THE SEX GOD

Chapter 10

Cast : Kai

Sehun ( GS )

Tao

Baekhyun ( GS )

Chanyeol

Kyungsoo ( GS )

Rated : M

GAK SUKA GAK USAH DIBACA... SIMPLE KAN, GAK USAH DIBIKIN REPOT, DARIPADA BIKIN CAPEK HATI.

Cerita sebelumnya

" Uh – oh. Kau menunjukkan sisi manismu lagi. " Kai tersenyum mendengar kepedulian Sehun padanya.

" Beraninya kau mengatakan hal semacam itu. Aku adalah perempuan berengsek yang menyebalkan. " Sehun menyeringai mengatakan hal itu.

" Dan, kau membenci apapun yang kulakukan padamu. " Kata Kai dengan seringai yang sama terlihat di mulutnya.

" Ya, aku membencinya, " Sehun menyetujui sambil tertawa.

Napas Kai berhembus di telinga Sehun, diikuti dengan lidah Kai yang menjilat telinga Sehun. Tangannya menyentuh rambut Sehun, membuat Sehun gemetar karena sentuhan itu.

" Seperti kau membenciku, " Kata Kai berbisik di telinga Sehun.

Sehun tidak bisa memberikan kata kata yang diinginkan Kai. Jadi, ia memberikan ini sebagai alasan. " Ya, aku sangat membencimu. " Bisik Sehun.

" Bagus. Karena aku akan membuatmu membenciku sampai kau tidak akan bisa hidup tanpaku. " Kata Kai sambil memasukkan kembali kejantanannya ke dalam vagina Sehun.

Kau sudah membuatku tidak bisa hidup tanpamu, Kai. Batin Sehun.

.

.

.

HAPPY READING

Chapter 10

" Cintaku, " Panggil Kai. Saat ini mereka hanya berbaring di ranjang Kai.

" Ehhmm. " Jawab Sehun.

" Kau tahu, Cintaku. Tubuhmu bagaikan candu untukku. Candu yang sangat menyenangkan. " Ucap Kai sambil membuka selimut yang menutupi tubuh mereka.

Pipi Sehun memanas melihat tatapan penuh napsu Kai pada tubuhnya. Sehun sudah tidak tahu lagi mereka bercinta untuk ke berapa kalinya. Tapi sepertinya dia tidak akan bosan.

Aku menyutujui ucapanmu Kai. Tubuhmu juga bagaikan candu yang sangat menyenangkan untukku. Pikir Sehun.

" Tutup matamu. " Perintah Kai.

" Kau ingin aku membayangkan sesuatu yang erotis lagi, Kai? " Tanya Sehun dengan antusias.

" Sepertinya kau sudah mulai memahamiku, Cinta. Bayangkan aku dibelakangmu. Bayangkan tanganku membelai lembut bahumu setelah membelai bahumu tanganku turun untuk meremas payudaramu. Bayangkan aku menggesek gesekkan putingmu di antara jari jemariku. " Ucap Kai dengan menggoda.

" Emmm... " Sehun melihat bayangan itu dalam benaknya.

" Aku ingin menjilatmu. " Ucap Kai lagi. Ia menurunkan tubuhnya dan memposisikan wajahnya didepan vagina Sehun.

" Ohh... Ya. " Sehun terengah. Kepalanya tersentak ke belakang saat merasakan lidah Kai di vaginanya.

Kai memasuk keluarkan lidahnya di vagina Sehun. Jemarinya menjepit klitoris Sehun.

" Oh... God... Aaahhhh... Kai... Aaahhh... " Sehun mengerang sambil menggerakkan pinggulnya. Lidah Kai benar benar liar saat menjilat vaginanya. Lidah dan tiga jari Kai memenuhi vagina Sehun. Kai mengeluar masukan lidah dan tiga jarinya secara perlahan. Dan Sehun semakin mengencangkan rektum vaginanya, menghisap lebih dalam lidah dan jari Kai.

" Aaahhh... Ak – Aku... Sudahh... Aahhh... Tidak tahan.. Ka... AAAHHHHHHH... " Sehun klimaks.

" Eeemmm... Kau begitu menggairahkan, Cintaku. " Kata Kai di sela sela jilatannya di vagina Sehun yang basah oleh cairan Sehun.

