20 vs 50
Genre: Romace, Drama, Hurt/Comfort
Rating: T
Lenght: Chapter
Main Cast:
Lu Han
Se Hun
Pairing: Hunhan, Taoris, Chanbaek, Kaisoo, Sulay, slight Hunlay
Warning: Genderswitch,Ooc,Typos,geje,ect
Desclaimer:
Fanfic ini adalah karya asli saya, muncul dari otak saya berdasarkan pengalaman pribadi saya. Saya hanya meminjam nama member EXO dan beberapa karakter serta orang terdekat mereka. Sepenuhnya mereka adalah milik Tuhan YME.
NO BASH, NO FLAME, NO PLAGIAT
Summary:
Luhan yeoja cantik berusia 20 tahun jatuh cinta pada Oh Sehun yang usianya hanya 4 tahun lebih muda dari appanya. Mungkinkah cinta Luhan pada Sehun akan berbuah manis?
.
.
.
Annyeong...
Chapter 5 part 2 datang...
Terimakasih buat reader yang udah baca terutama yang review.
Terimakasih atas saran dan masukan yang diberikan.
Saya percepat jadwal updatenya karena dongsaeng kesayangan saya merengek minta segera diupdate.
Chapter ini akan menjelaskan hal-hal yang dilakukan Luhan di chapter sebelumnya. Jadi chapter ini akan diisi oleh luhan pov.
Oke sekian dari saya...selamat membaca^_^
Jangan lupa review ya...
- I let u go, if it better for u – WYF ur in my heart forever...
.
.
.
Previous Chapter
Aku bisa mendengar suara Jong In, tapi tidak sanggup untuk menjawabnya. Ku rasa iphone yang ku genggam sekarang terlepas dan jatuh. Perlahan rasa sakit itu menghilang bersamaan dengan kesadaran yang mulai menjauhi tubuhku.
"Gelap!"
.
.
.
HanPutri Present©
20 vs 50
Chapter 5 Part 2
.
.
.
LUHAN POV
Sesuai janji Yi Jeong, kami hari ini akan jalan-jalan ke Lotte World. Aku menunggunya di halte yang tidak jauh dari rumah. Lebih dari seminggu ini Yi Jeong mengantarku ke kantor. Awalnya aku menolak karena takut merepotkannya. Tapi karena dia memaksa akhirnya aku mengiyakannya. Kebetulan dia juga sering ada urusan di OH Corp mengingat kerja sama perusahaan. Sebenarnya aku sendiri juga masih bingung dengan kedekatan kami. Aku dan Yi Jeong baru berkenalan saat kami ada di Jeju. Aku tahu kalau dia menyukaiku. Dia juga sudah mengatakannya padaku.
.
FLASHBACK ON
Jeju Island
A Week Before
"Begitukah mau mu?" tanya presdir Oh. Aku tidak menjawabnya, aku hanya menunduk untuk menyembunyikan air mataku yang mulai deras.
"BRAKK!"
Aku terkejut karena presdir Oh tiba-tiba membanting pintu terlampau keras. Presdir Oh keluar kamar begitu saja.
Sepeninggalan presdir Oh tangisku semakin menjadi. Rasanya sangat sakit sekali. Ada perasaan senang tapi langsung berubah jadi pedih begitu sadar bila rasa itu hanya semu semata.
Hampir satu jam aku menangis di dalam kamar presdir Oh. Setelah lelah menangis aku memutuskan untuk pergi dari kamar presdir.
.
Siang ini kami akan kembali ke Seoul karena pekerjaan kami telah beres semua. Sejak insiden tadi pagi aku sama sekali belum bertemu dengan presdir Oh. Untuk menghilangkan kebosanan aku memutuskan jalan-jalan di sekitar hotel. Sebenarnya ada sedikit trauma saat berada di kawasan kolam renang, ya karena insiden tenggelam kemarin. Tapi karena di situ ada tempat duduk maka aku memutuskan untuk duduk di sana.
"Luhan-ah~" aku menoleh pada sumber suara yang memanggilku barusan. Tampak Yi Jeong dengan senyum menawannya datang menghampiriku.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini, Lu?" tanyanya. Dia duduk di sebelahku.
"Duduk" jawabku singkat.
