Dangerous Pureblood
by
Coldnana
l
l
l
l
Cast : Nantikan dalam cerita.
Omegaverse, Chanbaek, Yaoi, Vampire, Fantasy, M-Preg
l
l
l
l
l
Cuma mau ngingetin kalo Chapter kali ini tembus sampe 11K lebiiiihh
Jadi jangan bosen yaa bacanya XD
Jangan lupa review yaa guys XD
Aku tunggu review dari kalian #Muaacchh
Ok Thanks Guys
and...
l
l
l
l
Happy reading guys~~
l
l
l
l
l
Kedua vampire itu, Park Chanyeol, sang pangeran negeri vampire dan Byun Baekhyun sang omega mungil yang mungkin menjadi orang pertama yang menyentuh hati sang pangeran selain kembarannya.
Omega yang pertama kali membuat sang pangeran menangis karena ikut merasakan kesedihan, omega malang yang berjuang dalam takdirnya yang kejam.
Keduanya masih berpelukan dalam diam, berpelukan di dimensi Bulan Biru, si mungil menumpahkan air mata yang selama ini tertahan, menumpahkan kesedihan yang selama ini terpendam.
Sementara sang pangeran, Park Chanyeol, menangis dalam diam, ikut merasakan apa yang si mungil rasakan, ikut merasakan kesedihan yang dalam.
Cukup lama adegan itu berlangsung hingga si mungil sedikit tenang dan melepaskan pelukannya, biar bagaimana pun pria di hadapannya ini bukanlah vampire biasa, dia adalah seorang pangeran, dirinya sudah cukup lancang saat ini.
Namun perasaan sedih itu tak tertahan hingga membuatnya menerima kebaikan sang pangeran yang ingin menghiburnya.
Walau dia tahu itu salah, walau dia tahu bahwa tak seharusnya dia ikut memeluk sang pangeran, walau tak seharusnya dia menangis dalam pelukan vampire tampan di hadapannya ini, tapi rasa sedihnya lebih besar dan lebih kuat dari logika yang dia miliki.
"Terima kasih." ucap Baekhyun pertama, setelah dia menetralkan emosinya dan menghapus air matanya yang tersisa.
Sang pangeran hanya diam tanpa suara, sejak tadi rasa asing itu datang, entah mengapa dia merasa sangat kehilangan ketika si mungil melepaskan pelukan mereka.
Dan juga, sejujurnya ini aneh bagaimana dia bisa memperlakukan omega mungil di hadapannya ini dengan sangat berbeda.
Baekhyun yang sejak tadi tak mendengar Chanyeol bersuara, memberanikan diri untuk melihat ke arah sang pangeran.
Dia sangat terkejut karena melihat genangan air mata di wajah tampan sang pangeran, kemudian dia bersuara, "Kau menangis?" suaranya sangat lembut dan merdu di telinga Chanyeol.
"Tidak, hanya kelilipan." elak Chanyeol.
"Kau pasti menangis, jangan bohong." ucap Baekhyun tak percaya.
"Apa urusannya denganmu?"
"Umm, tidak, tidak ada sih, tapi...tapi kau menangis karena mengasihani diriku kan?!"
"Jangan sok tahu, aku tak menangis."
"Kau menangis."
"Tidak."
"KAU menangis." ucap Baekhyun dengan penekanan pada kata kau yang dia ucapkan.
Haah~~ Chanyeol menghela nafas frustasi, omega mungil di hadapannya ini benar-benar keras kepala.
"Baiklah, kau menang, aku menangis." ucap pangeran tampan itu pada akhirnya.
"Kenapa? Apa kau mengasihani diriku? Mengasihani nasibku?" ujar si mungil ragu.
"Tidak." jawab Chanyeol secara singkat.
"Lalu? Mengapa kau menangis?"
"Entahlah, air mataku keluar begitu saja tanpa bisa aku hentikan, aku juga tak tahu mengapa, namun satu hal yang aku tahu pasti adalah hatiku terasa sakit, dadaku sesak melihatmu menangis." ucap Chanyeol panjang lebar.
Baekhyun cukup terkejut mendengar penuturan sang pangeran, hatinya kembali menghangat mendengar hal itu.
Air mata yang pangeran perlihatkan adalah air mata tulus yang menggambarkan perasaannya yang ikut sedih dan terluka seperti perasaan Baekhyun saat ini.
Air mata itu bukan air mata karena kasihan dan mengangap si mungil begitu menyedihkan, itu air mata ketulusan.
Belum pernah seorang pun menangis karenanya, menangis karena merasakan lukanya, pangeran adalah yang pertama.
Baekhyun sebenarnya tidak terlalu peduli, baginya tak masalah entah air mata pangeran adalah air mata yang keluar karena rasa kasihan atau karena alasan lain.
Meski dia tak pernah menceritakan hal ini pada siapapun secara detail seperti saat ini, namun beberapa perawat memandang penuh rasa iba dan kasihan padanya, seolah-olah dia sedang sekarat, dan akan mati dalam kedipan mata, beberapa dari mereka bahkan sampai meneteskan air mata.
Bagi si mungil, dia tak menyukainya, seseorang menangis karena mendengar cerita tentang kisah hidupnya, dia tak tahu mengapa, hanya saja dia membenci itu, mungkin karena semua itu tidak tulus.
Namun entah mengapa dia tak membenci air mata yang pangeran keluarkan. Sebaliknya dia malah merasa senang.
"Terima kasih." ucap Baekhyun tiba-tiba tanpa sadar air matanya kembali menetes, namun air mata kebahagiaan dan senang yang terpancar.
Terharu karena pangeran begitu peduli padanya, bukan karena kasihan namun karena ikut merasakan.
Cyanyeol sedikit terkejut saat si mungil kembali berterima kasih kepadanya, dia tersenyum canggung lalu berkata, "Mengapa kau berterima kasih?"
"Terima kasih, karena kau sudah ikut menangis bersamaku. Aku sangat senang." ujar si mungil sembari tersenyum manis.
Senyuman mempesona yang mengalihkan dunia sang pangeran, Park Chanyeol.
"Sama-sama." ucap Chanyeol singkat pada si mungil.
Dia tak ingin berdebat panjang, dan tak ingin melukai perasaan si mungil, sehingga Chanyeol akhirnya mengalah.
Ucapan Chanyeol menjadi ucapan terakhir dari percakapan keduanya, setelah itu keadaan menjadi hening, tidak ada yang berbicara sama sekali, kedua vampire itu terlarut dalam fikiran mereka masing-masing.
ooooo
ooo
o
Sementara itu pasukan yang di pimpin oleh Chanho sudah tiba di istana.
"Akhirnya kita sampai." ujar Chanho memulai percakapan dengan sahabatnya Yunhoo.
Yunhoo tak menjawab, dokter paruh baya itu terlihat gelisah, matanya menelusuri setiap sudut istana, memperhatikan orang-orang yang lewat.
Dia mencari Baekhyun, putra mungil kesayangannya.
"Yunhoo? Apa yang kau lakukan?" Chanho kembali bersuara
Yunhoo segera tersadar dari fokusnya mencari si mungil dan mengalihkan perhatiannya pada sahabatnya Chanho.
"Chanho!" ujarnya tiba-tiba sembari memegang ke dua bahu sahabatnya, tentu saja hal ini membuat Chanho terkejut.
"Apa? Kau membuatku kaget!" gerutu Chanho kesal.
"Dimana putraku?" ujar Yunhoo tak sabar.
"Tunggu dulu, biar aku coba bertelepati dengan putraku." ujar Chanho kemudian.
"Baik." jawab Yunhoo singkat dan patuh.
Setelah itu tak ada lagi percakapan di antara keduanya.
Sang raja mencoba menghubungi sang pangeran melalui telepati, namun entah mengapa pangeran tampan itu tak bisa di hubungi.
ooooo
ooo
o
Kembali ke dimensi Bulan Biru
"Umm..." setelah beberapa menit keadaan menjadi hening, Baekhyun bergumam membuat sang pangeran mengalihkan perhatiannya pada si mungil.
Beberapa menit Chanyeol menunggu si mungil melanjutkan ucapannya, namun si mungil tak kunjung melanjutkan ucapannya.
"Ada apa?" ucap sang pangeran setelah cukup lama menunggu si mungil kembali berbicara.
"Tidak, hanya saja, umm...apa kita tidak akan keluar dari sini?" tanya si mungil hati-hati.
"Oh benar, kita sudah terlalu lama di sini, mereka pasti mencari kita." ujar Chanyeol.
"Mereka?" tanya si mungil tak paham.
"Ya, mereka, ayahku dan ayahmu." jawab sang pangeran singkat, dengan gerakan menunjuk dirinya ketika mengucapkan kata ayahku, dan menunjuk Baekhyun ketika dia mengucapkan ayahmu.
Baekhyun sedikit menegang mendengar perkataan sang pangeran, dia sudah membuat ayahnya khawatir, dia takut, sangat takut, namun sebisa mungkin si mungil berusaha untuk menyembunyikan ketakutannya dari sang pangeran.
Hal ini tentu saja tak luput dari perhatian Chanyeol, benar, meski si mungil berusaha menyembunyikan ketakutannya namun sang pangeran tetap menyadari hal itu.
Chanyeol ingin berkata pada si mungil untuk jangan khawatir dan jangan takut, tapi dia mengurungkan niatnya.
"Ada apa? Apa kau tak senang ayahmu menghawatirkanmu?" tanya sang pangeran.
Pada akhirnya Chanyeol, pangeran tampan itu memilih untuk berpura-pura tak tahu tentang ketakutan si mungil.
"Ti-tidak, aku senang, sangat senang." ucap Baekhyun sembari tersenyum.
Namun senyuman itu bukanlah senyum yang tulus datang dari hatinya, itu senyum yang di paksakan.
Dan Chanyeol tahu itu, pangeran tampan itu tak menyukainya, dia ingin berkata tak suka dan melarang Baekhyun untuk tersenyum seperti itu, tapi dia tak bisa.
Pada akhirnya pangeran tampan itu memilih menjadi orang bodoh yang tak peka, bukan, bukan karena dia benar-benar tak peka, hanya saja dia sedang berpura-pura tak tahu dan tak peka.
Dia memilih mengabaikan senyuman Baekhyun dan berpura-pura tidak tahu mengenai itu.
Dia melakukan hal itu bukan tanpa alasan, sejujurnya dia tahu mengapa Baekhyun bersikap seperti itu, ketakutan karena membuat ayahnya cemas padanya, takut sang ayah akan marah besar padanya.
Dan Chanyeol berpura-pura tak tahu hanya untuk menjaga perasaan si mungil, menghindari Baekhyun kembali mengingat masa kelam yang membuatnya trauma.
"Haruskah kita pergi sekarang?" tanya Chanyeol pada Baekhyun.
Si mungil mengernyitkan dahinya pertanda dia bingung, kemudian dia bersuara, "Pergi kemana?"
"Tentu saja keluar dari dimensi ini." jawab Chanyeol singkat.
Baekhyun sedikit malu dan merasa bodoh karena menanyakan hal itu.
"Baiklah." ucapnya kemudian.
Setelah itu Chanyeol membuat portal yang akan menjadi jalan keluar mereka.
Baekhyun sedikit sedih karena harus meninggalkan dimensi itu, tempat yang sempat dia anggap surga, walau hanya sebentar, tapi dia senang dan merasa sangat beruntung bisa berada di sana.
Detik selanjutnya ke dua vampire itu sudah masuk ke dalam portal dan meninggalkan dimensi Bulan Biru.
ooooo
ooo
o
Di istana
Sang raja masih berusaha menghubungi sang pangeran menggunakan telepatinya, namun tak kunjung berhasil.
"Bagaimana?" ucap Yunhoo tak sabar.
Sejak tadi Chanho tak bersuara, membuat dokter paruh baya itu merasa penasaran sekaligus tak sabar untuk mendengar kabar mengenai putra mungilnya.
Sang raja hanya diam saja, masih fokus memanggil Chanyeol melalui telepatinya.
"Ya! Chanho! Aku sedang berbicara denganmu!" teriak Yunhoo kesal karena merasa di abaikan oleh sahabatnya itu.
Chanho menghela nafasnya, dia memutuskan telepatinya, teriakan Yunhoo membuat fokusnya hilang.
Yunhoo menjadi menyebalkan jika sudah berhubungan dengan putranya Baekhyun, tipikal orang tua yang posesif pada anaknya, bahkan mungkin kelewat posesif.