Sehun memindahkan posisi tubuhnya. Tanpa ragu duduk di pangkuan Kai. Lututnya masing masing berada di sisi pinggul Kai. Ia mulai menggesekkan vaginanya yang sudah basah kekejantanan Kai yang besar dan keras. Tanpa aba aba Sehun langsung memasukkan kejantanan Kai ke dalam vaginanya.

" Akkkhhhhh... Kai... " Sehun mendesah.

" Cintaku... Ka – kau begitu luar biasaahh... " Desah Kai saat Sehun mulai menggerakkan pinggulnya naik turun di pangkuan Kai.

Sehun mengangkat dan mencondongkan payudaranya meminta dalam diam agar Kai menghisap putingnya. Kai tentu saja tidak akan melewatkan kesempatan yang di berikan oleh Sehun, ia langsung mengangkat kepalanya dan menghisap puting Sehun yang menegang.

" Aaahhhh... Ka – Kai... Aaahhh... Hi... Hisap... Ahhhh... " Sehun mencengkeram rambut Kai. Bibir Kai seolah di penuhi aliran listrik dan menghantarkan sengatan ke sekujur tubuhnya.

" Emmm... Bersamamu terasa bagai... di surga... Cintaku... " Desah Kai. Kedua tangannya meremas payudara Sehun menggantikan mulutnya yang tadi menghisap.

" Oohhh... Ya... Aaahhh... " Sehun terengah. Kepalanya tersentak ke belakang. Sehun masih menaik turunkan pinggulnya dengan cepat. Sesekali ia menggerakkan pinggulnya maju mundur.

" Aahh... Hun... Cium aku... " Pinta Kai.

Sehun mempertemukan bibirnya dengan bibir Kai. Lidah mereka bergumul, bertarung untuk mendominasi. Ciuman mereka semakin liar. Saat Kai menggerakkan pinggulnya untuk bertemu dengan gerakan pinggul Sehun.

" Emmmppttt... " Desahan Sehun tertahan ciuman mereka.

Kai melepaskan ciuman mereka. " Terus... bergerak seperti itu... Hun... "

Sehun sudah tidak bisa menahan lagi. " Kaaaiaahh... Aahhh... Ahhh... Aku... Ma – mau... Keluar... " Desah Sehun.

" Bersama sama, Hun. " Kai semakin cepat menggerakkan pinggulnya dan remasannya dipayudara Sehun semakin mengencang.

" AAAAKKKKHHHHHHHH... KAIIAAHH / SEHUNNHH. " Teriak Kai dan Sehun bersamaan saat mereka mencapai klimaks.

Sehun ambruk ke dada Kai. " Terima kasih, Kai. " Ucap Sehun. Napasnya terengah engah.

" Seharusnya aku yang berterima kasih padamu, Cintaku. " Kata Kai. " Sekarang tidurlah. Aku tahu kau pasti lelah. " Kai mengecup dahi Sehun.

Sehun tersenyum pada Kai. Matanya mulai menutup, kesadaraannya semakin berat dan berat setiap detik. Kai merebahkan Sehun di ranjang dan memeluk Sehun, ia ikut terlelap di samping kekasihnya.

.

.

.

.

Meninggalkan Sehun yang terlelap di tempat tidurnya – tempat tidur mereka, disadari Kai sebagai hal terberat yang pernah dilakukannya. Ia memperhatikan wajah Sehun yang sedang terlelap.

Wajah Sehun terlihat rileks, bulu matanya yang panjang menimbulkan bayang bayang di pipinya. Bibir Sehun masih memerah karena ciuman terakhir mereka.

Kai buru buru merapikan atasan berwarna hitam dan celana panjangnya sebelum dia kehilangan niat untuk pergi. Sebagai pemimpin di istana ini , adalah tugasnya untuk melihat keadaan para tamu tamunya. Tapi lebih dari itu, dia ingin melihat pertahanan istana dan memastikan istana di bentengi dengan baik, cukup kuat untuk menahan serangan paling kuat.

Penangguhan perang karena kedatangan para vampir ini tidak akan bertahan lama, Kai tahu itu. Kris akan kembali. Ia hanya berharap bahwa itu akan terjadi lebih lambat dan bukan sekarang. Semakin lama ia memperkuat ikatan dengan Sehun, semakin baik.