"Aigoo~ kenapa kamu jadi acuh begini, Lu? apa moodmu buruk hari ini?" tanyanya masih dengan senyum tadi. Dia tidak marah saat aku tanpa sengaja mengacuhkannya.
"Ne" jawabku pelan. Dia merogoh saku celananya, seperti mencari sesuatu.
"Ige?" dia menyodorkan sebuah lolipop padaku.
"Untukku?" tanyaku memastikan.
"Ne, untuk siapa lagi kalau bukan kamu" jawabnya.
"Gamsahamnida" jawabku. Kami terdiam, berkutat dengan pikiran kami masing-masing.
"Ehem" dehem Yi Jeong. Aku menoleh padanya.
"Luhan, aku ingin mengatakan sesuatu padamu" katanya.
"Apa yang ingin Yi Jeong-ssi katakan?" tanyaku.
"Ah, kamu tidak perlu seformal itu padaku. Kita seperti orang asing saja. Panggil saja aku oppa" katanya. Aku hanya diam, tak menjawabnya. Dia juga diam sejenak.
"Aku ingin kita lebih akrab lagi. Aku ingin kita lebih dekat lagi" katanya sambil menatap kolam renang.
"Aku tahu kita baru saja kenal. Tapi sejak pertama kita berjumpa, aku sudah tertarik padamu" katanya. Kini dia menatapku.
"Luhan, aku bukanlah orang yang betah berlama-lama memendam perasaan. Mungkin ini terlalu cepat tapi sungguh aku menyukaimu" katanya mantap. Aku terperanjat mendengar ucapannya barusan.
"A-apa maksud..."
"Aku ingin kamu menjadi kekasihku" tukasnya. Sebenarnya aku bisa menebak jalan pembicaraan ini, tapi tetap saja rasa terkejut itu muncul.
"Mian, tapi aku tidak..."
"Jangan menolakku. Maksudku jangan menjawabnya sekarang. Aku tahu kita belum saling mengenal. Aku hanya ingin mengungkapkannya padamu. Aku sadar perasaan yang ku rasakan ini belum tentu ada padamu. Karena itu izinkan aku untuk membuktian kesungguhanku" terangnya. Aku semakin terbengong mendengar penuturannya.
"Apa kamu punya kekasih, Lu?" tanyanya. Aku hanya menggeleng sebagai jawabannya.
"Apa ada orang yang kamu sukai?" tanyanya lagi. Lidahku tiba-tiba kelu untuk menjawab pertanyaan barusan.
"Kalau kamu diam berarti ada" kata Yi Jeong.
"Ne. Ada orang yang ku sukai. Dia tahu perasaanku tapi dia menolakku" kataku akhirnya.
"MWO? Dia menolakmu?" pekik Yi Jeong tak percaya. Aku menjawab dengan anggukan.
"Wae?" tanyanya.
"Molla" jawabku singkat. Kami terdiam setelah itu.
"Oppa, gamsahamnida, ne" kataku sambil menatapnya. Dia tersenyum.
"Tidak perlu berterimakasih" balasnya.
"Apa kamu akan berangkat ke Seoul siang ini?" tanya Yi Jeong.
"Ne. Setengah jam lagi kami berangkat" jawabku.
"Sudah berkemas?" tanyanya lagi.
"Sudah" jawabku.
"Mian karena tidak bisa mengantarmu sampai bandara. Penerbanganku ke Seoul masih nanti malam" kata Yi Jeong.
"Tak apa" kataku.
.
Airport of Jeju Island
"Baiklah, kita berpisah di sini. Pesawat tujuan Jepang ternyata berangkat lebih dulu" kata CEO Song.
"Oke, hati-hati, ne. Tolong sampaikan salamku untuk putri anda di sana" kata tuan Kim.
"Baik tuan Kim" balas CEO Song dengan senyum menghiasi wajahnya.
"Selamat jalan CEO Song" kata presdir Oh datar.
"Semoga penerbangan anda lancar" tambahku.
"Ne. Gamsahamnida"jawab CEO Song. Ia berjalan meninggalkan kami. Tapi tiba-tiba dia berbalik.
"CUP"
Oke, pemandangan yang tersaji di hadapanku adalah hal yang tidak menyenangkan. Mataku membulat sempurna ketika melihatnya. Bagaimana tidak? CEO Song mencium bibir presdir Oh tepat di hadapanku. CEO Song juga membisikkan sesuatu pada presdir Oh.
