GRAVITY

Sebelumnya, Chanyeol pernah mendedikasikan diri untuk mencintai seorang wanita dengan sepenuh hati. Ia pikir semua itu cukup, Chanyeol pikir hatinya adalah yang terkuat. Dan pria itu cukup sombong dengan berpikir bahwa perasaannya tidak akan goyah.

Lantas suatu waktu, ia menjumpai segurat senyum, mulanya tidak ada yang terasa istimewa pada dua sudut bibir pucat yang terangkat tulus. Namun belakangan Chanyeol mendapati dirinya memaki pada rasa candu, ia kalah dan egonya berkata bahwa ia harus terus melihat senyum itu mengembang, meski apa yang menjadi sebuah harapan tidak selalu beraliansi dengan kenyataan.

Mungkin Tuhan tengah menghukumnya karena telah berkhianat, namun Chanyeol tidak menggugu rasa bersalah untuk sosok yang kini terpejam dengan iringan elektrokardiograf.

Di sela-sela eratnya genggaman pada jemari kurus Baekhyun, Chanyeol terus merapalkan harapan mustahil untuk sebuah kesembuhan. Pria itu akan mengutuk pada kemungkinan terburuk, karena sebelum memutuskan untuk mencintai, ia telah menaruh syarat mutlak kepada Tuhan bahwa wanita itu harus hidup lebih lama darinya.

Ada yang menginterupsi lamunan, Chanyeol menoleh pada daun pintu yang sesaat lalu dibuka.

"Beruntung kau cepat memindahkannya kemari."

Adalah Kris yang telah lebih dulu sibuk meneliti rekam medis seraya berdiri di samping brangkar. Dokter onkologi itu lalu melirik pada Chanyeol. "Dia sudah beberapa kali melewatkan kemoterapi dan apa yang terjadi padanya malam kemarin sungguh fatal."

Chanyeol meremat sisi brangkar dengan kuat sementara matanya masih beradu pandang dengan Kris.

"Di saat kau menyombongkan diri dengan yakin mampu menjaganya, lalu apa yang sebenarnya kau lakukan selama ini? Kondisinya memburuk, maaf untuk mengatakan ini."

"Hyung.."

"Jujur saja Baekhyun seharusnya sudah tidak diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Dia membutuhkan perawatan intensif, Park Chanyeol."

Mulut Chanyeol telah lebih dulu kelu pada wajah pucat Baekhyun, rambut yang kian menipis juga tubuh yang begitu kurus. "Lakukan apapun, apapun. Hyung, kumohon.."

Park Chanyeol yang mengiba bukanlah sosok yang Kris kenal, meski apa yang kini terlihat menunjukkan seberapa besar kesungguhan pria itu.

"Aku pernah membahas dan menyarankan prosedur bedah dan dia sudah lebih dulu menyerah karena kemungkinan untuk berhasil tidaklah lebih dari sepuluh persen."

Chanyeol praktis menoleh pada Baekhyun yang masih belum terjaga. "Apa yang harus aku lakukan, hum? Tolong beritahu aku." Gumamnya pada Baekhyun sebelum kemudian mendaratkan kecupan kecil pada punggung tangan wanita itu.

"Kenapa tidak coba untuk membujuknya." Saran Kris. Ia menghela kecil sebelum menjawab rasa penasaran Chanyeol. "Luhan sudah menyerah membujuk wanita keras kepala ini. Dan aku rasa tidak ada salahnya jika kau yang mencoba, sepertinya dia begitu bergantung padamu."

"Seberapa tinggi resikonya?"

Kris mendengus kecil, merasa wajar jika semua mempertanyakan hal tersebut. "Aku tidak bisa menjamin apapun tapi tentu saja yang terbaik akan diberikan."

"Lakukan yang terbaik. Aku akan berusaha membujuknya."

"Baiklah."

Setelah menepuk bahu Chanyeol, Kris undur diri setelahnya.

Chanyeol mengusap wajah dengan keras, lalu menyempatkan diri untuk merenungi segala hal.

Tidak. Chanyeol tidak mengkhianati Kyungsoo untuk kehilangan cintanya yang baru.

Chanyeol tidak melepas sebuah rindu untuk kehilangan rindunya yang lebih candu.

Lantas kecupan lembut yang ia sematkan di kening Baekhyun untuk sebuah tekad. "Kau harus sembuh."

Ada yang mengernyit dalam lelap.

Tidak. Sebenarnya lelap Baekhyun bukan karena tertidur, akan tetapi pingsan selama belasan jam. Dan Chanyeol tentu merasa antusias ketika kelopak mata itu mulai terbuka.

Sosok tampan berwajah mengantuk yang menyambut atensi adalah apa yang membuat senyum rapuh itu terulas. Entah berapa lama Baekhyun tak sadarkan diri karena kini ia begitu merindukan lelakinya. Tangannya terulur pelan sebelum kemudian hinggap di wajah Chanyeol.

Ada yang menyambut sebuah belaian dengan jutaan kecupan di telapak tangan, lantas Chanyeol mengusakkan sisi wajahnya dengan pelan.

"Sudah makan?"

Chanyeol menggeleng.

"Kemejamu kusut, bagaimana jika kau pulang sebentar untuk mengganti pakaian?"

Dan Chanyeol kembali menggelengkan kepala.

"Aku baik, sayang."

"Tidak." Chanyeol jelas jengah mendengar pengakuan si mungil.

Baekhyun menghela kecil. "Aku banyak bermimpi. Dan tak ada satu pun yang menyenangkan."

"Aku mendengarkan."

"Ada banyak kejadian asing yang berputar di dalam mimpiku, apakah itu berhubungan dengan ingatanku yang hilang?"