Kai tidak bisa menahan diri, dia memberi kecupan ringan di ujung hidung Sehun, kekasihnya. Sehun mengguman dan berbisik kata kata yang tidak bisa dipahami. Salah satu dari kata kata itu mungkin menyebutkan namanya. Tubuh Kai tiba tiba kembali bereaksi.

Tinggalkan. Sekarang. Sebelum tidak bisa. Batin Kai.

Memaksa satu kaki melangkah pergi benar benar membutuhkan banyak konsentrasi. Tapi Kai melakukannya, dia melangkah, memperlebar jarak antara dia dan Sehun. Sekarang Sehun sudah memutuskan untuk tinggal. Kai tahu gadis itu akan mulai membuat rumah menjadi nyaman untuk dirinya sendiri, memberinya sentuhan sentuhan kecil.

Kemungkinan besar bunga akan mengisi ruangan, dan Kai dengan senang hati mengambilkan beberapa tangkai bunga untuk Sehun. Lukisan, batu berwarna, manik manik pada bantal. Kai akan membawa Sehun ke Kota Luar dan membelikan segala yang Sehun inginkan, semua yang dibutuhkan. Semua hal yang dibutuhkan kekasihnya untuk mendandani rumah mereka, ya, rumah. Kai ingin segalanya, setiap keinginan Sehun dikabulkan.

.

.

.

.

Kai tersenyum lebar saat memasuki ruang makan. Vampir telah mengelilingi meja. Beberapa Nymph ada di sana juga, meskipun sebagian besar sedang bertugas jaga dan jika tidak bertugas, pasti tengah bersama dengan seorang perempuan.

Luhan yang duduk di bagian kepala meja, melambaikan tangan menyuruh Kai untuk mendekatinya.

" Bertindak sebagai Raja di sini? " Kata Kai seraya tersenyum lebar.

" Tentu saja. " Luhan menghirup minumannya. " Kurasa aku tidak pernah melihatmu sebahagia dan sepuas ini sebelumnya, Kai. "

" Hidup dengan pasangan sangat memuaskan untukku. " Kai tersenyum bahagia.

Ekpresi kesedihan terlihat di wajah Luhan. " Aku ingat dengan baik, bagaimana bahagianya hidup memiliki pasangan. " Ucap Luhan dengan sedih.

Luhan kehilangan pasangannya bertahun tahun yang lalu. Pasangannya seorang manusia, dia diperkosa dengan kejam oleh para manusia naga dan dibakar oleh mereka. Bukan Kris, tapi bawahannya. Tidak penting bagi Luhan apakah Kris bersalah atau tidak akan hal itu. Sang Raja para vampir ini ingin memusnahkan seluruh naga sebagai gantinya.

Kai ingat dengan baik betapa hancurnya Luhan saat menemukan kekasihnya terbakar dan bagaimana dia harus menghadapi kenyataan. Kesedihannya sangat parah dan memilukan.

" Para manusia naga telah menangkap sekelompok perempuan Nymph, dan aku tidak bisa membiarkan itu " Kata Kai.

" Akan menjadi kehormatan bagiku untuk merebut mereka kembali dari para naga, " Luhan berkata dengan senang.

" Tidak. Aku tidak akan mengirim pasukan vampirmu untuk merebut mereka kembali. Aku akan mengirim pasukanku sendiri, tetapi jika aku melakukannya, aku memerlukan tenaga pengganti bagi mereka yang berangkat untuk menjaga tempat ini. " Kata Kai.

" Kau ingin kami tinggal? " Tanya Luhan.

Kai mengangguk. " Jika kau bersedia. "

" Kau membutuhkan kami, kami akan tinggal. Tidak perlu membahasnya terlalu jauh. " Luhan tidak ragu sama sekali untuk membantu Kai.

Luhan selalu seperti itu. Setia. Itu sebabnya Kai menghargai persahabatan mereka yang tidak sebangsa.

" Terima kasih, teman. Jika kau membutuhkanku, aku akan selalu siap di sini. " Kai menepuk punggung Luhan.

" Kau teman yang berharga, Kai. " Wajah Luhan yang pucat tampak berbinar.

" Begitu juga kau, " Ucap Kai.