"CEO SONG! TOLONG PERTIMBANGKAN LAMARAN OH SEHUN YANG MALAM ITU! Teriak tuan Kim pada CEO Song yang dibalas dengan acungan ibu jari olehnya.
Hatiku rasanya pecah menjadi berkeping-keping bak piring yang terjatuh dan pecahannya berserakan tak berbentuk lagi.
.
LUHAN POV
"Aku pulang" kataku saat masuk rumah.
"Selamat datang, Lu" sambut Baek eonni.
"Oppa di mana eonni?" tanyaku karena tidak menemukan sosok Chanyeol oppa.
"Ah, dia ada kunjungan kerja ke Taiwan, Lu" jawab Baek eonni.
"Jinnja?" tanyaku.
"Ne. Bagaiamna penerbanganmu?" tanya Baek eonni.
"Baik. Aku mandi dulu eon" kataku pada Baek eonni.
Sore begini memang paling enak berendam air panas. Apalagi pikiranku sedang kacau. Setidaknya dengan berendam bisa membuatku lebih tenang.
"Aigoo~ nyamannya~" kataku saat merasakan air hangat yang merendam tubuhku.
"Drrrrtttttt"
Ponsel yang ku letakkan di dekat bathtub bergetar. Dengan sedikit malas aku mengambil ponsel itu.
From: SYJ
"Apa kamu sudah sampai rumah, Lu?"
Ah, ternyata Yi Jeong yang mengirimkan SMS padaku. Dia perhatian sekali.
To: SYJ
"Aku sudah sampai rumah, oppa"
Selesai mengirim pesan balasan untuk Yi Jeong, ponsel tadi ku kembalikan pada tempat semula. Tapi tiba-tiba ponselku malah berdering.
"Yeoboseyo" kataku.
"Yeoboseyo, Lu. bagaimana penerbangnmu?" tanya namja di seberang, Yi Jeong.
"Baik, oppa. Gomawo" balasku.
"Kamu sekarang apa?" tanyanya lagi.
"Ah, aku sedang tiduran oppa" dustaku. Mana mungkin aku mengatakan kalau sekarang sedang berendam di dalam bathtub.
"Hmm, Lu" panggilnya.
"Ne, oppa" balasku.
"Biasanya kamu berangkat ke kantor jam berapa?" tanya Yi Jeong.
"Ah, biasanya aku menunggu bus di halte dekat rumah jam tujuh, oppa" jawabku.
"Okey, mulai besok kamu berangkat ke kantor bersamaku" katanya.
"Ne?" aku belum bisa mencerna ucapannya barusan.
"Besok aku akan menjemputmu di halte tempatmu biasa menunggu bus" terangnya.
"Oppa tidak perlu repot-repot mengantarku ke kantor. Aku bisa berangkat sendiri" tolakku.
"Aku tidak merasa direpotkan kok. Aku juga tidak mau mendengar penolakan darimu" balasnya masih bersikeras mau mengantarku.
"Tapi, oppa..."
"Tidak ada penolakan, Lu" kata Yi Jeong.
Akhirnya karena Yi Jeong terus memaksa aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku memberi tahu Yi Jeong tempat halte dekat rumah. Aku tidak ingin dia tahu alamat rumahku, jadi halte saja sudah cukup.
.
"Makanlah, Lu. Setelah itu istirahatlah. Eonni tahu kamu pasti lelah" kata Baek eonni sambil menata piring di meja makan.
"Ne, eonni. Gomawo" balasku.
Aku dan Baekhyun eonni makan malam dengan khitmat. Baisanya kalau ada oppa makan malam kami pasti ribut. Tapi kalau tidak ada dia sepi juga rasanya.
"Eon, apa aku boleh tanya sesuatu?" tanyaku pada Baek eonni.
"Tanya apa?" balasnya.
"Ehem. Kalau ada dua orang namja yang eonni kenal, lalu salah satu dari mereka menyukaimu dan yang satunya eonni sukai, apa yang akan eonni lakukan?" tanyaku.
"Aigoo~ kenapa pertanyaannya seperti itu?" eonni terkekeh mendengar pertanyaanku. Aku menatapnya sebal.
"Aku serius eonni. Eonni jawab saja" kataku.
