AUTUMN MAPLE

Desklaimer Tokoh: Masashi Kishimoto

Desklaimer cerita: Kinoshimizu Bie Uzumaki

Pairing: SasuSaku n GaaFEMNaru

Genre: Romance/Drama

Rating: T

A/N: Untuk setiap chappy di Autumn Maple, akan ada lagu-lagu backsound yang menyertainya. Diusahakan punya, ya,.. Karena menurut Kino, lagu-lagu ini asik dan ngena banget ama suasana chara yang ada pada saat kejadian.

Enjoy it!

.._..

Chappy 9

.

"Oahm.." Naruto berkeliat dalam tidurnya. Mengucek mata menjadi kegiatan rutin setelah ia terduduk di ranjang kuningnya. Ia meletakkan kedua kakinya ke lantai dan melangkah pelan ke jendela. Tirai menggeser pelan bingkainya ke tepi. Matahari senantiasa memberikan sejumlah sinarnya untuk semua.

"Ohaiyou, dunia.." sapa Naruto pelan.

"Ohaiyou.." bisiknya lagi. Senyuman yang benar-benar hidup terlukis indah di wajah tan nan manis itu. Hatinya penuh bunga-bunga. Jiwanya dipenuhi kebahagiaan. Dan menurutmu, karena apa itu semua?

"Gaara.. I love you.." senyumnya tak mau menipis sedikit pun. Ia sangat.. sangat.. senang.

Naruto menyandarkan tangannya ke bingkai jendela. Ia menggigit bibir bawahnya pelan. Senyum genitnya belum lepas. "Apa aku ke rumah Gaara sekarang, ya..?" tiba-tiba muncul suatu pemikiran yang berdasarkan hatinya yang kian kangen dengan seseorang yang baru ditemuinya kemarin.

Naruto mencomot handuk yang terpampang di pintu dan segera membersihkan seluruh tubuhnya dengan air hangat. Musim gugur tahun ini adalah yang terhangat. Setidaknya itu menurut Naruto sendiri. Padahal orang-orang lain diluar sana menggigil tak karuan polahnya.

Naruto melepas pakaiannya perlahan tapi pasti. Tubuh nan mulus terlihat sedikit demi sedikit. Ia pun mengguyur badannya dengan air yang tak sedikit mengeluarkan uap.

"Hmh.." keluhnya nyaman.

Ada sedikit rasa perih di pangkal lehernya. Naruto mengusapnya pelan. Seulas senyum mengembang. Mukanya dipenuhi semburat merah yang menyeruap hingga ke ubun-ubun. Ia jadi ingat apa uang terjadi kemarin.

Flash back

"Gaara.." rintih Naruto dalam dada Gaara.

"Tenang.. Aku sudah disini.." Gaara membiarkan kemejanya basah oleh air mata Naruto. Yang terpenting adalah, mereka kini telah bersama kembali.

"Aku tak akan membiarkanmu menungguku lebih lama lagi.." bisik Gaara di telinga Naruto.

Gaara melepaskan pelukan Naruto. Ia menangkap kedua pelipis kepala Naruto dan mencurahkan dahaganya dengan mengecup manis bibir Naruto berkali-kali yang merah basah. Naruto yang masih ringkih dengan perasaannya, memutuskan untuk memejamkan mata dan membiarkan Gaara melampiaskan kerinduannya.

Ciuman Gaara sungguh mengungkapkan betapa ia rindu pada Naruto. Naruto mengiba dengan semua itu. "Gaara.." bisik Naruto di tengah lengkupan bibir Gaara.

Gaara menghentikan ciumannya dan menatap Naruto perlahan. Dikecupnya sebentar bibir lagi dan kedua pipi Naruto. Tak lupa beserta dahinya juga. Melampiaskan rasa sayangnya terhadap gadis manis ini.