" Ambillah apapun yang kau butuhkan. Jika kau memerlukan perempuan, yang aku yakin kau perlu, kau harus mendapatkannya dari Kota Luar sendiri, tampaknya. Mereka telah bersembunyi dari kami. " Kai berdiri, ingin meninggalkan Luhan.

Luhan tertawa. " Itu berarti mereka pintar. "

Kai mendengus. Dia tidak menawarkan perempuan manusia dan Luhan tidak meminta kehormatan itu. Para Nymph mungkin akan berbagi kekasih dengan sesamanya, tapi tidak dengan mereka dari bangsa lain.

" Kita akan segera berbincang lagi, aku sekarang harus mengontrol istana. " Kai mulai berjalan keluar ruang makan.

" Aku tahu kau, Kai. Kau mungkin akan mengontrol istana, namun tujuanmu sebenarnya adalah untuk kembali ke tempat tidur menemui pasanganmu itu lagi. " Goda Luhan.

" Ya, kau memang mengenalku dengan sangat baik, Luhan. " Kai tersenyum nakal.

.

.

.

.

Kedua tangan Baekhyun saling meremas. Ia berdiri di tepi ruang makan, menonton Tao, menunggu Tao memperhatikannya. Baekhyun meminta ijin pada Luhan untuk bersama Chanyeol tapi sekarang Chanyeol sedang berbicara panas dengan perempuan manusia bermata bulat. Perempuan itu menyentuh dada Chanyeol dengan menggoda.

Baekhyun mengawasi interaksi di antara Chanyeol dengan perempuan itu dengan sedikit... cemburu? Ia tidak yakin. Itu adalah emosi yang tidak pernah di rasakannya selama dia hidup sebagai vampir. Apapun emosi itu, ia menduga berasal dari kenyataan bahwa ia menemukan Chanyeol dengan perempuan lain.

Apakah aku akan bersama dengan orang lain jika aku tidak bersama Chanyeol? Tao mungkin? Pikir Baekhyun. Apakah aku akan cemburu jika melihat Tao berbincang mesra dengan perempuan lain? Pertanyaan lain meluncur di benak Baekhyun.

Saat pertama kali melihat Tao di arena pertarungan, sebenarnya Baekhyun sudah tertarik padanya. Hanya memikirkan tentang Tao membuat tubuh Baekhyun gemetar. Tapi, sayang Tao berlalu begitu saja di hadapannya, membuatnya sedikit kesal.

Tidak, tidak, tidak. Harusnya Chanyeol yang membuatku gemetar, Baekhyun memaksakan pikiran itu. Chanyeol adalah seseorang yang menyenangkan sedangkan Tao suka mengatur, dan terlalu dominan dalam penglihatannya.

Tapi kenapa aku menginginkan Tao? Kenapa aku tidak menginginkan Chanyeol? Pikir Baekhyun lagi.

Baekhyun menghela napas, bingung pria mana yang dia inginkan. Hidup dengan Chanyeol akan terasa manis dan lembut. Hidup dengan Tao akan sangat mendebarkan dan menarik.

Sementara Baekhyun berdiri dan mendebat dirinya sendiri. Tiba tiba Chanyeol berdiri, berbisik di telinga perempuan bermata bulat itu lalu berjalan mendekati Baekhyun. Chanyeol tidak berbicara sepatah katapun, hanya meraih tangan Baekhyun dan menariknya keluar dari ruangan.

Baekhyun merasa darahnya memanas dengan pikiran akan bercinta dengan Chanyeol lagi tapi kenapa di benaknya masih terbayang wajah pria lain.

Mereka tidak menuju kamar yang mereka tempati malam tadi. Baekhyun sadar beberapa saat kemudian. " Kemana? " Tanyanya pada Chanyeol.

Chanyeol hanya berdiam diri tidak menjawab pertanyaan Baekhyun. Mereka tiba di sebuah kamar beberapa saat kemudian. Chanyeol tidak berhenti, tidak mengumumkan kedatangannya, hanya berjalan melewati tirai yang menutupi pintu kamar. Chanyeol melepaskan gandengannya dan berjalan ke meja samping. Chanyeol berpaling dari Baekhyun dan menuangkan minuman untuknya sendiri. Menenggaknya sampai habis.