"Yang mana ya? Kalau memilih keduanya berarti eonni serakah. Kalau tidak memilih eonni merugi. Jadi eonni harus memilih salah satu di antara mereka" kata Baekhyun eonni.
"Lalu mana yang akan eonni pilih?" tanyaku.
"Yang menyukai eonni" jawab Baekhyun eonni.
"Mwo? Waeyo?" tanyaku.
"Perasaan yeoja itu mudah berubah, Lu. Awalnya memang tidak ada rasa apa-apa. Tapi lambat laun perasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya. Namja itu pasti akan berusaha membuat kita juga menyukainya. Tapi beda lagi kalau kedua namja itu sama-sama menyukai eonni. Eonni harus memilih diantara keduanya dengan bijak. Akan lebih baik kalau dia menyukai eonni dan eonni juga menyukainya" terang Baekhyun eonni.
Aku termenung mendengar jawaban Baekhyun eonni. Apa ini artinya aku harus memilih Yi Jeong? Dia yang terang-terangan menyukaiku. Sedangkan presdir Oh terang-terangan menolakku, meskipun aku menyukainya.
.
OH Corp
Aku berjalan menuju lift yang ada di dekat pintu resepsionis. Seperti biasanya banyak pasang mata yang melihat ke arahku. Pagi ini aku bisa berangkat lebih santai karena Yi Jeong mengantarku. Aku bahkan masih bisa membeli kopi di coffee bean di dekat kantor.
.
Hampir seminggu Yi Jeong mengantarkanku. Dia juga sering datang ke OH Corp karena urusan bisnis. Tapi dia lebih sering datang karena ingin menemuiku. Sejak tahu aku dekat dengan putra CEO Seo itu, namja-namja yang biasanya mengejarku perlahan mundur dengan sendirinya.
From: SYJ
"Mau makan siang bersama? Aku tahu tempat steak yang enak lho~"
Begitulah isi sms Yi Jeong. Aku tidak punya alasan untuk menolaknya mengingat aku juga sedang kelaparan.
Tak berapa lama Yi Jeong muncul di hadapanku. Kami berjalan menuju lift yang dekat dengan ruanganku. Tapi sayangnya lift itu sedang dalam perbaikan. Padahal tadi pagi masih bisa digunakan. Dengan terpaksa kami mencari lift lain.
Aku dan Yi Jeong menemukan lift lain. Kami sudah berada di dalamnya. Belum sempat pintu lift itu tertutup ternyata ada orang yang mau masuk juga. Aku sedikit terkejut saat menyadari kalau orang yang mau masuk lift ternyata presdir Oh dan CEO Song.
"Annyeong Luhan. Aigoo...kamu sekarang dengan tuan muda Seo, ne?" suara CEO Song langsung memenuhi seluruh penjuru lift yang hanya berisi kami berempat.
"Ne, annyeong CEO Song" balasku dengan senyum manis.
"Selamat siang presdir Oh" kini giliran Yi Jeong yang menyapa presdir Oh.
"Apa kalian keluar untuk makan siang?" tanya CEO Song.
"Ne. Pekerjaan hari ini menguras isi perut kami CEO Song" jawab Yi Jeong.
"DEG"
Tanpa sengaja mataku dan Presdir Oh bertemu.
"TING!"
Akhirnya pintu lift itu terbuka. Kami keluar bersama-sama. Tapi presdir Oh dan CEO Song berjalan menuju parkiran yang ada di lantai dasar. Sedangkan aku dan Yi Jeong menuju parkiran depan karena mobil Yi Jeong di sana.
.
Moo Steak Resto
Akhirnya aku dan Yi Jeong sampai di resto langganan Yi Jeong. Suasananya cukup ramai. Tapi syukur kami masih dapat tempat. Banyak anak muda seusia kami yang makan di tempat ini.
Beberapa saat setelah kami duduk, seorang pelayan menghampiri kami. Aku menyerahkan menu makan siang kami pada Yi Jeong karena tidak tahu makanan yang enak di sini apa.
Selama menunggu makanan datang Yi Jeong menceritakan bisnis yang diam-diam ia geluti tanpa sepengetahuan appanya, CEO Seo. Dia juga menceritakan hal-hal lucu saat liburannya ke Jepang akhir tahun lalu. Yi Jeong memang memiliki selera humor yang bagus.