Chanyeol mengernyit, mengapa ia dikelilingi oleh wanita yang kehilangan ingatannya?

"Apa yang sebenarnya terjadi dengan ingatanmu?"

Sesaat Baekhyun menatap langit-langit. "Aku tidak tahu dengan jelas, hanya saja dulu mereka sering memaksaku meminum beberapa butir obat. Kau tahu? Sejak saat itu kesehatanku mulai memburuk, apa itu dampak dari obat-obatan yang aku minum?"

"Mereka?"

"Appa dan Omma." Suara itu bergetar kecil, ada perih yang menyusup mengingat selama ini Baekhyun tidak pernah sekali pun diperlakukan sebagai seorang anak.

"Aku di sini." Bisik Chanyeol seraya mengeratkan genggaman.

"Sejujurnya, aku sering bertanya-tanya. Ada apa dengan mereka? Kenapa aku diperlakukan dengan sangat asing si rumahku sendiri? Mereka orang tuaku bukan?"

"Hei," Chanyeol bangkit dan dengan sigap memeluk wanitanya. "Sstt.. jangan membahas apapun, okay? Jangan membahasnya sekarang, pikirkan kesehatanmu saja. Tidak apa-apa aku selalu di sini."

"Jika saja ada sedikit celah untuk mengingat segala hal sebelum semua memori itu lenyap dari benakku, mungkin aku akan menemukan jawabannya. Tapi sangat sulit, aku sudah mencoba dengan keras untuk mengingat segalanya tapi.."

"Aku tahu. Aku mengerti. Jangan membahasnya lagi, kau hanya akan membiarkan kesehatanmu memburuk. Kau mengerti?" Chanyeol mengeratkan dekapannya.

Baekhyun mengusakkan wajahnya pada leher Chanyeol dan mencurahkan keluh kesahnya dengan perasaan lega.

Getar ponsel mengiterupsi beberapa hal, Chanyeol mengecup puncak kepala Baekhyun sebelum kemudian meminta izin mengangkat telepon yang masuk.

"Hn, Omma."

"Kau di mana, nak? Ada sesuatu yang ingin Omma dan Appa bicarakan."

Chanyeol mengernyit lantas melirik Baekhyun sekilas. "Aku sedang sibuk."

"Sibuk? Kau pikir Omma tidak tahu bahwa kau meminta cuti kerja selama beberapa hari?"

Pria tampan kesukaan Baekhyun itu meringis kecil. "Aku sedang bersama kekasihku."

"Gadis miskin itu lagi, huh? Omma sudah mengatakan padamu bahw—"

"Byun Baekhyun. Kekasihku. Omma puas?"

"Apa yang kau lakukan bersamanya? Omma tidak mau tahu, temui Omma dan Appa di rumah sekarang!"

"Omm—"

Kalimat Chanyeol dinterupsi oleh pemutusan sambungan telepon secara sepihak.

"Apa terjadi sesuatu?" Baekhyun jelas menaruh rasa penasaran.

Chanyeol menggeleng kecil, lalu kembali mengikis jarak dengan kekasihnya. Ia mensejajarkan wajah sebelum kemudian tersenyum kecil. "Sayang, apa kau tidak keberatan jika aku tinggal sebentar? Sepertinya memang ada hal penting di rumah."

Baekhyun praktis mengangguk dengan lucu. "Tentu, pergilah." Lalu membelai wajah lelakinya.

"Aku tidak akan lama."

Setelah menghujani pipi Baekhyun dengan kecupan sayang, Chanyeol lantas pamit dan keluar dari ruangan berbau antiseptik tersebut.

Sementara ada yang kembali mendapatkan rona di wajah. Baekhyun mengulum senyum untuk perasaan senang yang membuncah. "Dia bilang aku kekasihnya." Gumamnya lantas menutup wajahnya, malu.

~oOo~

"Omong kosong apa semua ini?"

Semburat ekspresi wajah yang mengeras pertanda bahwa Chanyeol tengah menahan segala amarah.

"Semuanya sudah ditentukan, kau harus menuruti ucapan kami."

"Apa kalian tidak malu?"

"Apa katamu?" Tuan Park mengernyit tak suka.

"Apa kalian sedang memperdagangkan anak kalian sendiri? Kenapa aku harus mengganti calon istriku? Apa.. apa kalian kehilangan akal sehat?!"

"Park Chanyeol!"

"Jaga ucapanmu!"

Chanyeol menatap kedua orang tuanya silih berganti.

Apa mereka gila?

Kenapa sesuatu seperti perjodohan dan pernikahan dianggap main-main?

Mengganti calon istri?

Astaga, Chanyeol benar-benar tak habis pikir.

"Katakan padaku kenapa kalian segila ini?!"

"Di mana sopan santunmu?!"

"Baekhyun tidak cocok denganmu!"

Chanyeol melempar tatap tak percaya kepada ibunya. "Omma mengatakan hal yang sama tentang Kyungsoo! Dan sekarang Baekhyun? Ada apa dengan kalian?!" Ia berteriak murka dan tak dapat menahan kemarahannya.

"Keluarga Byun memberitahu bahwa bahwa Baekhyun sakit parah. Maka dari itu Omma dan Appa tidak ingin melanjutkan perjodohanmu dengannya. Sudah ada calon yang lebih baik untukmu."

Mereka tahu anaknya sakit?

Chanyeol memejamkan matanya dengan erat, rasa geram tidak lagi mampu ditahan oleh logika. Tangannya telah lama terkepal erat mendapati fakta bahwa ada orang tua yang tega mengabaikan anaknya sendiri di saat dia sedang membutuhkan dukungan. Baekhyun sakit, kekasihnya itu sakit parah dan orang tuanya hanya diam?