"Rambutmu tambah panjang," kata Gaara sembari membelai helai lembut rambut pirang Naruto yang selalu dikuncirnya dua buah. Gaara melepaskan perlahan kunciran Naruto dan membiarkan setiap helainya terurai bebas. Seperti perasaan bebas mereka dari rasa rindu. Gaara tersenyum melihat Naruto lebih cantik dengan penampilan itu. Naruto masih membiarkan Gaara memperlakukannya sesukanya.

"Ayo, kita pulang. Kau pasti capek, Gaara.." senyum Naruto pada Gaara.

Gaara tersenyum simpul. "Kau memang yang paling mengerti aku,"

Naruto mengangkat tas Gaara yang tergolek, berniat membawakannya. Namun, tiba-tiba tas itu direbut kembali oleh Gaara. Naruto heran.

"Tuan putri pangeran Gaara tidak boleh membawa yang berat-berat." Kata Gaara datar dengan merangkul pundak Naruto yang kecil. Itu semua ampuh membuat Naruto tersipu malu.

Gaara membimbing Naruto membawanya melangkah meninggalkan tempat yang penuh dengan asap dari cerobong kereta uap.

Di tengah jalan, tiba-tiba Gaara menghentikan langkahnya. Dan Naruto yang sedari tadi menjinjing lengan Gaara melalui pundaknya, ikut berhenti. "Ada apa Gaara?" tanya Naruto. Namun tak satu kata terlontar dari Gaara. Naruto tak cukup bodoh untuk tidak melihat kemana arah pandangan Gaara menuju. 'Ternyata ke resto yang tadi' batin Naruto.

"Kamu lapar, yah..?" Tanya Naruto dengan manja pada Gaara. Gaara dengan cepat melayangkan pandangannya ke arah lain. "Kata siapa?" tanyanya balik sambil menggeleng.

"Ayo, kita lanjut pulang.." jejaknya membawa Naruto kembali ikut serta.

Kruyuuuk~~

Gaara sweatdrop. Naruto meringis geli mendengar perut Gaara yang sedang menyanyi keroncong. "Ayo, kita mampir saja.." bujuk Naruto pelan pada Gaara.

Dengan pura-pura tidak mendengar kata-kata Naruto Gaara dengan tetap mempertahankan muka stoic meneruskan langkah kaki.

"Eh? Nggak mampir ke resto itu dulu?" tanya Naruto bingung. Gaara masih tak menjawab.

Setelah manyun sesaat, akhirnya Naruto menyadari yang Gaara inginkan. Yaitu masakannya yang sudah lama tak diicip Gaara lagi. Naruto tersenyum dengan mendekatkan dirinya ke Gaara sembari memeluk sedikit pinggang Gaara.

'Akan kubuatkan makanan kesukaanmu, Gaara..' batin Naruto sumringah.

.._..

"Gimana?" tanya Naruto sambil mengambili piring kotor yang beberapa menit lalu tersaji masakannya yang telah dilahap habis oleh pemuda di depannya itu.

"Sankyuu, Naruto.. Masakanmu tambah enak.." puji Gaara pelan tapi memakna dalam.

Naruto merona. "Douite.. Sankyuu Gaara.." Naruto menghindari Gaara melihat wajahnya yang sedang memerah matang dengan mencuci piring yang berpunggungan dengan meja makan. Hari ini bibi yang selalu bersih-bersih rumah Naruto sedang cuti. Tentu saja Konohamaru pun ikut ibunya, si bibi. Sedangkan ibu Naruto, Kushina menemani sang ayahanda ke acara pertemuan para tetinggi Konoha. Sehingga kali ini, hanya Narutp dan Gaara yang ada di rumah. Kyuubi masih mendengkur di kandangnya.

Gaara mengambil inisiatif berdiri dan mendekati Naruto. Ia memeluk Naruto dari belakang dan membantu Naruto membilas piring yang sudah dibasuh sabun cuci. Naruto menyadari kalau detak jantungnya menguat dan otot-ototnya melemah begitu Gaara memegang tangannya yang terbalut air sabun.