"Apa?" ujar Chanho dengan malas.
"Bagaimana keadaan putraku? Bagaimana kabarnya? Dimana dia? Apa dia baik-baik saja? Apa dia terluka?" tanya Yunhoo bertubi-tubi.
Chanho sedikit kesal, pertanyaan yang di layangkan sahabatnya itu beruntun, tak bisakah bersikap tenang dan menanyakan pertanyaannya satu persatu?
"Aku tak tahu." jawab Chanho pada akhirnya.
Jawaban singkat yang memang benar adanya itu, nyatanya membuat Yunhoo kesal setengah mati.
"Jangan bercanda!" ucap Yunhoo kesal.
"Aku tak bercanda! Putraku sejak tadi tak bisa di hubungi." ucap Chanho santai.
"Apa?!" ucap Yunhoo tak percaya.
"Diamlah! Aku akan mencoba menghubunginya sekali lagi." ucap Chanho pada Yunhoo.
"Tap-" ketika Yunhoo ingin protes Chanho telah terlebih dahulu bersuara,
"Jangan protes dan jangan berteriak! Teriakanmu mengganggu fokusku!" ucap Chanho ketus.
Akhirnya Yunhoo memilih untuk bungkam dan menunggu dengan sabar, meski nyatanya dia ingin berlari keluar mencari si mungil.
Chanho kembali melakukan telepati pada Chanyeol, beberapa kali dia mencoba menghubungi sang pangeran, namun selalu gagal.
Ketika dia hampir menyerah dan memutuskan untuk mengakhiri usaha telepatinya, Chanyeol akhirnya menjawab panggilannya.
"Ada apa ayah?" jawab Chanyeol dalam telepatinya.
"Kau dimana? Mengapa tak bisa di hubungi? Bagaimana keadaan Baekhyun?" tanya Chanho bertubi-tubi.
"Aku tadi sedang berada di dimensi Bulan Biru, Baekhyun baik-baik saja." jawab Chanyeol singkat tanpa penjelasan bermakna.
"Kau dimana sekarang?" tanya Chanho tanpa menanyakan lebih lanjut maksud perkataan Chanyeol.
"Aku sedang berada di portal.""Setelah keluar dari portal, segera bawa Baekhyun ke istana."
"Mengapa ke istana ayah?"
"Kami menunggu kalian di istana."
"Kami?"
"Iya, kami. Aku dan Yunhoo."
"Ayah di istana? Paman Yunhoo juga?"
"Benar, cepatlah kemari, ayahnya sudah mencari Baekhyun dari tadi, dia terus menanyakan tentang putra mungilnya."
Chanho tahu maksud perkataan putranya, dia tahu telepati itu tak bekerja di dalam dimensi yang putranya buat itu, sebab itu dia tak menanyakan lebih lanjut mengapa Chanyeol tak bisa di hubungi.
Raja para vampire itu tahu hal itu, namun satu hal yang membuat Chanho terkejut, Chanyeol, putranya tak pernah membiarkan siapapun masuk ke dalam dimensi Bulan Biru, tapi dia membawa Baekhyun ke sana? Ada apa ini? Apa Chanyeol terbentur kepalanya?
Ayah dari sang pangeran itu, baginda raja Chanho terheran-heran dengan kejadian ini, tingkah laku putranya sungguh tak biasa, dia tak pernah memperlakukan orang lain seperti saat ini.
Bahkan para saudaranya tak pernah dia perlakukan seperti itu, seperti dia memperlakukan Baekhyun saat ini, aneh, sungguh aneh.
"Baik ayah." ucap Chanyeol dalam telepatinya.Chanho seketika tersadar dari lamunannya, kemudian dia membalas telepati sang pangeran.
"Oke, ayah tunggu."
Kemudian Chanho memutuskan telepati mereka dan mengalihkan perhatiannya pada Yunhoo.
Dia menatap jengkel pria paruh baya di hadapannya, Yunhoo kembali berulah dengan berteriak-teriak mengganggu fokus Chanho.
"Yaaak! Berhenti berteriak-teriak!" geram Chanho.
"Aku berteriak karena kau tak menjawabku, aku memanggilmu dari tadi." jawab Yunhoo tak mau kalah.
"Aku sedang melakukan telepati dan kau mengganggu fokusku!" ucap Chanho kesal.
"Terserah." jawab Yunhoo singkat.
Jika tak mengingat hubungan persahabatan mereka dan darah kerajaan yang mengalir dalam tubuh Yunhoo, dirinya pasti sudah mengakhiri hidup dokter paruh baya itu.
"Kau menyebalkan!" kesal Chanho.
Jika kita perhatikan, interaksi mereka ini terbilang aneh, interaksi mereka tidak seperti interaksi antara raja dan rakyatnya.
Interaksi mereka lebih terlihat seperti interaksi layaknya saudara akrab, tanpa mengindahkan aturan yang berlaku, dan anehnya tak ada yang berani protes dengan perbuatan Yunhoo pada raja mereka.
"Kau lebih menyebalkan."
"Terserah!" ucap Chanho frustasi, sejak dulu dia memang tak pernah bisa menang dari Yunhoo.
Terlebih ikatan mereka yang kuat karena darah yang sama mengalir dalam nadi mereka, membuat Chanho bertindak berbeda di hadapan Yunhoo, sebab Yunhoo lah satu-satunya saudara Alpha yang dia miliki.
Dokter paruh baya itu memang tak memiliki hak untuk menjadi raja, tapi percayalah! Dia, Byun Yunhoo bahkan lebih berbahaya dari pada raja itu sendiri, jika dia mau, dia bisa dengan mudah menduduki singgasana raja.
ooooo
ooo
o
Saat ini, Chanho dan Yunhoo masih berdebat seperti orang bodoh, dengan Chanho yang selalu berakhir kalah dari Yunhoo.
Tiba-tiba Yunhoo kembali teringat mengenai putranya.
"Dimana Baekhyunku?" tanyanya tiba-tiba.
"Chanyeol sedang membawanya kesini." jawab Chanho singkat.
"Kau yakin?" tanya Yunhoo memastikan.
"Ya." jawab Chanho singkat.
Saat masih sibuk berdebat, tiba-tiba Chanhee muncul dan menanyakan sesuatu yang tak terduga.
"Yunhoo, aku ingin bertanya sesuatu padamu." ucap Chanhee langsung pada intinya.
Yunhoo yang masih berdebat dengan Chanho mengalihkan perhatiannya, begitu pula Chanho, raja para vampire itu juga mengalihkan perhatiannya pada ratunya.
Kini kedua vampire itu telah menghentikan perdebatan tak bermanfaat mereka dan memilih mendengarkan ucapan Chanhee selanjutnya.
Cukup lama menunggu, Yunhoo terlihat tak sabar melihat Chanhee yang tak kunjung melanjutkan ucapannya.
Detik selanjutnya dia bersuara, "Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya yunhoo tak sabar.
Chanhee diam sejenak, ratu negeri vampire itu terlihat ragu untuk bertanya.
"Jika tak ada yang ingin kau tanyakan-" ucapan Yunhoo terpotong kala mendengar Chanhee bersuara,
"Ini mengenai putramu, Byun Baekhyun." ucap Chanhee serius, tak ada lagi keraguan dalam dirinya, dia memang harus menanyakan hal ini untuk membuat semuanya menjadi jelas.
ooooo
ooo
o
Sementara itu, sang pangeran dan si mungil telah keluar dari portal, mereka sekarang berada di paviliun Phoenix milik Chanyeol.
Chanyeol membuat pintu keluar portal tepat di pondok kecil di tengah taman impian miliknya.
Pondok kecil yang kokoh terbuat dari perak, dengan warna putih keperakan yang senada dengan bahannya, serta ukiran berbentuk 2 burung phoenix yang saling berhadapan dengan posisi yang berbeda membentuk harmoni layaknya yin dan yang.
Salah satu burung phoenix itu memakai mahkota berbatu merah dan yang lain memakai mahkota berbatu biru.
Hal ini lagi-lagi membuat si mungil takjub, ukiran itu begitu indah, seindah lukisan dua burung phoenix di dimensi biru, matanya tak bisa lepas dari ukiran itu.
Belum lagi taman tempat pondok kecil itu berada, taman itu begitu indah hingga tak heran banyak yang menyebutnya taman impian, indah dan tak tersentuh layaknya taman rahasia.
Sayang Baekhyun hanya sebentar berada di dimensi Bulan Biru, jika tidak, dia akan melihat taman langit, taman yang lebih menakjubkan dari taman impian tempat dia berada saat ini.
Taman impian merupakan replika dari taman langit, dengan kata lain taman impian itu adalah tiruan dari taman langit yang berada di dimensi Bulan Biru.
Alasan Chanyeol menciptakan taman impian adalah karena dia sangat membenci ide tentang membiarkan orang lain datang ke dimensi Bulan Biru, bahkan ibunya, sang ratu sekalipun tak dia izinkan.
Taman impian dia buat untuk ibunya yang bersikeras ingin datang ke dimensi Bulan Biru untuk melihat taman langit.
Chanyeol benar-benar tak mau hal itu terjadi, entah mengapa dia membencinya, dia merasa dimensi itu merupakan tempat spesial antara dirinya dan sang kembaran yang tak boleh dimasuki oleh siapapun.
Oleh sebab itu, Chanyeol membuat replika taman langit, dan beruntung sang ibu mau menerima alasan Chanyeol melarangnya datang ke dimensi Bulan Biru, Chanhee mengerti bahwa dimensi itu didedikasikan khusus untuk Chan In, kembaran Chanyeol yang telah tiada.
Jika memang begitu, mengapa dia mengizinkan Baekhyun ke sana? Itulah yang masih menjadi misteri saat ini.
ooooo
ooo
o
Saat ini, kedua vampire itu telah menjauh dari paviliun phoenix dan berjalan menuju taman istana, tempat dimana sang raja, Yunhoo dan sang ratu tengah berbincang.
Chanyeol dan Baekhyun berjalan mendekati ke tiga vampire yang masih sibuk dengan percakapan mereka.
Saat sudah cukup dekat dan ingin bersuara, keduanya tiba-tiba di kejutkan dengan penuturan Chanhee, ibu Chanyeol.
"Ini tentang putramu, Byun Baekhyun." ucap Chanhee tanpa ada keraguan.
Perkataan Chanhee, membuat Chanyeol dan Baekhyun mengurungkan niat mereka untuk bersuara.
Detik selanjutnya, dengan kekuatannya, Chanyeol menghilangkan hawa keberadaannya dan si mungil, hingga dapat di pastikan tidak ada seorang pun yang bisa merasakannya.
Dia tak ingin ke tiga vampire itu tahu mereka ada di sini dan mengurungkan niat mereka untuk membicarakan si mungil.
Baekhyun terkesiap, beberapa detik tak sadar karena pengaruh kekuatan Chanyeol.
"Apa yang kau lakukan?" ujar si mungil bingung.
"Shhh..." ujar Chanyeol berbisik.
Setelah itu dia melanjutkan ucapannya, "Aku menghilangkan hawa keberadaan kita." dengan nada yang sangat pelan.
"Untuk apa?" Baekhyun bertanya dengan berbisik.
"Kau ingin mendengar apa yang mereka bicarakan, iyakan?" Chanyeol masih berujar dengan nada berbisik.
Baekhyun menganguk sedikit ragu, "Tapi.."
Ucapan Baekhyun terpotong kala Chanyeol bersuara, "Shhh...mereka sedang membicarakanmu, tidakkah kau penasaran?"
Baekhyun hanya bisa diam, dia ingin berkata bahwa mencuri dengar pembicaraan orang lain itu tidak baik, tapi dia juga di landa rasa penasaran yang amat besar layaknya sang pangeran.
Pada akhirnya, si mungil mengikuti permainan sang pangeran, bersembunyi dan mencuri dengar pembicaraan ayahnya, sang raja dan sang ratu.
ooooo
ooo
o
"Ada apa dengan putraku Baekhyun?" ujar Yunhoo memulai.
"Siapa dia? Apa dia benar-benar putramu?" Chanhee melontarkan pertanyaannya tanpa ada keraguan.
"Apa maksudmu?" ujar Yunhoo bingung bercampur emosi.
"Aku bertanya padamu, apa dia benar putramu?" ujar Chanhee tenang.
"Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan!" ujar Yunhoo mencoba mengelak, lalu dokter paruh baya itu melangkah pergi meninggalkan Chanhee dan Chanho.