Tak berapa lama makanan yang kami pesan datang, Steak with orange sauce. Aku mengiris steaknya kecil-kecil agar mudah dimakan. Belum selesai acaraku mengiris steak tadi, Yi Jeong malah menyodorkan sepotong steak padaku.
"Ige" katanya dengan senyum manis. Melihat senyumnya aku jadi tidak bisa menolak.
"Mashita" kataku saat steak itu memenuhi indera pengecapku. Entah sejak kapan aku merasa sudut bibirku terangkat.
"Apa kegiatanmu setelah ini?" tanya Yi Jeong.
"Ada meeting dengan tuan Jung" jawabku sebelum memasukkan daging ke mulut.
"Ah, kalau begitu kita segera saja kembali. Aku yakin banyak yang harus kamu siapkan" kata Yi Jeong pengertian.
Setelah selesai kami langsung kembali ke kantor seperti yang dikatakan Yi Jeong tadi.
.
OH Corp
Sesampainya di kantor ternyata presdir belum datang. Jadi aku memutuskan untuk menyiapkan dokumen meeting nanti.
"Selamat siang sajangnim" sapaku saat melihat presdir datang.
"Siang" jawab presdir singkat.
"Segera siapkan dokumen untuk meeting dengan tuan Jung" titahnya padaku sebelum masuk ruangannya sendiri.
"Ne, sajangnim" jawabku patuh.
Tak berapa lama dokumen itu telah siap. Saatnya memberitahu presdir.
"Tok tok tok"
"Masuk" balas presdir dari dalam.
"Dokumen untuk meeting dengan tuan Jung sudah siap, sajangnim" kataku.
"Baiklah. Kajja!" presdir menghampiriku yang berdiri di dekat pintu.
Seperti biasa aku mengikuti presdir dari belakang. Kurasa langkah kaki presdir terlalu panjang. Jadinya aku yang ada di belakangnya kesusahan untuk mengimbangi langkahnya.
"Kenapa jalanmu jadi lelet begitu?" kata presdir begitu kami ada di dalam lift.
"Mianhamnida" cicitku sambil menundukkan kepala.
.
Begitu meeting usai pukul lima sore, aku langsung bergegas menuju parkiran depan karena Yi Jeong sudah menungguku. Tanpa sengaja aku melihat presdir. Aku menatapnya.
"Tidakkah kau cemburu melihatku begini, presdir? Atau aku memang harus melupakanmu?" batinku
Akhirnya presdir yang memutuskan kontak mata di antara kami.
.
OH Corp
Hari ini jadwalku penuh dengan meeting. Ini berarti laporan yang harus ku buat juga banyak.
"Setelah ini jadwalku sudah selesaikan?" tanya presdir padaku.
"Ne, sajangnim. Pertemuan dengan klien dari Jerman sore ini adalah jadwal terakhir anda untuk hari ini" jawabku.
"Catat semua hal penting dalam meeting ini, lalu buat rekapannya. Aku ingin rekapan itu sudah ada di mejaku Senin pagi sebelum aku berangkat ke Busan" titahnya.
"Baik sajangnim" jawabku.
Aku kembali mengecek ponselku yang dari tadi mati.
"Ada apa dengan hand phonemu?" tanya presdir.
"Kelihatannya rusak sajangnim. Dari tadi tidak mau menyala" jawabku masih terfokus pada ponselku.
.
Meeting hari ini usai. Durasinya cukup panjang, membuatku harus menahan diri untuk ke kamar mandi. Ku rasa kandung kemihku sudah penuh dan minta dikelurkan isinya.
"Sajangnim, saya ke kamar mandi dulu" izinku pada presdir sebelum ke kamar mandi. Setelah itu aku kembali ke ruanganku. Aku terkejut saat mendapati selembar kertas yang ada di atas mejaku.
"Minggu, jam 8 pagi, Lotte World. Ku jemput di tempat biasa ^_^ SYJ"begitulah tulisan di kertas itu. Aku tersenyum membacanya.
FLASHBACK OFF
.
LUHAN POV
"TIN TIN"
Aku menoleh pada sumber suara itu. Ternyata Yi Jeong sudah ada di hadapanku.
"Siap?" tanyanya sambil tersenyum.
"Ne" jawabku antusias.
.
LOTTE WORLD
LUHAN POV
Akhirnya kami sampai di Lotte World. Cuaca hari ini cerah tanpa awan. Kami mengantri sebelum masuk ke dalam.