"Dia adalah kakak Baekhyun. Kau mungkin terkejut dengan informasi ini tapi nyatanya keluarga Byun mempunyai putri sulung, kakak dari Byun Baekhyun yang selama ini menghilang, dia sudah ditemukan. Dan kau akan menikah dengannya."

"Dengar.." Chanyeol mendesis kecil seraya menarik oksigen yang menggores paru-paru, "aku tidak ada urusan apapun dengan putri sulung keluarga Byun yang kalian celotehkan. Tugasku menuruti kemauan kalian sudah terlaksana, aku menyetujui perjodohan ini dan sekarang aku hanya akan menikah dengan Baekhyun."

Sudah cukup menyakiti Kyungsoo dan aku tidak akan berkhianat lagi untuk kedua kalinya.

Aku mencintai Baekhyun dan itu akan aku pertahankan.

~oOo~

Siapapun tidak pernah luput dari sebuah kehilangan. Begitu pun Kyungsoo. Hal pahit yang menderanya secara beruntun jelas membuatnya amat terpukul. Segala yang terjadi telah merenggut kebahagiaan yang tersisa dan kini nyaris tidak ada hal yang mampu membuat senyumnya kembali mengembang.

Belum lagi kenangan buruk yang selama ini menghulang dari ingatan mulai terangkai dalam satu rekaman yang berputar di dalam otak.

Ya. Kyungsoo mengingat segalanya, masa lalu juga masa kecilnya yang tidak pantas untuk diingat kini mendera dan memenuhi seluruh memori. Dan orang pertama yang ia hubungi adalah Jongin. Karena memang pria itu yang lebih bangak hadir di dalam kenangan masa lalunya.

"Aku tidak menduga kau akan mengingat semuanya secepat ini." Jongin masih menepuk punggung Kyungsoo, menguatkannya dalam dekap berulang kali.

"Aku takut, sangat takut." Kyungsoo mencicit dalam pelukan. "Sejak kemarin kenangan itu tak kunjung menghilang dari benakku."

"Tidak apa-apa, aku di sini. Paling tidak sekarang kita tahu bahwa ada kejahatan paling besar dan tak termaafkan di masa itu."

Sebenarnya Jongin belum pulih dari keterkejutan, apa yang Kyungsoo ceritakan tentang masa lalu yang selama ini melahirkan tanda tanya sungguh membuat pria itu tak habis pikir.

"Saat itu aku berniat meminta maaf kepada Baekhyun karena sudah memusuhi dan tidak mau berteman dengannya. Aku memanjat pagar dengan susah payah untuk mengembalikan boneka miliknya tapi yang kulihat setelahnya benar-benar mengejutkan." Kyungsoo menarik diri, "mereka membunuh tuan dan nyonya Byun di depan mataku begitu pun Baekhyun. Dia ada di sana dalam keadaan setengah sadar."

Jongin menyeka air mata Kyungsoo lalu membelai rambutnya dengan sayang. "Apa mereka melihatmu?"

"Awalnya aku hanya diam karena takut, tapi aku ceroboh dan membuat sedikit kegaduhan. Mereka menyadari kehadiranku, lalu mengejarku meski aku berhasil bersembunyi di dalam mobil dan.. dan.."

Jongin menunggu Kyungsoo pulih dari rasa syok.

"Yang membuatku semakin takut, mayat tuan dan nyonya Byun mereka masukan ke dalam mobil yang aku tumpangi. Aku tidak begitu mengingat dengan jelas apa yang mereka katakan. Karena setelah menutup pintu, mobil itu bergerak dengan sendirinya. Kau tahu Jongin? Aku sangat takut, aku tidak mempunyai pilihan. Aku sangat ingin menjerit meminta tolong saat mobil itu bergerak menuruni bukit di belakang panti."

"Ya Tuhan.." Jongin kehilangan kosa kata, di samping merasa cukup geram ia pun tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Kyungsoo waktu itu.

"Aku hanya bisa menangis kencang saat mobil itu menembus jurang. Demi Tuhan, aku bersama dengan dua mayat di dalam mobil. Aku.. aku.. Ya Tuhan, aku tidak sanggup mengingat hal itu."

Kyungsoo histeris dan Jongin dengan sigap memeluknya erat. "Baiklah, sudah cukup. Jangan mengingatnya lagi, sudah cukup." Bisiknya kemudian.

"Aku.. kenapa semua ini terjadi padaku, Jongin? Kenapa kepahitan ini menderaki secara beruntun, aku tidak sanggup."

Jongin mengangguk, lantas mengecup puncak kepala Kyungsoo dengan sayang, di samping perasaan haru yang ikut ia rasakan akibat tangisan pilu dari wanita yang saat ini mencurahkan kesedihannya. "Aku di sini, Kyungsoo. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku di sini."

Ya, tentu. Tidak ada yang lebih Kyungsoo butuhkan selain sebuah sandaran saat ini. Dan mengingat lagi luka terbenam di dalam hatinya cukup membuatnya merasa frustasi.

Kyungsoo kehilangan banyak hal.

"Jangan meninggalkanku seperti pria itu." Kyungsoo mencicit pilu. Lantas mendongak. "Aku baru saja kehilangan ibuku. Dan dia.. dia seolah sengaja membuat segalanya bertambah sulit. Kenapa Park Chanyeol begitu tega kepadaku?"

"Kau tidak pantas menumpahkan kesedihan untuk pria sepertinya, Kyungsoo."

Jelas, Jongin merasa cukup geram atas apa yang Chanyeol lakukan kepada Kyungsoo, karena sejak dulu ia benci melihat wanita bermata bulat itu sedih.