Gaara membawa tangan Naruto ke air keran dan membasuhnya hingga bersih. Sejurus kemudian, badan Naruto telah di balikkan oleh Gaara. Mereka bertatapan jarak dekat.

Diam adalah satu-satunya pilihan yang bisa diambil Naruto saat itu. Ia pasrah. Dengan intonasi nodus dari dada kiri yang makin mencepat, ia merasakan gas karbon dioksida yang terhembus Gaara banyak terhirup olehnya. Sedikit sesak.

"Gaara.." Naruto mendorong pelan dada Gaara agar menjauh beberapa jarak dari dirinya dengan mata terpejam. Gaara tersenyum sungging.

Tanpa aba-aba, ia mengecup dan melumat pangkal kepala Naruto. Naruto nampaknya agak tersentak dengan sikap Gaara yang membuas. Bukan Gaara yang biasanya. Tetapi Naruto bersikap tenang menghadapinya dan membiarkan Gaara.

"Ahh.." Naruto merasa perih di lehernya yang dikecup Gaara. "Gaa.. Gaara.. Sakit.." rintih Naruto pelan.

Gaara membuka matanya yang sedari tadi menutup dan melepaskan kegiatannya. Ia menangkap wajah Naruto yang kesakitan, namun mimik tersipu juga tercampur jadi satu di dalamnya. Rona merahnya yang lembut terlihat jelas.

Gaara tersenyum. "Sakit, ya.. Gomen.." katanya halus.

Naruto memberanikan diri membuka mata dan menatap langsung warna hijau emerald Gaara. Ia meringis malu. "Ti.. tidak apa.."

Flash back END.

Wajah Naruto memerah pekat. Ia tersipu dan malu mengingat kejadian kemarin itu. Ia melihat ke kaca besar yang terpampang di dinding kamar mandinya. Fokusnya ada pada leher yang masih terasa sedikit perih.

Mata sapphire itu membulat lebar. "Membekas..." Naruto mengucek tanda yang dibuat oleh si stoic di lehernya. Tak bisa hilang.

"Bagaimana ini? Kenapa tak bisa hilang..?" Naruto panik-panik ceria.

Dasar Naruto.

.._..

"Ki.. Kissmark?" tanya pemuda itu gelagapan.

"Iya.. Kenapa? Kau tak mau menandaiku?" tanya balik Sakura.

Pemuda yang bernama Sasuke itu berfikir sebentar. "Kau mau?" tawarnya pada gadis berambut pink.

Gadis itu tersenyum cantik. "Tentu.. Mengapa tidak? Itu tanda bahwa aku sudah milik seseorang, kan?"

"Apa itu tak terlalu berlebihan heh?" Sasuke agak menghindar.

Sakura terdiam. Kemudian menyunggingkan senyum tidak enak. "Maaf.. Aku terlalu berambisi..". Diam adalah jalan yang diambil Sakura dengan kekecewaannya pada Sasuke.

Sasuke agak menunjukkan wajah semu. "Kenapa tiba-tiba kau ingin aku memberikan kissmark padamu?" tanya Sasuke lembut. Ia tak tega melihat wajah Sakura yang menunjukkan rasa kecewanya.

Sakura nyengir. "Aku terbawa suasana waktu baca artikel di majalah yang sedang besar-basaran memberitakan masalah antara Suna dan Konoha. Disana tertulis, seorang gadis tak akan diganggu lelaki berandalan jika dia mempunyai kissmark dari kekasihnya." Sakura tersenyum kecut dan menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.

Sasuke mengangguk tanda mengerti. Ia melirik Sakura yang tengah melihatnya penuh harap. Ia mendengus kecil.

"Belum saatnya." Ucap Sasuke singkat dengan sedikit penekanan.