Detik selanjutnya Chanhee kembali bersuara, "Sudah kuduga, dia pasti kutukan, benarkan?" ujar Chanhee dengan tersenyum miris.
Perkataan Chanhee membuat Yunhoo mengurungkan niatnya untuk pergi.
ooooo
ooo
o
Sementara si mungil shock mendengar penuturan sang ratu.
"Ku-ku-kutukan?" ujar Baekhyun terbata-bata dengan nada yang sangat pelan.
Chanyeol juga sangat terkejut dengan penuturan ibunya, namun dia lebih khawatir dengan pria mungil di samping kanannya.
Lagi-lagi tanpa sadar, Chanyeol memeluk Baekhyun, berusaha menenangkan si mungil.
ooooo
ooo
o
Kembali ke Yunhoo, pria paruh baya itu menghentikan langkahnya, dia kembali bersuara.
"Apa maksudmu kutukan?" ujarnya sambil memejamkan mata menahan amarahnya, posisinya saat ini masih membelakangi Chanhee dan Chanho sehingga kedua vampire itu tak bisa melihat wajah Yunhoo.
"Tepat seperti yang aku katakan." ujar Chanhee dengan lirih.
"Sayang!" Chanho yang sejak tadi diam, memilih bersuara.
"Apa?!" ujar Chanhee ketus.
"Mengapa kau berkata begitu? Hentikan semua ini, ayo kita kembali ke istana kristal." ujar Chanhoo mencoba menghentikan ratunya.
Raja para vampire itu menarik lembut tangan sang ratu, namun Chanhee dengan kasar menghempaskan tangan Chanho.
"Kau sudah tahu kan?!" ujar Chanhee menatap penuh kepedihan ke arah Chanho.
"Kau tahu siapa Baekhyun, dan kau membiarkannya bersama dengan putra kita?!"
"Kau tahu kan hukum darah murni seperti apa?!"
"Aku paham kau menyayanginya, dan aku juga tak bisa membencinya!"
"Cukup! Tak bisakah kau tak mengulangi kesalahan yang sama? Cukup dirimu! Jangan libatkan putraku!"
"Yang lebih parah adalah Baekhyun itu kutukan! Kau ingin putramu merasakan apa yang kau rasakan? Kau ingin Chanyeol juga mengalami hal itu? Kau ingin Baekhyun juga mengalami hal yang sama?"
"Kenyataan bahwa Baekhyun adalah kutukan bisa membuat semuanya lebih parah!"
Chanhee mengutarakan isi hatinya, semuanya tanpa terkecuali.
"Sepertinya kau sudah salah paham Chanhee." ujar Yunhoo yang sejak tadi diam.
Dia tahu hal itu juga kesalahannya, kesalahan di masa lalu karena tak mengetahui hukum yang berlaku.
"Dimana letak kesalahpahamanku, kak Yunhoo?" ujar Chanhee masih mencoba mendengarkan Yunhoo.
Meskipun emosinya masih belum stabil tapi Chanhee mencoba mendengarkan Yunhoo, biar bagaimanapun Yunhoo juga saudaranya.
"Dengar adik, Baekhyun itu anakku dan Yunhwa, dia bukan kutukan, dan dia itu keponakanmu, sayangi dia! Jangan pernah berusaha membencinya." ujar Yunhoo pada Chanhee.
"Kau bohong kak! Baekhyun pasti anak Kak Yunhwa dan Chanho! Iyakan?!" ujar Chanhee menolak penjelasan Yunhoo, air mata sudah mengalir di wajah cantiknya.
"Mengapa kau dan Chanho begitu keras kepala?! Baekhyun anakku, dia memiliki kembaran bernama Baek Boom, dia bukan anak Yunhwa dan Chanho, dia bukanlah kutukan!"
"Lantas, mengapa kalian tak pernah memberitahukan keberadaannya padaku?! Aku berhak tahu kan?"
"Kelahirannya bertepatan dengan kelahiran kedua putramu, Yunhwa meminta untuk merahasiakannya dari semua orang bahkan dari kalian, karena biar bagaimanapun, bayi yang dikandungnya itu adalah keturunan dark blood."
Hati Chanhee teriris, dia tak kuasa menahan tangisnya mendengar penuturan dari Yunhoo.
"Mengapa kau berkata begitu? Meski darah dark blood mengalir dalam tubuh kalian, tapi ingatlah bahwa darah kerajaan juga mengalir dalam tubuh kalian." ujar Chanhee dengan nada lirih.
"Tak perlu menghiburku Chanhee, sejak awal, dark blood adalah keturunan keluarga kerajaan, dan sejak awal, aku dan Yunhwa adalah keturunan dark blood, kami lahir dan dibesarkan disana."
"Tapi kalian juga anak raja." ucap Chanhee tak mau kalah.
"Leluhur dark blood juga anak raja, chanhee, pada akhirnya dark blood adalah keluarga kerajaan, hanya saja mereka berada di jalan yang salah." ujar Yunhoo.
"Kami berdua sudah cukup menderita dengan darah yang mengalir dalam diri kami, darah yang berbeda ini membuat kami memiliki dua kepribadian berbeda." lanjutnya lagi.
Dia menghentikan ucapannya sejenak, menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, setelah itu bersuara,
"Darah ini juga yang membuat kami hidup dalam pelarian, kami bukan bagian dari dark blood dan juga bukan bagian dari pure blood, orang-orang menyebut kami Unwanted Blood."
"Ibu kami harus bersembunyi dari dark blood, mereka benar-benar menginginkan kami, darah kerajaan yang langsung mengalir dalam tubuh kami ingin mereka manfaatkan untuk merebut tahta. Tidakkah kami menakutkan Chanhee?" ujar Yunhoo pada Chanhee.
"Tidak! Kakak, kalian tidak menakutkan! Kalian adalah keluarga terbaik yang langit berikan untuk kami!" ujar Chanhee bersikeras.
"Terima kasih Chanhee, aku yakin Yunhwa akan sangat senang mendengar perkataanmu." ucap Yunhoo tulus.
Chanho yang sejak tadi memilih diam akhirnya bersuara, "Katakan Yunhoo, aku yakin bukan hanya itu alasanmu menyembunyikan keberadaan Baekhyun."
Yunhoo terlihat ragu namun tetap bersuara, "Kau benar, alasan utamaku adalah karena Baekhyun juga di incar oleh dark blood, setelah kematian Yunhwa dan Baek Boom, aku tak ingin kehilangan dirinya juga."
"Alfeist?" ujar Chanho memastikan.
Yunhoo mengangguk, kemudian bersuara, "Ya benar, itu salah satunya, alasan yang paling utama adalah Baekhyun terkena racun zois."
"Zois?!" ujar Chanhee dan Chanho bersamaan.
Baik Chanhee maupun Chanho nampak sangat terkejut dengan penuturan Yunhoo.
"Ba-bagaimana itu bisa terjadi?" ujar Chanhoo.
"Anak yang malang." ucap Chanhee.
"Karena itu, dia harus di isolasi dari dunia luar." ujar Yunhoo.
"Tunggu dulu, apa hubungannya dengan tragedi Alfeist?" tanya Chanhee tak mengerti.
"Baekhyun sama seperti putra kita Chanyeol, dia juga korban selamat dari tragedi itu." ujar Chanho menjawab pertanyaan ratunya.
"Bagaimana bisa?" ujar Chanhee terlihat shock.
ooooo
ooo
o
Sementara itu, Chanyeol dan Baekhyun masih setia mendengarkan percakapan tiga vampire itu.
Baekhyun yang terlihat paling terkejut karena dia tak mengetahui apapun.
"Tragedi Alfeist? Racun Zois?" gumamnya.
Baekhyun terus menggumamkan kata-kata yang sama.
Dia merasa tak asing dengan kata-kata itu. Baekhyun terus menggumamkan kata-kata itu, mencoba mencari tahu apa yang mengganggunya.
Dia merasa dia telah melupakan sesuatu yang sangat penting, sesuatu yang seharusnya tidak dia lupakan, dan kata-kata itu terdengar tidak asing dan begitu mengganggu.
Baekhyun terus mengumamkan kata-kata itu, menyelami pikirannya, jauh ke alam bawah sadarnya.
Cukup lama hal itu terjadi dan tiba-tiba saja Baekhyun terlihat aneh dan Chanyeol menyadari hal itu.
"Hei! Kau baik-baik saja?" ujar Chanyeol sedikit khawatir.
Pangeran tampan itu mengguncang-guncang tubuh Baekhyun, vampire mungil itu terlihat aneh, pandangan matanya kosong.
Baekhyun sudah terlalu dalam masuk ke pikirannya, tenggelam dalam alam bawah sadarnya, menyentuh kotak pandora yang seharusnya tertutup rapat.
Aaaarrrgghhh!
Tiba-tiba Baekhyun menjerit, dia terlihat sangat kesakitan sembari memengangi kepalanya dengan kedua tangannya.
"Hei! Ada apa denganmu?!" ujar Chanyeol semakin khawatir.
"Aaarrghh! Tidak! Tidak! Tidaaaaakkkk!' Baekhyun meracau.
"Hentikan! Hentikan! Hentikaaaannn!" lanjutnya lagi terus meracau.
"Maafkan aku! Maafkan aku! Maafkaaann akuuu!" Baekhyun masih terus meracau membuat Chanyeol semakin panik.
"Hei, ada apa denganmu?"
"Tidak, tidak, maafkan aku, maafkan aku, hentikan, hentikan! Pergi! Pergiiiii!" racau Baekhyun.
Si mungil terlihat kacau, rambutnya berantakan, air mata mengalir deras di kedua sisi pipinya, kedua tangannya masih memegangi kepalanya yang bergerak ke kanan dan ke kiri.
Dia terlihat sangat kesakitan dan juga ketakutan di saat yang bersamaan.
"Yaakk! Byun Baekhyun! Jangan bercanda!" ucap Chanyeol khawatir.
Keadaan Baekhyun tentu saja membuat ke tiga vampire itu menyadari keberadaan mereka berdua, dan dengan cepat mengalihkan perhatian mereka kepada Chanyeol dan Baekhyun.
"Siapa disana?!" ujar Chanho.
Chanyeol menghapuskan mantranya dan ke tiga vampire itu bisa dengan jelas melihat sang pangeran dan si mungil.
"Baekhyun?!" ujar Yunhoo terkejut.
Keadaan Baekhyun saat ini begitu menyedihkan, si mungil itu pingsan, wajahnya sangat pucat, keringat membasahi pelipisnya, wajahnya terlihat begitu kesakitan dan juga sangat ketakutan.
"Apa yang terjadi dengan Baekhyunku?" ucap Yunhoo dengan panik.
"Aku tak tahu paman."
"Tunggu dulu! Sejak kapan kalian di sini?" ujar Yunhoo curiga.
"Sejak tadi paman."
"Apa kalian mendengar semuanya?"
Chanyeol hanya bisa mengangguk.
"Kalian mendengar semuanya?! Baekhyun juga?"
"Ya paman."
"Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Baekhyun tak seharusnya mendengarkan semua itu!" ucap Yunhoo dengan wajah sepucat pasi.
ooooo
ooo
o
Saat ini, Baekhyun tengah berbaring di kasur, di salah satu ruangan yang ada di istana utama.
Yunhoo mencoba membawanya kembali ke rumah sakit, namun raja, ratu dan pangeran bersikeras mencegahnya.
Sementara si mungil berbaring di kasur, Yunhoo mendapat berbagai macam pertanyaan dari ke tiga vampire itu.
"Apa yang terjadi padanya paman?" ujar Chanyeol memulai.
"Aku takut dia memaksakan otaknya untuk mengingat." Yunhoo menjawab cepat.
"Apakah itu berbahaya?" tanya Chanhee dengan wajah khawatir.
Yunhoo kemudian menganguk.
"Tidak adakah cara untuk mengobatinya?" Chanho bertanya pada Yunhoo.
Yunhoo menggeleng lemah, kemudian dia bersuara, "Aku ragu ada hal semacam itu."
"Apa yang sebenarnya coba dia ingat paman?" tanya Chanyeol penasaran.
"Sesuatu yang lebih baik tidak dia ingat." ujar Yunhoo.
"Apa itu?" ujar Chanyeol makin penasaran.
"Kau tak perlu tahu." jawab Yunhoo singkat.
"Pasti mengenai tragedi Alfeist dan racun Zois kan?" pancing Chanyeol.
"Bagaimana kau tahu?"
"Karena dia," ucap Chanyeol sembari menunjuk ke arah Baekhyun yang tengah berbaring.