Kyungsoo menggeleng. "Tidak. Sebenarnya aku tidak menghakiminya karena hatinya telah berubah. Wanita itu memang berpotensi membuat siapa pun jatuh hati. Dia.. dia benar-benar nyaris melampaui kata sempurna. Meski ada satu hal yang aku sesalkan, kenapa harus dia? Kenapa harus wanita itu." Ia menolah pada Jongin yang masih setia mendengarkan curahan hatinya. "Jongin-a.. kenapa harus Byun Baekhyun yang mencuri hati kekasihku? Aku merasa tidak menentu. Aku merasa menyesal dengan apa yang terjadi pada Baekhyun di masa lalu, tapi aku juga tidak bisa untuk tidak merasa kesal terhadap wanita itu. Apa yang harus aku lakukan, Jongin? Karena sepertiku, dia pun tidak mengingat apapun perihal masa lalunya."

"Benarkah? Dia tidak mengenalmu?"

Kyungsoo mengangguk. "Seingatku dia tidak sama sekali menunjukan bahwa dia mengenalku saat kita pertama kali bertemu. Jongin, apa dia kehilangan ingatannya juga?"

Jongin mengernyit dalam dan ia tebak akan ada banyak hal rumit yang tengah menanti. "Kita akan mencari tahu, untuk sekarang kau tinggal bersamaku karena aku tidak yakin kau akan aman mengingat mereka saat ini sedang mencarimu. Aku tidak ingin terjadi hal buruk padamu untuk ke sekian kalinya."

~oOo~

"Apa aku lama?"

Chanyeol mengambil satu kursi untuk duduk di samping brangkar, lantas membelai surai lembut Baekhyun. Sedikit mengabaikan rasa sedih mendapati rambut yang dulu lebat kini semakin rontok karena parasit.

Baekhyun menggeleng. "Tadi Luhan datang dan menemaniku sebentar."

"Oh, syukurlah."

"Apa terjadi sesuatu?"

Baekhyun terlalu peka untuk segurat muram yang menghias wajah tampan kekasihnya.

Sebenarnya Chanyeol tengah merasa begitu cemas, ia tahu kedua orang tuanya bukanlah tipikal orang yang akan menggugu keinginan Chanyeol yang bertentangan dengan kehendak mereka.

"Hum? What is it?" Baekhyun mencoba menggali apa yang tertahan di kerongkongan Chanyeol seraya membelai lembut wajah mengantuknya.

"Promise me you will stay no matter what.."

"Ada yang membuatmu cemas?"

"Berjanjilah padaku."

"Aku berjanji." Baekhyun merentangkan tangan lalu menyambut tubuh besar Chanyeol dengan pelukan menenangkan.

"Kau tahu, dibanding dirimu, aku lebih banyak merasakan cemas."

"Untuk apa? Aku di sini dan aku mencintaimu."

Baekhyun tersenyum untuk pengakuan itu. Sepertinya Chanyeol tidak sadar telah begitu banyak melontarkan kalimat tersebut.

"Aku pasti merepotkanmu. Kondisiku.. menyebalkan bukan?"

Chanyeol mengusakan wajah pada bahu rapuh kekasihnya. "Kau akan sembuh." Lalu mendaratkan kecupan kecil sebelum kemudian menarik diri dan menatap si mungil. "Kau pasti sembuh jika.."

Baekhyun mengangkat kedua alis, menunggu kalimat yang tengah menggantung itu diteruskan.

Telapak tangan besar itu menangkup sisi wajah Baekhyun. "Kris hyung membicarakan prosedur operasi. Dan— hei, baby.. look.." Chanyeol mencoba memberi begitu banyak pengertian pada Baekhyun yang telah lebih dulu memalingkan wajah mendengar penuturannya.

"Aku menolak."

"Sayang—"

"Aku menolak!" Baekhyun menaikkan volume suara. Lalu menatap Chanyeol dengan mata berkaca-kaca.

"Hei, hei, sstt.. sorry, I'm sorry." Chanyeol merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukan.

Sungguh, menangis adalah apa yang tidak sudi ia lihat di wajah cantik kekasihnya.

"Aku.. aku takut. Mereka bilang operasi itu terlalu beresiko."

"Aku tahu, tapi itu satu-satunya cara. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu."

Baekhyun menggeleng, membayangkan kemungkinan kecil kesembuhan dari prosedur bedah adalah apa yang membuatnya merasa ngeri.

Sebenarnya Baekhyun tidak mencoba untuk bersikap keras kepala. Hanya saja ia tengah merasakan kebahagiaan yang sebelumnya tidak pernah sekali pun singgah dalam hidupnya.

Ya. Mempunyai Park Chanyeol juga cinta yang pria itu limpahkan adalah apa yang membuat Baekhyun merasa takut kehilangan semua itu dalam sekejap oleh kemungkinan buruk yang tengah menanti.

"Aku tidak mau kehilnganmu." Cicit si mungil.

"Aku di sini. Apapun yang terjadi aku akan tetap tinggal." Chanyeol menarik diri lalu menangkup wajah kekasihnya. "Kau percaya padaku?"

Ditatapnya mata pria itu dengan lamat-lamat, dan memang benar, hanya ada kesungguhan di sana.

"Me-mereka bilang kemungkinan buruk adalah akibat dari operasi tersebut."

"Itu hanya kemungkinan, Tuhan yang berkehendak. Konyol memang seorang dokter sepertiku mengatakan hal ini, tapi bisakah sekali saja kita percaya dan menyerahkan segalanya kepada Tuhan? Aku yakin kau akan sembuh."

Baekhyun memainkan bola matanya dengan gusar, menimang beberapa opsi sulit memang kerap membuatnya merasa kesal. Namun keputusan adalah sebuah landasan bagi manusia untuk dapat melanjutkan hidup, bukan?

"Apa aku bisa sembuh?"