Hal pertama yang Baekhyun sadari adalah Tao berada di kamar itu juga. Dia duduk diranjangnya, kaki ke samping, siku bertumpu di lututnya. Tao tengah memandangnya.

" Baekhyun. " Baekhyun merasa namanya terdengar sensual jika Tao yang mengucapkannya.

Darah Baekhyun langsung terasa panas membara. Hanya dengan sepatah kata, Tao membuatnya siap melakukan apapun.

Dengan lembut Chanyeol menyentuh bahu Baekhyun. " Laki laki yang ada di atas ranjang itu tidak akan bisa bersikap lembut dan berbaik hati atau apapun itu. " Chanyeol membalikkan tubuh Baekhyun menghadap Tao.

" Lihat dia. " Kata Chanyeol. " Bahkan sekarang sifat liarnya sudah terlihat dengan jelas. Aku tahu kau menyukai Tao, bukan. Tapi aku berharap kau memilihku. " Lanjutnya.

" Bukankah kau sudah memiliki Perempuan manis bermata bulat, itu ? " Tanya Baekhyun.

" Aku... Aku menginginkan kalian berdua. " Jawab Chanyeol.

" Apa! " Teriak Baekhyun.

Tao tidak bersuara menanggapi perdebatan Chanyeol dan Baekhyun. Dia hanya menarik empat lembar kain dari bawah bantalnya dan mengikatkan kain di atas lututnya sendiri.

" Untuk apa itu? " Tanya Chanyeol.

" Ikat aku ke ranjang, Baekhyun? " Kata Tao.

" Apa? " Baekhyun melirik kain itu dengan bingung... dan penasaran.

" Ikat aku ke ranjang. " Kata Tao lagi.

" kenapa? Aku tidak mengerti. " Ekpresi wajah Baekhyun sulit di jelaskan.

" Aku tidak akan memberitahumu bahwa kau akan membenci diri sendiri nanti jika kau memilih Chanyeol. Kau mungkin bisa bahagia dengan dia, dan kau akan selalu merasa aman. Tapi dia tidak akan bisa selalu berada di sisimu dan kau tidak bisa memiliki dia seutuhnya karena kau akan berbagi dengan perempuan lain. Aku tidak akan melakukan itu padamu. " Jawab Tao.

" Tapi kudengar kau menginginkan Perempuan milik Kai, Sehun. " Ucap Baekhyun.

" Yang kuinginkan bukan Sehun tapi yang kuinginkan adalah Tahta Raja. Menginginkan Sehun hanyalah alasan agar Kai mau bertarung denganku. " Jelas Tao.

" Tao. " Geram Chanyeol.

" Ikat aku ke tempat tidur dan kau yang akan mengendalikan segala sesuatu yang terjadi. Aku akan memberimu... kekuasaan penuh atas diriku. Vampir lebih suka mendominasi pasangannya, bukan? " Ucap Tao.

Baekhyun suka dengan pikiran mendominasi seorang Nymph. Tao adalah seorang Prajurit yang kuat tapi ia bersedia menyerahkan kendalinya yang berharga kepada seorang Vampir.

Baekhyun berpaling pada Chanyeol. Chanyeol seorang prajurit yang periang, baik dan pengertian. Tapi kondisinya sekarang, Baekhyun sadar bahwa Chanyeol bukanlah pria yang dia butuhkan.

" Kau boleh menolak kami berdua, kami tidak akan menghentikanmu. " Kata Tao suaranya terdengar serak.

" Maafkan aku Chanyeol, aku ingin bersamamu. Sungguh. Tapi... seorang Vampir tidak suka berbagi. " Jelas Baekhyun.

" Berhenti. Cukup. Terserah kau sajalah. " Ucap Chanyeol.

" Terima kasih, " Kata Tao dengan tulus.

" Masih ada seorang perempuan yang akan dengan senang hati menerimaku. " Chanyeol memandang Baekhyun sekali lagi, mengangguk dan kemudian segera berlalu dari ruangan.

Tao berdiri, menggenggam kain pengikat di tangannya. " Aku sudah memperhatikanmu saat kau datang ke arena pertarungan tadi. " Ucap Tao.

Baekhyun hanya berdiam diri. Tao menyerahkan kain pengikat ke tangan Baekhyun. Perlahan lahan, sangat perlahan, Tao melepas celana dan mendorongnya terbuka dari pinggulnya. Baekhyun melirik sekilas ke tubuh telanjang Tao.

