongbin datang.

"Teman-teman! Urusanku sudah selesai!" Teriaknya, dan kedua laki-laki di sana menatapnya. Hongbin berlari ke arah mereka. "Kalian sudah lama menunggu, ya? Mian.."

"Ani.. Dwaeseo! Ayo, kita pulang.." Ucap Sanghyuk. Jaehwan dan Hongbin mengangguk, dan mereka pun mulai berjalan.

Sanghyuk dan Hongbin berjalan di depan, tertawa. Sedangkan Jaehwan berjalan di belakang keduanya sambil tersenyum. Ia tertawa setiap mendengar kalimat lucu yang dikeluar Sanghyuk pada Hongbin. Namun jauh dalam pikirannya, ia tengah berargumen dengan berdebat dengan hatinya.

'Biasanya itu aku. Aku yang biasanya tertawa di sampingnya. Dan candaan-candaan itu biasanya terlontar untukku. Perasaan apa ini?'

Kau hanya cemburu, Lee Jaehwan.

'Tidak. Aku tidak cemburu.'

Ya. Kau cemburu.

'Tapi kenapa? Hongbin juga teman kami, pantas bila ia diperlakukan sama sepertiku. Kenapa aku harus cemburu?'

Karena kau punya perasaan yang sama seperti Hongbin.

'Tidak, itu tidak benar.'

Ya, itu benar. Kau menyukainya.

.

.

.

.

.

=To Be Continued=


A/N : Jaaajaaaaaaan! I'm back! Mian, updatenya kemaleman.. Author lupa ini hari Rabu T,T Btw, what di you think about this chapter? Hyukbin ada, Keo ada, Hyuken juga ada.. Lengkap kan? Hahahaa *evil laugh* Oh iya, author kemarin post satu oneshot lagi.. Judulnya [Bloody Revenge] Silakan cek di profil author ya.. Oke, now please review and thanks for reading!! ^^