Dia menghentikan sejenak ucapannya, kemudian melanjutkannya lagi, "Menjadi aneh setelah mengumamkan kedua kata itu."
"Kau yakin?"
"Ya."
"Oh...tidak! Bagaimana ini? Bagian mana yang dia ingat? Apa yang dia ingat? Bagaimana bila dia membenciku?!" ujar Yunhoo semaki panik.
"Apa maksudmu paman?" ujar Chanyeol bingung dan semakin penasaran di saat bersamaan.
Di tengah kepanikan yang melanda dirinya, membuat Yunhoo tak bisa lagi berfikir jernih, hingga dia tanpa sadar menjawab pertanyaan Chanyeol.
"Aku takut dia akan membenciku jika dia mengingat perlakuan mengerikanku di masa lalu." ujar Yunhoo frustasi.
Chanyeol diam, dia sudah tahu, jika hal itu yang Yunhoo takutkan maka dia tak perlu khawatir, karena Baekhyun sudah mengingat hal itu sejak lama sebelum kejadian ini terjadi.
"Kau tak perlu khawatir paman." ucap Chanyeol cepat.
"Apa yang kau bicarakan?" ucap Yunhoo setelah mendapatkan kesadarannya kembali, dia masih belum sadar jika dia telah kelepasan berbicara mengenai hal yang mengganggunya.
"Apa maksudmu Chanyeol?" kali ini Chanho angkat bicara.
Sementara Chanhee masih menyimak pembicaraan mereka.
"Seperti yang aku ucapkan ayah, paman Yunhoo tak perlu khawatir, karena Baekhyun mengingat perlakuan buruk yang dia terima dari paman Yunhoo jauh sebelum kejadian hari ini terjadi."
"A-a-apa i-i-itu be-be-benar?" ucap Yunhoo terbata-bata, nadanya terdengar bergetar antara terkejut dan takut.
"Iya paman, dia yang mengatakan hal itu padaku."
"Ja-jadi selama ini dia sudah mengingatnya? Selama ini dia bertahan dengan mimpi buruk itu?" ujar Yunhoo dengan nada bergetar.
Tiba-tiba tubuhnya lemas, dia terjatuh dengan kedua kaki tertekuk, membuat lututnya menopang berat badannya.
"Maafkan ayah Baekki." ujar Yunhoo tak kuasa menahan tangisnya.
Dia menangis, meluapkan segala penyesalan dan rasa bersalah yang selama ini menghantui, rasa itu kian bertambah besar setelah dia mengetahui bahwa selama ini putra mungilnya mengingat hal itu.
Detik itu juga, di hadapan Chanyeol, Chanho, Chanhee dan sang putra yang terbaring tak sadarkan diri di ranjang, Yunhoo menangis, menyesali segala perbuatannya di masa lalu, terutama perbuatannya pada Baekhyun.
Chanho dan Chanhee menatap iba ke arah Yunhoo yang terlihat lemah dan tak berdaya, sementara Chanyeol terlihat sedikit iba dan di landa kebingungan.
Pikirannya berperang, berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya, seperti apa perlakuan Yunhoo pada Baekhyun? Seberapa parah? Seberapa mengerikan? Bagaimana si mungil bisa melewatinya?
Apa sebenarnya yang membuat Yunhoo takut? Mimpi buruk seperti apa yang di alami Baekhyun? Sebegitu mengerikannya kah perlakuan Yunhoo pada Baekhyun di masa lalu?
Ada banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya, namun pada akhirnya berbagai pertanyaan itu hanya mengarah pada satu kesimpulan, bahwa perlakuan Yunhoo kepada Baekhyun di masa lalu sangat, sangat mengerikan.
Oleh sebab itu, Chanyeol memilih bungkam, tak lagi bersuara seperti ayah dan ibunya, membiarkan Yunhoo menangis, menyesali perbuatannya.
ooooo
ooo
o
Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di Klozeus, pusat dari Heavenia yang tersembunyi di bawah permukaan.
Grimoir kembali bersinar dan kembali mengeluarkan kata-kata magisnya.
Kotak Pandora telah terbuka sedikit, kenangan masa lalu yang sempat terlupakan kembali muncul ke permukaan.
Baru satu yang terbuka, masih banyak yang belum terbuka, memang berat untuk mereka, namun kotak pandora itu telah di takdirkan langit untuk terbuka apapun yang terjadi.
Semoga tidak terlalu menyakitkan untuk mereka.
Begitulah kira-kira tulisan-tulisan yang muncul dalam lembar kosong milik grimoir.
Detik selanjutnya tulisan-tulisan itu keluar dari grimoir, membentuk sebuah lingkaran, kemudian berputar-putar.
Tulisan-tulisan itu mengeluarkan cahaya biru yang sangat indah, kemudian lingkaran yang berputar-putar itu terbang, naik ke atas dan melebur menjadi satu bersama udara.
Leburannya membentuk serpihan-serpihan cahaya biru kecil yang begitu indah, serpihan-serpihan cahaya biru itu jatuh ke bawah layaknya hujan cahaya biru.
Begitu indah, sangat-sangat indah layaknya sebuah sihir yang memikatmu.
ooooo
ooo
o
Legenda mengatakan bahwa omega yang terlahir bersama seorang Alpha akan mengalami hidup yang sulit.
Dengan kata lain omega yang memiliki kembaran seorang Alpha akan menjalani hidup yang berat dan sangat sulit dari pada omega normal.
Presentase kelahiran sepasang kembar Alpha Omega itu hanyalah satu berbanding satu milyar kelahiran, dengan kata lain kembar Alpha Omega adalah sesuatu hal yang sangat langka.
Para vampire menyebutnya dengan kembar terikat, kembar terikat bisa saja menjadi sebuah anugerah namun juga bisa menjadi sebuah kutukan.
Sebab itulah mereka menyebutnya kembar terikat, terikat dengan takdir yang digariskan sejak lahir, takdir bahagia atau takdir yang kejam dan sulit, sebuah anugerah bagi keluarga atau sebuah kutukan bagi keluarga.
Kembar terikat memikul semua tanggung jawab itu, terutama sang omega, sebab itulah hidup mereka akan sulit, karena mereka menopang takdir yang tak terelakan.
ooooo
ooo
o
Saat ini Chanho, Chanhee dan Chanyeol sudah keluar dari ruangan tempat Baekhyun terbaring.
Mereka meninggalkan Yunhoo yang menangis di hadapan putra mungilnya yang terbaring tak sadarkan diri.
Ketika Chanho dan Chanhee hendak pergi untuk kembali ke ruangan mereka, Chanyeol menahan keduanya.
"Tunggu dulu ayah, ibu." ucapnya cepat.
"Ada apa sayang?" tanya Chanhee lembut.
"Tidakkah ayah dan ibu melupakan sesuatu?" tanya Chanyeol.
"Apa itu nak?" kali ini Chanho yang bersuara.
"Kalian berhutang penjelasan padaku."
"Penjelasan?" ujar Chanhee tak mengerti.
"Ya penjelasan, siapa sebenarnya paman Yunhoo itu? Mengapa ibu memanggilnya kakak? Dan apa itu racun Zois? Kalian harus menjelaskan semua itu padaku!" ujar Chanyeol panjang lebar.
Chanhee dan Chanho sejenak sempat melupakan fakta bahwa putra mereka Chanyeol juga ikut mendengar pembicaraan itu.
Detik selanjutnya mereka akhirnya memutuskan untuk memberitahu masalah itu kepada sang pangeran.
"Seperti yang sudah kau dengar nak, Yunhoo adalah anggota keluarga kerajaan, dia adalah salah satu dari saudara ayah dan ibu." ujar Chanho mulai menjelaskan.
"Kalian tak pernah memberitahuku hal ini, bukankah saudara saudari ayah semuanya omega? Mengapa paman Yunhoo seorang Alpha bisa menjadi saudara ayah?" tanya Chanyeol heran.
"Kau benar sayang, hanya saja kasus paman Yunhoo dan bibi Yunhwa agak berbeda, mereka kembar terikat seperti ayah dan ibu, juga kau dan Chan In, Oh jangan lupakan Baekhyun dan kembarannya." ujar Chanhee menjawab pertanyaan Chanyeol.
"Kembar terikat?" tanya Chanyeol tak mengerti.
"Benar sayang, kembar terikat adalah sepasang vampire kembar yang terlahir sebagai Alpha dan Omega." Chanhee menjelaskan.
"Jadi, karena mereka kembar terikat, maka paman Yunhoo yang berstatuskan sebagai Alpha bisa menjadi salah satu saudara ayah dan ibu?"
Kedua vampire itu menganguk.
"Tapi hal itu hanya bisa terjadi jika sang ibu bukan keluarga kerajaan, itu adalah kesalahan, karena keluarga kerjaan tak boleh memiliki anak dari vampire biasa." ujar Chanho.
"Mengapa ayah?"
"Itu bisa merusak garis keturunan kita, lagipula hal itu juga mustahil, karena benih kita tak akan berkembang di dalam rahim para omega biasa yang bukan merupakan keturunan keluarga kerajaan."
"Maksud ayah?"
"Sudah takdir langit bahwa calon raja hanya bisa memiliki keturunan dari saudara atau saudari omeganya, calon raja harus menikah dengan anggota keluarga kerajaan, dan itu adalah mutlak bahwa mate seorang calon raja adalah anggota keluarga kerajaan."
"Tapi-" ucapan Chanyeol terpotong begitu saja kala Chanho kembali bersuara,
"Ibu paman Yunhoo dan bibi Yunhwa bukanlah vampire omega biasa, dia adalah vampire omega keturunan dark blood, dengan kata lain darah kerajaan masih mengalir dalam nadinya."
"Apa? Dark Blood?"
"Dia adalah vampire baik yang menyelamatkan kakekmu, tapi kakekmu melakukan kesalahan karena jebakan dari dark blood hingga terlahirlah paman Yunhoo dan bibi Yunhwa." ucap Chanhee sembari memegang pundak Chanyeol lembut.
"Maksud ibu, dia menjebak kakek?!"
"Tidak sayang, dia tidak ada sangkut pautnya, dia tidak tahu apapun, dia hanyalah korban kejahatan dan keserakahan dark blood." jawab Chanhee cepat, dia tidak ingin Chanyeol salah paham.
"Benarkah? Bagaimana kalian tahu?" tanya Chanyeol tak percaya.
"Tentu saja kami tahu, mereka berdua hidup dalam pelarian dan ketakutan sebelum kakekmu datang menyelamatkan mereka." jawab Chanhee kemudian dilanjutkan oleh Chanho,
"Kakekmu tidak tahu jika ibu paman Yunhoo dan bibi Yunhwa mengandung anaknya, dia memilih tak memberitahu kakekmu, dark blood itu sungguh kejam, mereka tak memandang siapapun, bahkan anggota mereka sendiri."
"Mengapa ibu paman Yunhoo harus lari?"
"Tentu saja karena dia tak mau anak-anaknya di jadikan alat untuk merebut tahta kerajaan." jawab Chanho cepat.
"Bukankah itu menguntungkannya?"
"Tidak sama sekali, dia mencintai kakekmu, tapi takdir berkata lain, kakekmu mencintai nenekmu, matenya, dia cukup bahagia karena setidaknya dia bisa mengandung anak kakekmu, dengan kata lain saudara ayah dan ibu." kali knk Chanhee yang menjawab pertanyaan Chanyeol.
"Baiklah aku mengerti, kalo memang yang ayah dan ibu katakan benar, maka Baekhyun adalah sepupuku, apa itu benar?" ucap Chanyeol pada akhirnya.
"Benar." ucap keduanya bersamaan.
"Darah kerajaan masih mengalir dalam dirinya kan?"
Keduanya mengangguk mengiyakan.
"Berarti dia bisa menjadi mateku, iyakan?"
"Tidak sayang." jawab Chanhee cepat seraya menggelengkan kepalanya.
"Mengapa?" tanya Chanyeol penasaran.
"Hukum darah murni yang di lukiskan langit adalah takdir yang harus di jalani oleh seluruh keturunan darah murni, terutama calon raja, dan Baekhyun bukanlah matemu, dia tidak bisa, bahkan tidak akan bisa untuk menjadi matemu, itu sangat, sangat mustahil!" ucap Chanho panjang lebar.
"Aku mengerti." ucap Chanyeol pada akhirnya.
Pangeran negeri vampire dengan wajah rupawan itu pada akhirnya memilih menyudahi perbincangannya dengan sang ibu dan sang ayah.