" Kemarilah, " Perintah Tao sambil berbaring di tempat tidur. " Ikat aku. "

" Kau tidak akan menarik kata katamu kan, Tao? Kau tidak akan menyesal, bukan, menyesal karena seorang Vampir mendominasi seorang Nymph? " Tanya Baekhyun sambil melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya.

" Emmmhh... Aku tidak mungkin menyesal, Vampir tersayangku. " Desah Tao.

" Ya. Aku yakin kau tidak akan menyesal Nymph tersayangku. " Baekhyun mulai mengikat pergelangan tangan Tao.

Setelah selesai mengikat pergelangan tangan Tao. Baekhyun membuka pengait pada bagian bahu jubahnya, menelanjangi dirinya sendiri sambil terus memperhatikan Tao. Mengukur reaksi Tao. Pandangan tajam Tao membuat Baekhyun tambah bergairah.

" Kau cantik, Baekhyun. " Puji Tao saat jubah yang di pakai Baekhyun terlepas dari tubuhnya memperlihatkan kulit putih bersih tanpa noda.

Baekhyun naik ke atas tempat tidur tanpa ragu ragu. Dengan segera duduk di pangkuan Tao. Menggesekkan vaginanya ke ereksi Tao. Membuat mereka berdua mengerang tertahan.

" Aaahhh... " Erang Baekhyun.

" Berbaringlah... Cantik.. " Pinta Tao.

Tao mungkin terikat, tapi dia tetaplah seorang prajurit. Tanpa sadar ia menarik ikatan kain dan membuat ikatannya sedikit longgar. Tao mendorong Baekhyun agar berbaring dan ia mulai merangkak ke atas tubuh Baekhyun, menjilat perut Baekhyun menuju putingnya yang sudah mengeras, jilatan Tao yang panas membuat tubuh Baekhyun terasa bergetar.

" Eemm... Tao... Aaahhh... " Desah Baekhyun.

Baekhyun menggeliat, menggesekkan kembali vaginanya ke kejantanan Tao. Baekhyun sudah merasa benar benar basah.

" Aaaahhh... Aaahhhh... Eeuunnggg... " Baekhyun terus menggesekkan vaginanya.

Emm, kenapa Tao tidak menyentuh tubuhku. Aku ingin tangannya membelai tubuhku. Batin Baekhyun.

" Baek, Jangan hanya diigesekkan... " Pinta Tao.

" Aaahhh... Ya... " Desah Baekhyun.

" Bersiaplah, Cantik... Aku akan memasukkan kejantananku... " Kata Tao. Butiran butiran keringat menghiasi kulitnya.

" AAAHHHHHH... " Erang Baekhyun saat merasakan kejantanan Tao mulai memasuki vaginanya.

" Baek... Aaahhh... " Tao menggerakkan keluar masuk kejantanannya dengan keras di vagina Baekhyun.

" Aaaahhh... Aaaahhhhh... Lebih cepat... Tao... " Pinta Baekhyun. " Aaahhh... Tao... Aaahhh... Tao... " Baekhyun menggumamkan nama Tao berkali kali.

" Tunjukkan seberapa besar kau menginginkanku untuk terus berada didalammu... " Tao menggigit tulang selangka Baekhyun. Ia berusaha menarik lepas ikatannya.

" Aaaaahhhh... Tao... Eeeunnggg... Aaahhh... Aku... mau... " Baekhyun menggerakkan pinggulnya, mempertemukan gerakannya dengan gerakan pinggul Tao.

" Aaaahhhhhhh... TAO... " Baekhyun berteriak saat klimaks menerpanya.

" Baekhhh... " Tao meraung keras dan ambruk ke dada Baekhyun.

" Lepaskan aku. " Pinta Tao saat mereka sudah dapat mengendalikan diri.

Baekhyun mengulurkan tangan dan melepaskan ikatan di pergelangan tangan Tao. Setelah terlepas, Tao segera menarik Baekhyun agar lebih dekat dan memeluknya dengan erat.

" Kau milikku. " Kata Tao.

" Eehhmm... Aku milikmu. " Mata Baekhyun menutup, kesadarannya semakin berat. " Jangan lepaskan aku. " Lanjut Baekhyun sebelum tertidur.