Nampak sekali mimik Sakura yang berubah muram seketika setelah mendengar dua kata dari Sasuke tersebut. "Oh, ya sudah.." jawab Sakura dingin.

Sasuke mengambil teh cangkir yang berada di meja antara kursinya dengan kursi Sakura. "Ayo cek up ke dokter." Katanya kemudian setelah meneguk teh yang masih tersisa separuh pada cangkir.

Sakura mengernyit. "Memang siapa yang sakit?"

Sasuke menampangkan wajah stoic datar beserta deathglare yang membuat Sakura agak pundung.

"Iya, iya! Aku tahu. Tak usah menunjukkan jutekmu terlalu berlebihan!" komentar Sakura dengan berpaling kesal menghindar dari penglihatan Sasuke.

"Hn. Cepat ganti baju."

.._..

"Bagus. Perkembanganmu makin baik." Sasuke membuka lembar antar lembar yang di perolehnya dari rumah sakit di Konoha Pusat.

"Tentu saja. Aku 'kan makan teratur! Jangan khawatir, kejadian seperti kemarin tak akan terjadi lagi, kok." Ucap Sakura yang berjalan berdampingan dengannya. Mereka dalam perjalanan kembali ke rumah.

Sasuke melihat Saukra dari tepi matanya yang kelam. Kemudian di tutupnya lagi lembaran laporan kesehatan Sakura dan digulungnya.

Tanpa memberi peringatan, Sasuke menarik Sakura menuju ke arah jam 10 dengan cepat. "Eh!" Sakura agak terpanting saat tangan Sasuke yang kuat menekankan sejumlah gaya yang membuatnya berpaling arah.

"Ma.. Mau kemana?" tanya Sakura memandang kepala Sasuke dari belakang. Namun setelah menunggu beberapa saat, tidak ada satu kata pun terucap. Sakura memilih diam dan menurut saja kemana Sasuke membawanya tanpa banyak tanya lagi.

Yang terpenting dari semuanya adalah..

Aku bersamamu

Dan kau disisiku

Selamanya..

Kinoshimizu Bie Uzumaki

.._..

"Wuaaahhh..." komentar Sakura dengan mata yang berbinar-binar.

"Bagaimana?" tanya Sasuke sembari melihat pemandangan yang sama dengan Sakura.

Angin yang berhembus, menjatuhkan beberapa ranting kecil maple merah yang indah. Merontokkan sejumlah daun yang salah satunya menepuk pelan dahi Sakura. Dengan masih mengembangkan senyum kekagumannya, Sakura mengambil daun tersebut -yang ukurannya sedikit kecil dari yang normal- dan menuipnya kuat-kuat. Alhasil daun merah itu berputar melingkar di atas kepalanya dan pergi dari Sakura.

Sakura menoleh ke arah Sasuke. "Bagaimana kau bisa menemukan hutan sebagus ini?" Senyum yang tak kunjung minimalis dari Sakura. Sasuke hanya menyimpulkan jawaban dengan memejamkan matanya dan mendongak ke atas. Menghirup bau maple yang sangat disukainya.

Sasuke adalah seorang pemuda, yang menyukai warna biru dan hitam.. Tapi siapa dapat menyangka, jika ia juga suka dengan warna merah -semu pink- dan juga dengan bau sedikit manis bercampur sedikit asam. Seperti daun maple, tomat, dan..

Sasuke melirik seorang gadis yang asyik menengadahkan kepala dan melebarkan tangannya untuk menikmati hujan maple merah sambil sedikit bernyanyi dan menari berputar searah jarum jam. "Sangat indah.." pikir Sasuke.