Pada akhirnya dia salah, meski fakta mengatakan Baekhyun adalah sepupunya dan darah kerajaan mengalir dalam omega mungil itu, namun takdir berkata lain.
Kemungkinan yang Chanyeol kira bisa saja terjadi pada akhirnya hanyalah sebuah dugaan yang mustahil terjadi.
Aroma Baekhyun itu manis, pria mungil itu membuatnya nyaman, mengejutkan bagaimana dia memperlakukan Baekhyun berbeda dari yang lain.
Chanyeol sendiri tak tahu mengapa dia begitu, hanya saja nalurinya menuntunnya untuk memperlakukan si mungil begitu.
Entah karena rasa bersalah atau hal lainnya, yang jelas nalurinya tak bisa berbohong dan mengatakan bahwa si mungil berbeda.
Semua itu membuat Chanyeol sempat mengira bahwa mungkin saja Baekhyun adalah matenya, tapi nyatanya perkiraannya salah.
Perkataan ayahnya membuat semuanya menjadi jelas, pada akhirnya Baekhyun bukanlah siapa-siapa.
"Ada lagi yang ingin kau tanyakan?" tanya Chanho pada putranya.
"Tidak ayah, terima kasih atas penjelasannya ayah, ibu. Aku pamit dulu." ujar Chanyeol sembari pergi meninggalkan kedua vampire yang berstatus sebagai orang tuannya itu.
Sementara Chanho dan Chanhee kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju ruangan milik mereka.
ooooo
ooo
o
Yunhoo masih menangis, menyesali perbuatannya, memandangi wajah putra mungilnya sendu, cukup lama dia begitu.
Namun detik selanjutnya dia tersadar dan akhirnya memutuskan untuk menghubungi seseorang.
Dia bergegas keluar dari ruangan tempat Baekhyun berada dan berjalan cepat, disekitar taman dia memperlambat langkahnya dan pada saat dia berhasil menghubungi orang tersebut, dia secara reflek berhenti.
ooooo
ooo
o
Saat ini Kyungsoo dan Luhan sedang berjalan-jalan pagi di taman, mereka tak sengaja melihat Yunhoo yang baru saja keluar ruangan dimana Baekhyun tengah tertidur.
"Paman Yunhoo?" gumam Kyungsoo pelan.
Kemudian ketika Yunhoo berjalan mendekat ke arah mereka, Kyungsoo menarik lengan Luhan dan mengajaknya untuk bersembunyi.
"Yaak! Apa yang-" baru saja Luhan hendak protes namun Kyungsoo dengan cepat memotongnya.
"Shhh...Jangan berisik, ada paman Yunhoo di situ." ujar Kyungsoo dengan nada berbisik.
"Apa-" ucapannya terpotong seketika ketika dia melihat ke arah Kyungsoo.
Luhan akhirnya diam, memilih tak bersuara setelah mendapat tatapan tajam dari Kyungsoo.
Mereka berdua akhirnya bersembunyi di balik semak di sekitar taman, Luhan hanya mengikuti kemauan saudara kembarnya.
Sementara Kyungsoo sendiri tak tahu mengapa mereka harus bersembunyi, dia hanya mengikuti instingnya.
ooooo
ooo
o
Setelah selesai menghubungi orang itu, Yunhoo bergumam sesuatu.
"Baekhyun, tunggu ayah, bersabarlah, ayah pasti akan melindungimu, ayah takkan membiarkanmu terluka lagi." gumamnya ketika berhenti di taman.
Kemudian detik selanjutnya dokter paruh baya itu bergeas pergi entah kemana, meninggalkan Baekhyun di istana, karena saat ini istanalah tempat teraman bagi putra mungilnya.
ooooo
ooo
o
Sementara di tempat yang sama, setelah kepergian Yunhoo, Kyungsoo dan Luhan keluar dari tempat persembunyian mereka.
"Baekhyun?" gumam Kyungsoo setelahnya.
Dia punya firasat bahwa Baekhyun ada di dalam ruangan dimana Yunhoo keluar tadi, karena ruangan itu adalah ruangan umum, ruangan untuk tamu yang jarang di gunakan.
"Yaak! Mengapa kau tiba-tiba menarikku untuk bersembunyi?" tiba-tiba Luhan bersuara hendak protes kepada saudara kembarnya Kyungsoo.
"Kau tidak dengar apa yang ku katakan tadi?" tanya Kyungsoo dengan wajah datar.
"Apa hubungannya dengan paman Yunhoo? Mengapa kita harus bersembunyi?" tanya Luhan heran.
"Entahlah, aku hanya mengikuti instingku." jawab Kyungsoo tanpa rasa bersalah.
Luhan rasanya benar-benar ingin menguliti makhluk di sampingnya ini, jika saja dia bukan kembarannya pasti Luhan sudah melakukan hal itu, Kyungsoo benar-benar menyebalkan, alasannya sungguh tidak masuk akal dan membuat si cantik Luhan jengkel.
"Kau ini yaa benar-benar me-" ucapan Luhan lagi-lagi terpotong begitu saja kala Kyungsoo bersuara,
"Kau lihat ruangan itu?" ucap Kyungsoo sembari menunjuk ke sebuah ruangan.
Perkataan Kyungsoo membuat Luhan mengurungkan niatnya untuk mengumpati saudara kembarnya itu dan mengalihkan perhatiannya pada ruangan yang ditunjuk oleh Kyungsoo.
"Ya, aku lihat. Memangnya kenapa?" tanya Luhan tak mengerti.
"Bukankah paman Yunhoo baru saja keluar dari sana?" tanya Kyungsoo lagi.
"Ya, kau benar. Lalu?" ucap Luhan masih tak mengerti.
Entah karena terlampau bodoh atau memang Luhan tidak peka dia tak kunjung mengerti maksud dan tujuan dari arah pembicaraan Kyungsoo, hal ini tentu saja membuat Kyunsoo sedikit kesal dan frustasi tentunya.
"Yakk! Kau in bodoh atau bagaimana? Kau tahu kan ruangan itu jarang di pakai, tidakkah kau penasaran mengapa paman Yunhoo keluar dari sana?" tanya Kyungsoo sarkas.
"Oh...benar juga," ucap Luhan polos dengan nada menyebalkan.
Setelah itu Luhan kembali melanjutkan ucapannya yang membuat Kyunsoo semakin frustasi dan geram di saat bersamaan.
"Bagaimana jika kita memeriksanya?" ujar Luhan dengan tenang tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Itu yang ingin aku katakan padamu dari tadi, rusa buluk!" ujar Kyungsoo jengkel.
"Oh...begitukah?" ujar Luhan dengan senyuman menyebalkannya membuat Kyungsoo semakin jengkel.
Luhan sebenarnya tahu maksud dari arah pembicaraan kembarannya itu, tapi dia berpura-pura tak memahaminya dan membuat Kyungsoo jengkel, tentu saja, Luhan sedang balas dendam di sini, haha.
"Dan jangan memanggilku rusa buluk, kau bocah kerdil." lanjut Luhan sembari menatap tajam Kyungsoo, rupanya dia tetap tak terima dengan ejekan kembarannya itu, hingga dia juga membalas untuk mengatai Kyungsoo.
"Terserah," ujar Kyungsoo datar.
"Lebih baik kita periksa ruangan itu." lanjutnya lagi membuat Luhan yang sempat ingin bersuara menjadi bungkam kembali.
Pada akhirnya kedua vampire itu bergegas ke ruangan dimana Baekhyun tengah berbaring tak sadarkan diri.
ooooo
ooo
o
Saat ini Kyungsoo dan Luhan tengah berada di depan ruangan dimana si mungil Baekhyun tertidur lelap akibat shock pasca mendengar pembicaraan sang raja, ratu dan ayahnya.
Kedua vampire itu terlihat ragu untuk masuk ke dalam ruangan itu, namun wajah mereka menunjukkan rasa penasaran yang sangat besar, dengan semua keberanian yang dia miliki Kyungsoo nekat mendorong pintu di hadapannya, dan detik selanjutnya baik Kyungsoo maupun Luhan telah masuk ke dalam ruangan itu.
Ruangan itu sebenarnya cukup besar bagi orang biasa, karena ruangan terkecil di dalam kerajaan sekalipun, besarnya dua kali lipat dari besar ruangan terbesar di rumah sakit, sehingga meski bagi anggota keluarga kerajaan ruangan itu kecil tapi bagi orang biasa ruangan itu cukup besar.
"Hei...apa tidak apa kita masuk ke sini?" tanya Luhan sedikit takut.
"Entahlah, tapi aku penasaran." jawab Kyungsoo cepat.
"Aku juga penasaran, tapi-" ucapan Luhan terpotong kala Kyungsoo bersuara,
"Ada seseorang yang berbaring di tempat tidur." ujar Kyungsoo setelah melihat ke arah tempat tidur yang ada dalam ruangan itu.
"Siapa itu?" ujar Luhan agak bingung sembari mengernyitkan dahinya terlihat sedang berpikir.
"Entahlah." jawab Kyungsoo cepat.
Kemudian detik selanjutnya kedua vampire yang terkenal dengan sebutan special twins itu sudah berjalan mendekati tempat tidur dimana Baekhyun terbaring tak sadarkan diri, mereka mendekati tempat tidur untuk melihat lebih jelas siapa yang tengah berbaring di sana.
"Cantiknya." ucap keduanya secara serempak, keduanya menampakkan wajah terkagum-kagum karena melihat wajah Baekhyun yang terlihat begitu cantik di terpa sedikit cahaya mentari pagi.
"Siapa dia?" ujar Luhan heran ketika dia melihat Baekhyun yang tertidur lelap.
"Entahlah, apa mungkin dia Byun Baekhyun?" ujar Kyungsoo mencoba menerka-nerka.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Luhan heran.
"Aku tak tahu, aku hanya mengira saja."
"Bagaimana kau bisa mengira bahwa dia adalah Byun Baekhyun?" ujar Luhan masih terlihat heran.
"Paman Yunhoo tadi mengucapkan sesuatu yang berhubungan dengan putranya, Byun Baekhyun. Dia juga baru saja keluar dari ruangan ini, jadi aku menyimpulkan bahwa pria mungil ini adalah putra paman Yunhoo, Byun Baekhyun." jawab Kyungsoo panjang lebar.
"Hmm...sepertinya kau benar," ujar Luhan setuju dengan analisa kembarannya.
"Tapi mengapa dia ada disini?" lanjutnya lagi.
"Aku juga tak tahu, tapi bukankah dia di culik? Mungkin saja sesuatu telah terjadi." ujar Kyungsoo pada Luhan.
"Aku rasa juga begitu."
Keduanya terdiam untuk sesaat, kemudian Luhan kembali membuka suara, "Jadi bagaimana ini? Apa kita tunggu hingga dia terbangun?"
"Kita tak tahu kapan dia akan terbangun, lebih baik kita segera pergi dari sini, setidaknya kita sudah tahu bagaimana rupanya." ujar Kyungsoo pada akhirnya.
Dia tak ingin mengambil resiko untuk tinggal lebih lama dalam ruangan itu, Yunhoo bisa saja kembali, dia takut bahwa mereka tak seharusnya mengetahui keberadaan Baekhyun di ruangan ini, oleh sebab itu Kyungsoo memilih untuk pergi.
ooooo
ooo
o
Sementara itu di alam mimpi, dimana kesadaran Baekhyun berada, si mungil sedang berdiri kaku, alam bawah sadarnya memaksa Bakehyun untuk berada di alam ini demi menguak kenangan masa lalu dalam dirinya, kenangan masa lalu yang dia lupakan.
Kotak pandora yang telah lama terkunci, saat ini alam bawah sadar Baekhyun sedang mencoba untuk membukanya.
"Dimana aku?" ucap si mungil dialam mimpi.
"Ayah, Baekki takut." ujarnya dengan nada bergetar.
Baekhyun melihat kesekitar dan yang dia temui hanyalah warna hitam, semuanya gelap, tidak ada setitikpun cahaya yang menerangi, dan Baekhyun benci itu, dia benci gelap karena trauma yang di alaminya.
"Baekki benci gelap ayah." ujarnya masih dengan nada bergetar.
Baekhyun hanya bisa berdiri kaku diam ditempatnya berpijak, tempat ini begitu asing, gelap dan menakutkan, dia tak tahu apa yang ada di sekitarnya, dia tak bisa melihat apapun, si mungil akhirnya berjongkok, meringkuk ketakutan, karena sumpah demi apapun Baekhyun benci kegelapan!
