Satu gelas, dua gelas, tiga, dan empat. Hampir sebotol penuh diminumnya habis di hadapan rekan satu tim.

Mood Sasuke malam ini melewati batas senang normal.

Lihat sekelilingnya; Longue termewah disewa hanya untuknya, musik dengan genre kesukaanya mengalun lembut, makanan lezat spesial dibuat dari tomat, dan ucapan selamat tidak henti ditujukan padanya. Tentu saja tidak punya alasan lain untuk merasa tidak puas.

"BERSULANG!"

Lagi, segelas penuh liquor memenuhi mulutnya dengan rasa pahit mendominasi disusul rasa panas di kerongkongan.

"BERSULANG!"

Lagi.

"BERSULANG!"

Melakukannya berulang kali, hingga tidak ada lagi kepala yang mampu mendongak, kecuali dirinya.

Senyuman puas pada bibir Sasuke semakin jelas kentara. Wajahnya memang merah, tetapi tidak mabuk—sejak dulu alkohol memang sahabat baiknya.

Sedikit terhuyung, berusaha bangkit dari atas sofa. Meninggalkan tip di atas meja, sebelum melangkah pelan meninggalkan rekan satu timnya di belakang yang tidak lagi bisa membuka mata. Para pelayan dekat pintu membungkuk sopan melihatnya pergi, Sasuke membalas dengan angguk singkat.

Sekarang, harus kembali ke rumah karena besok masih ada pesta selanjutnya.

"Hn," gumamnya bersandar pada pintu mobil, selagi merogoh saku celana. Seingatnya ia menyimpan kunci mobil di sana, tetapi—

"Di mana?"

Ekspresi rileks di wajah Sasuke berubah tegang. Mengernyit dengan semburat merah di pipi, kedua tangan mulai merogoh lebih dalam; kali ini kedua saku diserang.

Tidak ada.

Sasuke memijit dahinya yang tiba-tiba pening. Rutuk kasar terdengar dari bibir saat kedua tangannya memukul atap mobil, karena kesal tidak bisa mengingat meskipun dipaksa.

"Sial. Apa aku menjatuhkannya di ja—"

"Sasuke? Uchiha Sasuke? Hahaha ..., itu kau, bukan?"

Bola matanya melirik, memastikan siapa yang baru saja memotong kalimatnya. Dikira rekan satu timnya sudah kembali sadar, nyatanya sosok yang berjarak dua meter darinya adalah orang yang ingin dilihatnya pada urutan terakhir.

"Ternyata benar itu kau, Sasuke!"

Si pirang Uzumaki Naruto.

"Yang benar saja," batinnya, melihat sosok itu mendekat. Wajah Naruto sangat merah, sekali melihat ia tahu pria itu mabuk berat. Jalannya saja tidak lurus, apalagi dasi yang melilit di dahi membuatnya semakin tampak bodoh.

Kalau Sasuke mabuk, mungkin ia sudah menangis karena menahan kesal saat ini.

"Sasuke apa yang, hahaha ..., kau lakukan di sini?"

Sasuke bisa mencium aroma alkohol dari si pirang lebih menyengat dibandingkan dirinya. Menatap sinis, ia menjawab seperlunya, "Kunci mobilku hilang."

"Oh," sahut si pirang.

Sasuke menaikkan sebelah alis sambil membatin, "Apanya yang 'oh'? Si bodoh ini benar-benar tidak bisa merespon dengan kalimat yang lebih baik."

"Bagaimana kalau kau ikut aku saja?" ada jeda sesaat, "haha ..., hehehe aku tidak bisa mengemudi dengan kondisi seperti ini, tapi punya kunci."

Sasuke tidak bisa membedakan jika sedang diejek, atau memang ditawari bantuan. Ia tidak menyahut, cukup lama—sekitar 10 menit lebih. Membiarkan Naruto menggoyangkan kunci di depan wajahnya selama yang pria itu mau. Niatnya menganggu si pirang, tetapi telinganya lebih dulu menyerah, tidak lagi bisa menahan bunyi nyaring kunci yang saling menggesek.