Chanyeol menghela pelan lalu mengangguk dengan yakin. "Kau akan sembuh."

Baekhyun mematung beberapa saat. "Segala hal tidak dilakukan secara cuma-cuma bukan?"

"Baik. Syaratnya?"

"Tetaplah bersamaku. Aku membutuhkanmu."

"Itu niatku sejak awal. Ada lagi?"

"Izinkan aku memakan tteokbeoki."

"Tent— huh?"

Baekhyun mengigit bibir bawah sebelum kemudian merengut kecil. "Aku ingin makan tteokbeoki."

"Err—" Chanyeol meringis kecil. "Itu sedikit.."

Rengutan Baekhyun semakin kentara, satu hal yang membuat Chanyeol berpikir bahwa selama ini wanita itu hanya berpura-pura bersikap anggun dan elegan. Chanyeol yakin wanita itu adalah jelmaan gadis berusia sepuluh tahun yang menyimpan beragam rengekan manja.

Dan jurus terakhir yang Baekhyun keluarkan adalah apa yang membuat Chanyeol menciumi pipinya dengan rasa gemas yang teramat sangat.

Puppy eyes Byun Baekhyun membuat Chanyeol sadar bahwa wanita itu mempunyai sisi jenaka yang berpotensi membuat siapapun merasa gemas. Dan kini ia tidak mempunyai daya untuk menolak keinginan kekasihnya tersebut.

"Dari mana kau belajar bertingkah menggemaskan seperti itu?"

~oOo~

Baekhyun berkata Chanyeol sedikit berlebihan dengan melakukan cuti kerja hanya untuk menemaninya menjalani perawatan intensif. Keduanya bahkan sempat terlibat perdebatan kecil meski hasilnya Chanyeol yang kalah.

Pria itu akhirnya membatalkan cuti kerja dan kembali melakukan aktifitas rutinnya sebagai seorang dokter.

Dan pagi itu Chanyeol dipercayakan untuk membimbing beberapa dokter magang lulusan terbaik universitas kodekteran untuk melakukan follow up pasien di setiap bangsal.

Aura profesionalitas yang melekat membuat Chanyeol cukup disegani dan dihormati. Pria berjas putih itu bahkan menjawab setiap pertanyaan dari mereka yang melakukan internship dengan lugas dan mengundang decak kagum.

Tidak hanya Chanyeol, ia juga ditemani oleh rekan dokter dari beberapa departemen untuk memberikan pembelajaran bagi mereka yang memutuskan untuk mengenakan jas kedokteran. Cikal bakal dokter muda berbakat.

Tentu bukan Park Chanyeol jika tidak mengundang perhatian dari lawan jenis. Dokter bedah terbaik Korea Selatan itu bahkan membuat beberapa dokter magang wanita sibuk mengabadikan ketampanannya melalui lensa mata. Bahkan salah satu dari mereka tidak segan untuk bertanya tanpa mengharapkan jawaban. Karena bepikir terlibat obrolan kecil dengan dokter tampan itu saja cukup membuatnya senang.

Dan sikap mereka yang begitu haus perhatian tak luput dari pengamatan sepasang mata memicing yang sedari mengikuti rombongan internship.

Mulanya, Sunbin merasa sangat senang karena ditunjuk untuk menemani salah satu dokter bedah terbaik yakni Park Chanyeol yang ia puja untuk melakukan bimbingan terhadap dokter magang. Namun kesenangannya terusik oleh mereka yang terus mencari perhatian Chanyeol.

Wanita itu cukup merasa geram dan tangannya yang terkepal adalah sebuah rencana untuk memberikan pelajaran bagi mereka yang berani menggoda calon suaminya.

Sunbin berpikir bahwa Chanyeol mungkin belum tahu siapa calon istri pengganti yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Namun bukankah semuanya sudah cukup jelas bahwa Sunbin menduduki tempat istimewa?

Dan tidak ada yang boleh mengusik posisinya.

Chanyeol tengah melakukan anamnesis pada pasien terakhir, lalu meneliti rekam medis dengan rombongan internship masih setia berdiri di belakangnya.

Dehaman dari suara baritone itu membuat setiap orang siaga. "Sampai di sini, saya serahkan kepada dokter.." Chanyeol menggantung ucapan untuk membaca name tag dari seorang dokter wanita dari departemen neurologi. "Dokter Lee?"

Sunbin terhenyak saat suara berat ia puja menyebut namanya. Dan rasa senangnya kembali membuncah.

"Ya, dokter?"

"Sisanya saya serahkan kepada anda." Tukas Chanyeol seraya menyerahkan rekam medis kepada Sunbin.

"B-baik dokter." Sahut Sunbin mati-matian menahan kegembiraannya.

Untuk pertama kali setelah beberapa tahun dilaluinya dengan mengagumi Chanyeol dalam diam. Akhirnya ia terlibat perbincangan dengan pria pujaannya tersebut.

Setiap orang menggeser posisi dan membiarkan Chanyeol berlalu.

Dan decak kagum masih menyelimuti.

"Dokter Park tampan sekali."

"Astaga, meskipun dia sangat dingin tapi dia memang tampan dan juga profesional."

"Aku sangat senang dibimbing oleh dokter bedah terbaik dan juga tampan. Apa dia sudah menikah?"

"Oh, jika sudah aku ingin merebutnya dari istrinya!"

Bisik-bisik kecil dari tiga orang dokter magang itu sampai pada gendang telinga Sunbin.

Apa? Merebutnya? Park Chanyeol adalah milikku, tidak akan kubiarkan siapapun atau kalian merebutnya dariku!

Rasa geram itu kembali membuat tangan Sunbin terkepal dengan erat.

Kalian memang harus kuberi pelajaran!