"Ayah, ayah, tolong Baekki, tolong Baekki, Baekki takut." racaunya masih dalam keadaan berjongkok dengan kepala di tenggelamkan di antara kedua tangannya yang melipat.
"Jangan takut."
Tiba-tiba sebuah suara mengejutkan Baekhyun.
"Siapa itu?" ucapnya takut-takut.
Baekhyun memberanikan diri untuk kembali berdiri, matanya menelusuri keadaan di sekitarnya dan dia tak menemukan apapun selain kegelapan yang menyelimuti.
Karena tak kunjung ada jawaban, Baekhyun akhirnya kembali bersuara, "Siapa itu?" ucapnya mengulang kembali pertanyaannya.
Suara itu tak lagi terdengar, membuat Bakehyun semakin gelisah, ketika dia ingin kembali berjongkok hal yang tak di sangka-sangka terjadi.
Sebuah kotak bersinar dengan sangat terang, sinar putihnya begitu indah memikat Baekhyun untuk mendekat, tanpa dia sadari dia berjalan mendekati sinar itu. Cahaya dari kotak itu menyebar keseluruh ruangan, membuat Baekhyun menghentikan langkahnya seketika, ruangan yang semula gelap menjadi terang penuh cahaya.
Baekhyun sangat gembira, dia melihat kesekitar dan kembali dibuat kagum dengan keindahan ruangan tempat dia berpijak saat ini.
Ruangan berbentuk aula besar, dengan warna dominan putih, tiang-tiang besar dan tinggi menopang ruangan itu, kupu-kupu berwarna-warni berterbangan kesana kemari, bunga-bunga tumbuh bermekaran, terdapat kolam besar berisi air yang sangat jernih dengan jembatan di tengah-tengahnya, jembatan yang terbuat dari emas dengan ukiran kupu-kupu untuk pegangannya.
Semua yang Baekhyun lihat itu sungguh ajaib, layaknya taman yang ada di dalam sebuah ruangan. Baekhyun sungguh sangat takjub dengan apa yang di lihatnya saat ini.
Saat ini, Baekhyun sedang berada di antara hamparan bunga lavender yang begitu indah. Dia melihat kesekitar, mencari sumber dari cahaya yang sebelumnya dia lihat, Baekhyun hanya tahu ada cahaya terang, dia tidak tahu apa tepatnya yang bersinar terang tadi, karena terlalu terang hingga dia tak bisa melihat kotak itu.
Baekhyun masih melihat ke sekitar, tepat di ujung taman, di seberang kolam, Baekhyun melihat kotak itu kembali bersinar, kali ini bukan sinar putih yang dilihatnya, melainkan sinar biru yang begitu indah.
Baekhyun dengan segera berjalan melewati berbagai hamparan bunga untuk sampai ke kolam itu, dia menyeberangi kolam melalui jembatan kupu-kupu dan sampai di depan kotak yang bersinar itu.
"Apa ini?" ucapnya setelah sampai di depan kotak itu.
Baekhyun menyentuhnya dan cahaya itu tiba-tiba menghilang, kemudian vampire mungil itu mengangkat kotak itu dari tempatnya dan melihat lebih jelas kotak apa sebenarnya itu.
Kotak indah dengan ukiran burung Phoenix di tiap sisinya, hanya saja burung phoenix itu memakai mahkota berwarna biru, lubang kunci terselip di depan kotak itu, kotak itu terbuat dari kayu dengan warna coklat muda yang hampir menyerupai warna putih.
"Burung Phoenix? Apa ini miliknya?" ujar Baekhyun setelah melihat ukiran burung phoenix pada kotak itu, dia ingat bahwa semua yang berhubungan dengan Chanyeol adalah burung phoenix, jadi dia menyangka bahwa itu milik sang pangeran.
Ketika Baekhyun ingin menaruh kembali kotak itu pada tempatnya sebuah suara kembali muncul, "Bukalah, jangan kau kembalikan."
"Siapa itu?"
"Kau tak perlu tahu siapa aku, hanya ikuti perintahku."
"Bagaimana jika aku tak mau?"
"Jika kau tak mau, maka selamanya kau akan terjebak di sini."
"Apa maksudmu? Tempat apa ini sebenarnya?"
"Ini adalah alam mimpi."
"Alam mimpi?" tanya Baekhyun tak mengerti.
"Bukalah kotak itu." ujar sang suara mengabaikan pertanyaan Baekhyun.
"Untuk apa? Dan bagaimana aku bisa berada di sini?"
"Buka saja dan kau akan tahu nanti, kau jatuh pingsan setelah mendengar pembicaraan ayahmu dengan sang ratu dan raja."
Baekhyun akhirnya mengingat hal itu, tanpa banyak bertanya dia akhirnya kembali bersuara, "Kau ingin aku membukanya?"
"Ya."
"Tapi bagaimana? Ini terkunci."
"Kau memiliki kuncinya."
"Apa maksudmu? Aku tak memiliki kunci apapun."
"Kau memilikinya, bukalah kotak itu, hanya kau yang bisa."
"Hei! Aku tak memiliki kunci yang kau maksud itu!"
Tak ada lagi suara, suara itu kembali menghilang.
"Hei! Hei! Kau dengar aku? Hei!" ujar Baekhyun dengan setengah berteriak setelah tak kunjung ada jawaban dari sang suara.
"Arrgghh! Aku bisa gila!" ujarnya kembali dengan nada frustasi yang kentara, vampire mungil itu bahkan sampai mengacak-acak surai rambutnya yang berwarna perak itu.
"Apa maksudnya aku memiliki kuncinya?! Aku benar-benar bisa gila jika begini terus!" lanjut Baekhyun masih terus mengumpat.
Vampire mungil itu kembali mengacak surai rambut keperakannya hingga berantakan, di dilanda rasa frustasi bercampur kesal yang hebat, kepalanya pusing memikirkan maksud dari suara aneh yang di dengarnya itu.
Baekhyun akhirnya kembali melihat kesekitar, berharap dia akan menemukan kunci untuk membuka kotak itu, dia sadar tak ada gunanya dia mengoceh tak jelas mengumpati sang suara yang tak jelas milik siapa dan darimana asalnya.
Matanya terus melihat kesekitar dan dia tak menemukan apapun, dia kembali memperhatikan kotak itu.
"Bagaimana cara membukanya?' ujar Baekhyun sembari membolak-balikan kotak yang kini tengah di pegangnya.
Kemudian detik selanjutnya dia menggerakkan kotak itu ke kiri ke kanan lalu ke atas ke bawah dengan gerak seperti mengocok kotak itu, Baekhyun penasaran dengan isi kotak tersebut, "Tidak ada suara." ujarnya setelah itu.
"Hoii...ada orang di dalam?" ujar Baekhyun seperti orang bodoh sembari mengetuk-ngetuk kotak itu pelan.
Ckck, tolong jangan tiru kebodohan vampire mungil ini di rumah -_-
Haahh~~
Baekhyun menghela nafasnya berat, dia terlihat frustasi saat ini, dia berfikir keras mengenai cara membuka kotak ini, kemudian dia kembali memperhatikan kotak itu, ukiran phoenix dengan mahkota berwarna biru.
"Biru? Bulan biru?" ujar Baekhyun tanpa sadar.
Tiba-tiba kotak itu kembali bersinar dan terbuka lebar, berbagai kenangan yang tersimpan menguak keluar, benang-benang halus berwarna putih berterbangan keluar dari dalam kotak itu, ingatan-ingatan serta kenangan-kenangan yang Baekhyun lupakan meluap keluar dari kotak itu.
"Apa ini?!" ujar Baekhyun terkejut.
"Benang putih?" lanjutnya lagi penuh dengan nada heran.
Mata Baekhyun terus memperhatikan benang-benang putih yang berterbangan itu, bentuk dari kenangannya yang keluar dari kotak yang terbuka.
Tak berapa lama kemudian, semua kenangan telah keluar dari kotak itu, benang-benang putih itu berkumpul menjadi satu membentuk sebuah payung dan berubah warna menjadi biru, payung biru transparant yang indah, bentuk dari kenangan berharga yang Baekhyun lupakan.
"Payung biru? Waahh...Indah sekali." ujar Baekhyun dengan nada penuh kekaguman.
Setelah itu payung biru itu membesar menutupi seluruh ruangan dan dalam sekejab ruangan itu berubah menjadi refleksi dari ingatan yang Baekhyun miliki.
Baekhyun melihat kesekitarnya dan semuanya sudah berubah.
Saat ini dia berada di sebuah hutan, dihadapannya ada sebuah rumah kecil dengan taman yang tak terawat di depannya. Vampire mungil itu merasa tak asing dengan hutan dan rumah itu.
Seorang anak kecil keluar dari rumah itu, wajahnya terlihat bahagia.
"Ayah hari ini akan datang," ujar anak kecil itu sembari tersenyum.
"Akhirnya aku bisa meninggalkan hutan ini, ayah akan menjemputku." lanjut anak kecil itu dengan wajah penuh antusias.
Kemudian anak kecil itu berjalan mendekati tempat Baekhyun berada, tapi dia hanya melewatinya saja.
"Apa ini? Mengapa dia hanya melewatiku begitu saja? Apa ini semua tak nyata?" ucap Baekhyun tak mengerti.
"Itu reflector, apa yang kau lihat saat ini adalah bentuk dari ingatanmu yang menyenangkan." suara itu kembali terdengar.
"Siapa sebenarnya kau?"
"Kau tak perlu tahu."
"Mengapa begitu?"
"Berhenti bertanya, dan dengarkan perkataanku, apa yang kau lihat adalah ingatan yang kau lupakan, lihatlah baik-baik dan cobalah ingat kenangan berharga yang kau miliki."
"Kenangan berharga?" tanya Baekhyun makin tak mengerti.
"Carilah nak, jangan lupakan kenangan berharga milikmu. Carilah!"
"Hei! Apa yang kau bicarakan sebenarnya?"
Tak ada jawaban, suara itu sudah pergi lagi, datang tiba-tiba dan pergi juga tiba-tiba, benar-benar menyebalkan.
"Haiiisshh~~ menyebalkan!" ujar Baekhyun jengkel.
Baekhyun kembali mengamati anak kecil itu, dia melihat anak kecil itu berjalan menuju arah taman yang tadi di lihatnya.
"Kapan bunga-bunga di sini mekar?" ujar anak kecil itu sedih.
"Waahh! Benar-benar tidak terawat, jelek sekali tamanmu." tiba-tiba sebuah suara muncul dari balik semak.
Seorang anak kecil yang tampan muncul.
"Berisik! Lagipula siapa kau berani mengatai tamanku jelek? Dan apa yang kau lakukan disini?"
"Aku? Hanya jalan-jalan."
"Jalan-jalan? Di hutan kesunyian?"
"Hutan kesuyian?" gumam Baekhyun tak asing dengan nama hutan itu.
"Iya, mengapa? Tak boleh?" percakapan antara dua anak kecil itu masih berlanjut.
"Euum, kau tak tahu jika hutan ini terlarang?"
"Terlarang? Lalu apa yang kau lakukan disini jika memang hutan ini terlarang?"
"Aku? Aku di hukum, hutan ini tempat aku di asingkan."
"Kau di asingkan? Mengapa?"
"Entahlah, ayah bilang aku harus tinggal disini. Dia bilang ini adalah hukuman karena aku selalu mengganggu kembaranku, Baek Boom."
"Apa-apaan itu?!"
"Baek Boom?! Jadi anak kecil ini adalah AKU?!" ujar Baekhyun tak percaya.
Benar sekali, anak kecil itu adalah Baekhyun ketika dia masih kecil, sekarang Baekhyun telah mengetahuinya, rupanya ketika masih kecil, rupanya yang sempat dia lupakan.
Percakapan antara dua anak kecil itu masih berlanjut, "Ayahmu tak adil!"
"Tenang saja, hari ini dia bilang dia kan menjemputku, katanya hukuman ku sudah selesai." ujar Baekhyun kecil sumringah.
"Terserah," ujar bocah satunya malas.
"Aku pergi dulu." lanjutnya lagi.
Baekhyun kecil hanya bisa menatap sedih kepergian sang bocah, dia merasa kesepian lagi.
Adegan itu menjadi adegan terakhir yang di lihat Baekhyun sebelum cuplikan ingatan itu berpindah pada waktu yang berbeda.
"Siapa bocah itu?" gumam Baekhyun tanpa sadar.