Sasuke tersenyum simpul melihat Sakura yang senang ia ajak ke tempat indah ini. Ketika Sasuke merasakan kepiawaian Tuhan yang menciptakan segalal sesuatunya yang sungguh mempesona indra mata itu, tiba-tiba rambut pink Sakura lebih memanjang dan berkuncir dua serta berubah warna menjadi kuning pirang dalam sekejap. Tubuhnya lebih melangsing lagi. Piawainya yang anggun berubah menjadi manis beradu chubby. Tiga garis muncul di pipinya. Jas merah panjangnya bermetamorfosis menjadi gaun putih yang sedikit bergaris kuning.

Sesosok yang bukan Sakura itu mengagetkan Sasuke. "Na.. Naruto..." bisik Sasuke pelan. "Bagaimana mungkin Sakura berubah jadi Naruto? Apa hanya halusinasiku?" pikir Sasuke.

Sasuke mengucek matanya dengan jempol dan jari tengah tangan kanannya. Kemudian dilihatnya sosok Naruto tadi. Namun, bukanlah Naruto yang terlihat. Melainkan Sakura yang asyik sendiri dengan kekagumannya pada pohon-pohon maple sambil terus menari berputar. Rambut pinknya lihai terhempas angin dingin siang itu. Anggun sekali.

Bimbang. Resah. Gelisah.

Sasuke mendekati salah satu pohon dan duduk bersandar di bawahnya, tempat daun-daun merah bertumpuk menebal. Ada sejumlah udara yang membuat poni panjangnya melambai ke arah Sakura. Sasuke memandang Sakura. Namun pikirannya tertuju pada Naruto. Selalu pada gadis pirang itu.

Kenapa selalu dia?

Satu bulir keringat dingin membuncah dari temporalis Sasuke menuju ke dagu. Hatinya bimbang. Pikirannya kacau. Emosinya melabil bila ingat gadis itu. Sasuke terdiam dalam keresahannya sendiri. Ia kemudian menyusupkan tangan kanannya ke saku mantel biru yang dikenakannya. Menyembullah sebuah kain merah yang jika dilihat seluruhnya, kain itu berbentuk persegi. Halus dan hangat. Seperti iris mata saphirre birunya. Bagai langit ceria di musim panas.

"Sasuke.." panggil Sakura pelan dengan memegang sebelah pundak Sasuke dari belakang sambil sedikit membungkuk. Sasuke terkoyak. Buru-buru dimasukkannya sapu tangan merah itu ke tempatnya semula.

"Ada apa Sakura?" tanya Sasuke tanpa mengindahkan jantungnya yang berdetak dengan amplitudo dan frekuensi yang menggila.

"Kenapa murung?" tanya balik Sakura.

Sasuke menarik kuat lengan Sakura yang tadinya menyentuh pundaknya kini ke dalam pelukan. Saat ini dua dada merapat tanpa jarak semikron pun. Sepasang mata emerald melebar. "Sa.. Sasuke.." bisik Sakura gugup.

Sasuke membenamkan mukanya ke tengkuk Sakura. Dengan segenap perasaanya yang kacau karena bayangan orang kedua yang ada di dalam dihatinya, Sasuke berusaha menguatkan cintanya pada Sakura. Mencoba menyingkirkan bayangan gadis manis chubby pirang yang tak diundang merasuk dalam jiwanya. Hanya itu yang dapat mencegahnya untuk tidak berpaling pada gadis lain terkecuali Sakura. Mengusik nestapa dalam panggilan cinta.

"Aku cinta kamu, Sakura.." bisik Sasuke lembut dengan bibir yang menyentuh telinga Sakura. Matanya terpejam. Mengartikan bahwa yang dikatakannya ini, bukanlah sekedar kata-kata kosong belaka.

Jantung Sakura meleleh. Matanya iba dan kalem merasakan gedup dada Sasuke yang juga dapat ia rasakan dengan tubuh mungilnya. Otak dan hati memerintahkannya secara langsung untuk segera mengambil tindakan tepat pada Sasuke. Ia pun melingkarkan tanganya dan meremas pelan matel belakang Sasuke. "Aku juga cinta padamu, Sasuke.. Sangat.." bisik Sakura sebelum membenamkan bibirnya pada mantel Sasuke yang hangat. Seakan jiwa mereka bersatu. Tak terpisahkan.