Berdecak kesal, disusul jemarinya yang merampas kasar. "Biar aku yang mengemudi."

Kunci berpindah tangan.

Naruto tersenyum.

.

Di jalan, apa pun yang dibahas si pirang tidak Sasuke ambil pusing. Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Lagipula itu bukan bahasan penting, untuk apa ikut membahas 'ramen paling mahal di dunia', 'jenis-jenis warna oranye', dan 'seperti apa suara rubah?' dengan orang mabuk yang bahkan tidak tahu betapa bodoh wajahnya terlihat.

"Sasuke."

Sadar namanya dipanggil, tetapi ia tidak peduli untuk menyahut.

"Aku tahu peresmian gedung baru di Ohio yang kau desain, masuk majalah lagi. Aku benar-benar senang, saat mendengar berita itu."

Perhatian Sasuke mulai terbagi antara jalan dan si pirang. Tidak menyangka beritanya akan tersebar secepat itu.

"Selamat! Kau benar-benar arsitek nomor 1; paling tampan, paling hebat, paling populer, dan yang paling kukagumi."

Hening sesaat.

Sasuke mengernyit, tidak tahu mengapa dadanya memanas setelah melihat senyum lebar Naruto.

Aneh.

Ia tidak pernah merasa ucapan selamat bisa mempengaruhi sehebat ini sebelumnya. Ucapan selamat biasanya membuat egonya naik, bukan membuatnya salah tingkah.

"Kau dengar itu, Sasuke? Haha ..., hehehe, aku pasti menunggu desain-desain selanjutnya darimu."

"Tutup mulutmu," balas Sasuke kasar. Tidak ingin mendengar lebih banyak kalimat yang membuatnya malu, tetapi Naruto hanya tertawa geli mendengarnya.

"Jangan memperlakukan seseorang yang sedang berulang tahun dengan kasar, apa kau tidak tahu ini hari ulang tahunku, Teme?"

"Ini hari ulang tahunmu? Pantas saja kau mabuk berat seperti ini, dan siapa yang kau panggil Teme, Dobe?!" Seandainya Sasuke bisa mengatakan kalimat itu dari bibirnya, tetapi ia memilih diam.

"Coba saja aku melihatmu sebelum pesta selesai. Kita bisa minum bersama, bukankah itu menyenangkan?"

Sasuke memutar bola matanya. Meskipun dipaksa pilihannya pasti tetap sama—menolak.

"Mana hadiah untukku?"

"Tidak ada, aku tidak peduli ini hari ulang tahunmu," sahut Sasuke. Entah mengapa ia punya dorongan kuat untuk mengucap kalimat itu dari bibirnya.

"Ayolah, aku bukan tipe yang menyukai hadiah berupa benda, kau tahu?"

Sasuke diam.

"Apa kau benar-benar tidak punya?"

Sasuke masih diam.

"Kalimat penyemangat juga tidak apa-apa."

Kali ini Sasuke menghela napas. Dalam hatinya tidak pernah menyangka kalau si pirang bisa bertingkah seperti anak kecil yang menyebalkan saat mabuk. Jujur saja mulanya ia tidak berniat mengabulkan keinginan itu, tetapi mengingat kondisi si pirang yang sudah pasti melupakan semuanya besok pagi, ia tidak lagi peduli. Membuat pria itu menutup mulutnya, adalah hal terpenting saat ini.

"Naruto, apa pun yang terjadi aku akan selalu berada di belakangmu," ujarnya.

Naruto tidak merespon.

Sasuke dibuat gelisah karenanya.

"Um ..., hahahaha, itu ... uh."

Mengernyit tidak paham. Setelah menunggu lama, hanya gumaman yang Sasuke dapatkan. Bola matanya melirik memastikan, ekspresi si pirang masih sama, hanya saja wajahnya tampak lebih merah dari sebelumnya.

"Boleh juga," ujar Naruto, tersenyum puas.

"Brengsek, si pirang ini benar-benar ingin mati!" batin Sasuke.

.

Continued