~oOo~

From: Kyungsoo

Ada hal penting yang ingin aku katakan. Kuharap kau bisa menyempatkan waktu untuk bertemu.

Sebaris pesan itu tak berbalas, karena setelahnya ada sebuah alamat yang tertera dalam pesan baru.

Tempat itu adalah yang biasa mereka gunakan untuk bertemu, dan kini Chanyeol berdiri di depan bangunan sebuah coffee shop tersebut setelah beberapa puluh menit lalu meminta izin kepada Baekhyun untuk keluar selama sejenak.

Karena Chanyeol tidak ingin bertingkah lebih brengsek lagi dengan tidak menuruti keinginan Kyungsoo untuk bertemu ketika wanita itu berkata ada hal penting yang ingin disampaikan.

"Ba-bagaimana keadaan Baekhyun?"

Kyungsoo menyembunyikan kegugupannya di balik bibir cangkir berisi kopi. Sesungguhnya ia sangat menyesali perbuatannya terhadap Baekhyun malam itu. Wanita itu merasa sangat bersalah karena meninggalkan Baekhyun yang telah menyelamatkan hidupnya.

Chanyeol bungkam beberapa saat hanya untuk memandang Kyungsoo dengan tatapan menghakimi. "Kyungsoo yang ku kenal tidak seperti itu bukan?"

Dan Kyungsoo memang pantas disalahkan.

"Aku tahu kau marah. Kau sakit hati karena ulahku, tapi haruskah kau membahayakan nyawa orang lain? Baekhyun sekarat malam itu dan aku yakin sesuatu telah terjadi di antara kalian malam itu. Benar?"

Kyungsoo semakin didera rasa bersalah. "Aku.. aku menyesal. Sungguh, maafkan aku. Aku hanya.. aku sangat marah kepadanya. Dia mengambil satu-satunya yang aku anggap berharga. Apa.. apa aku tidak layak marah untuk itu?"

Sesungguhnya Chanyeol yang lebih merasa bersalah. Melihat Kyungsoo mulai menangis, pria itu tahu sebesar apa luka yang telah ia torehkan. "Maukah kau mengampuniku?"

Kyungsoo menggeleng. "Aku tidak menghakimimu karena berubah. Aku sadar ada rasa yang bisa memudar. Aku tahu itu.. hanya saja, Chanyeol aku kehilangan banyak hal. Aku sangat kesulitan."

Tidak ada lagi yang bersuara, Chanyeol menghabiskan beberapa saat untuk rasa bersalahnya.

Tangis Kyungsoo mulai mereda. Kuatlah Kyungsoo.. kau sudah terbiasa dengan ketidakadilan bukan?

Lantas wanita itu berdeham kecil. "Aku meminta maaf atas sikap kekanakkanku dan membuat Baekhyun dalam kondisi yang buruk, untuk itu aku akan menebus keselahanku. Chanyeol, dengar.. karena ini akan sangat rumit."

Detak jarum jam menggiring satu cerita yang terlontar dari mulut Kyungsoo. Waktu yang terus berjalan melahirkan ragam ekspresi saat informasi demi informasi singgah di gendang telinga Chanyeol. Masa yang merambat mulai mengundang satu perasaan yang bermuara di satu titik.

Amarah.

Tangan Chanyeol telah terkepal erat di saat ia masih setia mendengarkan segala hal yang sulit diterima akal sehat. Melewati batas nalar hingga membuat Chanyeol berkali-kali mengusap wajahnya dengan kasar.

"Dan malam itu aku diculik oleh orang suruhan mereka. Lalu entah bagaimana Baekhyun menyelematkanku di saat mereka nyaris membunuhku. Demi Tuhan, Chanyeol.. Baekhyun tidak lagi mempunyai siapapun di dunia ini. Orang tua kandungnya telah lama dibunuh oleh orang yang saat ini mengaku-ngaku sebagai ayah dan ibunya. Mereka.. mereka sangat keji." Kyungsoo kembali menyesap kopinya dengan perasaan waswas.

Chanyeol telah lama kehilangan kosa kata. Ia sunguh sangat terkejut atas apa yang telah didengarnya. "Baekhyun kehilangan ingatannya."

"Sudah aku duga. Aku dengannya sering bertemu sejak kecil, orang tuanya adalah donatur tetap panti asuhan."

"Lantas siapa orang tuanya saat ini?"

"Dia adalah seorang ahjussi yang sering menemani Baekhyun saat orang tuanya sibuk dengan urusan pekerjaan. Seingatku istri dari ahjussi ini adalah asisten rumah tangga di mana Baekhyun dan orang tuanya tinggal."

"Bagaimana bisa? Di mana keluarganya yang lain."

"Tidak ada. Kurasa mereka tidak mempunyai kerabat lain. Maka dari itu ahjussi jahat itu memanfaatkan hal tersebut. Demi Tuhan mereka sangat jahat. Chanyeol, aku bahkan kini mengingat dengan jelas apa yang mereka lakukan kepada tuan dan nyonya Byun."

Chanyeol meraih tangan Kyungsoo dan menggenggamnya. "Kau.. kau baik-baik saja?"

Kyungsoo menggeleng. "Aku ketakutan. Mereka mengincarku saat ini. Karena aku satu-satunya saksi perbuatan keji mereka."

"Tinggal di apartemenku untuk sementara waktu."

"Tidak. Aku sudah tinggal bersama Jongin saat ini. Lagipula aku sudah mengenalnya sejak kecil." Kyungsoo mengeratkan genggaman tangan. "Aku benci mengatakan ini tapi, hanya kau yang bisa melindungi Baekhyun. Dibanding aku, dia jauh lebih mengkhawatirkan, karena mereka bisa saja melenyapkan Baekhyun jika ingatannya pulih. Untuk itu, jagalah wanita itu. Aku.. aku tidak apa-apa. Aku baik. Anggap saja ini ucapan terima kasihku kepada Baekhyun karena telah menyelamatkanku."