Sasuke menutup mata, senyum kecilnya memancarkan kelegaan yang luar biasa. "Sankyuu..". Dalam sela-sela bulu matanya terselip cairan bening bersinar terpantul sinar matahari yang membuat matanya agak perih.

Sakura tersenyum bahagia. "Douiteshimashite, Sasuke.. Aishiteru,"

Angin berhembus menerpa. Menjadi saksi dan menandatangani perjanjian lisan yang telah terucap disana.

Aku selalu untukmu..

Kuharap kau pun begitu

Menemani seumur hidup

Dalam bingkai cinta dan sampul berkah Tuhan..

Sasuke mengundurkan sedikit punggungnya, membuat pelukan yang longgar dengan Sakura, dan membuat kissmarknya pada jenjang anggun Sakura.

Sakura merasa bahagia. "

.._..

Seorang jendral bolak-balik Konoha-Suna dengan berbagai rombongan angkatan perangnya yang semakin lama semakin berkurang. Namun persediaan jumlah personil wajib militer jumlahnya makin bertambah. Ia membawa berbagai divisi bukan untuk perang, melainkan mengatur susunan angkatan militer di Konoha.

Perang sudah berakhir. Para kekasih sudah kembali ke pelukan dambaannya masing-masing.

Cuma pemuda berlambang jendral itu yang masih sibuk. Rambut panjang coklatnya sering kali memikat para gadis-gadis petugas kesehatan yang sedang berjaga. Tetapi bukan Neji Hyuuga namanya jika ia menanggapi serius godaan-godaan tengik yang dilancarkan gadis-gadis pemikat itu.

Hari ini, Neji pulang lagi setelah ia dipontang-panting oleh ayah Sakura yang sengaja memilihnya untuk menyelesaikan segala urusan antara Konoha dan Suna. Dan seperti biasa, Tenten selalu menyambutnya dengan hangat di rumah.

Tapi entah karena penat dengan tugasnya atau apa, kali ini wajah Neji tidak sekalem yang biasanya. Otot-otot disekitar matanya bermunculan. Tanda dari klan Hyuuga bahwa emosinya sekarang dalam keadaan 'kontraksi'.

Tenten hanya bisa menuangkan teh, dan memasakkan makanan kesukaan Neji di meja makan. Untunglah benda berbau sedap itu segera disentuh oleh Neji. Dan Kini Tenten sedang melahapnya bersama dengan Neji. Tak ada sedikitpun suara di antara mereka.

Sepi.

Hati tenten mulai beku karena tak sekalipun Neji meluangkan waktu untuknya akhir-akhir ini. Meskipun Tenten adalah gadis logis yang pengertian dan memahami sikon, tapi bukan berarti keinginannya untuk diperlakukan Neji sebagai kekasih memudar hanya karena itu. Tenten juga seorang gadis. Punya hati.

Tenten menghentikan sejenak makannya. "Neji.."

"Hm?" Dengung Neji tanpa menoleh ke orang yang mengajaknya bicara. Dengan itu, Tenten menundukkan kepalanya. Menutupi mimik wajahnya yang kecewa dengan sikap Neji.

Tenten kemudian tak meneruskan cakapnya. Ia diam. Tak ada gerakan darinya selama sekian detik.

"Shiniteruyo..*"

*kangen

Sebuah kata itu terucap langsung dari Tenten.

Ketukan sendok pada piring Neji berhenti secara otomatis. Ia memandang dengan tatapan kaget pada Tenten yang masih tertunduk. Itu adalah satu kata yang tajam dan langsung menusuk jantung hati Neji –yang juga merasakan hal yang sama-.

Tenten tak berkata apapun setelah mengucap satu buah kata tersebut.