Aku sangat senang diajak ke tempat seperti ini. Jiwa mudaku, maksudku jiwa anak-anakku kembali bangkit. Aku menunjuk banyak wahana yang ingin ku naiki. Yi Jeong dengan sabar menuruti kemauanku.
Aku melihat sesuatu yang menarik dan aku ingin itu. Yi Jeong mengikuti arah pandanganku.
"Bubble tea?" tanyanya. Aku hanya mengangguk.
"Ah, bubble tea"
"Kau mau?"
"Apa anda akan membelikannya?"
"Kalau kau mau"
Aku jadi teringat liburanku dan presdir di Maccau beberapa bulan yang lalu.
"Ah, kenapa harus mengingat presdir di saat seperti ini?" batinku. Aku mencoba mengalihakan pikiranku.
Aku menarik tangan Yi Jeong ke kedai bubble tea tadi. Dengan ikhlas Yi Jeong membelikannya untukku.
"Ya! Minum punyamu sendiri tuan Seo!" aku menatapnya sebal karena dia menggodaku.
Hari semakin siang dan pengunjung semakin banyak yang berdatangan.
"Eh?"
Yi Jeong merangkul pundakku setelah sebelumnya dia memasangkan topi miliknya pada kepalaku. Dia benar-benar perhatian padaku.
Moodku benar-benar baik hari ini, secerah cuaca hari ini. Setelah lelah berjalan, aku dan Yi Jeong memutuskan untuk membeli makanan di food court. Kami juga beristirahat di tempat itu.
Setengah jam kemudian kami berjalan lagi. Aku ingin mencoba semua wahana yang ada. Tak bisa terelakkan kalau senyum ceria selalu menghiasi wajahku. Sesekali Yi Jeong terlihat membuat lelucon yang sukses membuatku terpingkal. Yi Jeong juga tidak cangung untuk meraih tanganku dan menggandengnya mesra. Aku merasa ada wajahku agak memanas.
Hari sudah menjelang sore, semburat kemerahan di langit juga mulai tampak. Kami bersiap untuk keluar dari Lotte World.
Tapi tiba-tiba aku melihat ada penjual permen kapas. Aku meminta Yi Jeong untuk membelikannya. Tentunya dia tidak menolak permintaanku.
.
"Lu, kita pergi ke sungai Han, ne?" kata Yi Jeong saat kami sampai parkiran. Aku hanya mengiyakannya.
Setelah kami sampai di sungai Han, Yi Jeong mulai mengungkapkan isi hatinya lagi. Oh, ini membuatku bingung harus bagaimana.
"Apa kamu mulai ada rasa padaku, Lu?" tanyanya.
"Mian, aku tidak tahu yang ku rasakan padamu ini sama atau tidak dengan apa yang kamu rasakan. Tapi aku merasa nyaman denganmu oppa" balasku.
"Apa kamu mau mencoba tawaranku dulu?" tanyanya lagi. Aku tidak bisa menjawabnya. Akhirnya kami diam cukup lama. Sekarang bahkan sudah petang. Matahari sudah tenggelam beberapa saat yang lalu dan lampu-lampu mulai menyinari kota.
"DEG"
Aku merasa Yi Jeong menarik tanganku dan wajahnya berjarak cukup dekat denganku.
"CUP"
Okey, aku merasa ada benda lembut yang menyapa bibirku. Otakku serasa berhenti bekerja. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Bayangan percakapanku dengan Baek eonni memenuhi kepalaku.
"Yang mana ya? Kalau memilih keduanya berarti eonni serakah. Kalau tidak memilih eonni merugi. Jadi eonni harus memilih salah satu di antara mereka"
"Lalu mana yang akan eonni pilih?"
"Yang menyukai eonni"
"Yi Jeong"
"Apakah dengan membalas ciumanmu berarti aku telah memberikan harapan padamu, meski hanya semu?"
Perlahan aku mulai membalas ciumannya. Lenganku bahkan sudah bergelantung indah di lehernya.
"Adakah harapan untukku melupakannya kalau aku bersamamu?"
"Kalau ada, dengan senang hati aku akan menerimamu"
TBC
Bagaimana?
Buat next chapter review, ne ^_^
Gamsahamnida
HanPutri