Chanyeol menunduk untuk rasa malu karena telah salah menilai Kyungsoo. Wanita itu masihlah sosok yang ia kenal selama empat tahun. Dia tidak berubah, Kyungsoo masih mempunyai hati yang tulus terlepas dari segala kesulitan yang Chanyeol beri kepadanya.

"Terima kasih, Kyungsoo. Dan maafkan aku."

"Kemarilah, berikan aku pelukan."

Kyungsoo bangkit lantas merentangkan tangan.

Dan dekapan itu untuk tangis kecil yang ia sembunyikan. Merelakan sesuatu yang berharga memang terasa sangat sulit dan menyakitkan, namun Kyungsoo mempunyai hati yang luas dan tidak menggugu egonya, demi kebahagiaan orang lain.

Mungkin Tuhan menghendaki semuanya seperti ini. Dia bukan jodohmu, Kyungsoo. Relakan. Tidak apa-apa.

~oOo~

Baekhyun setuju untuk kembali melanjutkan kemoterapi sebelum menjalani operasi bedah tumor otak setelah berdebat dengan kemelut dalam diri.

Dan nyatanya peran Chanyeol benar-benar mempengaruhi. Bujukan pria itu berhasil dan kini Baekhyun menyerahkan segala hal dan bergantung kepada prianya.

Baekhyun mengabaikan efek dari kemoterapi yang sempat ia jalani beberapa saat lalu dan percaya bahwa semua akan baik-baik saja.

Dia mempunyai Chanyeol bukan?

Tentu, dia mempunyai pria yang setia menemaninya menjalani kesulitan sejak saat kemoterapi itu kembali dilakukan.

"Tidak apa-apa, aku di sini."

Kalimat itu tidak pernah absen dirapalkan oleh Chanyeol saat efek dari metode penghancuran sel kanker mendera kekasihnya.

Zat penghancur parasit yang masuk melalui pembuluh darah itu merenggut rona di wajah mungilnya yang cantik, rambutnya telah lama mengalami kerontokan, mual serta muntah menyertai setiap waktu, dan penderitaan itu bertambah lengkap saat tubuh kurusnya memggeliat dalam kesakitan.

"Kau kuat. Byun Baekhyunku kuat." Adalah dekap erat yang membuat segala kesulitan sedikit berkurang.

Di balik baju pasien bercorak khas, untuk ke sekian kalinya sosok ringkih itu terbujur di atas sinar radiasi.

Ada yang mengulas cemas di balik kaca pembatas, karena Chanyeol tahu bahwa radioterapidilakukan dalam dosis tinggi yang tidak hanya mematikan sel kanker namun juga merusak sel-sel normal.

Dan efek dari sinar radiasi dua kali lebih cepat muncul, maka ketika Baekhyun menunjukan gejala-gejala tak asing maka Chanyeol dengan setiap mendampinginya.

"Perutku mual."

Kalimat itu telontar sebelum kemudian Baekhyun mengeluarkan isi perutnya.

"Itu biasa. Jangan terlalu dipikirkan." Chanyeol dengan telaten membantu si mungil membersihkan diri.

"Aku lemas. Aku.." Suaranya lemah dan kalimatnya menggantung. "Tubuhku sakit. Sakit sekali."

Chanyeol mengangguk kecil sebelum kemudian menatap nalar kekasihnya. "Kau bisa. Tak apa, jangan memaksakan diri. Pelan-pelan saja." Tukasnya sereya menepuk punggung Baekhyun yang mana wanita itu sendiri tengah memuntahkan kembali isi perut.

"Maaf karena aku terlalu banyak mengeluh."

Baekhyun jelas merasa bersalah karena setelah melewati beberapa hari dengan rangkaian prosedur kemoterapi yang ditemani oleh Chanyeol, wanita itu merasa telah banyak mengeluhkan segala sesuatu kepada prianya.

"Mengeluh bahkan terdengar sangat wajar." Chanyeol tersenyum kecil, berharap segurat ketulusan yang ia ulas tersebut mampu membuat Baekhyun terhibur.

Setelah membantu Baekhyun merebahkan diri di atas brangkar, Chanyeol lantas menemani sang kekasih di sampingnya.

"Bagaimana pekerjaanmu?" Suara itu semakin parau saat menemukan rasa kantuk.

"Aku cuti dari jadwal operasi. Hanya melakukan follow up pasien dan beberapa konsultasi."

Mata mengantuk Baekhyun menatap Chanyeol sedikit lebih lama.

"Ada apa?"

Dan suara berat kekasihnya seperti sebuah pengantar tidur.

"Maaf karena menghambatmu dalam segala hal."

"Sstt.." Chanyeol menggeleng. "Jangan mecemaskan apapun. Aku masih sanggup mengatasinya. Berhenti merasa buruk."

Baekhyun mengerjap berkali-kali. "Sebenarnya sejak tadi siang penglihatanku mulai kembali kacau, begitu pun pendengaranku."

"Apa itu sebabnya kau memintaku mengulang ucapanku berkali-kali sejak tadi siang?"

"Oh.." Baekhyun menggeleng pelan. Lantas memejamkan matanya dengan erat. "Kepalaku.."

"Baby?" Chanyeol bangkit lalu mendekatkan diri kepada Baekhyun.

Setelahnya ada rintihan keras yang keluar dari mulut Baekhyun. "Kepalaku sakit!"

"Tidak. Tidak. Jangan meremas kepalamu." Chanyeol berseru seraya menghalangi tindakan berbahaya Baekhyun.