" Tidak akan. " Bisik Tao, mengecup dahi Baekhyun.

.

.

.

.

Chanyeol berdiri di koridor untuk waktu yang lama. Dia berharap Baekhyun memilihnya, tapi ternyata Tao lah yang membuat Baekhyun penuh dengan gairah. Chanyeol sangat marah. Tapi gadis itu bukan miliknya. Tak peduli seberapa besar kepuasaan fisik yang bisa Chanyeol berikan padanya, tidak peduli seberapa besar rasa aman yang bisa di berikan Chanyeol. Baekhyun hanya menginginkan Tao.

Keduanya ditakdirkan berpasangan, hal itu tampak jelas dimata Chanyeol, sekarang.

Mungkin suatu saat nanti dia akan bisa menemukan perempuan yang mencintainya. Yang menginginkan dia lebih dibandingkan semua pria di dunia ini.

Chanyeol mengerjap saat menyadari Kyungsoo memasuki ruangan dan sekarang berdiri beberapa langkah jauhnya dari dia. Pandangan mereka bertemu.

Gadis itu mendekat ke arahnya. " Sudah kukatakan bukan, aku bisa memenuhi kebutuhanmu, kau harusnya memilihku sejak awal. " Kyungsoo berkata dengan sengit.

Kyungsoo sangat cantik, Chanyeol sangat tergoda untuk menyentuhnya. Tapi dia tidak ingin menyentuh Kyungsoo sekarang. Dia tidak ingin membuat Kyungsoo terlihat sebagai pelarian.

" Sampai jumpa, Kyungsoo. " Kata Chanyeol mencoba berlalu pergi dari gadis itu.

Kyungsoo tidak tinggal diam. Ia berlari dan melompat ke hadapan Chanyeol. " Beri aku kesempatan. Kau tidak akan menyesal. " Ucap Kyungsoo.

Bibir Kyungsoo menyentuh bibir Chanyeol. Chanyeol tanpa sadar membalas ciuman Kyungsoo. Kyungsoo akan membuatnya melupakan kesepian yang bergolak dalam tubuhnya.

" Aku tidak ingin menjadikanmu pelarianku, Kyungsoo. " Ucap Chanyeol saat melepas ciuman mereka.

Bibir Kyungsoo yang merah sensual membentuk senyuman. " Aku tidak merasa seperti itu, Chanyeol. Aku mencintaimu. Jadikanlah aku pasanganmu. " Kyungsoo kembali mempertemukan bibir mereka. Memperdalam ciuman.

.

.

.

.

Sebuah kepalan tangan yang keras membekap mulut Sehun. Membuat Sehun langsung terjaga, jeritan tertahan di lehernya, tidak bersuara. Yang muncul hanya gumaman pelan. Sehun tahu tangan itu bukan milik Kai. Aromanya berbeda, tidak erotis. Tidak memicu kesadaran dalam dirinya. Vampir, mungkin? Kai telah menyebutkan bahwa para vampir berada dalam istana. Panik, Sehun mengayunkan tinjunya dan tertahan oleh sesuatu yang kokoh.

" Jangan bergerak lagi, Perempuan. Kami tidak akan menyakitimu. " Kata suara dengan aksen yang aneh. " Tolong diam. "

Sehun melingkarkan jari jarinya di pergelangan kaki pria di hadapannya dan menyentaknya.

" Jika aku harus, aku akan membuatmu tidak sadarkan diri dan tidak seorangpun dari kita akan menyukai caraku melakukannya. " Ancam suara itu lagi.

Sehun terhenti, sadar bahwa dengan kehilangan kesadaran berarti kalah dari pertarungan dengan pria di hadapannya. Jika bisa melepaskan diri, ia bisa berlari serta berteriak dan menemukan Kai.

" Bagus. Sekarang, aku akan melepaskan tanganku. Jika kau memanggil kekasihmu kesini, kami akan membunuhnya tanpa ragu ragu. Mengerti? " Salah seorang dari mereka berkata.

Satu anggukan patuh datang dari Sehun. Di dalam hati, Sehun menjerit, menjerit dan menjerit.

Tidak, tidak! Kai kuat, tapi dia juga terdiri atas daging dan darah. Batin Sehun. Dia tidak tahu ada berapa banyak orang di ruangan dan senjata apa saja yang mereka bawa.