Neji mengerti. Ia tersenyum. Setelah berdiri dari kursi, ia mendekati Tenten. Sambil berjongkok di samping kursi makan Tenten, Neji mengambil kedua tangan gadis bercepol dua tersebut dan mengecupnya bersamaan. Tatapan matanya sontak berkilat tajam penuh kesungguhan.

"Aku akan melamarmu besok."

Satu detik

Dua detik

Lima detik

Deng!

Jam lonceng berdentang di rumah besar berlantai coklat itu.

Otot-otot Tenten menegang. "A.. apa?" Ia pikir pendengarannya akhir-akhir ini sering salah. Ia mencoba membuat Neji mengulang kata-katanya.

"Aku akan melamarmu besok." Ulang Neji dengan mengelus pipi Tenten pelan dengan tangan kanan sementara tangan kirinya masih memegang kedua tangan kekasihnya itu.

"Kita akan mengundang teman-teman kita di acara besok. Bagaimana?" Neji terus bicara tanpa memperhatikan Tenten yang pikirannya telah melayang kemana-mana karena lamaran yang mendadak darinya.

Tenten syok.

.._..

"Sasuke..!" Sakura lambai-lambai gembira dengan mengayun-ayunkan secarik kertas coklat bertali emas dari halaman ke pintu depan Sasuke.

Tak lupa gingko-gingko yang jatuh di depan rumah Sasuke menjadi korban sarukkannya.

"Tok! Tok! Tok!"

Bukannya mengetuk pintu, Sakura malah menyuarakan nada soprannya.

"Yaa!" suara alto menyahut dari dalam.

Clek..

Pintu terbuka.

"Sasukee~" Sakura langsung menghinggap pada Sasuke sambil senyam-senyum gaje.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Ada apa?" herannya.

"Tenten dan Neji akan menikah!" Sakura melonjak senang.

"Benarkah?" Sasuke tersenyum sewaktu Sakura menghadapkan mukanya yang super hepi padanya.

"Coba aku lihat,"

Sasuke menawarkan tangan dan undangan pun segera berpindah tangan.

"Tanggal 1-3 Juni, ya.."

"Benar! Katanya pestanya meriah! Tiga hari dua malam! Dan untuk kita teman-temannya, wajib ikut sepanjang acara! Katanya sudah disediakan kamar masing masing, lho!" Sakura makin mengembangkan tawanya saja.

"Gawat"

Satu kata tanpa intonasi dari Sasuke yang berhasil membuat kegembiraan Sakura menciut dalam sekejap.

"Ke.. Kenapa, Sasuke?" Sakura menaruh perhatian,

"Hari itu, 1 Juni aku ada janji double date dengan teman seperjuanganku."

.

~*~ To Be Continued.. ~*~

.._..

A/N: Gomen, temen-temen.. Apdetnya lama, yah? ^^"a

Ah, tapi gak papa.. walaupun begitu tapi masih tetep diapdet, kan? Wekekekek XDD

*disambit duren montong*

*tepar*

Balesan Ripiu: (Gomen, di chap 8 kemarin nggk ada part ini karena Kino terburu-buru DX *bungkuk2*)

~*~ Micon ~*~

SakuraChan nggak akan apa-apa, kok, Micon..^^ Hmm... SakuraChan koit? O.o *muncul ide bagus* *dipasung di tiang bendera* weheehe.. Sankyuu udah menyempatkan repiu, MiChan.. ;D

Ditunggu repiunya lagi yah.. ^^

~*~ Kuroneko Hime-Un ~*~

Emang bener nggak akan ada yang ngira Saso bapak-bapak. Tapi yang namanya Naruto, semua bisa terjadi, kan? Jgjgjgjg *ditebas katana* Sankyuu udah repiu, yh.. ^^

Ditunggu repinya lagi.. ^^V

~*~ Naru-mania ~*~

Ni udah apdet, di baca, ya.. hhe.. *Ya udah dibaca, lah.. Namanya juga udah sampek bawah sini. Masa' belum dibaca? Kino Dobe :P* wehehe Sankyuu udah repiu yah Naru.. ^^

Ditunggu repiunya lagi.. ^^

~*~ Uchiha Cesa ~*~

Hoi hoyyu, CesaChan.. :D *sapaan macam apa ini Kino?* wehehe..