Wanita itu tidak menemukan pegangan yang cukup kuat untuk melarikan rasa sakit yang mendera isi kepala. Namun bahu lebar Chanyeol adalah sebuah penyelamat. Dipeluknya pria itu dengan erat seraya berharap Tuhan meredakan sakit luar biasa yang mendera..

"Kau bisa. Peluk aku, sayang. Peluk aku." Chanyeol menguatkan seraya merengkuh tubuh kurus itu dengan erat.

"Sakit! Kepalaku akhh!"

Perih menjalar memenuhi rongga hati saat kekasihnya menggeliat kesakitan di dalam pelukannya. Chanyeol tidak sanggup menahan kesedihan dan kemudian satu tetes cairan bening lolos dari pelupuk.

Pelukan penenang itu berlangsung lama, Chanyeol tidak henti-henti menguatkan Baekhyun di samping perasaan sedih yang teramat sangat menyaksikan kekasihnya tak berdaya.

Rintihan itu mulai jarang, cengkraman di bahu tidak sekuat saat wanitanya melarikan rasa sakit, tangisnya telah lama senyap, dan napasnya telah terdengar teratur.

"Aku di sini, aku tidak akan membiarakanmu kesakitan seorang diri." Bisik Chanyeol seolah wanita yang kini terlelap dalam pelukannya mampu mendengar. "Aku mencintaimu.. maka dari itu kuatlah."

Chanyeol memejamkan matanya dengan erat, tak sanggup membayangkan selama ini Baekhyun melalui kesakitannya seorang diri.

Kemudian perasaan marah kembali mencuat.

Chanyeol kerap mendapati dirinya dicap sebagai sosok yang acuh terhadap siapapun. Katanya, ia bahkan tidak lebih dari sosok kaku robot yang terpendam dalam raga seorang pria dewasa. Meski tidak sepenuhnya salah, namun mereka melewatkan satu hal.

Park Chanyeol juga manusia. Dia mempunyai insting sebagai sosok yang harus melindungi orang yang dikasihi.

Tangan kekar itu terkepal erat mengingat segala hal buruk yang terjadi kepada Baekhyun saat ini juga di masa lalu.

Aku tidak akan mengampuni mereka.

Byun Baekhyun, aku berjanji akan membalas perbuatan keji yang telah mereka lakukan terhadapmu.

~oOo~

"Kalian jalang menjijikan! Park Chanyeol adalah milikku!"

"Ampuni kami, dokter Lee. Kami mohon."

Tiga orang wanita itu masih berlutut di sebuah ruangan gelap sebuah gudang tak terpakai yang sedikit jauh dari pemukiman. Mereka dalam keadaan tak berbusana, dan masih setia memohon ampun pada Sunbin yang sedari tadi menyiksa ketiganya dengan cairan kimia berbahaya.

"Tidak ada yang boleh merebutnya dariku!" Sunbin berteriak seperti kehilangan kewarasan.

"Biarku tunjukan pada kalian bahwa tidak ada yang lebih pantas untuknya selain diriku!"

"Kami meminta ampun, tolong dokter Lee. Kami salah, kami tidak bermaksud seperti itu." Salah satu ketiga wanita itu terus merapalkan permohonan, mengabaikan rasa sakit dari luka di beberapa wajah akibat perbuatan Sunbin.

Yang lainnya menjerit histeris saat Sunbin kembali menumpahkah cairan kimia itu di atas permukaan kulit tangan.

Mereka tak berdaya karena dalam keadaan terikat mengenaskan.

"Tidak ada ampun untuk kalian semua! Aku akan memberikan pelajaran setimpal karena telah berani menggoda calon suamiku!" Suara Sunbin semakin mengeras, sementara itu ia kembali menumpahkan cairan berbahaya pada ketiga wanita yang dianggapnya berpotensi mencuri perhatian Chanyeol.

Wanita itu tertawa mendapati mereka semua menjerit kesakitan. Ia menikmati saat kulit para wanita itu terbakar dan mengelupas. "Kalian harus sadar diri! Kalian hanya wanita-wanita berwajah buruk dan jelek!"

Gelak tawa Sunbin semakin renyah saat satu persatu dari ketiga wanita yang ia sekap dan seret di tempat itu mulai kehilangan kesadaran.

"Aku bisa melakukan apapun untuk mempertahankan milikku, termasuk melenyapkan kalian semua." Tukasnya dengan tawa jahat yang membahana.

-oOo-

Ketiga mayat perempuan dengan kondisi terbakar mengenaskan itu diduga sebagai dokter magang dari salah satu rumah sakit terkemuka di Korea selatan, kini mereka telah di bawa ke pusat forensik untuk ditindak lebih lanjut.

Petugas berwajib telah memasang garis polisi untuk selanjutnya membiarkan tim detektif mengolah tempat kejadian perkara.

Suara dari salah satu pembawa acara berita tersebut memenuhi seisi kafe pagi itu.

Banyak dari mereka yang meringis ngeri pada peristiwa naas yang terjadi pada ketiga perempuan malang itu.

Terkecuali seorang wanita yang duduk di sudut kafe.

Sunbin menyesap kopinya dengan gerak anggun, lantas ada seringai sinis yang mengemuka di balik bibir cangkir.

TBC

An:

Uwuuu :v

Jangan iri sama B ya, dia mh cantik wajar cy tergila-gila. Lah kita mh apa atuh :"

Sunbin? Yes, she's definitely dangerous!

Kyungsoo? Udah capek ah bikin dia jadi jahat mulu di sini aku bikin jadi sebaik ibu peri. Uwuu :*

Jangan bilang ini kependekan ya, I've been working so hard untuk nulis chapter ini, so please

Sampai bertemu di next chapter!

Sampischu! :*