Saat sedang berfikir, tiba-tiba serpihan ingatan lainnya muncul.
Suasana disekitar Baekhyun berubah menjadi gelap, sepertinya itu adalah malam hari. Baekhyun kecil sedang menatap ke arah rembulan yang bersinar terang.
Haaahh~~
Baekhyun kecil menghela nafasnya sedih.
"Hari ini ayah bilang dia tak jadi datang dan aku harus bersabar menunggu," ujarnya dengan nada lesu.
"Kapan ayah akan benar-benar datang untuk menjemputku?" ujarnya sedih.
Baekhyun kecil menatap rembulan yang bersinar dengan terang, kemudian rembulan itu berubah menjadi warna merah.
"Selamat ulang tahun Baek Boom." ucap Baekhyun kecil tulus.
Setelah itu cahaya rembulan berubah menjadi berwarna biru, benar sekali, itu adalah ulang tahun Baekhyun dan kembarannya, malam dua bulan, malam dimana bulan merah dan bulan biru bersinar bergantian di langit.
"Selamat ulang tahun Baekki." ucap Baekhyun kecil sembari meniup sebuah api biru kecil yang keluar dari jari telunjuknya, api biru yang di buatnya, hanya Baekhyun yang bisa membuatnya.
"Aku bisa membuat api?" tanya Baekhyun terheran-heran.
Setelah meniup api itu, cahaya rembulan kembali menjadi normal dan Baekhyun kecil kembali memandang rembulan dengan sendu.
Bulan, bulan, wahai rembulan.
Malam ini, kau begitu indah
Bulan, bulan, wahai rembulan.
Malam ini hari ulang tahunku
Sekali lagi kuhabiskan sendiri
Bulan, bulan, wahai rembulan
Temani aku, hapuskan sepiku
Bulan, bulan, wahai rembulaaaan
Temani aku malam ini
Baekhyun kecil bernyanyi dengan suara yang sangat merdu, lagu yang dia nyanyikan adalah lagu spontan yang dia ciptakan saat melihat rembulan dan mengingat kesediriannya. Baekhyun kecil sangat kesepian saat ini.
Prok~~Prok~~Prok
Terdengar suara tepuk tangan yang lumayan keras, Baekhyun kecil mencari asal suara itu dan dia menemukan bocah tampan yang di temuinya tadi pagi.
"Suaramu begitu merdu." pujinya pada Baekhyun kecil.
Baekhyun kecil tersipu malu kemudian bersuara, "Terima kasih."
"Ayahmu tak jadi menjemputmu?"
"Ya, seperti yang kau lihat, aku masih disini," ucap Baekhyun kecil dengan senyum yang di paksakan.
"Apa yang kau lakukan disini malam-malam begini?" lanjutnya lagi.
"Aku hanya mencari udara segar," ucap sang bocah tampan singkat.
"Oh iya, selamat ulang tahun yaa untukmu Baekki."
"Bagaimana kau tahu?"
"Kau tadi menyebutkannya kan dalam nyanyianmu?"
"Oh..."ucap Baekhyun mengerti.
"Uuumm, terima kasih." lanjutnya lagi.
"Tunggu dulu, bagaimana kau tahu namaku? Aku tak menyebutkan Baekki dalam laguku."
"Oh...itu, aku mendengar kau mengucapkan selamat ulang tahun pada dirimu sendiri." ucap sang bocah tampan sembari tersenyum manis membuat Baekhyun kecil tersipu.
"Oh begitu." ujar Baekhyun kecil sembari menundukkan wajahnya menatap hamparan rumput di bawahnya.
'Karena kau sedang berulang tahun, aku akan memberimu sebuah hadiah."
"Benarkah? Apa itu?"
"Pejamkan matamu Baekki, uumm...boleh aku memanggilmu Baekki?"
"Tentu."
"Oke, Baekki, sekarang pejamkan matamu."
Baekhyun kecil hanya bisa mengangguk patuh kemudian bersuara, "Baiklah." kemudian dia menutup kedua matanya.
Sang bocah tampan menggerakan kedua tangannya, sebuah cahaya berwarna merah kebiruan keluar dari tangannya, dia mengarahkan cahaya itu ke arah taman yang tak terawat di hadapannya, dan seketika bunga-bunga mulai bermekaran dengan indahnya, cahaya biru berterbangan disekitar mereka layaknya kunang-kunang.
"Sekarang, bukalah matamu."
"Wooaahhh...Indahnya," ujar Baekhyun kecil dengan mata berbinar-binar.
"Terima kasih." lanjutnya sembari tersenyum manis.
"Sama-sama." ujar sang bocah tampan juga ikut tersenyum manis.
Keduanya tersenyum manis dan tertawa bersama, semua terlihat begitu indah.
Adegan itu mengakhiri cuplikan ingatan tentang malam ulang tahun Baekhyun.
"Indahnya, aku rasa itu kado ulang tahun terbaik yang pernah aku terima. Mengapa aku bisa melupakannya?" Baekhyun bergumam dengan nada penasaran.
Detik selanjutnya ruangan itu kembali normal, seperti sedia kala.
"Apakah sudah selesai?" gumam Baekhyun penasaran.
Saat Baekhyun mengira semua sudah selesai, tiba-tiba kotak itu kembali bersinar, kali ini sinarnya berwarna merah terang.
Baekhyun salah, justru semuanya baru saja dimulai.
"Merah? Bulan merah?"
Dan seperti sebelumnya tiba-tiba saja kotak itu terbuka, berbagai kenangan yang tersimpan menguak keluar, benang-benang halus berwarna putih kembali berterbangan keluar dari dalam kotak itu, ingatan-ingatan serta kenangan-kenangan yang Baekhyun lupakan meluap keluar dari kotak itu.
Mata Baekhyun terus memperhatikan benang-benang putih yang berterbangan itu, bentuk dari kenangannya yang keluar dari kotak yang kembali terbuka.
Tak berapa lama kemudian, semua kenangan telah keluar dari kotak itu, benang-benang putih itu berkumpul menjadi satu membentuk sebuah payung dan berubah warna menjadi hitam, payung hitam besar yang menutupi cahaya, bentuk dari kenangan yang lebih baik Baekhyun lupakan.
Suasana disekitar Baekhyun kembali berubah, kali ini dia berada di sebuah ruangan.
"Dimana ini?" gumam Baekhyun.
Baekhyun melihat kesekitar ruangan, dia melihat Baekhyun kecil sedang menangis di pojok ruangan.
"Aku menangis? Mengapa aku menangis?"
Ketika Baekhyun ingin berjalan mendekati Baekhyun kecil, pintu di buka secara kasar, itu Yunhoo yang masuk ke dalam ruangan itu dengan wajah murka penuh amarah.
"A-a-ayah?" ucap Baekhyun terkejut dan sedikit takut karena dia ingat wajah ini, wajah ketika Yunhoo, ayahnya akan menyiksanya dulu.
Yunhoo menjambak rambut Baekhyun kecil membuat bocah itu kesakitan, tangisnya semakin lama semakin terdengar memilukan.
"Berhenti menangis!" ucap Yunhoo penuh amarah.
"A-ayah sa-sakiitth." ujar Baekhyun kecil dengan wajah penuh linangan air mata, kedua tangan mungilnya memegang tangan sang ayah erat mencoba melepaskan jambakan sang ayah.
"Aku bilang berhenti menangis dasar kau bocah sial!"
"Hiks..hiks..ma-maaf ayah." ujar Baekhyun kecil mencoba menahan tangisnya.
Yunhoo melepas jambakannya dari rambut Baekhyun kecil, dia menatap Baekhyun kecil penuh dengan kebencian.
"Kau itu kutukan! Seharusnya kau tidak terlahir!"
"A-a-ayah maafkan Baekki, ayah maaf." ujar Baekhyun kecil kembali menangis.
"Aku bilang berhenti menangis! Itu menjijikan!" ujar Yunhoo sembari menampar wajah Baekhyun kecil dengan sangat keras.
Baekhyun kecil jatuh tersungkur, dia memegangi pipinya yang merah dan terasa sakit karena tamparan dari ayahnya, bahkan sudut bibirnya mengeluarkan darah, vampire kecil itu mati-matian menahan isak tangisnya agar Yunhoo tak semakin marah padanya.
Vampire mungil itu hanya bisa menunduk dalam, tetap diam di tempatnya.
"Tetap disini, bahkan untuk bernafas di sekitarmu saja terasa menjijikan." ujar Yunhoo sinis, kemudian dia pergi meninggalkan Baekhyun sendiri di ruangan itu, ruangan gelap dengan cahaya yang sangat minim, bahkan nyaris tak ada.
Sementara Baekhyun kecil hanya bisa meringkuk, kembali menangis dalam diam, menangis di pojok ruangan menahan sakit akibat tamparan ayahnya.
ooooo
ooo
o
Air mata Baekhyun menetes tanpa dia sadari, melihat adegan itu membuat Baekhyun merasa sangat sedih dan terluka.
Adegan itu adalah adegan terakhir yang Baekhyun lihat, sebelum adegan lainnya dimulai.
Adegan selanjutnya dari serpihan ingatan Baekhyun adalah sebuah laboratorium.
"Laboratorium?" gumam Baekhyun heran.
Tak lama pintu laboratorium terbuka, menampilkan Yunhoo yang sedang menyeret Baekhyun kecil yang terus meronta.
"Ayah aku tak mau, kumohon ayah, hentikan, aku tak mau." ujar Baekhyun kecil sembari menggelengkan kepalanya memelas meminta belas kasihan dari sang ayah, air mata sudah membasahi kedua pipinya.
"Diamlah! Lakukan saja! Selama ini kau tidak berguna, bersyukurlah karena sekarang kau bisa membantuku dan menjadi berguna."
"Tapi ayah-"
Ucapan Baekhyun kecil terpotong kala Yunhoo kembali berucap, "Diam kau! Sampah sepertimu harusnya senang karena bisa berguna!" terlihat kilatan amarah di mata Yunhoo karena Baekhyun terus menjawab perkataannya.
Baekhyun kecil hanya bisa diam, dia terlihat meremas ujung baju yang di kenakannya, baju khas pasien rumah sakit.
Yunhoo yang melihat Baekhyun hanya diam saja kembali tersulut amarahnya, dia menampar Baekhyun kecil dengan sangat kuat hingga vampire kecil itu membentur alat-alat medis yang ada di sampingnya, bahkan wajahnya juga ikut berdarah akibat tamparan dari ayahnya itu.
"Kau berengsek! Jika ada yang berbicara padamu, kau harus menjawabnya! Jangan hanya diam saja! Dimana sopan santunmu HAH?! Dasar tidak berguna! SAMPAH!" teriak Yunhoo murka.
"Ba-baik ayah." ujar Baekhyun kecil takut-takut, dia hanya bisa menunduk sembari memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan ayahnya, sumpah demi apapun rasanya sangat sakit dan perih, tapi lebih dari itu, hati vampire kecil itu terasa lebih sakit, Baekhyun bisa merasakan hal itu, perasaan dirinya dulu sewaktu kecil.
"Bersihkan kekacauan yang kau buat ini!" perintah Yunhoo pada Baekhyun kecil sembari menunjuk alat-alat medis yang berserakan di lantai.
"Ba-baik ayah." ujar Baekhyun mungil masih dengan nada takut, dia mati-matian berusaha menjawab perkataan Yunhoo karena dia tak mau lagi menerima tamparan dari pria yang berstatus sebagai ayahnya itu.
Setelah itu Baekhyun membereskan alat-alat medis yang berserakan di lantai itu, dengan tangan gemetar dia mengambil satu persatu alat-alat medis yang berserakan dilantai akibat tamparan dari sang ayah yang membuatnya membentur meja besi beroda yang di atasnya terdapat alat-alat medis yang sudah berserakan di lantai.
"Sekarang, bebaring di situ." ujar Yunhoo sembari menunjuk ranjang yang ada di laboratorium itu.
"Ba-baik ayah." ujar Baekhyun kecil masih dengan nada takut-takut.
Detik selanjutnya Baekhyun kecil berjalan mendekati ranjang itu dan berbaring di atasnya. Yunhoo menggunakan tiap tali yang ada di sisi ranjang itu untuk mengikat Baekhyun kecil agar tak mengamuk dan membuat repot nantinya, sekarang posisi Baekhyun kecil tengah berbaring telentang di ranjang dengan kedua kaki dan tangan terikat di masing-masing sudut ranjang.