Iya, tuh cengok, dia (Sasu).. wkwkwk

Gaara: "Tentu.. Aku dengan Naruto bertemu lagi. Kau jelous, ya? *smirk* Kau kan pernah kucium.."

Cesa: Enggak. Sayang kamu kan cuma buat Naru, :3

Gaara: Memang jika Naru kutinggal, kau mau denganku?

Sankyuu repiunya, CesaChan.. ^^

Ditunggu repiunya lagi.. ^^

~*~ Black Magician Kasumi-chan ~*~

Hayyah.. untung aja di chap 8 Ai datang merepiu.. Sasusaku akan semakin mengental seiring masalah kian menerpa.. wekekek –bahasanya..- Sankyuu dah sempetin repiu..^^

Ditunggu repiunya lagi.. ^^

~*~ So-Chand 'Luph pLend' ~*~

Ah, gpp.. Yang nangis itu Sasuke.. soalnya dia lagi tertarik ke lain hati di saat Sakura tergolek lemah kayak gitu.. T^T Sankyuu buat repinya.. ^^

Ditunggu repiunya lagi.. ^^

~*~ sabakuzumakiuchiha ~*~

Wakakakak.. Gaara udah ngempet pingin boker, sih.. XD *dijitak Gaara*. Gaara said, "Dobe! Bukan boker! Tapi kangen! Dasar." Go.. Gomen, Gaarakun.. *sujud2* Gaara, "Hmm.. bagus, bagus..=="

Haha.. Ocey, saran anda akan kami tampung untuk persediaan ide-ide kedepannya.. ^^

*nepuk jidat* *ditepuk lagi sama Ino* Be.. Bener juga! Itu dia! O.o Sankyuu banget, yah sabakuzumakiuchiha.. XDD *bungkuk2* Hai! Entar Kino perbaiki ulang chap 8nya.. ^^ *peyuk2 sabakuzumakiuchiha* hehe Sankyuu juga buat repiunya.. ^^

Ditunggu repiunya lagi.. ^o^

~*~ SimpleSaja ~*~

Wah, okey, Kino dah apdet, nih.. repiu, ya.. *smile* Sanyuu udah sempetin repiu di chap sebelumnya, yh.. ^^

Ditunggu repiunya lagi.. ^^

~*~ MissUchiwa ~*~

Iya, semuanya berharap SasuSaku tetap bersatu, kok.. Tapi, kita nggak akan tau apa yang ada didepan kita selanjutnya, kan? ;D wehehe *smirk* *dijitak* Sankyuu udah sempet repiu, yah.. ^^b

Ditunggu repiunya lagi.. ^^b

~*~ pick-a-doo ~*~

Ocey.. Kino udah apdet, nih.. Gomen kelamaan, yah.. *bungkuk2* Sankyuu udah repiu, Picky..^^

Ditunggu repiunya lagi.. ^^

.

Note Kino:

Cinta sebenarnya tidak buta. Cinta adalah sesuatu yang murni, luhur dan diperlukan. Yang buta adalah bila cinta itu menguasai dirimu tanpa suatu pertimbangan.

Cinta sering kali akan lari bila kita mencari, tetapi cinta jua seringkali dibiarkan pergi bila ia menghampiri. Maka, hargailah cinta yang telah tersedia untukmu.

Bersyukurlah..

Cinta tidak selalu bersama jodoh

Tapi jodoh selalu bersama cinta..

REVIEW PLEASE?