Sehun harus mengingatkan Kai tanpa membiarkannya di sergap. Apa yang bisa kulakukan? Pikirkan Sehun, pikir.

Seperti yang dijanjikan pria itu melepas genggaman pada Sehun.

Sehun menarik napas dengan gemetar. " Siapa kau? Apa yang kau inginkan? "

" Kami para manusia naga dan kami akan membawamu pulang. " Ucap salah satu dari mereka.

Naga. Musuh. Ya Tuhan. Mereka akan memerkosamu dan membakarmu, itu kata Kai tadi.

Sehun menggeleng. " Aku sudah di rumah. "

" Itu kata orang lain, tetapi tidak akan mempengaruhi kami dari tujuan awal. " Ucap manusia naga itu.

" Kau tidak bisa membawaku. Aku tidak akan mau. " Aku berjanji pada Kai bahwa aku akan tinggal disini! Pikiran Sehun berteriak.

Perlahan mata Sehun terbiasa dengan kegelapan, dia melihat empat siluet yang lebih besar dibanding dirinya. Senjata dengan berbagai bentuk dan ukuran terpasang siap pada tubuh mereka.

" Kami bisa melakukan apapun yang kami inginkan. Duduk. Perlahan lahan. " Perintah manusia naga.

Sehun melakukan seperti yang diperintahkan dan lembaran seprai yang ada padanya jatuh menuruni pinggangnya. Terkesiap, Sehun menyentak kembali seprai ke atas untuk menutup tubuhnya.

" Aku telanjang. " Sehun tidak bermaksud untuk berkata seperti itu.

" Ini. Pakailah ini. " Kata manusia naga lainnya.

Sebuah buntalan kain di dorong ke atas kepala Sehun, mengejutkannya.

" Kenapa kau melakukan ini? " Sehun menuntut dan cepat meraih pakaian yang diberikan. Sehun memakai pakaiannya di bawah selimut.

" Ini adalah kehendak para Dewa, " Jawab manusia naga. " Diamlah. Jauhkan tanganmu kesamping. "

Sehun beringsut dari tempat tidur sepelan mungkin, berharap mereka tidak akan merasakan bahwa dirinya akan melarikan diri. Pintu ada di sebelah kiri, dan Sehun beringsut satu langkah, lalu dua. Lalu berlari secepatnya, sebelum lengan yang kuat menangkapnya saat ia hampir mencapai tirai, membuatnya terhenti.

" Sialan kau, biarkan aku pergi. " Gumam Sehun sambil memukul.

" Hei, kuperingatkan kau. " Ancam manusia naga.

Mengetahui manusia naga bermaksud membuatnya pingsan, Sehun meningkatkan frekuensi melawannya. Sehun menggunakan kukunya, menarik rambut manusia naga dan memukul perutnya.

" Aku bersumpah Dewamu akan mengutukmu. " Teriak Sehun.

" Mereka sudah melakukannya. Maafkan aku melakukan ini tetapi kau tidak memberiku pilhan lain. " Manusia naga itu mendesah dengan berat.

Seseorang menggumamkan beberapa kata kata yang tidak dipahami Sehun. Sehun mendadak mengantuk.

Tolong, Sehun mencoba berteriak, kalau dia tertidur, dia akan dipisahkan dari Kai. Ia masihmemerlukan waktu yang lebih banyak dengan Kai.

Sehun menggelengkan kepala mencoba menghilangkan rasa kantuk.

" Dia perempuan yang tangguh, aku tidak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya " Seseorang berkata.

" Dia harusnya pingsan sekarang. Tidurlah, saat tersadar nanti kau tidak akan ingat apapun soal ini. " Ucap manusia naga itu.

Kekuatan untuk berontak terasa sampai ke perut Sehun. Sehun tidak yakin apa yang sedang terjadi. Waktu terasa berhenti. Kegelapan menyelimutinya.

Lawan... Lawan... Jangan... Tertidur... Sehun memaksa matanya agar tidak tertutup.

Sehun tidak tahu apa yang selanjutnya kan terjadi kalau dia tertidur.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC / END ?

Otte?

Masih ada yang berminat ama lanjutannya? Mohon commentnya yaa