"Kau akan menjadi kelinci percobaan yang sempurna." ucap Yunhoo sembari menyeringai.
Lalu detik selanjutnya Yunhoo mengambil sebuah botol kecil berisi cairan berwarna hijau muda, dia mengambil alat suntik lalu memasukan cairan itu kedalam alat suntik yang di ambilnya, kemudian dia menyuntikan cairan itu pada tubuh Baekhyun kecil.
"Kita lihat bagaimana reaksinya." ucap Yunhoo sembari menyeringai.
Tak berapa lama, tubuh Baekhyun kecil mengalami reaksi aneh, tubuhnya bergetar, badannya menggigil, wajahnya pucat, keringat dingin mengalir di pelipisnya, nafasnya memburu dan puncaknya adalah teriakan penuh kesakitan dari vamoire kecil itu.
AAARRRGGGGHHHH~~~
"Ayaaaah! Sakit ayah! Tidak! Hentikan ayah! Sakiiiitthhh! Aaaarrrggghhh!" teriak Baekhyun terlihat sangat kesakitan, dia berusaha meronta agar di lepaskan, tangan dan kakinya terus bergerak meronta, kepalanya dia gerakan ke kanan dan ke kiri secara brutal.
Adegan itu adalah adegan terakhir yang Baekhyun lihat dari cuplikan serpihan kenangan miliknya.
Tiba-tiba saja Baekhyun merasa kepalanya begitu sakit dan dadanya begitu sesak, dia memegangi kepala dan dadanya secara bersamaan, kepalanya sakit bagai di hantam batu dan dadanya sakit bagai di tusuk pisau.
Baekhyun jatuh tersungkur, sakit yang di rasakannya begitu sakit, sangat sakit seperti rasa kematian.
Efek yang di terima setelah melihat serpihan kenangan hitam yang dimilikinya sangat menakutkan, sangat menyakitkan dan sangat berbahaya, seharusnya Baekhyun tak melihatnya, tapi itu memang sudah di gariskan untuk terjadi.
Apapun yang terjadi, Baekhyun tetap harus melihatnya, bahkan jika pada akhirnya kenangan itu akan menyakitinya, langit tak bisa berbuat apapun, itu telah menjadi takdirnya, Baekhyun harus kuat menjalani semua itu.
Cukup lama Baekhyun merasakan efek yang begitu menyakitkan itu, namun perlahan tapi pasti rasa sakit itu berangsur-angsur menghilang.
Haaahhh~~
Baekhyun menghela nafasnya lega.
Cuplikan serpihan kenangan hitam itu belum lah selesai, kali ini mungkin Baekhyun tak akan sanggup mengatasi efeknya.
Sekarang suasana di sekitar Baekhyun kembali berubah, saat ini dia sedang berada di hutan, dihadapannya ada sebuah kastil megah yang terlihat sangat menyeramkan.
Dari kejauhan dia melihat Baekhyun kecil sedang membawa lentera berisi api berwarna biru, kemungkinan itu adalah api yang Baekhyun kecil ciptakan.
"Dimana aku?" ucap Baekhyun kecil kebingungan melihat ke sekitar.
Ah...sepertinya Baekhyun kecil sedang tersesat saat ini.
Vampire kecil itu terus berjalan hingga sampai di depan pagar yang menutupi kastil megah itu, dia membukanya dan kemudian berjalan di pekarangan kastil itu, selanjutnya dia membuka pintu kastil itu dan masuk ke dalamnya.
Baekhyun segera berpindah ke dalam kastil. Dia melihat dirinya sewaktu kecil itu masuk ke dalam kastil.
"Hai anak manis." tiba-tiba sebuah suara menyapa Baekhyun kecil.
"Hallo paman." ucap Baekhyun kecil tersenyum manis.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku tersesat paman."
"Oh..benarkah? Kalau begitu kau boleh bermalam disini."
"Benarkah paman?"
"Iya, besok aku akan mengantarmu pulang."
"Terima kasih paman."
"Sama-sama." ujar pria itu menyeringai tanpa Baekhyun kecil sadari.
Dan Baekhyun memiliki perasaan tak enak mengenai cuplikan serpihan ingatan miliknya kali ini.
Mereka berpindah ke sebuah ruang makan yang besar. Baekhyun kecil tengah makan di sana.
"Ini enak paman."
"Oh benarkah? Makan yang banyak anak manis, Oh iya, siapa namamu?"
"Baekhyun paman, panggil saja aku Baekki."
"Baiklah Baekki, makan yang banyak yaa nak."
"Terima kasih paman."
Baekhyun kecil kembali melanjutkan makannya, sementara pria itu pergi ke dapur dan membawa sebuah minuman untuk Baekhyun kecil.
"Baekki hauskan? Ini paman bawakan darah kelinci untukmu."
Tanpa pikir panjang, Baekhyun kecil menenggak habis darah kelinci itu. Dan lagi-lagi pria itu menyeringai tanpa Baekhyun kecil sadari.
Tiba-tiba tubuh Baekhyun kecil bereaksi aneh, tenggorakannya tercekat, dia susah bernafas, sekujur tubuhnya sangat sakit bagai di iris-iris.
"Paman apa ini? Mengapa ini terjadi? Apa yang kau lakukan padaku?"
"Tidakkah kau di ajarkan untuk jangan terlalu percaya dengan orang asing bocah manis?" ujar pria itu menyeringai.
"Kau adalah kelinci percobaan si Yunhoo sialan itu, bagaimana? Hmm...hebat sekali kau bisa melewati penderitaan akibat virus yang Yunhoo suntikan padamu, kau hebat, selamat yaa, kau vampire pertama yang selamat dari virus mematikan itu, Oh...tidak, apa mungkin obat yang Yunhoo kembangkan berhasil membunuh virus itu? Atau itu adalah dirimu yang bisa melawan virus itu?"lanjutnya lagi, kemudian dia menghentikan ucapannya sebentar dan kembali bersuara,
"Yaa...aku tidak peduli, Yunhoo lalai karena membiarkan dirimu tersesat dan berakhir di kastilku, sekarang biar aku tahu kebenarannya, aku memberikanmu sebuah hadiah, kita lihat apa kau bisa selamat dari racun zois yang dark blood ciptakan. HAHAHA." ujar pria itu sembari tertawa jahat.
Sementara Baekhyun kecil meringkuk di lantai, dia merasakan kesakitan yang luar biasa kemudian pingsan.
Cuplikan serpihan kenangan hitam Baekhyun berakhir, namun Baekhyun di landa shock hebat, matanya terlihat kosong kesadarannya hilang, jiwanya kosong dan ini semua adalah efek dari melihat kenangan yang seharusnya tak di lihatnya.
Jiwa Baekhyun kosong, jiwa Baekhyun akan hilang, lenyap untuk selamanya.
ooooo
ooo
o
Sementara itu, di dunia nyata, tepatnya di ruangan dimana tubuh Baekhyun berbaring, Luhan dan Kyungsoo sudah bersiap ingin meninggalkan ruangan itu.
Namun belum sempat mereka melangkahkan kaki untuk pergi dari ruangan itu, tubuh Baekhyun tiba-tiba bergerak, tubuh vampire mungil itu mengeluarkan cahaya berwarna ungu dan melayang-layang di udara.
Hal ini membuat Kyungsoo dan Luhan kaget, dengan segera mereka berlari memberitahukan hal ini pada sang raja.
ooooo
ooo
o
Saat ini semua orang tengah berkumpul di ruangan tempat Baekhyun berada, Raja, ratu, Yunhoo, pangeran Chanyeol, special twins semua ada di ruangan itu.
"Purple Vanish." ujar Chanho ketika melihat apa yang terjadi pada tubuh Baekhyun.
"Purple Vanish?" tanya Luhan dan Kyungsoo bersamaan.
"Purple Vanish adalah proses lenyapnya jiwa seseorang akibat terlalu dalam menyelami alam bawah sadarnya, atau akibat shock hebat yang dilanda sang jiwa ketika dia berada di alam mimpi, dan itulah yang saat ini sedang terjadi pada Baekhyun." ujar Chanhee menerangkan.
"Oh begitu." jawab Luhan dan Kyunsoo serempak.
Sementara Chanhee hanya bisa tersenyum manis melihat tingkah menggemaskan kedua omega kembar di hadapannya ini, di sisi lain, Chanyeol hanya menatap tubuh Baekhyun dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Bodoh, kau ingin mati?" gumamnya dalam hati.
"Apa yang harus ku lakukan? Mengapa sampai separah ini?" ujar Yunhoo frustasi.
"Tenanglah Yunhoo, pasti ada cara menyembuhkannya." Chanho mencoba menenangkan sahabatnya.
"Aku rasa aku harus membawanya ketempat itu."
"Kau yakin?"
"Hanya itu satu-satunya jalan." ujar Yunhoo mantap.
"Baiklah, berhati-hatilah." ujar Chanho pada Yunhoo.
"Kau juga berhati-hati, dan segera lakukan hal yang tertunda karena kasus penculikan putraku, kau harus segera memperbanyak jumlah darah murni." ujar Yunhoo mengingatkan Chanho tentang tujuan awalnya.
"Tanpa kau? Yang benar saja kak."
"Masih ada dokter yang bisa melakukannya di rumah sakit, aku tak tahu kapan aku kembali, tapi kau harus segera menemukan pewaris untuk putramu Chanyeol, dia tak akan bisa naik tahta jika tak memiliki keturunan berstatuskan Alpha."
"Tapi kak."
"Lakukan saja, jangan biarkan dark blood menang, kali ini kau harus memperkuat kerajaan dengan menambah jumlah para darah murni." ujar Yunhoo sembari tersenyum.
"Baik kak."
"Baiklah, aku pergi dulu."
Detik selanjutnya Yunhoo menarik tubuh Baekhyun turun, menggendongnya dan kemudian menghilang.
ooooo
ooo
o
4 bulan kemudian...
Chanho akhirnya hari ini memutuskan untuk kembali melakukan rencana pendonoran sperma putranya, setelah 4 bulan menunggu dan tak kunjung ada kabar dari kakaknya Yunhoo, akhirnya dengan berat hati dia memutuskan untuk melanjutkan rencana ini.
Dia tak bisa menunggu lebih lama lagi untuk hal ini, Chanyeol harus segera memiliki anak berstatuskan Alpha, dengan begitu Chanyeol bisa menjadi raja para vampire menggantikan dirinya yang sudah tua.
Dia mencari dokter kepercayaan lainnya untuk melakukan tugas ini, dan hari yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga, hari dimana sperma milik Chanyeol akan di suntikan ke dalam rahim anak-anak omega Chanho, kecuali Kyungso, Luhan, Irene, Eunhee dan Krystal tentunya.
Persiapan telah selesai, semua sudah siap, penyuntikan sperma ini akan di lakukan secara serempak, agar kemungkinan Chanyeol mendapatkan keturunan berstatuskan Alpha lebih besar.
Sebanyak 45 saudara omeganya telah siap melakukan proses itu, mereka telah siap untuk menerima benih Chnayeol dan mengandung anak sang pangeran, mereka berharap salah satu dari mereka menjadi vampire beruntung yang mengandung anak pangeran Chanyeol yang berstatuskan Alpha, karena dengan begitu maka mereka akan menjadi permaisuri sang pangeran.
Mereka semua mencintai pangeran, sangat mencintainya, hingga rela memberikan apapun yang mereka miliki, mereka berharap menjadi orang special sang pangeran, mereka berharap menjadi mate sang pangeran.
Proses itu dimulai, benih di suntikan dan masalah baru akan di mulai dari sini.
ooooo
ooo
o
Sementara Dae Won sedang mengawasi jalannya proses pendonoran sperma milik sang pangeran.
"Permainan sesungguhnya baru saja dimulai." ucap Dae Won sembari menyeringai.
l
l
l
l
To Be Continued~~
l
l
l
l
Holla I'm Back (':
Ada yang kangen aku? (':
l
l
l
l
l
Chapter kali ini tembus sampai 11K lebiiih #Gaknyangka
Maaf yaa lama, soalnya lagi sibuk-sibuknya #Mian
Dan inspirasi kadang ilang (':
l
l
Oh iya, ada yang gk nyaman karena masalah tanda jeda lagi yaa?
Hmm...maaf yaa, mungkin Chapter kali ini kamu udah terjawab protesnya karena aku udah ganti tanda jedanya jadi
ooooo
ooo
o
Nah jadi begitu, semoga sekarang lebih kelihatan jelas.
l
l
l
Mind to review? (':
